Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Kesmas ( Jur. Kesmasnas ), Vo. 7, No.1, Agt. 2012: hal. 37-43. ( ket. ada di bendel 2012- 2013)
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kesmas ( Jur. Kesmasnas ), Vo. 7, No.1, Agt. 2012: hal. 37-43. ( ket ada di bendel majalah campuran no. 19 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eflita Meiyetriani; Pembimbing: Bachtiar, Adang; Mulyadi, Dede
L-213
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
S1 - Laporan Magang   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eflita Meiyetriani; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Besral, Sjarifah Salmah, Budi Iman Santoso
T-3516
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eflita Meiyetriani; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Dede Mulyadi
S-4833
Depok : FKM-UI, 2006
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yovita Dewi Pramesti; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Iwan Ariawan, Eflita Meiyetriani
Abstrak: Penelitian ini membahas tentang hubungan status sosial ekonomi rumah tangga dengan persalinan seksio sesarea dengan menggunakan data pasien BPJS Kesehatan Tahun 2015/2016. Disain studi penelitian ini menggunakan penelitian potong lintang dengan persalinan seksio sesarea sebagai variable dependen dan status sosial ekonomi rumah tangga sebagai variable independen. Persalinan seksio sesarea diukur dengan melihat diagnosis primer yang tercatat pada database BPJS Kesehatan hingga akhir tahun 2016. Sementara itu, status sosial ekonomi rumah tangga diukur dengan melihat status kepesertaan BPJS Kesehatan, dimana peserta PBI dikategorikan sebagai kurang dan peserta Non-PBI dikategorikan sebagai cukup. Analisis menggunakan teknik regresi logistic untuk menilai pengaruh status sosial ekonomi rumah tangga terhadap persalinan, persalinan seksio sesarea dengan mengendalikan variable pengganggu, termasuk umur pasien, wilayah dan kepemilikan fasilitas kesehatan. Sampel penelitian sebanyak 74.103 persalinan kehamilan tunggal tahun 2015/2016.
Read More
S-10781
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Clara Nurlailya Putri; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dien Anshari, Eflita Meiyetriani
Abstrak:
Obesitas meningkat dari tahun ke tahun baik di tingkat dunia maupun di Indonesia terutama pada anak-anak dan remaja. Di Indonesia, jika dibandingkan dengan anak-anak, peningkatan obesitas jauh lebih besar pada remaja. Satu diantara faktor risiko lain penyebab obesitas adalah konsumsi makanan cepat saji yang sering. Penelitian ini membahas hubungan antara sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku yang merupakan variabel yang ada pada Theory Of Planned Behavior (TPB) dengan pola konsumsi makanan cepat saji (fast food) pada pelajar di SMPN 1 Surabaya dengan menggunakan kuesioner Food Frequency Questionnaire (FFQ). Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional dan dilakukan pada bulan Oktober – November 2022. Sampel pada penelitian ini sebanyak 293 pelajar SMP yang diambil dari semua tingkat yaitu kelas 7, kelas 8, dan kelas 9. Pengumpulan data menggunakan kuesioner FFQ dan kuesioner yang dikembangkan sendiri oleh peneliti serta analisis data yang digunakan adalah chi-square. Hasil penelitian menunjukkan 162 (55,3%) pelajar sering mengkonsumsi makanan cepat saji. Ketiga variabel dalam penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan secara statistik yaitu sikap (P-Value < 0,001), norma subjektif (P-Value < 0,001), kontrol perilaku (P-Value < 0,001). Kesimpulan penelitian ini adalah sebagian besar pelajar memiliki pola konsumsi makanan cepat saji yang sering dan ketiga variabel yang ada pada TPB berhubungan secara signifikan. Makanan cepat saji yang paling banyak dikonsumsi yaitu fried chicken, donat, french fries, dan bento. Variabel sikap menghasilkan sikap positif terhadap makanan cepat saji dikarenakan porsi makanan cepat saji yang besar dan mengenyangkan, rasa yang enak, penyajian yang menggunggah selera, praktis dan hemat waktu, serta restaurant makanan cepat saji yang bersih, bagus, dan nyaman untuk mengerjakan tugas, sedangkan dukungan pada variabel norma subjektif berasal dari dukungan teman sebaya dan kontrol perilaku pada pelajar menghasilkan kontrol perilaku yang kuat dikarenakan terpaparnya iklan (tawaran promo dan iklan), kemudahan akses (jarak, handphone, aplikasi food delivery online), dan pengetahuan. Dari hasil analisis yang ada diperlukan upaya preventif baik dari pihak sekolah, orang tua, tenaga promosi kesehatan, dinas pendidikan, dan dinas kesehatan setempat untuk meminimalisir konsumsi makanan cepat saji pada pelajar.

Obesity is increasing year by year both globally and in Indonesia, especially in children and adolescents. In Indonesia, when compared to children, the increase in obesity is much greater in adolescents. One of the other risk factors for obesity is the frequent consumption of fast food. This study discusses the relationship between attitudes, subjective norms, and behavioral control which are variables in the Theory Of Planned Behavior (TPB) with fast food consumption patterns in students at SMPN 1 Surabaya using the Food Frequency Questionnaire (FFQ). This research is a quantitative study with a cross sectional design and was conducted in October - November 2022. The sample in this study was 293 junior high school students taken from all levels, namely grade 7, grade 8, and grade 9. Data collection used FFQ questionnaires and questionnaires developed by researchers and data analysis used was chi-square. The results showed 162 (55.3%) students often consume fast food. The three variables in the study showed a statistically significant relationship, namely attitude (P-Value < 0.001), subjective norms (P-Value < 0.001), behavioral control (P-Value < 0.001). The conclusion of this study is that most students have frequent fast food consumption patterns and the three variables in TPB are significantly related. The most consumed fast food is fried chicken, donuts, french fries, and bento. The attitude variable produces a positive attitude towards fast food due to large and filling portions of fast food, good taste, appetizing presentation, practical and time-saving, and fast food restaurants that are clean, good, and comfortable for doing assignments, while support for subjective norm variables comes from peer support and behavioral control in students produces strong behavioral control due to exposure to advertisements (promo offers and advertisements), ease of access (distance, cellphones, online food delivery applications), and knowledge. From the results of the existing analysis, preventive efforts are needed from both schools, parents, health promotion personnel, education offices, and local health offices to minimize fast food consumption in students.
Read More
S-11196
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eflita Meiyetriani; Promotor: Budi Utomo; Kopromotor: Ratu Ayu Dewi Sartika, Dian Kusuma; Penguji: Besral, Budi Iman Santoso, Hartono Gunardi, Helda Khusun, Alimoeso Sudibyo, Dwi Nastiti Iswarawanti
Abstrak:

Periode seribu hari pertama kehidupan (1000 HPK) merupakan masa yang sangat rentan terjadinya berbagai masalah gizi yang berdampak terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Salah satu bentuk gangguan pertumbuhan yang sering muncul pada periode ini adalah stunting. Kelahiran risiko tinggi, khususnya kelahiran “4 TERLALU” (terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat, terlalu banyak) berperan penting dalam meningkatkan risiko morbiditas pada ibu dan anak. Sejumlah studi mengaitkan kelahiran “4 TERLALU” terhadap stunting, namun demikian temuan mengenai hal ini masih terbatas, tidak konsisten, dan umumnya hanya mencakup anak usia balita. Penelitian ini menggunakan data longitudinal Indonesia Family Life Survey (IFLS) tahun 2000, 2007, dan 2014 di 13 provinsi dengan 1.401 anak usia 0–59 bulan yang diikuti hingga usia remaja untuk menilai pengaruh kelahiran 4 TERLALU terhadap status stunting dan perubahan status stunting. Status stunting ditentukan dengan z skor PB/U atau TB/U berdasarkan standar WHO 2007, dan perubahan status dikelompokkan menjadi remained normal, height faltering, catch-up growth, dan remained stunted. Analisis dilakukan menggunakan Generalized Estimating Equation (GEE) untuk menilai dampak kelahiran “4 TERLALU” terhadap status stunting dan multinomial regresi logistik untuk menilai dampak kelahiran “4 TERLALU” terhadap perubahan status stunting di usia sekolah dan usia remaja. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunting tertinggi pada usia balita (39%), menurun pada usia sekolah (35%), dan mencapai 25% pada remaja. Proporsi kelahiran terlalu muda sebesar 12,7%, terlalu tua 9,6%, terlalu dekat 6,8%, terlalu banyak 16,2%, dengan kelahiran risiko tinggi ≥1 sebesar 36,1% dan ≥2 sebesar 8,7%. Kelahiran terlalu dekat (<24 bulan) secara konsisten meningkatkan risiko stunting sejak balita hingga remaja, sedangkan kelahiran terlalu muda, terlalu tua, dan terlalu banyak tidak menunjukkan hubungan signifikan. Faktor lain yang berpengaruh antara lain usia anak pada saat baseline, berat badan lahir rendah, pendidikan ibu rendah, tinggi badan ibu ≤150 cm, tinggi badan ayah ≤161,9 cm, serta kondisi sosioekonomi dan lingkungan, di mana anak dari keluarga kuintil aset 3 memiliki risiko 21% lebih rendah dibanding kuintil 1. Analisis perubahan status stunting menunjukkan bahwa jarak kelahiran terlalu dekat meningkatkan risiko anak menjadi stunted (height faltering) dan remained stunted. Temuan ini menegaskan bahwa stunting bersifat dinamis dan kelahiran terlalu dekat berkontribusi besar pada gangguan pertumbuhan linier jangka panjang, sehingga diperlukan intervensi gizi, kesehatan reproduksi, dan pemantauan pertumbuhan yang berkesinambungan sejak masa sebelum konsepsi hingga masa remaja.


 

The first 1,000 days of life (1,000 HPK/Hari Pertama Kehidupan) represents a critical window during which children are highly vulnerable to various nutritional problems that can adversely affect their growth and development. Stunting is one of the most common forms of growth faltering that occurs during this period. Births with high-risk factors, particularly those related to the "4 Too's" (maternal age being too young or too old, a short birth interval, and numerous previous births), greatly increase the likelihood of illness among mothers and their children. Although several studies have linked the "4 Too's" birth characteristics to stunting, the evidence remains limited, inconsistent, and is generally confined to children under five years of age. This study used longitudinal data from the Indonesia Family Life Survey (IFLS) conducted in 2000, 2007, and 2014 across 13 provinces. A cohort of 1,401 children aged 0-59 months was followed through adolescence to assess the influence of the "4 Too's" birth characteristics on stunting status and its longitudinal changes. Stunting status was determined using height-for-age z-scores (HAZ) based on the 2007 WHO standards. Stunting status changes were classified as normal, height faltering, catch-up growth, and stunted persistence. Generalized Estimating Equations (GEE) were used to examine the impact of the 'Four Too' birth factors on stunting, while multinomial logistic regression was employed to investigate their effect on changes in stunting during school age and adolescence. The findings showed that stunting prevalence was most common among 5- year-olds (39%), decreased to 35% during school age, and dropped to 25% in adolescence. The proportions of high-risk births were as follows: 12.7% to mothers who were too young, 9.6% to mothers who were too old, 6.8% with a short birth interval, and 16.2% with high parity. The prevalence of births with at least one risk factor was 36.1%, while 8.7% had two or more risk factors. A birth interval of less than 24 months was constantly linked to an elevated risk of stunting from early childhood through adolescence, while no noteworthy correlation was found between births to mothers of young or older age and those of high parities. The other significant risk factors were the child's age at baseline, low birth weight, low levels of maternal education, maternal height of 150 cm or less, and paternal height of 161.9 cm or less. Socioeconomic factors also played a role, with children from the third asset quintile having a 21% lower risk of stunting than those from the first quintile. Analysis of the changes in stunting status revealed that short birth intervals increased the risk of a child experiencing height faltering or remaining stunted. These findings affirm the dynamic nature of stunting and highlight that a short birth interval is a major contributor to long-term linear growth faltering. Consequently, sustained nutritional and reproductive health interventions, along with continuous growth monitoring, are imperative from the pre-conception period through adolescence to break the intergenerational cycle of stunting.

Read More
D-597
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive