Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Gizi lebih merupakan suatu masalah gizi yang prevalensinya cenderung meningkat. Berdasarkan survei pendahuluan pada bulan Mei 2006 terhadap 36 mahasiswa program pascasarjanan FKM UI didapatkan 19.4% mahasiswa mempunyai status gizi lebih. Sebelumnya penelitian yang dilakukan oleh Lianawati (2005) terhadap mahasiswa pascasarjana FKM UI menemukan prevalensi gizi lebih sebesar 36.8%. Keadaan tersebut tentunya berbahaya dan mencemaskan karena dapat berdampak pada timbulnya penyakit degeneratif seperti penyakit jantung koroner (PJK) di masa mendatang. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara konsumsi makanan (energi, karbohidrat, lemak, protein), umur, jenis kelamin, suku, pendidikan, pengeluaran, status perkawinan, dan status tempat tinggal dengan status gizi mahasiswa pascasarjana (S2) FKM UI angkatan 2006 dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan disain crosssectional yang dilakukan pada tanggal 5 Mei-2 Juni 2007. Jumlah sampel adalah 146 orang berumur 22-48 tahun. Instrumen yang digunakan antara lain kuesioner, timbangan seca, mikrotois, dan food model. Pengumpulan data makanan menggunakan metoda food record 2 hari. Data dianalisis secara univariat, bivariat, dan stratifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata IMT adalah 23.6 kg/m2 dan prevalensi gizi lebih sebesar 33.6%. Bila dilihat dari tingkat konsumsi makanan, maka rata-rata energi yang dikonsumsi adalah 1576.9 Kalori yang mana 48% berasal dari karbohidrat, 37.0% dari lemak, dan 15.0% dari proein. Terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi energi, konsumsi karbohidrat, jenis kelamin, dan status perkawinan dengan status gizi mahasiswa. Hasil analisis stratifikasi menunjukkan bahwa jenis kelamin dan status perkawinan merupakan variabel konfonding terhadap konsumsi makanan dan status gizi. Guna mencegah dan menanggulangi masalah gizi lebih, maka diperlukan upaya-upaya seperti peningkatan KIE (komunikasi, informasi, dan edukasi) gizi dan penelitian lanjutan berdasarkan faktor lain yang belum diteliti.
Overnutrition is one of nutritional problems that tends to increase in adult. A rapid survey conducted in May 2006 to 36 postgraduate students showed that 19.4% of them were overnutrition. Lianawati (2005) also showed that 36.8% of postgraduate students at FKM UI classified as overnutrition. These situation, of course, harmed and worried because its impact on emerged degenerative disease such as coronary heart disease (CHD) in the future. The study aimed to find out the relationships between dietary intake (energy, carbohydrate, fat, and protein), age, sex, ethnic, and social-economic factors with nutritional status in postgraduate students at FKM UI. This study used cross sectional design, a quantitative approach, conducted between 5th May-2nd June 2007. Total sample were 146 students aged 22-48 years old. The instrument of the study were questionnaire, seca electronic digital scale, microtoise, and a food model. Dietary data collection used a two-day food record. The data were analyzed through univariate, bivariate, and stratification-analyses. This study showed that average BMI was 23.6 kg/m2 and the prevalence of overnutrition was 33.6%. The average of total energy intake was 1576.9 Calories out of which 48% comes from carbohydrates, 37.0% from fat, and 15% from protein. There was relations between nutritional status and total energy, % energy from carbohydrate, sex, and marital status. Stratification analysis showed that sex and marital status were confounding factors to nutritional status. To prevent and treatment overnutrition some efforts like increasing a pockage of communication, information, and education training; health promotion; and following study based on others factors need to be done.
Penggunaan kondom di Indonesia masih sangat rendah meskipun tingkat pengetahuan masyarakat terhadap kontrasepsi ini cukup tinggi. Kondisi tersebut juga ditemukan pada kelompok berpendidikan tinggi, termasuk mahasiswa pascasarjana. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran kesetaraan gender, afeksi, dan kognisi terhadap intensi penggunaan kondom pada mahasiswa pria pascasarjana Universitas Indonesia. Penelitian menggunakan desain potong lintang dengan 251 responden yang dipilih melalui teknik sampel sukarela. Data dikumpulkan secara daring menggunakan instrumen Condom Use Attitude Scale (CUAS) dan Gender Equitable Men Scale (GEMS), lalu dianalisis dengan regresi multivariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa afeksi, kognisi, rumpun ilmu, dan status pekerjaan berhubungan signifikan dengan intensi penggunaan kondom. Kesetaraan gender tidak terbukti berhubungan langsung, namun tetap relevan dalam memengaruhi dinamika sikap. Faktor afeksi merupakan prediktor dominan, menegaskan bahwa aspek emosional lebih kuat memengaruhi intensi dibandingkan aspek kognitif. Temuan ini menekankan pentingnya strategi promosi kesehatan reproduksi yang menyeimbangkan pendekatan rasional dan emosional serta mempertimbangkan latar belakang sosial-akademik mahasiswa untuk meningkatkan keterlibatan pria dalam penggunaan kontrasepsi.
Condom use in Indonesia remains very low despite the population’s high level of knowledge about this contraceptive method. A similar condition is found among highly educated groups, including postgraduate students. This study aimed to analyze the role of gender equality, affect, and cognition on condom use intention among male postgraduate students at Universitas Indonesia. A cross-sectional design was applied, involving 251 respondents selected through voluntary sampling. Data were collected online using the Condom Use Attitude Scale (CUAS) and the Gender Equitable Men Scale (GEMS), and analyzed with multivariable regression. The findings revealed that affect, cognition, academic discipline, and employment status were significantly associated with condom use intention. Gender equality was not directly significant but remained relevant in shaping attitudes. Affect emerged as the dominant predictor, indicating that emotional factors influence intention more strongly than cognitive aspects. These results highlight the need for reproductive health promotion strategies that balance rational and emotional approaches while considering students socio-academic backgrounds to strengthen male participation in contraceptive use.
