Ditemukan 12 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Anna Maria Sirait, Julianti Pradono, Ida L. Toruan
Bulitkes Vol.30, No.3
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2002
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Riyan Julianti; Pembimbing: Taurany, Hendrik M.
M-397
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
D3 - Laporan Magang Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Paediatrica Indonesiana, Vol.53, Iss.5, Sept. 2013, hal. 250-253
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ch. M. Kristanti, Julianti Pradono, Suhardi
Bulitkes Vol.29, No.1
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2001
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Heksa Sari Julianti; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi
S-1118
Depok : FKM UI, 1997
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Renny Tri Julianti; Pembimbing: Purnawan Junadi
S-3989
Depok : FKM UI, 2004
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Julianti; Pembimbing: Wahyu Sulistiadi
B-401
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Vanda Sativa Julianti; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Anhari Achadi, Puput Oktamianti, Cholid Yamani, Raden Gioseffi Purnawarman
Abstrak:
Penelitian ini merupakan studi kasus di salah satu rumah sakit swasta tipe C di Kabupaten
Bogor yang bertujuan untuk melakukan evaluasi efektivitas alur pelayanan sectio
caesarea (SC) emergency pada tahun 2021 (masa pandemi COVID-19) dari sisi input,
proses, dan outcome. Alur pelayanan sectio caesarea (SC) emergency yang ada
disesuaikan dengan referensi Pemerintah dan Profesi (POGI), yakni adanya skrining
COVID-19 dengan melakukan pemeriksaan swab-RDT Antigen dan rontgen thorax, serta
konsultasi kepada Spesialis Paru atau Penyakit Dalam. Penelitian ini dilakukan dengan
mix-method, secara kuantitatif dengan metode potong lintang dari berkas rekam medis
dan dilanjutkan dengan kualitatif dari para informan kunci dan informan tambahan.
Penelitian dilakukan pada 379 sampel pasien yang melakukan persalinan secara sectio
caesarea (SC) emergency periode Januari-Desember 2021. Karakteristik pasien
didapatkan 75,5% adalah usia 20-35 tahun dengan rata-rata 29,32 tahun; 58,8% adalah
multipara dengan rata-rata paritas 1,96; dan 92,3% usia kehamilan 37-42 minggu dengan
rata-rata 38,50 minggu. Diagnosis pasien didapatkan 77% kategori 2 dan 95,5% status
non COVID-19. Diagnosis kategori 1 sebanyak 11,8% adalah fetal distress dan diagnosis
kategori 2 sebanyak 27,7% adalah ketuban pecah dini (KPD), dengan response time
kategori 1 <30 menit hanya 1,1% dan response time kategori 2 dalam 30-75 menit
sebanyak 33,2%. Kemudian rata-rata waktu informed consent didapatkan 3,71 menit;
waktu konsul Spesialis Paru/Penyakit Dalam didapatkan 4,06 menit; waktu konsul
Spesialis Anestesi didapatkan 3,77 menit; proses transfer pasien didapatkan 6,01 menit;
waktu spinal anestesi didapatkan 5,08 menit; waktu mulai operasi sampai bayi lahir
didapatkan 20, 37 menit, dengan rata-rata pasien per-bulan adalah 31,58 dan waktu
tanggap sectio caesarea (SC) emergency selama 111,87 menit. Pada analisis bivariat
didapatkan adanya korelasi yang bermakna antara rerata jumlah pasien terhadap waktu
tanggap sectio caesarea (SC) emergency (p-value=0,019), dan tidak ada hubungan
bermakna antara diagnosis kategori 1 dan kategori 2 (p-value=0,767) serta status COVID19
dan
Non
COVID-19
(p-value=0,071)
terhadap
waktu
tanggap
sectio
caesarea
(SC)
emergency;
namun
status
COVID-19
terhadap
waktu
tanggap
SC
emergency
memiliki
hubungan
bermakna dari sisi substansi. Pada kualitatif, didapatkan bahwa seluruh
informan sudah mengetahui dan memahami alur pelayanan SC emergency selama
pandemi ini, faktor pendukung yang ada adalah kekompakan dan kerjasama tim,
dukungan manajemen rumah sakit untuk mengutamakan safety tenaga kesehatan
ditunjang oleh sarana prasarana dan sumber daya manusia (SDM) yang sesuai, serta
faktor penghambat yang ada adalah proses skrining/penapisan COVID-19 (hasil
pemeriksaan penunjang), letak kamar operasi di lantai 2 dan tidak ada lift khusus transfer
pasien, serta kekosongan alat pelindung diri (APD) dan linen operasi. Kesimpulannya,
penilaian efektivitas alur pelayanan SC emergency tahun 2021 dengan pendekatan goal
approach belum efektif, dilihat dari outcome yaitu rata-rata waktu tanggap SC emergency
yang belum mencapai target indikator mutu (≤30 menit)
Read More
B-2281
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
A. Yudi Kristanto; Pemnbimbing: Iwan Ariawn; Penguji: Besral, Tri Yunis Miko Wahyono, Julianti Pradono, Chita Septiawati
T-4202
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Vony Julianti Kiding; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: R. Sutiawan, Diah Ayudi, Eti Rohati, Ni Made Jendri
Abstrak:
Angka kematian bayi merupakan salah satu indikator tingkat pembangunan kesehatan dan kualitas hidup suatu negara. Kabupaten Banjar memiliki jumlah kematian neonatal tertinggi di Provinsi Kalimantan Selatan. Kematian neonatal tidak disebabkan oleh satu faktor saja melainkan multifaktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kematian neonatal di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan tahun 2014-2015. Metode penelitian kasus kontrol, analisis multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berhubungan bermakna dengan kematian neonatal adalah berat lahir bayi (OR=5,8, 95% CI:3,0-11,1), pendidikan ibu (OR=4,5, 95% CI:1,6-12,8), komplikasi kehamilan (OR=2,7, 95% CI: 1,6-4,6), umur kehamilan (OR=2,4, 95% CI: 1,1-5,0), frekuensi kunjungan ANC standar (OR=2,2, 95% CI:1,2-4,1), tempat persalinan (OR=2,1, 95% CI:1,1- 3,9) dan paritas (OR=2,1, 95% CI:1,2-3,6), sedangkan pekerjaan (OR=1,8, 95% CI:0,9-3,5) sebagai variabel confounding. Faktor yang paling besar pengaruhnya adalah berat lahir bayi. Bayi berat lahir ≤ 2500 gram memiliki risiko 5,8 kali (95% CI 3,0-11,1) lebih tinggi mengalami kematian neonatal dibanding bayi berat lahir > 2500 gram. Peningkatan wawasan dan kompetensi bidan melaui pelatihan penatalaksanaan kasus BBLR, strategi KIE mengenai faktor-faktor kematian neonatal serta membuat gagasan untuk meningkatkan kunjungan ANC standar perlu diupayakan untuk menurunkan angka kematian neonatal di Kabupaten Banjar. Kata kunci : faktor kematian; neonatal
Infant mortality rate is one indicator of health development level and quality of life of a country. Kabupaten Banjar has the highest of neonatal mortality numbers in South Borneo. Neonatal mortality is not caused by a single factor but multifactor. This study aims to determine the factors associate with neonatal mortality in Kabupaten Banjar, South Borneo in 2014-2015. The methods of this study is case control, multivariate analysis used logistic regression. The results of this study indicate that the factors significantly associated with neonatal mortality are birth weight (OR=5,8, 95% CI:3,0-11,1), maternal education (OR=4,5, 95% CI:1,6-12,8), pregnancy complications (OR=2,7, 95% CI: 1,6-4,6) gestational age (OR=2,4, 95% CI: 1,1-5,0), frequency of standard ANC visits (OR=2,2, 95% CI:1,2-4,1), place of delivery (OR=2,1, 95% CI:1,1-3,9) and parity (OR=2,1, 95% CI:1,2-3,6) and occupational (OR=1,8, 95% CI:0,9-3,5) as a confounding variabel. The factor that must impact is birth weight. Birth weight ≤ 2500 gram is 5,9 times higher (95% CI 3,1-11,3) to neonatal mortality than birth weight ≥ 2500 gram. Increased insight and competence of midwife through training of case management of low birth weight, communication information and education strategies about factors of neonatal mortality and creates ideas for increase the ANC visits are required to reduce neonatal mortality in Banjar District. Keywords: factors of mortality; neonatal
Read More
Infant mortality rate is one indicator of health development level and quality of life of a country. Kabupaten Banjar has the highest of neonatal mortality numbers in South Borneo. Neonatal mortality is not caused by a single factor but multifactor. This study aims to determine the factors associate with neonatal mortality in Kabupaten Banjar, South Borneo in 2014-2015. The methods of this study is case control, multivariate analysis used logistic regression. The results of this study indicate that the factors significantly associated with neonatal mortality are birth weight (OR=5,8, 95% CI:3,0-11,1), maternal education (OR=4,5, 95% CI:1,6-12,8), pregnancy complications (OR=2,7, 95% CI: 1,6-4,6) gestational age (OR=2,4, 95% CI: 1,1-5,0), frequency of standard ANC visits (OR=2,2, 95% CI:1,2-4,1), place of delivery (OR=2,1, 95% CI:1,1-3,9) and parity (OR=2,1, 95% CI:1,2-3,6) and occupational (OR=1,8, 95% CI:0,9-3,5) as a confounding variabel. The factor that must impact is birth weight. Birth weight ≤ 2500 gram is 5,9 times higher (95% CI 3,1-11,3) to neonatal mortality than birth weight ≥ 2500 gram. Increased insight and competence of midwife through training of case management of low birth weight, communication information and education strategies about factors of neonatal mortality and creates ideas for increase the ANC visits are required to reduce neonatal mortality in Banjar District. Keywords: factors of mortality; neonatal
T-4877
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
