Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Wan Aisyiah Baros; Pembimbing: Iis Sinsin Nuryasini
M-1915
Depok : FKM UI, 2004
D3 - Laporan Magang   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sulung Purwoko; Pembimbing: Meiwita Budiharsana; Penguji: Besral, Wan Aisyiah Baros
S-8982
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wan Aisyiah Baros; Pembimbing: Milla Herdayanti; Penguji: Besral, R. Sutiawan, Ondrionas, Dewi Utami
Abstrak:

ABSTRAK Kepuasan pelanggan merupakan salah satu indikator mutu pelayanan kesehatan, dapat diukur dan dibandingkan antara pelayanan yang diharapkan dengan pelayanan yang dirasakan oleh peserta. Faktor utama yang mempengaruhi mutu pelayanan kaitannya dengan kepuasan yaitu pelayanan yang diharapkan (expected service) dan pelayanan yang dirasakan (perceived service). Penelitian ini bertujuan mengetahui kontribusi pengetahuan peserta terhadap kontak layanan Rawat Jalan Tingkat Lanjut (RJTL) dan Rawat Inap (RI) dengan desain penelitian menggunakan cross sectional. Hasil penelitian rata-rata terendah dimensi mutu pada kontak layanan RJTL adalah dimensi Responsiveness (cepat tanggap/selalu siap melayani) dan tertinggi adalah dimensi Tangible (fasilitas fisik). Sedangkan rata-rata dimensi mutu pada kontak layanan RI terendah adalah dimensi Assurance (jaminan/rasa aman) dan dimensi tertingi adalah Tangible (fasilitas fisik). Tingkat Kepuasan peserta pada kontak layanan RJTL dengan proporsi peserta yang puas 50,8% dan yang tidak puas 49,2%. Sedangkan tingkat Kepuasan peserta pada kontak layanan RI dengan proporsi peserta yang puas 59,1% dan yang tidak puas 40,9%. Pada kontak layanan RJTL peserta dengan jenis kelamin perempuan dengan pengetahuan baik memiliki kepuasan sebesar 1,528 kali dibandingkan dengan peserta jenis kelamin perempuan dengan pengetahuan cukup. Atribut-atribut pengetahuan dengan proporsi terendah pada kontak layanan RJTL dan RI yaitu tentang buku pedoman, pengetahuan tentang pelayanan yang tidak ditanggung oleh Askes dan masih banyak peserta yang belum mengetahui obat-obat yang terdaftar dalam buku daftar obat Askes.


Abstract Customer satisfaction is one of the health service quality indicators that can be measured and can be compare between expected service and perceived service by the participants. Main factor affected quality service related to satisfaction are expected service and perceive service.The objective of this research is to recognize membership knowledge contribution towards saticfaction of outpatient and inpatient services with cross sectional methode approach. Research result of quality dimension lowest average on outpatient contact interaction is Responsiveness dimension and highest is tangible dimension. On the other hand, the lowest average of quality dimension on inpatient contact interaction is assurance and the highest is tangible dimension. Customer satisfaction index on outpatient contact interaction with proportion of satisfy participant 50,8 % and unsatisfy 49,2 %. Meanwhile, Customer satisfaction index on outpatient contact interaction with proportion of satisfy participant 59,1 % and unsatisfy 40,9 %. On outpatient contact interaction with female sex and better knowledge reaching satisfaction index 1.528 times bigger than female sex with adequate knowledge . Knowledge attributes with lower proportion on outpatient and inpatient are guidelines book, knowledges of Askes exclution services and still lots of participants did not aware the medicines which is registered in Askes medicine book.

Read More
T-3562
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shaina Naurah Aziza; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Besral, Wan Aisyiah Baros
Abstrak:
Background: Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a non-communicable disease with one of the highest health burdens in Indonesia, with prevalence nearly doubling over a decade, from 6.9% (2013) to 11.7% (2023), placing Indonesia as the country with the fifth-highest number of diabetes patients in the world (20.4 million in 2024). T2DM patients face a threefold higher risk of cardiovascular disease and a tenfold higher risk of kidney disease, with complication-related costs accounting for approximately 74% of total direct medical costs covered by BPJS Kesehatan. The effectiveness of prevention programs such as Prolanis depends heavily on understanding the factors that accelerate complication onset. Therefore, this study aimed to determine the survival of T2DM patients enrolled in the National Health Insurance (JKN) program with respect to complication onset, along with its associated determinants. Methods: This study used BPJS Kesehatan Sample Data from 2020, employing a retrospective closed-cohort design with an observation period of 2020–2025. Analyses were conducted using the Kaplan-Meier method and Cox Proportional Hazard regression. Results: Of 2,704 T2DM patients included in the study, 54.1% experienced complications, with a 4-year survival rate of 0.473 (95% CI: 0.45–0.49) and a median time-to-event of 3.639 years. The Kaplan-Meier and log rank analysis found out that age at diagnosis (p = 0,041), hypertension (p < 0,0001), and dyslipidemia (p < 0,0001) variables significantly differs the time of complication onset among T2DM patients. Based on the Cox Proportional Hazard analysis, factors that significantly accelerated complication onset were having hypertension (aHR=1,370; 95% CI: 1,231–1,525) and having dyslipidemia (aHR=1,522; 95% CI: 1,363–1,647), while being ≥65 of age when first diagnosed is a protective factor (aHR=0,868; CI: 0,771 – 0,978). Conclusion: Survival from complications among JKN-enrolled T2DM patients in Indonesia remains relatively low, with hypertension and dyslipidemia as the main determinants. Comprehensive efforts to prevent and manage these comorbidities are therefore needed, including through optimized risk stratification within the Prolanis program. Keywords: Type 2 Diabetes Mellitus, Survival Analysis, Complications, National Health Insurance, BPJS Sample Data
Latar belakang: Diabetes melitus (DM) tipe 2 merupakan penyakit tidak menular dengan beban kesehatan tertinggi di Indonesia, dengan prevalensi yang meningkat hampir dua kali lipat dalam satu dekade, dari 6,9% (2013) menjadi 11,7% (2023), serta menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penderita diabetes tertinggi kelima di dunia (20,4 juta jiwa pada 2024). Penderita DM tipe 2 menghadapi risiko tiga kali lebih tinggi mengalami penyakit kardiovaskular dan sepuluh kali lebih tinggi mengalami penyakit ginjal, dengan beban biaya komplikasi yang mencakup sekitar 74% dari total biaya medis langsung yang ditanggung BPJS Kesehatan. Efektivitas program pencegahan seperti Prolanis sangat bergantung pada pemahaman mengenai faktor-faktor yang mempercepat terjadinya komplikasi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kesintasan komplikasi pasien DM tipe 2 peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) beserta faktor-faktor yang memengaruhinya. Metode: Penelitian ini menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2020 dengan desain studi kohort tertutup retrospektif dan masa pengamatan pada 2020—2025. Analisis dilakukan menggunakan metode Kaplan-Meier dan uji Cox Proportional Hazard. Hasil: Dari 2.704 pasien DM tipe 2 yang diikutsertakan, terdapat 54,1% kejadian komplikasi, dengan 4-year survival rate sebesar 0,473 (95% CI: 0,45–0,49) dan median time-to-event 3,639 tahun. Pada faktor sosiodemografi, faktor usia saat diagnosis secara signifikan memengaruhi survival rate (p = 0,041) walau perlu diinterpretasikan dengan kehati-hatian. Pada faktor klinis, pasien DM tipe 2 dengan hipertensi (p < 0,0001) dan dislipidemia (p < 0,0001) secara signifikan memiliki 4-year survival rate lebih rendah. Berdasarkan analisis multivariat, faktor yang secara signifikan mempercepat kejadian komplikasi hipertensi (aHR=1,370; 95% CI: 1,231–1,525), dislipidemia (aHR=1,522; 95% CI: 1,363–1,647), sedangkan berumur ≥65 saat diagnosis (aHR=0,868; CI: 0,771 – 0,978) merupakan faktor protektif. Kesimpulan: Kesintasan komplikasi pasien DM tipe 2 peserta JKN di Indonesia masih tergolong rendah, dengan hipertensi dan dislipidemia sebagai determinan utama. Oleh karena itu, diperlukan penguatan upaya pencegahan dan pengendalian komorbiditas secara komprehensif, salah satunya melalui optimalisasi stratifikasi risiko dalam program Prolanis. Kata kunci: Diabetes Melitus Tipe 2, Analisis Kesintasan, Komplikasi, Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Data Sampel BPJS Kesehatan
Read More
S-12311
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ajeng Tria Ahista; Pembimbing: Wahyu Septiono; Penguji: Sabarinah, Wan Aisyiah Baros
Abstrak:
Latar Belakang: Penyakit Ginjal Kronis (PGK) merupakan penyakit progresif dengan beban mortalitas dan pembiayaan yang masif dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Fase prediabetes, yang secara patobiologis masih bersifat dapat kembali, sering kali tidak teridentifikasi hingga terjadinya komplikasi. Tujuan: Menganalisis probabilitas kesintasan bebas PGK serta mengidentifikasi determinan sosiodemografi yang memengaruhinya pada pasien prediabetes. Metode: Penelitian ini menggunakan data sekunder bersumber dari Data Sampel BPJS Kesehatan periode 2019–2024. Analisis probabilitas kesintasan dilakukan menggunakan kurva Kaplan-Meier, sedangkan faktor risiko dianalisis menggunakan regresi Cox Proportional Hazards. Hasil: Selama periode pengamatan, insidensi progresi menuju PGK ditemukan sebesar 4,68%, dengan median waktu kejadian secara langsung belum tercapai (not reached). Meskipun demikian, analisis perjalanan penyakit pada subkohort menunjukkan laju perburukan yang cepat, dengan median waktu transisi dari prediabetes menjadi Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) selama 503 hari (1,5 tahun). Setelah terdiagnosis DMT2, 25% pasien di antaranya mengalami progresivitas menuju PGK dalam 2.014 hari (5,5 tahun). Secara keseluruhan, analisis kesintasan melaporkan bahwa probabilitas kumulatif bebas PGK pada tahun kelima berada di angka 88,08% (95% CI: 0,8771–0,8843). Berdasarkan pemodelan multivariat, usia saat diagnosis teridentifikasi sebagai prediktor independen yang secara konsisten memengaruhi progresivitas penyakit, dengan setiap penambahan usia 10 tahun meningkatkan risiko kejadian PGK sebesar 22% (aHR = 1,222; 95% CI: 1,003–1,490). Kesimpulan: Probabilitas kesintasan bebas PGK dan DMT2 pada pasien prediabetes tergolong rendah. Oleh karena itu, diperlukan upaya preventif yang komprehensif, mulai dari masyarakat, BPJS Kesehatan, hingga pemangku kebijakan.

Background: Chronic Kidney Disease (CKD) is a progressive condition associated with a massive burden in terms of mortality and healthcare costs on the National Health Insurance (NHI) system. The prediabetes stage, which is pathobiologically reversible, often goes unrecognized until complications arise. Objective: To analyze the probability of CKD-free survival and identify the sociodemographic determinants influencing it in patients with prediabetes. Methods: This study utilized secondary data sourced from the BPJS Health Sample Data for the 2019–2024 period. Survival probability analysis was performed using Kaplan-Meier curves, while risk factors were analyzed using Cox Proportional Hazards regression. Results: During the observation period, the incidence of progression to CKD was 4.68%, with the median time to event not yet reached. However, disease course analysis in a subcohort revealed a rapid rate of progression, with a median time to transition from prediabetes to T2DM of 503 days (1.5 years). After being diagnosed with T2DM, 25% of these patients progressed to CKD within 2,014 days (5.5 years). Overall, survival analysis reported that the cumulative probability of remaining CKD-free at the fifth year was 88.08% (95% CI: 0.8771–0.8843). Based on multivariate modeling, age at diagnosis was identified as an independent predictor that consistently influenced disease progression, with each 10-year increase in age increasing the risk of CKD by 22% (aHR = 1.222; 95% CI: 1.003–1.490). Conclusion: The probability of CKD-free and T2DM-free survival in prediabetic patients is relatively low. Therefore, comprehensive preventive efforts are needed, involving the community, BPJS Kesehatan, and policymakers.
Read More
S-12330
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive