Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Adi Janitra Suardian; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Hendra, Masjuli, Iting Shofwati
Abstrak: Laboratorium teknik gigi merupakan fasilitas pendukung pelayanan kesehatangigi, yang bertugas mengerjakan pembuatan gigi tiruan. Di laboratorium teknikgigi, pekerja teknik gigi bekerja dengan berbagai macam material pembuat gigitiruan dan berpotensi terpapar dengan material tersebut. Material yang palingumum digunakan yaitu resin metil metakrilat (MMA) atau yang lebih umumdikenal sebagai akrilik. Dalam beberapa penelitian diketahui paparan langsungMMA dapat meyebabkan asma akut, dermatitis kontak alergi, gejala subyektifrespirasi, dan penurunan fungsi paru. Teknologi sistem ventilasi merupakanmetode yang digunakan untuk menurunkan konsentrasi kontaminan di udaratempat kerja yang salah satunya pada laboratorium teknik gigi hingga batas yangtidak membahayakan bagi kesehatan dan keselamatan pekerja. Penelitian inibertujuan untuk mengevaluasi sistem ventilasi terpasang pada laboratorium teknikgigi X, akibat ditemukannya gejala subyektif respirasi pada pekerja danpermasalahan pada sistem ventilasi terpasang.Penelitian ini menggunakan metode gabungan, yaitu metode kualitatif yangdigunakan untuk mengkaji gejala subyektif yang timbul dan metode kuantitatifyang digunakan untuk mengkaji konsentarasi uap metil metakrilat (MMA) danmengevaluasi sistem ventilasi terpasang pada laboratorium teknik gigi Xmenggunakan SNI 03-6572:2001 dan ACGIH. Jenis data yang digunakan adalahdata primer hasil wawancara mendalam, pengukuran konsentrasi uap MMA,pengukuran kecepatan udara, serta pengukuran dimensi dari alat penunjangventilasi dan ruang laboratorium X.Konsentrasi uap metil metakrilat (MMA) di laboratorium teknik gigi X beradajauh dibawah NAB ACGIH (50 ppm) dan diatas nilai odor threshold (0,014 ppm).Sebanyak dua orang pekerja yang terpapar uap MMA, memiliki latar belakangalergi dan riwayat penyakit pernapasan mengalami gejala subyektif respirasikronis, yakni asma dan berdahak. Hasil evaluasi dari sistem ventilasi terpasangpada laboratorium X diketahui tidak memenuhi kriteria yang baik berdasarkanSNI 03-6572:2001 dan ACGIH. Desain ulang sistem ventilasi laboratorium Xdilakukan berdasarkan kriteria SNI 03-6572:2001 dan ACGIH untuk menunjangkeefektifan dalam mengendalikan kontaminan di udara laboratorium teknik gigiX.Kata kunci: Ventilasi, Metil metakrilat.
Read More
T-4785
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Iting Shofwati; Promotor: Budi Utomo; Ko Promotor: Sjahrul Meizar Nasri, Alfajri Ismail; Penguji: I Made Djaja, Fatma Lestari, Doni Hikmat Ramdhan, Ade Asmi, Sonny P Warouw
D-314
Depok : FKM-UI, 2015
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Iting Shofwati; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Ridwan Z. Sjaaf, Heny Triasbudi
Abstrak:
Latar belakang dari penelitian ini adalah bahwa peristiwa kebakaran dapat terjadi kapan saja dan dimana saja serta menimbulkan kerugian ekonomi maupun non ekonomi. Alasan pemilihan lokasi penelitian, yaitu karena rumah sakit merupakan bangunan umum yang rawan terhadap kebakaran dan penghuninya bervariasi dalam hal kondisi fisik, sehingga pada keadaan darurat diperlukan suatu penanganan khusus. Mengingat kondisi tersebut d iatas, maka perlu dilakukan suatu upaya pencegahan kebakaran dengan pemasangan perangkat proteksi kebakaran untuk menanggulangi secara dini suatu kejadian yang tidak diinginkan dan menghindari suatu keadaan "catasthropic". Pada penelitian ini akan dilakukan studi evaluasi terhadap kebutuhan dan tata letak daripada sistem proteksi kebakaran yang ada khususnya fire detector. Karena sistem peringatan awal kebakaran yang cukup dan sesuai merupakan cara yang efektif untuk menghindari kebakaran yang lebih besar. Penelitian ini dimulai dengan identifikasi elemen-elemen penyalaan api yang terdiri dari bahan bakar (material pembentuk fasilitas yang ada di ruang rawat inap) , sumber panas (energi listrik) dan oksigen dari udara bebas. Tahap selanjutnya yaitu analisa untuk menentukan jenis detektor kebakaran yang dibutuhkan berdasarkan tipe hasil pembakaran material pembentuk fasilitas yang terdapat pada masing-masing ruangan dan peraturan yang berlaku. Kemudian dilanjutkan dengan tahap evaluasi terhadap kebutuhan dan tata letak deteksi kebakaran, berdasarkan data-data pendukung diantaranya adalah luas ruangan, tinggi langit-langit, suhu ruangan dan spesifikasi teknis dari detektor yang akan dipasang. Pengkajian teknis dilakukan berdasarkan standar NFPA 72. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kegiatan perumahsakitan yang berlangsung khususnya di ruang rawat inap dan koridor berpotensi terjadinya bahaya kebakaran. Hal ini dikarenakan terpenuhinya ketiga elemen dari teori segitiga api dalam suatu tempat dan saat yang bersamaan. Sedangkan jenis detektor yang terpasang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku, hal ini dikarenakan pada ruang rawat inap tersebut menggunakan sistem springkler dan sebagian besar material pembentuk peralatan yang ada terbuat dari kayu dan busa, dimana apabila terjadi proses pembakaran akan menghasilkan asap. Sehingga detektor kebakaran yang sesuai untuk ruang rawat inap dan koridor tersebut adalah detektor asap. Jumlah dan tata letak dari detektor yang akan dipasang diperoleh berdasarkan hasil perhitungan yang berdasarkan standar NFPA yang disesuaikan dengan kemampuan untuk melindungi suatu area tertentu dari detektor yang dipilih.

The background of this research is that the fire can occur anytime, anywhere and can cause economic and non-economic effect. Beside that, the reason choice the hospital became the location of the research, because the hospital is the public building that very potential for occurrence of fire and the physical condition of the patient is very various, so in an emergency condition need special handling. According to that condition, so need the effort of fire protection to prevent the unexpected event and prevent "catastrophic" condition. This research will evaluate the need and the location of fire protection system specially fire detector. Because a fire detection system detects the beginning of the fire and alerts personal so they can evacuate the area immediately or attempt to extinguish the fire. The first step of this research is to identify the elements of fire ignition that consist of fuel, heat and oxygen. The second step is to analyze a kind of fire detector that suitable according to the inpatient room's facilities and its standard regulation. The last step is to evaluate the need and the location of fire detector according to supporting data such as coverage area, height of ceiling, ambient temperature and technical specification of detector that will be set. Engineering estimation is refer to NFPA 72 standard The conclusion of this research that the hospital's activities especially in area study (inpatient room and corridor) is very potential for fire hazard. It cause of the valuable of the three elements of fire triangle in one place and at the same time. About the hospital's fire detector, it is not suitable with the standard regulation. Because in that area study use the sprinkler system and a lot of equipment are made from wood and foam rubber that if fire happen that material can produce smoke. So the suitable detector for corridor and the room for hospitalize is smoke detector. The amount and the location of the detector that will be set is the result from engineering calculation according to NFPA standard that suited with detector's capability to coverage area.
Read More
T-1347
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yoli Andra; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Mila Tejamaya, Stevan D. Anbiya, Iting Shofwati , Soca Gumpalawan
Abstrak:
Pengujian emas di laboratorium mineral menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya bagi kesehatan pekerja baik metode Fire Assay, metode aqua regia dan metode leaching sianida. Sehingga perlu diketahui risk rating dari bahan kimia dan metode pengujian yang dilakukan agar dapat ditentukan langkah-langkah pencegahan dari potensi terpajan dengan bahan kimia dan bahkan terjadinya penyakit akibat kerja. Di Laboratorium Mineral XYZ sudah menjalankan penilaian risiko secara general melalui formulir HIRADC namun belum dilakukan penilaian secara komprehensif dengan metode yang tepat terhadap risiko kesehatan pekerja. Metode CHRA DOSH Malaysia (2018) sangat tepat dipilih dalam melakukan penilian bahaya bahan kimia melalui rute inhalasi dan dermal.  risiko kesehatan pengujian emas dilaboratorium Mineral XYZ   didapatkan bahwa risk rating pajanan inhalasi secara kualitatif dalam pengujian emas dengan metode aqua regia lebih rendah dibandingkan dengan pengujian emas dengan metode fire assay dan metode leaching sianida. metode fire assay memiliki risk rating = 25 (High Risk) metode digestion aqua regia = 9 (Moderate Risk), dan metode leaching sianida = 15 (High Risk). Hal ini sejalan dengan penilaian hazard   setiap bahan kimia yang digunakan pada pengujian emas dengan metode fire assay, metode aqua regia digestion dan metode leaching sianida yang paling tinggi nilai Hazard Rating (HR) pengujian emas dengan metode metode fire assay dengan nilai 5.  Sedangkan penilaian risk rating pajanan dermal di dapatkan nilai 3= H2 (high Risk) terhadap ketiga metode pengujian emas tersebut. Pengendalian bahaya dan risiko kesehatan pengujian emas di Laboratorium mineral XYZ berjalan cukup baik, namun untuk pengujian emas dengan metode aqua regia digestion dan metode leaching sianida diharapkan dapat menjadi prioritas dalam pengendaliannya


Gold testing in mineral laboratories uses chemicals that are hazardous to workers' health, both the Fire Assay method, the aqua regia method and the cyanide leaching method. So it is necessary to know the risk rating of the chemicals and the testing methods used so that preventive measures can be determined from the potential for exposure to chemicals and even occupational diseases. In the XYZ Mineral Laboratory, a general risk assessment has been carried out through the HIRADC form, but a comprehensive assessment has not been carried out with the right method for worker health risks. The CHRA DOSH Malaysia (2018) method is very appropriate to be chosen in assessing the hazards of chemicals through inhalation and dermal routes. The health risks of gold testing in the XYZ Mineral Laboratory found that the qualitative inhalation exposure risk rating in gold testing with the aqua regia method was lower than gold testing with the fire assay method and the cyanide leaching method. The fire assay method has a risk rating = 25 (High Risk) the aqua regia digestion method = 9 (Moderate Risk), and the cyanide leaching method = 15 (High Risk). This is in line with the hazard assessment of each chemical used in gold testing with the fire assay method, the aqua regia digestion method and the cyanide leaching method which has the highest Hazard Rating (HR) value for gold testing with the fire assay method with a value of 5. While the risk rating assessment of dermal exposure obtained a value of 3 = H2 (high Risk) for the three gold testing methods. Control of hazards and health risks of gold testing at the XYZ Mineral Laboratory is running quite well, but for gold testing with the aqua regia digestion method and the cyanide leaching method, it is expected to be a priority in its control
Read More
T-7424
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Ayuni Alayyannur; Promotor: Doni Hikmat Ramdhan; Kopromotor: L. Meily Widjaja, Tri Martiana; Penguji: Laila Fitria, Mila Tejamaya, Robiana Modjo, Iting Shofwati
Abstrak:
Pendahuluan: Pajanan panas pekerjaan sebagai salah satu faktor risiko indikasi gangguan fungsi ginjal di berbagai studi. Nelayan dan pekerja pemindang termasuk pekerja berisiko terpajan panas. Studi ini akan mengembangkan model kontribusi pajanan panas pekerjaan pada indikasi gangguan fungsi ginjal pada pekerja di sektor perikanan Jawa Timur. Metode: Desain penelitian ini adalah cross sectional pada pekerja sektor perikanan Kabupaten Lamongan di Desember 2022-Februari 2023. Besar sampel 150 nelayan dan pemindang yang didapat dengan rumus uji hipotesis untuk proporsi populasi tunggal. Variabel yang diteliti meliputi faktor personal (usia, jenis kelamin, penyakit komorbid, antropometri, konsumsi obat. waktu istirahat, konsumsi air putih, konsumsi minuman manis, konsumsi minuman bersoda, konsumsi minuman berenergi, konsumsi kopi, konsumsi teh, konsumsi legen, dan konsumsi tuak), faktor pekerjaan (jenis pekerjaaan, masa kerja, beban kerja, dan pakaian kerja), faktor iklim (temperatur, kelembaban, dan kecepatan angin), pajanan panas, tekanan panas, dan indikasi gangguan fungsi ginjal (eGFR CKD-EPI dan uKIM-1). Pengumpulan data menggunakan sampel urin, sampel darah, heat stress monitor, sphygmomanometer, oximeter, microtoise, timbangan badan, dan kuesioner. Analisis data bivariat menggunakan t-test sampel independen dan uji ChiSquare, sedangkan uji multivariat menggunakan cox regression. Hasil: Usia, konsumsi air putih, konsumsi teh, jenis pekerjaan, masa kerja, beban kerja (%CVL), pakaian kerja, tekanan panas, dan dehidrasi (BJU) berhubungan dengan indikasi gangguan fungsi ginjal eGFR (CKD-EPI). Konsumsi air putih, konsumsi minuman manis, dan beban kerja (observasi) berhubungan dengan indikasi gangguan fungsi ginjal uKIM-1 . Model yang terbentuk adalah HeGFR(t) = h0 (t) exp (0,393 pajanan panas pekerjaan + 0,551 konsumsi air putih + 0,339 konsumsi kopi + 1,446 beban kerja (%CVL) + 0,865 pakaian kerja) Kesimpulan: pajanan panas pekerjaan merupakan faktor risiko terjadinya indikasi gangguan fungsi ginjal eGFR (CKD-EPI), dengan turut mempertimbangkan faktor yang lain yaitu konsumsi air putih, konsumsi kopi, beban kerja (%CVL), dan pakaian kerja. Oleh karena itu, perlu aktivasi Pos UKK untuk memberdayakan pekerja dalam melakukan kegiatan keselamatan dan kesehatan kerja.

Introduction: Occupational heat exposure can pose a significant risk to workers' health, especially regarding their kidney function. Studies have shown fishermen and pemindang workers are particularly vulnerable to heat exposure. To address this issue, a study is being conducted to develop a model that examines the impact of occupational heat exposure on kidney function in workers within the East Java fisheries sector. Method: This research design is cross-sectional among fisheries sector workers in Lamongan District in December 2022 to February 2023. The sample size is 150 fishermen and pemindang was obtained using the hypothesis testing formula for a single population proportion. The variables studied included personal factors (age, gender, comorbid diseases, anthropometry, drug consumption, rest time, water consumption, consumption of sweet drinks, consumption of fizzy drinks, consumption of energy drinks, consumption of coffee, consumption of tea, consumption of legumes, and consumption of palm wine), work factors (type of work, length of work, workload, and work clothing), climate factors (temperature, humidity, and wind speed), heat exposure, heat stress, and indications of impaired kidney function (eGFR CKD-EPI and uKIM-1). Data collection uses urine samples, blood samples, heat stress monitor, sphygmomanometer, oximeter, microtoise, body weighing, and questionnaires. Bivariate data analysis uses the independent samples t-test and Chi-Square test, while the multivariate test uses cox regression. Results: Age, water consumption, tea consumption, type of work, years of work, workload (%CVL), work clothing, heat stress, and dehydration (BJU) were associated with indications of impaired kidney function eGFR (CKD-EPI). Water consumption, consumption of sweet drinks, and workload (observation) are associated with indications of impaired uKIM-1 kidney function. The model formed is HeGFR(t) = h0 (t) exp (0.393 occupational heat exposure + 0.551 water consumption + 0.339 coffee consumption + 1.446 workload (%CVL) + 0.865 work clothes) Conclusion: occupational heat exposure is a risk factor for indications of impaired kidney function eGFR (CKD-EPI), taking into account other factors, namely water consumption, coffee consumption, workload (%CVL), and work clothing. Therefore, it is necessary to activate the Pos UKK to empower workers to carry out occupational safety and health activities.
Read More
D-498
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Laksita Ri Hastiti; Promotor: Doni Hikmat Ramdhan; Kopromotor: Laila Fitria, Mila Tejamaya; Penguji: Sjahrul Meizar Nasri, L. Meily Kurniawidjaja, Iting Shofwati, Sudi Astono, Heny D. Mayawati
Abstrak:
Gangguan fungsi ginjal akibat tekanan panas (heat stress) merupakan risiko signifikan bagi pekerja konstruksi yang terpajan panas ekstrem. Pilot studi kuasi eksperimental ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh intervensi hidrasi pada dampak tekanan panas dan risiko gangguan fungsi ginjal pada pekerja konstruksi. Pengambilan sampel purposive dilakukan untuk mengukur faktor risiko (lingkungan, pekerjaan, individu), dampak tekanan panas dan biomarker fungsi ginjal (SCr, LFG, BUN) pada tahap pra dan pascaintervensi. 46 responden terbagi dalam 4 kelompok, yaitu Kontrol, Intervensi 1 (intervensi rehidrasi), Intervensi 2 (intervensi prehidrasi dan rehidrasi), dan Intervensi 3 (intervensi rehidrasi dan elektrolit). Analisis data dilakukan dengan paired t-test, MANOVA, Difference in Differences, dan GLM Repeated Measure. Temuan utama menunjukkan intervensi hidrasi berdampak positif dan konsisten meningkatkan fungsi ginjal, ditunjukkan melalui penurunan kadar SCr dan BUN serta peningkatan LFG (Pillai’s Trace=0,528, F=2.98, p-value=0.003). Efek intervensi menunjukkan 31% perubahan kadar SCr dan LFG, serta 30% perubahan BUN dipengaruhi oleh perbedaan intervensi pada setiap kelompok. Terdapat perbedaan signifikan perubahan tekanan sistolik pagi – siang di antara kelompok intervensi pada kombinasi indikator tekanan panas (Pillai’s Trace=1.055, F=1.677, p-value = 0.026), 27% perubahannya dipengaruhi oleh perbedaan intervensi pada setiap kelompok. Dampak intervensi hidrasi pada perbaikan fungsi ginjal dan tekanan panas terlihat lebih kuat dan bermanfaat pada Kelompok Intervensi 2 dan 3. Selain itu, usia memiliki hubungan yang signifikan dengan fungsi ginjal (Pillai’s Trace=0,724; F=20,139; p-value<0,001), kebiasaan berolahraga berinteraksi dengan fungsi ginjal dari praintervensi dan pascaintervensi (Pillai’s Trace=0,458; F=2,376; p-value=0,043). Perlu mengembangkan regulasi dan pedoman teknis intervensi hidrasi pada sektor konstruksi, pemantauan rutin pajanan panas dan dampaknya, perlunya skrining fungsi ginjal pada pekerja lanjut usia, pentingnya aktivitas fisik dan kebiasaan hidup sehat di luar jam kerja sebagai bagian dari upaya pencegahan gangguan fungsi ginjal, serta  perlu melakukan studi lanjutan dengan besar sampel yang lebih banyak.

Kidney dysfunction due to heat stress is a significant risk for construction workers exposed to extremely hot working environments. This quasi-experimental pilot study aimed to analyze the effect of hydration intervention on the impact of heat stress and the risk of kidney dysfunction in construction workers. Purposive sampling was conducted to measure risk factors (environmental, occupational, individual), the impact of heat stress, and biomarkers of kidney function (SCr, GFR, BUN) at the pre- and post-intervention stages. Forty-six respondents were divided into four groups: Control, Intervention 1 (rehydration intervention), Intervention 2 (prehydration and rehydration intervention), and Intervention 3 (rehydration and electrolyte intervention). Data analysis was performed using paired t-test, MANOVA, Difference in Differences, and GLM Repeated Measure. The main findings showed that the hydration intervention had a positive and consistent impact on improving kidney function, indicated by decreased SCr and BUN levels and increased GFR (Pillai's Trace=0.528, F=2.98, p-value=0.003). The intervention effect showed a 31% change in SCr and LFG levels, and a 30% change in BUN influenced by the difference in intervention in each group. There was a significant difference in changes in morning - afternoon systolic pressure between the intervention groups on the combination of heat stress indicators (Pillai's Trace = 1.055, F = 1.677, p-value = 0.026), 27% of the change was influenced by the difference in intervention in each group. The impact of hydration intervention on improving kidney function and heat stress appeared stronger and more beneficial in Intervention Groups 2 and 3. In addition, age had a significant relationship with kidney function (Pillai's Trace = 0.724; F = 20.139; p-value <0.001), exercise habits interacted with kidney function from pre-intervention and post-intervention (Pillai's Trace = 0.458; F = 2.376; p-value = 0.043). There is a need to develop regulations and technical guidelines for hydration interventions in the construction sector, routine monitoring of heat exposure and its impacts, the need for kidney function screening in elderly workers, the importance of physical activity and healthy lifestyle habits outside of work hours as part of efforts to prevent kidney function disorders, and the need to conduct further studies with a larger sample size.
Read More
D-612
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andi Surayya Mappangile; Promotor: Doni Hikmat Ramdhan; Kopromotor: Ede Surya Darmawan; Penguji: Besral, Dumilah Ayuningtyas, Indri Hapsari Susilowati, Iting Shofwati, Agus Triyono, Sudi Astono
Abstrak:

Pendahuluan : Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang mengelola dan mengontrol keselamatan dan kesehatan kerja menjadi tanda tanya akan efektivitas penerapannya, dengan kondisi saat ini yakni Kecelakaan kerja yang masih terus meningkat, yang menyebabkan peningkatan biaya, berkurangnya produktivitas, hingga mempengaruhi daya saing suatu negara. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai tingkat penerapan Sistem Manajemen K3 dan menganalisis hubungannya dengan kinerja K3 (safety climate, incidence rate, frequency rate, dan severity rate) di perusahaan.
Metode : Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan design cross sectional study pada perusahaan yang memenuhi kriteria penerapan SMK3 dan beroperasi di wilayah Kalimantan Timur, sebanyak 94 perusahaan. Total responden untuk pengukuran safety climate sebanyak 8.055 orang.
Hasil : Tingkat penerapan Sistem Manajemen K3 perusahaan di Kalimantan Timur berada pada Level 3/Konsisten yaitu penerapan SMK3 yang pendekatan sistematis dan konsisten, upaya pengendalian risiko dilakukan secara terstruktur, terukur secara kualitatif, integrasi antarprosedur dan manajemen risiko berjalan di semua divisi. Penerapan sistem pembelajaran melalui monitoring, laporan K3, dan proses perbaikan belum berjalan secara menyeluruh. Komponen tertinggi di Hazard control and prevention, dan skor terlemah di Education and training. Safety climate berada dalam kondisi baik, dengan skor tertinggi di dimensi 6 (Pembelajaran komunikasi dan inovasi) serta skor terendah di dimensi 5 (Prioritas keselamatan pekerja dan tidak ditoleransinya risiko bahaya). Faktor safety climate dan kinerja K3 (incidence rate dan frequency rate) memiliki hubungan signifikan dengan tingkat Sistem Manajemen K3 yang diterapkan di perusahaan. Terdapat hubungan antara tingkat penerapan SMK3 dengan safety climate, incidence rate, dan frequency rate berdasarkan tersertifikasi SMK3.
Kesimpulan : Semakin baik tingkat penerapan SMK3 pada suatu perusahaan maka akan menghasilkan kinerja K3 yang lebih baik. Pada perusahaan yang tersertifikasi SMK3 namun penerapan SMK3 masih pada tingkat Adhoc & Coping akan menghasilkan kinerja K3 yang buruk (safety climate membutuhkan perbaikan; incidence rate dan frequency rate cenderung meningkat).


Introduction: Work accidents that continue to increase has caused the increased costs, reduced productivity, and affect the competitiveness of a country, making the Implementation of Occupational Safety and Health Management System a question mark about its effectiveness. The purpose of this study was to assess the level of implementation of the OSH Management System and analyze its relationship with OSH performance (safety climate, incidence rate, frequency rate, and severity rate) in the company.
Method: This study uses a quantitative design with a cross-sectional study approach in companies that meet the criteria for implementing SMK3 (Occupational Safety and Health Management System) and operate in the East Kalimantan region, as many as 94 companies. Total respondents for safety climate measurement were 8,055 people.
Results: The level of implementation of the company's OSH Management System in East Kalimantan is at Level 3/Consistent, namely the implementation of SMK3 (OSH Management system) with a systematic and consistent approach, risk control efforts are carried out in a structured manner, measured qualitatively, integration between procedures and risk management runs in all divisions. The implementation of the learning system through monitoring, OSH reports, and improvement processes has not been carried out comprehensively. The highest component is in Hazard control and prevention, and the weakest score is in Education and training. The safety climate condition is in good condition, with the highest score in dimension 6 Learning, communication and innovation and the lowest score in dimension 5 Priority of worker safety and zero tolerance of hazard risks. Safety climate factors and OSH performance (incidence rate, frequency rate,) have a significant relationship with the level of OSH Management System implemented in the company. There is a relationship between the level of OHS implementation with safety climate, Incidence rate and frequency rate based on OHS certification.
Conclusion: The better the level of OHS implementation in a company, the better OHS performance will be. In companies that are SMK3 certified but the implementation of SMK3 is still at the Adhoc & Coping level, it will result in poor K3 performance (SC needs improvement; IR and FR tend to increase).

Read More
D-552
Depok : FKM UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive