Ditemukan 33676 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Rizanda Machmud; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo, Darfioes Basir, Adang Bachtiar; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Kusharisupeni, Sudijanto Kamso, Suprijanto Riyadi, Syahrizal Syarif
D-111
Depok : FKM-UI, 2005
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Irasdinar Yugitama Irawan; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Ema Hermawati, Iyin Listiyowati
S-10196
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rosfita Rasyid; Promotor:Sudijanto Kamso; Ko-Promotor: Kusharisupeni, Rizanda Machmud; Penguji: Soekidjo Notoatmodjo, Purwantyastuti, Soewarta Kosen, Ratna Djuwita, Adang Bachtiar
D-241
Depok : FKM-UI, 2010
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Bambang Sutrisna; Promotor: Buchari Lapau; Ko-Promotor: Purnawan Junadi, Arthur L. Reingold, Umar Fahmi Achmadi, Amal Chalik Sjaaf, Agus Suwandono, Cholid Rasidi, Soekidjo Notoatmodjo
Abstrak:
ABSTRAK Faktor risiko, menurut Last (1983), adalah suatu terminologi yang dihasilkan oleh suatu penelitian epidemiologi yang mempunyai beberapa arti yang antara lain: 1) suatu atribut atau pemajanan yang dapat dihubungkan dengan peningkatan probabilitas terjadinya suatu outcome seperti terjadinya suatu penyakit; yang tidak selalu merupakan faktor kausal. Ini sering disebut sebagai risk marker 2) suatu atribut atau pemajanan yang meningkatkan probabilitas terjadinya suatu penyakit atau suatu outcome tertentu lainnya. Ini sering disebut penentu (determinant) atau faktor yang menentukan 3) suatu penentu yang dapat dimodifikasi dengan intervensi sehingga dapat mengurangi probabilitas teijadinya penyakit atau suatu outcome tertentu. Ini Bering juga disebut sebagai faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan faktor risiko dari pneumonia pada bayi dan anak balita tercakup dalam tiga pengertian di atas. Pneumonia adalah penyakit dengan gejala batuk pilek disertai napas sesak atau napas cepat. Definisi pneumonia di atas adalah definisi kasus yang baru diperkenalkan oleh WHO pada tahun 1989 dan dipakai oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia dalam program penanggulangan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara nasional pada tahun 1991. Sebelumnya, istilah yang dipakai untuk kasus ini adalah ISPA. ISPA biasanya mengandung arti yang lebih luas karena di dalam ISPA juga termasuk saluran pernapasan atas, telinga, hidung, dan tenggorok, sedangkan pada pneumonia yang dimaksud adalah infeksi saluran pernapasan bawah yang akut dan penyakit ini mempunyai tingkat kematian yang tinggi. Sebenarnya, program penanggulangan ISPA yang mempunyai tujuan menurunkan mortalitas pada bayi dan anak balita ditujukan pada pneumonia ini. Oleh karena itu, sejak tahun 1989, WHO menggunakan istilah pneumonia dalam case managementnya sebagai pengganti ISPA dan hal ini pun dilaksanakan oleh Departemen Kesehatan RI sejak tahun 1991. Dalam telaah kepustakaan pun baru pada tahun-tahun terakhir ini lebih banyak muncul istilah pneumonia; sebelumnya cukup banyak dipergunakan istilah ISPA. Biasanya, yang dimaksud pneumonia sekarang adalah istilah yang dulunya dikategorikan sebagai "ISPA sedang" dan "ISPA berat".
Read More
D-17
Depok : FKM-UI, 1993
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sudarti Kresno; Pembimbing: Soeratmi Poerbonegoro
D-63
Depok : FKM UI, 1999
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Arum Pratiwi; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Efi Martha, Hendrayati Ipango
Abstrak:
Perilaku pemenuhan gizi pada balita dengan pemberian makan yang optimal dapat membantu dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor predisposisi (usia ibu, pendidikan ibu, pendapatan keluarga, pengetahuan, dan sikap), faktor penguat (peran kader posyandu dan dukungan keluarga), dan faktor pemungkin (ketersediaan pangan) dengan perilaku pemenuhan gizi balita di Desa Tenjo Kabupaten Bogor.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional dimana data yang diambil menggunakan kuisioner pada 90 ibu balita.
Hasil dari penelian menunjukkan bahwa 57,8% ibu balita masih memiliki perilaku yang kurang dalam pemenuhan gizi balita. Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pemenuhan gizi balita adalah sikap (nilai P=0,04) dan peran kader posyandu (nilai P=0,004).
Read More
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor predisposisi (usia ibu, pendidikan ibu, pendapatan keluarga, pengetahuan, dan sikap), faktor penguat (peran kader posyandu dan dukungan keluarga), dan faktor pemungkin (ketersediaan pangan) dengan perilaku pemenuhan gizi balita di Desa Tenjo Kabupaten Bogor.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional dimana data yang diambil menggunakan kuisioner pada 90 ibu balita.
Hasil dari penelian menunjukkan bahwa 57,8% ibu balita masih memiliki perilaku yang kurang dalam pemenuhan gizi balita. Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pemenuhan gizi balita adalah sikap (nilai P=0,04) dan peran kader posyandu (nilai P=0,004).
S-10074
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yusinta Muawanah; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Muhammad Yusuf
S-10246
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dinda Kharisa Aurora; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Ratna Djuwita, Reno Riyawan
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 12-59 bulan di Provinsi Bengkulu pada tahun 2018. Data dalam penelitian ini merupakan data sekunder dari Riskesdas tahun 2018. Penelitian dengan desain potong lintang ini menemukan prevalensi kejadian stunting pada anak usia 12-59 bulan di Provinsi Bengkulu adalah sebesar 25,3%. Pekerjaan ibu (PR: 2,26; 95% CI: 1,39-3,68), tinggi badan ibu (PR: 1,78; 95% CI: 1,27-2,51), umur anak (PR: 1,83 95% CI: 1,09-3,08), dan tempat tinggal (PR: 2,26; 95% CI:1,46-3,5) ditemukan berhubungan secara signifikan dengan kejadian stunting pada anak usia 12-59 bulan di Provinsi Bengkulu. Tempat tinggal ditemukan menjadi confounder dalam hubungan antara panjang badan lahir dengan kejadian stunting pada anak usia 12-59 bulan di Provinsi Bengkulu. Meningkatkan awareness masyarakat luas terhadap isu stunting, kerjasama lintas sektor dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting, serta pelaksanaan pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dengan memberikan perhatian lebih pada kelompok-kelompok berisiko dapat mencegah dan menanggulangi stunting pada anak balita.
Read More
S-10756
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Syumaya Cempaka Noor; Pembimbing: Iwan Ariawan; Penguji: Sabarinah Prasetyo, Mujadid
Abstrak:
Skripsi ini membahas tentang kepatuhan petugas yang baik dengan yang tidakbaik terhadap perilaku dia dalam memberikan obat yang rasional atau tidakrasional pada anak balita dengan penyakit Pneumonia dan Diare. Penelitian inimerupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Hasil penelitianmenyatakan bahwa masih banyak petugas yang memberikan obat secara tidakrasional yaitu diatas 60 % dan disarankan untuk dibuatnya SOP dalam pemberianpengobatan yang sesuai dengan standart Rasionalitas Obat.
Kata kunci :Penggunaan Obat Rasional, Kepatuhan Petugas
This thesis discusses the compliance officer the good with the bad for herbehavior in delivering drugs rational or irrational in children under five withpneumonia and diarrhea diseases. This research is a quantitative study with cross-sectional design. The results stated that there are many officers who gave the drugis not rational is above 60% and is recommended for SOP made in the provisionof treatment in accordance with the standard drug Rationality
Keywords:Rational Drug Use, Compliance Officer
Read More
Kata kunci :Penggunaan Obat Rasional, Kepatuhan Petugas
This thesis discusses the compliance officer the good with the bad for herbehavior in delivering drugs rational or irrational in children under five withpneumonia and diarrhea diseases. This research is a quantitative study with cross-sectional design. The results stated that there are many officers who gave the drugis not rational is above 60% and is recommended for SOP made in the provisionof treatment in accordance with the standard drug Rationality
Keywords:Rational Drug Use, Compliance Officer
S-7644
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Eko Setyo Pambudi; Promotor: Budi Utomo; Ko promotor: Budi Hidayat, Endang L Achadi; Penguji: Anhari Achadi, Soewarta Kosen, Prastuti Soewondo, Mardiati Nadjib
D-307
Depok : FKM-UI, 2015
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
