Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
A. Muchtar Nasir; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Helda, Nida Rohmawati, Amir Su`udi
T-5034
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tyas Permatasari R.P; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, A. Muchtar Nasir
Abstrak:
Sejak kemunculannya di Indonesia pada tahun 2022, mpox menjadi perhatian kesehatan masyarakat. Hingga saat ini penelitian yang mengeksplorasi faktor risiko kejadian mpox di Indonesia masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor risiko kejadian mpox di Indonesia pada tahun 2023. Penelitian ini merupakan studi cross sectional dengan memakai data sekunder yang bersumber dari formulir penyelidikan epidemiologi dan klinis kasus mpox yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan RI. Sampel penelitian terdiri atas 73 kasus konfirmasi dan 139 kasus discarded. Analisis multivariat mengidentifikasi dua faktor yang mempengaruhi kejadian mpox di Indonesia pada tahun 2023, yaitu jenis kelamin dan status HIV. Strategi penanggulangan mpox perlu menekankan pada edukasi yang efektif, peningkatan deteksi dini pada kelompok berisiko, dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan melalui metode pengumpulan data yang lebih sensitif dan akurat.

Since its emergence in Indonesia in 2022, mpox has raised public health concerns. Up to this point, research examining the risk factors for mpox in Indonesia remains quite limited. This research objective is to identify the risk factors for mpox in Indonesia in 2023. This research is a cross-sectional study that utilizes secondary data obtained from the epidemiological and clinical investigation form for mpox cases provided by the Indonesian Ministry of Health. The sample for the study included 73 confirmed cases and 139 discarded cases. Multivariate analysis revealed two factors that influenced the incidence of mpox in Indonesia in 2023, specifically gender and HIV status. Mpox control strategies need to emphasize effective education, increasing early detection in at-risk groups, and improving the quality of health services through more delicate and accurate data collection methods.
Read More
S-11870
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marzalyla Putri Hendriansyah; Pembimbing: Helda; Penguji: Renti Mahkota, A Muchtar Nasir
Abstrak:
Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit metabolik kronis yang menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Pada perempuan, risiko DMT2 dapat meningkat seiring bertambahnya usia, perubahan komposisi tubuh, serta penumpukan lemak abdominal. Lingkar perut merupakan salah satu indikator antropometri yang digunakan untuk menilai obesitas sentral, yaitu kondisi penumpukan lemak di area perut yang berkaitan dengan gangguan metabolik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan obesitas sentral dengan diabetes melitus tipe 2 pada perempuan usia 15 tahun ke atas di Indonesia berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan sumber data sekunder SKI 2023 yang mencakup seluruh wilayah Indonesia. Sampel akhir dalam penelitian ini berjumlah 320.601 perempuan usia 15 tahun ke atas. Variabel dependen adalah diabetes melitus tipe 2, sedangkan variabel independen utama adalah obesitas sentral yang dikategorikan menjadi obesitas sentral dan tidak obesitas sentral. Analisis data dilakukan menggunakan Complex Samples Cox Regression dengan waktu konstan untuk mengetahui hubungan obesitas sentral dengan diabetes melitus tipe 2 setelah melakukan kontrol pada variabel perancu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata lingkar perut responden adalah 81,77 cm (95% CI: 81,68–81,85). Lebih dari separuh responden mengalami obesitas sentral, yaitu sebesar 53,8% (95% CI: 53,5–54,1). Perempuan dengan obesitas sentral memiliki prevalensi DMT2 sebesar 2,21 kali dibandingkan perempuan yang tidak mengalami obesitas sentral setelah dikontrol usia dan IMT (aPR=2,21; 95% CI: 1,95–2,52; p<0,001). Temuan ini menekankan pentingnya pengukuran lingkar perut secara rutin, baik untuk skrining kelompok berisiko maupun pemantauan pasien diabetes melitus tipe 2, disertai pola makan sehat dan aktivitas fisik teratur sebagai upaya pencegahan dan pengendalian diabetes melitus tipe 2.

Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a chronic metabolic disease and remains a major public health problem in Indonesia. Among women, the risk of T2DM may increase with age, changes in body composition, and abdominal fat accumulation. Waist circumference is an anthropometric indicator used to assess central obesity, a condition characterized by fat accumulation in the abdominal area that is associated with metabolic disorders. This study aimed to examine the association between central obesity and type 2 diabetes mellitus among women aged 15 years and above in Indonesia based on data from the 2023 Indonesian Health Survey (IHS). This study used a cross-sectional design with secondary data from the 2023 IHS, which covered all regions of Indonesia. The final sample consisted of 320,601 women aged 15 years and above. The dependent variable was type 2 diabetes mellitus, while the main independent variable was central obesity, categorized into central obesity and non-central obesity. Data were analyzed using Complex Samples Cox Regression with constant time to determine the association between central obesity and type 2 diabetes mellitus after controlling for confounding variables. The results showed that the mean waist circumference of respondents was 81.77 cm (95% CI: 81.68–81.85). More than half of the respondents had central obesity, accounting for 53.8% (95% CI: 53.5–54.1). Women with central obesity had a 2.21 times higher prevalence of T2DM than those without central obesity after controlling for age and BMI (aPR=2.21; 95% CI: 1.95–2.52; p<0.001). These findings emphasize the importance of routine waist circumference measurement for screening high-risk groups and monitoring patients with T2DM, along with healthy eating patterns and regular physical activity as part of T2DM prevention and control efforts.
Read More
S-12471
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cathrine Jane David; Pembimbing: Wahyu Septiono; Penguji: Lhuri D.Rahmartani, A Muchtar Nasir
Abstrak:
Latar Belakang: Penyakit kardiovaskular (PKV) merupakan penyebab mortalitas utama. Risiko insidensi PKV telah meningkat secara signifikan sejak fase asimtomatik prediabetes akibat disfungsi endotel dan inflamasi kronik. Namun, studi berskala nasional yang memetakan dan membandingkan risiko kardiovaskular Framingham antara populasi normoglikemia dan prediabetes di Indonesia masih belum tersedia. Metode: Penelitian kuantitatif ini memanfaatkan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Sampel penelitian terdiri dari 12.821 penduduk dewasa berusia ≥30 tahun yang memenuhi kriteria inklusi. Estimasi probabilitas risiko PKV dalam 10 tahun mendatang dianalisis menggunakan algoritma Framingham Risk Score (FRS) dan diklasifikasikan ke dalam tingkat risiko rendah, menengah, dan tinggi. Hasil: Rata-rata skor risiko FRS pada kelompok prediabetes (10,98 ± 5,8) terbukti secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok normoglikemia (8,83 ± 6,1) dengan nilai p<0,001. Mayoritas kelompok normoglikemia masih menempati kategori risiko rendah (71,5%). Sebaliknya, proporsi populasi prediabetes bergeser secara progresif dan menumpuk pada kategori risiko menengah sebesar 40,1% dan risiko tinggi yang mencapai 42,5%  Kesimpulan:. Kelompok prediabetes terbukti memiliki akumulasi risiko kardiovaskular yang jauh lebih tinggi dibandingkan populasi normoglikemia. Fase ini merupakan periode kritis (window of opportunity) yang mendesak fasilitas layanan primer untuk mengintegrasikan deteksi dini berkala dengan pemantauan risiko digital, guna memutus rantai progresivitas gangguan glikemik sebelum berkembang menjadi komplikasi kardiovaskular.

Background: Cardiovascular disease (CVD) is a leading cause of mortality. The incidence risk of CVD increases significantly starting from the asymptomatic phase of prediabetes due to endothelial dysfunction and chronic inflammation. However, a national-scale study mapping and comparing the Framingham cardiovascular risk between normoglycemic and prediabetic populations in Indonesia is currently unavailable. Methods: This quantitative study utilized secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). The study sample consisted of 12,821 adults aged ≥30 years who met the inclusion criteria. The estimated probability of 10-year CVD risk was analyzed using the Framingham Risk Score (FRS) algorithm and classified into low, intermediate, and high-risk categories. Results: The mean FRS risk score in the prediabetic group (10.98 ± 5.8) was significantly higher compared to the normoglycemic group (8.83 ± 6.1) with a p-value
Read More
S-12334
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive