Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerimaan pengguna terhadap Rekam Medis Elektronik berdasarkan Kombinasi Technology Acceptance Model (TAM) dan Diffusion of Innovation Theory (DOI) di Rumah Sakit Mitra Husada Pringsewu. Data penelitian dikumpulkan dengan menggabungkan desain kuantitatif dan kualitiatif. Pengumpulan data untuk desain kuantitatif dilakukan dengan menyebarkan kuesioner dan pengumpulan data untuk desain kualitatif dilakukan dengan wawancara mendalam. Hasil menunjukkan hubungan positif, sangat kuat, dan signifikan antara Perceived Ease of Use (PEOU) dan Perceived Usefulness (PU), serta antara PEOU dan Attitude toward Using (ATU). Kemudahan penggunaan menjadi faktor paling dominan dalam membentuk sikap positif terhadap RME. Faktor demografis usia dan jenis kelamin tidak berpengaruh signifikan terhadap PEOU, sementara profesi menjadi variabel pembeda utama persepsi manfaat RME. Apoteker Klinis dan staf pendaftaran menunjukkan tingkat penerimaan tertinggi, sedangkan dokter umum dan radiografer menghadapi hambatan beban kerja dan ketidaksesuaian alur kerja. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan implementasi RME sangat bergantung pada kemudahan sistem dan kesesuaian fungsional dengan kebutuhan profesi pengguna.
This study investigates user acceptance of Electronic Medical Records (EMR) using an integrated framework of the Technology Acceptance Model (TAM) and Diffusion of Innovation Theory (DOI) at Mitra Husada Pringsewu Hospital. A mixed-methods design was applied, combining questionnaire-based quantitative data and qualitative data from in-depth interviews. The findings reveal a positive, very strong, and significant relationship between Perceived Ease of Use (PEOU) and Perceived Usefulness (PU), as well as between P and Attitude toward Using (ATU). Ease of use emerged as the most influential factor shaping positive attitudes toward EMR. Age and gender showed no significant effect on PEOU, while professional role significantly differentiated perceptions of EMR usefulness. Clinical pharmacists and registration staff exhibited the highest acceptance, whereas general practitioners and radiographers faced workload and workflow-related barriers. These results highlight the importance of usability and role-specific system alignment in successful EMR implementation.