Ditemukan 18345 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Abdul Razak Thaha; Promotor: Soekirman; Purnawan Junadi; Pembimbing: A. Djaelani Sediaoetama
D-22
Jakarta : FKM-UI, 1995
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Firlia Ayu Arini; Promotor: Endang Laksminingsih Achadi; Kopromotor: Besral, Fasli Jalal; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Kusharisupeni Djokosujono, Hartono Gunardi, Atmarita, Suwarta Kosen
Abstrak:
Read More
Latar Belakang : Seribu Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) merupakan periode emas bagi pertumbuhan dan perkembangan yang menentukan kualitas kesehatan anak pada daur kehidupan berikutnya. Hambatan pertumbuhan yang terjadi pada periode tersebut terutama karena kekurangan gizi, menyebabkan janin yang bersifat plastis menyesuaikan dengan membatasi tumbuh kembang. Beberapa studi longitudinal menunjukkan bahwa pertumbuhan lebih cepat setelah terjadinya hambatan pertumbuhan dapat menjadi faktor risiko tekanan darah tinggi pada usia remaja. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh pertumbuhan cepat pada anak dengan riwayat hambatan pertumbuhan di usia 0-23 bulan terhadap tekanan darah pada usia 17-19 tahun. Metode : Data pada penelitian ini menggunakan hasil dari Indonesian Family Life Survey 1997,2000 dan 2014 yang diambil pada 13 provinsi di Indonesia. Pengambilan data dilakukan secara longitudinal dengan unit sampel rumah tangga dengan anak usia 0-23 bulan pada tahun 1997 kemudian diikuti pada tahun 2000 dan 2014. Pengukuran pertumbuhan cepat ditentukan dengan perubahan nilai z skor BB/U, PB/U atau TB/U, dan BB/TB antar tahun survei, yang lebih dari 0.67 poin. Tekanan darah diukur pada tahun 2014 yaitu saat anak berusia 17- 19 tahun. Besar sampel penelitian sebanyak 671 anak yang dibagi menjadi 3 kelompok yaitu 1.) anak normal, 2.) anak dengan hambatan pertumbuhan dan tidak tumbuh cepat,3.) anak dengan hambatan pertumbuhan diikuti tumbuh cepat. Analisis multivariat menggunakan GLM univariat dan Regresi Cox dilakukan untuk menganalisis pengaruh pertumbuhan cepat setelah terjadinya hambatan pertumbuhan pada 1000 HPK terhadap tekanan darah pada usia remaja. Hasil : Hasil analisis menunjukkan, anak yang tumbuh cepat menurut TB/U setelah mengalami hambatan pertumbuhan, memiliki rata-rata tekanan darah sistolik 4,61 mm Hg (CI: 1,38-7,84) lebih tinggi dan rata-rata tekanan darah diastolik 3,89 mm Hg (CI: 0,67-7,11) lebih tinggi, serta berisiko 1,58 (CI:0,83-2,33) kali mengalami tekanan darah tinggi dibanding anak yang normal setelah dikontrol faktor karakteristik anak, orang tua dan rumah tangga. Set Kesimpulan: Pertumbuhan cepat setelah terjadinya hambatan pertumbuhan di 1000 HPK meningkatkan risiko peningkatan tekanan darah pada usia remaja. Rekomendasi : Upaya pencegahan hambatan pertumbuhan dan perkembangan pada periode 1000 HPK bersama-sama dengan menerapkan pola makan bergizi seimbang pada anak berusia 2 tahun atau lebih, merupakan pencegahan yang sangat penting dalam menurunkan hipertensi pada remaja.
Background : The First Thousand Days of Life (1000 HPK) is a golden period for growth and development that determines the quality of children?s health in the next life cycle. The growth retardation that occurs in this period is mainly due to malnutrition, causing the plastic fetus to adjust to limiting growth and development. Several longitudinal studies have shown that faster growth after growth retardation might be a risk factor for high blood pressure in adolescence. This study aims to prove the effect of rapid growth in children with a history of growth retardation at the age of 0-23 months on blood pressure at the age of 17-19 years. Method: The data in this study used the results of the 1997,2000 and 2014 Indonesian Family Life Survey which were taken in 13 provinces in Indonesia. Data collection was carried out longitudinally with a sample unit of household with children aged 0-23 months as sample unit in 1997 followed in 2000 and 2014. The measurement of Rapid growth was determined by changes in the z score values of Weight for Age, Length/Height for Age, and Weight for Height inter-year survey, which is more than 0.67 points. Blood pressure was measured in 2014 when children were 17- 19 years old. The sample size of the study was 671 children who were divided into 3 groups, namely 1.) normal children, 2.) children with growth retardation and not growing fast,3.) children with growth retardation followed by fast growth. Multivariate analysis using univariate GLM and Cox Regression was carried out to analyze the effect of rapid growth after growth retardation at 1000 HPK on blood pressure in adolescents. Results: The result of analysis showed that, children who grew fast according to Height for Age U after experiencing growth retardation, had an average systolic blood pressure of 4,61 mmHg (CI: 1,38-7.84) higher and average diastolic blood pressure of 3,89 mmHg (CI: 0.67-7,11) higher, and 1,58 times of experiencing high blood pressure (CI:0,83-2,33)higher than normal children after controlling for characteristic of children, parents and household factors. Conclusion: Rapid growth after the occurrence of growth retardation in 1000 HPK increases the risk of increased blood pressure in adolescence. Recommendation: Efforts to prevent growth and development retardation in 1000 HPK together with implementing a balanced nutritious diet in children aged 2 years or older, are very important preventions in reducing hypertension in adolescents.
D-471
Depok : FKM-UI, 2022
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Susilo Damarini; Promotor: Hadi Pratomo; Kopromotor: Helda, Besral; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Tri Krianto, Sri Hartati Dewi Reksodiputro, Hartono Gunardi, Setyadewi Lusyati, Indra Supradewi
Abstrak:
Read More
Kelahiran bayi prematur (lahir sebelum 37 minggu) cenderung diikuti dengan berbagai masalah seperti berat bayi lahir rendah (BBLR), peningkatan infeksi dan komplikasi, serta infeksi neonatal. Hal ini dapat berdampak kurang baik terhadap perkembangan neurologis dan pertumbuhan fisik pada anak usia dini. Stimulasi pijat bayi dapat merangsang pertumbuhan dan perkembangan bayi sesuai kelompok umur. Stimulasi diberikan oleh orang tua atau keluarga. Tujuan penelitian ini adalah menilai pengaruh stimulasi pijat bayi oleh keluarga terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi prematur di Bengkulu. Pendekatan kuantitatif yang diikuti dengan riset kualitatif. Intervensi berupa stimulasi pijat bayi prematur oleh anggota keluarga dengan frekuensi 3 kali sehari selama 8 minggu. Sampel adalah keluarga bayi prematur dengan usia post-menstruasi 34-36 minggu yang diperoleh dari Rumah Sakit Umum Daerah dan fasilitas pelayanan kesehatan di Bengkulu. Telah dipilih sebanyak 51 bayi pada kelompok intervensi dan 53 bayi pada kelompok kontrol. Penelitian dilakukan dari tanggal 25 April 2018 sampai 30 Desember 2019. Analisis data menggunakan GLM-RM analisis pengukuran yang dilakukan berulang-ulang pada subyek yang sama untuk menilai efek stimulasi pijat bayi terhadap tumbuh kembang bayi prematur dengan mengontrol variabel pengganggu. timulasi pijat bayi oleh keluarga secara teratur dan rutin meningkatkan pertumbuhan dan merangsang perkembangan motorik bayi prematur menjadi lebih baik setelah dikontrol variabel covariat jenis kelamin, asupan bayi dan bebas infeksi. Disertai asupan ASI yang optimal stimulasi pijat bayi memiliki efek postif terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi. Kepada Dinas Kesehatan disarankan tenaga kesehatan Puskesmas dan bidan agar lebih memperhatikan tumbuh kembang bayi prematur diwilayah kerjannya dan menerapkan stimulasi pijat bayi oleh keluarga pada semua bayi prematur
D-420
Depok : FKM-UI, 2020
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Toha Muhaimin; Promotro: Budi Utomo; Ko-Promotor: Sudarto Ronoatmodjo, Samsuridjal Djauzi; Penguji: Sudijanto Kamso, Arwin Akib, Irwanto, Kemal N. Siregar
D-239
Depok : FKM-UI, 2010
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mery Ramadani; Promotor: Budi Utomo; Kopromotor: Endang Laksminingsih Achadi, Hartono Gunardi; Penguji: Anhari Achadi, Faisal Yunus, Besral, Bambang Wispriyono, Soewarta Kosen, Abas Basuni Jahari,
Abstrak:
Rokok merupakan masalah global dan menjadi ancaman serius bagi kesehatan ibu hamil dan janin. Studi kohor prospektif ini, dilakukan untuk menilai pengaruh pajanan pasif asap rokok ibu hamil terhadap gangguan pertumbuhan janin. Melibatkan 128 ibu hamil trimester 3, hamil janin tunggal, tidak memiliki riwayat penyakit kronis, bukan perokok aktif, bukan mantan perokok, dan bersedia terlibat dalam penelitian. Penilaian pajanan asap rokok ibu berdasarkan pemeriksaan nikotin darah tali pusat (cut off ≥1ng/ml). Pengukuran menggunakan nikotin plasma adalah metode yang paling akurat karena dapat mengukur kondisi sebenarnya dan membantu mengurangi misklasifikasi. Gangguan pertumbuhan janin dinilai dengan pengukuran berat lahir, panjang lahir, lingkar kepala, dan berat plasenta. Pengukuran dilakukan segera setelah lahir untuk menjamin ketepatan pengukuran. Analisis uji beda dua mean digunakan untuk mengetahui perbedaan rata rata ukuran gangguan pertumbuhan janin antara kelompok ibu terpajan asap rokok dan tidak terpajan asap rokok. Analisis regresi linier untuk melihat pengaruh pajanan asap rokok terhadap berat lahir, panjang lahir, lingkar kepala dan berat plasenta dengan memperhatikan variabel pengganggu seperti penambahan berat badan ibu selama hamil, BMI ibu, paritas ibu, usia dan kadar hemoglobin ibu. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar nikotin tali pusat sebesar 1,3±2,5 ng/ml. Berat lahir dan berat plasenta bayi dari ibu yang mendapat pajanan asap rokok lebih rendah dibandingkan ibu yang tidak mendapat pajanan asap rokok. Pajanan asap rokok secara signifikan mengurangi berat lahir bayi sebesar 205,6 gram (pvalue = 0,005) dan berat plasenta sebesar 51 gram (p value=0,010).
This cohort study examined the effect of secondhand smoke exposure in pregnant women on fetal growth restriction. The study recruited 128 pregnant women in the third trimester pregnancy, single pregnancy, no chronic illness, non-active smokers, non-exsmokers, and who were willing to participate in the study. Pregnant women with the secondhand smoke exposure referred to those with the umbilical cord blood nicotine level of 1ng/ml or higher. Fetal growth disorder was assessed according to the newborn weight, length, head circumference, and palcental weight measured immediately after birth. The independent t-test analysis was used to determine the difference in average size of fetal growth between two groups of pregnant women: exposed and the notexposed to the secondhand smoke. A multiple linear regression analysis was employed to find out the effect of secondhand smoke exposure on birth weight, length, head circumference, and palcental weight controlling for the birth size confounders including weight gain during pregnancy, body mass index, parity, maternal age, and maternal hemoglobin. The study found that mean of nicotine in umbilical cord blood was 1.3±2.5 ng/ml, the birth weight and the placental weight of infants were lower among mothers who exposed than among mothers who did not expose to the secondhand smoke. Exposed to the secondhand smoke reduced the birth weight by 205.6 grams (p value = 0.005) and placental weight by 51 grams (p value=0.010).
Read More
This cohort study examined the effect of secondhand smoke exposure in pregnant women on fetal growth restriction. The study recruited 128 pregnant women in the third trimester pregnancy, single pregnancy, no chronic illness, non-active smokers, non-exsmokers, and who were willing to participate in the study. Pregnant women with the secondhand smoke exposure referred to those with the umbilical cord blood nicotine level of 1ng/ml or higher. Fetal growth disorder was assessed according to the newborn weight, length, head circumference, and palcental weight measured immediately after birth. The independent t-test analysis was used to determine the difference in average size of fetal growth between two groups of pregnant women: exposed and the notexposed to the secondhand smoke. A multiple linear regression analysis was employed to find out the effect of secondhand smoke exposure on birth weight, length, head circumference, and palcental weight controlling for the birth size confounders including weight gain during pregnancy, body mass index, parity, maternal age, and maternal hemoglobin. The study found that mean of nicotine in umbilical cord blood was 1.3±2.5 ng/ml, the birth weight and the placental weight of infants were lower among mothers who exposed than among mothers who did not expose to the secondhand smoke. Exposed to the secondhand smoke reduced the birth weight by 205.6 grams (p value = 0.005) and placental weight by 51 grams (p value=0.010).
D-395
Depok : FKM-UI, 2019
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Endang Purwaningsih; Pembimbing: Bambang Sutrisna
D-69
Depok : FKM-UI, 2001
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sunarno Ranu Widjojo; Promotor: Agus Firmansyah; Kopromotor: Budi Utomo, Endang L. Achadi; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Kusharisupeni, Jahari, Abas Basuni; Hardinsyah
D-192
Depok : FKM UI, 2006
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sandra Fikawati; Promotor: Kusharisupeni; Ko-Promotor: Sudijanto Kamso, Ratna Djuwita; Penguji: Purnawan Junadi, Ahmad Syafiq, Anies Irawati, Nani Dharmasetiawani
D-285
Depok : FKM-UI, 2013
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Novita Rina Antarsih; Promotor: Besral; Kopromotor: Rima Irwinda, Eka Budiarto; Penguji: Kemal Nazaruddin Siregar, Sutanto Priyo Hastono, Prihatin Oktivasari, Soewarta Koesen, Indra Supradewi, Omo Abdul Majid
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: Intrauterine Growth Restriction (IUGR) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas perinatal. Deteksi dini di Puskesmas masih menghadapi keterbatasan akses ultrasonografi, variasi kemampuan skrining, dan keterlambatan rujukan. Pemanfaatan Artificial Intelligence Clinical Decision Support System (AI-CDSS) berpotensi mendukung skrining dan pengambilan keputusan rujukan secara lebih konsisten. Tujuan: Mengembangkan model Artificial Intelligence (AI) berbasis data antenatal untuk skrining risiko IUGR di Puskesmas, menilai efikasi diagnostiknya dibandingkan metode konvensional, serta mengevaluasi dampak potensial implementasi sistem AI terintegrasi telehealth terhadap deteksi dini dan ketepatan rujukan IUGR di Puskesmas. Metode: Penelitian pengembangan dengan pendekatan multiphase mixed-methods ini dilakukan dalam lima tahap, yaitu analisis kebutuhan sistem, pengembangan model AI, evaluasi usability dan feasibility, uji efikasi diagnostik, serta evaluasi dampak potensial implementasi (simulated effectiveness). Pengembangan model menggunakan 1.761 data longitudinal dari 571 ibu hamil. Uji efikasi dan evaluasi dampak potensial melibatkan 604 ibu hamil di empat Puskesmas. Hasil: Model hybrid yang menggabungkan data maternal, tinggi fundus uteri, dan biometrik janin dari USG non-citra menunjukkan performa terbaik. AI-CDSS mencapai sensitivitas 100% (95%CI: 0,95–1,00), spesifisitas 87% (95%CI: 0,84–0,90), akurasi 89%, dan AUC 0,935 (95%CI: 0,916–0,954; p<0,001). Pada evaluasi dampak potensial implementasi, penggunaan sistem meningkatkan deteksi risiko IUGR dari 14,7% menjadi 25,8% (p=0,001) dan mengidentifikasi tambahan 67 kasus yang sebelumnya tidak terdeteksi. Kesimpulan: AI-CDSS VITA-Scan menunjukkan performa yang baik sebagai alat bantu skrining risiko IUGR di Puskesmas. Integrasi AI, aturan klinis, dan telehealth berpotensi meningkatkan deteksi dini serta mendukung ketepatan rujukan maternal.
Background: Intrauterine Growth Restriction (IUGR) remains a major contributor to perinatal morbidity and mortality. Early detection in Indonesian primary healthcare centers (Puskesmas) is often challenged by limited access to ultrasonography, variations in screening practices, and delayed referral decisions. Artificial Intelligence Clinical Decision Support Systems (AI-CDSS) may help improve screening consistency and support timely referral decisions. Objective: To develop an artificial intelligence (AI)-based antenatal screening model for identifying the risk of IUGR in primary healthcare centers, assess its diagnostic efficacy compared with conventional approaches, and evaluate the potential impact of an AI-CDSS integrated with telehealth on early detection and referral accuracy. Methods: This multiphase mixed-methods study was conducted in five stages: needs assessment, AI model development, usability and feasibility evaluation, diagnostic efficacy testing, and simulated effectiveness evaluation. Model development used 1,761 longitudinal records from 571 pregnant women. The model integrated maternal characteristics, symphysis-fundal height measurements, and non-image ultrasound fetal biometric parameters using a hybrid approach that combined machine learning and clinical rules. Diagnostic efficacy and simulated effectiveness were evaluated among 604 pregnant women from four Puskesmas. Results: The hybrid model demonstrated the best performance. The AI-CDSS achieved a sensitivity of 100% (95% CI: 0.95–1.00), specificity of 87% (95% CI: 0.84–0.90), accuracy of 89%, and an AUC of 0.935 (95% CI: 0.916–0.954; p<0.001). During simulated effectiveness evaluation, the system increased IUGR risk detection from 14.7% to 25.8% (p=0.001) and identified 67 additional cases that were not detected through routine practice. Conclusions: VITA-Scan AI-CDSS demonstrated good performance as a decision-support tool for IUGR risk screening in primary healthcare centers. The integration of AI, clinical rules, and telehealth has the potential to improve early detection and support more appropriate maternal referral decisions.
D-639
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ridha Restila; Promotor: Bambang Wispriyono; Kopromotor: Ririn Arminsih Wulandari, Umar Fahmi Achmadi; Penguji: Al Asyary, Tri Yunis Miko Wahyono, Dede Anwar Musadad, Defriman Djafri, Miko Hananto
Abstrak:
Read More
Gangguan pertumbuhan tinggi badan mencerminkan terjadinya kekurangan asupan dan penyakit infeksi berulang. Anak yang tinggal di daerah aliran sungai merupakan kelompok rentan mengalami dampak buruk dari lingkungan yang tidak sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan bakteriologis air minum berdasarkan pemeriksaan E. coli dan identifikasi inflamasi pencernaan (Fecal myeloperoxidase) terhadap indikasi gangguan pertumbuhan tinggi badan anak usia 24 - 59 bulan yang tinggal di daerah aliran sungai. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional. Indikasi gangguan pertumbuhan tinggi badan anak berdasarkan perubahan Height-Age-Z Score selama 6 bulan. Temuan E.coli dengan level high risk dan unnsafe sebesar 47,2%. Median (min-max) Fecal Myeloperoxidase yaitu 16,95 ng/mL (0,61ng/mL - 1981 ng/mL). Prevalence Ratio FMPO terhadap indikasi gangguan pertumbuhan anak pada nilai cutoff point 52,16 ng/mL sebesar 1,22 (0,91-1,62). Air minum dengan level risiko high risk dan unsafe dapat meningkatkan risiko anak mengalami indikasi gangguan pertumbuhan sebesar 1,39 (1,05-1,85) setelah dikontrol variabel sanitasi, hygiene, inflamasi pencernaan, sosio-demografi, riwayat penyakit infeksi, dan asupan makanan.
Impaired growth reflects inadequate intake and recurrent infectious diseases. Children who live in riverside are a vulnerable group experiencing the impacts of an unhealthy environment. This study aims to determine the bacteriological relationship of drinking water based on examination of Escherichia coli (E. coli) and identification of intestinal inflammation (Fecal myeloperoxidase/FMPO) on indications of growth impairment of children aged 24 - 59 months living in watershed. This research uses a cross sectional study design. Indication of impaired growth in a child's height are based on changes in Height-Age-Z Score over 6 months. E.coli findings with high risk and unsafe levels were 47.2%. The median (min-max) of Fecal Myeloperoxidase was 16.95 ng/mL (0.61ng/mL - 1981 ng/mL). The Prevalence Ratio of FMPO for indications of growth impairment in children at the cutoff point value of 52.16 ng/mL was 1.22 (0.91-1.62). Drinking water with high risk and unsafe risk levels can increase the risk of children experiencing indications of growth impairment by 1.39 (1.05-1.85) after controlling for sanitation, hygiene, digestive inflammation, socio-demographics, history of infectious diseases and intake variables. food.
D-521
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
