Ditemukan 18286 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
ABSTRAK Status kesehatan bayi merupakan salah satu indikator yang sensitif untuk menilai kesehatan masyarakat di suatu negara. Penilaian derajat kesehatan masyarakat dapat dilakukan dengan melihat beberapa indikator yang tercermin dalam kondisi morbiditas, mortalitas dan status gizi. Derajat kesehatan masyarakat di Indonesia digambarkan melalui Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKABA) dan Angka Kematian Ibu (AKI). Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa lebih dari 50% kematian bayi terjadi dalam periode neonatal, yaitu 0-28 hari pertama kehidupan. Data SDKI menunjukkan angka kematian neonatal dari tahun 1993-1997 sebesar 25 menjadi 20 per 1.000 kelahiran pada tahun 1998-2002, dan kemudian pada tahun 2003-2007 Angka Kematian Neonatal (AKN) menjadi 19 per 1.000 kelahiran (BKKBN dkk, 1997, 2003, 2007). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan jumlah anak yang dilahirkan dengan kejadian kematian neonatal berdasarkan data SDKI Tahun 2007. Penelitian dilakukan dengan desain cross sectional menggunakan data SDKI Tahun 2007 dengan sampel sebanyak 15.273. analisis multivariat menggunakan Logistic Regression. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan jumlah anak yang dilahirkan terhadap kejadian kematian neonatal dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, jarak lahir, kunjungan ANC, tempat persalinan, riwayat operasi saesar dan jenis kelamin. Diketahui nilai POR sebesar 2,314 (95% CI : 1,122-4,7722) artinya ibu dengan jumlah anak yang dilahirkan 1 dan ≥ 4 memiliki risiko 2,314 kali untuk terjadinya kematian neonatal dibandingkan ibu yang memiliki jumlah anak yang dilahirkan 2-3 setelah dikontrol oleh tingkat pendidikan, jarak lahir, kunjungan ANC, tempat persalinan, operasi saesar dan jenis kelamin.
ABSTRACT Health status of infant is one sensitive indicator to assess the public health in a country. Public health status assessment can be done by looking at some indicators that reflected in the condition of morbidity, mortality and nutritional status. Public health in Indonesia is illustrated by infant mortality Rate (IMR), Child Mortality Rate (CMR) and Maternal Mortality Rate (MMR). Several studies have shown that more than 50% of infant deaths occur in the neonatal period, that is the first 0-28 days of life. IDHS data shows that neonatal mortality rate from year 1993-1997 is 25 to 20 per 1.000 live births in 1998-2002 and Neonatal Mortality Rate (NMR) is 19 per 1.000 births in 2003-2007 (BKKBN et al, 1997, 2003, 2007). This study aims to know the relationship of parity with neonatal mortality events based on IDHS data 2007. This study is done by using cross-sectional design using and taking the IDHS data 2007 with the samples of 15.273. in analysis of multivariate, it uses Logistic Regression. The results show that the relationship of parity with neonatal mortality events are influenced by education level, birth spacing, ANC visiting, childbirth place, caesar operating history and gender. The value of POR known that is 2,314 (95% CI: 1,122 to 4,7722), it means that mother and parity 1 and ≥ 4 who have 2,314 times the risks for the occurrence of neonatal death than mother who has parity 2- 3 after controlled by education level, birth spacing, ANC visiting, childbirth place, Caesar operating and gender.
Kematian neonatal dini merupakan penyumbang kematian bayi dan perinatal yang merupakan indikator derajat kesejahteraan dan kesehatan bangsa. Angka kematian bayi dan perinatal di Indonesia masih tergolong tinggi dibanding negara Asia lainnya. Komplikasi kehamilan diduga menjadi faktor kuat kematian neonatal dini. Penelitian bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh adanya komplikasi kehamilan dan setiap jenis komplikasi kehamilan serta ingin mengetahui PAR (Population Attributle Risk) terhadap kematian neonatal dini di Indonesia pada anak yang lahir 2002-2007 terhadap kematian neonatal dini setelah dikendalikan seluruh confounding. Desain studi yang digunakan dalam penelitian ini adalah crossectional dengan analisis multivariat complex sample cox regression. Sampel penelitiansebanyak 13893 dari 33 provinsi Indonesia yang diambil dengan metode Stratified two-stage cluster design.
Hasil analisis menunjukkan komplikasi kehamilan terhadap kematian neonatal dini dimodifikasi oleh berat lahir. Peneliti membuat dua model untuk membuktikan pengaruh komplikasi kehamilan terhadap kematian neonatal dini. Pada model pertama, PR komplikasi kehamilan terhadap kematian neonatal dini pada strata berat lahir <2000 gram sebesar 28,74 (95%CI: 10,21-81,02) PAR 13,92%, pada stratum ≥2000 gram sebesar PR 1,03 (95%CI: 0,32-3,34) PAR 11,94%. Pada model kedua, PR prematuritas memiliki risiko tertinggi PR 3,98 (95%CI 1,36-11,63) dengan PAR 8,1%. Diharapkan pemerintah dan masyarakat dapat berperan aktif dalam penurunan dan penanggulangan komplikasi kehamilan sedini mungkin dengan Antenatal care.
Early neonatal death is a contributor to infant and perinatal mortality that is an indicator of well-being and health degree in the nation. Infant and perinatal mortality rate in Indonesia is still higher than other Asian countries. Complications during pregnancy may be a strong factor of early neonatal death. This study want to determine how much influence and PAR of complication during pregnancy to early neonatal death in Indonesia after adjusted all confounding. This study used the cross-sectional design study with complex samples cox regression to multivariat analysis. There were 13893 respondents from 33 provinces in Indonesia were taken by stratified two-stage cluster sample technique.
The Results indicated that there are effect modification of Complication during pregnancy and birth weight to early neonatal death. This study created 2fixed models in multivariat analysis. In the first model, PR complication during pregnancy with birth weight <2000 gr 28,74(95%CI 10,21-81,02) PAR 13,92, complication during pregnancy with birth weight ≥2000 gr PR 1,03 (95%CI 0,32-3,34) PAR 11,94. In third model, only proven premature has significant to be early neonatal death risk with PR 3,98 (95%CI 1,36-11,63) PAR 8,1%. Health ministry and public can improve efectiveness of ANC to reduce complication during pregnancy and premature.
It is estimated that about 73% of neonatal mortalities occur in the early neonatal period. Commonly, the cause of early neonatal mortalities could be prevented and treated in newborns, one of the approach is by giving birth with skilled birth attendants. However, previous studies reported inconsistent results regarding the association between place and birth attendant on early neonatal mortality. Therefore, this study aims to determine the effect of place and birth attendants (health facility birth, home birth with skilled birth attendants, and home birth without skilled birth attendants) on early neonatal mortality in Indonesia. The study used a cross-sectional design and analyzed 2007, 2012, and 2017 IDHS data. The samples were all respondents/women of reproductive age who gave birth to their last live-born baby. The results of the study found that the early neonatal mortality rate was 8.40 per 1000 live births. Delivery at the health facility, or at home with skilled birth attendants, did not reduce early neonatal mortality compared to delivery at home without skilled birth attendants. The association for delivery at health facility was 1.95 (95% CI 0.83-4.51), while delivery at home with skilled birth attendants was 1.97 (95% CI 0.99-3.90). Efforts to reduce early neonatal mortality need to consider planned referrals, the quality of health facilities, the competency of health workers, also synergies with other programs such as prenatal and postnatal checks
Angka kematian bayi akibat makrosomia meningkat 0,1% menurut Data Survey Demografi Kesehatan Indonesia 2017. Sementara itu, komplikasi persalinan ibu meningkat dari 35% pada tahun 2012 menjadi 41% pada tahun 2017. Dengan menggunakan data dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia, penelitian ini menyelidiki hubungan antara pemeriksaan kehamilan (antenatal care) dan variabel kejadian makrosomia dengan faktor pembaur (confounding) yakni Umur Ibu, Pekerjaan Ibu, Lokasi Tempat Tinggal Ibu, Tingkat Pendidikan Ibu, Status Sosial Ekonomi, Tempat Pemeriksaan saat kehamilan, dan Tenaga Pemeriksaan Kehamilan. Penelitian ini memakai metode penelitian kuantitatif observasional analitik melalui teknik cross-sectional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel independen memiliki korelasi yang signifikan dengan variabel dependen, yaitu kualitas pemeriksaan kehamilan dengan standar 10T yang dilakukan pada pasien ibu hamil dengan faktor konfounding-nya status pekerjaan ibu, daerah tempat tinggal ibu, dan tempat pemeriksaan kehamilan serta variabel interaksi antara daerah tempat tinggal dengan kuantitas ANC. Hasil analisis menunjukkan ibu yang tidak mendapatkan kualitas pemeriksaan kehamilan yang sesuai standar berisiko 1,304 (95% CI 1,096-1,551) kali memiliki bayi makrosomia dibandingkan dengan ibu yang mendapatkan kualitas pemeriksaan kehamilan yang sesuai standar. Pada faktor konfounding yang paling berisiko pada kejadian makrosomia adalah daerah tempat tinggal dengan POR=1,692 (95% CI 1,358- 2,109) artinya ibu yang tinggal di desa berisiko 1,692 kali memiliki bayi makrosomia dibandingkan ibu tinggal di kota. Kata kunci: Antenatal Care, Makrosomia, SDKI 2017
The infant mortality rate due to macrosomia increased by 0.1% according to the 2017 Indonesian Demographic Health Survey Data. Meanwhile, maternal birth complications increased from 35% in 2012 to 41% in 2017. Using data from the Indonesian Demographic and Health Survey, this research investigate the relationship between antenatal care and macrosomia incidence variables with confounding factors, namely maternal age, maternal occupation, maternal residence location, maternal education level, socio-economic status, examination location during pregnancy, and prenatal examination personnel. This research uses quantitative observational analytical research methods using cross-sectional techniques. The results of the study show that the independent variable has a significant correlation with the dependent variable, namely the quality of pregnancy examinations with the 10T standard carried out on pregnant women with the confounding factors being the mother's employment status, the area where the mother lives, and the place of pregnancy examination as well as the interaction variable between regions. residence with ANC quantity. The results of the analysis show that mothers who do not receive quality pregnancy checks that meet standards have a 1.304 (95% CI 1.096-1.551) risk of having macrosomia babies compared to mothers who get quality pregnancy checks that meet standards. The confounding factor that is most at risk for the incidence of macrosomia is the area of residence with POR=1.692 (95% CI 1.358-2.109) meaning that mothers who live in villages are 1.692 times more likely to have macrosomia babies than mothers who live in cities. Keywords: Antenatal Care, Macrosomia, IDHS
ABSTRAK
ISPA merupakan penyebab utama kematian pada bayi dan anak balita didunia,khususnya di negara berkembang. Kematian tersebut diperkirakan 2-5 juta setiaptahunnya. Di Indonesia prevalensi ISPA masih tinggi yaitu 25,5% menurut hasilRiset Kesehatan Dasar tahun 2007. Faktor utama penyebab ISPA adalah polusiudara dalam ruangan yang umumnya berasal dari hasil pembakaran bahan bakarbiomass, batu bara, dan minyak tanah yang digunakan rumah tangga untukmemasak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis bahan bakardan tempat memasak rumah tangga terhadap kejadian ISPA pada balita dipedesaan Indonesia tahun 2007 setelah dikontrol seluruh confounding. Desainstudi yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional analysis denganmenggunakan data SDKI 2007. Analisis penelitian melakukan pembobotansehingga peneliti menggunakan analisis complex design survey dengan populasisumber berasal dari 33 propinsi di Indonesia, yaitu sebanyak 7.602 responden.Hasil analisis didapatkan prevalensi ISPA pada balita sebesar 12,0%. Jenis bahanbakar memasak berisiko 1,459 kali (CI 95%: 1,011-2,105) terhadap kejadianISPA pada balita dengan p value: 0,047 (ada hubungan yang signifikan). Jeniskelamin anak, status imunisasi BCG, lama pemberian ASI, berat badan lahir anak,pemberian vitamin A, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, dan tingkat kesejahteraankeluarga merupakan variabel covariat yang berpengaruh secara signifikanterhadap kejadian ISPA pada balita dengan p value < 0,05. Analisis multivariatCox Regression didapatkan balita yang tinggal pada polusi dapur rumah tanggatinggi polusi berisiko 1,217 kali (CI 95%: 0,767-1,931) untuk menderita ISPAsetelah dikontrol variabel covariat. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankanpada masyarakat untuk memasak yang menggunakan bahan bakar high pollutandalam rumah agar memperhatikan sirkulasi udara pada tempat memasak dan bagipemerintah agar dapat memberikan KIE tentang pengendalian polusi udara dalamruangan.
ABSTRACT
ARI is the leading cause of death in infants and children under five in the world,particularly in developing countries. The estimated 2-5 million deaths annually.ARI prevalence in Indonesia is still high at 25.5% according to the results of the2007 Basic Health Research. ARI is the main factor causing indoor air pollution,primarily from the burning of biomass fuels, coal, and kerosene are used byhouseholds for cooking. This study aimed to determine the effect of cooking fueltype and household kitchen of ARI events in children under five years in ruralIndonesia in 2007 after a controlled throughout confounding. Study design used inthis study is cross-sectional analysis using data from Demographic and HealthSurvey 2007. Analysis of the research done so that investigators use a weightedanalysis of complex survey design with source populations from 33 provinces inIndonesian, as many as 7,602 respondents. Analysis we found the prevalence ofARI in children under five years are 12.0%. Type of cooking fuel have risk 1.459times (95% CI: 1.011 to 2.105) of ARI Events In Children Under Five Years witha p value: 0.047 (no significant relationship). Sex of the child, BCG immunizationstatus, duration of breastfeeding, birth weight children, vitamin A, maternaleducation, maternal employment, and family welfare is covariat variables thatsignificantly affect the incidence of respiratory infection in childrens with p value<0.05 . Multivariate Cox Regression analysis found that childrens living in thehousehold kitchen high pollution have risk 1.217 times (95% CI: 0.767 to 1.931)of ARI Events In Children Under Five Years after controlling for covariatvariables. Based on the results of this study suggested that people use for cookingfuel high pollutants in the house to pay attention to air circulation on a place tocook and for the government to provide IEC about controlling indoor airpollution.
