Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 13250 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Mudjtahid Ahmad Djojosugito,
D-53
[s.l.] : [s.n.] : 1990
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Afrinda Mega Kencana; Pembimbing: Haryoto Kusnoputro; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Elisabeth Ene Jawan
Abstrak: Menurut Kemenkes No.129 tahun 2008 angka kejadian infeksi luka operasi adalah ≤1,5% dimana di RSIA Selasih Medika terdapat 5,9% pada tahun 2016. Penelitian inibertujuan untuk menidentifikasi gambaran lingkungan sebagai pengendalian infeksinosokomial di RSIA Selasih Medika. Jenis penelitian ini disusun dengan desaindeskriptif. Menilai gambaran lingkungan rumah sakit melalui hasil laboratorium,observasi dan wawanvara. Penelitian ini menunjukan sistem ventialasi dengan suhurata rata ruang perawatan nifas Mawar 25.10C dengan kelembaban udara 62.5% danruang perawatan nifas Aster dengan rata-rata suhu 27.50C dengan kelembaban74.02%, ruang operasi memiliki ventilasi udara yang baik yaitu suhu udara 25.2 0Cdengan kelembaban udara 46,75%. Angka kuman udara dalam ruang adalah 5000CFU/m³ pada ruang perawatan nifas Mawar dan 36000 CFU/m³ pada ruangan nifasAster. Angka kuman dilantai ruang Mawar 0 CFU/cm² dan Aster 7 CFU/cm² jugaruang operasi memenuhi standar. Alat operasi pada set 1 terdapat 15 CFU/cm² danpada set 2 terdapat 13 CFU/cm² dan alat pengganti verban yaitu terdapat 0 CFU/cm².Angka kuman dalam linen set 1 terdapat 0 CFU/cm² dan linen set 2 terdapat 6CFU/cm². Perilaku cuci tangan petugas kesehatan RSIA Selasih Medika adalahsebesar 82.7% baik dan 17.3% tidak baikKata kunci: Infeksi Nosokomial, Infeksi Luka Operasi, Angka Kuman
According to Ministry of Health No.129 year 2008 the incidence of wound infectionis ≤ 1.5% where in RSIA Selasih Medika there is 5.9% in 2016. This research is veryuseful to identify environmental picture as control of nosocomial infection at RSIASelasih Medika. Type of research is prepared with descriptive design. Assess thehospital environment overview of laboratory, observation and wawanvara results.This study shows the ventation system with the average temperature of 255 ° Cmaturity treatment with air humidity of 62.5% and the Aster nifas room with anaverage temperature of 27.50C with humidity 74.02%, the operating room has goodair ventilation ie 25.2 0C air temperature with humidity Air 46.75%. The number ofindoor airborne germs is 5000 CFU / m³ in the treatment room of the Mawar and36000 CFU / m³ in the Aster room. The germ on the floor of the Rose room 0 CFU /cm² and Aster 7 CFU / cm² also the operating room meets the standards. Theoperational tool on set 1 is 15 CFU / cm² and in the 2nd set there is 13 CFU / cm² andthe verban replacement tool is 0 CFU / cm². The number of germs in linen set 1 is 0CFU / cm² and linen set 2 is 6 CFU / cm². Behavior of handwashing health officerRSIA Selasih Medika is equal to 82,7% good and 17,3% not goodKey words: Nosocomial Infection, Wound Infection Surgery, Germ Fig.
Read More
S-9541
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Christina Satya Magdalena; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Puput Oktamianti, Ade Sarantie
Abstrak: Penelitian ini membahas kelengkapan pengisian formulir persetujuan tindakan operasi di RSUD Koja Tahun 2018. Tujuan dari peneltian ini adalah untuk mendapatkan gambaran hasil analisis kelengkapan pengisian formulir persetujuan tindakan operasi. Jenis penelitian ini adalah mixed method dengan menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif. Penelitian kuantitatif dengan telaah dokumen formulir persetujuan tindakan operasi dan pengisian kuesioner oleh responden, penelitian kualitatif dengan wawancara mendalam. Hasil penelitian didapatkan rata-rata kelengkapan pengisian formulir persetujuan tindakan operasi RSUD Koja sebesar 76,54%. Hal ini menunjukkan bahwa kelengkapan formulir persetujuan tindakan operasi belum sesuai dengan standar RSUD Koja sebesar 100%. Hasil penelitian menunjukkan masih adanya perbedaan persepsi dalam pengisian formulir, kurangnya sosialisasi SPO, belum efektifnya pemberian umpan balik, belum ditetapkannya kelengkapan pengisian formulir persetujuan tindakan operasi sebagai standar kinerja individu, serta belum adanya sistem reward punishment. Hal tersebut dapat menjadi faktor yang mempengaruhi kelengkapan pengisian formulir persetujuan tindakan operasi di RSUD Koja.
Read More
S-9990
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ronnie Rivany; Pembimbing: Ascobat Gani, Soewarta Kosen
D-104
Depok : FKM-UI, 2004
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fatimah; Promotor: Sudijanto Kamso; Kopromotor: Purwantyastuti, Erlina Burhan; Penguji: Purnawan Junadi, Bachti Alisjahbana, Soewarta Kosen, Artha Budi Susila Duarsa, Besral
Abstrak: ABSTRAK
 
 
Disertasi ini membahas tentang determinan infeksi tuberkulosis laten pada wargabinaan pemasyarakatan di Rutan klas 1 Bandung. Penelitian ini menggunakandesain cross sectional dan dianalisis dengan regresi logistik berganda. Hasilpenelitian ini menunjukan prevalensi infeksi TB laten sebesar 76,9 dan TB aktif2,3 . Risiko tinggi dan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kejadianinfeksi TB laten yaitu kebiasan merokok sering sebesar 12,99 kali dan kebiasanmerokok kadang-kadang sebesar 9,34 kali. Determinan lainnya yang berisikomengalami infeksi TB laten yaitu riwayat kontak TB diluar rutan sebesar 3,02kali, status gizi kurang dari normal sebesar 2,64 kali dan status gizi lebih darinormal sebesar 0,21 kali, penahanan lebih dari 1 kali sebesar 0,44 kali, usia lebihdari 26-34 tahun sebesar 0,23 kali, usia 34-42 tahun sebesar 0,41 kali dan usialebih dari 42 tahun sebesar 0,63 kali. TB laten sangat tinggi sehingga diperlukanskrining TB laten agar dapat memutus mata rantai TB. Determinan utama TBlaten adalah merokok sehingga perlu pembatasan penjualan rokok dan membuatregulasi hingga kebiasaan merokok warga binaan pemasyarakatan berhenti. Selainitu, juga perlu meningkatkan status gizi sesuai dengan angka kecukupan gizi.
 

 
ABSTRACT
 
 
This dissertation discusses the determinant latent tuberculosis infection ofprisoners in state prison class 1 Bandung. This study used cross sectional designand analyzed by multiple logistic regression. The results of this study show theprevalence of latent TB infection is 76.9 and active TB is 2.3 . The highest riskand the most dominant factors associated with the incidence of latent TB infectionwho have smoking habits frequently are 12.99 times and intermitent smokinghabits are 9.34 times. Other determinants who have risk of latent TB infectioninclude a history of TB contact outside the prison is 3.02 times, less nutritionalstatus from normally is 2.64 and nutritional status more than normally is 0.21times, incarceration more than once is 0,44 times, age range of 26 34 years old is0.23 times, the age 34 42 years is 0.41 times and the age more than 42 years is0.63 times. The occurence of latent TB is very high that latent TB screening isnecessary to be able to cut the transmission of TB. The main determinant of latentTB is smoking so it is necessary to restrict the sale of cigarettes and make aregulation to stop smoking habits of prisoners. In the other hand, it also needs toimprove nutritional status in accordance with the nutritional adequacy rate.
Read More
D-371
Depok : FKM-UI, 2017
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Puji Laksmini; Promotor: Besral; Kopromotor: Agustin Kusumayati, Evi Martha; Penguji: Milla Herdayati, Sutanto Priyo Hastono, Sudibyo Alimoeso, Ade Jubaedah, Ariyanto Nugroho
Abstrak:
Latar Belakang: Otonomi seksual perempuan merupakan determinan penting kesehatan reproduksi, termasuk risiko infeksi menular seksual (IMS), namun studinya masih terbatas di Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis distribusi dan determinan otonomi seksual perempuan berpasangan serta hubungannya dengan self-reported IMS. Metode: Studi ini menggunakan desain explanatory sequential mixed-methods. Tahap kuantitatif menggunakan data SDKI 2017 (cross-sectional) melibatkan perempuan berpasangan usia 15–49 tahun. Analisis data menggunakan Principal Component Analysis (PCA), Chi-Square, regresi logistik, dan regresi multilevel pada 19 variabel (faktor individu, relasional, masyarakat). Tahap kualitatif berupa wawancara mendalam lintas pemangku kepentingan untuk mengeksplorasi temuan kuantitatif. Hasil: Mayoritas responden memiliki otonomi seksual tinggi (54,2%), dengan tingkat pendidikan sebagai determinan paling dominan (OR=3,63). Analisis multilevel menunjukkan perbedaan antarprovinsi (faktor makro) berkontribusi sebesar 33,4% terhadap variasi otonomi seksual. Otonomi seksual rendah berhubungan dengan penurunan pelaporan gejala IMS sebesar 0,60 kali setelah dikontrol variabel sikap kekerasan fisik, pengetahuan HIV/AIDS dan IMS,  otonomi pengambilan keputusan, pekerjaan, dan usia responden.  Hal ini berkaitan dengan health-seeking behavior di tengah stigma masyarakat, di mana sikap terhadap kekerasan fisik menjadi prediktor dominan kejadian IMS (AOR=2,14). Kesimpulan: Otonomi seksual perempuan di Indonesia dipengaruhi secara kuat oleh struktur lingkungan dan agama. Intervensi kesehatan reproduksi harus diintegrasikan dengan penguatan kesetaraan gender di ranah domestik untuk meningkatkan otonomi seksual dan menekan transmisi IMS.

Background: Women's sexual autonomy is a critical determinant of reproductive health, including the risk of Sexually Transmitted Infections (STIs); however, studies on this topic remain limited in Indonesia. This study aims to analyze the distribution and determinants of sexual autonomy among partnered women and its association with STIs. Methods: This study employed an explanatory sequential mixed-methods design. The quantitative phase utilized cross-sectional data from the 2017 Indonesia Demographic and Health Survey (IDHS), involving partnered women aged 15–49 years. Data were analyzed using Principal Component Analysis (PCA), Chi-Square, logistic regression, and multilevel regression across 19 variables encompassing individual, relational, and community factors. The qualitative phase consisted of in-depth interviews across multiple stakeholders to explain the quantitative findings. Results: The majority of respondents demonstrated high sexual autonomy (54.2%), with educational attainment emerging as the most dominant determinant (OR=3.63). Multilevel analysis revealed that inter-provincial variations (macro factors) contributed 33.4% to the variance in sexual autonomy. Low sexual autonomy was associated with a 0.60-fold decrease in reporting STI symptoms after adjusting for variables such as attitudes toward physical violence, knowledge of HIV/AIDS and STIs, decision-making autonomy, employment, and respondents' age. This phenomenon is closely linked to health-seeking behavior amidst social stigma, wherein attitudes toward physical violence served as the dominant predictor for STI occurrence (AOR=2.14). Conclusion: Women's sexual autonomy in Indonesia is strongly influenced by environmental structures and religion. Reproductive health interventions must be integrated with the strengthening of gender equality within the domestic sphere to enhance sexual autonomy and mitigate STI transmission.
Read More
D-640
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cermin Dunia Kedokteran (CDK), No.83, 1993, hal. 24-25, ( Cat. ada di bendel 93/94)
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dhina Kemala; Pembimbing: Sandi Iljanto
B-125
Depok : FKM UI, 1996
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fariani Syahrul; Pembimbing: Nuning Maria Kiptiyah
T-538
Depok : FKM UI, 1997
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Iswati; Pembimbing: Lukman Hakim Tarigan
S-2015
Depok : FKM UI, 2000
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive