Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35308 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Mismaini Noor; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Ahmad Syafiq, Dewi Permaesih, M. Natsir
T-3966
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yulia Hartati; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Fatmah, Yekti Widodo, Ismoyo Priadi Mooestopo
Abstrak:

Status gizi berperan dalam menentukan sukses tidaknya upaya peningkatan sumberdaya manusia. Prevalensi gizi kurang BB/U di Kabupaten Tangerang meningkat dari tahun 2007 sampai 2010 yaitu 7,2% menjadi 9,12%. Tujuan penelitian adalah dianalisisnya hubungan antara perilaku KADARZI, karakteristik keluarga dan balita dengan status gizi balita (12-59 bulan) di Kabupaten Tangerang tahun 2011. Penilitian kuantitatif ini menggunakan desain cross sectional. Penelitian ini menggunakan data sekuder hasil survey PSG KADARZI Kabupaten Tangerang tahun 2011. Prevalensi balita gizi kurang (termasuk gizi buruk) 17,9%, pendek (termasuk sangat pendek) 32,9%, kurus (termasuk sangat kurus) 11,8%. Variabel yang berhubungan secara bermakna dengan status gizi balita BB/U adalah menimbang balita secara teratur, riwayat ASI Eksklusif, menggunakan garam beryodium, pendidikan ayah, pendidikan ibu, usia ibu, besar keluarga, dan umur balita. Variabel yang berhubungan bermakna dengan status gizi PB/U atau TB/U sama dengan BB/U ditambah variabel konsumsi kapsul vitamin A. Berdasarkan indeks BB/PB atau BB/TB adalah riwayat ASI Eksklusif, dan pendidikan ibu. Hasil uji multivariat menunjukkan faktor dominan BB/U adalah pendidikan ibu, PB/U atau TB/U adalah pendidikan ayah. Sedangkan BB/PB atau BB/TB adalah riwayat ASI Eksklusif. Perlu adanya pendidikan gizi bagi keluarga.


Nutritional status is one of the important indicator for human resources. From 2007 to 2010, prevalence of undernutrition increased from 7,2% to 9,12%. General objective of this study was to determine the relationship between family nutrition awareness (KADARZI), family and children under five characteristics with nutritional status of children under five (12-59 months) at Tangerang District in 2011. This quantitative study using cross sectional study design. The data were result from family nutrition awareness and nutritional status survey at Tangerang district in 2011. The analysis showed that the prevalence of underweight was found at 17,9%. stunted was found at 32,9%, wasted was found at 11,8%. Chi square test result showed that there was a significant association (p≤0.05) between growth monitoring, exclusive breastfeeding history, the use of iodized salt, father?s level of education, mother?s level of education, mother?s age, number of family members, and child?s age with nutritional status based on BB/U index. PB/U or TB/U index were the same as BB/U but added by vitamin A capsule intake. BB/PB or BB/TB Index were exclusive breastfeeding history and mother's level of education. Multivariate test results showed that mother's level of education is the most dominant factor associated with nutritional status (BB/U). PB/U or TB/U index was father?s level of education. BB/PB or BB/TB index was exclusive breastfeeding history. The following need famiy nutritional education.

Read More
T-3736
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahmi Lisdeni; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Ema Hermawati, Laila Fitria, Yulia Fitria Ningrum, Darwel
Abstrak:
Salah satu fokus program pembangunan kesehatan di Indonesia saat sekarang merupakan stunting. Stunting adalah kegagalan pertumbuhan dan perkembangan karena multifaktor diantaranya sanitasi lingkungan yang buruk, asupan gizi kurang, penyakit infeksi, dll yang ditandai dengan tinggi atau panjang badan tidak sesuai dengan umurnya (TB/U20%). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor risiko kejadian stunting pada balita yang dikaitkan dengan sanitasi lingkungan dan asupan gizi pada Balita 6-59 bulan di Wilayah Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat pada Tahun 2023. Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 189 sampel. Analisis data dilakukan dengan SPSS yaitu analisis univariat Distribusi Frekuensi, Analisis bivariate (Chi-square) dan analisis multivariat (regresi logistik). Terdapat hubungan yang bermakna antara variabel-variabel sanitasi lingkungan dan asupan gizi dengan kejadian stunting pada balita yaitu variabel perilaku BABS, variabel perilaku CTPS, variabel Pengolahan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAM-RT), variabel sarana dan kepemilikan jamban dan variabel asupan zat gizi. Semua variabel sanitasi lingkungan dan asupan gizi yang diteliti merupakan faktor risiko kejadian stunting pada balita karena memiliki OR>1 Sedangkan variabel yang paling besar pengaruhnya yaitu variabel CTPS. Terdapat faktor risiko sanitasi lingkungan dan asupan gizi terhadap kejadian stunting pada balita. Dan disarankan kepada Puskesmas dan Dinas Kesehatan untuk melakukan pemberantasan stunting dengan pemicuan STBM dan peningkatan asupan memberikan edukasi kepada ibu balita serta ibu hamil untuk memakan makanan beragam, bergizi dan seimbang serta meningkatkan pemberian PMT pada balita terutama PMT lokal bernilai gizi yang banyak di wilayah tersebut seperti Ikan. Perlu peningkatan kerjasama lintas sektor untuk memberantas faktor risiko sanitasi lingkungan yang buruk dan asupan gizi yang kurang pemicu stunting. Kata kunci: Stunting, balita 6-59 bulan, sanitasi lingkungan, asupan gizi, Batangkapas .

One of the current focuses of health development programs in Indonesia is stunting. Stunting is failure of growth and development due to multiple factors including the poor environmental sanitation, the inadequate nutritional intake, the infectious diseases, etc. which is characterized by height or body length that is not appropriate for age (TB/U 20%). The goal of the research is ttg=termine the risk factors for stunting in toddlers which are associated with environmental sanitation and nutritional intake in toddlers 6-59 months . The design of this research is cross sectional with a total sample of 189 samples. Data analysis was carried out using SPSS, namely Frequency Distribution univariate analysis, bivariate analysis (Chi-square) and multivariate analysis (logistic regression). There is a significant relationship between environmental sanitation variables and nutritional intake and the incidence of stunting in toddlers, namely the behavioral variable of ODF, the behavioral variable of CTPS, home food and drink processing (PAM-RT) variable, latrine ownership variable and nutrient intake variable. All environmental sanitation and nutritional intake variables studied are risk factors for stunting in toddlers because they have OR> 1. Meanwhile, the variable with the greatest influence is the CTPS variable. There are risk factors for environmental sanitation and nutritional intake in the incidence of stunting among toddlers. And it is recommended that the Community Health Center and Health Service eradicate stunting by triggering STBM and increasing intake. education for mothers of toddlers and pregnant mothers to eat diverse, nutritious and balanced food and increase the provision of PMT to toddlers, especially local PMT with nutritional value which is abundant in the region, such as fish. There is a need to increase cross-sector collaboration to eradicate the risk factors of poor environmental sanitation and inadequate nutritional intake that trigger stunting.
Read More
T-6884
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kandita Iman Khairina; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Ahmad Syafiq, Siti Arifah Pujonarti, Kusharisupeni Djokosujono, Fajrinayanti
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan factor kejadian diare pada balita usia 6-59 bulan di Jawa Barat menggunakan data sekunder Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021. Penelitian ini merupakan studi deskriptif menggunakan desain cross-sectional. Sampel merupakan balita berusia 6-59 bulan di Jawa Barat dalam data SSGI 2021 dengan kriteria eksklusi balita mengalami gangguan mental, cacat fisik, dan penyakit kongenital. Variabel dependen dari studi ini adalah kejadian diare pada balita usia 6-59 bulan di Jawa Barat dan independen adalah karakteristik keluarga (usia ibu, pendidikan ibu, dan status bekerja ibu), karakteristik balita (usia balita, status gizi, dan jenis kelamin), faktor perilaku (IMD, ASI eksklusif, dan imunisasi dasar), dan faktor lingkungan (jamban, sumber air minum, dan tempat tinggal). Hasil penelitian menunjukkan diare pada balita 6-59 bulan di Jawa Barat berdasarkan data SSGI 2021 sebesar 9,1%. Variabel yang berhubungan dengan kejadian diare yaitu usia balita, usia ibu, pendidikan ibu, sumber air, jamban, dan tempat tinggal

This study aims to determine the determinants of diarrhea incidence in infants aged 6-59 months in West Java Province using secondary data from Indonesia Nutritional Study Data 2021. This study is a descriptive study using cross-sectional design. Sample in this study is toddler aged 6-59 months in West Java Province in Indonesia Nutritional Study Data 2021 with inclusive criteria was toddler aged 6-59 months and exclusive criteria was mental disorder, physical disability, and congenital diseases. Dependent variable in this study is diarrhea incidence in children aged 6-59 month old. Independent variables are children age, children gender, children nutritional status, mother's age, mother's education, mother's working status, exclusively breastfeeding, early initiation of breastfeeding, vaccination status, latrines, water source, and type of residence.This study shows diarrhea incidence in children aged 6-59 month old. Independent variables that were shown to have significant relationship with diarrhea in this study are children's age, mother's age, mother's education, water source, latrines, and type of residence
Read More
T-6786
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizky Kurniawati; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Asih Setiarini, Salimar
Abstrak: Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi) dan faktor lainnya dengan nilai z-score BB/U, TB/U dan BB/TB balita usia 6-59 bulan. Data sekunder yang digunakan berasal dari data survei Penilaian Status Gizi (PSG) dan Kadarzi 2012 di Kota Probolinggo. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan melibatkan 337 sampel keluarga. Hubungan antara status Kadarzi dan faktor lainnya dengan nilai z-score BB/U, TB/U dan BB/TB balita dianalisis menggunakan uji T-Test Independen, uji Anova dan uji Korelasi. Uji multivariat yang digunakan adalah uji Regresi Berganda.
 
Hasil penelitian menyatakan bahwa sebanyak 32,6% keluarga balita di Kota Probolinggo telah berperilaku Kadarzi. Persentase gizi kurang, pendek dan kurus pada balita masih di atas angka nasional. Nilai z-score BB/U, TB/U dan BB/TB balita adalah -1,06±1,34 SD, -1,45±1,94 SD, dan -0,36±1,56 SD. Uji statistik yang dilakukan menemukan hubungan antara konsumsi garam beryodium, pemberian vitamin A, usia balita, pendidikan ayah dan pendidikan ibu dengan nilai z-score BB/U balita (p<0,005).
 
Terdapat hubungan signifikan antara pemberian vitamin A dan pengetahuan gizi ibu dengan nilai z-score TB/U balita (p<0,005). Terdapat hubungan antara usia balita dengan nilai z-score BB/TB balita (p<0,005). Uji Regresi Berganda menunjukkan bahwa pendidikan ibu adalah faktor yang paling berhubungan terhadap rata-rata nilai z-score BB/U balita. Konsumsi makanan beraneka ragam adalah faktor yang paling berhubungan terhadap rata-rata nilai z-score BB/TB balita di Kota Probolinggo. Pesan Kadarzi beserta indikatornya masih perlu disosialisasikan untuk mengurangi terjadinya masalah gizi di Kota Probolinggo. Masih perlu dilakukan peningkatan mutu pendidikan serta pengetahuan gizi ibu untuk mengurangi terjadinya masalah gizi di Kota Probolinggo.
 

This research is aimed to know the relationship between nutritional family awareness, called Kadarzi, and other factors with WAZ, HAZ and WHZ of children 6-59 months. The secondary data was used from survey PSG and Kadarzi 2012 in Probolinggo. This research uses the cross sectional study with 337 samples. The relationship betwees Kadarzi and other factor with WAZ, HAZ and WHZ were analized with Independent T-Test, Annova Test and Correlation Test. Linear Regression Test was used to multivariate analysis.
 
The result shown that 32,6% family in Probolinggo are Kadarzi. The percentage of underweight, stunting and wasting are above national rates. The mean of WAZ, HAZ and WHZ children are - 1,06±1,34 SD, -1,45±1,94 SD, and -0,36±1,56 SD. The statistical test shows that iodized salt consumption, vitamin A supplementation, children age, father's education and mother's education were associated with the mean of WAZ of children (p<0,005).
 
There are significantly association between vitamin A supplementation and mother's nutritional knowledge with the mean of HAZ of children (p<0,005). The children age was associated with the mean of WHZ of children (p<0,005). Linier Regression Test shows that mother's education is the most related factor for the mean of WAZ and food diversity consumption is the most related factor for the mean of WHZ of underfive children in Probolinggo. The inform about Kadarzi and its indicators are needed to decrease undernutrition problems in Probolinggo. Besides, up grading mother's education and nutritional knowledge are needed to decrease undernutrition in Probolinggo.
Read More
S-7846
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sistha Adipraniastuti; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Kusharisupeni Sjokosujono, May Haryanti
S-6215
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zilda Oktarina; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Endang L. Achadi, Eman Sumarna
S-7210
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Isnaini Arifianti; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Asih Setiarini, Triyanti, Nurya Gustina, Kusharisupeni Djokosujono
Abstrak: Stunting adalah kondisi kegagalan pertumbuhan disebabkan oleh kekurangan zat gizi kronik dan infeksi berulang yang memiliki dampak jangka panjang. Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Provinsi Banten karena prevalensinya masih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan stunting balita 6-59 bulan di Provinsi Banten. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan jumlah sampel 1.643 balita yang didapat dari total sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data yang digunakan adalah data SSGI 2021 milik BKPK Kementerian Kesehatan RI. Variabel independen pada penelitian ini adalah faktor anak (umur, jenis kelamin, berat badan lahir, panjang badan lahir, keragaman pangan), faktor ibu (pendidikan ibu dan pekerjaan ibu); faktor kerawanan pangan; faktor kesehatan lingkungan (kepemilikan jamban); faktor penyakit infeksi (ISPA, diare, pneumonia, TBC) dan faktor pelayanan kesehatan (pemberian vitamin A dan pengobatan balita sakit di fasilitas kesehatan). Data dianalisis menggunakan analisis data kompleks. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan proporsi stunting pada balita 6-59 bulan adalah 22,7%. Berdasarkan analisis multivariat, determinan stunting balita 6-59 bulan di Provinsi Banten adalah jenis kelamin (p-value 0,021; AOR 1,351; CI 95% 1,047 – 1,744); pendidikan ibu (p-value 0,009; AOR 1,484; CI 95% 1,103 – 1,998); panjang badan lahir (p-value 0,001; AOR 2,094; CI 95% 1,512 – 2,899); kerawanan pangan (p-value 0,009; AOR 1,629; CI 95% 1,131 – 2,347). Faktor dominan kejadian stunting balita 6-59 bulan di Provinsi Banten adalah panjang badan lahir pendek (AOR 2,09). Bayi panjang lahir pendek perlu mendapatkan intervensi KIE gizi dan kesehatan untuk ibu balita; mendapat makanan tambahan balita dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Puskesmas serta pemantauan rutin setiap bulan di Posyandu agar tidak tumbuh menjadi balita stunting.
Stunting is a condition of growth failure caused by chronic nutritional deficiencies and repeated infections that have long-term effects. Stunting is still a public health problem in Banten Province because the prevalence is still high. This study aims to determine the determinants of stunting in toddlers aged 6-59 months in Banten Province. The research design used was cross sectional with a total sample of 1,643 toddlers obtained from total sampling based on inclusion and exclusion criteria. The data used is the SSGI 2021 data belonging to the Indonesian Ministry of Health's BKPK. The independent variables in this study were child factors (age, sex, birth weight, birth length, dietary diversity), maternal factors (mother's education and mother's occupation); food insecurity factor; environmental health factors (latrine ownership); infection disease factors (ARI, diarrhea, pneumonia, tuberculosis) and health service factors (giving vitamin A and treating sick toddlers in health facilities). Data were analyzed using complex data analysis. Bivariate analysis used the chi-square test and multivariate analysis used multiple logistic regression. The results showed that the proportion of stunting among toddlers aged 6-59 months was 22.7%. Based on multivariate analysis, the determinant of stunting for children aged 6-59 months in Banten Province is gender (p-value 0.021; AOR 1.351; 95% CI 1.047 – 1.744); mother's education (p-value 0.009; AOR 1.484; 95% CI 1.103 – 1.998); birth length (p-value 0.001; AOR 2.094; 95% CI 1.512 – 2.899); food insecurity (p-value 0.009; AOR 1.629; 95% CI 1.131 – 2.347). The dominant factor in the incidence of stunting in toddlers aged 6-59 months in Banten Province is short birth length (AOR 2.09). Short-born babies need to receive health and nutrition communication, information, education interventions for mothers under five and get supplementary food for toddlers from the District/City Health Office and Community Health Centers as well as routine monitoring every month at the Posyandu so they don't grow into stunted toddlers.
Read More
T-6692
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erna Ningsih; Pembimbing: Fatmah; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Nurfi Afriansyah, M. Tri Hadiah
Abstrak:

Sepertiga kasus kegemukan pada orang dewasa telah dimulai sejak masa anak-anak. Kegemukan pada anak-anak dapat menyebabkan timbulnya risiko penyakit degeneratif seperti penyakit kardiovaskuler, diabetes mellitus, dan lain-lain pada saat mereka dewasa nanti. Proporsi kegemukan pada balita dilaporkan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Riskesdas menunjukkan peningkatan proporsi kegemukan pada Balita yaitu 12,2% pada 2007 menjadi 14,0% pada 2010 atau meningkat sekitar 1,8% dari hasil Riskesdas pada tahun 2007. Dua belas Provinsi memiliki masalah kegemukan pada Balita di atas angka nasional, DKI Jakarta merupakan provinsi dengan proporsi teratas yang memiliki masalah tersebut. Berdasarkan data tersebut, penulis melakukan penelitian untuk menganalisis hubungan berat lahir dan faktor lainnya dengan kejadian kegemukan pada balita usia 6-59 bulan di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan data sekunder Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010. Desain penelitian Riskesdas 2010 adalah potong lintang. Variabel dependen yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah status kegemukan pada balita 6-59 bulan berdasarkan IMT/U. Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis univariat, bivariat dan multivariat. Hasil penelitian didapatkan proporsi kegemukan pada anak usia 6-59 bulan adalah 24,3% dan proporsi Berat Lahir Rendah sebesar 4,9%. Hasil uji chi-square diketahui tidak ada hubungan bermakna antara berat lahir dan variabel independen lainnya dengan kegemukan, namun didapatkan status pekerjaan ibu merupakan faktor paling berisiko terhadap kejadian kegemukan di Provinsi DKI Jakarta.


  One third of adult overweight cases has begun since children period. Overweight on children can cause a degenerative risk diseases such as cardiovaskuler, diabetes mellitus,etc when they grow up later. The overweight proportion has increase by the year. From health research data was found that overweight on children under five years has increase about 1,8% which on 2007 the proportion was 12,2% become 14,0% on 2010. DKI Jakarta was the first Province from 12 Provinces who has the overweight problem which the proportion more than national rate. Based on that data, the writer want to analyze the association between birth weight and other factors with overweight on children ages 6-59 months in DKI Jakarta Province. This research is a quantitative research using a secondary data from health research 2010 (Riskesdas 2010). Riskesdas 2010 design is a cross sectional. The dependent variable is an overweight status based on Basal Metabolism Index per Age (BMI/Age). Data analysis are univariat, bivariat and multivariat. The research has found that overweight proportion is 24,3% while the low birth weight proportion is 4,9%. Chi-Square test has found that there is no relationship between birth weight and other independent factors with overweight, which mother occupation has the most risk factor to overweight in DKI Jakarta Province.

Read More
T-3648
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marlina Rully Wahyuningrum; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Sandra Fikawati, Triyanti, Rian Anggraini, Neneng Susanti
Abstrak:
Stunting merupakan rendahnya ukuran antropometri dari panjang atau tinggi badan menurut umur akibat kekurangan gizi dalam jangka waktu lama. Stunting menyebabkan anak gagal mencapai pertumbuhan linear dan potensi kognitif yang optimal. Sumatera Barat menjadi satu-satunya provinsi di Pulau Sumatera yang mengalami peningkatan angka stunting pada tahun 2022, dari 23,3% (2021) menjadi 25,2% (2022). Tingginya stunting di perdesaan dibandingkan di perkotaan berkaitan dengan determinan stunting di tiap karakteristik wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan stunting pada anak usia 6-23 bulan berdasarkan wilayah perdesaan dan perkotaan di Provinsi Sumatera Barat menurut data Survei Status Gizi Indonesia Tahun 2022. Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan jumlah sampel 2.011 anak dari total sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel independen meliputi faktor anak, ibu, keluarga, dan lingkungan. Penelitian ini dianalisis secara univariat, bivariat (chi square), dan multivariat (regresi logistik ganda). Hasil menunjukkan prevalensi stunting di Provinsi Sumatera Barat sebesar 18,4%, dengan proporsi stunting di perdesaan (22,1%) lebih tinggi dibanding perkotaan (16,8%). Terdapat perbedaan proporsi stunting berdasarkan jenis kelamin, usia anak, panjang badan lahir, tinggi badan ibu, dan kunjungan ANC di perdesaan. Untuk perkotaan, terdapat perbedaan proporsi stunting berdasarkan pneumonia, jenis kelamin, usia anak, berat badan lahir, panjang badan lahir, tinggi badan ibu, pendidikan ibu, ketahanan pangan rumah tangga, dan sanitasi. Secara keseluruhan di Provinsi Sumatera Barat, terdapat perbedaan proporsi stunting berdasarkan pneumonia, jenis kelamin, usia anak, berat badan lahir, panjang badan lahir, tinggi badan ibu, kunjungan ANC, pendidikan ibu, ketahanan pangan rumah tangga, sanitasi, dan klasifikasi tempat tinggal. Faktor dominan yang berhubungan dengan stunting di perdesaan adalah usia anak (OR=3,181), sedangkan di perkotaan dan Provinsi Sumatera Barat adalah tinggi badan ibu (OR=2,994; 2,960). Peningkatan usia anak perlu mendapatkan perhatian lebih agar kemungkinan terjadinya stunting dapat dicegah atau ditangani lebih dini. Pencegahan dan penanggulangan stunting perlu dimulai dari hulu dengan lebih memerhatikan asupan zat gizi dan kesehatan remaja putri sebagai calon ibu agar memiliki status gizi yang baik.

Stunting is an anthropometric measure of low body length or height according to age due to long-term malnutrition. Stunting causes children to fail to achieve optimal linear growth and cognitive potential. West Sumatra is the only province on the island of Sumatra that will experience an increase in stunting rates in 2022, from 23.3% (2021) to 25.2% (2022). The higher rate of stunting in rural compared to urban areas is related to the determinants of stunting in each characteristic of areas. This study aims to determine the determinants of stunting in children aged 6-23 months based on rural and urban areas in West Sumatra Province according to data from the Indonesian Nutrition Status Survey 2022. The design of this research is cross sectional with a sample size of 2,011 children from the total sampling according to inclusion and exclusion criteria. Independent variables include child, mother, family and environmental factors. This research was analyzed univariate, bivariate (chi square), and multivariate (multiple logistic regression). The results show that the prevalence of stunting in West Sumatra Province is 18.4%, with the proportion of stunting in rural (22.1%) higher than urban areas (16.8%). There are differences in the proportion of stunting based on gender, child's age, birth length, mother's height, and ANC visits in rural areas. For urban, there are differences in the proportion of stunting based on pneumonia, gender, child's age, birth weight, birth length, mother's height, mother's education, household food security, and sanitation. Overall in West Sumatra Province, there are differences in the proportion of stunting based on pneumonia, gender, child's age, birth weight, birth length, mother's height, ANC visits, mother's education, household food security, sanitation, and residence classification. The dominant factor associated with stunting in rural is the child's age (OR=3.181), while in urban and West Sumatra Province it is the mother's height (OR=2.994; 2.960). Increasing the age of children needs more attention so that the possibility of stunting can be prevented or treated earlier. Prevention and control of stunting needs to start from the upstream by paying more attention to the nutritional intake and health of young women as mothers-to-be so that they have good nutritional status.
Read More
T-6939
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive