Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 14 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nurhidayati Fawzani, Atik Triratnawati
MSK Vol.9, No.1
Depok : DRPM UI, 2005
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ana Nurhidayati; Pembimbing: Tri Krianto
M-629
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
D3 - Laporan Magang   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nuzuliyati Nurhidayati; Pembimbing: Farida Mutiarawati Tri Agustina
S-2365
Depok : FKM UI, 2001
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurhidayati; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih
M-1146
Depok : FKM UI, 2002
D3 - Laporan Magang   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
penulis, Lucy Widasari, Frima Elda, Rohidin Sudarno, Brigita Puridawaty, Sabaria Manti Battung, Prastuti Soewondo; editor, Abdul Razak Thaha, Fasli Jalal, Evi Nurhidayati, Redaksi KPG
612.3 STU
Jakarta : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2023
Buku (pinjaman 1 minggu)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annisa Nurhidayati; Pembimbing: Milla Herdayati, Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Aries Hamzah, Balqis
Abstrak: Indonesia menjadi salah satu negara yang mengkonsumsi rokok tertinggi di dunia. Rokok bukan hanya populer dikalangan remaja maupun dewasa, namun dikalangan lanjut usia juga masih ditemukan. Sebanyak 27,6% penduduk usia lanjut menjadi perokok setiap hari. Intensitas merokok di kalangan lanjut usia pun mengalami kenaikan menjadi 23,5%. Dampak yang ditimbulkan oleh rokok untuk kalangan lanjut usia sangat berisiko pada kesehatan karena menimbulkan komplikasi jangka panjang. Berhenti merokok merupakan salah satu hal yang perlu dilakukan mengingat Indonesia akan berada dalam fase penuaan penduduk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor dominan lansia di Indonesia untuk berhenti merokok. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan data IFLS 5 tahun 2014 dengan mengambil populasi lansia di Indonesia dengan jumlah sampel sebanyak 19.599 orang. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 76,7% lansia yang masih merokok dan 23,7% lansia yang sudah berhenti merokok. Kemudian faktor yang paling mempengaruhi lansia untuk berhenti merokok adalah riwayat penyakit dengan OR 4.160. Artinya lansia yang mempunyai riwayat penyakit memiliki peluang 4.160 kali untuk berhenti merokok dibandingkan lansia yang tidak mempunyai riwayat penyakit.
Read More
T-6342
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
penulis, Lucy Widasari, Frima Elda, Rohidin Sudarno, Brigita Puridawaty, Sabaria Manti Battung, Prastuti Soewondo; editor: Abdul Razak Thaha, Fasli Jalal, Evi Nurhidayati, Redaksi KPG
612.3 STU
Jakarta : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2023
Buku (pinjaman 1 minggu)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sasha Bellina Munawar; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Anwar Hassan, Lutfi Nurhidayati
S-4902
Depok : FKM-UI, 2007
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zygawindi Nurhidayati; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Ery Setiawan, Lahargo Kembaren
Abstrak:
Latar belakang: Skizofrenia merupakan gangguan jiwa berat bersifat kronis yang dapat menyebabkan defisit fungsional pasien sehingga mempengaruhi kualitas hidup serta memerlukan biaya perawatan jangka panjang yang besar bila tidak dilakukan pentalaksanaan secara komprehensif. Penatalaksanaan psikofarmakologi memiliki keterbatasan terhadap pemulihan fungsi pasien sehingga dibutuhkan intervensi rehabilitasi psikososial untuk mengoptimalkan fungsi dan kualitas hidup pasien. Hal tersebut akan berdampak pada efisiensi beban biaya pasien skizofrenia dalam jangka panjang yang bisa dioptimalkan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis luaran klinis dan biaya pada penambahan rehabilitasi psikososial. Metode: Penelitian ini merupakan studi retrospektif yang mengukur efektivitas luara klinis dan kualitas hidup serta biaya pada pasien skizofrenia dengan penambahan rehabilitasi psikososial dibandingkan pasien skizofrenia dengan intervensi psikofarmakologi saja. Luaran klinis yang diukur berupa tingkat pemulihan berdasarkan nilais GAF dan kualitas hidup pasien berdasarkan kuesioner SQLS. Biaya dihitung selama satu tahun perawatan mencakup biaya obat, rehabilitasi, tindakan dan administrasi. Hasil: Pasien skizofrenia yang mendapatkan penambahan intervensi rehabilitasi psikososial sebanyak 81% memiliki nilai GAF > 70, lebih tinggi dibandingkan pasien skizofrenia dengan intervensi psikofarmakologi yang hanya 33,3%. Demikian pula, proporsi pasien dengan kualitas hidup yang baik sebanyak 85,7% sedangkan pasien skizofrenia dengan intervensi psikofarmakologi sebanyak 43,3%. Total biaya rata-rata per pasien pada pasien dengan penambahan rehabilitasi psikososial lebih tinggi dibandingkan dengan intervensi psikofarmakologi. Nilai ICER untuk setiap peningkatan GAF > 70 adalah Rp 70.023,96 dan nilai ICER untuk setiap 1% peningkatan kualitas hidup baik adalah Rp 78.777,00. Nilai tersebut menunjukkan bahwa penambahan rehabilitasi psikososial pada skizofrenia cukup efisien jika dikaitkan dengan luaran klinis. Kesimpulan: Penambahan intervensi rehabilitasi psikososial pada pasien skizofrenia di RSJ dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor memiliki luaran klinis yang lebih baik dan efisien secara biaya jika dikaitkan dengan luaran klinis tersebut. 

Background: Schizophrenia is a chronic, severe mental illness that causes significant functional deficits, affecting quality of life and necessitating substantial long-term care costs if not managed comprehensively. Psychopharmacological treatment alone has limitations in restoring patient functioning, thereby requiring psychosocial rehabilitation interventions to optimize patient function and quality of life. This optimization is anticipated to lead to improved cost-efficiency for schizophrenia patients in the long term. Objective: This study aimed to analyze the clinical outcomes and costs with the addition of psychosocial rehabilitation in schizophrenia patients. Methods: This retrospective study measured the effectiveness of clinical outcomes and quality of life, as well as costs, in schizophrenia patients receiving psychosocial rehabilitation in addition to psychopharmacological intervention, compared to those receiving psychopharmacological intervention. Clinical outcomes were assessed based on GAF scores and patient quality of life using the SQLS questionnaire. Costs were calculated over one year of treatment, encompassing expenses for medication, rehabilitation, medical procedures, and administration. Results: Among schizophrenia patients, 81% who received additional psychosocial rehabilitation achieved a GAF score > 70, which was significantly higher compared to only 33.3% of patients who received psychopharmacological intervention alone. Similarly, the proportion of patients with good quality of life was 85.7% in the psychosocial rehabilitation group, versus 43.3% in the psychopharmacology-only group. The average total cost per patient was higher in the group with additional psychosocial rehabilitation compared to the psychopharmacology-only group. The Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER) for every 1% increase in GAF > 70 was Rp 70,023.96, and for every 1% increase in good quality of life was Rp 78,777.00. These values indicate that the addition of psychosocial rehabilitation in schizophrenia is highly cost-efficient when linked to clinical outcomes. Conclusion: The addition of psychosocial rehabilitation interventions for schizophrenia patients at RSJ dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor results in better clinical outcomes and is cost-efficient when considering these outcomes.
Read More
B-2545
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurhidayati Suparno; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Lutfi Sidasi , Rosita Alkatiri
Abstrak:
Manajemen pelayanan kesehatan memegang peranan penting dalam memastikan bahwa layanan yang diberikan sesuai dengan harapan dan kebutuhan pengguna jasa. Upaya peningkatan kualitas pelayanan tidak hanya mencakup aspek teknis medis, tetapi juga aspek manajerial. Laporan pengaduan masyarakat menjadi masalah dalam pelayanan dengan keluhan dan komplain pengguna jasa. Tujuan penelitian untuk menganalisis gambaran perspektif pengguna jasa terhadap pelayanan kesehatan dan upaya peningkatan kualitas di Balai Kekarantinaa Kesehatan Kelas I Ternate berdasarkan 5 dimensi Servqual. Metode penelitian kombinasi (mixed methods), responden 106 orang dan informan 8 orang, data kuantitatif deskriptif,uji Chi Square, diagram kartesius dan wawancara mendalam. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa mayoritas responden merupakan individu dewasa dengan rentang usia produktif 30-59 tahun, di dominasi oleh laki-laki, memiliki latar belakang pendidikan tinggi sehingga menunjukkan ekspektasi yang tinggi terhadap efisiensi pelayanan. Terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan(0,000), dan pekerjaan(0,000) dengan kualitas layanan. Dimensi Tangible(0,30), Realibility (-0,13), Responsiveness(0,01), Assurance(0,00), dan Empathy(-0,41), masih terdapat beberapa gap di setiap dimensi servqual. Analisis diagram kartesius didapatkan 6 atribut layanan prioritas perbaikan yaitu kecepatan administrasi, pelayanan langsung oleh dokter, kecepatan pemberian informasi, kompetensi petugas, dan perlindungan data. Secara keseluruhan telah menunjukkan kinerja yang baik dalam beberapa dimensi pelayanan, tetapi terdapat area kritis yang membutuhkan perbaikan berkelanjutan untuk meningkatkan kepuasan dan kepercayaan masyarakat secara menyeluruh.

Healthcare management plays an important role in ensuring that the services provided meet the expectations and needs of service users. Efforts to improve service quality not only cover technical medical aspects, but also managerial aspects. Public complaint reports are a problem in services with complaints and grievances from service users. The purpose of this study is to analyze the perspective of service users on healthcare services and quality improvement efforts at the Ternate Class I Health Quarantine Center based on the 5 dimensions of Servqual. The research method used a combination of qualitative and quantitative approaches, with 106 respondents and 8 informants. Quantitative descriptive data was analyzed using the Chi-Square test, Cartesian diagrams, and in-depth interviews. The results of the descriptive analysis show that the majority of respondents are adults in the productive age range of 30-59 years, predominantly male, with a higher education background, indicating high expectations for service efficiency. There is a significant relationship between education (0.000) and occupation (0.000) with service quality. The dimensions of Tangibles (0.30), Reliability (-0.13), Responsiveness (0.01), Assurance (0.00), and Empathy (-0.41) still have some gaps in each Servqual dimension. Cartesian diagram analysis identified six priority service attributes for improvement: administrative speed, direct service by doctors, speed of information provision, staff competence, and data protection. Overall, the hospital has demonstrated good performance in several service dimensions, but there are critical areas that require continuous improvement to enhance public satisfaction and trust comprehensively.
Read More
T-7279
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive