Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
This study presents our investigations of ergonomic factors that related to Indoor Health and Comfort/IHC (with indicators Sick Building Syndrome (SBS) symptoms and work comfort) and Musculaskeletal Symptoms (MSS) suffered by functional and staff workers in Office X year 2017. Conducted in X Office in Indonesia, with the object study are functional and staff workers who work using computer or laptop in staff room which cubicle type (room A, B, C, D, and E). This study perform via walktrought observation, interview, measure indoor air quality/environment factors and fill indoor comfort quesionaire, SBS symptoms quesionaire and Nordic Body Map (NBM) quesionaire . 53,85% of workers have a high level of work comfort and 46,15% of workers have a low level of work comfort. 53,85% of workers suffered complaint of SBS symptoms with at most complaint of SBS symptoms be found are 33,85% tired or strained eyes and 33,85% fatigue or drowsiness. 78,57% of workers suffered MSS complaint. Ergonomic factors that not comform to standard include seat dimensions, table dimensions, computer used, work posture, room dimensions, room layout, room colors, and noise, lighting, temperature, humidity, carbon dioxide , formaldehyde, and VOCs. There is significant relationship between activity level factors and work comfort; VOCs concentration and complaint of SBS symptoms. There is no significant relationship between ergonomic factors are studied and MSS complaint.
Tesis ini membahas mengenai hubungan antara kelompok risiko dengan tingkat
kekerapan, keparahan dan besaran jaminan kecelakaan kerja yang dibayarkan pada
program Jaminan Sosial Tenaga Kerja dalam rangka mengkaji pengelompokkan
risiko sesuai dengan PP No.14 Tahun 1993 yang berlaku saat ini. Penelitian ini adalah
penelitian deskriptif dengan desain korelatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pengelompokkan risiko sangat erat hubungannya dengan premi yang harus dibayar
oleh masing-masing kelompok tersebut. Oleh karenanya, untuk menilai apakah premi
yang berlaku saat ini masih relevan atau tidak, harus dilakukan kajian terhadap
konsep premi yang ideal yang dikemukakan oleh John H Magee, 1995. Setelah
dibandingkan dengan konsep tersebut, ternyata premi saat ini hanya memenuhi 1 dari
4 syarat premi ideal yaitu premi haruslah adekuat. Sedangkan disisi lain premi saat ini
cenderung berlebihan/excessive, tidak adil dan tidak fleksibel. Berdasarkan data
kecelakaan kerja tahun 2007-2009 dari PT. Jamsostek, yang kemudian dianalisa
linieritas datanya dengan menggunakan diagram pencar atau scatter plot untuk
melihat adanya hubungan antar variabel, didapatkan hasil bahwa tidak ada hubungan
antara kelompok risiko dengan tingkat kekerapan, keparahan maupun besaran jaminan
kecelakaan kerja yang dibayarkan. Sehingga ditarik kesimpulan bahwa sistim
pengelompokkan risiko yang saat ini berlaku sudah tidak sesuai lagi untuk digunakan
sebagai dasar penentuan premi jaminan kecelakaan kerja. Untuk itu disarankan untuk
segera dilakukan evaluasi ulang terhadap sistim pengelompokkan risiko tersebut
sekaligus melakukan kajian mendalam terhadap sistim pengelompokkan risiko yang
lebih memenuhi unsur premi ideal.
Kata kunci:
Kelompok Risiko, Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Sosial Tenaga Kerja
The focus of this study about the relationship between risk group with frequency,
severtity and balance of accident compensation that is paid to the workman
compensation insurance program in order to asses whether the risk grouping system
according to PP No. 14 year 1993. This research is descriptive with corellative design.
The result of this research shows that the risk grouping have Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pengelompokkan risiko sangat erat hubungannya dengan premi
yang harus dibayar oleh masing-masing kelompok tersebut. Oleh karenanya, untuk
menilai apakah premi yang berlaku saat ini masih relevan atau tidak, harus dilakukan
kajian terhadap konsep premi yang ideal yang dikemukakan oleh John H Magee,
1995. Setelah dibandingkan dengan konsep tersebut, ternyata premi saat ini hanya
memenuhi 1 dari 4 syarat premi ideal yaitu premi haruslah adekuat. Sedangkan disisi
lain premi saat ini cenderung berlebihan/excessive, tidak adil dan tidak fleksibel.
Berdasarkan data kecelakaan kerja tahun 2007-2009 dari PT. Jamsostek, yang
kemudian dianalisa linieritas datanya dengan menggunakan diagram pencar atau
scatter plot untuk melihat adanya hubungan antar variabel, didapatkan hasil bahwa
tidak ada hubungan antara kelompok risiko dengan tingkat kekerapan, keparahan
maupun besaran jaminan kecelakaan kerja yang dibayarkan. Sehingga ditarik
kesimpulan bahwa sistim pengelompokkan risiko yang saat ini berlaku sudah tidak
sesuai lagi untuk digunakan sebagai dasar penentuan premi jaminan kecelakaan kerja.
Untuk itu disarankan untuk segera dilakukan evaluasi ulang terhadap sistim
pengelompokkan risiko tersebut sekaligus melakukan kajian mendalam terhadap
sistim pengelompokkan risiko yang lebih memenuhi unsur premi ideal.
Kata kunci:
Kelompok Risiko, Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Sosial Tenaga Kerja
