Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 15 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Journal of Infectious Diseases, Vol.3, No.01, 2016, hal. 8-13
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adria Rusli ... [et al.]
JRI Vol.25, N0.2
Jakarta : Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2005
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marlina Meilani Simbolon; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Adria Rusli, Endang Lukitosari
T-4138
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andika; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Tri Yunis Miko Wahyono, Adria Rusli
T-4630
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurvika Widyaningrum; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Adria Rusli, Tepy Usia
T-4676
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Musa Rapang; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Besral, Sudijanto Kamso, Adria Rusli, Nurhalin Afriana
Abstrak:

ABSTRAK Retensi ARV Pada Pasien HIV Berdasarkan CD4 Awal Terapi ARV di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso Jakarta Dari Tahun 2011 – 2014 Musa Rapang Perbedaan tingkatan imunodefesiensi memberikan kondisi klinis yang berbeda. Dampak perbedaan imunodefesiensi akan diperoleh retensi ARV yang berbeda pada tingkat imunodefesiensi berat dan sedang. Pasien dengan sistem imun yang baik (CD4 tinggi) kemungkinan akan memiliki retensi yang rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat apakah perbedaan retensi ARV pada pasien HIV AIDS berdasarkan CD4 saat terapi ARV di RSPI Sulianti Saroso Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif  menggunakan 223 sampel yang diambil dari data rekam medik rumah sakit dari tahun 2011 – 2014 dengan waktu pengamatan selama satu tahun. Pasien yang retensi ada 70.85% dengan insident rate lost to follow up 2.9 per 100 orang bulan. Retensi ARV pada pasien dengan CD4 200-350 sel/mm lebih baik dengan HRadj lost to follow up sebesar 0.27 (CI 95% : 0.1 – 0.8) kali lebih rendah dibandingkan pasien dengan CD4 <200 sel/mm 3 . Selain itu pasien memiliki CD4 200350 sel/mm 3 pada stadium awal memiliki risiko lost to follow up yang lebih tinggi dengan HRadj 1.10 (CI 95% : 0.5 – 2.4) kali lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang memiliki CD4 < 200 sel/mm 3 pada stadium awal. Perlu dilakukan monitoring klinis, eduksi dan dukungan kepada pasien tentang manfaat ARV khususnya pada pasien dengan CD4 <200 sel/mm 3 . Kata kunci : Retensi ARV, CD4 Awal, lost to follow up


ABSTRACT ARV Retention HIV Patients Based On Early CD4 Therapy In Hospital Infection Disease of Prof. Dr. Sulianti Saroso Jakarta From Years 2011 - 2014 Musa Rapang The difference in the level of imunodefesiensi provide different clinical conditions. The impact will be acquired at different ARV retention rate of severe and moderate imunodefesiensi. HIV Patients with a good immune system (CD4 high) possibility have poor retention on antiretroviral drugs, so that the patient will tend to experience a lost to follow up. The purpose of this study was to see whether the difference in retention of antiretroviral drugs in HIV-AIDS patients by CD4 time ARV therapy in hospital Prof. Dr. Sulianti Saroso Jakarta. This research using retrospective cohort design using 223 samples taken from hospital medical records from the years 20112014 with the observation time for one year. The number of patients there was 70.85% retention with number incidents of lost to follow-up rate of 2.9 per 100 person-months. Retention ARV based on baseline CD4 200-350 cells / mm better with HRadj of lost to follow-up at 0.27 (CI 95% :0.1 – 0.8) times slower compared to patients with CD4 <200 cells / mm 3 in the early stages having lost to follow-up speed faster with HRadj 1.10 (CI 95% :0.5 – 2.4) times faster compared with patients with CD4 <200 cells/mm 3 . In addition patients had CD4 200-350 cells / mm 3 early stage. Needed to monitoring, education and supporting to patient for benfit to use ARV especially to patient with CD4  <200 cells/mm 3 . Keywords: Retention ARV, CD4 Earlier, Lost to follow up

Read More
T-4772
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nimas Ayu Lestari Nurjanah; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Toha Muhaimin, Adria Rusli, Sarikasih Harefa
Abstrak: Abstrak
Infeksi HIV pada tubuh bertindak sebagai stresor yang akan menimbulkan permasalahan bagi individu yang terinfeksi di ataranya masalah fisik, psikologis dan psikososialnya. Permasalahan fisik terkait dengan perjalanan penyakit dan komplikasi sistem saraf pusat, mulai dari munculnya gejala penyakit, turunnya sistem kekebalan tubuh. Masalah psikosial dan psikologis yang dialami oleh penderita HIV diantaranya adalah munculnya stigma dan diskriminasi baik didalam keluarga maupun di masyarakat.
 
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran kualitas hidup Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) dan faktor -faktor yang mempengaruhi kualitas hidup ODHA di Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr Sulianto Saroso.
 
Penelitian ini menggunakan desain cross sectional, teknik pengambilan sample menggunakan cara consecutive sampling dengan jumlah sample sebanyak 420 orang. Analisis bivariat menggunakan chi-Square dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik.
 
Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara pekerjaan (nilai p = 0,001), Spiritual (nilai p = 0,003), Depresi (nilai p 0,000), kepatuhan minum ARV (nilai p 0,000), lama terapi ARV (nilai p 0,002), Stigma (nilai p 0,000), dukungan sosial (nilai p 0,003), dukungan keluarga (nilai p 0,001), dukungan sebaya (0,002) dengan kualitas hidup ODHA. Faktor yang paling mempengaruhi kualitas hidup ODHA adalah kepatuhan minum ARV dengan OR 4,250 . yang berarti ODHA yang patuh dalam meminum ARV akan memiliki kualitas hidup yang tinggi 4,250 kali daripada ODHA yang tidak patuh dalam meminum ARV.
 

HIV infection in the body act as stressors that will cause problems for individuals infected among physical, psychological and psychosocial. Physical problems related to the course of the disease and complications of the central nervous system, starting from the symptoms appearance of the disease, the decline of the immune system. Psychosocial and psychological problems experienced by HIV sufferers include the emergence of stigma and discrimination within the family and in society.
 
The aims of this study were to quality of life of People Living With HIV/AIDS and factors influencing the quality of life People Living With HIV/AIDS In Infectious Disease Hospital Prof Dr Sulianti Saroso.
 
This study used a cross sectional design, the sampling technique used consecutive sampling method with a total sample of 420 people. Bivariate analysis used chi-square and multivariate analysis used logistic regression.
 
The results showed significant correlation between work (p = 0.001), Spiritual (p = 0.003), Depression (p value 0.000), adherence to taking ARV (p value 0.000), duration of ARV therapy (p value 0.002), Stigma (p value 0,000), social support (p value 0.003), family support (p value 0.001), peer support (0.002) with quality of life People Living With HIV/AIDS. The most influencing factor for the quality of life People Living With HIV/AIDS is the adherence to taking ARV with OR 4.250 which means that People Living With HIV/AIDS who are obedient in taking ARVs will have a high quality of life of 4.250 times than People Living With HIV/AIDS who are not obedient in taking ARV.
Read More
T-5717
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hendra Dhermawan Sitanggang; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Adria Rusli, Nuraliyah
Abstrak: IntroduksiPenemuan obat antiretroviral (ARV) secara dramatis menurunkan angka kesakitandan kematian ODHA. Namun, kepatuhan terhadap terapi ARV merupakantantangan tersendiri mengingat terapi ini harus dijalani seumur hidup. Kepatuhanterhadap terapi ARV merupakan salah faktor yang menentukan keberhasilanpengobatan. Ketidakpatuhan terhadap terapi ARV di Indonesia masih tinggi, yaituberkisar diantara 23-55%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuipengaruh ketidakpatuhan berobat terhadap kesintasan 3 tahun pasien HIV/AIDS.MetodePenelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif di RSPI Prof. Dr. SuliantiSaroso tahun 2010-2012.HasilProbabilitas survival kumulatif pasien HIV/AIDS di RSPI Prof dr. Sulianti Sarosopada tahun kedua (bulan ke-24) adalah 95,6% dan tahun ketiga (bulan ke-36)adalah 91%. Hasil analisis multivariat dengan regresi cox menunjukkan bahwakesintasan 3 tahun pasien HIV/AIDS dipengaruhi ketidakpatuhan minum obat,setelah dikontrol variabel CD4 awal (aHR = 7,608 ; 95%CI : 1,664-34,790) danketidakpatuhan janji ambil obat, setelah dikontrol variabel infeksi oportunistik,umur dan CD4 awal. (aHR = 2,456 ; 95%CI : 0,802-7,518). Pada pasien yangtidak patuh minum obat, ketidakpatuhan janji ambil obat berpengaruh terhadapkesintasan 3 tahun pasien HIV/AIDS, setelah dikontrol variabel CD4 awal, jeniskelamin, PPK, faktor risiko penularan, stadium klinis awal, infeksi oportunistik,dan umur (aHR = 4,517 ; 95%CI : 0,729-27,987).PembahasanKetidakpatuhan minum obat dapat menyebabkan kegagalan terhadap penekananreplikasi virus HIV, sehingga meningkatkan kemungkinan bermutasinya virusHIV yang dapat menyebabkan resisten terhadap obat dan akhirnya dapatmeningkatkan risiko kematian. Ketidakpatuhan terhadap janji ambil obat pada 1tahun pertama juga diasumsikan juga akan menunjukkan ketidakpatuhan terhadapjanji ambil obat selanjutnya dan menunjukkan ketidakpatuhan minum obat,sehingga meningkatkan risiko kematian.SaranMemonitoring cakupan kepatuhan minum obat pasien HIV/AIDS secara berkalasebagai kewaspadaan dini terhadap risiko kematian pasien HIV/AIDS.Kata Kunci : ketidakpatuhan minum obat, ketidakpatuhan janji ambil obat,kohort retrospektif
IntroductionDramatically, Anti-Retroviral drug Therapy (ART) has reduced morbidity andmortality of People Living with HIV/AIDS (PLWHA). However, adherence toantiretroviral therapy has become a challenge because this therapy must beendured for a lifetime. Adherence to antiretroviral therapy is one of the factorsthat determine the success of treatment. Poor adherence to ARV therapy inIndonesia is arround 23-55%. The objective of this study was to determine theinfluence of medication non-adherence to the 3-years survival of patients withHIV/AIDS.MethodsThis study used a retrospective cohort design at RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso in2010-2012.ResultsThe cumulative survival probability of patients with HIV/AIDS at RSPI Prof. dr.Sulianti Saroso in the second year (24th month) was 95.6% and the third year (inthe 36th) was 91%. Multivariate analysis with Cox regression showed the factorsthat affected the 3-years survival of patients with HIV/AIDS are non-adherence toART, after controlled by initial CD4 count (aHR = 7.608; 95% CI: 1.664 to34.790), and non-compliance appointments, after controlled by opportunisticinfection, age and initial CD4 count (aHR = 2.456; 95% CI: 0.802 to 7.518).Among patient non-adherence to ART, non-compliance appointments affected the3-years survival of patients with HIV/AIDS, after controlled by initial CD4 count,sex, CPT, modes of HIV transmission, WHO clinical stage, opportunisticinfection, and age (aHR = 4.517 ; 95%CI : 0.729-27.987).DiscussionsNonadherence to ART may caused a failure of the suppression on HIV viral, thusincrease the possibility of HIV virus mutations that can lead to drug-resistant andultimately increase the risk of death. Poor adherence to appointments of takingdrugs in the first year also assumed the poor adherence of the next assignment totake drugs in the further, and show disobedience to ART, so it will increase therisk of death.RecomendationMonitoring coverage of medication adherence of patients with HIV/AIDS in aregular basis as the early warning on the risk of death among patients withHIV/AIDS.Keyword : non-adherence to ART, appointment keeping, retrospective cohort
Read More
T-4545
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Maemun; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Renti Mahkota, Adria Rusli
Abstrak: Tujuh puluh delapan juta penduduk dunia terinfeksi Human Immunodefiency Virus (HIV), 39 juta diantaranya meninggal. Tuberkulosis (TB) yang merupakan ko-infeksi terbanyak pada ODHA di Indonesia. Tujuan penelitian ini mengetahui pengaruh waktu awal pengobatan ARV terhadap ketahanan hidup pasien ko- infeksi TB-HIV. Desain penelitian kohort retrospektif, dilakukan pengamatan selama satu tahun (365 hari), yaitu pasien ko-infeksi TB-HIV yang naive ARV di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso periode Januari 2011-Mei 2014, berusia ≥16 tahun. Analisis ketahanan hidup menggunakan metode Kaplan-Meier, bivariat dengan Log rank test dan multivariat dengan cox regression. Probabilitas ketahanan hidup kumulatif pasien ko-infeksi TB-HIV yang mendapatkan ARV pada satu tahun adalah 81,5%. Hasil analisis multivariat bahwa pasien ko-infeksi TB-HIV yang mendapatkan pengobatan ARV di fase lanjut berisiko 2,33 kali (95%CI: 1,25-4,33; p=0,008) mengalami kematian setelah dikontrol oleh lokasi infeksi M.tuberculosis. Ko-infeksi TB-HIV telah memperburuk progresivitas, HIV yang menyerang makrofag menyebabkan imunitas (CD4) menurun sehingga berdampak pada ketidakmampuan imunitas melawan kehadiran M.tuberculosis. Maka, segera memulai pengobatan TB dan memulai ARV pada fase intensif (2-8 minggu). Ketahanan hidup pasien ko-infeksi TB-HIV yang mendapatkan pengobatan ARV pada fase intensif lebih besar dibandingkan pada fase lanjut. Mengoptimalkan pengobatan ARV pada fase intensif (2-8 minggu) untuk meningkatkan ketahanan hidup pasien ko-infeksi TB-HIV. Kata Kunci : Antiretroviral, TB-HIV, ketahanan hidup
Read More
T-4543
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bryany Titi Santi; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko, Wahyono, Mondastri Korib Sudaryo, Adria Rusli
Abstrak: Abstrak

Laporan Kemenkes RI mengenai angka kejadian HIV & AIDS di Indonesia sampai September menyatakan 92.251 kasus HIV dan 39.434 kasus AIDS. ODHA memerlukan ARV untuk menekan replikasi virus. Paduan pengobatan dimulai dari lini pertama yang terdiri atas 2 Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor (NRTI) dan 1 Non-nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor (NNRTI). Nevirapin adalah ARV golongan NNRTI yang paling sering digunakan karena efektif dan efisien. Evaluasi pengobatan ARV dan data mengenai substitusi ARV masih kurang. Substitusi dapat menggambarkan isu penting berkaitan dengan keberhasilan program pengobatan HIV dan efek samping obat. Desain penelitian ini kasus kontrol dengan data berasal dari rekam medis. Kasus adalah mereka yang mengalami sustitusi nevirapin. Analisis univariat, bivariat dan multivariat logistik regresi dilakukan. Didapatkan faktor-faktor dominan yang berhubungan dengan substitusi nevirapin adalah tingkat pendidikan OR=3,31(CI95%=1,27-8,63) dan kondisi awal terapi yaitu stadium klinis OR=0,37 (CI95%=0,13-1,11), kadar SGOT OR=2,15 (CI95%=0,83-5,57), kadar SGPT dengan OR=1,41 (CI95%=0,61-3,26), dan CD4 dengan OR ==1,80 (CI95%=0,56-5,83). Edukasi kepada pasien dengan tingkat pendidikan rendah mengenai manfaat dan cara minum obat perlu lebih ditekankan dan monitoring keluhan efek samping secara teratur melalui pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laborarium secara berkala kepada seluruh penderita HIV/AIDS yang mendapat ARV disertai CD4 dan enzim hati diawal terapi yang tinggi.


Indonesian Ministry of Health reported that there are 92.251 cases HIV and 39.434 cases AIDS until September 2012. Those people need ARV to suppress viral load dan enhaced their immunity. Based on guideline therapy, starting ARV should from first line which consisted of 2 NRTI (nucleoside reverse transcriptase inhibitor) dan 1 NNRTI (non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor). Nevirapin is a NNRTI and more prescribe because its effectiveness and efficiency. In Indonesia, there are less data about antiretroviral evaluation, especially substitution. These data are important to identify some issues such as effectiveness antiretroviral therapy and toxicity. Toxicity that induced by antiretroviral effect nonadherence. This study is using case control design which source of data is medical records. Cases are those who experienced nevirapine substitution. Univariat, bivariat and multivariate logistic regression are using to analyze these data. Result shows that significant factors associated with nevirapine substitution are education level OR=3,31(CI95%=1,27-8,63), clinical staging OR=0,37 (CI95%=0,13-1,11), SGOT level at baseline OR=2,15 (CI95%=0,83-5,57), SGPT level at baseline OR=1,41 (CI95%=0,61-3,26), and CD4 at baseline OR ==1,80 (CI95%=0,56-5,83). This result recommend to educate those who are low education with comprehensive information about antiretroviral and monitoring regularly patients who have elevated level of liver enzime on baseline therapy.

Read More
T-4010
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive