Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 42056 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Meisinta Florentina; Pembimbing: Toha Muhaimin; Penguji: Pandu Riono, Bambang Budi Siswanto, Rustika
Abstrak: Abstrak
Latar belakang: Penyakit jantung menjadi salah satu penyakit kronik yang menjadi masalah utama. Gagal jantung merupakan satu masalah penting di antara penyakit jantung. Rehospitalisasi orang gagal jantung berdampak terhadap bertambahnya beban biaya perawatan kesehatan, serta menyebabkan peningkatan risiko kematian. Tujuan: Meneliti pengaruh komorbiditas terhadap rehospitalisasi dini orang dengan gagal jantung dalam 30 hari setelah keluar rawat inap pertama. Desain: Kohort retrospektif berbasis Heart Failure Registry di klinik khusus gagal jantung Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta periode Oktober 2009-Oktober 2010, dengan total sampel 147 orang. Hasil: Rehospitalisasi dini atau rehospitalisasi dalam 30 hari pertama setelah keluar rawat inap pertama sebesar 18,7%. Komorbiditas berpengaruh terhadap rehospitalisasi dini. Ada perbedaan efek antara laki-laki dan perempuan dengan gagal jantung. Odds rasio laki-laki tanpa atau dengan satu komorbiditas sebesar 3,1 (95% CI:0,8-11,6) lebih tinggi daripada odds rasio perempuan tanpa atau dengan satu komorbiditas dan juga yang lebih dari satu komorbiditas 2,6 (95%CI:0,4-17,9). Ketika laki-laki disertai lebih dari satu komorbiditas odds rasio meningkat menjadi 4,1 (95% CI:0,97-16,96). Kesimpulan: Pengaruh komorbiditas terhadap rehospitalisasi dini berbeda antara laki-laki dan perempuan dengan gagal jantung. Peningkatan risiko rehospitalisasi dini lebih tinggi pada laki-laki dan meningkat seiring jumlah komorbiditas. 
Background: Heart disease is one of main problems for chronic disease in Indonesia. Unfortunately, heart failure is the one important problem among heart diseases. Rehospitalized of heart failure patient made additional burden health care costs, and also early rehospitalization lead to increasing mortality risk. Objectives: To study the comorbidities effect on early rehospitalization of heart failure within 30 days after discharge from first hospitalization. Methods: Using Heart Failure Registry of Harapan kita Hosiptal, the study select all 147 cohort who first time hopitalized within October 2009-Oktober 2010. Results: Early rehospitalization or rehospitalization in 30 days after discharge is 18,7%. Comorbidity is associated with early rehospitalization. There are different effect of comorbidies between male and female. Odds ratio of male without or with one comorbidity of 3.1 (95% CI :0.8-11.6) is higher than the odds ratio of female without or with one comorbidity and also that more than one comorbidity 2.6 (95 % CI :0,4-17, 9). When a male with more than one comorbidity increased the odds ratio to 4.1 (95% CI :0,97-16, 96). Conlusion: Comorbidity effect on early rehospitalization is different among gender differences The increasing of early rehospitalization risk among male is higher and concomitant with the number of comorbidities.
Read More
T-3771
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Trimawartinah; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Bambang Budi Siswanto, Ratna Djuwita
T-3131
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Linda Widiastuti; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Destiana Rachmawati
Abstrak: Skripsi ini membahas mengenai faktor risiko perilaku (merokok, aktivitas fisik dan diet) dengan penyakit jantung dan pembuluh darah (penyakit jantung koroner dan stroke) pada usia ≥40 tahun di Indonesia tahun 2013. Berdasarkan data estimasi WHO, 17,5 juta orang meninggal di dunia karena penyakit kardiovaskuler (7,4 juta karena penyakit jantung koroner dan 6,7 juta akibat stroke pada tahun 2012). Perilaku memegang peranan penting dalam mempengaruhi kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai pengaruh faktor risiko perilaku (merokok, aktivitas fisik dan diet) dengan kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah pada usia ≥40 tahun. Penelitian bersifat kuantitatif, dengan desain studi cross sectional, menggunakan data sekunder Riskesdas Tahun 2013. Sampel penelitian ini adalah semua individu yang berusia ≥40 tahun yang menjadi responden dalam Riskesdas 2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku merokok dan aktivitas fisik memiliki hubungan dengan penyakit jantung dan pembuluh darah, sedangkan diet tidak sehat memiliki risiko yang lebih rendah. Faktor yang berperan besar terhadap penyakit jantung koroner adalah merokok (yang merokok dibandingkan dengan yang tidak merokok, pada laki-laki OR: 1,32 dan perempuan OR: 1,63). Sedangkan untuk stroke, faktor aktivitas fisik yang memiliki risiko yang lebih besar terhadap kejadian stroke (yang berperilaku kurang gerak dibandingkan dengan yang beraktivitas fisik cukup, pada laki-laki OR: 2,01 dan perempuan OR: 2,60). Oleh sebab itu, memulai gaya hidup sehat akan sangat membantu dalam mencegah ketiga penyakit ini begitupun penyakit lainnya. Kata kunci: Penyakit jantung koroner, stroke, faktor perilaku, gaya hidup sehat.
This thesis discusses the behavioral risk factors (smoking, physical activity and diet) with heart and blood vessel disease (coronary heart disease and stroke) at age ≥40 years in Indonesia in 2013. According to the WHO estimates, 17.5 million people died in world as cardiovascular disease (7.4 million due to coronary heart disease and 6.7 million from stroke in 2012). Behavior plays an important role in influencing the incidence of heart disease and blood vessels. The purpose of this study was to assess the effects of behavioral risk factors (smoking, physical activity and diet) and the incidence of heart disease and blood vessels at age ≥40 years. The research is quantitative, with cross sectional study design, using secondary data Riskesdas 2013. The sample was all individuals aged ≥40 years who were respondents in Riskesdas 2013. The results showed that smoking behavior and physical activity linked to heart disease and blood vessels, whereas an unhealthy diet have a lower risk. Factors that played a major role against coronary heart disease is smoking (smoking compared with non-smokers, in men OR: 1,32 and women OR: 1.63). As for stroke, physical activity factors that have a greater risk for stroke (which behaves less movement compared with sufficient physical activity, in men OR: 2,01 and women OR: 2.60). Therefore, start a healthy lifestyle will be very helpful in preventing this disease as well as the three other diseases. Keywords: Coronary heart disease, stroke, behavioral factors, healthy lifestyle.
Read More
S-8956
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sandra Erlinawati; Pembimbing: Iwan Ariawan
S-3084
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syifa Nurhakiki; Pembimbing: Sabarinah; Penguji: Popy Yuniar, Rico Kurniawan, Tria Astika Endah Permatasari, Suprohaita Rusdi Talib
Abstrak:
Latar Belakang: Malnutrisi dan gangguan pertumbuhan merupakan masalah yang umum ditemukan pada anak dengan penyakit jantung bawaan (PJB) pirau kiri-ke-kanan. Meskipun pemasangan alat occluder efektif memperbaiki kondisi hemodinamik, dinamika waktu menuju pemulihan status gizi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya pasca-intervensi masih terbatas. Metode: Penelitian ini merupakan studi kohort retrospektif berbasis rekam medis pada anak dengan PJB pirau kiri-ke-kanan yang menjalani penutupan defek menggunakan transkateter pemasangan alat occluder. Dari 94 anak yang memenuhi kriteria inklusi, sebanyak 48 anak dengan gangguan status antropometri pada awal pengamatan diikutsertakan dalam analisis waktu menuju pemulihan status gizi. Pemulihan status gizi didefinisikan sebagai tercapainya antropometri normal (z-score ≥ −2 SD). Kurva Kaplan-Meier digunakan untuk mengestimasi waktu menuju pemulihan, sedangkan faktor-faktor yang berhubungan dengan pemulihan dianalisis menggunakan Cox proportional hazards multivariat. Analisis sensitivitas dilakukan menggunakan Cox Firth penalized likelihood untuk mengurangi potensi bias akibat ukuran sampel yang terbatas dan kejadian yang jarang. Hasil: Median usia saat intervensi adalah 35 bulan (IQR: 22-73), dan 55,3% peserta berjenis kelamin perempuan. Sebagian besar pemulihan status gizi terjadi dalam enam bulan pertama pasca-intervensi. Pemulihan berdasarkan indikator WAZ dan WHZ/BAZ berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan HAZ. Intervensi pada usia <35 bulan berhubungan dengan laju pemulihan WHZ/BAZ yang lebih tinggi (HR, 8.38; 95% CI, 2.06-33.99; p = 0.003), dan hasil serupa diperoleh pada model Firth penalized Cox (HR, 6.94; 95% CI, 2.03-28.46; p = 0.002). Ukuran defek, hipertensi pulmonal, dan status kepesertaan BPJS tidak berhubungan secara bermakna dengan pemulihan status gizi. Kesimpulan: laju pemulihan status gizi pasca-penutupan defek transkateter berbeda menurut indikator antropometri yang digunakan. Pemilihan berdasarkan indikator status gizi akut terjadi lebih awal dibandingkan dengan pemulihan pertumbuhan linier, sementara usia saat intervensi merupakan prediktor yang paling konsisten terhadap kecepatan pemulihan.

Background: Undernutrition and growth faltering are common among children with acyanotic congenital heart disease (CHD) with left-to-right shunts and may persist despite hemodynamic correction. This study aimed to estimate the time to nutritional recovery and identify predictors of recovery after transcatheter defect closure. Methods: This retrospective cohort study included children with acyanotic left-to-right shunt congenital heart disease undergoing transcatheter defect closure. Of 94 eligible children, 48 with baseline anthropometric deficits contributed to the time-to-recovery analysis. Nutritional recovery was defined as normalization of anthropometric status (z-score ≥ −2 SD). Kaplan-Meier methods were used to estimate recovery trajectories, and multivariable Cox proportional hazards regression was applied to identify factors associated with recovery. Sensitivity analysis was performed using Firth penalized Cox regression to mitigate small-sample and sparse-data bias. Results: The median age at intervention was 35 months (IQR, 22-73), and 55.3% of participants were female. Most nutritional recovery occurred within six months after transcatheter closure. Recovery was achieved earlier for WAZ and WHZ/BAZ than for HAZ. In the adjusted analysis, intervention at <35 months was associated with a higher rate of WHZ/BAZ recovery (HR, 8.38; 95% CI, 2.06-33.99; p = 0.003), with similar estimates observed in the Firth penalized Cox model (HR, 6.94; 95% CI, 2.03-28.46; p = 0.002). Defect size, pulmonary hypertension, and BPJS status were not significantly associated with recovery. Conclusion: Nutritional recovery after transcatheter defect closure was variable across anthropometric indicators, with recovery of acute nutritional status occurring earlier than linear growth. Younger age at intervention emerged as the most robust predictor of recovery, underscoring the potential benefit of timely intervention and continued nutritional surveillance following defect closure.
Read More
T-7568
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Evi Yuniawati; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono, Iwan Ariawan; Penguji: Besral, Julitasari Sundoro, Felix Kasim
Abstrak:
Jika ditinjau dari segi epidemiologi, secara geografis, pada saat ini di dunia diperkirakan terdapat 350 juta pengidap Hepatitis B (carrier), dan hampir 78% di antaranya tinggal di Asia. Indonesia termasuk salah satu wilayah Asia Tenggara, dengan prevalensi Hepatitis B tingkat sedang sampai tinggi. Di Indonesia imunisasi Hepatitis B mulai diintegrasikan ke da1am Program Pengembangan Imunisasi (PPI) sejak tahun 1997. Pelayanan imunisasi Hepatitis B ini bisa didapatkan di RS Pemerintah / RS ABR1, Puskesmas, Pustu, Posyandu yang telah ditunjuk (Depkes, 1997). Cakupan imunisasi Hepatitis B pada bayi usia 0-7 hari di Jawa Timur masih rendah, yaitu 59,30 persen (2005), di Jawa Barat balita yang pemah mendapat irnunisasi Hepatitis B adalah 75,60 persen (2006). Hal ini masih jauh dari target yang diharapkan untuk imunisasi Hepatitis B pada bayi berusia 0-7 hari adalah 90 persen. Pemberian imunisasi Hepatitis B sangat erat kaitannya dengan penolong persalinan, karena untuk mendapatkan imunisasi Hepatitis B sedini mungkin, diperoleh dari tenaga kesehatan. Di Indonesia masih banyak ditemukan persalinan yang bukan ditolong oleh tenaga kesehatan. Persalinan terakhir yang terjadi pada keluarga-keluarga di Jawa Barat yang dilakukan oleh tenaga kesehatan pada tahun 2005 sebesar 61,27 persen turun menjadi 56,64 persen pada tahun 2006. Pada tahun 2005, persentase persalinan yang ditolong oleh &Awn mengalami peningkatan sebesar 5,19 persen, sementara yang ditolong oleh tenaga kesehatan turun sebesar 4,63 persen (BPS Jabal., 2006). Sedangkan di Jawa Timur dalam cakupan program kesehatan tahun 2003-2005 pertolongan persalinan oleh bidan atau tenaga kesehatan mengalami peningkatan, yaitu sebesar 82,73% pada tahun 2003, 84,06% pada tahun 2004, dan sebesar 86,10% pada tahun 2005. Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya hubungan antara penoIong persalinan dengan pemberian imunisasi Hepatitis B pada bayi berusia 0-7 hari setelah dipadankan (matching) oleh variabel umur ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, tempat persalinan, dan kabupaten daerah tempat tinggal yang berperan sebagai variabel confounder Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data sekunder dari survey data dasar ASUH. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Pernilihan sampel pada penelitian ini mengikuti metode 30-cluster WHO. Dalam studi ini cluster adalah desa dengan kriteria perabagian cluster berdasarkan jumlah penduduk (probability proportionate to size). Dengan menggunakan c-survey didapatkan sejumlah desa di tingkat kabupaten di pilih secara acak 15 ibu per cluster sehingga memenuhi jumlah sample 450 untuk satu kabupaten. Responden adalah ibu yang memiliki bayi kandung di bawah satu tahun di wilayah studi terpilih. Jumlah sampel yang berhasil dikumpulkan adalah 2687 responden_ Berdasarkan basil perhitungan di atas dengan jumlah 2687 responden, rnaka didapatkan kekuatan ujinya sebesar 99% pada a---- 5 %, design effect --- 2 dan Pl- P2 = 20%. Analisis data terdiri dari analisis univariat, analisis bivariat dan multivariat. Analisis bivariat rnengunakan uji chi square untuk melihat hubungan variabel independen dengan variabel dependen, sedangkan analisis multivariat dengan menggunakan Propensity Score Matching untuk melihat hubungan variabel independent dengan variabel dependent secara bersarna-sarna setelah dikontrol oleh confounding. Hasil penelkian menunjukkan adanya hubungan yang bernaakna antara penolong persalinan dengan pemberian imunisasi Hepatitis B pada bayi usia 0-7 had setelah dipadankan oleh variabel confounding dengan analisis PSM bila menggunakan alogaritma pemadanan Caliper dengan nilai RR 1,86 dengan nilai p < 0,05. Berdasarkan penelitian ini disarankan untuk penyusun kebijakan diharapkan dapat meningkatkan cakupan imunisasi Hepatitis B pada bayi 0-7 hari dengan cara meningkatkan cakupan penolong persalinan oleh tenaga kesehatan, juga untuk mengunakan alogaritma pemadanan yang lain pada penelitian selanjutnya dan diharapkan adanya penelitian lebih lanjut oleh peneliti lain karena masih sangat jarang penelitian yang mencari hubungan antara penolong persalinan dengan pemberian imunisasi Hepatitis 13 pada bayi usia 0-7 hari dengan variabel yang lain dan juga penelitian dengan menggunakan analisis Propensity Score Matching dengan alogaritma pernadanan yang lain.

In EpidemioIogic view, as geographic, at this time in the world there is 350 million people carrier of Hepatitis B, and almost 78% lived in Asia_ Indonesia is one of the South East Asia Region., with Hepatitis B prevalence mild to severe. In Indonesia, Hepatitis B immunization has begun to be integrated into Immunization Developing Program (PP1) since the year 1997. Hepatitis B immunization services can be obtained from government hospitals / military hospitals, public health centers, pustu, posyandu, which have been appointed. Hepatitis B immunization coverage for infants aged 0-7 days in East Java is still low, 59.30% whilst in West Java, children under 5 years of age who have been immunized Hepatitis B before is 75.60%. This is far from the expected target for Hepatitis B immunization in infants aged 0-7 days, which is 90%. Administration of Hepatitis B immunization is closely related to delivery care attendants, because to obtain Hepatitis B immunization early, it's through health care professionals. In Indonesia, there are still many deliveries not done by health care professionals. The latest deliveries of families in West Java which were performed by health care professionals happened in 2005 as many as 61,27% had decreased to 56.64% in 2006. In 2005, delivery percentage done by "dukun" had experienced an increase of 5,19% whilst delivery percentage done by health care professional had decreased by 4,63% (BPS Jabar, 2006). Whereas in East Java, health program coverage for the year 2003-2005 showed that delvery care done by midwives or health care professionals had experience an increase as many as: 82,73% in 2003, 84,06% in 2004, and 86,10% in 2005. The objective of this research is to determine the association between delivery care attendants and administration of Hepatitis B immunization to infants aged 0-7 days after being matched by the following variables: mothers'age, mothereeducation, mothers' occupation, places of delivery / labour, and regional district of residency, which act as confounding variables. This research is done using secondary data from basic survey data ASUH. The study design used is cross sectional. Sample selection in this research follow the 30- cluster method of WHO. In this study, the cluster is a village whose criteria of cluster division id based on the number of people (probability proportionate to size). survey is obtained a certain number of villages. In the village stage, 15 mothers per cluster are randomly selected, so that it will satisfy the required number of samples of 450 for I district. Respondents are biological mothers of infants under 1 year of age in the chosen study area. Number of samples managed to be collected are 2687 respondents. Based on the calculation above with 2687 respondents, thus is obtained a strength of study as high as 99% with a = 5%, design effect =2, and Pl-P2 = 20%. Data analysis consist of univariate analysis, bivariate analysis, and multivariate analysis. Bivariate analysis uses chi-square to observe the association between independent variables and the dependent variable, whereas multivariate analysis uses Propensity Score Matching to observe the association between independent variables and the dependent variable at the same time after being controlled for confounding. Findings from the research show that there is significant association between delivery care attendants and administration of Hepatitis B immunization to infants aged 0-7 days after being matched confoundings variables with Propensity Score Matching analysis if using caliper matched alogarithin with RR 1,86 and p value <0.05. Based on this research, it's advice for policy maker to hopefully be able to increase the coverage for Hepatitis B immunization in infants 0-7 days by way of increasing the coverage of delivery care attendants done by health professionals, to use other matching algorithm for the next research and hopefially further researches are done by other researches because there is still hardly any research conducted to determine the association between delivery care and administration of Hepatitis B immunization in infants aged 0-7 days with other variables as well as other reseaches using Propensity Score Matching analysis with different kinds of matching algorithm.
Read More
T-2636
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kiki Kurniati; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Iwan Ariawan, Telly Purnamasari Agus
Abstrak: ABSTRAK
 
 
Skripsi ini menjelaskan mengenai pengaruh penggunaan kontrasepsi
 
terhadap kejadian lesi prakanker leher rahim. Penelitian dilakukan dengan menggunakan disain studi kasus-kontrol dan data sekunder yang berasal dari catatan medis deteksi dini kanker leher rahim di 3 puskesmas kecamatan di wilayah Jakarta Timur. Jumlah sampel yang diteliti adalah 86 orang untuk kelompok kasus dan 258 orang untuk kelompok kontrol. Hasil penelitian ini menemukan bahwa terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara penggunaan kontrasepsi non-hormonal dengan kejadian lesi prakanker (nilai-p <
 
α, dimana α = 0,05), dimana wanita yang menggunakan kontrasepsi non-hormonal memiliki risiko 4 kali lebih tinggi untuk mengalami kejadian lesi prakanker dibandingkan dengan wanita yang tidak pernah menggunakan metode kontrasepsi apapun, sedangkan risiko wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal tidak berbeda dengan wanita yang tidak pernah menggunakan metode kontrasepsi untuk mengalami kejadian lesi prakanker.
 

 
ABSTRACT
 
 
This thesis describes the effect of contraceptive use against the incidence of cervical lesions. This study uses a case-control study design with secondary data derived from medical records of early detection of cervical cancer in three health centers in East Jakarta district. The number of samples studied was 86 cases and 258 control. The results of this study found that there was a statistically significant association between contraceptive use and the incidence of cervical lesions (p-value <α, where α = 0.05), women who use non-hormonal contraception has 4 times higher risk to have cervical lesions compared with women who never used any contraceptive method, while the risk of women using
 
hormonal contraception are no different from women who never used a
 
contraceptive method to have cervical lesions.
Read More
S-7347
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meirina Nur Asih Susanti; Pembimbing: Wahyu Septiono; Penguji: Dien Anshari, Beladenta Amalia, Suci Puspita Ratih
Abstrak:
Depresi merupakan kontributor utama beban penyakit global dengan estimasi Disability-Adjusted Life Years (DALYs) mencapai 694,6 per 100.000 penduduk pada tahun 2023. Prevalensi gejala depresi di Indonesia sebesar 1,4% dengan 61% penderita pernah memiliki pikiran untuk mengakhiri hidupnya. Di sisi lain, paparan asap rokok pasif (SHS) pada non-perokok masih sangat tinggi, 74,2% di tempat umum dan 44,8% di tempat kerja, namun hubungannya dengan gejala depresi pada populasi dewasa non-perokok di Indonesia belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara paparan SHS dengan gejala depresi pada orang dewasa non-perokok di Indonesia menggunakan data sekunder SKI 2023 dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari 353.980 responden dewasa usia 18–59 tahun yang tidak pernah merokok. Gejala depresi diukur menggunakan instrumen MINI ICD-10, sedangkan paparan SHS dikategorikan berdasarkan frekuensi paparan di ruang tertutup. Analisis menggunakan regresi logistik multilevel tiga tingkat dengan penyesuaian bobot survei kompleks. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 67,7% responden terpapar SHS, terdiri dari 21,3% terpapar setiap hari dan 46,4% terpapar tidak setiap hari. Prevalensi gejala depresi sebesar 1,27%, lebih tinggi pada kelompok terpapar SHS setiap hari (1,93%) dibandingkan tidak terpapar (1,09%). Setelah dikontrol seluruh kovariat, paparan SHS setiap hari berhubungan dengan gejala depresi (OR = 1,29; 95% CI: 1,12–1,48), sedangkan paparan tidak setiap hari menunjukkan odds lebih rendah (OR = 0,88; 95% CI: 0,78–0,99). Analisis sensitivitas dengan menggabungkan kategori "tidak terpapar" dan "terpapar tidak setiap hari" sebagai kelompok referensi mengkonfirmasi konsistensi temuan (OR = 1,39; 95% CI: 1,24–1,56), menunjukkan bahwa hubungan antara paparan SHS harian dan gejala depresi bersifat robust. Faktor individu yang berhubungan meliputi penyakit kronis (OR = 2,91; 95% CI: 2,56–3,32), jenis kelamin perempuan (OR = 1,64; 95% CI: 1,37–1,96), tidak bekerja (OR = 1,37; 95% CI: 1,22–1,54), status ekonomi bawah (OR = 1,36; 95% CI: 1,13–1,64), pendidikan rendah (OR = 1,29; 95% CI: 1,14–1,47), dan tidak ada aktivitas fisik (OR = 1,19; 95% CI: 1,05–1,34). Sementara, usia lebih tua berhubungan dengan odds gejala depresi lebih rendah (OR = 0,98; 95% CI: 0,97–0,99), begitupun dengan faktor wilayah, tinggal di pedesaan (OR = 0,77; 95% CI: 0,67–0,88). Nilai Intraclass Correlation Coefficient (ICC) kabupaten/kota sebesar 24,7% mengindikasikan peran konteks wilayah yang masih substansial. Paparan SHS setiap hari terbukti berhubungan dengan gejala depresi pada orang dewasa non-perokok di Indonesia. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) sebagai strategi pencegahan berbasis kebijakan, integrasi kesehatan mental dalam program pengendalian tembakau, skrining gejala depresi yang diprioritaskan pada kelompok paling rentan dan wilayah dengan KTR lemah, serta perlunya studi lanjut yang bersifat kuasi-eksperimen atau longitudinal.

Depressive symptoms are a major contributor to the global disease burden, with an estimated 694.6 DALYs per 100,000 population in 2023. The prevalence of depressive symptoms in Indonesia is 1.4%, with 61% of those detected having had thoughts of ending their lives, according to the 2023 SKI. Meanwhile, secondhand smoke (SHS) exposure among non-smokers remains high, 74.2% in public places and 44.8% in workplaces; however, its association with depressive symptoms among non-smoking adults in Indonesia has not been extensively studied. This study aims to investigate the association between SHS exposure and depressive symptoms among non-smoking adults in Indonesia using secondary data from the 2023 SKI with a cross-sectional design. The sample consisted of 353,980 adult respondents aged 18–59 years who had never smoked. Depressive symptoms were measured using the MINI ICD-10 instrument, while SHS exposure was categorized based on frequency of exposure in enclosed spaces. Analysis utilized three-level multilevel logistic regression with complex survey weight adjustments. The results showed that 67.7% of respondents were exposed to SHS, consisting of 21.3% exposed daily and 46.4% exposed non-daily. The prevalence of depressive symptoms was 1.27%, higher among those exposed to SHS daily (1.93%) compared to those unexposed (1.09%). After adjusting for all covariates, daily SHS exposure was significantly associated with depressive symptoms (OR = 1.29; 95% CI: 1.12–1.48), whereas non-daily exposure showed lower odds (OR = 0.88; 95% CI: 0.78–0.99). A sensitivity analysis combining the "unexposed" and "non-daily exposed" categories as a single reference group confirmed the consistency of findings (OR = 1.39; 95% CI: 1.24–1.56), demonstrating that the association between daily SHS exposure and depressive symptoms is robust. Individual-level factors associated with depressive symptoms included chronic disease (OR = 2.91; 95% CI: 2.56–3.32), female sex (OR = 1.64; 95% CI: 1.37–1.96), unemployment (OR = 1.37; 95% CI: 1.22–1.54), lower economic status (OR = 1.36; 95% CI: 1.13–1.64), low education (OR = 1.29; 95% CI: 1.14–1.47), and physical inactivity (OR = 1.19; 95% CI: 1.05–1.34), while older age was associated with lower odds of depressive symptoms (OR = 0.98; 95% CI: 0.97–0.99), as well at the area level, residing in rural areas (OR = 0.77; 95% CI: 0.67–0.88). The Intraclass Correlation Coefficient (ICC) at the district/city level of 24.7% indicated a substantial role of area-level context. Daily SHS exposure was significantly associated with depressive symptoms among non-smoking adults in Indonesia. These findings underscore the importance of strengthening smoke-free area policy enforcement as a policy-based prevention strategy for depressive symptoms, integrating mental health into tobacco control programs, prioritizing depressive symptom screening for the most vulnerable groups and areas with weak smoke-free regulations, and the need for further longitudinal or quasi-experimental studies.
Read More
T-7603
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Zubaidah; Pembimbing: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Besral, Bowo Setiyanto
S-8818
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahmi Fauzia Putri; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: R. Sutiawan, Nariarti Hardini
Abstrak: Skripsi ini dilatarbelakangi pentingnya peran pemasaran dalam organisasi modern termasuk organisasi rumah sakit. Fungsi pemasaran modern tidak hanya memasarkan produk dan layanan RS, tetapi juga melakukan fungsi manajemen meliputi analisis, perencanaan, implementasi, dan pengendalian pemasaran. Untuk melaksanakan fungsi tersebut maka diperlukan informasi pemasaran, salah satunya informasi internal rumah sakit berupa informasi rekam medis.
 
 
Penelitian ini bertujuan menilai pemanfaatan informasi produk sistem rekam medis dalam kegiatan pemasaran Rumah Sakit Haji Jakarta. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode observasi dokumen dan wawancara dengan informan yaitu kepala rekam medis, pelaksana rekam medis, dan koordinator pemasaran.
 
 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagian pemasaran belum optimal memanfaatkan informasi rekam medis dalam kegiatan pemasaran. Informasi rekam medis hanya dimanfaatkan untuk melakukan identifikasi penyebab terjadinya penurunan pendapatan rumah sakit secara drastis. Peneliti menyarankan agar bagian pemasaran mengoptimalkan penggunaan informasi internal rekam medis yang dimiliki rumah sakit seperti informasi karakteristik pasien dalam merencanakan segmentasi pasar dan penentuan pasar sasaran.
 

This study conducted due to the important role of marketing in modern organizations, including the hospital organization. The function of modern marketing not only sell product and services, but also perform management function includes analysis, planning, implementation, and control of marketing. To run these functions then needed marketing information in the form of medical record information as hospital internal information.
 
 
This research aimed to assess the utilization of medical record information in Marketing Department of Haji Hospital in Jakarta. This research was qualitative descriptive study. Data collection method used documents observation and interviews with informers that consists of Head of Medical Record Unit, Staff of Medical Record Unit, and Marketing Coordinator.
 
 
The results showed the Marketing department has not been optimal in utilizing medical record information for marketing activities. Medical record information is only used to identify the cause of the decline in hospital revenues drastically. Researcher recommended the Marketing Department to optimize the use of medical records information as one of internal information of hospital such as patient characteristics to determine the market segmentation and the target market.
Read More
S-7306
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive