Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 30570 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Julitasari Sundoro; Pembimbing: Ali Sulaiman
D-89
[s.l.] : [s.n.] : 2003
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Devi Anisiska; Pembimbing: Adik Wibowo; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Helen Andriani, Yusneri, Elan Derlan
Abstrak:
Introduksi vaksin Inactivated Polio Vaccine (IPV) ke dalam program imunisasi nasional sejak tahun 2016 yang diberikan pada bayi usia empat bulan bersamaan dengan vaksin Pentavalen yang berisi Difteri Pertusis Tetanus Hepatitis B dan Haemophilus Influenzae tipe B (DPT-HB-Hib) dosis ke-3 belum berjalan dengan baik. Hal ini terlihat dari perbedaan cakupan yang cukup besar antara kedua jenis imunisasi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan vaksinator terhadap Standar Prosedur Operasional (SPO) pemberian imunisasi DPT-HB-Hib3 dan IPV secara bersamaan di Puskesmas wilayah Kabupaten Subang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif terhadap 80 orang responden sesuai dengan kriteria inklusi dengan melakukan wawancara melalui media daring karena situasi pandemi Covid-19. Data dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan vaksinator di Puskesmas wilayah Kabupaten Subang terhadap SPO pemberian imunisasi DPT-HB-Hib3 dan IPV cukup rendah, yaitu 28,7%. Karakteristik individu yang berhubungan secara signifikan adalah pengetahuan (p 0,003) dan sikap (p 0,049), sedangkan karakteristik organisasi tidak memiliki hubungan yang signifikan secara statistik namun memiliki OR yang cukup bermakna. Hal yang perlu mendapat perhatian adalah kekosongan vaksin IPV yang terjadi sejak September 2019. Disarankan kepada pihak berwenang untuk melakukan peningkatan pengetahuan vaksinator melalui pelatihan daring, meningkatkan kualitas supervisi dan memenuhi kebutuhan vaksin serta sarana prasarana penunjang imunisasi

Inactivated Polio Vaccine (IPV) introduction into national immunization program in 2016 which should be given simultaneously with Pentavalen vaccine which consist of antigens Diphteria Pertusis Tetanus Hepatitis B and Haemophilus Influenzae tipe B (DPT-HB-Hib) third dose at four month infants were not running very well. There is still considerable discrepancy of coverage between IPV and DPT-HB-Hib3. This study aim to analyse the determinants of vaccinator’s compliance with the Standard Operational Procedure (SOP) of DPT-HB-Hib3 and IPV Multiple Injection in Puskesmas area of Subang District. This study use quantitative approach on 80 respondents according to inclusion criterias which conducted by online interview due to Covid-19 pandemic situation. Data were analyzed by univariate, bivariate and multivariate analysis. The results showed that the compliance of vaccinators with the SOP of DPT-HB-Hib3 and IPV multiple injection was very low (28,7%). Individual characteristic that significantly related to vaccinator’s compliance are knowledge about immunization (p 0,003) and attitude (p 0,049), while from organizational characteristics don’t have any statistically significant  Universitas Indonesia relationship but have a significant OR. IPV vacant since September 2019 is one of the things that need special attention. The recommendations for the government are to increase the knowledge of vaccinators through online training, improve the quality of supervision and meet the needs of vaccines and immunization support infrastructure.

Read More
T-5965
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
CDK Vol.36, No.7 (2009)
Jakarta : Kalbe Farma, 2009
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Triyana Noor Hidayati; Pembimbing: Sabarinah B. Prasetyo
S-892
Depok : FKM UI, 1995
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Abioso Wicaksono; Pembimbing: Ratna Djuwita Hatma; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Eddy Harijanto
Abstrak:
Latar Belakang: Sepsis masih merupakan penyebab tertinggi kematian di ICU. Saat ini, qSOFA adalah alat skrining untuk Sepsis yang paling sering digunakan di IGD di Indonesia, akan tetapi menurut panduan terbaru dari ?Surviving Sepsis Campaign?, qSOFA sudah tidak valid lagi. Studi ini bertujuan untuk menilai akurasi diagnostic dari qSOFA, NEWS2 dan mqSOFA yang merupakan kombinasi dari qSOFA dan NEWS2 sebagai alat screening untuk Sepsis. Metode: Studi kohort retrospektif ini menggunakan data ICU dari suatu RS swasta tipe B di Tangerang Selatan. Uji diagnostik dilakukan untuk menilai akurasi dari qSOFA, NEWS2 and mqSOFA. Untuk memperhitungkan determinan lain yang relevan pada praktek klinis sehari-hari, maka dilakukan juga diagnostic research untuk mendapatkan alat skrining yang lebih akurat. Hasil: Penelitian ini mengikut-sertakan 305 pasien yang dirawat di ICU pada tahun 2020. Akurasi dari mqSOFA di IGD cukup baik (modest) untuk menapis kejadian Sepsis dengan AUROC= 0.605. 95%CI: 0,536-0,675, nilai p= 0,004 pada titik potong skor = 3, Sensivitas= 63.1%dan Spesifisitas = 53,3%. Akurasi ini lebih baik daripada qSOFA, dan berada sedikit di bawah NEWS2. Akurasi Comp_mqSOFA hanya sedikit lebih baik daripada Comp_mqSOFA. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa mqSOFA berpotensi menjadi alat skrining untuk Sepsis dengan akurasi yang lebih baik daripada qSOFA. Faktor lain seperti usia di atas 65 tahun, adanya penyakit paru dan kurang gizi juga berkontribusi untuk terjadinya Sepsis di ICU. Comp_mqSOFA mempunyai akurasi sedikit lebih baik dibandingkan mqSOFA.

Background: Sepsis remains as one of the highest contributors of mortality in the ICU. qSOFA is the most used screening tool for Sepsis in emergency departments in Indonesia, however according to the newest guideline from the ?Surviving Sepsis Campaign? qSOFA is no longer valid. This study aims to measure of the performance of qSOFA, NEWS 2 and a combination of qSOFA and NEWS 2 (mqSOFA) in the screening for Sepsis. Methods: This retrospective cohort study uses data from a private type-B hospital in Tangerang Selatan. Diagnostic testing was performed to measure the accuracy of qSOFA, NEWS and mqSOFA. Diagnostic research was then conducted to determine whether mqSOFA added diagnostic value in the diagnosis of Sepsis in daily practice. Results: The study included 305 patients who were admitted for intensive care in the year of 2020. The accuracy of mqSOFA in the emergency department was modest with an AUROC = 0.605, 95% CI: 0.536-0.675, p value- 0.004 at cut-off =3, Sensitivity= 63.1% and Specificity=55.3%. The accuracy of mqSOFA is better than qSOFA, and slightly less accurate to NEWS2. Comp_mqSOFA?s accuracy is not much better than that of mqSOFA. Conclusion: This study shows mqSOFA can be a significant too in screening of Sepsis. Other factors such as age over 65 years old, pulmonary disease and malnourishment also contribute to the incidence of Sepsis.
Read More
T-6487
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ario Patrianto Partodimulyo ... [et al.]
JRI Vol.26, No.1
Jakarta : Indonesian Society of Respirology, 2006
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwinda Ramadhoni; Pembimbing: Asih Setiarini
S-1946
Depok : FKM UI, 2000
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dini Priyantini; Pembimbing: Endang Laksminingsih Achadi
S-3100
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bambang Karmanto; Pembimbing: Sujana Jatiputra; Penguji: Krisnawati Bantas, Anwar Hasan, J Prastowo, Yuswati
Abstrak:

Dari laporan Rumah Sakit di kota Cirebon diperoleh data mengenai jumlah BBLR tahun 2000 sebesar 333 bayi dari 3388 bayi yang lahir hidup (11,55 %). Data tersebut memang belum menggambarkan keadaan BBLR di kota Cirebon yang sesungguhnya oleh karena data yang ada dan terkumpul hanya berasal dari rumah sakit saja, belum mencakup semua Puskesmas di kota Cirebon. Sedangkan dan pola kematian bayi umur 0 - 28 hari yang rawat inap di rumah sakit kota Cirebon tahun 2000 menunjukkan bahwa BBLR merupakan penyebab kematian nomor 3 dari penyebab kematian bayi umur 0 - 28 hari yang rawat inap di rumah sakit kota Cirebon. Kegiatan pelayanan antenatal tingkat kota Cirebon dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2001 menunjukkan hasil yang kurang memuaskan karena masih di bawah target angka cakupan pelayanan antenatal nasional dan selisih antara K1 dan K4 masih besar yaitu diatas 10%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas pemanfaatan pelayanan antenatal dengan kejadian BBLR di kota Cirebon dengan mengendalikan faktor-faktor lain yang mempengaruhinya. Rancangan penelitian ini adalah kasus kontrol tidak. berpadanan. Responden pada penelitian ini berjumlah 250 orang yang terdiri dari 125 orang ibu yang melahirkan bayi dengan BBLR (kasus) dan 125 orang ibu yang melahirkan bayi dengan berat badan normal (kontrol) selama periode .fanuari 2001 ski Juni 2002. Data diolah dengan analisis statistik univariat, bivariat dan analisis multivariat dengan menggunakan regresi logistik. Penelitian menunjukkan bahwa kejadian BBLR pada ibu hamil yang memanfaatkan pelayanan antenatal dengan kualitas rendah mempunyai peluang 2,92 (1,40 - 6,06) kali lebih besar dibandingkan dengan ibu hamil yang memanfaatkan pelayanan antenatal dengan kualitas baik setelah dikontrol variabel jarak kelahiran. Perlu diadakan kunjungan rumah terutama pada kelompok ibu hamil yang mempunyai riwayat pemanfaatan pelayanan antenatal yang jelek dan jarak kelahiran yang kurang dari 24 bulan untuk memotivasi agar pada kehamilan berikutnya mau memanfaatkan pelayanan antenatal dengan baik, demikian juga dalam perencanaan maupun kebijakan Dinas Kesehatan yang berkaitan dengan peningkatan kualitas pemanfaatan pelayanan antenatal sebaiknya mengalokasikan anggaran Puskesmas lebih memprioritaskan pada ibu hamil yang mempunyai riwayat pemanfaatan pelayanan antenatal yang jelek dan jarak kelahiran yang kurang dari 24 bulan. Selain itu perlu juga diadakan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan kualitas pemanfaatan pelayanan antenatal dan kejadian BBLR dengan menggunakan rancangan penelitian kohort prospektif.


 

The Relationship between the Quality of Antenatal Care Utilization and the Prevalence of Low Birth Weight at Health Centers in Cirebon City, 2001-2002Based on hospital reports in Cirebon City, the number of Low Birth Weight (LBW) in the year 2000 is. 333 out of 3,388 live birth infants (11.55%). The data could not describe the real situation of Low Birth Weight in Cirebon City, since the data is only collected from hospitals, not from the entire Health Centers in Cirebon City. Based on the hospital data in Cirebon City in the year 2000, Low Birth Weight was the third highest caused of inpatient neonatal (infant's age 0-28 days) death. Data between 1999 - 2001 showed that Antenatal Care (ANC) in Cirebon City was not satisfactory. The percentage was still below the national target of ANC and the gap between K1 and K4 was still high (more than 10%), The objective of this study is determine the relationship between the quality of Antenatal Care utilization and the prevalence of Low Birth Weight at Health Centers in Cirebon City by controlling its confounding factors. The design of this study is non-matching case control with. The number of respondents in this study was 250 that consisted of 125 mothers who gave birth with LBW as a case group birth and 125 mothers who gave birth normal weight infant during the period of January 2001 - June 2002. Bivariate and univariate analysis was conducted as well as multivariate analysis by using logistic regression analysis. The result of this study showed that mothers who utilized bad (low) quality of ANC had the tendency to have LBW 2.92 times higher (L40-6.06) compared to mothers who utilized good (high) quality ANC, controlled by distance of birth variable. The study recommended to provide neonatal visit especially to mothers with bad quality of ANC history and the distance of birth less than 24 months. The activities aimed to motivate mothers to conduct good ANC in the next pregnancy. It is also suggested that in term of the improvement of quality of ANC utilization, the Local Health Service plan and policy will allocate health services budget, and should give priority to those mothers who is having bad ANC. In addition, it is also needed to conduct a further study related to quality of ANC utilization and prevalence of LBW by using cohort perspective design.

Read More
T-1405
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive