Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 42423 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Hasan Al Faruk; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Lukman Hakim Tarigan, Nasrin Kodim, C. Yekti Praptiningsih, Yusuf Rifa'i Romli
Abstrak: Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Definisi pneumonia yang diperkenalkan oleh WHO pada tahun 1989 dan dipakai oleh Depkes RI dalam program penanggulangan ISPA/pneumonia secara nasional adalah suatu penyakit dengan gejala batuk pilek yang disertai napas sesak atau napas cepat.
 
Penyakit yang disebabkan oleh gangguan saluran pernapasan di Kota Tasikmalaya terdapat pada urutan pertama dari 10 besar penyakit terbanyak yang melaksanakan rawat jalan ke puskesmas yaitu 18,10%. Sedangkan khusus yang disebabkan oleh pneumonia terdapat di urutan keenam yaitu 5,15%. Hal tersebut dapat disebabkan karena masih rendahnya cakupan ASI eksklusif yang hanya sebesar 31,2%, rendahnya cakupan vit A dosis tinggi yang hanya sebesar 43,77% dan kelihatannya tidak terpengaruh oleh tingginya cakupan imunisasi sebesar 92,32%; disamping juga masih dapat dipengaruhi oleh variabel-variabel lainnya.
 
Program ISPA/pneumonia di Kota Tasikmalaya telah dilaksanakan mulai sekitar tahun 1991, namun sampai saat ini penderita pneumonia masih tetap tinggi dan masih menjadi permasalahan, baik di masyarakat luas maupun di Dinas Kesehatan Kota sebagai pengelola program penanggulangan. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan tujuan ingin mengetahui hubungan ketiga variable independen di atas terhadap kejadian pneumonia pada balita usia 12-59 bulan yang dilayani puskesmas di Kota Tasikmalaya Tahun 2002.
 
Rancangan penelitian memakai studi kasus kontrol tidak berpadanan dengan populasi seluruh anak balita usia 12-59 bulan yang berkunjung dan berobat ke puskesmas di Kota Tasikmalaya dari bulan April-Mai 2002 serta dicatat pada register rawat jalan puskesmas yang bersangkutan. Sampel minimal yang dibutuhkan sebanyak 100 balita kasus dan 100 balita kontrol dengan perbandingan 1:1. Selanjutnya data diolah dan dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat dengan bantuan perangkat computer.
 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara ketiga variabel independen utama yang diteliti yaitu ASI eksklusif, vit A dosis tinggi dan imunisasi campak terhadap kejadian pneumonia pada balita yang disertai adanya variabel interaksi yaitu antara ASI dengan vit A. Rincian singkat hasil penelitian dapat dilihat seperti berikut ini:
 
1. Pada saat interaksi = 0; hubungan ASI terhadap kejadian pneumonia bermakna dengan nilai OR=9,018 (95% CI : 3,258-24,956), p = 0,000 dan hubungan vit A terhadap kejadian pneumonia bermakna dengan nilai OR=19,717 (95% CI : 4,958-78,414), p = 0,000.
 
2. Pada saat interaksi = 1; hubungan ASI atau vit A terhadap kejadian pneumonia bermakna dengan nilai OR = 0,083 (95% CI : 0,017-0,391), p = 0,002.
 
3. Hubungan pemberian imunisasi campak terhadap kejadian pneumonia bermakna dengan nilai OR=2,879 (95% CI : 1,418-5,844), p = 0,003.
 
Penanggulangan pneumonia dapat dilakukan melalui beberapa kegiatan seperti peningkatan pemberian ASI eksklusif, pemberian Vit A dosis tinggi dan program kesehatan dan pemberian imuniasi campak kepada balita dengan cara:
 
1. Penyuluhan yang intensif melalui berbagai media terhadap ibu balita.
 
2. Pelatihan dan pengawasan terhadap petugas pengelola program gizi, KIA dan program imunisasi.
 
3. Koordinasi lintas program dan lintas sektoral dengan memberdayakan kader kesehatan yang terlatih.
 

 
The Connection between Exclusive Breast Feeding Given, High Dosage Vitamin A, and Measles Immunization to Pneumonia Cases at 12-59 Months Old Children, Which Serves by Public Health Center in Tasikmalaya Town, West Java in 2002Pneumonia is an acute infection process that attacks lung's tissues (alveoli). The pneumonias definition that WHO given in 1989 and been using by Ministry of Health of Indonesia Republic at acute respiratory infection/pneumonia's decreasing program is cold cough symptom or quick breathing.
 
The diseases that caused by lung's problems in Tasikmalaya Town take the first place from the big 10 diseases, which public health center served home ward, which is 18,10%. Where as, the pneumonia cases took the sixth (5,15%). This cases could be caused by the low exclusive breast feeding coverage (31,2%), the low- usage high dosage vitamin A (43,77%) and immunization (92,32%) that's not running so effective and influenced; in other side there's many variables that could influence this case.
 
Acute respiratory infection/pneumonia's program in Tasikmalaya Town has been conducted since 1991, but the pneumonia's cases still high and still become problems, even is society and Public Health Council as the tackle conductor program. Because of that, the writer has interest to do research to fine out the connection between those three independent variables to the pneumonia's cases to 12-59 months old children that served by public health center in Tasikmalaya in 2001.
 
The research's design is using the case control that not connected to the number or quantity of 12-59 months olds children that visited and having care in public health center in April-May 2002 that been record in public health center home ward registration. The minimum samples needed was 100 toddler's case and 100 control toddlers with ratio 1 : L Then, the date have been processed and analyzed by univariant, bi-variant and multi-variant with computers help.
 
The research found that there's a real connection that statistically showed between those independent variables; the exclusive breast feeding, high dosage vitamin A, and measles immunization, to the toddler's pneumonia cases, also sown the interaction variables between breast feeding with vitamin A usage. The short details of the research's result shown below:
 
1. Exclusive breast feeding given: at 0 interaction; OR= 9,018 (95% CI=3,258-24,956), p=0,000 and at 1 interaction; OR 3,083 (95% CI=0, 017-0,391), p=0,002.
 
2. Vitamin A usage: at 0 interaction; OR = 19,717 (95% CI=4,958-78,414), p=0,000 and at 1 interaction; OR=0,083 (95% CI= 0,017-0,391), p=0,002.
 
3. Measles immunization: OR = 2,879(95% CI = 1,418-5,844), p=0, 003.
 
Developing some actions such as, exclusive breast feeding given, high dosage vitamin A given by public health program, and toddler's measles immunization could do the pneumonia tackle, for examples:
 
1. Intensive health education promotion trough medias about infant's mothers.
 
2. Training and controlling to nutrient program's conductor officers, infant's mothers program, and immunization programs.
 
3. Cross-programs and cross-sector coordination with empowered the well-trained public health cadres.
Read More
T-1449
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khoirul Naim; Pembimbing: Soedarto Ronoatmodjo
T-1209
Depok : FKM UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lina Anggraeni Mariyati; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Trisari Anggondowati, Dian Meutia Sari, Arum Ambarsari
Abstrak:
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi salah satu penyebab utama morbiditas pada anak balita, terutama di negara berkembang. Status imunisasi dasar dan riwayat berat lahir rendah (BBLR) merupakan faktor yang secara teoritis berhubungan dengan kejadian ISPA pada anak, namun belum adanya penelitian yang secara khusus mengevaluasi efek gabungan antara status imunisasi dasar dan riwayat berat lahir terhadap kejadian ISPA pada balita. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kedua faktor tersebut dengan kejadian ISPA pada anak usia 12–59 bulan di DKI Jakarta baik secara terpisah (independent), maupun kombinasi (gabungan) berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 dengan menggunakan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 711 anak usia 12–59 bulan di DKI Jakarta yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu memiliki data lengkap pada setiap variabel yang diteliti. Variabel dependen adalah kejadian ISPA, yaitu anak yang tercatat dalam 1 bulan terakhir didiagnosis ISPA oleh tenaga kesehatan dan atau memiliki gejala demam disertai batuk/pilek/nyeri tenggorok, sedangkan variabel independen utama meliputi status imunisasi dasar, riwayat berat lahir, dan variabel gabungan status imunisasi dasar dan riwayat berat lahir. Variabel kovariat terdiri atas usia anak, status gizi, ASI eksklusif, paparan asap rokok dalam rumah, usia ibu, pendidikan ibu, status pekerjaan ibu, dan status ekonomi. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat dan multivariat menggunakan regresi generalized linear model dengan pendekatan backward elimination. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi ISPA pada anak usia 12–59 bulan sebesar 37,6%. Setelah mengotrol faktor perancu, anak dengan imunisasi dasar tidak lengkap memiliki prevalensi ISPA 13% lebih tinggi dibandingkan anak dengan imunisasi lengkap (aPR=1,13; 95%CI: 0,93–1,39), namun tidak bermakna secara statistik. Anak dengan riwayat BBLR juga memiliki prevalensi ISPA 33% lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang tidak BBLR (aPR=1,33; 95%CI: 0,95–1,88). Pada analisis variabel gabungan, kelompok anak dengan imunisasi lengkap dan riwayat BBLR memiliki prevalensi ISPA tertinggi (aPR=1,62; 95%CI: 0,93–2,83) dibandingkan degan kelompok imunisasi lengkap dan tidak BBLR. Penelitian ini menyimpulkan bahwa status imunisasi dasar dan riwayat BBLR menunjukkan kecenderungan peningkatan risiko ISPA meskipun tidak bermakna secara statistik. Upaya pencegahan ISPA tetap perlu difokuskan pada peningkatan cakupan imunisasi dasar dan pemantauan kelompok anak dengan riwayat BBLR.

Acute Respiratory Infection (ARI) remains one of the leading causes of morbidity among children under five, particularly in developing countries. Basic immunization status and a history of low birth weight (LBW) are theoretically associated with the incidence of ARI in children; however, limited research has specifically evaluated the combined effect of these two factors on ARI among under-five children. Therefore, this study aimed to analyze the association between basic immunization status and birth weight history with the incidence of ARI among children aged 12–59 months in DKI Jakarta using data from the 2023 Indonesian Health Survey through a cross-sectional design. The study sample consisted of 711 children aged 12–59 months in DKI Jakarta who met the inclusion criteria and had complete data for all study variables. The dependent variable was the incidence of ARI, defined as a child who, within the previous month, had been diagnosed with ARI by a healthcare professional and/or experienced symptoms of fever accompanied by cough, runny nose, or sore throat. The main independent variables included basic immunization status, birth weight history, and a combined variable of basic immunization status and birth weight history. Covariates consisted of child age, nutritional status, exclusive breastfeeding, exposure to cigarette smoke inside the house, maternal age, maternal education, maternal employment status, and socioeconomic status. Data were analyzed using univariate, bivariate, stratified, and multivariate analyses with generalized linear model regression and a backward elimination approach. The results showed that the prevalence of ARI among children aged 12–59 months was 37.6%. After adjusting for potential confounders, children with incomplete basic immunization had a 13% higher prevalence of ARI compared with fully immunized children (aPR = 1.13; 95% CI: 0.93–1.39), although the association was not statistically significant. Children with a history of LBW had a 33% higher prevalence of ARI compared with those without LBW (aPR = 1.33; 95% CI: 0.95–1.88). In the combined-variable analysis, children with complete immunization and a history of LBW had the highest prevalence of ARI (aPR = 1.62; 95% CI: 0.93–2.83) compared with children who had complete immunization and no history of LBW. This study concludes that incomplete basic immunization status and a history of LBW tend to increase the risk of ARI, although the associations were not statistically significant. Efforts to prevent ARI should continue to focus on improving basic immunization coverage and monitoring children with a history of LBW.
Read More
T-7550
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Saleh Budi Santoso; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Rusli
Abstrak: Abstrak

Pneumonia merupakan penyebab kematian terbesar pada anak di seluruh dunia. Setiap tahunnya diestimasikan sekitar 18% kematian anak di bawah usia 5 tahun di seluruh dunia disebabkan oleh pneumonia. Faktor risiko pasti yang berkontribusi diantaranya yaitu balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif.

Tujuan studi ini untuk mengetahui hubungan pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian pneumonia balita usia 12 -23 bulan setelah dikontrol terhadap confounder. Studi kasus kontrol ini dilakukan di tiga wilayah puskesmas Kota Cimahi berdasarkan angka insidens kasus pneumonia balita yang tertinggi di tahun 2012. Kasus adalah balita usia 12 - 23 bulan yang berkunjung ke sarana puskesmas penelitian periode Januari - Desember 2012 dan didiagnosa sebagai kasus pneumonia. Kontrol merupakan tetangga dari kasus, dengan perbandingan jumlah kasus dan kontrol yaitu 1:1. Besar sampel minimal sebanyak 133 untuk masing - masing kelompok. Analisis multivariat dengan menggunakan regresi logistik. Besar asosiasi balita yang tidak mendapat ASI eksklusif memiliki OR untuk terjadinya pneumonia sebesar 3,58 kali (95% CI: 2,08 - 6,19) dibandingkan yang mendapat ASI eksklusif setelah dikontrol terhadap confounder.

Penelitian ini memperkuat penelitian terdahulu yang membuktikan kekuatan hubungan pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian pneumonia pada balita. Berfokus pada daerah dengan angka insiden kasus penumonia yang tinggi, pihak dinas kesehatan dan puskesmas dapat lebih meningkatkan upaya promosi dan fasilitasi ASI eksklusif, menciptakan kawasan tanpa asap rokok di tingkat rumah tangga, pengurangan adanya paparan asap pembakaran di dalam rumah, peningkatan pengetahuan ibu berkaitan faktor risiko pneumonia.


Pneumonia is the biggest cause of death in children worldwide. Each year approximately 18% of estimated deaths of children under five worldwide are caused by pneumonia. Definite risk factors that contribute to them are children under five who are not exclusively breastfed.

The purpose of this study to determine the relationship of exclusive breastfeeding on the incidence of pneumonia children under five age 12 -23 months after controlling for confounders.Case-control study was conducted in three areas of public health centers Cimahi City based incidence rates were highest children under five cases of pneumonia in 2012. Cases were children aged 12-23 months who visited the research public health centers means the period of January to December 2012 and was diagnosed as a case of pneumonia. Control is a neighbor of the case, the ratio of the number of cases and controls is 1:1. Minimum sample size for each of as many as 133 - each group. Multivariate analysis using logistic regression. Major association children under five who are not exclusively breastfed for the occurrence of pneumonia had an OR of 3.58 (95% CI: 2.08 to 6.19) than those who are breastfed exclusively after controlling for confounders.

This study reinforces previous research that proves the strength of association of exclusive breastfeeding on the incidence of pneumonia in infants. Focusing on areas with a number of high incidence of cases of pneumonia, the health department and public health center could further enhance the promotion and facilitation of exclusive breastfeeding, creating a smoke-free area at the household level, reduction in exposure to combustion fumes in the house, increasing maternal knowledge of risk factors associated pneumonia.

Read More
T-3824
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Oki Zulkifli Duski; Pembimbing: Krisnawati Bantas
T-993
Depok : FKM UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ida Hariyanti, Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Renti Mahkota, Diah Riana, Nining Hernawati
Abstrak: Pneumonia adalah pembunuh utama Balita di dunia, lebih banyak dibandingkan penyakit lain seperti AIDS, Malaria dan Campak. Survei kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1992, 1995, 2001 menunjukkan bahwa Pneumonia adalah penyumbang terbesar pada kematian bayi dan balita. Berdasarkan laporan Riskesdas 2007, menyebutkan prevalensi Pneumonia di DKI berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan rtesponden sebesar 1,67%.
 
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan imunisasi campak dengan kejadian pneumonia pada balita usia 12-59 bulan setelah dikontrol covariat (umur, jenis kelamin, Berat badan lahir, ASI exclusive, pendidikan, pemberian vitamin A, kepadatan hunian, ventilasi, dan adanya perokok didalam rumah).
 
Penelitian ini dilakukan dari bulan Mei sampai dengan Juli di Rumah Sakit Islam Pondok Kopi Jakarta tahun 2010. Penelitian ini menggunakan desain kasus kontrol. Kasus adalah balita usia 12-59 bulan yang menderita pneumonia. kontrol adalah balita usia 12-59 bulan yang tidak menderita pneumonia. Dalam penelitian ini sampel sebanyak 220 (kasus 110 dan control 110). Data dianalisis dengan analisis univariat, bivariat, dan multivariate dengan uji regresi logistic ganda.
 
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara imunisasi campak dengan pneumonia pada balita. Anak yang tidak diimunisasi campak berisiko 2,06 kali untuk menderita pneumonia dibandingkan anak yang mendapatkan imunisasi saat bayi. Setelah dikontrol pendidikan dan ASI exclusive. Pada pengukuran dampak dihasilkan bahwa anak yang diimunisasi campak dapat mencegah pneumonia sebesar 51,456%. Selanjutnya upaya untuk melindungi anak dari penyakit pneumonia adalah dengan memberikan imunisasi campak saat usia 9 bulan dan anak diberikan ASI exclusive.
 

Pneumonia is the leading killer of babies in the world, more than other diseases such as AIDS, malaria and measles. Household Health Survey (SKRT) 1992, 1995, 2001 showed that pneumonia is the biggest contributor to the death of infants and toddlers. Based Riskesdas 2007 report, citing the prevalence of pneumonia in the Municipality based on the diagnosis of health workers and complaints rtesponden 1.67%.
 
The purpose of this study was to find out the relationship with the incidence of pneumonia, measles immunization in infants aged 12-59 months after covariat controlled (age, sex, birth weight, exclusive breast feeding, education, provision of vitamin A, the density of occupancy, ventilation, and the presence of smokers in home).
 
This research was conducted from May to July at Pondok Kopi Islamic Hospital in Jakarta 2010. This study uses the case control design. The cases were infants aged 12-59 months who suffered from pneumonia. controls were toddlers aged 12-59 months who are not suffering from pneumonia. In this study, 220 samples (110 cases and 110 controls). Data were analyzed by univariate analysis, bivariate, and multivariate multiple logistic regression.
 
The results showed a relationship between measles immunization with pneumonia in infants. Children who are not immunized against measles 2.06 times the risk for pneumonia than children who get immunized when infants. After controlled education and exclusive breastfeeding. In measuring the impact produced that children who are immunized measles can prevent pneumonia by 51,456%. Further efforts to protect children from pneumococcal disease is to provide measles immunization at the age of 9 months and children are given breast milk exclusively.
Read More
T-3164
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Miftakhuddiniyah; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Anies Irawati, Sudiharto
T-3999
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eka Desi Purwanti; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Ratna Djuwita, Soewarta Kosen, Woro Riyadina
Abstrak: Stunting merupakan bentuk malnutrisi yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dan menyebabkan berbagai dampak buruk bagi kesehatan anak. Selain disebabkan karena kurangnya asupan gizi secara kronis, stunting juga dapat disebabkan oleh penyakit infeksi berulang. Upaya pencegahan penyakit infeksi seperti imunisasi akan turut berperan dalam meningkatkan pertumbuhan anak khususnya di negara berkembang. Tujuan penelitian ini untuk melihat hubungan antara status imunisasi dasar dengan kejadian stunting pada balita di Indonesia. Penelitian ini menggunakan disain studi cross sectional dan menggunakan data sekunder SSGI Tahun 2021. Kriteria inklusi penelitian ini adalah balita berusia 12-59 bulan saat pengumpulan data, diukur tinggi badannya, tidak sedang mengalami sakit berat/kronis, dan memiliki data variabel yang lengkap. Sebanyak 70.267 balita memenuhi kriteria inklusi dan seluruhnya diambil sebagai sampel penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan uji cox regression untuk mendapatkan besar asosiasi prevalence ratio (PR) dengan interval kepercayaan 95%. Penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi stunting balita usia 12-59 bulan di Indonesia adalah 23,1% dan proporsi balita yang mempunyai status imunisasi dasar lengkap adalah 74,92%. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa status imunisasi dasar berhubungan signifikan secara statistik dengan kejadian stunting. Balita dengan status imunisasi dasar yang tidak lengkap berisiko 1,19 kali lebih tinggi untuk mengalami stunting dibandingkan balita dengan status imunisasi dasar lengkap [adjusted PR 1,19 (95% CI 1,15 – 1,23)]. Balita yang tidak imunisasi sama sekali mempunyai risiko yang lebih tinggi lagi yaitu 1,27 kali untuk mengalami stunting dibandingkan balita dengan status imunisasi dasar lengkap [adjusted PR 1,27 (95% CI 1,15 – 1,39)], setelah mengontrol variabel pendidikan ibu, status ekonomi dan berat lahir anak. Diperlukan upaya untuk melengkapi status imunisasi anak sesuai jadwal dan peningkatan pengetahuan ibu mengenai pemanfaatan pelayanan kesehatan, pemenuhan gizi balita dan stimulasi tumbuh kembang anak.
Stunting is a malnutrition that is still a public health problem in Indonesia and causes various adverse effects on children's health. Besides caused by a chronic lack of nutrition, stunting can also be caused by recurrent of infectious diseases. Efforts to prevent infectious diseases, such as immunization, will play a role in increasing child growth, especially in developing countries. The purpose of this study was to examine the association between basic immunization status and the incidence of stunting in toddlers in Indonesia. This study used a cross-sectional study design using secondary data from SSGI 2021. The inclusion criteria for this study were that toddlers were aged 12–59 months at the time of data collection, their height was measured, were not experiencing severe or chronic illness, and had complete variable data. A total of 70,267 toddlers met the inclusion criteria, and all were taken as research samples. Data analysis was performed using the Cox regression to obtain a prevalence ratio (PR) with 95% of confidence interval. This study shows that the prevalence of stunting among children aged 12–59 months in Indonesia is 23.1%, and the proportion of children under five who have complete basic immunization status is 74.92%. The results of the multivariate analysis showed that basic immunization status had a statistically significant association with the incidence of stunting. Toddlers with incomplete basic immunization status are at risk 1.19 times higher for stunting compared to toddlers with complete basic immunization status [adjusted PR 1.19 (95% CI 1.15–1.23)]. Toddlers who are not immunized at all have an even higher risk of experiencing stunting, which is 1.27 times higher compared to toddlers with complete basic immunization status [adjusted PR 1.27 (95% CI 1.15–1.39)], after controlling for variables such as the mother's education, economic status, and the child's birth weight. Efforts are needed to complete the child's immunization status on time according to schedule and increase the mother's knowledge regarding the use of health services, the fulfillment of toddler nutrition, and the stimulation of child growth and development.
Read More
T-6625
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Welstin Wemi Loa; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Ratna Djuwita, Damiana Veronika Djahari
Abstrak:
Prevalensi stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih bertahan pada kisaran 37% dalam dua tahun terakhir meskipun cakupan ASI eksklusif dan imunisasi dasar lengkap relatif tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan riwayat ASI eksklusif dan status imunisasi dasar lengkap, serta interaksi keduanya, terhadap kejadian stunting pada anak usia 12–23 bulan di Provinsi Nusa Tenggara Timur setelah dikontrol oleh variabel perancu. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024 pada 2.377 anak usia 12–23 bulan. Analisis dilakukan menggunakan regresi Poisson dengan varian robust yang disesuaikan dengan desain kompleks survei dan pembobotan SSGI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, setelah dikontrol terhadap usia anak, jenis kelamin anak, riwayat berat badan lahir rendah, usia ibu saat hamil, kunjungan antenatal care (K6), pendidikan ibu, akses terhadap air minum layak, wilayah tempat tinggal, dan status sosial ekonomi, prevalensi stunting lebih tinggi pada kelompok anak yang tidak pernah mendapatkan ASI (aPR = 1,25; 95% CI: 1,02–1,54) dibandingkan dengan kelompok anak yang mendapatkan ASI eksklusif, serta pada kelompok anak dengan status imunisasi dasar yang tidak lengkap (aPR = 1,39; 95% CI: 1,05–1,85) dibandingkan dengan kelompok anak yang memiliki status imunisasi dasar lengkap. Analisis kombinasi pajanan menunjukkan bahwa anak yang tidak pernah mendapatkan ASI dan tidak memperoleh imunisasi dasar lengkap memiliki prevalensi stunting yang lebih tinggi (aPR = 1,56; 95% CI: 1,10–2,21), sedangkan anak yang memperoleh ASI non-eksklusif (mixed feeding) dan imunisasi dasar lengkap memiliki prevalensi stunting 50% lebih rendah (aPR = 0,50; 95% CI: 0,26–0,98). Penguatan promosi menyusui, peningkatan cakupan dan ketepatan imunisasi, diantaranya melalui optimalisasi fungsi posyandu perlu menjadi prioritas dalam upaya pencegahan stunting di NTT.

The prevalence of stunting in East Nusa Tenggara Province (NTT) has remained at approximately 37% over the past two years, despite relatively high coverage of exclusive breastfeeding and complete basic immunization. This study aimed to examine the association of exclusive breastfeeding history and complete basic immunization status, as well as their interaction, with stunting among children aged 12–23 months in East Nusa Tenggara Province after controlling for potential confounding factors. This study employed a cross-sectional design using data from the 2024 Indonesian Nutrition Status Survey (Survei Status Gizi Indonesia, SSGI), involving 2,377 children aged 12–23 months. Data were analyzed using Poisson regression with robust variance, adjusted for the complex survey design and SSGI sampling weights. The results showed that, after adjustment for child age, child sex, history of low birth weight, maternal age during pregnancy, antenatal care (ANC) attendance (K6), maternal education, access to improved drinking water, place of residence, and socioeconomic status, the prevalence of stunting was higher among children who had never been breastfed (aPR = 1.25; 95% CI: 1.02–1.54) than among those who had been exclusively breastfed, and among children with incomplete basic immunization (aPR = 1.39; 95% CI: 1.05–1.85) compared with those who had received complete basic immunization. Furthermore, the combined exposure analysis demonstrated that children who had never been breastfed and had incomplete basic immunization exhibited a higher prevalence of stunting (aPR = 1.56; 95% CI: 1.10–2.21), whereas those who had received non-exclusive breastfeeding (mixed feeding) and complete basic immunization exhibited a 50% lower prevalence of stunting (aPR = 0.50; 95% CI: 0.26–0.98). Strengthening breastfeeding promotion and improving both the coverage and timeliness of immunization, including through the optimization of integrated health service posts (Posyandu), should be prioritized as key strategies for stunting prevention in East Nusa Tenggara.
Read More
T-7665
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Resa Ana Dina; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Asri C. Adisasmita, Dewi Dwinurwati Wahyuni
Abstrak: Abstrak

Pneumonia merupakan penyakit penyebab kematian kedua tertinggi setelah diare diantara balita. Hal ini menunjukkan bahwa pneumonia merupakan penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat utama yang berkontribusi terhadap tingginya angka kematian balita di Indonesia. Intervensi yang dapat dilakukan untuk menurunkan angka mortalitas neonatal antara lain promosi menyusui dini dan diikuti dengan pemberian ASI eksklusif. ASI merupakan minuman alami bagi bayi baru lahir pada bulan pertama kehidupannya yang bermanfaat untuk kesehatannya. Namun sayang, cakupan ASI eksklusif di Indonesia masih sangat rendah. tingginya angka pneumonia dan rendahnya cakupan ASI eksklusif ini perlu mendapatkan perhatian. Penelitian ini menggunakan disain kasus kontrol. Kasus adalah anak usia 1-5 tahun yang didiagnosa pneumonia oleh dokter/bidan/perawat yang berkunjung ke puskesmas terpilih. Kontrol adalah anak usia 1-5 tahun yang didiagnosa tidak pneumonia dan penyakit berat yang berkunjung ke puskesmas terpilih. Analisis yang dilakukan adalah analisis univariat, bivariat, stratifikasi, dan multivariat dengan logistik regresi. Dan hasil penelitian diperoleh bahwa anak yang diberi ASI tidak eksklusif memiliki Rasio Odds 6,699 kali (95% CI: 3.204-14.007) untuk mengalami kejadian pneumonia dibandingkan anak yang diberi ASI eksklusif setelah dikontrol dengan variabel adanya perokok, adanya asap pembakaran, pendidikan ibu, riwayat imunisasi DPT lengkap dan status gizi. Hasil penelitian ini membuktikan hipotesis penelitian yaitu pemberian ASI tidak eksklusif meningkatkan risiko kejadian Pneumonia dibandingkan yang diberi ASI eksklusif pada anak usia 1-5 tahun di Kabupaten Bogor. Intervensi melalui promosi ASI eksklusif selama enam bulan, program anti rokok, penggunaan bahan bakar untuk masak yang sempurna pembakarannya, pemberdayaan ibu rumah tangga, imunisasi DPT dan perbaikan gizi, perlu dilakukan secara terintegritas untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas penyakit Pneumonia.


Pneumonia is one of main cause after diarrhea among under-five year children. It was showed that Pneumonia had become a major public health problem which contributed toward the high of mortality among under-five year children. The intervention action we can do is breastfeeding initiation promotion and giving exclusive breastfeeding. Breastfeeding is a natural food for newborn particularly in the first month of life, that very important for their health in the future. Unfortunately, the practice of exclusive breastfeeding in Indonesia was not really good. The high prevalence of Pneumonia and the low of exclusive breastfeeding practice, so we should give more attention for this problem. The objective of study was to identify the role of exclusive breastfeeding practice with lower respiratory tract infection in under-five children in Bogor District. This study used case control design. Sample was selected by purposive (for cases) and random sampling (for control). Each group consist 107 cases and 107 controls. Case definition is children suffered Pneumonia whom diagnosed by doctor/midwives/nurse seeking for treatment at selected health center. Control definition is children without Pneumonia whom diagnosed by doctor/midwives/nurse seeking for treatment at selected health center. Data analysis used univariate, bivariate, stratification, and multivariate using logistic regression. And the result of study showed that children whom not given exclusive breastfeeding had the risk Rasio Odds 6,699 kali (95% CI: 3.204-14.007) greater to Pneumonia than children whom given exclusive breastfeeding in under-five year children after controlled by smoker at home, air pollution from cooking at home, level education of mother, immunization status and nutrition status. This result succeed to prove the hypothesis that not giving exclusive breastfeeding practice increasing the risk to Pneumonia than whom given exclusive breastfeeding in under-five year children. Intervention through exclusive breastfeeding promotion, anti-cigarette program, use of stove with perfect burst, mother empowerment, immunization, improving nutrition status should applied at each family for decreasing morbidity and mortality caused by lower respiratory tract infection in under-five year children.

Read More
T-3802
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive