Ditemukan 36048 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Abstsrak
Tesis ini membahas tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pelaksana quality control dalam pengendalian mutu pelatihan di Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Ciloto. Penelitian ini dilakukan karena peneliti melihat adanya penurunan kinerja pelaksana QC. QC melakukan pengujian atau verifikasi dan penilaian kesesuaian penyelenggaraan pelatihan dengan standar yang ditetapkan, atau kesesuaian penyelenggaraan dengan rencana yang telah dibuatnya. QC diilakukan mulai dari input, proses dan output. Teori yang digunakan untuk melihat kinerja pelaksana QC adalah teori Gibson (1987) yang terdiri dari tiga variabel yang mempengaruhi kinerja yaitu variabel individu, variabel psikologis, dan variabel organisasi.Penelitian ini merupakan studi cross sectional dengan desain mixed method (metode penelitian kombinasi) yaitu suatu metode penelitian yang menggabungkan antara metode kuantitatif dan kualitatif untuk digunakan secara bersama-sama sehingga diperoleh data yang lebih komprehensif, valid, reliabel, dan obyektif. Penelitian ini menggunakan Sequential Explanatory Design dimana pengumpulan dan analisis data kuantitatif dilakukan pada tahap pertama, dan diikuti dengan pengumpulan dan analisis data kualitatif pada tahap ke dua, guna memperkuat hasil penelitian kuantitatif yang dilakukan pada tahap pertama.Hasil dari penelitian ini adalah gambaran kinerja dari Pelaksana Quality Control Di BBPK Ciloto termasuk baik yaitu sebesar 70,19, faktor individu yang mempengaruhi kinerja adalah kemampuan, faktor psikologi yang mempengaruhi kinerja adalah motivasi, tidak ada faktor organisasi yang mempengaruhi kinerja, tetapi mempengaruhi hubungan kemampuan dengan kinerja yaitu kepemimpinan dan desain pekerjaan, faktor yang paling dominan mempengaruhi kinerja pelaksana Quality Control adalah kemampuan.
Thesis discusses the factors that affect the performance of implementing quality control in quality control training at the Center for Health Training (BBPK) Ciloto. This research was conducted because researchers saw a decrease in the performance of executing QC. QC or verification testing and conformity assessment training organization with established standards, or implementation conformance with the plans that have been made. QC diilakukan start of input, process and output. Theory is used to see the performance of the implementing QC is the theory of Gibson (1987) which consists of three variables that affect the performance of the individual variables, psychological variables, and organizational variables.This study is a cross-sectional study with a mixed method design (a combination of research methods) is a research method that combines quantitative and qualitative methods to be used together in order to obtain more comprehensive data, valid, reliable, and objective. This study uses Sequential Explanatory Design where quantitative data collection and analysis conducted in the first phase, followed by the collection and analysis of qualitative data in the second stage, in order to strengthen the results of quantitative research conducted in the first phase.The results of this study is an overview of the performance of the Executive Quality Control In BBPK Ciloto included both in the amount of 70.19, the individual factors that affect the performance is the ability, psychological factors affecting performance is the motivation, there is no organizational factors that affect performance, but the ability to affect the relationship with the leadership and performance of the design work, the most dominant factor affecting the performance of the implementing Quality Control is the ability.
Suatu organisasi akan mempunyai keterkaitan erat dengan loyalitas pelanggan apabila terus menekankan pada mutu produk atau jasa pelayanan yang dihasilkan. Balai Besar Pelatlhan Kesehatan (BBPK) Cilandak merupakan institusi yang mempunyai tugas dalam pelaksanaan pelatihan serta pengembangan sumber daya manusia kesehatan dan masyarakat. Dalam menyelenggarakan tugas dan fungsinya BBPK Cilandak telah menyelenggarakan pelatihan, salah satunya adalah pelatihan yang akan dijadikan produk utama yaitu pelatihan Peningkatan Kinerja Organisasi melalui Pembelajaran Organisasi (PKOPO). Dalam rangka memperoleh pengetahuan yang cukup secara terus menerus untuk meningkatkan mutu produk atau jasa yang dihasilkan, BBPK Cilandak harus mengetahui tingkat kepuasan dari pelanggan yang selalu berhubungan dengan produk atau jasa yang ditawarkan. Selama ini BBPK Cilandak te!ah mengevaluasi pelatihan yang diselenggarakan. Pada tahun 2006, dari 18 pelatihan yang diselenggarakan oleh BBPK Cilandak 23% peserta menilai proses penyelenggaran pelatihan masih kurang baik. Pelatihan PKOPO sendiri selama ini belum pemah dievaluasi dan belum adanya informasi tentang tingkat kepuasan pesertanya. Studi ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan peserta pelatihan PKOPO di BBPK Cilandak Tahun 2007. Penelitian ini dilakukan dua tahap, yaitu tahap kuantitatif dan kualitatifl Tahap kuantitatif dimulai dengan pengukumn tingkat kepuasan mcnggunakan Iima dimensi servqual, dengan sampel adalah total popuiasi yaitu manlan peserta pelatihan PKOPO di tahun 2007 yang berjumlah 58 orang. Data yang didapat dianalisis dengan menggunakan metode univariat, bivariat, multivariar., dan analisis tingzat kepuasan. Uji yang digunakan adalah chi-square untuk menguji apakah ada hubungan antara karakteristik peserta dengan tingkat kepuasan. Regresi logistik ganda model prediksi digunakan untuk mengetahui faktor dominan yang mempengaruhi tingkat kepuasan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa emosi merupakan variabel yang dominan mempengaruhi tingkat kepuasan peserta dengan variabel pendidikan dan umur adalah sebagai konfounding. Berdasarkan diagram kartesius dari lima dimensi servqual terdapat 6 masalah yang menjadi prioritas utama untuk dilakukan perbaikan (Kuadran A). Hasil penelitian kuantitatif berdasarkan cut off poinl 0,80 dengan menggunakan kategori pembagian peserta dalam kategori puas dan tidak puas, terlihat bahwa responden yang puas lebih banyak dari pada yang tidak puas dengan proporsi 69,0% puas dan 31,0% tidak puas. Pada tahap kualitatif dilakukan wawancara mendalam dengan pihak penyelenggara peiatihan untuk menemukan penyebab masalah ketidakpuasan peserta khusus pada dimensi yang prioritas utama berdasarkan pemetaan diagram kartesius. Teknik yang digunakan untuk mengidentfikasi penyebab masalah adalah dengan menggunakan tool yaitu ishikawa diagram atau fishbone diagram. Dari identifikasi tersebut, terpilih satu penyebab yang akan menjadi langkah intervensi. Dari hasil penelitian disarankan agar BBPK Cilandak melakukan dan mengevaluasi pengukuran kepuasan peserta secara berkala, mengupayakan perbaikan pada enam dimensi yang menjadi prioriras utama, melakukan kalakarya pelatihan PKOPO bagi widyaiswara BBPK Cilandak, dan membuat standar mengenai widyaiswara/pengajar yang menguasai metode andragogi.
An organization will have its customer loyalty if the organization is always focusing into its products or services. BBPK (Balai Besar Pelatihan Kesehatan) Cilandak is an institution whose duty is to conduct training and human resources development program of health. BBPK Cilandak has conducted many types of trainings, and one of them is the PKOPO (Peningkatan Kinerja Organisasi melalui Pembelajaran Organisasi) training, which is going to be BBPK Cilandak's main product. In order to gain sufficient and continuous infomation to improve the quality of its services and products, BBPK Cilandak must know the satisfaction level of its customer which is related with the services and products offered. BBPK Cilandak has done evaluations of their trainings. In 2006, out of I8 trainings conducted by BBPK Cilandak, 23% of the trainee said that the training processes were not well conducted. PKOPO training itself has never been evaluated and there is no available infomation about its trainee satisfaction level. The objective of this study is to measure the satisfaction level of PKOPO trainee at BBPK Cilandak in 2007. This research was done in two phases: quantitative phase and qualitative phase. Quantitative phase was done by measuring trainee’s satisfaction level using five dimensions of servqual, with the total population of the PKOPO trainee in 2007 (58 people) as the sample. Collected data then analyzed using univariat, bivariag mullivariat, and satisfaction level analysis methods. The test used was chi-square in order to test whether there are any relation between trainee characteristics and satisfaction level. Prediction model of the double logistic regression was used to know the dominant factors which influence the satisfaction level. The research showed that emotion is a dominant variable that affects the trainee satisfaction level with education and age variables as confounding. Based on Cartesian diagram of the servqual five dimensions, there are six high priority problems that needed to be improved (Quadrant A). The quantitative analysis based on 0.80 cuto ff point and categorizing the satisfaction level of the trainee into satisfied and not satisfied, showed that there are more satisfied respondents / trainees than the not satisfied ones, with ratio of 69.0% satisfied and 3 l.0% not satisfied. In qualitative phase, we conduct extensive interviews with the training committee to discover the trainee dissatisfaction, especially in high priority dimensions based on the cartesian diagram mapping. The method used to identify the cause of the problem is ishikawa diagram or fishbonc diagram. From this identification, one cause was selected which became intervention step/move/action. Based on the research results, it is suggested that BPPK Cilandak should do and evaluate periodic satisfaction measurement of the trainee, improve the six dimensions of high priority, conduct training-of-trainers of PKOPO, and make standard about trainers awareness of andragogy method.
Kepuasan kerja merupakan salah satu determinan kinerja karyawan, yang merupakan suatu tingkat respon emosional karyawan (pelanggan internal) terhadap pekerjaannya. Peninjauan terhadap kepuasan kerja karyawan dapat dari aspek-aspek yang membentuknya atau dapat pula berupa respon umum terhadap pekerjaannya itu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kepuasan kerja karyawan di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Palembang Tahun 2006 serta hubungan faktor usia, jenis kelamin, status pernikahan, masa kerja, tingkat pendidikan, locus pengendalian diri, keyakinan diri, sifat pekerjaan, upahlinsentif, promosi karier, kondisi kerja dan rekan kerja dengan tingkat kepuasan kerja karyawan di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Palembang tahun 2006. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel merupakan populasi penelitian, yaitu 57 karyawan di BBLK Palembang. Pengumpulan data dengan cara pengisian kuesioner. Uji hipotesis dilakukan dengan uji statistik Kai Kuadrat. Penelitian ini menunjukkan 72,2 % karyawan di BBLK Palembang merasa puas dengan pekerjaannya pada tahun 2006. Variabel tingkat pendidikan, sifat pekerjaan, kondisi kerja dan rekan kerja masing-masing mempunyai hubungan bermakna dengan tingkat kepuasan kerja karyawan di BBLK Palembang tahun 2006. Variabel usia, jenis kelamin, status pernikahan, masa kerja, locus pengendalian diri, keyakinan diri, insentif dan promosi karier masing-masing tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan tingkat kepuasan kerja karyawan di BBLK Palembang tahun 2006. Disarankan untuk menumbuhkan motivasi dan menggunakan kesempatan mengikuti program pendidikan formal dan non formal sesuai dengan jenjang pendidikan, keahlian, serta spesifikasi pekerjaannya, meningkatkan minat kerja, merniliki target atas keberhasilan pekerjaan, serta sadar akan pentingnya pekerjaan bagi rekan kerja dan organisasinya, harus tetap dipertahankan dan diperhatikan masalah cara pemakaian yang benar, pemeliharaan/ perawatan fasilitas dan ruangan serta alat/ peralatan laboratorium, terus berinovasi, mengembangkan rasa saling percaya antara sesama karyawan dan dengan atasan sehingga tetap terjaga suasana kerja yang kondusif serta perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai kepuasan kerja karyawan di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Palembang dengan variabel yang lebih luas.
Job satisfaction is one of employee performance determinant, which is a kind of worker emotional respond level (internal costumer) toward their job. Supervision toward employee's job satisfaction acquired from aspects that shape it or general respond to the job. This research aimed to identify description about employee's job satisfaction at Palembang Health Laboratory Hall Year 2006 also correlations. among factors like age, gender, marital status, work experience, educational background, self-control place, self-assure, job characteristic, incentive/payment, carrier promotion, working condition and work colleague with worker job satisfaction level at Palembang Health Laboratory Hall Year 2006. This research is a descriptive research with cross sectional approach. Sample is research population, which are 57 employees at Palembang BBLK. Data collected by questionnaire filling. Hypothesis tested by using Chi-Square statistic test. This research shows that more than half of employees at Palembang BBLK feels satisfy with their job at year 2006. Each variable like educational level, job characteristic, working condition and work colleague has consequential relation with employee's job satisfaction level at Palembang BBLK year 2006. Moreover, each variable like age, gender, marital status, work experience, educational background, self-control place, self-assure, incentive and carrier promotion did not have consequential relation with employee's job satisfaction level at Palembang BBLK year 2006. Suggested to develop motivation and using opportunity in participating formal and non-formal educational program appropriate with educational background, ability and job specification, increase work interest, having target in job successfulness, and to realize the importance of working partner and his organization, enduring and paying attention to the right way of use, maintaining facility and room and laboratory tools, continuing innovation, developing inter-employee's trust and employer therefore conducive working environment also need further research toward employee's job satisfaction in Health Laboratory Big Hall Palembang with wider variable.
Institutional accreditation is a mandate of the Law of the Republic of Indonesia Number 36 of 2014 concerning Health Workers Article 31. Institutions that provide training that have not been accredited but that provide health training are more numerous than those that have been accredited. This study aims to analyze the readiness of the accreditation of training institutions in the health sector in an effort to guarantee the quality of training institutions in 2020 by using quantitative and qualitative research methods (mixed method). The quantitative sample is 62 institutions that have not been accredited health training providers. Data collection using a questionnaire created using google form. There are 34 institutions that are ready to be accredited (54.8%). From the input elements that affect the readiness of institutional accreditation, namely the SOP and policy variables. In the process element that influences the planning and organizing variables. The results of further analysis show that organizing has a significant relationship with the readiness of an institution to be accredited after being controlled by budget variables, SOP and policies, facilities and equipment and planning. From the qualitative analysis, the driving factors for an institution to be accredited include legality as a training provider, quality improvement, and competition among providers. The inhibiting factors for accreditation are the problem of lack of human resources, budget and lack of leadership support.
ABSTRAK Penelitian ini bertujuau untuk mengetahui gambaran kinerja bidan di desa (bides) dan faktor-falctor yang berhubungan dengan kinerja bidan di desa dalam pelayanan kebidanan program JPKMM di'Kabupaten Aceh Selaian tahun 2007. Penelitian ini dilakukan dengan desain penelitian cross sectional dengan pendekatan kuautitatif dan dianalisa secara univariat, bivariat dan multivariat. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bides yang bertugas di wilayah Aceh Selatan tahun 2007 berjumlah 117 orang dan yang menjadi sampel adalah bides yang sudah bertugas minimal 1 tahun pada bulan Agustus 2006 berjumlah 104 orang. Hasil penelitian menunjukan sebagian besar kinerja bides dalam pelayanan kebidanan program JPKMM di Kabupaten Aceh Selatan tahun 2007 kurang (56%), Faktor yang dominan berhubungan dengan kinerja adalah pesaing, pembiusan, pengetahuan dan motivasi. Faktor yang tidak berhubungan dengan hides adalah umur, status pernikahan, status kepegawaian, domisili, jumlah desa, sikap, imbalan, kemampuan dan pendidikan. Perlu adanya bememtaan pembinaan kepada bides dan memberikan penghargaan kepada Bidan untuk meningkatkan motivasi bidan di desa dalam melakukan pelayanan kebidanan program JPKMM.
ABSTRACT This Research aimed to find out the picture of village midwife performance and what factors that related to village midwife performance in midwifery service of program JPKMM in Aceh Selatan District, year 2007. This Research was done by a cross sectional method with quantitative approach and imivariate, `bivarite, multivariate analyzed. The Population was all village midwives in Aceh Selatan District in 2007 amormt to l 17 people and that become sampel was village midwife. Researches Result shows a large part of village midwife performances in midwifery service of program JPKMM in Sub-Province of Aceh Selatan year 2007 less (56%), Dominant Factor relaters to village midwife performance aria: competitor, supervision, knowledge and motivation. Factors which unrelated to village midwife performance are : age, marriage status, employe status, domicile, amount village, attitude, reward, ability and education. Must existence of supervision generalization to village midwife and give reward to village midwife to improve village midwife motivation in conducting service of program midwifery JPKMM.
Berdasarkan Survey Dasar Kependudukan Indonesia (SDKI) Pada tahun 2002- 2003 AKI sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup, Hal ini menunjukan AKI di Indonesia masih tinggi salah satu penyebabnya adalah komplikasi dan resiko tinggi kehamilan yang dapat dicegah melalui pemantauan antenatal dengan pemeriksaan kehamilan serta memberikan pelayanan rujukan bagi kasus resiko tinggi yang dapat menekan angka kematian sampai 80%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tentang kinerja petugas KIA puskesmas pembantu dalam pelayanan Antenatal dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja petugas KIA tersebut, serta faktor yang paling dominan berhubungan dengan kinerja petugas KIA puskesmas pembantu. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Agam dengan rancangan penelitian cross Sectional. Sampel penelitian adalah semua petugas KIA puskesmas pemhantu yang ada di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Agam yang berjumlah 115 orang. Pengolahan dan analisis data dilakukan secara bivariat dan multivariat Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square untuk melihat hubungan variabel independen dengan variabel dependen dan analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik untuk melihat faktor yang paling dominan. Hasil penelitian menunjukan 55.7% kinerja petugas KIA puskesmas pembantu di Kabupaten Agana kurang dan 44.3% mempunyai kinerja baik, dan hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara status perkawinan, motivasi dengan kinerja serta analisis multivariat menunjukan bahwa status perkawinan merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kinerja. Penelitian ini menyarankan agar dinas kesehatan Kabupaten Agam dan puskesmas dalam memberikan pembinaan kepada petugas KIA puskesmas pembantu dengan kinerja kurang khususnya tentang memeriksa glukosa urine atas indikasi, memeriksa urine untuk test protein atas indikasi, mengukur suhu, menganjurkan ibu buang air kecil sebelum memeriksa kehamilan, mencuci tangan sebelum memeriksa kehamilan.
Indonesian Health Demogaphy Base Survey (SDKI) in 2002-2003 showed that Maternal Mortality Rate (AKI) was 307 per 100.000 life birth. This indicated that AKI in Indonesia is still high compared to The National target, due to complication and high risk pregnancy that are preventable through proper antenatal monitoring and earlier pregnancy cheek up and delivering referal care for high risk case in order to repress mortality rate until 80%. This research is aimed to describe KIA’s officer job performance at assistant community health center in performing antenatal care and to explore factors related to KlA'S officer job performance, and the most dominant motor related to KIA oiiicer job performance at servant community health center. This research was conducted in Agam District region with cross sectional's design. The sample were all KIA’s oticer of servant community health center in Agam District Health office region with l 15 omcers. Data were analyzed in univariat, bivariat, and multivariate way. The bivariate analysis used chi square test to explore the correlation between independent and dependent variable and multivariate analysis used logistic regression test to explore the most dominant factor. The result show that 55,7% KIA oiiicer job performance is improper and 44,3% is good, and the analysis showed that there are significant correlation between marital status and job performance and between motivation and job performance. The multivariate analysis showed that marital status was the most dominant factor related to job performance. This research suggests Agam District health o&ice and community health center to develop a training for KIA otlicers of cervant community health center with improper job performance, particularly about testing urine glucose on indication, checking urine for protein test on indication, measuring tempemtme, washing hand before checks pregnancy.
