Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37768 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Felly Philipus Senewe;; Promotor: Purnawan Junadi; Ko-Promotor: Anhari Achadi; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Trihono, Ella Nurlaela Hadi, Syahrizal Syarif, Delina Hasan
D-288
Depok : FKM-UI, 2013
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novita sari Tri Utami Pamungkas; Pembimbing: Sabarinah B. Prasetyo; Penguji: Artha Prabawa, Lusia Dewi Sirait
S-6642
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Supriyadi; Promotor: Purnawan Junadi; Kopromotor: Tris Eryando, Wendy Hartanto; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Meiwita P. Budiharsana, Soewarta Koesen, Trihono, Kemal Nazaruddin Siregar
D-388
Depok : FKM-UI, 2018
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nathanaet Putranto; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Iyin Listiyowati
Abstrak: Bakteri Escherichia coli banyak ditemukan mengkontaminasi makanan jajanan anaksekolah dasar yang dapat meningkatkan risiko untuk terkena penyakit diare. Makananjajanan berisiko tinggi terkontaminasi bakteri E.coli karena diolah dan disajikan dalamkeadaan tidak higiene. Kelurahan Sempur di Kota Bogor adalah daerah tertinggi angkakejadian diarenya pada tahun 2016 dan berdasarkan penelitian yang dilakukan Aqmarina(2014), sebanyak 64,3% sampel makanan jajanan di salah satu Kelurahan Kota Bogorterkontaminasi bakteri E.coli. Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan antarahubungan E.coli pada makanan jajanan dengan diare akut pada anak SD di KelurahanSempur Kota Bogor Tahun 2019.Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectionaldengan metode kuesioner, observasi, serta pengambilan sampel makanan jajanankemudian dilakukan dengan analisis bivariat. Proses pengumpulan data dilakukan padabulan Mei 2019 dengan 132 responden dan 30 sampel makanan jajanan. Berdasarkananalisis statistik, hasil penelitian ini menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikanantara keberadaan bakteri E.coli dalam makanan jajanan dengan kejadian diare akut padaanak SD (p= 0,016 ; OR=2,522). Jenis makanan jajanan juga berhubungan signifikandengan kejadian diare akut (p=0,048 ; OR=2,124). Kebiasaan cuci tangan jugaberhubungan signifikan dengan kejadian diare akut (p=0,031 ; OR=2,304). Sedangkanfrekuensi jajan dan sarana tempat sampah tidak terdapat hubungan yang signifikandengan kejadian diare akut.
Kata kunci : Anak Sekolah Dasar, Diare, Escherichia coli, Makanan jajanan.
Read More
S-10197
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meiyanti; Promotor: Dumilah Ayuningtyas; Kopromotor: Besral, Rina Kurniasri Kusumaratna; Penguji: Adang Bachtiar, Raden Rara Diah Handayani, Vivian Soetikno, Maxi Rein Rondonuwu, Henry Candra
Abstrak:
Angka keberhasilan pengobatan Tuberkulosis Indonesia tahun 2023 belum mencapai target 90%. Keberhasilan pengobatan berdampak terhadap penurunan penyebaran infeksi dan kasus resistensi obat, sehingga perlu untuk memprediksi keberhasilan pengobatan lebih dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pendekatan pembelajaran mesin untuk prediksi keberhasilan pengobatan. Penelitian ini menggunakan data kohort Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) Indonesia. Pasien usia produktif (15-64 tahun) terdiagnosis tuberkulosis sensitif obat dan mendapatkan pengobatan dari 1 Januari 2020 sampai 31 Desember 2023 diikutsertakan dalam penelitian ini. Data dikelompokkan secara acak ke dalam set data pelatihan untuk membangun model (80%) dan set data pengujian untuk validasi model (20%), dan dilakukan validasi silang untuk data. Algoritma yang digunakan meliputi decision tree, random forest, multilayer perceptron, extreme gradient boosting, dan logistic regression. Dilakukan konsensus untuk pengambilan keputusan variabel yang diperlukan dalam melakukan pemodelan berbasis pembelajaran mesin dari data SITB untuk memprediksi keberhasilan pengobatan dengan menggunakan metode Delphi. Hasil dari penelitian model algoritma pembelajaran mesin random forest menunjukkan kinerja terbaik dan akurasi tertinggi dalam memprediksi keberhasilan pengobatan. Aplikasi prediksi berbasis pembelajaran mesin dapat memberikan prediksi dini dengan interpretasi berbasis SHAP (SHapley Additive ExPlanations) yang memudahkan tenaga kesehatan dalam mengambil keputusan.

The tuberculosis treatment success rate in Indonesia in 2023 did not reach the 90% target. Treatment success impacts the reduction of infection spread and drug resistance cases, making early prediction of treatment success crucial. This study aims to develop a machine-learning model to predict treatment success. Data from Indonesia's Tuberculosis Information System (SITB) cohort was used. The study included productive-age patients (15-64 years) diagnosed with drug-sensitive tuberculosis who received treatment from January 1, 2020, to December 31, 2023. Data was randomly split into training (80%) and testing (20%) sets for model validation, with cross-validation performed. The algorithms used include decision tree, random forest, multilayer perception, extreme gradient boosting, and logistic regression. A consensus was reached for decision-making variables required in performing machine learning-based modeling of SITB data to predict treatment success using modeling of SITB data to predict treatment success using the Delphi method. The results of the study show that the random forest machine learning algorithm had the best performance and highest accuracy in predicting treatment success. This machine learning–based prediction tool can provide early predictions with SHAP (SHapley Additive ExPlanations) interpretation, helping healthcare workers make informed decisions more easily.

 

Read More
D-573
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Sisca Kumala Putri; Promotor: Endang Laksminingsih Achadi; Kopromotor: Hartono Gunardi, Yekti Widodo; Penguji: Ahmad Syafiq, Besral, Kusharisupeni Djokosujono, Abas Basuni Jahari
Abstrak:
ABSTRAK Pertumbuhan pada masa janin, dengan berat dan panjang badan lahir sebagai titik tertinggi pencapaiannya, dapat mempengaruhi pertumbuhan pada masa baduta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola gagal tumbuh linier, terutama waktu kejadian pertama kali melambatnya pertumbuhan dan besarnya perubahan pencapaian PB (Δ z-score PB/U) pada rentang umur 0-6, 6-12, dan 12-23 bulan berdasarkan status berat dan panjang badan lahir. Selain itu juga bertujuan mengetahui pengaruh status berat dan panjang lahir serta faktor risiko lainnya terhadap kejadian pertama kali melambatnya pertumbuhan dan juga terhadap perubahan pencapaian PB. Penelitian ini merupakan penelitian kohort prospektif dengan sampel sebanyak 408 anak responden Studi Kohor Tumbuh Kembang Anak di Kota Bogor Tahun 2012 – 2019. Variabel dependen pada penelitian ini ialah waktu kejadian pertama kali melambatnya pertumbuhan dan perubahan pencapaian PB (Δ z-score PB/U). Variabel independen utama pada penelitian ini ialah status berat dan panjang badan lahir. Pertumbuhan linier didefinisikan melambat jika linear growth velocity interval 3 bulan selama dua interval berturut-turut berada di bawah persentil ke-25 standar growth velocity WHO. Penelitian ini menunjukkan bahwa separuh anak SGA melambat pertumbuhannya sebelum umur 10 bulan dan separuh anak normal melambat pertumbuhannya sebelum umur 9 bulan. Penurunan z-score (Δ z-score PB/U) terbesar ialah pada rentang umur 0 – 6 bulan, sebesar -0,94 pada anak normal dan -0,4 pada anak SGA. Sedangkan pada rentang 6 – 12 bulan sebesar -0,33 pada anak normal dan -0,23 pada anak SGA. Dan pada umur 12 – 23 bulan sebesar -0,18 pada anak normal dan -0,03 pada anak SGA. Anak SGA memiliki risiko 10 persen lebih rendah untuk mengalami kejadian pertama kali melambatnya pertumbuhan pada masa baduta setelah dikontrol lama pemberian ASI, namun secara statistik tidak bermakna. Anak yang diberi ASI < 12 bulan memiliki risiko 50 persen lebih rendah untuk mengalami perlambatan pertumbuhan pertama kali pada masa baduta. Status SGA berpengaruh positif terhadap Δ z-score PB/U Pada periode umur 0 – 6 bulan dan 6 – 12 bulan, namun berpengaruh negatif pada periode umur 12 – 23 bulan. Lama pemberian ASI < 12 bulan juga berpengaruh positif terhadap Δ z-score PB/U. Sedangkan frekuensi ISPA > 50% bulan pengamatan dan asupan seng < EAR berpengaruh negatif terhadap Δ z-score PB/U. Melambatnya kecepatan pertumbuhan linier pertama kali dan penurunan z-score PB/U terbesar, baik pada anak SGA maupun normal, terjadi pada masa bayi. Oleh karena itu pemantauan pertumbuhan linier harus dilakukan lebih ketat pada masa bayi, terutama sebelum umur 9 atau10 bulan. Anak SGA tidak dapat mengejar pencapaian panjang badan anak normal, meskipun memiliki kecepatan pertumbuhan yang secara signifikan lebih cepat di awal masa bayi. Hal tersebut menunjukkan bahwa program pencegahan anak pendek harus dimulai lebih dini, yaitu sejak masa prenatal untuk mencegah bayi lahir SGA. Kata Kunci: gagal tumbuh linier, berat badan lahir, panjang badan lahir.

ABSTRACT Fetal growth, with birth weight and birth length as its culmination, influences the linear growth during the first two years of life. This study aimed to identify the pattern of linear growth failure, mainly the onset of growth deceleration and the changes in the Length-for-Age Z-score (LAZ). Furthermore, this study investigated the risk of birthweight and length status and other factors to the onset of growth deceleration and the changes in the LAZ. This study is a prospective cohort study. This study analyzed 408 children, the participants of the Cohort Study on Child Growth and Development in Kota Bogor between 2012 – 2019. The dependent variables were the time to onset of the growth deceleration and the changes of LAZ (Δ LAZ) at the age interval of 0-6, 6-12, and 12-23 months. The main independent variable was birthweight and length status. The linear growth was defined decelerate when the two consecutive 3-month length increments fall below the 25th percentile of The WHO Child Growth Standard. This study showed that half of the SGA children experience the growth deceleration onset before 10 months, while half of normal children experience it before 9 month of age. The substantial losses occurred between 0-6 months and the LAZ declined by -0,94 z-score in normal children and -0,4 z-score in SGA children. While between 6-12 months, the decline was -0,33 z-score in normal children and 0,23 z-score in SGA children. And between 12-23 months, the decline was -0,18 z-score in normal children and -0,03 z-score in SGA children. The SGA children had a 10 percent lower risk than normal children to experience the onset of growth deceleration, adjusted by the duration of breastfeeding, but statistically insignificant. The children breastfed less than 12 months had a 50 percent lower risk to experience the onset of growth deceleration than children breastfed more than ≥ 23 months. The SGA status had a positive effect on the Δ LAZ in the age period of 0 – 6 months and 6 – 12 months but had a negative effect in the age period of 12 – 23 months. The duration of breastfeeding < 12 months also had a positive effect on Δ LAZ. While upper respiratory tract infection frequency of more than 50% of the observation month and seng intake less than Estimated Average Requirement, had a negative effect on Δ LAZ. The onset of the deceleration in linear growth and the substantial loss of LAZ, in SGA and normal children, occurred in the early period of infancy. Therefore, the linear growth should be monitored strictly and regularly in the period of infancy, especially before 9 or 10 months. The SGA children could not catch up with the normal children’s attained growth. Therefore, the stunting prevention program should start early, from the prenatal period to reduce the risk of SGA. Keywords: growth failure, birthweight, birth length
Read More
D-492
Depok : FKM-UI, 2023
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irasdinar Yugitama Irawan; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Ema Hermawati, Iyin Listiyowati
S-10196
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meilisa Rahmadani; Promotor: Robiana Modjo; Kopromotor: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Adang Bachtiar, Besral, Fatma Lestari, Indri Hapsari Susilowati, Ali Ghufron Mukti, Sutoto, Astrid B. Sulistomo
Abstrak: Kelelahan kerja berdampak besar terhadap kinerja, keselamatan, dan kesehatan tenaga kesehatan rumah sakit. Penelitian ini mengembangkan model sistem manajemen risiko kelelahan berbasis pendekatan kualitatif dan kuantitatif melalui studi literatur, FGD, wawancara, dan observasi. Hasilnya adalah model ICHAFIT (Integrated Collaboration Healthcare Adaptability for Fatigue Intervention and Tracking) dengan lima elemen utama dan strategi pencegahan berbasis data. Terdapat 24 indikator valid dan reliabel untuk menilai implementasinya. Model ini berfungsi sebagai kerangka konseptual dan alat praktis, serta menghasilkan policy brief untuk advokasi kebijakan nasional.
Work fatigue significantly affects hospital workers' performance, safety, and health. This study developed a fatigue risk management model using qualitative and quantitative approaches through literature review, FGD, interviews, and observations. The result is the ICHAFIT model (Integrated Collaboration Healthcare Adaptability for Fatigue Intervention and Tracking) comprising five key elements and a data-driven prevention strategy). It includes 24 valid and reliable indicators to assess implementation. ICHAFIT serves as both a conceptual framework and practical tool, and also produced a policy brief to support national advocacy for fatigue risk management in hospitals.
Read More
D-591
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rico Kurniawan; Promotor: Budi Utomo; Kopromotor: Kemal Nazaruddin Siregar, Kalamullah Ramli; Penguji: Anhari Achadi, Besral, Tris Eryando, Soewarta Kosen; Ruddy J. Suhatril
Abstrak:
Penelitian ini berfokus pada deteksi dini hipertensi untuk mengurangi risiko penyakit kardiovaskular. Menggunakan data Indonesia Family Life Survey, penelitian ini mengidentifikasi faktor seperti umur, gender, indeks massa tubuh, aktivitas fisik, dan denyut nadi sebagai prediktor utama hipertensi. Analisis menggunakan regresi panel multivariable dengan model fixed effect dan random effect menentukan variabel signifikan dalam variabilitas tekanan darah. Model Markov Multi Status digunakan untuk menghitung probabilitas perubahan status tekanan darah. Hasil menunjukkan bahwa model machine learning dengan algoritma regresi logistik efektif dalam mengklasifikasi hipertensi di Indonesia, ditunjukkan dengan nilai Area Under Curve (0.751 untuk pria dan 0.794 untuk wanita) dan Complete Accuracy yang tinggi (0.780 untuk pria dan 0.798 untuk wanita).. Model ini menggunakan prediktor non-invasif yang mudah diukur, dan algoritma regresi linier menunjukkan kinerja yang baik untuk data kontinu. Studi ini juga mengungkapkan probabilitas transisi tekanan darah dari normal ke hipertensi, pre hipertensi menjadi normal atau hipertensi, dan kemungkinan individu hipertensi untuk tetap dalam kondisi tersebut atau berubah status.Kesimpulan dari penelitian adalah metode deteksi ini efisien untuk lingkungan dengan sumber daya terbatas dan dapat diintegrasikan dalam program kesehatan masyarakat. Faktor sosiodemografi dan antropometri efektif sebagai estimator dalam prediksi status hipertensi.

This study focuses on early detection of hypertension to reduce cardiovascular disease risks. Utilizing data from the Indonesia Family Life Survey, it identifies key predictors of hypertension such as age, gender, body mass index, physical activity, and pulse rate. Multivariable panel regression analysis employing both fixed effect and random effect models was conducted to determine significant variables influencing blood pressure variability. A Markov Multi Status model was used to calculate the probabilities of transitioning between different blood pressure statuses. The results demonstrate that the machine learning model, employing logistic regression algorithms, is effective in classifying hypertension in Indonesia, evidenced by high Area Under Curve and Complete Accuracy values. This model utilizes easily measurable, non-invasive predictors. Moreover, the linear regression algorithm showed superior performance for continuous data. The study also reveals the probabilities of transitioning from normal to hypertensive states, from pre-hypertension to normal or hypertension, and the likelihood of individuals with hypertension maintaining or changing their status. In conclusion, this detection method is efficient for resource-limited environments and can be integrated into broader public health programs. Socio-demographic and anthropometric factors are effective as estimators in predicting hypertension status.
Read More
D-495
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Syauqie; Promotor: Sutanto Priyo Hastono; Kopromotor: Kemal Nazaruddin Siregar, Nila F. Moeloek; Penguji: Tris Eryando, Prasandhya Astagiri Yusuf, Eva Susanti, Lutfah Rif’ati, Joss Riono
Abstrak:
Kelainan refraksi yang tidak terkoreksi merupakan penyebab terbesar visual impairment di seluruh dunia. Deteksi dini dan intervensi cepat sangat krusial untuk mencegah gangguan penglihatan permanen pada masa kanak-kanak. Skrining konvensional di komunitas sering terhambat oleh keterbatasan sumber daya manusia dan waktu pemeriksaan yang lama. Prinsip pemeriksaan photorefractive dapat diadaptasi menggunakan kamera smartphone untuk menghasilkan foto refleks merah fundus mata, namun analisisnya memerlukan pakar. Proses analisis ini dapat diotomatisasi dengan penggunaan model algoritma Deep Learning Convolutional Neural Network (CNN). Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model algoritma deep learning berbasis pola refleks merah fundus mata untuk deteksi kelainan refraksi pada anak yang dapat dioperasikan secara efektif oleh tenaga pemeriksa non-spesialis (guru sekolah) dalam upaya meningkatkan cakupan deteksi dini di komunitas. Penelitian bersifat diagnostik dengan desain cross-sectional dan dilakukan dalam empat tahap. Sumber data primer adalah foto kedua mata dengan pola refleks merah fundus yang diambil menggunakan kamera smartphone dan data power dioptri mata dari autorefraktometer sebagai baku emas. Total 315 siswa SD berusia 6-13 tahun di Kota Padang (630 mata) dijadikan sampel pada tahap pengujian lapangan. Model deep learning optimal yang dikembangkan adalah model CNN 3-branch. Kinerja model dievaluasi menggunakan metrik diagnostik (Sensitivitas, Spesifisitas, AUC) dan diuji reliabilitasnya antara pemeriksa spesialis dan non-spesialis. Pada validasi internal di tahap 2, model CNN 3-branch menunjukkan kinerja optimal dengan tingkat akurasi sebesar 91%, presisi sebesar 92%, dan recall sebesar 91%. Pada uji coba lapangan di tahap 3, hasil pengujian di 3 Sekolah Dasar menunjukkan: 1) Untuk deteksi miopia signifikan, model mencapai Sensitivitas 92.0%, Spesifisitas 79.9%, dan AUC 0.86; 2) Untuk deteksi kelainan refraksi tidak signifikan, Sensitivitas 67.1%, Spesifisitas 84.2%, dan AUC 0.76; dan 3) Untuk deteksi hipermetropia signifikan, Sensitivitas 42.4%, Spesifisitas 98.0%, dan AUC 0.70. Dalam hal feasibilitas, model algoritma deep learning memiliki reliabilitas dan akseptabilitas yang baik ketika digunakan oleh pemeriksa non-spesialis (guru). Model algoritma deep learning berbasis pola refleks merah fundus mata memiliki validitas yang baik dibandingkan dengan autorefraktometer dan reliabilitas yang baik antara pemeriksa spesialis dan non-spesialis. Instrumen ini menunjukkan potensi sebagai terobosan baru yang feasible untuk skrining kelainan refraksi yang cepat dan akurat di tingkat pelayanan kesehatan primer dan komunitas.

Uncorrected refractive error is the primary cause of visual impairment worldwide and early detection and rapid intervention are crucial in childhood. Conventional vision screening in the community is hampered by limited human resources and lengthy examination times. The photorefractive examination principle can be adapted using a smartphone camera to capture a red fundus reflex image, but its analysis requires an expert ophthalmologist. This analysis process can be automated through the use of a Deep Learning Convolutional Neural Network (CNN) algorithm model. This study aims to develop a deep learning algorithm model based on the red fundus reflex pattern for detecting refractive errors in children, which can be effectively operated by non-specialist examiners (school teachers). This is a diagnostic study with a cross-sectional design and was conducted in four stages. Primary data sources included images of both eyes displaying the red fundus reflex pattern taken with a smartphone camera and dioptric power data from an autorefractometer. A total of 315 elementary school students (630 eyes) aged 6–13 years in Padang were included. The deep learning model developed was the 3-branch CNN model. Model performance was evaluated using diagnostic metrics (Sensitivity, Specificity, AUC) and tested for its reliability. In the internal validation (Stage 2), the model had an accuracy rate of 91%, precision of 92%, and a recall of 91%. In the field trials (Stage 3), testing results in 3 schools showed: 1) For the detection of significant myopia, the model achieved a Sensitivity of 92.0%, Specificity of 79.9%, and AUC of 0.86; 2) For the detection of non-significant refractive error, the model achieved a Sensitivity of 67.1%, Specificity of 84.2%, and AUC of 0.76 ; and 3) For the detection of significant hypermetropia, the model achieved a Sensitivity of 42.4%, Specificity of 98.0%, and AUC of 0.70. Regarding feasibility, the deep learning algorithm model demonstrated good reliability and acceptability when used by non-specialist examiners (teachers). The deep learning algorithm model based on the red fundus reflex pattern possesses good validity when compared to the autorefractometer and good reliability between specialist and non-specialist examiners. This instrument shows potential as a new and feasible breakthrough for rapid and accurate refractive error screening at the primary healthcare and community level.
Read More
D-601
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive