Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 43224 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Maryati Kasiman; Pembimbing: Izhar M. Fihir; Penguji: Ridwan Z. Sjaaf, Dadan Erwandi, Lusi Widiastuti, Rachmat Suherwin
Abstrak:

Penelitian deskriptif kuantitatif dengan disain Cross Sectional Survey mengenai Studi Persepsi tentang Penyakit Kardiovaskular dan Upaya Pencegahannya pada karyawan XY, menggunakan konsep Health Belief Model, meneliti persepsi kerentanan (perceived susceptibility), persepsi keparahan (perceived severity), persepsi manfaat (perceived benefit), persepsi hambatan (perceived barrier) dan pengetahuan sebagai salah satu modifying factor. Rendahnya persepsi kerentanan karyawan dapat menjadi alasan ketidak aktifannya dalam berolahraga. Dari perhitungan statistik dengan korelasi spearman,terdapat korelasi yang bermakna antara persepsi hambatan dengan perilaku karyawan untuk berolahraga dengan p = 0.002 dan r = -0.297.


Quantitative descriptive study with cross-sectional survey design of the study and the Perception of the Cardiovascular Disease Prevention Efforts in XY employees, using the concept of Health belief model, examines perceived susceptibilit), perceived severity , perceived benefits ,perceived barriers and knowledge as a modifying factor. The low perception of susceptibility of employees can be a reason for the lack of exercise ( Physical Inactive ). Of statistical calculations with Spearman correlation, there is a significant correlation between perceived barrier to exercise behavior of employees with p = 0.002 and r = -0297.

Read More
T-3779
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fanny Agoestin Anugrah Falah; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Diana Tianora Mustafa
Abstrak: Penyakit kardiovaskular merupakan salah satu masalah kesehatan utama di negara maju maupun berkembang. Tahun 2008 sebanyak 17,3 juta kematian disebabkan penyakit kardiovaskular. Lebih dari 3 juta kematian tersebut terjadi sebelum usia 60 tahun. Di PT Harmoni Panca Utama, dalam medical check up tahun 2016 menunjukkan tingkat overweight sebesar 38,75%, obesitas 7,50%, hipertensi stadium 1 3,75%, kolesterol 32,50%, gula darah puasa terganggu 10%, diabetes 7,5%, kelainan pada pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) 2,86% yang termasuk dalam faktor risiko penyakit kardiovaskular. Tujuan dari penelitian ini menjelaskan faktor risiko penyakit kardiovaskular pada karyawan head office di PT Harmoni Panca Utama tahun 2017. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif untuk mendapatkan tingkat risiko dan distribusi penyakit kardiovaskular dari medical check up tahun 2016 menggunakan Skor Kardiovaskular Jakarta dan Framingham Risk Score. Pendekatan kualitatif untuk mengetahui kesadaran dan pengetahuan mengenai penyakit kardiovaskular, pola hidup sehat untuk mengurangi penyakit tersebut, dan upaya preventif perusahaan melalui wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan tingkat risiko penyakit kardiovaskular menggunakan Skor Kardiovaskular Jakarta adalah 49 orang risiko rendah, 21 orang risiko sedang, dan 10 orang risiko tinggi serta dengan menggunakan Framingham risk score adalah 26 orang kategori low risk dan 8 orang kategori intermediate risk. Sebagian besar karyawan mengetahui apa itu penyakit kardiovaskular, tetapi sebagian kecil karyawan tidak mencegah faktor risiko yang dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular tersebut. Sebagian besar karyawan sudah mengetahui bagaimana pola hidup sehat, tetapi sebagian kecil karyawan masih mengabaikan pola hidup sehat. Upaya perusahaan yang telah dilakukan diantaranya program Medical Check Up, weekly sharing, BMI challenge, dan pemberian makan pada saat makan siang. Kata kunci: Penyakit Kardiovaskular, Faktor Risiko, Skor Kardiovaskular Jakarta, Framingham Risk Score
Read More
S-9364
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Askania Fadima; Pembimbing: Ridwan Z. Sjaaf; Penguji: Hendra, Widura Imam Mustopo
Abstrak:

Banyak tindakan tidak aman yang dilakukan penumpang merupakan wujud nyata dari persepsi penumpang. Oleh karena dengan diketahuinya persepsi tentang risiko keselamatan penerbangan oleh penumpang maka diharapkan dapat mengurangi risiko buruk terhadap penumpang selama melakukan penerbangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran persepsi penumpang tentang risiko keselamatan penerbangan berdasarkan maskapai penerbangan, Jenis pekerjaan, dan tingkat pendidikan serta mengetahui profit konsep locus of control dan self efficacy dihubungkan dengan persepsi penumpang tentang risiko keselamatan penerbangan. Desain penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 174 orang yang diambii dari Terminal I A, 1B, 1 C dan 2F di Bandara Soekarno Hatta. Dari basil penelitian dapat disimpulkan bahwa self efficacy dan maskapai penerbangan mempengaruhi persepsi penumpang tentang risiko keselamatan penerbangan. Dimana, rata-rata responden memiliki persepsi yang baik tentang risiko keselamatan penerbangan dan self efficacy mcmberikan pengaruh positif terhadap persepsi penumpang tentang risiko keselamatan penerbangan. Selain itu juga terdapat perbedaan persepsi tentang risiko berdasarkan maskapai penerbangan. Dimana rata-rata responden Garuda Indonesia memiliki persepsi yang baik tentang risiko keselamatan penerbangan dibandingkan rata-rata responden dari maskapai penerbangan lain. Disarankan bagi PT (Persero) Angkasa Pura II selaku badan pengelola bandara dan Airline untuk tetap mempertahankan sistem kontrol keselamatan yang tegas sesuai dengan regulasi yang berlaku, meningkatkan safety induction di bandara dan sosialisasi tentang keselamatan penerbangan untuk meningkatkan awareness penumpang terhadap keselamatan penerbangan. Untuk penelitian selanjutnya, lebih difokuskan pada konteks sosial, budaya, dan proses organisasi.


 

Recently, there are so many unsafe acts of passenger which is a reflection of individual perception. So that, passengers are expected having good risk perception to decrease risk during flight. The main objective of this research is to describe passenger's risk perception by commercial fiight/Airline_ The risk perception -is associated with Airline, occupation, education, based on the locus of control and the self efficacy. Research design is descriptive and analytic with cross sectional approach_ Sample for this research are 174 passengers from Terminal IA, 1 B, 1 C and 2F at Soekamo Nana Airport. As a conclusion, passenger's risk perceptions are contributed by self efficacy and Airline. Generally, passengers having good risk perception and self efficacy positively contributes to passenger's risk perception. Average of Garuda Indonesia's Respondents has the biggest percentage of good risk perception than the other respondent from different Airline. It is recommended that PT (Persero) Angkasa Pura II and the Airline should be keep tightly of safety control regulation, increasing safety induction and socialize about safety aviation to passengers, and increasing the passenger's awareness about safety in aviation. Future research into risk perception of passenger in aviation will need to be focused on contexts of social, culture, and organizational processes.

Read More
T-2236
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Imas Latifah; Pembimbing: Izhar M Fihir; Penguji: Ridwan Zahdi Syaaf, Dadan Erwandi, Atna Permana, Syarifah Miftahul
Abstrak:

ABSTRAK Penularan penyakit infeksi HIV/AIDS, hepatitis B dan hepatitis C, dari pasien ke petugas kesehatan dapat terjadi melalui kecelakaan kerja. Perilaku petugas laboratoriun sebagai bagian dari petugas kesehatan dalam menerapkan kewaspadaan universal merupakan salah satu faktor penting terjadinya penularan infeksi. Petugas laboratorium yang tidak menerapkan kewaspadaan universal berisiko lebih tinggi terpajan penyakit infeksi tersebut di tempat kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perilaku kepatuhan petugas laboratorium dalam penerapan kewaspadaan universal dan menjelaskan faktor-faktor yang berkaitan dengan kepatuhan petugas laboratorium klinik dalam menerapkannya. Perilaku kepatuhan ini dapat dipengaruhi oleh faktor intrinsik dan faktor eksrinsik (Social Cognitive Theory). Penelitiani nimerupakan studi kasus yang menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan wawancara dan observasi sebagai metoda pengumpulan data yang dilakukan sejak bulan Mei-Juni 2013 di rumah sakit “XY”. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kepatuhan penerapan kewaspadaan universal pada petugas laboratorium di Rumah Sakit “XY” sebagian besar masih kurang. Faktor yang berkaitan dengan kurangnya kepatuhan petugas laboratorium terhadap kewaspadaan universal dari faktor intrinsik adalah pengetahuan, sedangkan dari faktor ekstrinsik adalah pelatihan dan dukungan atasan (pengawasan, penghargaan dan sanksi).


 ABSTRACT The transmission of infectious diseases HIV/AIDS, hepatitis B and hepatitis C from patient to health care workers can occur through accidents. Behavior of laboratory workers as part of health workers in implementing universal precautions as one of important factors is the infection transmission. Laboratory workers who are not at high risk of implementing universal precautions are more exposed to suffer infectious disease in their workplace. This study aims to explain the compliance behavior of laboratory workers in the application of universal precautions as well as factors associated with compliance in the clinical laboratory workers apply. Compliance behavior can be influenced by internal factors and eksternal factors (Social Cognitive Theory). This research is a case study using a qualitative approachment by conducting interviews and observations as data collection method since May-June 2013 at “XY” Hospital. The results indicate that the application of universal precautions compliance in laboratory workers at “XY” Hospital are still largely lacking. The factors associated with lack of this compliance on universal precautions of laboratory workers is knowledge (internal factor) whereas training and supervisor support (supevision, rewards and funishment) are related to the external factors.

Read More
T-3763
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Taufan Patrianto; Pembimbing: Mila Patrianto; Penguji: Hendra, Indri Hapsari, Yuni Kkusminanti, Muhammad Maududy
Abstrak: Kegiatan berolahraga di Unit Kegiatan Mahasiswa bidang olahraga Universitas Indonesia (UKOR UI) memiliki risiko terhadap keselamatan dan kesehatan anggotanya. Penelitian ini untuk menggambaran kasus cedera olahraga dan persepsi anggota UKOR UI terhadap faktor risiko cedera olahraga yang terjadi di UKOR UI tahun 2019. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan disain penelitian cross sectional. Pengambilan datanya menggunakan kuesioner dengan teknik accidental sampling. Penelitian ini diikuti oleh 87 responden dari populasi yang terdiri dari 448 orang di 17 cabang olahraga. Rata-rata usia mereka adalah 21,38 tahun. Usia minimumnya 18 tahun dan maksimumnya 30 tahun dan terbanyak adalah laki-laki (74%). 64,4% responden memiliki BMI normal. 58,6% responden memiliki riwayat cedera. Tingkat keparahan cedera sebagian besar pada tingkat ringan dan sedang (78,4%). Lokasi cedera yang paling banyak terjadi pada ekstrimitas bawah (64,8%) yaitu pada engkel (31,4%), paha (15,7%) dan lutut (13,7%). Sedangkan menurut kondisi medisnya cedera yang paling besar mengenai ligamen/keseleo sebanyak 64% dan cedera otot (tendon) sebesar 24%. Persepsi responden cenderung setuju bahwa kebugaran tubuh (80%), kurang pemanasan (84%) dan kurang latihan (65%) dan kondisi lapangan (65%) sebagai faktor penyebab terjadinya cedera olahraga di UKOR UI. Hasil penelitian ini menyarankan bahwa pemangku kepentingan olahraga di UI untuk mengkaji risiko cedera olahraga dan mengembangkan SOP aktifitas olahraga di setiap UKOR dan mempromosikan kegiatan olahraga yang bebas cedera kepada mahasiswa UI seperti melakukan latihan olahraga secara rutin dan terjadwal, melakukan pemanasan yang cukup sebelum berolahraga, menjaga kebugaran fisik, dan menggunakan alat pelindung olahraga yang disyaratkan.
Read More
T-5559
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hana Fajar Septanti; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Ridwan Zahdi Sjaaf, Jamri Langoy
S-7915
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hadiah Khoiriah; Pembimbing: Ridwan Zahdi Sjaaf; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, David Rosyada Abdurachman
S-8024
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bama Herdiana Gusmara; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Fatma Lestari, Mila Tejamaya, Dippu Rocky Nababan
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran persepsi risiko keselamatan masyarakat di desa Muara Binuangeun, Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak, Banten terkait kegiatan eksplorasi oleh PT X pada tahun 2013 menggunakan paradigma psikometri. Penelitian dilakukan terhadap 165 responden pada bulan November-Desember 2013 menggunakan desain cross-sectional, data primer berupa kuesioner, FGD, dan wawancara informan kunci, data sekunder berupa gambaran penduduk secara umum. Parameter yang digunakan adalah skala likert angka 1(sangat tidak setuju)-4 (sangat setuju). Nilai rata-rata masing-masing dimensi dihitung dimana angka 1(rendah), 2-3(sedang), 4(baik).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata dimensi paradigma psikometri tergolong sedang (2,1-2,7 skala 4), artinya persepsi masyarakat cukup baik dan perlu ditingkatkan lagi. Dimensi ketakutan dipersepsikan rendah, artinya masyarakat belum sepenuhnya tahu akan risiko kegiatan. Penelitian menunjukkan persepsi risiko masyarakat terkait kegiatan eksplorasi tidak berhubungan dengan usia, jenis kelamin, jenis pekerjaan, serta tingkat pendidikan (p-value>α(0,05). Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan terutama terkait isu keselamatan terkait kegiatan eksplorasi, perlu dilakukan sosialisasi menyeluruh kepada masyarakat di desa Muara Binuangeun, Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak, Banten.

This study aims to provide an overview of public safety risk perception in the desa Muara Binuangeun , Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak , Banten related exploration activities by PT X in 2013 using the psychometric paradigm. The study was conducted on 165 respondents in November-December 2013. Design of study is cross - sectional , primary data obtained from questionnaires , FGD and key informant interviews, secondary data provide an overview of the general public. This study used likert scale as follows 1 (very disagree)-4 (very agree). The mean value of each dimension is calculated, which is defined as follows: 1(low), 2-3(moderate), 4(good).

The results showed that the average value of the psychometric paradigm in risk perception were moderate ( 2.1 to 2.7 on a scale of 4 ), meaning that the public perception is quite good and need to be increased again. Study shows that the dread dimension quite low, meaning people do not fully know the risks of the activities. Research shows the public perception of risks associated exploration activities not related to age , gender , occupation , and education level (p-value>α(0,05). To avoid undesirable events primarily related safety issues in exploration activities, dissemination efforts to the entire community needs to be done.
Read More
T-4042
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Puspita Tri Utami; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Robiana Modjo, Hendra, Astuti, Ali Syahrul Chairuman
Abstrak: Corona Virus Disease 19 atau dikenal Covid-19 ditetapkan sebagai pandemic dan bencana nasional pada awal Maret 2020. Berkembangnya mutase virus dengan penularannya cepat meningkatkan kasus terkonfirmasi Covid-19. Peningkatan kasus ini juga terjadi di cluster perkantoran termasuk Kementerian Kesehatan. Sebagai regulator permasalahan kesehatan termasuk dalam pencegahan dan pengendalian Covid-19 ternyata perkantoran Kemententerian Kesehatan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 meningkat dari peringkat 4 meningkat menjadi peringkat 1 cluster perkantoran di DKI Jakarta padahal tersedia anggaran, kebijakan dan komite K3L (Keselamatan dan Kesehatan kerja serta Lingkungan) dalam pencegahan dan pengendalian Covid-19. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa penerapan komunikasi kebijakan Covid-19 dan Pengetahuan tentang Kebijakan Covid-19 pada karyawan di Perkantoran Kementerian Kesehatan Tahun 2021. Metodologi yang digunakan pada penelitian adalah observational analitik dengan studi potong lintang sebanyak 440 karyawan sejak Januari 2021 hingga Juli 2021. Hasil penelitian menunjukkan jabatan, pendidikan dan pesan berhubungan dengan pengetahuan kebijakan Covid-19. Penerapan komunikasi yang efektif diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan karyawan perkantoran Kementerian Kesehatan tentang kebijakan Covid-19
Corona Virus Disease 19 or known as Covid-19 was declared a pandemic and a national disaster in early March 2020. The development of virus mutations with rapid transmission has increased confirmed cases of Covid-19. This increase in cases also occurred in office clusters, including the Ministry of Health. As a regulator of health problems, including in the prevention and control of Covid-19, it turns out that the office of the Ministry of Health of the positive confirmed cases of Covid-19 increased from rank 4 to rank 1 in the office cluster in DKI Jakarta even though the budget, policies and K3L committee (Occupational Safety and Health and Environment) are available. ) in the prevention and control of Covid-19. This study aims to analyze the application of Covid-19 policy communication and knowledge about Covid-19 policies to employees at the Ministry of Health Offices in 2021. The methodology used in this study is analytical observational with a cross sectional design of 440 employees from January 2021 to July 2021. Results Research shows positions, education and Covid-19 policy messages are related to Covid-19 policy knowledge. The application of effective communication is expected to increase the knowledge of the Ministry of Health office employees about the Covid-19 policy
Read More
T-6278
Depok : FKM UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Deliana Attasya Widyasari; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Stevan Deby Anbiya Muhammad Sunarno, Wira Wisnu Wardani, Arif Hening Mustikaningrum
Abstrak:
Pendahuluan. Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama kematian dan salah satu masalah kesehatan utama pada kelompok usia produktif. Tingginya faktor risiko yang dapat dimodifikasi, seperti merokok, kurang aktivitas fisik, obesitas, hipertensi, dan dislipidemia menunjukkan pentingnya perilaku pencegahan penyakit kardiovaskular pada pekerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis determinan perilaku pencegahan penyakit kardiovaskular berdasarkan model Capability, Opportunity, Motivation of Behaviour (COM-B) sebagai dasar pengembangan promosi kesehatan di tempat kerja. Metode. Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional) pada 116 pekerja PT NP Group. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner COM-B dan dianalisis secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square, serta multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil. Sebagian besar responden memiliki perilaku pencegahan penyakit kardiovaskular yang rendah (55,2%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa psychological capability yang terdiri dari action planning, action control, dan decision making (p <0,001), reflective motivation (p = 0,009), serta automatic motivation (p<0,001) berhubungan signifikan dengan perilaku pencegahan penyakit kardiovaskular. Sebaliknya, physical capability (p = 0,442), knowledge (p = 0,947), physical opportunity (p = 0,615), dan social opportunity (p = 0,589) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa automatic motivation (OR = 1,249; p = 0,033) dan psychological capability (OR = 1,172; p = 0,020) merupakan determinan yang berpengaruh signifikan terhadap perilaku pencegahan penyakit kardiovaskular, sedangkan reflective motivation tidak lagi signifikan setelah dikontrol bersama variabel lain (p = 0,146). Variabel sosiodemografi berupa usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan status pernikahan juga tidak berpengaruh signifikan. Model akhir memiliki nilai Nagelkerke R Square sebesar 0,323 dan tingkat ketepatan klasifikasi sebesar 71,6%. Kesimpulan. automatic motivation dan psychological capability merupakan determinan utama perilaku pencegahan penyakit kardiovaskular pada pekerja. Oleh karena itu, program promosi kesehatan di tempat kerja perlu difokuskan pada pembentukan kebiasaan sehat, penguatan regulasi diri, action planning, action control, dan decision making untuk meningkatkan efektivitas pencegahan penyakit kardiovaskular pada pekerja.

Introduction. Cardiovascular disease (CVD) remains the leading cause of mortality worldwide and is a major health concern among the productive working-age population. The high prevalence of modifiable risk factors, including smoking, physical inactivity, obesity, hypertension, and dyslipidemia, highlights the importance of preventive health behaviours among workers. This study aimed to analyze the determinants of cardiovascular disease prevention behaviour based on the Capability, Opportunity, Motivation–Behaviour (COM-B) model as a foundation for developing workplace health promotion programs. Method. A quantitative analytic study with a cross-sectional design was conducted among 116 employees of PT NP Group. Data were collected using a COM-B-based questionnaire and analyzed through univariate, bivariate (Chi-square), and multivariate (logistic regression) analyses. Result. The results showed that the majority of respondents demonstrated low cardiovascular disease prevention behaviour (55.2%). Bivariate analysis revealed significant associations between psychological capability, particularly action planning, action control, and decision making (p<0.001), reflective motivation (p = 0.009), and automatic motivation (p <0.001) with cardiovascular disease prevention behaviour. In contrast, physical capability (p = 0.442), knowledge (p = 0.947), physical opportunity (p = 0.615), and social opportunity (p = 0.589) were not significantly associated with preventive behaviour. Multivariate analysis indicated that automatic motivation (OR =1.249; p = 0.033) and psychological capability (OR = 1.172; p = 0.020) were significant determinants of cardiovascular disease prevention behaviour, whereas reflective motivation was no longer significant after adjustment for other variables (p = 0.146). Sociodemographic factors, including age, sex, educational level, and marital status, were also not significantly associated with preventive behaviour. The final model demonstrated a Nagelkerke R Square of 0.323 and an overall classification accuracy of 71.6%. Conclusion. This study concludes that automatic motivation and psychological capability are the primary determinants of cardiovascular disease prevention behaviour among workers. Therefore, workplace health promotion programs should focus on strengthening healthy habits, self-regulation skills, action planning, action control, and decision-making abilities to enhance the effectiveness of cardiovascular disease prevention efforts in the workplace. Keywords: cardiovascular disease, preventive behaviour, workplace health promotion, COM-B, psychological capability, opportunity, reflective motivation, automatic motivation.
Read More
T-7635
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive