Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Widia Puspa Hapsari; pembimbing: Wiku Adisasmito; Penguji: Anhari Achadi, Saiful Iskandar
Abstrak:
Sistem antrian yang di terapkan untuk pelayanan MRI Instalasi Radiologi RSUP Fatmawati menghasilkan antrian yang panjang. Berdasarkan hasil telaah dokumen dan observasi terhadap pelayanan perjanjian, didapatkan panjang antrian mencapai 20 hari. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja antrian berdasarkan model antrian M/M/1dari Teori Antrian. Melalui teori ini didapatkan komponen antrian yang mempengaruhi sebuah sistem antrian mencakup distribusi waktu antar kedatangan pasien, distribusi waktu pelayanan, pemberi pelayanan atau server, kapasitas sistem, populasi sumber, dan disiplin antrian. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi kasus dengan kuantifikasi. Sehingga pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif digunakan untuk menjelaskan komponen sistem antrian dimana distribusi waktu antar kedatangan pasien bersifat independen, distribusi waktu pelayanan bervariasi 24 hingga 400 menit, jumlah server 1 kesatuan, populasi sumber yang tidak terbatas, serta pasien yang dilayani berdasarkan kombinasi disiplin Pertama Datang Pertama Dilayani dan disiplin prioritas. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk menghitung kinerja sistem antrian sehingga di dapatkan mean jumlah pasien di dalam sistem sebesar 0,889 per jam, Mean jumlah pasien dalam antrian sebesar 0,009 per jam, Utilisasi pelayanan sebesar 88,9%, Distribusi response time sebesar 10,31 jam, dan Mean waktu tunggu sebesar 1.14 jam.
Kata kunci: Kinerja antrian, M/M/1, Radiologi, Sistem antrian.
The Queueing system which has been implemented for MRI Service in Radiology Instalation in RSUP Fatmawati results in a long queue. Based on the report and observation to the scheduling service, the queue for MRI examinationm reachs 20 days long. This research aims to measure the queue performance by using M/M/1 queueing model taken from queueing theory. Using this theory, queue components affecting a queueing system includes the interarrival time distribution, service time distribution, number of server, System Capasity, Population source, and Queueing Diciplin. This research is a quantification case study using both qualitative and quantitative method. The qualitative method is used to explain each of the queue components while quantitative method is used to calculate the queue performance. the qualitative method results in an independent interarrival, various service time distribution range from 24 up to 400 minutes, 1 server serves 1 examination at a time, and an infinite source of patients which comes to the queue, and a combination of First Come First served with Priority Queueing Dicipline. Quantitative method results in 0,889 per hour mean number of customer, 0,009 per hour mean number waiting customers, 88,9% of server utilization, 10,31 hour of distribution of response time of a customer, and 1,14 hour distribution of waiting time.
Keywords: M/M/1, Queue performance, Queueing System.
Read More
Kata kunci: Kinerja antrian, M/M/1, Radiologi, Sistem antrian.
The Queueing system which has been implemented for MRI Service in Radiology Instalation in RSUP Fatmawati results in a long queue. Based on the report and observation to the scheduling service, the queue for MRI examinationm reachs 20 days long. This research aims to measure the queue performance by using M/M/1 queueing model taken from queueing theory. Using this theory, queue components affecting a queueing system includes the interarrival time distribution, service time distribution, number of server, System Capasity, Population source, and Queueing Diciplin. This research is a quantification case study using both qualitative and quantitative method. The qualitative method is used to explain each of the queue components while quantitative method is used to calculate the queue performance. the qualitative method results in an independent interarrival, various service time distribution range from 24 up to 400 minutes, 1 server serves 1 examination at a time, and an infinite source of patients which comes to the queue, and a combination of First Come First served with Priority Queueing Dicipline. Quantitative method results in 0,889 per hour mean number of customer, 0,009 per hour mean number waiting customers, 88,9% of server utilization, 10,31 hour of distribution of response time of a customer, and 1,14 hour distribution of waiting time.
Keywords: M/M/1, Queue performance, Queueing System.
S-8978
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Widia Puspa Hapsari; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Pujiyanto, Jaslis Ilyas, Tati Suryati, Saptono Raharjo
Abstrak:
Penelitian ini menganalisis impelementasi Clinical Pathway (CP) Typhoid fever melalui
deskripsi utilisasi pelayanan serta tagihannya pada periode sebelum dan sesudah
implemenatsi CP. Studi dilakukan di RS PMI Bogor bertujuan untuk mengeksplor
siklus pembuatan CP serta utilisasi pelayanan kesehatan yang diberikan sehingga
menimbulkan tagihan baik pada periode sebelum maupun sesudah implementasi CP.
Metode kualitatif digunakan untuk menjelaskan tahapan dalam pembuatan CP dan
metode kuantitatif digunakan untuk mengeksplor utilisasi layanan dan tagihan yang
ditimbulkan serta melihat signifikansi implementasi CP terhadap utilisasi pelayanan dan
billing. Simulasi INA-CBG juga dilakukan akibat temuan dalam penelitian. Adapun
data yang digunakan dalam studi adalah data dari sistem informasi rumah sakit, billing
dan rekam medis.
Hasil penelitian menunjukan bahwa dengan tidak adanya signifikansi/perubahan
pada utilisasi pelayanan secara statistik p-value <0.05 antara kelompok pada periode
sebelum dan sesudah implementasi CP melalui Uji T dan Uji non parametric Mann-
Whitney U dengan tingkat kepercayaan 95%. Namun secara substansi terjadi perubahan
tagihan pasca implementasi clinical pathway Typhoid fever dari Rp. 4,269,051
meningkat menjadi Rp. 5,225,384. Setelah dilakukan penyesuaian obat yang berfungsi
terapeutik dan simtomatik terhadap Typhoid fever, maka total tagihan menjadi Rp.
4,771,016 dan meningkat menjadi Rp. 5,959,796. Proses pencatatan diagnosis di dalam
rekam medis menjadi isu di RS PMI Bogor. Dengan adanya potensi undercode yang
mempengaruhi severity level kasus INA-CBGs (A-4-14), rumah sakit berpotensi
kelilangan sebesar Rp. 485,200 hingga Rp. 1,450,400.
Read More
T-5650
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
