Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32966 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rasyidi Amri; Pembimbing: Yayuk Hartriyanti, Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Adang Bachtiar, Maksum, Tjutjun, Tri Erri Astoeti
Abstrak: Latar Belakang dan Tujuan: Dinas Kesehatan Kota Pagar Alam pada era otonomi daerah sekarang ini membutuhkan suatu rencana strategis Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan yang diharapkan selaras dengan Visi-Misi Dinas Kesehatan dalam kurun waktu 2006 – 2010. Hal inilah yang merupakan dasar serta tujuan penelitian ini. Metode: Untuk dapat menyusun rencana strategis SDM Kesehatan di Dinkes Kota Pagar Alam, dilakukan penelitian operasional dengan Analisa kualitatif dan kuantitatif. Penyusunan strategi dilakukan melalui beberapa tahap. Tahap pertama (Input Stage) terdiri analisis lingkungan eksternal dan internal SDM Kesehatan Dinkes Kota Pagar Alam melalui Consensus Decision Making Group (CDMG). Pada tahap kedua (Matching Stage), CDMG melakukan analisis dengan Internal-Eksternal Matrix dan SWOT Matrix. Pada tahap ketiga (Decision Stage) analisis dilakukan dengan menggunakan QSPM untuk menentukan strategi terbaik. Hasil: Hasil penelitian, pada pemilihan alternatif strategi dengan berdasarkan IE Matrix, diketahui posisi SDM Dinkes Kota Pagar Alam berada pada sel V yang artinya berada pada posisi Hold and Maintenance (bertahan dan pemeliharaan) dimana strategi yang dianjurkan terdiri dari Market Penetration (Penetrasi Pasar) dan Product Development (Pengembangan Produk). Kesepakatan pada pertemuan CDMG bahwa faktor eksternal yang menjadi peluang yakni adanya peningkatan tingkat pendidikan penduduk Kota Pagar Alam, berlakunya otonomi daerah dan perangkat hukumnya, adanya pengembangan jaringan informasi, adanya komitmen / dukungan dari Pemerintah kota dalam upaya pengembangan SDM kesehatan. Faktor eksternal yang menjadi ancaman adalah : PAD Kota Pagar Alam yang rendah, suplai SDM yang terlalu sedikit setiap tahunnya, penyakit infeksi masih tinggi, sarana pendidikan kesehatan belum ada. Sedangkan faktor lingkungan internal yang menjadi kekuatan adalam motivasi dan pengabdian SDMK yang cukup tinggi, adanya peningkatan SDMK yang mengikuti pendidikan lanjutan dan diklat, rendahnya pengurangan SDMK dan kemudahan izin melanjutkan pendidikan. Untuk faktor kelemahan yakni kompetensi SDMK masih rendah, belum adanya Protap/SOP, belum ada pos anggaran tersendiri untuk pengembangan SDMK, anggaran masih terbatas. Strategi terpilih Market Penetration prioritasnya adalah meningkatkan profesionalisme SDMK yang ada, memberikan kesempatan yang luas untuk meningkatkan pendidikan, mengembangkan fungsi jaringan informasi, menjalin kerjasama dengan sarana pendidikan profesi kesehatan yang ada. Untuk strategi product development prioritasnya adalah mengoptimalkan SDMK yang ada, menyiapkan SDM yang berbasis kesehatan lingkungan, meningkatkan advokasi ke pihak pengambil kebijakan, mengusulkan adanya pos anggaran tersendiri untuk pengembangan SDMK, membuat Protap / SOP. Kesimpulan: Dalam upaya mewujudkan tujuan jangka panjang dibutuhkan komitmen yang tinggi, mampu menggalang kerjasama dan menjalin komunikasi yang baik terhadap sektor yang berperan dalam pengambilan kebijakan. Sedangkan saran yang dapat diberikan adalah agar Renstra pengembangan SDM Kesehatan ini dapat disosialisasikan kepada semua staf pada pertemuan rutin atau khusus. Kemudian dapat menindaklanjuti strategi operasional yang telah dibuat oleh peneliti. Agar dapat sejalan dengan Visi-Misi Dinas Kesehatan Kota Pagar Alam maka dibutuhkan pemantauan terhadap pelaksanaan kegiatan Kata Kunci: Renstra, SDMK, Dinkes, Penetrasi Pasar, Pengembangan Produk
Background and Objective: Public Health Service of Pagar Alam Town at autonomous era of area this time require a strategic plan of expected Human Resource Health in harmony with Vision Mission Public Health Service in range of time 2006 - 2010. This matter is base and also the target of this research. Methods: To be able to compile strategic plan of Human Resource Health in Pagar Alam Town, conducted by research of operational with Analysis Qualitative and Quantitative. Compilation of strategy through some phases. First phase (Input Stage) compose environmental analysis of external and internal Human Resource Health of Public Health Service of Pagar Alam Town pass/through Consensus Decision Making Group (CDMG). At phase both (Matching Stage), CDMG do analyze Internally - External Matrix and SWOT Matrix. At third phase (Decision Stage) analyze conducted by using QSPM to determine best strategy. Results: Result Research, at election of strategy alternative by pursuant to IE Matrix, known by position of Human Resource Public Health Service of Pagar Alam Town reside in cell of V with the meaning residing in on course Hold and Maintenance where suggested to strategy consist of Market Penetration and Product Development. As according to agreement at meeting of CDMG that factor of external becoming opportunity namely the existence of improvement of level education people of Pagar Alam Town, applying of it area autonomy and peripheral of his law, existence of development of information network, existence of commitment / support of Government of town in the effort development of Human Resource health. External factor becoming threat is : low PAD of Pagar Alam Town, supply of Human Resource too a few every year, disease of infection still high, medium education of health there is no. While internal environmental factor which become strength is motivation and devotion of SDMK the high enough, existence of improvement of SDMK following second education and training, low of reduction of SDMK and amenity of permit continue education. For the factor of weakness namely interest of SDMK still lower, there is no Protap/SOP, there is no separate budget post for the development of SDMK, budget still limited. Chosen strategy of Market Penetration priority is to improve professionalism of SDMK existing, giving wide of opportunity to improve to education, developing information network function, braiding cooperation with medium education of existing health profession. For the strategy of priority development product of is optimal of Existing SDMK, preparing SDM being based on health of environment, improving advocate to party taker of policy, proposing the existence of separate budget post for the development of SDMK, making Protap/SOP. Conclusions: In the effort realizing required by long-range target of commitment the highness, can look after cooperation and braid communications which do well by sector which play a part in intake of policy. While suggestion able to be given is to be Renstra development of this Human Resource Health can be socialized to all staff at meeting of routine or special. Then operational strategy follow-up can which have been made by researcher. To be earning in line with Vision Mission Public Health Service of Pagar Alam Town hence required by monitoring to execution of activity. Keywords: Strategic Plan, Human Resource Health, Public Health Service, Market Penetration, Product Development.
Read More
T-2133
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rasyidi Amri; Pembimbing: Yayuk Hartriyanti, Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Adang Bachtiar, Maksum, Tjutjun, Tri Erri Astoeti
Abstrak: Latar Belakang dan Tujuan: Dinas Kesehatan Kota Pagar Alam pada era otonomi daerah sekarang ini membutuhkan suatu rencana strategis Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan yang diharapkan selaras dengan Visi-Misi Dinas Kesehatan dalam kurun waktu 2006 – 2010. Hal inilah yang merupakan dasar serta tujuan penelitian ini. Metode: Untuk dapat menyusun rencana strategis SDM Kesehatan di Dinkes Kota Pagar Alam, dilakukan penelitian operasional dengan Analisa kualitatif dan kuantitatif. Penyusunan strategi dilakukan melalui beberapa tahap. Tahap pertama (Input Stage) terdiri analisis lingkungan eksternal dan internal SDM Kesehatan Dinkes Kota Pagar Alam melalui Consensus Decision Making Group (CDMG). Pada tahap kedua (Matching Stage), CDMG melakukan analisis dengan Internal-Eksternal Matrix dan SWOT Matrix. Pada tahap ketiga (Decision Stage) analisis dilakukan dengan menggunakan QSPM untuk menentukan strategi terbaik. Hasil: Hasil penelitian, pada pemilihan alternatif strategi dengan berdasarkan IE Matrix, diketahui posisi SDM Dinkes Kota Pagar Alam berada pada sel V yang artinya berada pada posisi Hold and Maintenance (bertahan dan pemeliharaan) dimana strategi yang dianjurkan terdiri dari Market Penetration (Penetrasi Pasar) dan Product Development (Pengembangan Produk). Kesepakatan pada pertemuan CDMG bahwa faktor eksternal yang menjadi peluang yakni adanya peningkatan tingkat pendidikan penduduk Kota Pagar Alam, berlakunya otonomi daerah dan perangkat hukumnya, adanya pengembangan jaringan informasi, adanya komitmen / dukungan dari Pemerintah kota dalam upaya pengembangan SDM kesehatan. Faktor eksternal yang menjadi ancaman adalah : PAD Kota Pagar Alam yang rendah, suplai SDM yang terlalu sedikit setiap tahunnya, penyakit infeksi masih tinggi, sarana pendidikan kesehatan belum ada. Sedangkan faktor lingkungan internal yang menjadi kekuatan adalam motivasi dan pengabdian SDMK yang cukup tinggi, adanya peningkatan SDMK yang mengikuti pendidikan lanjutan dan diklat, rendahnya pengurangan SDMK dan kemudahan izin melanjutkan pendidikan. Untuk faktor kelemahan yakni kompetensi SDMK masih rendah, belum adanya Protap/SOP, belum ada pos anggaran tersendiri untuk pengembangan SDMK, anggaran masih terbatas. Strategi terpilih Market Penetration prioritasnya adalah meningkatkan profesionalisme SDMK yang ada, memberikan kesempatan yang luas untuk meningkatkan pendidikan, mengembangkan fungsi jaringan informasi, menjalin kerjasama dengan sarana pendidikan profesi kesehatan yang ada. Untuk strategi product development prioritasnya adalah mengoptimalkan SDMK yang ada, menyiapkan SDM yang berbasis kesehatan lingkungan, meningkatkan advokasi ke pihak pengambil kebijakan, mengusulkan adanya pos anggaran tersendiri untuk pengembangan SDMK, membuat Protap / SOP. Kesimpulan: Dalam upaya mewujudkan tujuan jangka panjang dibutuhkan komitmen yang tinggi, mampu menggalang kerjasama dan menjalin komunikasi yang baik terhadap sektor yang berperan dalam pengambilan kebijakan. Sedangkan saran yang dapat diberikan adalah agar Renstra pengembangan SDM Kesehatan ini dapat disosialisasikan kepada semua staf pada pertemuan rutin atau khusus. Kemudian dapat menindaklanjuti strategi operasional yang telah dibuat oleh peneliti. Agar dapat sejalan dengan Visi-Misi Dinas Kesehatan Kota Pagar Alam maka dibutuhkan pemantauan terhadap pelaksanaan kegiatan Kata Kunci: Renstra, SDMK, Dinkes, Penetrasi Pasar, Pengembangan Produk
Background and Objective: Public Health Service of Pagar Alam Town at autonomous era of area this time require a strategic plan of expected Human Resource Health in harmony with Vision Mission Public Health Service in range of time 2006 - 2010. This matter is base and also the target of this research. Methods: To be able to compile strategic plan of Human Resource Health in Pagar Alam Town, conducted by research of operational with Analysis Qualitative and Quantitative. Compilation of strategy through some phases. First phase (Input Stage) compose environmental analysis of external and internal Human Resource Health of Public Health Service of Pagar Alam Town pass/through Consensus Decision Making Group (CDMG). At phase both (Matching Stage), CDMG do analyze Internally - External Matrix and SWOT Matrix. At third phase (Decision Stage) analyze conducted by using QSPM to determine best strategy. Results: Result Research, at election of strategy alternative by pursuant to IE Matrix, known by position of Human Resource Public Health Service of Pagar Alam Town reside in cell of V with the meaning residing in on course Hold and Maintenance where suggested to strategy consist of Market Penetration and Product Development. As according to agreement at meeting of CDMG that factor of external becoming opportunity namely the existence of improvement of level education people of Pagar Alam Town, applying of it area autonomy and peripheral of his law, existence of development of information network, existence of commitment / support of Government of town in the effort development of Human Resource health. External factor becoming threat is : low PAD of Pagar Alam Town, supply of Human Resource too a few every year, disease of infection still high, medium education of health there is no. While internal environmental factor which become strength is motivation and devotion of SDMK the high enough, existence of improvement of SDMK following second education and training, low of reduction of SDMK and amenity of permit continue education. For the factor of weakness namely interest of SDMK still lower, there is no Protap/SOP, there is no separate budget post for the development of SDMK, budget still limited. Chosen strategy of Market Penetration priority is to improve professionalism of SDMK existing, giving wide of opportunity to improve to education, developing information network function, braiding cooperation with medium education of existing health profession. For the strategy of priority development product of is optimal of Existing SDMK, preparing SDM being based on health of environment, improving advocate to party taker of policy, proposing the existence of separate budget post for the development of SDMK, making Protap/SOP. Conclusions: In the effort realizing required by long-range target of commitment the highness, can look after cooperation and braid communications which do well by sector which play a part in intake of policy. While suggestion able to be given is to be Renstra development of this Human Resource Health can be socialized to all staff at meeting of routine or special. Then operational strategy follow-up can which have been made by researcher. To be earning in line with Vision Mission Public Health Service of Pagar Alam Town hence required by monitoring to execution of activity. Keywords: Strategic Plan, Human Resource Health, Public Health Service, Market Penetration, Product Development.
Read More
T-2122
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadjmah Nasir; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Ronnie Rivany, Anwar Hasan, Pranaswati Tunggal Dewi, P.A. Kodrat Pramudho
Abstrak:
Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Provinsi Sumatera Selatan adalah salah satu Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan yang berperan dalam pengembangan profesionalisme sumber daya manusia. Sejalan dengan terjadinya perubahan lingkungan organisasi dan lingkungan luarnya, maka penelitian ini berupaya untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi organisasi baik lingkungan internal maupun lingkungan eksternal organisasi dan untuk mengetahui sejauhmana kondisi Balai Pelatihan Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan serta strategi yang sesuai, maka diperlukan penelitian perencanaan strategis Bapelkes Provinsi Sumatera Selatan tahun 2005 - 2009. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun perencanaan strategis Bapelkes Prov. Sumsel tahun 2005 - 2009. Penelitian merupakan penelitian operasional, menurut David pada perumusan strategi disusun melalui tiga tahapan yaitu tahap I (Input Stage), tahap II (Matching Stage) dan tahap III (Decision Stage). Pada tahap I (Input Stage) menganalisis data kualitatif dan data kuantitatif terhadap variabel eksternal (geografi, ekonomi, teknologi, kebijakan, pesaing, pelanggan, dan pemasok) dan variabel internal (manajemen, visi dan misi, keuangan, produk layanan, fasilitas dan peralatan, pemasaran, SIM, dan SDM). Pada tahap II (Matching Stage) dari hasil analisis menggunakan matriks EFE dan matriks IFE diperoleh nilai total EFE 2,65 dan nilai total IFE 2,72 yang selanjutnya dengan menggunakan matriks IE menempatkan posisi Bapelkes Prov. Sumsel pada sel V (hold and maintain) dengan alternatif strategi yang direkomendasikan adalah market penetration dan product development. Sedangkan analisis dari matriks TOWS menempatkan posisi Bapelkes Prov. Sumsel pads quadrant 3 (eksternal fix-it quadrant) dengan alternatif strategi yang direkomendasikan adalah related diversification, unrelated diversification, market development, product development, enhancement, status quo. Selanjutnya dilakukan matching antara matriks IE dan TOWS sehingga diperoleh alternatif strategi product development (pengembangan produk). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan Consensus Decision Making Group (CDMG) diperoleh informasi berupa peluang yaitu perkembangan teknologi informasi komunikasi semakin canggih, ekonomi sudah mulai stabil, W dan Perda, jumlah tenaga kesehatan yang meningkat. Sedangkan yang menjadi ancaman ialah lokasi Bapelkes, networking antar instansi diktat, komitrnen tentang pelaksanaan diktat satu pintu bidang kesehatan, pesaing memberi kemudahan dalam pertanggungjawaban keuangan, kebutuhan tenaga widyaiswara. Dilain pihak kekuatan adalah visi dan misi, Bapelkes sudah terakreditasi, meningkatnya jumlah anggaran, fasilitas dan peralatan, jumlah pegawai, sistem informasi, produk layanan. Sedangkan yang menjadi kelemahan adalah sistem perencanaan dan pengawasan, pelayanan belum berorientasi kepada kepuasan pelanggan, sistem pemasaran, kualitas SDM, tenaga fungsional non edukatif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Bapelkes Prov. Sumsel memiliki strategi terpilih pengembangan produk yaitu mengembangkan program pelatihan dan diktat unggulan yaitu pelatihan quality assurance, pelatihan out bound, dan pelatihan metodologi dan teknologi kediklatan; mengembangkan pelayanan akomodasi yang sudah ada untuk penginapan dengan mengembangkan fasilitas untuk berbagai kegiatan pertemuan, seminar, resepsi pernikahan; mengembangkan sistem informasi Iptek bidang kesehatan dan kediklatan melalui layanan internet; mengembangkan program pelatihan mandiri (peserta membayar sendiri); dan mengembangkan peran Bapelkes Prov. Sumsel sebagai pusat kajian ilmu pengetahuan bidang kediklatan. Pada tahap III (Decision Stage) dan strategi yang akan dikembangkan dianalisis lagi dengan matriks QSPM untuk menentukan prioritas strategi yang akan dikembangkan yaitu mengembangkan program pelatihan (mengembangkan program pelatihan yang ada dan merencanakan program pelatihan yang baru) dan menyelenggarakan diktat unggulan (pelatihan quality assurance, pelatihan out bound, pelatihan metodologi dan teknologi kediklatan). Peneliti menyarankan agar Bapelkes Prov. Sumsel mensosialisasikan kepada pelaksana dan instansi terkait, advokasi kepada penentu kebijakan tentang rencana srategis Bapelkes Prov. Sumsel, menyusun rencana operasional tahunan yang dilanjutkan dengan rincian kegiatan tahun 2005.

Strategic Planning for Health Training Center of the Province of South Sumatera Year 2005-2009Health Training Center of the Province of South Sumatera is one of the Technical Unit belongs to the Health Office of Province of South Sumatera which plays a part in development of human resource professionalism. In line with the change of organizational environment and its outside environment, hence this research coped to assess the factors influencing the organization both internal and external environment and to assess the condition of Health Training Center of the Province of South Sumatera and also the appropriate strategy, hence needed to conduct the research of strategic planning of Health Training Center of the Province of South Sumatera year 2005-2009. This study aimed to arrange the strategic planning of Health Training Center of the Province of South Sumatera Year 2005-2009. The study was an operational research, in which according to David formulation of strategy was divided through three stages that was stage I (Input Stage), stage II (Matching Stage), and phase III (Decision Stage). At phase I (Input Stage) was analyzed data qualitative and quantitative to external variables (geography, economic, technology, policy, competitor, customer, and supplier) and internal variables (management, mission and vision, finance, service product, equipments and facility, marketing, information management system, and human resources). At phase II (Matching Stage), the result of analysis that used EFE and IFE matrix obtained total values of EFE and IFE in sequence were 2.65 and 2.72. Then, analysis used IE matrix placed the position of Health Training Center of the Province of South Sumatera in cell V (hold and maintain) with recommended strategy alternative was market penetration and product development. While analysis from TOWS matrix placed the position of Health Training Center of the Province of South Sumatera in quadrant 3 (fix-it quadrant external) with recommended strategy alternative was related diversification, unrelated diversification, market development, product development, enhancement, and status quo. After that, matching between IE and of TOWS matrix was conducted so that obtained strategy alternative of product development. The study result showed that according to Consensus Decision Making Group (CDMG) was obtained the information about the opportunity that was development of sophisticated communication information technology progressively, stable economic, national and local regulations, and the increase of health human resources. While including the threat as follows: location of Health Training Center, networking among training centers, one gate health training commitment, competitors gave the amenity in financial responsibility, and requirement of widyaiswara. On the other hand, strength factor included mission and vision, accredited Health Training Center, the increasing of budget, equipment and facility, amount of officer, information system, and service product. While weakness factor included planning and controlling system, service not yet oriented to customer satisfaction, marketing system, human resources quality, and non-educative functional officer. The study concluded that Health Training Center had a chosen strategy of product development: training development program and pre-eminent education and training such as quality assurance training, out bound training, and education and training technology and methodology training; developing the existing accommodation service such as lodging by developing facility to various activities for meeting, workshop, wedding reception; developing health information and technology system and education and training through intemet; developing self-supporting training program (out of pocket payment); and developing the role of Health Training Center of the Province of South Sumatera as a center for education and training studies. At phase III (Decision Stage) out of strategy that would be developed was analyzed again with QSPM matrix to determine strategy priority that was developing training program (developing the existing training program and planning new training program) and carry out pre-eminent education and training (quality assurance training, out bund training, education and training technology and methodology training). It is recommended to Health Training Center of the Province of South Sumatera to socialize the strategic planning to the relevant institution and operator, giving advocacy to the stake holder about strategic planning about Health Training Center of the Province of South Sumatera, and making annual operational plan which continued with detail of activity of year 2005.
Read More
T-1897
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Roem; Pembimbing: Adang Bactiar; Penguji: Dumilah Ayuningtyas
T-2019
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mafrawi; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Adang Bachtiar
Abstrak:
Pelayanan Kesehatan Bernuansa Islami (PKNI) telah dicanangkan oleh Gubernur Provinsi NAD pada tanggal 25 April 1998 yang merupakan tindak lanjut dari hasil Muzakarrah antara Majelis Ulama Indonesia dengan Dinas Kesehatan Provinsi NAD. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang no. 44 tahun 2002 tentang Keistimewaan Nanggroe Aceh Darussalam, maka tuntutan akan mutu pelayanan Kesehatan yang spesifik daerah merupakan hal yang harus dilakukan dan hal ini juga merupakan salah satu hal yang dihasilkan pada Rapat Kerja Kesehatan Daerah Provinsi NAD tahun 2002 yang merekomendasikan bahwa "Pelayanan Kesehatan yang Bernuansa Islami " selanjutnya menjadi "Pelayanan Kesehatan yang Islami" yang sesuai dengan visi Dinas Kesehatan Provinsi NAD yaitu "Aceh Sehat 1010 yang Islami". Hasil penelitian pada Puskesmas Syiah Kuala Banda Aceh tahun 2001 diperoleh hasil bahwa 85% responden menghendaki agar pelayanan Kesehatan bernuansa Islami dapat diterapkan dimanapun petugas bekerja. Oleh sebab itu diperlukan suatu konsep tentang pelayanan Kesehatan yang Islami yang selanjutnya akan menjadi model pelayanan Kesehatan yang Islami dan instrumen yang dapat digunakan untuk mengevaluasi serta hasil evalusi terhadap penerapan budaya Islami dalam pelayanan Kesehatan dengan menggunakan instrumen yang ada. Tujuan dari penelitian ini adalah diperolehnya gambaran konsep yang akan menjadi model pelayanan Kesehatan Islami dan diperolehnya instrumen serta hasil evaluasi tentang penerapan budaya Islami dalam pelayanan Kesehatan dengan menggunakan instrumen yang ada. Desain penelitian adalah cross sectional yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Proses yang dilakukan terdiri dari 2 tahap yaitu proses mencari konsep pelayanan Kesehatan yang Islami melalui studi literature dan indepth interview (dengan pakar/praktisi agama, adat, sosial budaya, Kesehatan, pengguna pelayanan Kesehatan, akademisi sebanyak 15 orang) dan proses pengembangan instrumen budaya Islami dalam pelayanan Kesehatan melalui studi literature, kuesioner pendahuluan sebanyak 40 orang, Fokus Group Diskusi sebanyak 15 orang dan Uji Coba Kuesioner (pada petugas dan masyarakat masing-masing 510 orang) yang dilakukan dalam wilayah Provinsi NAD baik pada Dinas Kesehatan (Provinsi dan Kabupaten) maupun institusi pelayanan (Rumah Sakit dan Puskesmas). Waktu penelitian mulai bulan September - November 2003. Dari penelitian ini didapatkan hasil adalah : melalui indepth interview diketahui bahwa pelayanan Kesehatan yang diterapkan pada saat ini tidak memuaskan dan sama sekali belum sesuai dengan syariat Islam dan keinginan dan informan agar pelayanan kesehatan harus sesuai dengan syariat Islam secara menyeluruh. Adapun konsep yang ditemukan dalam pelayanan Kesehatan yang Islami adalah mencakup 5 aspek yaitu : sikap/perilaku petugas yang Islami, fasilitas/sarana pelayanan Kesehatan yang Islami, prosedur/tata cara/mekanisme pelayanan kesehatan yang Islami, suasana pelayanan Kesehatan yang Islami dan pembiayaan pelayanan Kesehatan yang Islami. Namun aspek yang terpenting dilaksanakan terlebih dahulu adalah sikap/perilaku petugas dan prosedur/tatacara yang pelayanan Kesehatan yang Islami. Pengembangan instrumen budaya Islami dalam pelayanan Kesehatan sebagai pencerminan dari budaya organisasi Islami dalam pelayanan Kesehatan yang terdiri dari 3 dimensi yaitu nilai dan perilaku individu (36 variabel), nilai dan perilaku antar individu (14 variabel) , serta nilai dan perilaku kepemimpinan (15 variabel). Keseluruhan kuesioner akhir mencakup 65 variabel dan terdiri dari 269 pernyataan. Perhitungan validitas konstruk kedua kuesioner (bagi petugas dan masyarakat) menunjukkan bahwa validitas tiap butir pernyataan berada pada kategori cukup dan dan agak rendah menurut klasifikasi Prasetyo (2000). Analisis Anova dan T-test independent pada kuesioner petugas menunjukkan bahwa ada perbedaan bermakna rata-rata skor beberapa variable budaya Islami pada kelompok jenis kelamin, umur, institusi, lama bekerja, tingkat pendidikan dan jabatan . Pada kuesioner masyarakat diperoleh bahwa ada perbedaan bermakna rata-rata skor beberapa variable dengan kelompok masyarakat berdasarkan institusi yang dikunjungi, status bekerja, tingkat pendidikan, dan umur tetapi jenis kelamin tidak mempunyai hubungan bermakna. Perhitungan reabilitas kedua kuesioner (petugas dan masyarakat) menunjukkan bahwa reabilitas tiap variabel dalam kuesioner ini seluruhnya berada dalam kategori tinggi menurut klasifikasi Danim (2001). Analisis korelasi pada kedua kuesioner menunjukkan hubungan yang sangat kuat antar 3 dimensi budaya organisasi Islami diatas. Analisis regresi pada kedua kuesioner menunjukkan 3 dimensi budaya (Perilaku individu, perilaku antar individu dan perilaku kepemimpinan) benar-benar dapat menjelaskan terjadinya variasi budaya Islami dengan sangat baik. Hasil regresi juga menunjukkan bahwa skor perilaku individu paling baik digunakan untuk meramalkan budaya organisasi Islami dari suatu institusi Kesehatan. Persepsi petugas dan masyarakat berada pada titik yang sama yaitu tidak sesuai atau pada kategori sedang. Artinya pelayanan Kesehatan di Provinsi NAD tidak/belum sesuai dengan budaya Islami. Variabel yang tidak sesuai menurut petugas dan masyarakat adalah : tawadhlu, harga diri, berpenampilan sederhana, sopan, iffah, istikharah dan i nulnnai,rah. Dari penelitian ini dapat disarankan dan direkomendasikan perlu dilibatkannya para pakar organisasi dan pakar bahasa untuk dapat merumuskan konstruk yang lebih sempurna tentang budaya organisasi Islami. Intervensi yang dilakukan diutamakan pada perilaku individu petugas, karena terbukti perilaku mempunyai kontribusi yang sangat besar dalam menentukan/meramaikan budaya Islami dalam pelayanan Kesehatan. Para pimpinan melalui pertemuan berkala, memotivasi pegawai agar dapat berprilaku sesuai dengan budaya Islami. Perlu dilakukan evaluasi penerapan budaya Islami dalam pelayanan Kesehatan di semua institusi Kesehatan. Perlu disusun buku panduan sebagai pegangan pegawai dalam berperilaku dan perlu diterapkannya muatan lokal budaya Islami di institusi pendidikan Kesehatan dalam provinsi NAD. Selanjutnya disarannkan agar dilakukan penelitian lanjutan untuk mengembangkan konsep dan instrumen pelayanan kesehatan Islami.

The Development of Islamic Nuance Instrument in Health Service in Nanggroe Aceh Darussalam ProvinceIslamic nuance health service (PKNI) was declared by the governor NAD province on 25 April 1998 as a continuation action of results of muzakarrah meeting between MUI (Indonesian Council of Religious Scholars) and provincial health office of NAD. It is along with regulation no. 44 year 2002 on peculiarity of NAD province. Therefore, the demand of health service quality according to local medical cases is needed to be released. It is along with results of meeting forum of regional health of NAD province 2002, which consists of a recommendation of Islamic nuance health service (Pelayanan Kesehatan yang Islami) to Islamic Health Service (Pelayanann Kesehatan Islami) suit to visions of provincial health office of NAD province; Islamic Healthy Aceh 2010. Based on results of research at Syiah Kuala Banda Aceh health center, 85 % of respondents demand medical employees to implement Islamic health service at any health facilities they visiting. Therefore, it is needed a concept of Islamic health service and instrument to be used for evaluation results of implementing Islamic culture in health service which using available instrument. Objectives of the research is to obtain a concept to be a model of Islamic health service, to obtain instrument and evaluation results on implementation of Islamic culture in health service using available instrument. Research design is qualitative and quantitative with cross sectional approach. The research went through two processes; firstly, searching for concepts of Islamic health service using literature study and indepth interview to religions scholars, custom, social-culture and experts, health provider and 15 academicians. Secondly, developing of Islamic culture instrument in health service refer to literature study and introduction questionnaire to 40 respondents, Focus Group Discussion to 15 respondents and try out questionnaire to 510 respondents of provider and patient who come to health facilities members in NAD Province. The research started in September and ended in November 2003. The results obtained are; through indepth interview, it is found that the service implemented is not satisfying. The' respondents demanded to have health service an Islamic nuance. The concepts found for Islamic health service covers five aspects: Attitude of health provider, health facilities, health services procedure, environment and health budgeting. But, the most important aspect to be implemented is attitude of health provider and Islamic procedure of the service. The development of Islamic culture instrument in the service is a reflection of Islamic culture organization. The Islamic culture organization consists of three dimensions; value and individual attitude (36 variables), value and inter individual attitude (14 variables), and value and leadership attitude (15 variables). The questionnaire, which consists of 269 questions, covers_65 variables. Based on construct validity test of the two questionnaire to health provider and patient , the data shows that the validity of each question is placed on fair low category,(Prasetyo classification;2000). Applying Anova analysis and independent T-test to provider's questionnaire, the data shows that there is significant different average score at some variables on group of sex, age, institutions, length of working, educational background and positions. An there is also significant different average score of some variables with group of patients who had visited health facilities, working status, educational background and age. Reability test to the two questionnaires shows that every available. Is at 'high category (Danim classification 2001). Correlation analysis to the questionnaires shows strong relations among the three dimensions of Islamic culture organization. While Regression analysis shows that the three dimensions could describe well Islamic culture variation. The regression results shows that best individual attitude is used to predict Islamic culture organization of health facilities. Responces of health provider and patient are placed at average category. It means that health service in the province have not reffer to Islamic culture yet. Variable, .which according to provider and patient have not been along yet with Islam are humble, self respect, simple appearance, polite, iffah, istikharah, and muthmainnah. It is suggested to involve organization aria language experts to formulate a more complex construct on culture of Islamic organization. The intervention should be focused on individual attitude of provider, because the attitudes are proved to determine Islamic culture in the service. Through periodically meeting, leaders support and motivate the health provider to works in Islamic behavior. It is needed to evaluate the implementing of Islamic culture in health service at any health facilities. And it is also needed to reward those provider applying the service such as becoming TKHI ( Indonesian Hajj Official), having further education, etc. Then, compiling a guidance book as guides for' the provider and subscribing Islamic culture subject at any health educational institution in NAD province are considered important.
Read More
T-1863
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syahrizal; Pembimbing: Anwar Hasan; Penguji: Sutanto Priyo Hastono
T-2001
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ahmad Rodhi; Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: H.E. Kusdinar Achmad
T-1976
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arry Yuswandi; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Wachyu Sulistiyadi, Ede Surya Darmawan, Ipik M. Fikri, Rina Fithri Anni Bahar
Abstrak:

Akses pelayanan kesehatan dianggap berkontribusi pada status kesehatan. Propinsi Sumatera Barat merupakan salah satu propinsi dengan unmet need yang tinggi, artinya banyak penduduk yang membutuhkan pelayanan kesehatan tetapi mereka tidak dapat memperoleh pelayanan kesehatan. Berdasarkan data BPS (2003) terdapat 27,6% penduduk tanpa akses pelayanan kesehatan. Pada tahun 2003 ada sebanyak 16,90% penduduk yang mempunyai keluhan kesehatan dan tidak diobati. Akses pelayanan kesehatan biasanya diukur dengan melihat tingkat penggunaan pelayanan kesehatan. Banyak faktor yang mempengaruhi akses pelayanan kesehatan, diantaranya adalah jenis kelamin, pendidikan, umur, pekerjaan, pendapatan, jaminan kesehatan, wilayah tempat tinggal, pengalaman kesehatan, keluhan kesehatan, tingkat keparahan penyakit, jarak fasilitas kesehatan, dan transportasi. Penelitian ini mencoba untuk mengetahui dan memahami akses penduduk Sumatera Barat ke pelayanan kesehatan dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional 2004 (SUSENAS 2004) yang terdiri dari kuesioner kor (VSEN2004K) dan dan kuesioner modul perumahan dan kesehatan (VSEN2004MPK). Populasi target dalam penelitian ini adalah penduduk Sumatera Barat. Sampel penelitian adalah individu yang menjadi sampel Susenas 2004 dalam hal ini adalah responden terpilih. Akses pelayanan kesehatan diukur dengan melihat penggunaan pelayanan kesehatan. Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan akses pelayanan kesehatan. Uji statistik yang digunakan untuk analisis bivariat adalah uji kai kuadrat dan uji t. Analisis multivariat dilakukan untuk mengetahui probabilitas dan rasio odds penggunaan pelayanan kesehatan. Uji statistik yang digunakan adalah uji regresi logistik. Hasil penelitian dibagi dalam dua kelompok yaitu penggunaan pelayanan rawat jalan dan pelayanan rawat inap. Penggunaan pelayanan rawat jalan sebesar 16,90% dan rawat inap sebesar 1,68%. Faktor-faktor yang berhubungan dengan akses pelayanan rawat jalan adalah jenis kelamin, pendidikan, umur, pekerjaan, pendapatan, jaminan kesehatan, wilayah tempat tinggal, pengalaman sakit, keluhan kesehatan, tingkat keparahan penyakit. Adapun faktor-faktor yang berhubungan akses pelayanan rawat inap adalah jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, dan wilayah tempat tinggal. Di dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa perempuan lebih rendah dalam penggunaan pelayanan rawat jalan dibandingkan laki-laki. Penduduk yang tinggal di kota lebih rendah dalam penggunaan pelayanan rawat jalan dibandingkan penuduk yang tinggal di desa. Jaminan kesehatan meningkatkan penggunaan pelayanan rawat jalan demikian juga dengan keluhan kesehatan (batuk, pilek, sakit lainnya) dan tingkat keparahan pennyakit meningkatkan penggunaan pelayanan rawat jalan. Jarak ke fasilitas kesehatan menjadi faktor penghambat penggunaan pelayanan rawat jalan. Pada pelayanan rawat inap, penduduk yang bekerja mempunyai peluang lebih rendah dibandingkan penduduk yang tidak bekerja dalam menggunakan pelayanan rawat inap. Penyakit asma merupakan keluhan utama untuk menggunakan pelayanan rawat inap. Saran yang dapat diberikan adalah mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, penyebaran tenaga kesehatan yang merata, memberikan kesempatan pelayanan kesehatan swasta untuk dapat berkembang, dan penyediaan fasilitas kesehatan pada perusahaan, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan yang mudah diakses seperti Puskesmas Pembantu, Polindes dan meningkatkan cakupan asuransi kesehatan kepada masyarakat yang belum tercakup dalam askes PNS, Jamsostek, dan askeskin.


 

The access to health services is considered contributing to health status. West Sumatra is one of provinces with high unmet need, which means that there are many people in the province needing health services but they are not able to have them. Based on data from BPS (Central Bureau of Statistics) (2003) there were 27.6% of the people without access to the services. In 2003, 16.90% of the people complained their health but they were not cured. The access to health services is generally measured by studying the level of health service utilization. A variety of factors affect the access to health services, among others, sex, education, age, occupation, income, health insurance, residence area, health experience, health complaints, severity of illness, distance to health facilities, and transportation. This research attempts to find out and understand the access of West Sumatra's people to health services using secondary data from National Social and Economic Survey (SUSENAS) 2004 which consist of core questionnaire (VSEN2004K) and questionnaire of housing and health module (VSEN2004MPK). The population is West Sumatra's people. The samples are selected respondents, which were the samples of Susenas 2004. The access was measured by observing the utilization of health services. Bivariate analysis was conducted to find out factors related to health service access. Statistical tests used in the bivariate analysis are chi-square test and t test. Multivariate analysis was conducted to find out the probability and odds ratio of health service utilization. Statistical test used is logistic regression test. The results of the research are divided into two groups, namely outpatient service and in-patient service. The utilization of outpatient service is 16.90% and of in-patient service is 1.68%. Factors related to the access of outpatient service are sex, education, age, occupation, income, health insurance, residence area, health experience, health complaints, and severity of illness. Factors related to in-patient service are sex, education, occupation, and residence. It was found that the utilization of outpatient service by women is lower compared to men. The utilization is lower for people who live in towns than those who live in villages. Health insurance increases the utilization of outpatient services and so do health complaints (cough, influenza, other illnesses) and severity of illness. The distance to health facilities is a constraint factor to the utilization of outpatient service. People who work have a lower probability to use the in-patient services compared to those who do not. Asthma is major complaint for the in-patient service utilization. What can be suggested are approaching health services to people, distributing health personnel equally, giving opportunity to private health service to develop, providing health facilities at company, improving the quality of health service which is easily accessed such as Puskesmas Pembantu (branch of conununity health center), Polindes (polyclinic in villages) and increasing the coverage of health insurance for people who have not been covered in the health insurance of PNS (civil servants), Jamsostek (social insurance for workforce), and Askeskin.

Read More
T-2246
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hery Unita Versitaria; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari
T-1855
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aspan Effendi; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Amroussy DT. Marsis, Jaslis Ilyas, Usman Sumantry
Abstrak:

Puskesmas merupakan satuan organisasi fungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata, serta dapat diterima dan terjangkau oleh masyarakat. Untuk melaksanakan kegialannya, pembiayan puskesmas selama ini sebagian besar bersumber dari pemerintah pusat, sedangkan sebagian lagi dibiayai oleh pemerintah daerah. Tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang bermutu semakin tinggi, sementara alokalasi biaya operasional puskesmas yang diberikan oleh pemerintah semakin menurun. Untuk itu, pihak departemen kesehatan menetapkan konsep swadana sebagai satu jalan keluarnya. Puskesmas swadana diberikan kewenangan mengelola scluruh dana penerimaan fungsional puskesmas untuk digunakan bagi pembiayaan operasional puskesmas sehari-hari. Selain itu, konsep swadana merupakan penjabaran dari tujuan otonomi daerah dalam meningkatakan mutu pelayanan secara efektif dan efisien. Pada saat ini,. Puskesmas Putri Ayu memiliki kunjungan pasien yang tinggi, lokasi yang strategis dan sumber daya manusia yang cukup berkualitas. Kondisi yang cukup kondusif ini menjadikannya layak dikembangkan menjadi puskesmas swadana sekaligus menjadi contoh puskesmas swadana di Kota Jambi. Dalam upaya pengembangan ini diperlukan sualu perencanaan strategi yang disesuaikan dengan visi dan misi Dinas Kesehatan Kota Jambi dalam mencapai Jambi sehat 2008. Untuk dapat menyusun perencanaan strategi dilakukan penelitian operasional dengan analisis kualitatif melalui wawancara mendalam terhadap sejumlah pihak penentu kebijakan kesehatan. Sejumlah pihak tersebut adalah Walikota, DPRD, Kepala Dinas Kesehatan Kota, Kepala Dinas Kesehatan Propinsi dan unsur pelaksana Puskesmas Putri Ayu. Consensus Decision Making Group (CDMG) yang beranggotakan para pelaksana inti Puskesmas Putri Ayu menetapkan beberapa strategi terbaik dengan menggunakan SWOT matrik dan QSPM sebagaimana yang ditelili dalam penelitian ini. Hasil penelitian pemilihan alternatif strategi berdasarkan hasil IE memperlihatkan bahwa posisi Puskesmas Putri Ayu berada pada kuadran II. Hal itu menunjukan bahwa posisinya berada dalam grow and build sesuai dengan rategi intensif dan integrative yang dianjurkan. Strategi intensif yang dimaksud adalah market penetration, market development dan product development, sedangkan strategi integratif mencakup backward integration, and forward integration dan horizontal integration. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Puskesmas Putri Ayu memiliki peluang yang besar dengan dukungan internal dan eksternal yang kuat, walaupun masih menghadapi pesaing yang cukup kompetitif. Dengan demikian, berbagai upaya masih diperlukan untuk meningkatkan mutu pelayanannya. Sebagai saran dan tindak lanjut, strategi yng telah dipilih hendaknya dioperasikan dengan optimal dengan dukungan berbagai pihak. Daftar bacaan: 40 (1982-2002)


 

Strategy Planning Of Developing Putri Ayu Public Health Service In Jambi Municipality Into Self Financing Public Health Service In 2002 Public health center (PHC) is functional organizational unit, which conducts health services in comprehensive, integrated and well-distributed way, also both accepted and accessible to the society. So far, it is mostly financed by Central Government to perform its activity. Province Authority pays only little amount. The society requirement to the qualified health service gets higher and higher, meanwhile PHC operational finance allotment given by the government decreases. Therefore, Health Department establishes self-financing concept as one of solutions. Self-financing PHC manages its functional revenues to cover its daily operational finance. In addition, the concept is enforced from district authority purpose in order to improve the service quality effectively and efficiently. Now that Putri Ayu PHC has high patient visit, strategic location and adequate human power, if is worth being developed into self-financing PHC, even self-financing PHC model in Jambi Municipality. As for its development, it is important to set strategy planning matched the vision and mission of Jamb Municipality Health Office in order to reach Healthy Jamb 2008. In this respect, there should be an operational research by using qualitative analysis through dept interview to the certain health decision-making officers. The officers are Mayor, District parliament, Head of Municipality Health Office, Head of Provincial Health office, operating officers of Putri Ayu PHC. Consensus Decision Making Group (CDMG) whose membership are chief operating officers of Putri Ayu PHC decides some best strategic based on SWOT matrices and QSPM as revealed in this research. The research result of deciding alternative strategy based on IE result show that Putri Ayu PHC position is at quadrant II. It shows that its position is on growing and building phase fulfilling the recommended intensive and integrative strategies. The intensive strategy covers market penetration, market development and product development, while integrated strategy consists of backward integration, forward integration and horizontal integration. The research concludes that Putri Ayu PHC has great chance with internal and external support, meanwhile it is facet with competitive rivals. Therefore, it needs developing efforts in order to improve its service quality. As for advice and follow up, officers should implement the chosen strategies with others' supports.

Read More
T-1255
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive