Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 11 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Asnawi; Pembimbing: Ascobat Gani
S-739
Depok : FKM UI, 1994
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asnawi Latief
613.94 LAT m
Jakarta : BKKBN, 1982
Buku (pinjaman 1 minggu)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Noorchalis Asnawi; Pembimbing: Hasbullah Thabrany; Penguji: Dumilah Ayuningtyas
T-2070
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Achmad Asnawi; Pembimbing: Hafizurrachman; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Dewi Syarifah
S-5706
Depok : FKM-UI, 2009
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ahmad Asnawi; Pembimbing: Sri Tjahjani Budi Utami; Penguji: Laila Fitria, Nanang Sunarya
S-4989
Depok : FKM UI, 2007
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asnawi; Pembimbing: Tri Krianto
T-1228
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asnani;Pembimbing: Evi Martha, Dian Ayubi; Penguji: Dien Anshari, Ira Octaviana Madjid, Erman Asnawi
Abstrak: Pemantauan dan evaluasi program Germas belum efektif di Kabupaten Soppeng maupun di Kabupaten Luwu Utara. Kabupaten Soppeng perlu melakukan pertemuan untuk membentuk forum koordinasi pelaksanaan program Germas. Diharapkan kedua kabupaten mengalokasikan sumber daya manusia sesuai kebutuhan. Melakukan sosialisasi kebijakan Germas kepada lintas program dan lintas sektor. Menyusun perencanaan kegiatan Germas yang disesuaikan dengan sasaran dan target pelaksanaan serta mengkoordinasikan dengan lintas program dan lintas sektor terkait. Memantau pelaksanaan kegiatan Germas secara rutin dan berkala setiap enam bulan. Mengevaluasi kegiatan Germas secara rutin dan berkala setiap tahunnya untuk menjamin peningkatan mutu penyelenggaraan program Germas
Read More
T-5593
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zulkarnain Abubakar; Promotor: Amal Chalik Sjaaf; Kopromotor: Purnawan Junadi, Tjahjono Darminto Gondhowiardjo; Penguji: Mardiati Nadjib, Budu, Asnawi Abdullah, Mahlil Ruby
Abstrak:
Penelitian ini menggunakan pendekatan Value-Based Healthcare (VBHC) untuk menganalisis value (capaian luaran kesehatan dan biaya yang dikeluarkan) pelayanan katarak dengan prosedur fakoemulsifikasi pada pasien JKN, sekaligus mengidentifikasi penerapan Integrated Care Pathway (ICP) dan faktor risiko pasien terhadap capaian value, kemudian merumuskan paket pembayaran berbasis value untuk pelayanan katarak. Penelitian dilakukan dengan desain cohort retrospective di 2 rumah sakit mata dengan total sampel 184 pasien. ICP dikembangkan di masing-masing rumah sakit berdasarkan clinical pathway yang berlaku, hasil interview dan observasi. Data kesesuaian penerapan ICP, faktor risiko dan luaran klinis diperoleh dari rekam medis, sedangkan kualitas hidup diukur dengan kuesioner NEI VFQ-25. Biaya dihitung menggunakan Time-Driven Activity-Based Costing. Analisis dilakukan menggunakan uji Spearman, Chi-square, Mann-Whitney, dan regresi logistik. Hasil menunjukkan peningkatan capaian value pasca operasi katarak di kedua rumah sakit dengan Postoperative PVA ≥6/18 sebesar 93,5% dan skor kualitas hidup 89,3 dengan biaya rata-rata Rp7.194.147 ±338.316 di RS C, dan di RS B sebesar 96,7% dengan skor kualitas hidup 91,2 dan biaya rata-rata Rp8.008.136 ±Rp400.800. Capaian ini memenuhi standar WHO dan lebih tinggi dari rata-rata nasional. Pada kedua rumah sakit ditemukan korelasi antara luaran klinis yang baik dengan biaya yang lebih rendah dan sebaliknya. Hal ini juga menunjukkan kejadian komplikasi berhubungan dengan biaya yang lebih tinggi dan mempengaruhi capaian luaran secara keseluruhan. Studi menunjukkan penerapan ICP sebagai tools dalam penerapan VBHC di mana kesesuaiannya berhubungan dengan capaian visual outcome yang baik, komplikasi pasca operasi yang rendah dan biaya perawatan yang lebih efisien. Selain itu didapatkan riwayat komorbid okuler dan faktor teknis sebagai faktor risiko pasien yang berhubungan dengan capaian value dalam pelayanan katarak, sehingga perlunya dilakukan risk-adjusted dalam penerapan VBHC pada pasien dengan kedua faktor risiko tersebut. Lebih lanjut studi ini merekomendasikan pengembangan model pembayaran paket pelayanan katarak berbasis value dalam skema JKN sebagai bagian dari upaya penigkatan value pelayanan katarak dan strategi dalam penerapan VBHC di Indonesia.

This study applied a Value-Based Healthcare (VBHC) approach to evaluate the value of cataract care using the phacoemulsification procedure for National Health Insurance (JKN) patients. The objectives were to assess patient outcomes relative to the cost of care, examine the implementation of the Integrated Care Pathway (ICP), identify patient risk factors associated with value achievement, and develop a value-based bundled payment model for cataract care. A retrospective cohort study was conducted at two eye hospitals in Indonesia, involving 184 patients. The ICPs were initially developed at each hospital based on existing clinical pathways, and informed by data from interviews and observations. Data on ICP adherence, patient risk factors, and clinical outcomes were obtained from medical records, while quality of life was assessed using the NEI VFQ-25 questionnaire. Costs of care were calculated using the Time-Driven Activity-Based Costing method. Statistical analyses included Spearman correlation, Chi-square, Mann-Whitney, and logistic regression. The findings demonstrate improved value outcomes following cataract surgery in both hospitals. Hospital C achieved a Postoperative PVA ≥6/18 in 93.5% of patients, a quality-of-life score of 89.3, and an average cost of Rp7,194,147 ±338,316; Hospital B achieved 96.7%, a score of 91.2, and an average cost of Rp8,008,136 ±400,800. These results meet WHO standards and exceed national averages. A significant correlation was observed between favorable clinical outcomes and lower costs, whereas complications were associated with higher costs and poorer overall outcomes. Application of ICP was shown to support VBHC implementation, contributing to better visual outcomes, reduced postoperative complications, and more efficient care delivery. Ocular comorbidities and technical factors emerged as significant patient risk factors affecting value, underscoring the need for risk adjustment in applying VBHC to such patient groups. This study recommends the development of a value-based bundled payment model for cataract care within the JKN scheme to enhance value creation and as strategy for implementing VBHC in Indonesia.
Read More
D-611
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Devie Fitri Octaviani; Promotor: Fatma Lestari; Kopromotor: Dadan Erwandi, Indang Trihandini; Penguji: Baiduri Widanarko, Robiana Modjo, Zulkifli Djunaidi, Asnawi Abdullah, Avianto Amri, Suparni
Abstrak:
Kejadian jatuh merupakan penyebab utama cedera tidak disengaja pada anak usia taman kanak-kanak, dan sebagian besar terjadi di lingkungan rumah. Cedera akibat jatuh pada usia dini berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang terhadap perkembangan fisik, kognitif, dan fungsi neurologis pada anak. Penelitian sebelumnya lebih berfokus pada identifikasi faktor risiko dan kejadian cedera, sementara penelitian ini bertujuan memodelkan keberhasilan pencegahan jatuh anak berdasarkan kerangka manajemen risiko berbasis rumah tangga. Pendekatan ini mengintegrasikan Safety I–III dan juga teori Graceful Extensibility (TGE) untuk mengevaluasi kapasitas protektif dan adaptif sistem keluarga dalam mempertahankan keselamatan anak secara berkelanjutan. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan 167 pendamping utama anak usia TK di Depok, yang mendampingi anak di lingkungan rumah tangga. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dikembangkan berdasarkan empat faktor utama: anak, rumah, agen, dan pengetahuan pendamping. Analisis dilakukan secara bertahap melalui Rasch measurement untuk menguji validitas dan reliabilitas instrumen, Principal Component Analysis (PCA) untuk menentukan skor faktor, Receiver Operating Characteristic (ROC) untuk menetapkan batas (cut-off point) kategori protektif, serta Bayesian Network dan Bayesian Logistic Regression untuk memetakan hubungan probabilistik antar faktor. Hasil menunjukkan bahwa 65,3% anak mengalami setidaknya satu kejadian jatuh dalam enam bulan terakhir. Instrumen yang dikembangkan terbukti valid dan reliabel dalam mengukur kapasitas protektif keluarga terhadap pencegahan jatuh pada anak. Berdasarkan hasil pemodelan, baseline probabilitas keberhasilan pencegahan jatuh anak sebesar 42% mencerminkan keterbatasan kapasitas protektif sistem keluarga dalam kondisi aktual. Melalui analisis sensitivitas, faktor rumah dan faktor anak diidentifikasi sebagai faktor protektif utama terhadap keberhasilan pencegahan jatuh. Kondisi rumah dan anak yang protektif meningkatkan peluang keberhasilan sistem sebesar tiga kali lipat (OR = 3,14). Selanjutnya, simulasi skenario what-if menunjukkan bahwa penguatan faktor rumah dan faktor anak merupakan titik pengungkit utama sistem yang dapat meningkatkan probabilitas keberhasilan pencegahan masing-masing 53% dan 52%. Faktor pengetahuan pendamping dan faktor agen berperan sebagai penguat adaptif pada lapisan proteksi berikutnya. Implikasi temuan ini adalah perlunya penyusunan program pencegahan jatuh berbasis rumah tangga dalam bentuk sistem proteksi berlapis (barrier-based approach). Barier pertama memprioritaskan penguatan faktor rumah dan faktor anak secara paralel dan interaktif melalui perbaikan lingkungan fisik rumah serta peningkatan pengetahuan dan pembentukan perilaku dasar keselamatan anak sesuai tahap perkembangan. Barier kedua menitikberatkan pada penguatan pengetahuan pendamping, sedangkan barier ketiga berfokus pada pengendalian faktor agen melalui penataan furnitur dan permainan anak. Keberhasilan pencegahan jatuh pada anak usia taman kanak-kanak di rumah merupakan hasil kinerja sistem keluarga yang adaptif dan dinamis. Integrasi manajemen risiko, Safety I–III, dan Theory of Graceful Extensibility memungkinkan pencegahan jatuh dipahami sebagai positive safety outcome yang dihasilkan melalui kapasitas sistem keluarga. Kata kunci: Pencegahan jatuh anak, keselamatan rumah tangga, manajemen risiko, Safety I–III, Bayesian Network

Falls are the leading cause of unintentional injuries in preschool-aged children, and prinarily occur in the home environment. Injuries from falls at an early age have the potential to cause long-term effects on a child's physical, cognitive, and neurological development. Previous research has focused more on identifying risk factors and the occurrence of injuries, while this study aims to model the success of fall prevention in children based on a household-based risk management framework. This approach integrates the Safety I–III and the Theory of Graceful Extensibility (TGE) to evaluate the protective and adaptive capacity of family systems in sustaining child safety. The study used a cross-sectional design with 167 primary caregivers of preschool-aged children in Depok, who care for children in household settings. Data was collected through a questionnaire developed based on four main factors: the child, the home, the agent, and the companion's knowledge. The analysis was conducted in stages using Rasch measurement to test the validity and reliability of the instrument, Principal Component Analysis (PCA) to determine factor scores, Receiver Operating Characteristic (ROC) to establish the cut-off point for protective categories, and Bayesian Network and Bayesian Logistic Regression to map the probabilistic relationships between factors.
The results show that 65.3% of children experienced at least one fall in the past six months. The developed instrument proved to be valid and reliable in measuring the protective capacity of families against falls in children. Based on modeling results, the baseline probability of successful fall prevention for children, at 42%, reflects the limitations of the family system's protective capacity in actual conditions. Through sensitivity analysis, home factors and child factors were identified as the main protective factors against the success of fall prevention. Protective home and child conditions triple the system's chances of success (OR = 3.14). Furthermore, the what-if scenario simulation shows that strengthening home and child factors are the main leverage points in the system that can increase the probability of success in prevention by 53% and 52% respectively. Companion knowledge and agent factors play a role as adaptive enhancers in the next layer of protection.
The implication of these findings is the need to develop a household-based fall prevention program in the form of a layered protection system (barrier-based approach). The first barrier prioritizes strengthening home and child factors in parallel and interactively through improving the physical environment of the home and increasing knowledge and shaping basic child safety behaviors according to the developmental stage. The second barrier focuses on strengthening caregivers' knowledge, while the third barrier concentrates on controlling agent factors through arranging furniture and children's toys.
The success of fall prevention in preschool-aged children at home is the result of the adaptive and dynamic performance of the family system. Integrating risk management, Safety I–III, and the Theory of Graceful Extensibility allows fall prevention to be understood as a positive safety outcome resulting from the family system's capacity.

Read More
D-613
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Etik Retno Wiyati; Promotor: Dumilah Ayuningtyas; Kopromotor: Amal Chalik Sjaaf, Wachyu Sulistiadi; Penguji: Prastuti Soewondo, Asnawi Abdulah, Ali Ghufron Mukti, Harimat Hendarwan, Destanul Aulia
Abstrak:
Fenomena meningkatnya jumlah Warga Negara Indonesia yang mencari layanan kesehatan ke luar negeri  menandakan lemahnya resiliensi rumah sakit wisata medis di dalam negeri, serta menimbulkan kerugian devisa yang signifikan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model penilaian tingkat resiliensi rumah sakit wisata medis dan strategi peningkatan resiliensi yang aplikatif bagi konteks Rumah Sakit Wisata Medis di Indonesia. Desain penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi fenomenologi. Pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan telaah dokumen dengan teknik triangulasi untuk menjaga validitas. Informan terdiri dari pemangku kebijakan, asosiasi profesi, akademisi, manajemen rumah sakit, masyarakat pengguna layanan medis di luar negeri serta dokter diaspora. Hasil penelitian menghasilkan model penilaian resiliensi yang terdiri dari 7 dimensi dan 45 indikator. Tujuh dimensi, yaitu Strategic Planning; Governance; Leadership & Culture; Health Quality Service; Health Resources; Networking & Marketing; Continuous Improvement & Learning. Hasil pengukuran menggunakan model tersebut menunjukkan tingkat resiliensi Rumah Sakit Wisata Medis di Indonesia dalam kategori sedang yang menegaskan perlunya strategi khusus yang integratif lintas sektor. Strategi peningkatan resiliensi dirumuskan melalui analisa SWOT, solusi stekeholder serta benchmark strategi dari Malaysia, Singapura, Thailand dan Korea Selatan yang dipetakan dalam empat perspektif Balanced Scorecard yaitu Finance, Customer, Internal Process, dan Learning & Growth. Perspektif Finance terdapat 7 strategi. perspektif Customer terdapat 8 strategi, Perspektif Internal Proses terdapat 13 strategi dan perspektif Learning & Growth terdapat 8 strategi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa model penilaian yang dikembangkan dapat menjadi instrumen evaluatif bagi rumah sakit wisata medis di Indonesia, sementara strategi yang dihasilkan memberikan peta jalan praktis untuk meningkatkan resiliensi dan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap layanan medis luar negeri. Keterbatasan penelitian terletak pada jumlah serta keragaman informan, sehingga penelitian selanjutnya disarankan memperluas cakupan partisipan dan menguji nilai keunggulan rumah sakit dalam wisata medis.

The phenomenon of increasing numbers of Indonesian citizens seeking healthcare services abroad indicates the weak resilience of domestic medical tourism hospitals and causes significant foreign exchange losses. This study aims to develop a model for assessing the level of resilience of medical tourism hospitals and strategies for improving resilience that are applicable to the contexs of medical tourism hospitals in Indonesia. The research design uses a qualitative method with a phenomenological study approach. Data collection was conducted through interviews, observations, and document reviews using triangulation techniques to maintain validity. Informants consisted of policy makers, professional associations, academics, hospital management, users of overseas medical services and diaspora doctors. The results of the study show that the resilience assessment model consisting of 7 dimensions and 45 indicators. The seven dimensions are Strategic Planning; Governance; Leadership & Culture; Quality of Health Services; Health Resources; Networking & Marketing; Continuous Improvement & Learning. The measurement results using this model show that the resilience level of Medical Tourism Hospitals in Indonesia is in the moderate category, which confirms the need for a cross-sectoral integrative strategy. The resilience improvement strategy was formulated through SWOT analysis, stakeholder solutions, and benchmark strategies from Malaysia, Singapore, Thailand, and South Korea, which were mapped into four Balanced Scorecard perspectives, namely Finance, Customer, Internal Process, and Learning & Growth. There are 7 strategies in the Finance perspective, 8 strategies in the Customer perspective, 13 strategies in the Internal Process perspective, and 8 strategies in the Learning & Growth perspective. This study concludes that the assessment model developed can be an evaluative instrument for medical tourism hospitals in Indonesia, while the strategies produced provide a practical roadmap for increasing resilience and reducing the community's dependence on foreign medical services. The limitations of this study are in the number and diversity of informants, so future research are recommended to expand the scope of participants and could be directed toward examining the value of hospitals' resilience in medical tourism.
Read More
D-616
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive