Ditemukan 9 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Iram Barida Maisya; Pembimbing: Ratu Ayu DS.
M-905
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
D3 - Laporan Magang Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Bul.Pen. Sistem Kes. (Bulitsiskes), Vol.14, No.1, Jan. 2011, hal: 40-48
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Gurendro Putro, Samad, Iram Barida Maisya
JEK Vol.11, No.1
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2012
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Iram Barida Maisya, Andi Susilowati
JKR Vol.5, No.3
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2014
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yuyun Umniyatun ... [et al.]
MPPK Vol.29, No.2
Jakarta : Balitbangkes Kemenkes RI, 2019
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Iram Barida Maisya; Pembimbing: Indang Trihandini
S-3322
Depok : FKM UI, 2003
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Iram Barida Maisya; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Pujiyanto, Amila Megraini, Felly P. Sanewe, Yuana Wiryawan
T-2685
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rachma Wenidayanti Prasetyo; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Trisari Anggondowati, Ratna Djuwita, Iram Barida Maisya
Abstrak:
Read More
Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Terjadi penurunan angka stunting tiap tahunnya, namun masih jauh dari target yang telah ditetapkan secara nasional. Kawasan Timur Indonesia (KTI) masih jauh tertinggal dari segi akses layanan dasar seperti kesehatan maupun pendidikan. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Data berasal dari data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Populasi dalam penelitian ini adalah balita berusia 6 – 59 bulan yang berada di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Stunting dalam penelitian ini didefinisikan sebagai apabila nilai perhitungan z-score < - 2 SD. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat, stratifikasi dan multivariat menggunakan cox regression untuk menghitung nilai PR. Prevalensi stunting paling tinggi di Kawasan Timur Indonesia berada di provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu sebesar 36,43%. Faktor yang secara signifikan berhubungan dengan stunting adalah usia anak, jenis kelamin anak, berat badan lahir, panjang badan lahir, akses layanan kesehatan, akses Air Minum, akses Sanitasi dan indeks pembangunan manusia dengan faktor yang paling dominan adalah akses layanan kesehatan (PR = 1,36; 95% CI = 1,25 – 1,48). Stunting di Kawasan Timur Indonesia masih cukup tinggi jika dibandingkan dengan Kawasan Barat Indonesia sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut sebagai upaya pencegahan dari stunting.
Stunting remains a major public health issue in Indonesia. Although the national stunting rate has declined each year, it is still far from the target set by the government. The Eastern Indonesia Region (Kawasan Timur Indonesia/KTI) continues to lag behind in terms of access to basic services such as healthcare and education. This study employed a cross-sectional analytical design. The data were sourced from the 2023 Indonesia Health Survey (SKI). The study population consisted of children under five years old (aged 6–59 months) living in Eastern Indonesia. Stunting was defined as having a height-for-age z-score below -2 standard deviations. Analysis included univariate, bivariate, stratified, and multivariate approaches using Cox regression to estimate prevalence ratios (PR). The highest prevalence of stunting in Eastern Indonesia was found in East Nusa Tenggara Province, at 36.43%. Factors significantly associated with stunting included child’s age, sex, birth weight, birth length, access to health services, access to drinking water, sanitation access, and the Human Development Index. The most dominant factor was access to health services (PR = 1.36; 95% CI = 1.25–1.48). The prevalence of stunting in Eastern Indonesia remains considerably higher compared to Western Indonesia, highlighting the need for further research as part of efforts to prevent stunting.
T-7345
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Meirica Rosaline Safitri; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Helda, Iram Barida Maisya, Septyana Choirunisa
Abstrak:
Read More
Komplikasi persalinan merupakan salah satu penyumbang morbiditas maternal di Indonesia. Kualitas kunjungan antenatal care (ANC) berperan penting dalam pencegahan komplikasi, namun bukti empiris di tingkat populasi nasional masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kunjungan ANC sesuai standar dengan kejadian komplikasi persalinan di Indonesia menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia 2023. Standar K4 didefinisikan sebagai minimal empat kali kunjungan ANC selama kehamilan, sedangkan K6 mengikuti jumlah kunjungan standar enam kali Permenkes 21 Tahun 2021 yang menambahkan pemeriksaan dokter dan ultrasonografi. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah perempuan usia 10–54 tahun yang memiliki riwayat persalinan tunggal pada periode 1 Januari 2018 sampai 25 September 2023. Kriteria eksklusi adalah ibu yang mengalami keguguran dan responden dengan data yang tidak lengkap pada variabel utama, serta data komplikasi yang tidak valid. Desain penelitian adalah potong lintang dan analisis dilakukan menggunakan uji chi-square untuk bivariat serta regresi Cox constant time untuk multivariat guna memperoleh Prevalence Ratio (PR) dengan interval kepercayaan 95%. Kovariat yang dikontrol meliputi usia ibu, pendidikan, pekerjaan, status ekonomi, lokasi tempat tinggal, klasifikasi wilayah berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia, paritas, faktor risiko kehamilan, tempat persalinan, penolong persalinan, metode persalinan, gangguan kehamilan, dan pengetahuan tanda bahaya. Hasil menunjukkan proporsi komplikasi persalinan sebesar 21,9%, dengan cakupan ANC K4 sebesar 45,55% dan ANC K6 sebesar 5,35%. Model akhir menunjukkan bahwa kelompok ANC tidak sesuai standar memiliki risiko komplikasi lebih rendah (aPR = 0,855; 95% CI: 0,819–0,891; p<0,001), dan kelompok tidak ANC lebih rendah daripada kedua kelompok (aPR = 0,327; 95% CI: 0,277–0,387;p<0,001). Ditemukan efek modifikasi oleh gangguan kehamilan dan interaksi ANC dengan gangguan kehamilan. Hasil juga ini menunjukkan adanya confounding by indication, di mana ibu berisiko tinggi lebih cenderung melakukan kunjungan ANC. Mutu ANC secara agregat belum menunjukkan efek protektif konsisten terhadap komplikasi persalinan.
Delivery complications represent one of the leading contributors to maternal morbidity in Indonesia. The quality of antenatal care (ANC) visits plays an essential role in preventing complications; however, empirical evidence at the national population level remains limited. This study aims to analyze the association between standardized ANC visits and delivery complications in Indonesia using data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). The K4 standard was defined as a minimum of four ANC visits during pregnancy, while K6 followed the Ministry of Health Regulation No. 21 of 2021 requiring six visits including physician examinations and ultrasound assessments. The inclusion criteria were women aged 10–54 years with singleton live births between January 1, 2018 and September 25, 2023. Exclusion criteria included women who experienced miscarriage and respondents with incomplete data on key variables or invalid complication data. This cross-sectional study utilized chi-square tests for bivariate analysis and Cox regression constant time models for multivariate analysis to calculate prevalence ratios (PR) with 95% confidence intervals. Covariates controlled included maternal age, education, employment, socioeconomic status, place of residence, Human Development Index (HDI)-based regional classification, parity, pregnancy risk factors, place of delivery, delivery attendant, delivery method, pregnancy complaints, and danger sign knowledge. The results showed a proportion of delivery complications of 21.9%, with ANC K4 coverage at 45.55% and ANC K6 at 5.35%. The final model indicated that mothers with inadequate ANC had a lower risk of complications (aPR = 0.855; 95% CI: 0.819–0.891; p < 0.001), and those with no ANC had an even lower risk (aPR = 0.327; 95% CI: 0.277–0.387; p < 0.001). An effect modification by pregnancy-related disorders and an interaction between ANC and pregnancy-related disorders were observed. These findings also suggest the presence of confounding by indication, where high-risk mothers are more likely to seek ANC visits. Overall, the aggregate quality of ANC has not shown a consistent protective effect against delivery complications.
T-7309
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
