Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39820 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Amaliah; Pembimbing: Diah M. Utari, Syafri Guricci; Penguji: Kusharisupeni, Ramchan Raoef, Sri Mulyati
T-2202
Depok : FKM UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fildzah Badzlina; Pembimbing: Triyati; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Ratu Ayu Dewi Sartika, Dyah Santi Puspitasari, Dewi Damayanti
Abstrak: Uji korelasi dan independen T-test dilakukan untuk mengetahui hubungan variabel dependen dengan independen. Uji regresi linear dilakukan untuk mengetahui faktor dominan persentase lemak tubuh. Hasil penelitian menujukkan bahwa variabel IMT/U (p = 0,000; r = 0,715), aktifitas fisik (p = 0,004; r = -0,176), asupan karbohidrat (p = 0,012; r = -0,153) dan jenis kelamin (p = 0,000) berhubungan dengan persentase lemak tubuh. Faktor dominan persentase lemak tubuh ialah IMT/U dengan nilai standardized coefficients beta sebesar 0,739. Para siswa SMA Sejahtera 1 Depok dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit sehari. Jenis aktivitas fisik yang paling mudah dilakukan setiap harinya adalah jalan kaki minimal 10 menit atau melakukan jogging.
Read More
T-5647
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rezka Arsy Effrin; Pembimbing: Kusharisupeni Djokosujono; Penguji: Kusdinar Achmad, Husnah Maryati
Abstrak: Prahipertensi pada remaja diketahui dapat menyebabkan kejadian hipertensi di masa dewasa, oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor dominan kejadian prahipertensi pada remaja di SMA Budi Mulia Kota Bogor tahun 2016. Penelitian yang bersifat kuantitatif dengan desain crosssectional ini dilakukan pada April?Mei 2016 pada 130 siswa berusia 14-18 tahun. Data tekanan darah didapatkan melalui pengukuran menggunakan sfigmomanometer merkuri Riester tipe novapresameter dan stetoskop Littmann. Indeks Massa Tubuh (IMT) dikalkukasi dari hasil pengukuran antropometri berat badan dan tinggi badan. Physical Activity Questionnaire for Adolescence digunakan untuk mengukur tingkat aktivitas fisik. Data asupan natrium didapatkan dari wawancara 24 hour food recall. Sedangkan data berat lahir, waktu tidur, riwayat hipertensi keluarga, dan jenis kelamin didapatkan dari pengisian angket. Prevalensi prahipertensi pada penelitian ini adalah 21,5% serta ditemukan perbedaan yang bermakna antara tekanan darah dengan indeks massa tubuh, berat lahir, dan riwayat hipertensi keluarga.Indeks massa tubuh merupakan faktor dominan kejadian prahipertensi dengan odds ratio sebesar 7,664. Responden disarankan untuk menjaga IMT kurang dari 1 standar deviasi menurut standar WHO serta menghindari faktor risiko lain jika memiliki riwayat hipertensi pada keluarga untuk mengurangi risiko kejadian prahipertensi.
 

 
Prehypertension in adolescents known as a risk factor of developing hypertension later in life. The objective of this study is to identify the dominant factor determining the prevalence of prehypertension among adolescents in SMA Budi Mulia Kota Bogor 2016. Cross-Sectional Study was conducted from April until May 2016 involving 130 students aged 14?18. Blood Pressure measurement obtained using Riester Novapresameter Mercury Sfigmomanometer and Littman Stethoscope. Body Mass Index data was calculated from weight and height measurements. Physical Activity Questionnaire for Adolesent was used to obtain Physical Activity Data. Sodium Intake was calculated by conducting twice 24-hour food recall. Self Administered Questionnaire was used to collect remaining data such as Birth Weight, Sleep Duration, Family History of Hypertension, and Sex. The prevalence of prehypertension is 21,5%. Chi-Square analysis found no association between blood pressure and physical activity, and also with sleep duration. Associations adjusted for Sodium Intake, Birth Weight and Sex showed independent relationship with BMI (OR=7,664) and Family History of Hypertension(OR=4,007) Respondents are advised to maintain BMI below 1 standard deviation according to WHO standards and avoid other risk factors if happen to have hypertension history in the family to reduce the risk of prehypertension.
Read More
S-9107
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurhasanah; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Engkus Kusdinar Achmad, Widjaja Lukito
Abstrak: Persen lemak tubuh berlebih menunjukkan seseorang mengalami obesitasdan memiliki dampak terhadap kesehatan khususnya kejadian penyakit degeneratif.Masalah berat badan lebih dan obesitas (penumpukan massa lemak yang dapatmengganggu kesehatan) merupakan masalah gizi yang sedang dihadapi dunia, baikdi negara maju maupun negara berkembang.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungandengan persen lemak tubuh pada kelompok usia dewasa di wilayah urban dan ruralterpilih yaitu Kota Depok dan Kabupaten Lampung Tengah. Penelitian inimenggunakan desain studi cross sectional memanfaatkan data penelitian StrategiNasional mengenai Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular 2011 dengan jumlahsampel 353 orang dewasa.Hasil penelitian menunjukkan secara umu 49,9% penduduk usia dewasa didaerah urban dan rural memiliki persen lemak tubuh berlebih, sedang di wilayahurban sendiri terdapat 76,8% penduduk yang memiliki persen lemak tubuh berlebihdimana angka tersebut jauh lebih besar dari persentase pada wilayah rural sebesar26,5%. Variabel yang memiliki hubungan bermakna dengan persen lemak tubuhantara lain wilayah tempat tinggal, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status giziIMT, asupan energi, asupan karbohidrat, asupan protein, dan status merokok.Kata kunci: Persen lemak tubuh, urban, rural, obesitas
High percentage of body fat indicates that a person obese and have animpact on health, especially the risk of degenerative diseases. Overweight andobesity has become a major nutritional problem that faced not only in developedcountries but also on developing countries.This study aims to determine the factors related to percent body fat in adultin urban and rural selected areas which in this study are Kota Depok and KabupatenLampung. This study using cross sectional study design based on research data ofthe National Strategy on Non-Communicable Disease Risk Factors in 2011 with asample of 353 adults.The results showed that in general 49.9% in adult population in urban andrural areas have excess body fat percentage, while in the urban area there are 76.8%of the population have excess body fat percentage where the figure is much largerthan the percentage in rural area which is 26.5%. Variables that have a significantrelationship with the percent of body fat are region of residence (urban and rural),gender, level of education, nutrition status by BMI, energy intake, carbohydrateintake, protein intake, and smoking status.Key words: Body fat percentage, urban, rural, obesity.
Read More
S-9109
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Kamaludin; Pembimbing: Kusharisupeni Djokosujono; Penguji: Kusdinar Achmad, Yuni Zahraini
S-9026
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shabrina Nur Kamilah; Pembimibing: Ahmad Syafiq; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Tria Astika Endah Permatasari
Abstrak:
Asupan kalsium merupakan hal yang krusial pada remaja seiring terjadinya percepatan pertumbuhan dan pembetukkan tulang yang intensif. Namun asupan kalsium pada remaja masih kurang memenuhi kebutuhan yang dianjurkan. Padahal asupan kalsium yang tidak adekuat dapat berdampak pada peak bone mass yang tidak optimal sehingga dapat berakibat pada penurunan massa tulang (osteopenia) yang berujung pada osteoporosis maupun patah tulang di usia lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran asupan kalsium pada remaja SMA Negeri Kota Depok tahun 2024 serta hubungannya dengan kebiasaan konsumsi susu, kebiasaan sarapan, kebiasaan konsumsi soft drink, aktivitas fisik, jenis kelamin, pengetahuan tentang kalsium, pendidikan ayah, pendidikan ibu, pendapatan orang tua. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan total sampel 209 remaja dan pengumpulan data dilakukan pada bulan Maret-Mei 2024. Pengumpulan data dilakukan melalui pengisian kuesioner dan asupan kalsium diukur melalui wawancara food recall 2x2 jam. Data dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan 72,2% remaja memiliki asupan kalsium yang kurang dari kebutuhan (<80% AKG) dengan rata-rata 654,1±354,4 mg. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan konsumsi susu (p <0,001 OR 19,36), kebiasaan sarapan (p <0,001 OR 4,59), kebiasaan konsumsi soft drink (p = 0,023 OR 2,37), jenis kelamin (p = 0,040 OR 1,89), pengetahuan tentang kalsium (p = 0,003 OR 5,53), dan aktivitas fisik (p = 0,013 OR 2,27) dengan asupan kalsium. Remaja perlu meningkatkan konsumsi susu, membiasakan sarapan pagi, serta mengurangi konsumsi soft drink. Peningkatan aktivitas fisik diiringi dengan asupan kalsium yang adekuat sangat dibutuhkan untuk mencapai peak bone mass yang optimal.

Calcium is one of the most essential nutrient especially in adolescents due to growth spurt period and intensive bone development. However most adolescents fail to achieve the recommended calcium intake. Inadequate calcium intake can contribute to low peak bone mass and increasing the risk of osteopenia, which can lead to osteoporosis and fragility fracture later in life. This study aims to describe calcium intake among public high school adolescents in Depok City in 2024 and its relationship with milk consumption, breakfast habits, soft drink consumption, physical activity, gender, knowledge about calcium, father's education, mother's education, and parental income. Study design is cross-sectional with a total of 209 sample during March-May 2024. Data was collected through questionnaire and calcium intake was measured by 2x24-hour food recall. Data were analyzed by chi-square test. The results showed that 72.2% of adolescents had calcium intake less than their requirements (<80% RDA) with an average of 654.1±354.4 mg. Bivariate analysis results showed significant relationships between milk consumption (p <0.001, OR 19.36), breakfast habits (p <0.001, OR 4.59), soft drink consumption (p = 0.023, OR 2.37), gender (p = 0.040, OR 1.89), calcium knowledge (p = 0.003, OR 5.53), and physical activity (p = 0.013, OR 2.27) with calcium intake. Adolescents need to increase milk consumption, adopt breakfast habit, and reduce soft drink consumption. Physical activity and adequate calcium intake are important to reach the optimum peak bone mass (PBM).
Read More
S-11763
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuby Abigail; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Trini Sudiarti, Tria Astika Endah Permatasari
Abstrak:
Kecenderungan perilaku makan menyimpang (PMM) merupakan gangguan makan yang mengubah pola konsumsi atau penyerapan makanan hingga mengganggu kesehatan seseorang. Di Indonesia, prevalensi PMM terus meningkat dan salah satu kelompok yang paling rentan adalah remaja. Beberapa studi terdahulu yang dilakukan di Jakarta, Depok, dan Bekasi (2008-2023) menunjukkan angka kecenderungan PMM sebesar 32,7% - 91,7% di kalangan remaja. PMM merupakan masalah yang perlu memperoleh perhatian khusus karena dapat membawa berbagai dampak buruk bagi tumbuh kembang remaja bahkan dapat berujung pada kematian. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran kejadian dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kecenderungan PMM pada remaja perempuan maupun laki – laki. Terdapat sepuluh variabel independen yang diteliti, yaitu jenis kelamin, status gizi, citra tubuh, stres, rasa percaya diri, aktivitas fisik, pengetahuan gizi, pengaruh teman sebaya, pengaruh orang tua, dan pengaruh media sosial. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional melibatkan 217 responden (kelas X dan XI) dari 15 SMA Negeri di Kota Depok, Jawa Barat. Pemilihan responden dilakukan menggunakan metode quota sampling dan pengambilan data dilakukan selama bulan April – Mei 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PMM merupakan masalah yang banyak ditemui dengan 78,8% responden ditemukan memiliki kecenderungan PMM. Hasil analisis bivariat menunjukkan hubungan yang bermakna antara kecenderungan PMM dengan stres, status gizi, pengaruh teman sebaya, pengaruh orang tua, dan pengaruh media sosial. Diperlukan adanya kolaborasi dari remaja, orang tua, sekolah, dan pemerintah untuk meningkatkan kesadaran dan mencegah peningkatan kasus PMM di kalangan remaja.

Eating disorders (EDs) tendencies are disordered eating-related behaviors that alter food consumption or absorption patterns that disrupt one's health. In Indonesia, the prevalence of eating disorders continues to rise, with adolescents being one of the most vulnerable groups. Several previous studies conducted in Jakarta, Depok, and Bekasi between 2008 and 2023 have shown a prevalence of PMM ranging from 32.7% to 91.7% among teenagers. PMM is a problem that requires special attention because it can have various negative impacts on the growth and development of teenagers, and can even lead to death. This study was conducted to understand the incidence and factors associated with EDs tendencies among both female and male adolescents. Ten independent variables were examined: gender, nutritional status, body image, stress, self-confidence, physical activity, nutritional knowledge, peer influence, parental influence, and social media influence. The research design used was cross-sectional, involving 217 respondents (10th and 11th graders) from 15 public high schools in Depok City, West Java. Respondents were selected using quota sampling method, and data collection took place during April - May 2024. Research results indicate that eating disorders are a prevalent issue, with 78.8% of respondents found to have tendencies towards EDs. Bivariate analysis results indicated significant relationships between EDs tendencies and stress, nutritional status, peer influence, parental influence, and social media influence. Collaboration among adolescents, parents, schools, and government is needed to increase awareness and prevent the rise of eating disorder cases among adolescents.
Read More
S-11673
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alma Avida Virgita; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Triyanti, Syahidah Asma Amani
Abstrak:
Tinggi badan adalah salah satu indikator kesehatan dan kesejahteraan suatu individu maupun populasi. Berdasarkan data dari Riskesdas tahun 2018, prevalensi pendek dan sangat pendek pada remaja berusia 16-18 tahun adalah 25,82%. Prevalensi tersebut masih berada di atas ambang batas masalah kesehatan masyarakat menurut WHO. Adapun prevalensi pendek dan sangat pendek di Kota Depok untuk kelompok usia 16-18 tahun adalah 12,37%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan TB/U pada siswa SMA negeri di Kota Depok tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan metode kuantitatif serta menggunakan data primer yang dikumpulkan dari 217 responden. Asupan energi, karbohidrat, protein, lemak, kalsium, dan zink, serta tinggi badan ibu memiliki hubungan yang signifikan dengan TB/U siswa SMA, dengan asupan zink sebagai faktor dominan yang paling berhubungan. Sementara, asupan vitamin D, aktivitas fisik, durasi tidur, pendidikan orangtua pendapatan keluarga, dan tinggi badan ayah tidak memiliki pengaruh yang signfikan terhadap TB/U siswa SMA. Faktor asupan zat gizi makro maupun mikro memegang peranan penting terhadap TB/U siswa SMA. Faktor genetik, terutama tinggi badan ibu juga berpengaruh terhadap TB/U siswa SMA.

Height is an indicator of the health and well-being of an individual or population. Based on data from Riskesdas 2018, the prevalence of shortness and very shortness in adolescents aged 16-18 years is 25.82%. The prevalence is still above the threshold for a public health problem according to WHO. The prevalence of shortness and very shortness in Depok City for the 16-18 year age group is 12.37%. Objective: The aim of this research is to determine the factors associated with TB/U in public high school students in Depok City in 2024. Methods: This research uses a cross-sectional design with quantitative methods and uses primary data collected from 217 respondents. Energy, carbohydrate, protein, fat, calcium and zinc intake, as well as maternal height, had a significant relationship with high school students' height for age, with zinc intake as the dominant factor that was most related. Meanwhile, vitamin D intake, physical activity, sleep duration, parental education, family income, and father's height do not have a significant influence on height for age of high school students. Macro and micro nutrient intake factors play an important role in high school students' height for age. Genetic factors, especially maternal height, also influence height for age in high school students.
 
Read More
S-11604
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Qoriatusholihah; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Syahidah Asma Amani
Abstrak:
KEK merupakan tidak tercukupinya zat gizi yang dibutuhkan tubuh akibat kekurangan makanan dalam jangka waktu lama yang ditandai dengan ukuran LiLA <23,5 cm. Remaja perempuan merupakan salah satu kelompok yang rentan mengalami KEK. Menurut Riskesdas (2018), remaja perempuan menjadi kelompok dengan prevalensi KEK tertinggi di Indonesia (36,3%) yang jika dikategorikan berdasarkan klasifikasi masalah kesmas menurut WHO termasuk prevalensi tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan risiko KEK pada remaja perempuan SMA Negeri di Kota Depok serta faktor dominannya. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan total sampel 240 responden. Data dianalisis menggunakan uji bivariat chi-square dan uji multivariat regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 44,6% remaja perempuan SMA Negeri di Kota Depok berisiko KEK. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara asupan energi, asupan zat gizi makro, pendapatan orang tua, pengetahuan terkait gizi, body image, dan pengaruh media sosial dengan risiko KEK pada remaja perempuan SMA Negeri di Kota Depok. Namun tidak ada hubungan yang bermakna antara pendidikan dan pekerjaan orang tua dengan risiko KEK pada remaja perempuan SMA Negeri di Kota Depok. Pengetahuan terkait gizi merupakan faktor dominan risiko KEK pada remaja perempuan SMA Negeri di Kota Depok (OR=10,294)

CED) is a condition of insufficient nutrients needed by the body due to long-term food shortage, characterized by an MUAC <23.5 cm. Adolescent girls are one of the groups vulnerable to CED. According to the 2018 Riskesdas, adolescent girls have the highest prevalence of CED in Indonesia (36.3%), which, when categorized based on WHO's classification of public health problems, is considered a high prevalence. This study aims to determine the factors associated with the risk of CED in female high school students in Depok City and its dominant factor. This study used a cross-sectional design with a total sample of 240 respondents. Data were analyzed using chi-square and multiple logistic regression. The results showed that 44.6% of female high school students in Depok City were at risk of CED. There were significant relationships between energy intake, macronutrient intake, parental income, nutrition-related knowledge, body image, and social media influence with the risk of CED in female high school students in Depok City. However, there was no significant relationship between parental education and occupation with the risk of CED in female high school students in Depok City. Nutrition-related knowledge was the dominant factor for CED risk in female high school students in Depok City (OR=10.294).

Read More
S-11572
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agatha; Pembimbing: Kusharisupeni Djokosujono; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Cecilia Hendrawati
Abstrak: Prestasi belajar yang buruk selama masa Sekolah Menengah Atas (SMA) dapatberkontribusi pada kegagalan dalam pembangunan sosial dan ekonomi suatu negaradikemudian hari (Chua dan Mosha, 2015). Meskipun demikian, prestasi belajarsiswa SMA di Indonesia masih memprihatinkan dibandingkan negara-negara lain.Penelitian ini bertujuan untuk mencari faktor dominanan yang menentukan prestasidan faktor-faktor yang memberikan perbedaan bermakna pada prestasi belajardengan desain studi cross sectional pada 130 siswa kelas X dan XI SMA BudiMulia Kota Bogor 2016. Sebanyak 51,5% responden memiliki prestasi kurang(dibawah rata-rata) dan 48,5% lainnya berprestasi baik. Berdasarkan uji regresilogistik ganda, faktor dominan yang menentukan prestasi belajar siswa adalahstimulasi kognitif (P=0,002;OR=17) setelah dikontrol variabel status kebugaran,asupan protein, status gizi (TB/U), durasi tidur, energi sarapan, asupan energi, danmotivasi berprestasi. Faktor lain yang memberikan perbedaan prestasi belajar yangbermakna secara statistik adalah motivasi berprestasi (P=0,001;OR=13), asupanenergi (P=0,017;OR=6), status kebugaran (P=0,045;OR=5), dan asupan protein(P=0,046;OR=5). Konfounding prestasi belajar yang tidak memberikan perbedaanprestasi belajar bermakna secara statistik adalah status gizi TB/U (P=0,33;OR=5),durasi tidur (P=0,437;OR=2), dan energi sarapan (P=0,998;OR=2).Kata kunci:prestasi belajar, Sekolah Menengah Atas, stimulasi kognitif, status gizi, asupan zatgizi.
Read More
S-9047
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive