Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32168 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Erlian Rista Aditya; Pembimbing: Rina Artining Anggorodi; Penguji: Pandu Riono, Yvonne Magdalena Indrawani, Octavery Kamil, Ciptasari Prabawanti
Abstrak:

Prevalensi HIV pada LSL terus meningkat dari tahun ke tahun, 8% pada 2007 menjadi 17% pada 2011. Tingginya prevalensi HIV pada populasi ini disebabkan oleh pratek perilaku seks aman berupa penggunaan kondom secara konsisten yang masih rendah, 32% pada 2007 dan 24% pada 2011. Tujuan penelitian: Diperolehnya informasi yang mendalam tentang faktor-faktor pendukung dan penghambat perilaku penggunaan kondom secara konsisten pada pekerja seks laki-laki panti pijat serta situasi dan pola penggunaan kondomnya. Desain penelitian: Kualitatif menggunakan rapid assessment procedures. Sebanyak 30 informan dipilih melalui ?stratified? purposive sampling dari 15 panti pijat laki-laki, diwawancarai secara mendalam menggunakan structured open-ended question, ditranskrip dan matriks dibuat untuk memilah data sesuai tema-tema yang muncul. Observasi situasi di panti pijat dan analisis dokumen dilakukan untuk melengkapi wawancara mendalam. Analisis-interpretasi data dilakukan berdasarkan 5 level Socio Ecological Model. Hasil: Sebagian besar faktor-faktor pada level individual (pengetahuan, motivasi dan kesiapan menggunakan kondom, niat, keputusan menggunakan kondom, keterampilan, dan selfefficacy) dalam situasi yang memadai dan menjadi faktor pendukung penggunaan kondom secara konsisten. Namun pengaruh faktor-faktor ini tidak langsung dan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor interpersonal terutama klien, atasan/manajer panti pijat, teman dan pasangan tetap serta oleh faktor-faktor situasi organisasi panti pijat seperti aturan organisasi, mekanisme rantai suplai distribusi dan promosi kondom, struktur dan budaya organisasi. Faktor-faktor pada level komunitas tidak mendukung tetapi juga tidak menghambat secara langsung karena jejaring, kapasitas, kepemimpinan, partisipasi dan sumber daya komunitas masih embrional dan belum kuat. Faktor-faktor pada level kebijakan publik mendukung perilaku penggunaan kondom informan karena memungkinkan ketersediaan dan distribusi kondom serta program HIV berjalan di panti pijat. Namun karena adanya kontradiksi antara beberapa kebijakan publik, pengaruhnya menjadi terbatas. Ditemukan juga ada 3 pola umum penggunaan kondom pada informan yang merupakan model sederhana dari stage of change model, health believe model, precaution adoption process model dan social cognitive theory. Kesimpulan/rekomendasi: semua informan telah menggunakan kondom tetapi hanya sebagian kecil informan, sekitar 30%, yang penggunaan kondomnya konsisten. Faktor pada level interpersonal dan organisasional adalah faktor yang paling mempengaruhi penggunaan kondom informan dibandingkan faktor-faktor pada level individual, komunitas dan kebijakan publik. Disarankan agar intervensi pencegahan HIV menyasar lebih dalam faktor-faktor pada kedua level tersebut.


 Background: HIV prevalence among MSM increase time to time, 8% in 2007 to 17% in 2011. High HIV prevalence among this population caused by low unsafe sex practices in form of consistent condom use, 32% in 2007 and 24% in 2011. Study purpose: to acquired insight of consistent condom use suporting and inhibiting factors among massage parlor-based male sex workers as well as situation and patterns of condom use behavior. Study design: qualitative approach using rapid assessment procedure method. Thirty informans were select through ?stratified? purposive sampling from 15 massage parlors, interviewed using structured open-ended questions, trancripted and matrix developed for data sorting to captured any emerged themes. Documents and secondary data analysis and observation carried out to suplement indepth interview. Data analysis and interpretation done based on 5 levesl of Socio Ecological Model. Results: Most of factors at individual level (knowledge, motivation and readiness to use condom, behavioral intention, deicion about acting, condom use skill, self-efficacy) were adequate and as supporting factors for consistent condom use practices. However influences of these factors was indirect and greathly influenced by interpersonal factors particularly by clients, massage parlor managers, peers and steady partners as well as by organizational factors such as massage parlor work regulation, condom supply chain management and promotion, organizational culture and structure. Factors at community level were neither support nor inhibit directly to consitent condom use practices. These are mainly caused by inadequate and embryonic stage of community networking, capacity, leadership, participation, and resources. Factors at public policy level support informant?s consistent condom use practices since these factors enabled condom availability and distribution and presence of HIV prevention program inside the massage parlors as well. However due to contradiction among those existing public policy, the influences were narrow. This study found 3 general patterns of informant?s condom use practices which are served as simple model of social cognitive theory, stages of change model, health believe model and precaution adoption process model. Conslusion/recommendation: All informants had used condom but only few of them, about 30%, had used it consistently. Factors at interpersonal and organizational level were the most influencing factors for consistent condom use practices among informants compared to factors at individual, community and public policy level. It is recommended to have deeper and more intensive intervention at those two levels.

Read More
T-3731
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rachma Pratiwi; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Tiara Amelia, Noor Aliyah
Abstrak: Penularan HIV menunjukkan adanya peningkatan terutama pada kelompokrisiko tinggi yaitu Laki-Laki yang melakukan hubungan Seks dengan Laki- Laki (LSL).Perilaku seks tidak aman menjadi salah satu faktor yang menyebabkan hal ini.Penggunaan kondom konsisten menjadi salah satu upaya pencegahan penularan HIVpaling efektif pada kelompok ini. Program seperti kondom gratis oleh pemerintah telahdilakukan, namun jumlah LSL yang terdeteksi HIV positif kian meningkat, hal tersebutmelatar belakangi penelitian kualitatif ini. Penelitian bertujuan untuk mengetahuiinformasi mendalam mengenai gambaran perilaku penggunaan kondom pada LSL diwilayah kerja Puskesmas Bogor Timur tahun 2019. Pengambilan data dilakukan sejakJuli hingga Agustus 2019 dengan mewawancarai secara mendalam dua belas informanLSL dan dua orang informan petugas.Pada penelitian ini, sebagian besar informan telah memiliki penge tahuanHIV/AIDS yang baik, sikap terhadap kondom yang positif, kondom sangat mudahdidapatkan (aksesibilitas baik), peran pasangan, peran teman sesama LSL dan perandari petugas Puskesmas Bogor Timur dan petugas lapangan juga sebagian besarinforman menyatakan faktor tersebut mendukung mereka dalam penggunaan kondomkonsisten. Meskipun begitu, masih ada informan yang tidak mempraktikkanpenggunaan kondom secara konsisten, baik karena kurangnya pengetahuan hinggaperan pasangan yang tidak mendukung penggunaan kondom selama seks tersebut.Sehingga, perilaku penggunaan kondom pada LSL di wilayah kerja Puskesmas BogorTimur dipengaruhi oleh pengetahuan HIV/AIDS dan manfaat kondom, sikap terhadappenggunaan kondom, aksesibilitas untuk mendapatkan kondom, peran pasangan, peranpetugas dan juga peran teman sesama LSL.Kata kunci : Laki-laki Seks dengan Laki-Laki (LSL), penggunaan kondom, penularanHIV
HIV transmission shows a significant increase in the high risk group of Menwho have Sex with Men (MSM). Unsafe sex behavior is one of the factors that causesthis. Consistent use of condoms has been one of the most effective HIV preventionefforts in this group. Programs such as free condoms by the government have beenconducted, but the number of HIV-positive MSMs has increased, following thisqualitative study. The study aimed to find out in-depth information on the depiction ofcondom use behavior in MSM in the Puskesmas Bogor Timur in 2019. Data collectionwas conducted from July to August 2019 by in-depth interviewing twelve MSMinformants and two staff informant .In this study, most informants had good knowledge of HIV / AIDS, positiveattitude toward condoms, very accessible condoms (good accessibility), role of partner,role of fellow MSM and role of health workers and field personnel many informantssay these factors support them in using condoms consistently. However, there are stillinformants who do not practice condom use consistently, either because of their lackof knowledge to the role of sex partner who do not support condom use during sex.Thus, the behavior of condom use in LSL in the Puskesmas of Bogor Timur areinfluenced by HIV / AIDS knowledge and condom benefits, attitudes toward condomuse, accessibility to condom use, partner roles, attendant roles and the role of fellowMSM.Key words : Condom use, Men who have Sex with Men (MSM), HIV transmition.
Read More
S-10200
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Janitra Hapsari; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Dadan Erwandi, Dien Anshari, Mohammad Rezasyah Hasan, Astriani Dwi Aryaningtyas
Abstrak:
Norma maskulinitas tradisional sering kali ditemukan sebagai penghambat perilaku mencari bantuan, mendorong munculnya stigma, dan merupakan bentuk maskulinitas yang tidak sehat atau “toxic masculinity”. Namun, beberapa studi kualitatif menunjukkan bahwa sebagian laki-laki mau mencari bantuan kesehatan mental untuk menjadi lebih sehat, mampu melawan stigma, dan tindakan tersebut dilihat sebagai cara yang rasional untuk lebih maskulin sehingga disebut sebagai maskulinitas positif atau “positive masculinity”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran maskulinitas terhadap perilaku mencari bantuan laki-laki yang mengalami depresi akibat penyakit fisik kronis di Platform Layanan Inspirasien. Desain penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus digunakan dalam penelitian ini. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam kepada delapan informan yang terdiri dari pasien laki-laki yang mengalami depresi akibat penyakit fisik kronis, pendamping pasien, dan professional kesehatan mental. Hasil penelitian menemukan adanya perubahan makna maskulinitas dari tradisional menjadi positif pada laki-laki yang telah mendapatkan bantuan dari layanan professional kesehatan mental. Perilaku mencari bantuan kesehatan mental dilihat sebagai upaya untuk pulih dan menjadi lebih sehat. Ketika laki-laki lebih sehat, maka Ia mendapatkan kembali kendali atas hidupnya, merupakan wujud tanggung jawab dan kepemimpinan laki-laki untuk menyelesaikan masalahnya, keberanian untuk meminta bantuan, dan kebijaksanaan dalam cara penyelesaian masalah dengan ahlinya (professional kesehatan mental). Penelitian ini merekomendasikan pemanfaatan makna maskulinitas positif pada perilaku mencari bantuan laki-laki sebagai strategi dalam membentuk upaya promosi kesehatan mental dan peningkatan layanan kesehatan mental secara khusus untuk laki-laki.

Traditional masculinity norms are often found to inhibit help-seeking behavior, encourage the emergence of stigma, and are a form of unhealthy masculinity or "toxic masculinity". However, several qualitative studies show that some men are willing to seek mental health help to become healthier, able to fight stigma, and this action is seen as a rational way to become more masculine so it is called “positive masculinity”. This study aims to determine the role of masculinity on the help-seeking behavior of men who experience depression due to chronic physical illness in the Inspirasien Service Platform. Descriptive qualitative research design with a case study approach is being used. Data was collected through in-depth interviews with eight informants consisting of male patients who experienced depression due to chronic physical illness, their caregiver, and mental health professionals. The results of the study found a change in the meaning of masculinity from traditional to positive in men who had received help from professional mental health services. Mental health help-seeking behavior is seen as an effort to recover and become healthier. When a man is healthier, he regains control of his life, which is a manifestation of a man's responsibility and leadership to solve his problems, the courage to ask for help, and wisdom in solving problems with the experts (mental health professionals). This research recommends utilizing the meaning of positive masculinity in men's help-seeking behavior as a strategy in shaping mental health promotion efforts and improving mental health services specifically for men.
Read More
T-6887
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maudy Pratiwi Arfi; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi; Penguji: Tiara Amelia, Juni Astaty Nainggolan
Abstrak:
Hasil Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) tahun 2018 menunjukkan bahwa banyak Lelaki Seks Lelaki (LSL) yang tidak mengetahui status HIV-nya. Hal ini menandakan bahwa masih banyak LSL yang belum melakukan skrining IMS dan HIV. Hingga tahun 2019, DKI Jakarta menduduki posisi kedua terbanyak untuk jumlah infeksi HIV di Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran perilaku skrining IMS dan HIV pada LSL di wilayah binaan Yayasan X di Jakarta berdasarkan teori Health Belief Model. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan desain rapid assessment procedure (RAP) untuk mengeskplor secara cepat dan mendalam mengenai gambaran perilaku skrining IMS pada LSL di Jakarta. Penelitian ini menggunakan data primer dengan metode wawancara mendalam (in-depth interview). Hasil penelitian menunjukkan bahwa LSL yang pernah melakukan skrining IMS dan HIV melakukan skrining minimal setahun sekali, namun sebagian besar masih belum rutin melakukan skrining IMS dan HIV dalam tiga bulan sekali. Sebagian besar LSL menyatakan bahwa isyarat berindak yang mendorong perilaku skrining IMS dan HIV ialah tanda dan gejala yang dialami oleh LSL. Kesadaran LSL untuk melakukan skrining IMS dan HIV sebelum muncul tanda dan gejala masih sangat kurang. Persepsi kerentanan akan risiko tinggi tertular IMS dan HIV hingga persepsi manfaat yang baik yang dirasakan oleh LSL masih belum mampu mendorong LSL untuk memeriksakan status IMS dan HIV-nya secara rutin. Oleh karena itu, kepada penyedia layanan skrining IMS dan HIV seperti puskesmas tingkat kecamatan, klinik, LSM, hingga masyarakat umum diharapkan dapat bekerja sama untuk meningkatkan cakupan skrining IMS dan HIV pada LSL di DKI Jakarta. Kata kunci: lelaki seks lelaki; skrining; IMS dan HIV; health belief model

The results of the 2018 Integrated Biological and Behavioral Survey (IBBS) show that many men who have sex with men (MSM) do not know their HIV status. This indicates that there are still many MSM who have not screened for STIs and HIV. Until 2019, DKI Jakarta Province occupied the second highest position for the number of HIV infections in Indonesia. The aim of this study was to describe the behavior of STI and HIV screening in MSM in the target area of Yayasan X in Jakarta based on the theory of the Health Belief Model. This study used a qualitative approach with the research design being the rapid assessment procedure (RAP) because it wanted to explore quickly and in depth the description of STI screening behavior in MSM in Jakarta. This study uses primary data with data collection methods through in-depth interviews with key informants and key informants. The results showed that MSM who had screened for STIs and HIV conducted screening at least once a year, but most still did not routinely screen for STIs and HIV once every three months. Most MSM stated that the cues for action that drive STI and HIV screening behavior were the signs and symptoms experienced by MSM. MSM awareness to screen for STIs and HIV before signs and symptoms appear is still lacking. Perceptions of vulnerability to the high risk of contracting STIs and HIV to the perceived good benefits experienced by MSM are still not able to encourage MSM to have their STI and HIV status checked routinely. Therefore, it is hoped that STI and HIV screening service providers such as sub-district health centers, clinics, NGOs, and the general public can work together to increase the scope of STI and HIV screening for MSM in DKI Jakarta. Keywords: MSM (men who have sex with men); screening; STI and HIV; health belief model
Read More
S-11428
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Firda Azizah Ahmad; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Dien Anshari, Syarah Desvania
Abstrak:
Latar belakang: Pemerintah DKI Jakarta melakukan berbagai upaya untuk mengatasi HIV/AIDS melalui berbagai inisiatif: layanan tes HIV, pengobatan PrEP, dan kondom gratis. LSL di wilayah ini masih menghadapi tantangan dalam mengakses kondom gratis. Perilaku berganti-ganti pasangan melalui aplikasi meningkatkan risiko hubungan seksual tanpa kondom, yang berpotensi menyebabkan penularan HIV/AIDS yang lebih tinggi. Penelitian ini membahas faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pencegahan HIV/AIDS, khususnya konsistensi penggunaan kondom pada LSL di DKI Jakarta. Metode: Studi cross-sectional melalui kuesioner pada bulan November 2023 melibatkan 208 responden, mengetahui konsistensi penggunaan kondom, pengetahuan tentang HIV, dan persepsi pencegahan HIV/AIDS. Pengetahuan terkait HIV dinilai dengan menggunakan kuesioner HIV-K18 dan teori Health Belief Model. Menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan p-value <0,05 dianggap signifikan. Hasil: Di antara 189 responden yang memenuhi syarat, tingkat seks aman dengan menggunakan adalah 54,5%. Responden yang memiliki persepsi keparahan (p-value 0,035), persepsi manfaat (p-value 0,006), persepsi hambatan (p-value 0,039), dan efikasi diri (p-value 0,015) yang lebih tinggi lebih cenderung menerapkan perilaku seks aman menggunakan kondom. Kesimpulan: Sebagian besar LSL di DKI Jakarta masih berisiko tinggi terinfeksi HIV/AIDS karena tidak menerapkan perilaku seks aman. Pemerintah perlu merancang program edukasi yang lebih spesifik dan relevan dengan konteks LSL, serta memastikan distribusi kondom gratis yang mudah diakses untuk mengatasi masalah ini.

Background: Despite the Jakarta government's efforts to address HIV/AIDS through various initiatives: HIV testing services, availability of PrEP treatment, and distribution of free condoms. MSM in the region still face challenges in accessing free condoms. The common practice of changing partners through applications increases the risk of unprotected sexual encounters, potentially leading to higher HIV/AIDS transmission. This study examined the factors influencing HIV/AIDS prevention behaviour, specifically condom use among MSM in DKI Jakarta. Methods: A cross-sectional survey was conducted in November 2023 with 208 respondents to assess condom use consistency, HIV knowledge, and perceptions of HIV/AIDS prevention. HIV-related knowledge was assessed using the HIV-K18 questionnaire and the Health Belief Model theory. Univariate and bivariate analyses were used and p-value < 0,05 was considered significant. Result: Among the 189 qualified respondents, the rate of safe sex with the use of a condom was 54.5%. Participants with higher scores on perceived susceptibility (p-value 0,035), perceived benefit (p-value 0,006), perceived barrier (p-value 0,039) and self-efficacy (p-value 0,015) were more likely to report adopting safe sex by using condoms. Conclusion: A significant number of MSM in DKI Jakarta remain at high risk of HIV/AIDS infection due to unsafe sex. The government should design more specific and contextualised education programmes for MSM and ensure that free condoms are easily accessible to address this public health concern.
 
Read More
S-11516
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dhani Syahputra Bukit; Pembimbing: Anwar Hassan; Penguji: Evi Martha, Dian Ayubi, Dwi Adi Maryandi, Husein Habsyi
T-4142
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Fadillah Adany; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Tiara Amelia, Katrin Widarni
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku gay dan dampak kesehatan pada laki-laki usia 20-29 tahun di Kota Tangerang tahun 2021. Pengambilan data dilakukan dari Juni- Juli 2021 dengan melakukan wawancara mendalam kepada 8 informan gay dan 3 orang informan petugas. Hasil penelitian menunjukkan perilaku gay disebabkan oleh multifaktoral dari lingkungan pergaulan, pola asuh, kekerasan seksual dan fisik. Lingkungan pergaulan yang mendukung adalah pergaulan yang dominan berteman dengan laki-laki atau dominan perempuan.
Read More
S-10639
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Wahyuni; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih, Anwar Hassan; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Ratu Nur`aini Solihah, Lilis Qouliyah
Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor (faktorpredisposisi yaitu umur, pengetahuan tentang HIV AIDS, sikap terhadappenggunaan kondom, faktor pendukung yaitu keterpaparan program HIV AIDSdan ketersediaan kondom, faktor penguat yaitu adanya kelompok dukungansebaya yang berhubungan dengan praktek penggunaan kondom pada kelompokwaria di Kota Tangerang tahun 2015. Penelitian ini menggunakan desain crosssectional dengan sampel berjumlah 151 waria yang diambil dari seluruh totalsampel dan kuesioner sebagai alat ukur penelitian. Hasil penelitian inimenunjukan bahwa 55,6% responden selalu menggunakan kondom, 56,3%berumur sama dengan 30 tahun, 57,6% berpengetahuan baik, 51,7% bersikapnegatif terhadap penggunaan kondom, 53,6% terpapar program HIV AIDS, 62,3%tersedia kondom, 76,2% ada Kelompok dukungan sebaya. Menurut uji chi squareterdapat 4 variabel yang memiliki hubungan signifikan terhadap praktekpenggunaan kondom pada waria yaitu pengetahuan mengenai HIV AIDS,keterpaparan program HIV AIDS, ketersediaan kondom, dan dukungan kelompoksebaya. Faktor yang paling dominan adalah keterpaparan program HIV AIDSterhadap praktek penggunaan kondom pada waria.Kata kunci : waria, kondom, HIV AIDS
The purpose of this study was to determine the factors (predisposing factors suchas age, knowledge about HIV AIDS, attitudes towards condom use, enablingfactors are exposure to HIV AIDS program and the availability of condoms,reinforcing factor is the existence of peer support groups associated with thepractice of the use of condoms on transsexuals in Tangerang city in 2015. Thisstudy used cross sectional design with a sample totaling 151 transvestites taken ofthe total sample and questionnaire as a measuring tool of the study. The results ofthis study showed that 55.6% of respondents always use a condom, 56.3 % of thesame age to 30 years, 57.6% good knowledge, 51.7% negative attitudes towardcondom use, 53.6% are exposed to HIV AIDS program, 62.3% providedcondoms, 76.2% no peer support groups. According to chi square test there arefour variables that have a significant relation to the practice of condom use ontranssexuals that knowledge about HIV AIDS, exposure to HIV AIDS program,the availability of condoms, and peer support. The most dominant factor is theexposure of HIV-AIDS program to the practice of the use of condoms on atranssexual.Keywords: transvestites, condoms, HIV AIDS
Read More
T-4343
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadya Hanna Talitha Sidabutar; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Pranti Sri Mulyani, Yemima Ester
Abstrak:
Sejak epidemi pertama pada 1980-an, HIV masih menjadi masalah kesehatan global hingga kini. Di Indonesia, epidemi HIV terkonsentrasi di populasi kunci, terutama pada lelaki seks lelaki (LSL). Meskipun prevalensi HIV pada LSL tinggi, masih sangat sedikit hal yang diketahui terkait kelompok LSL usia muda (15-24 tahun) di Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan konsistensi penggunaan kondom dengan status HIV setelah dikontrol variabel kovariat pada 1.357 LSL usia muda yang menjadi responden STBP 2018/2019 di 19 kabupaten/kota di Indonesia. Konsistensi penggunaan kondom oleh LSL usia muda di Indonesia sebesar 37,7%. Sebanyak 15% LSL usia muda positif antibodi HIV; angka ini 50 kali lebih besar dari prevalensi HIV nasional di populasi umum. Terdapat hubungan antara konsistensi penggunaan kondom dengan status HIV setelah dikontrol umur (p=0,013). LSL usia muda yang tidak konsisten menggunakan kondom berisiko 1,56 kali untuk terinfeksi HIV dibandingkan LSL yang konsisten menggunakan kondom setelah dikontrol oleh umur (95% CI: 1,1-2,22); dimana LSL berumur 20-24 tahun yang tidak konsisten menggunakan kondom lebih berisiko terinfeksi HIV dibandingkan LSL berumur 15-19 tahun yang tidak konsisten menggunakan kondom. Tindakan segera diperlukan untuk merespon fenomena ini dan mengurangi kontribusi signifikan LSL usia muda terhadap epidemi HIV di Indonesia. Pesan pencegahan HIV harus menekankan bahaya penggunaan kondom tidak konsisten, terutama ketika sering berganti pasangan seksual. Program intervensi HIV yang ditujukan bagi LSL usia muda juga sebaiknya mengeksplorasi sikap mereka terhadap penggunaan kondom, melatih keterampilan bernegosiasi dengan pasangan, menjelaskan cara mengurangi rasa takut/malu dalam membeli serta mengajak pasangan menggunakan kondom, dan mempromosikan tes HIV secara berpasangan.

Since the first epidemic in the 1980s, HIV remains a global health issue today. In Indonesia, the HIV epidemic is concentrated in key populations, particularly among men who have sex with men (MSM). Despite the high prevalence of HIV among MSM, very little is known about young MSM (ages 15-24) in Indonesia. This study aimed to analyze the relationship between condom use consistency and HIV status, controlling for covariates among 1,357 young MSM respondents from the IBBS 2018/2019 in 19 districts/cities in Indonesia. Consistent condom use among young MSM in Indonesia is 37.7%. A total of 15% of young MSM tested positive for HIV antibodies; this rate is 50 times higher than the national HIV prevalence in general population. There is an association between consistent condom use and HIV status after controlling for age (p=0.013). Young MSM who do not consistently use condoms are 1.56 times more likely to be infected with HIV compared to those who do, after controlling for age (95% CI: 1.1-2.22). Among those aged 20-24, inconsistent condom use poses a higher risk of HIV infection compared to those aged 15-19. Immediate action is needed to address this phenomenon and reduce the significant contribution of young MSM to the HIV epidemic in Indonesia. HIV prevention messages must emphasize the dangers of inconsistent condom use, especially with frequent partner changes. HIV intervention programs for young MSM should explore their attitudes towards condom use, train negotiation skills with partners, explain how to reduce fear/shame in purchasing and encouraging partners to use condoms, and promote couple-based HIV testing.
Read More
T-6929
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adia Reza Khaleda; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dian Ayubi, Gura Susana Waititalon
Abstrak:

Remaja putri yang tinggal di panti sosial merupakan kelompok rentan yang berisiko tinggi terlibat dalam perilaku seksual berisiko, seperti kehamilan di luar nikah, infeksi menular seksual (IMS), dan kekerasan seksual. Kerentanan ini dipengaruhi oleh kurangnya dukungan keluarga, pengalaman trauma, keterbatasan akses informasi kesehatan reproduksi, serta pola asuh institusional yang kurang memberikan bimbingan emosional. Kehidupan setelah keluar dari panti yang tidak dipersiapkan dengan baik juga memperbesar risiko mereka mengalami masalah reproduksi. Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan intervensi kesehatan seksual dan reproduksi yang dirancang khusus untuk remaja putri di panti sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Comprehensive Sexuality Education (CSE) terhadap peningkatan pengetahuan, persepsi risiko (keparahan, kerentanan, efikasi diri), dan niat pencegahan perilaku seksual berisiko. Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan kelompok intervensi (n=55), kontrol (n=62), dan peer educator (n=14). Hasil uji Wilcoxon menunjukkan peningkatan yang signifikan pada seluruh variabel dalam kelompok intervensi dan peer educator (p < 0,05), sedangkan kelompok kontrol menunjukkan perubahan yang tidak bermakna secara statistik (p > 0,05). Intervensi CSE terbukti efektif dalam meningkatkan kesiapan remaja putri menghadapi risiko perilaku seksual. Penelitian ini merekomendasikan pelaksanaan CSE berbasis peer education secara berkelanjutan di panti sosial.




Adolescent girls living in child welfare institutions are a vulnerable group at high risk of engaging in risky sexual behavior, such as unintended pregnancy, sexually transmitted infections (STIs), and sexual violence. This vulnerability is influenced by a lack of family support, past trauma, limited access to reproductive health information, and institutional care that often lacks emotional guidance. Poor preparation for life after leaving the institution further increases their risk of reproductive health issues. Based on this situation, sexual and reproductive health interventions tailored specifically for adolescent girls in child welfare institutions are needed. This study aimed to assess the effect of Comprehensive Sexuality Education (CSE) on improving knowledge, risk perception (severity, vulnerability, self-efficacy), and the intention to prevent risky sexual behavior. A quasi-experimental design was used involving an intervention group (n=55), control group (n=62), and peer educator group (n=14). Wilcoxon tests showed significant improvements in all variables for the intervention and peer educator groups (p < 0.05), while the control group showed no statistically significant changes (p > 0.05). The CSE intervention proved effective in increasing adolescents’ preparedness to face risky sexual behavior. This study recommends the sustainable implementation of peer-based CSE in child welfare institutions.

Read More
S-12041
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive