Ditemukan 13 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Kata Kunci : Pengetahuan, Sikap, Praktek, JKN, BPJS
This research studies Knowledge, Attitude, and Practice about Universal Health Coverage (JKN) of Public Health Bachelors Study Program in Faculty of Public Health Universitas Indonesia in 2014. Using quantitative method with cross sectional design, this research collects data from 100 students as respondents. As a result, respondents as low knowledge (58%), unfavourable attitude (57%), and low practice (65%) about Universal Health Coverage (JKN). There is no correlation between knowledge and attitude (p-value = 0,381). However, there is correlation between knowledge and practice (p value = 0,004), also there is correlation between attitude and practice (p value = 0,006). This research suggests Students Organization and BPJS to socialize Universal Health Coverage massively to students. Beside, advanced research is needed to know the reason why knowledge, attitude, and practice of Public Health Bachelors Study Program in Faculty of Public Health Universitas Indonesia about Universal Health Coverage (JKN) 2014 are low.
Keywords: knowledge, atiitude, practice, JKN, BPJS
Petugas pengasapan berisiko terpajan insektisida, dosis pajanan insektisida akan bertambah jika selama proses pengasapan para petugas ini berperilaku tidak sehat. Penelitian ini bertujuan mendapatkan faktor determinan perilaku kerja petugas pengasapan. Desain penelitian ini adalah cross sectional, semua petugas pengasapan yang berjumlah 37 orang dijadikan sampel. Data yang diambil merupakan data primer dari kuesioner, dianalisis dengan regresi logistik untuk mengetahui variabel yang dominan menimbulkan perilaku tidak sehat. Hasil penelitian menunjukkan variabel perilaku. Petugas Puskesmas sebagai pengawas pengasapan merupakan variabel yang paling dominan disamping variabel waktu kerja dan ketersediaan fasilitas APD yang juga mempunyai hubungan dengan perilaku petugas pengasapan. Disarankan kepada Dinas Kesehatan agar memberikan pelatihan dan fasilitas memadai kepada petugas puskesmas, menyediakan anggaran untuk melengkapi fasilitas APD, memberikan pelatihan kepada petugas pengasapan dengan masa kerja belum lama, dan mengembangkan SOP pengasapan. Kepada Petugas Puskesmas agar memberikan pengawasan yang ketat dan mamberi contoh yang baik kepada para petugas pengasapan. Kepada petugas pengasapan agar dapat mencontoh petugas puskesmas yang berprilaku baik.
Fogging personnel face the risk of being exposed to insecticides, the dosage of insecticides exposure would increase if, during the fogging process the personnel behave unhealthy. This research aims to obtain the behavior determinants of fogging personnel. The design of this research is cross-sectional, a total number of 37 fogging personnel were used as samples. The data used asprimary data obtained from questionnaires, analyzed using logistic regression to discover which dominant variable stimulates unhealthy behavior. The research result reveals that the variable Public Health Center Officers? behavior as fogging supervisor is the most dominant factor aside from work time and availability of PPE facilities, both also have a relation towards the behavior of fogging personnel. For the Health Department, it is advised to provide training and adequate facilities for Public Health Center officer, provide the budget to ramp-up PPE facilities, provide training to inexperienced fogging personnel, and also to develop an SOP for fogging. For Public Health Center officer, it is advised to conduct strict controls and also to provide prime examples for the fogging personnel. For the fogging personnel, it is advised to follow Public Health Center offcer that showcase good conduct.
Avian influenza pertama kali menyerang manusia dilaporkan di Hong Kong pada tahun 1997. di Indonesia, penyakit ini pertamakali ditemukantezjadi pada unggas di Pekalongan dan Tangerang pada Agustus 2003, dan kasus pada manusia pertama di Indonesia teljadi di bulan Juli 2005 di Kabupaten Tangerang. Berdasarkan laporan Departemen Kesehatanke WHO, sampai tanggal 31 Januari 2008 tercacat ada 124 kasus confirmed avian influenza dan I 01 kematian akibat avian influenza, atau sekitar 35% kasus dari total kasus di dunia dan 45% dari total kematian akibat avian influenza di dunia. Angka ini adalah angka tertinggi di dunia. Daritotal kasus yang ada di Indonesia, 67,7% kasus berada di DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Selama ini yang dianggap deterrninan terjadinya avian influenza adalah kontak dengan unggas atau perilaku kondisi tertentu yang berhubungan dengan unggas, namun temuan ilmiah yang menunjukkan hal tersebut masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui deterrninan yang berhubungan dengan kejadian avian influenza di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Jenis penelitian ini adalah analitik dengan menggunakan metode kasus kontrol. Data primer dikumpulkan dengan melakukan wawancara terhadap responden. Sedangkan data sekunder diambil dari Depkes/DinasKesehatan Propinsil Dinas Kesehatan Propinsi Kahupaten di mana terdapat kasus avian influenza. Sampel seluruhnya berjumlah 201 orang dengan perhandingan kasus dengan kontrol adalah 1:2. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji multiplelogistic regression. Hasil analisis diperolehhubunganyang signifikanantaraumurdengankejadianavianinfluenza setelah dikontrol kontak dengan unggas dan pekerjaan, nilaip value 0.000, OR 20.117, 95% CI 7.731-52.345. Variabel kontak dengan unggas juga berhubungan dengankejadian avian influenza, p value 0.014, OR 9.060, 95% CI 1.571-52.249, setelah dikontrololeh umur dan pekeijaan. Variabel pekerjaan juga berhubungan dengan kejadian avian influenza, pvalue 0.041, OR 3.818, 95% CI 1.059-13.767, setelah dikontrol umur dan kontak dengan unggas. Dari penelitian ini disarankan perlunya rancangan program pencegahan avian influenza dalam bentuk peraturan daerah (perda) yang implementatif dan secara jelas mengatur keterlibatan berbagai sektor, Pengawasan yang ketal terhadap sistem peternakan dimasyarakat dan mengintensifkan pelaksanaan vaksinasi terutama pada peternakan sektor4, adanya penelitian lanjutan, perlunya peningkatan pengetahuan tentang avian influenza di masyarakat dan penerapkan pola peternakan dan lingkungan yang sehat.
The first documentedavian influenza cases in humans originatedin Hong Kong in 1997. In Indonesia, avian influenza cases for the first time documented inpoultryin Pekalongan and Tangerang in August 2003, and in humans cases on July 2005 in Tangerang district Based on reported of Ministry of Health to WHO until on 31 Januari 2008, there were 124 conflrnled avian influenza cases and I 01 died because of avian influenza, or around 35% and 45% cases in the world died because of avian influenza, This is the higher number in the world. Cases total in Indonesia,67.7%casesarein DKI Jakarta,Jawa Barat and Banten province. During a day, contact with poultry is assumed as determinant of avian influenza disease, however study about this condition is very limited. The purpose of study is to understand about determinant of avian influenza disease in DKI Jakarta, Jawa Barat and Banten province, 2006-2008. Study desain is analysis with case control method. Primary data was collected by interview respondent. Secondary data taken by Ministry of Health Health Service Province/Health Service District where reported avian influenza cases. The total sample were 201 responden with comparison among case and control is I :2. Data analysis using multiple logistic regression analysis. Results study finding association between an age and avian influenza disease after controled by contact with poultry andoccupation, pvalue0.000, OR20.117, 95%CI7.731-52.345. Contact with poultry variabe1 also related with avian influenza disease, p value 0.014, OR 9.060, 95% CI 1.571-52.249, after contro1ed by an age and occupation. Occupation variabe1 also related with avian influenza disease, p value 0.041, OR 3.818, 95% CI 1.059-13.767, after controled by an age and contact with poultry. This research recomended to government to make rule (in order to protect community from disease), quality control of backyard, other research in the future and improvement of community knowledge about health environment.
