Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
The Am. Jour. Clin. Nutrition (AJCN), Vol.96, No.1, July 2012, hal. 150-163
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andrew L. Dannenberg, Rajiv Bhatia, Brian L. Cole, Carlos Dora, Jonathan E. Fielding, Katherine Kraft, Diane McClymont-Peace, Jennifer Mindell, Chinwe Onyekere, James A. Roberts, Catherine L. Ross, Candace D. Rutt, Alex Scott-Samuel, Hugh H. Tilson
AJPH Vol.96, No.2
[s.l.] : [s.n.] : 2006
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dora Herdiana; Pembimbing: Nurhayati Prihartono; Penguji: Ratna Djuwita, Heidy Agustin, Sulistyo
Abstrak: Tingginya angka putus berobat merupakan masalah serius dalampengobatan TB karena memunculkan resistensi obat, meningkatkan kekambuhan,gagal pengobatan,dan berpotensi penularan yang menyebabkan peningkatanbeban dan transmisi TB. Sistem skoring faktor risiko untuk memprediksikesintasan putus berobat pada penderita TB belum banyak diteliti. Studi inibertujuan untuk mengetahui sistem skoring faktor prediktor kesintasan putusberobat penderita TB paru.Studi dilakukan pada April-Mei 2015 di poli DOTS RSUP Persahabatan,menggunakan desain cohort retrospective yang bersumber dari form TB 01 danrekam medis. Sampel sebanyak 370 dengan penderita putus berobat sebagai event,70 orang, penderita sembuh dan pengobatan lengkap sebagai sensor, 300 orang.Probabilitas kumulatif kesintasan putus berobat penderita TB adalah 81%. Hasilanalisis multivariat menemukan prediktor jenis kelamin, diagnosis TB, dan ambilobat sesuai jadwal yang berinteraksi dengan waktu mempunyai nilai p 0,043,0,008, 0,0001 berturut-turut, berisiko terhadap kesintasan putus berobat denganHR 1,7 (95%CI:1,02-2,99), 1,9 (95%CI:1,18-3,05) dan 32,7 (95%CI:14,78-72,18).Variabel mengambil obat sesuai jadwal semakin meningkat HR nya seiringmeningkatnya waktu pengamatan. Hasil skoring model akhir mampu memprediksikesintasan kejadian putus berobat penderita TB paru sebesar 92%, dan nilai cut-off untuk skor model skoring ≥21.Perlu meningkatkan KIE pada penderita secara efektif khususnyapenderita yang laki-laki, diagnosis TB BTA negatif dan mengambil obat tidaksesuai jadwal, meningkatkan jejaring internal maupun eksternal rumah sakit,untuk mengendalikan angka putus berobat TB.Kata Kunci: tuberculosis, putus berobat, kesintasan, skoring
Treatment default is a serious problem in tuberculosis control because itimplies resistance, increased relaps, failure, persistence of infectious source andfurther increased burden and transmission tuberculosis. Scoring system of defaultrisk factors to predict survival patients have been not studied yet, particularly inIndonesia. The aim of this study to determine the predictors scouring system ofsurvival defaulting treatment for tuberculosis patients.This retrospective cohort study was conducted from April to Mei 2013 atpoli DOTS RSUP Persahabatan. were identified from TB 01 forms and medicalrecords. Patients defaulting from treatment were considered as event and thosecure and completing treatment as censors. 370 tuberculosis patients wereincluded, 70 events and 300 censors. Overall patients survival rate was 81%.Survival defaulting associated significanly to sex, smear diagnosis and taking drugaccording to guideline with p value are 0,043, 0,008, 0,0001 respectively, found tobe risk factors for survival defaulting HR 1,7 (95%CI:1,02-2,99), HR 1,9;(95%CI:1,18-3.05), dan HR 32,7 (95%CI:14,78-72,18) respectively. IncreasingHR of taking drug according to guideline followed with increased alteration oftime observation. Scoring results are obtained predicting survival patientsdefaulting by 92%, and a cut-off point for the scoring model is ≥21.Communication, information and education must be increased das well asincreased internal and external hospital linkage to decrease default outcome.Keywords: tuberculosis, default, survival, scouring
Read More
T4472
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dora Handyka; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Purnawan Junadi, Pujiyanto, Dettie Yulianti, Sonny Hermawati
Abstrak: Faktor yang berhubungan dengan pasien berkontribusi terhadap meningkatnya prevalensi resistensi antibiotik. Hal tersebut menuntut dilakukan suatu upaya peringatan akan bahaya resistensi antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap respon penerimaan pesan gambar peringatan bahaya resistensi antibiotik yang dikembangkan dari Extended Parallel Process Model (EPPM). 3 buah gambar peringatan yang berisi tentang resistensi antibiotik dapat menyebabkan kematian, makin lamanya penyembuhan luka operasi, dan hari perawatan di rumah sakit yang bertambah lama dipilih untuk diteliti, dan dengan desain potong lintang yang digunakan untuk melihat pengaruh faktor usia, jenis kelamin, pendidikan dan pekerjaan terhadap respon penerimaan pesan dari ketiga gambar tersebut pada 402 orang responden. Hasil yang diperoleh adalah ketiga gambar tersebut menghasilkan komponen ancaman yang tinggi dan komponen efikasi yang tinggi pula. Respon penerimaan pesan yang dihasilkan adalah baik, sehingga dianggap efektif menyampaikan informasi mengenai bahaya resistensi antibiotik kepada masyarakat. Gambar peringatan mengenai bahaya resistensi antibiotik dapat mengakibatkan makin lamanya penyembuhan luka operasi menjadi gambar yang paling efektif dibanding gambar peringatan lainnya. Faktor yang meningkatkan respon penerimaan pesan yang baik mengenai bahaya resistensi antibiotik adalah kelompok usia dewasa awal, jenis kelamin perempuan, pendidikan tinggi dan yang tidak bekerja. Kata Kunci: gambar peringatan, resistensi antibiotik, EPPM, ancaman, efikasi. Patient-related factors contribute to the increased prevalence of antibiotic resistance. It requires an attempt to warn of the dangers of antibiotic resistance. This study aims to analyze the factors that influence the response of receiving the antibiotic resistance warning picture message developed from the Extended Parallel Process Model (EPPM). 3 warning images containing antibiotic resistance can cause death, increasing length of wound healing, and lengthy hospitalization days selected for study, and with cross-sectional design used to examine the effect of age, sex, education and work on the response of receiving messages from these three images on 402 respondents. The results obtained are the three images produce high threat components and high efficacy components as well. The response of received messages generated is good, so it is considered effective to convey information about the danger of antibiotic resistance to the community. A warning picture of the dangers of antibiotic resistance may result in the longer duration of surgical wound healing being the most effective image than any other warning image. Factors that improve the response of good messages about the dangers of antibiotic resistance are the early adult age group, female gender, college education and non-working. Keywords: pictorial warning, antibiotic resistance, EPPM, threat, efficacy
Read More
T-4908
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dora; Pembimbing: Wahyu Sulistiadi; Penguji: Anhari Achadi, Dumilah Ayuningtyas, Wayan Rai Suarthana, Ns. Sardi
Abstrak: Reformasi Birokrasi memiliki peran penting dalam mendukung pelaksanaan pembangunan nasional bidang kesehatan. Evaluasi menuju Wilayah Bebas Korupsi /Wilayah Birokrasi Bersih Melayani dilakukan secara penilaian mandiri oleh Tim Penilai Internal di tingkat Kementerian Kesehatan, yang selanjutnya akan dilakukan oleh Tim Penilai Nasional dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara hasil evaluasi yang dilakukan oleh TPI dengan TPN. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas Penilaian mandiri dalam evaluasi Wilayah Bebas Korupsi / Wilayah Birokrasi Bersih Melayani yang dilakukan Inspektorat Jenderal untuk mempercepat Reformasi Birokrasi. Penelitian merupakan studi deskriptif dengan metode analisis kualitatif. Hasil penelitian menyebutkan bahwa regulasi belum lengkap, komunikasi pelaksanaan evaluasi sudah jelas, pemimpin belum memahami sepenuhnya mengenai WBK/WBBM, masih terdapat benturan kepentingan, terdapat perbedaan karakteristik satuan kerja, masih terdapat perbedaan motivasi, persepsi dan kemampuan sumber daya manusia menjadi faktor yang berpengaruh dalam efektifitas pelaksanaan evaluasi menuju WBK/WBBM di Kementerian Kesehatan. Pelaksanaan penilaian mandiri evaluasi menuju WBK/WBBM di Kementerian Kesehatan belum efektif sehingga memerlukan evaluasi dan perbaikan lebih lanjut. Kata kunci: Reformasi Birokrasi, Wilayah Bebas dari Korupsi, Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani, vii Universitas Indonesia
Read More
T-4945
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive