Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 14 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Diah Wati Soetojo; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto
S-1798
Depok : FKM UI, 2000
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diah Wati Soetojo; Pembimbing: Umar Fahmi Achmadi, Ririn Arminsih Wulandari
T-2015
Depok : FKM UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maria Magdalena Killis; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Ririn Arminsih, Laila Fitria, Diah Wati Soetojo, Didik Supriyono
Abstrak: Latar Belakang : Scistosomiasis termasuk dalam Penyakit Tropis yang Terabaikan (NTD-Neglected Tropical Diseases). disebabkan oleh cacing pipih trematoda darah dari genus Schistosoma. Schistosoma pada manusia yang dikenal ada 3 (tiga) jenis yaitu: Schistosoma japonicum, Schistosoma mansoni dan Schistosoma haematobium. Berdasarkan tempat hidupnya dalam tubuh manusia, terbagi menjadi dua jenis yaitu dalam pembuluh darah vena usus (Schistosoma japonicum dan Schistosoma mansoni), sedangkan dalam pembuluh darah vena vesica urinari (Schistosoma haematobium). Schistosomiasis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama di 77 negara berkembang di daerah tropis maupun subtropis. Diperkirakan 240 juta orang yang terinfeksi Schistosomiasis, dengan sekitar 700 juta orang di seluruh dunia berisiko terinfeksi Schistosomiasis, di Indonesia prevalensi Schistosomiasis tahun 2015 sebesar (1,7%), sama dengan prevalensi di Provinsi Sulawesi Tengah sebesar (1,7%).
Tujuan: penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara Sarana Air Bersih (SAB) dan jamban terhadap kejadian Schistosomiasis di Kabupaten Sigi dan Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi Tengah.
Metode : Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang bersifat deskriptif dengan menggunakan analisis desain studi ekologi, desa sebagai unit analisis.
Hasil : Hasil analisis hubungan antara SAB dengan Kejadian Schistosomiasis dan Jamban di Kabupaten Poso dan Kabupaten Sigi selama tahun pengamatan 2014-2016, secara statistik tidak terdapat hubungan. Hasil analisis yang berhubungan adalah pelaksanaan Program STBM dengan p-value = 0,010 (Poso) dan p-value = 0,0005 (Sigi) serta keberadaan kader kesehatan lingkungan Kabupaten Poso p-value=0,001, pekerjaan p-value = 0,000 (Sigi).
Kesimpulan : Variabel pelaksanaan program STBM dan ketersediaan kader kesehatan lingkungan, Penyuluhan Kesehatan lingkungan, pekerjaan dan kepadatan penduduk merupakan variabel yang berhubungan signifikan dari pada variabel lainnya.
Kata Kunci : Schistosomiasis japonicum, SAB, Jamban dan Program STBM

Introduction: Scistosomiasis is included in the Neglected Tropical Diseases (NTD), caused by flatworms of blood trematoda from the genus Schistosoma. There are three known Schistosoma in human, which are: Schistosoma japonicum, Schistosoma mansoni and Schistosoma haematobium. Based on the place of its life in the human body, is divided into two types, that is in the veins of intestinal veins (Schistosoma japonicum and Schistosoma mansoni), and in the veins of venous vesica urinary (Schistosoma haematobium). Schistosomiasis is still a public health problem, especially in 77 developing countries in the tropics and subtropics. Estimated, 240 million people infected with Schistosomiasis and about 700 million people worldwide at risk of being infected with Schistosomiasis. In Indonesia the prevalence of Schistosomiasis by 2015 was 1.7%, is similar to the prevalence in Central Sulawesi.
Objective: This study was to analyze the relationship between the clean water facility and latrines against the incidence of Schistosomiasis in Sigi and Poso districts of Central Sulawesi Province.
Method: This research is a descriptive quantitative research using ecological study design analysis, and the village as unit of analysis.
Result: Result of analysis of relationship between SAB with insidence of Schistosomiasis and Jamban in Poso and Sigi District during observation year 2014-2016 showed statistically there was no relationship. The result of related analysis is the implementation of Total Sanitation Based on Community Program with p-value = 0,010 (Poso) and p- value = 0.0005 (Sigi) and presence of health cadre of Kabupaten Poso p-value = 0,001, job p-value = 0,000 (Sigi).
Conclusion: The implementation of Total Sanitation Based on Community Program, the availability of environmental health cadres, environmental health counseling, occupation and population density were variables which are significantly related to other variables.
Keywords : Schistosomiasis japonicum, water facility, latrine and Total Sanitation Based on Community Program.
Read More
T-4899
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Umi Kalsum Supardi; Pembimbing: Mondastri Korip Sudaryo; Penguji: Tri Yunis Miko, Suhardini. Diah Wati Soetojo
Abstrak: Kolaborasi jangka panjang (Subdit TB dengan Dinas PUPNR) mengenai kebijakan dan pemberian (IMB) diperlukan untuk mengurangi pembangunan tanpa didahului studi kelayakan berwawasan lingkungan rumah sehat seperti penerapan (AMDAL), rancangan Plan Of Action/framework dan Kolaborasi layanan di tingkat kader TB yang selanjutnya ke tingkat FKTP semakin diperkuat, serta perlu dipertimbangkan kembali untuk melaksanakan program penemuan active case finding khususnya pada individu yang memiliki lingkungan rumah tidak sehat.
Read More
T-5576
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amanda Salsabila; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Zakianis, Diah Wati Soetojo
Abstrak: Latar Belakang: PM2.5 dikenal sebagai salah satu faktor lingkungan yang paling berpengaruh terhadap beban kematian global. Pabrik semen atau pabrik yang dalam produksinya menggunakan semen merupakan kontributor utama dalam emisi PM tingkat global. Emisi PM2.5 memiliki dampak yang besar pada kesehatan manusia terutama pada saluran pernapasan dengan efek penurunan fungsi paru yang dapat mengakibatkan PPOK.
Tujuan: Untuk menganalisis hubungan tingkat konsentrasi PM2.5 udara ambien dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik pada pekerja di Pabrik Produksi Beton X tahun 2018.
Desain dan metode: Penelitian ini dilakukan dengan desain cross-sectional pada bulan Februari-Mei 2018. Metode pengambilan sampel lingkungan menggunakan metode personal sampling, sedangkan sampel responden diambil menggunakan stratified random sampling. Subyek penelitian adalah 84 pekerja produksi beton yang bekerja di jalur produksi 2 dan jalur produksi 5. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner IPAG untuk PPOK dan Laser Egg untuk mengukur konsentrasi PM2.5.
Hasil penelitian: Dari hasil pengukuran konsentrasi PM2.5 ditemukan sebesar 62 (73,8%) sampel dengan konsentrasi di atas BML dan sebesar 37 (44%) sampel berisiko PPOK. Berdasarkan hasil uji Chi-square terdapat hubungan yang signifikan antara konsentrasi PM2.5 (OR = 3,627; 95% CI: 1,190-11,055) dan lama kerja (OR = 0,352; 95% CI: 0,144-0,858). Dari hasil uji regresi logistik ditemukan faktor paling dominan terhadap PPOK adalah konsentrasi PM2.5 (OR = 4,000) dan lama kerja sebagai variabel protektif (OR = 0,323).
Saran: Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut menggunakan spirometri pada pekerja yang berisiko dan penyediaan RPE yang sesuai standar bagi para pekerja.
Kata kunci: debu partikulat, Penyakit Paru Obstruktif Kronik, pabrik beton, pekerja

Background: PM2.5 is known as one of the most influential environmental agent to the global death burden. Cement plants or factories using cement in their production are major contributors to global level PM emissions. PM2.5 emissions have a major impact on human health, especially on the respiratory tract with effects on pulmonary function decline that can lead to PPOK.
Objective: To examine the relationship between the exposure of ambient air PM2.5 with Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) on workers at Bogor Concrete Production Plant X, 2018
Methods: Cross-sectional study conducted in February-May 2018 with personal sampling method for the environmental agent. Subject in this study are 84 workers that works on production line 2 and production line 5 taken using stratified random sampling. Instrument used was Laser Egg to measure PM2.5 concentration and IPAG questionnaire for COPD.
Results: This study found 62 (73,8%) samples with PM2.5 concentration above Environmental Quality Standards and 37 (44%) samples at risk of COPD. Bivariate analysis shows PM2.5 concentration (OR = 3,627; 95% CI: 1,190-11,055) and years of working (OR = 0,352; 95% CI: 0,144-0,858) as variables that significantly related with COPD. The result from logistic regression test found the most dominant factor for COPD is the concentration of PM2.5 (OR = 4) and years of working as a protective variable (OR = 0,323).
Suggestion: Further research using spirometry is needed for the workers at risk of COPD and companies need to provide a standarized RPE for workers.
Key words: Particulate Matter2,5, Chronic Obstruktive Pulmonary Disease, concrete production factory, workers
Read More
S-9848
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Deni Abdul Rahman; Pembimbing: Zakianis; Penguji: laila Fitria, Bambang Wispriyono, Diah Wati Soetojo, Aria Kusuma
T-4374
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dedi Budi Hartono; Pembimbing: I Made Djaja; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Ririn Arminsih, Diah Wati Soetojo, Sutikno
Abstrak: Diare menempati urutan kelima dalam 10 penyakit penyebab kematian di dunia dan diperkirakan 4 milyar kasus diare terjadi di dunia pada tahun 2007 serta 2,2 juta diantaranya meninggal. Kejadian diare di Kabupaten Lampung Tengah meningkat pada tahun 2015 tetapi mengalami penurunan pada tahun 2016, begitu juga kejadian diare di Puskesmas Kotagajah meningkat pada tahun 2015 dan menurun secara drastis pada tahun 2016. Salah satu upaya dalam menurunkan kejadian diare adalah dengan melaksanakan Open Defecation Free/ODF pada masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan kejadian diare dan faktor-faktor yang berhubungan terhadap kejadian diare pada Puskesmas belum ODF (Puskesmas Simbarwaringin) dan Puskesmas ODF (Puskesmas Kotagajah). Desain penelitian yang digunakan cross sectional, bersifat observasi deskriptif dan merupakan studi komparatif terhadap kejadian diare pada Puskesmas belum ODF dan puskesmas ODF dengan jumlah 100 sampel. Hasil analisis bivariat proporsi perbedaan terhadap kejadian diare pada Puskesmas belum ODF dan Puskesmas ODF berhubungan signifikan (p=0,001), OR=5,31 (95% CI:1,913-14,745). Hasil analisis multivariat menunjukkan kondisi fisik SAB (p=0,000) dan OR=42,25 (95% CI:11,810-189,034) setelah dikontrol variabel tingkat pendidikan, tingkat penghasilan, CTPS setelah BAB, memotong kuku, kondisi fisik jamban, TPS dan SPAL. Kesimpulannya proporsi kejadian diare pada Puskesmas belum ODF mempunyai peluang 5,31 kali lebih besar dibandingkan pada Puskesmas ODF. Sebaiknya dilakukan peningkatan pengetahuan pada masyarakat dan perilaku ODF selalu diterapkan oleh masyarakat sebagai salah satu cara pencegahan kejadian diare dan upaya menuju sanitasi total. Kata kunci: diare; ODF; sanitasi total; Puskesmas Kotagajah
Diarrhea ranks the fifth in 10 causes of death in the world and was estimated 4 billion cases of diarrhea occured in the world in 2007 and 2.2 million of them were died. The incidence of diarrhea in Central Lampung increased in 2015 but decreased in 2016, as well as the incidence of diarrhea in Kotagajah Puskesmas increased in 2015 and decreased drastically in 2016. Effort in reducing the incidence of diarrhea is by implementing Open Defecation Free/ODF to the community. This research is aimed to analyze the differences of diarrhea incidence and the related factors to the occurrences of diarrhea at non ODF Puskesmas (Puskesmas Simbarwaringin) and ODF Puskesmas (Puskesmas Kotagajah). This research is using cross sectional design, descriptive observation and comparative study on the incidence of diarrhea at non ODF Puskesmas and ODF Puskesmas which consisted 100 samples. Bivariate analysis of the proportion of the difference to the incidence of diarrhea at non ODF Puskesmas and ODF Puskesmas has significant correlation (p = 0,001), OR = 5,31 (95% CI: 1,913-14,745). Multivariate analysis showed physical condition of SAB (p = 0,000) and OR = 42,25 (95% CI: 11,810-189,034) after controlled by variable of education level, income level, CTPS after defecate, nail cut, physical condition of toilet, TPS and SPAL. In conclusion, the proportion of diarrhea occurrences at the non ODF Puskesmas is 5.31 times greater than in ODF Puskesmas. It is better to increase knowledge on the community and the behavior of ODF is always applied by the community as a way to prevent the occurrences of diarrhea and efforts towards total sanitation. Keywords: Diarrhea; ODF; Total sanitation; Puskesmas Kotagajah.
Read More
T-4863
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tiara Mairani; Pembimbing: Bambang Wispriyono, Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Satria Pratama, Diah Wati Soetojo
Abstrak: ABSTRAK Polusi udara dikaitkan dengan jutaan kematian prematur di seluruh dunia dan 20% di antaranya bersifat pernafasan berasal dari polusi udara outdoor dan indoor dalam bentuk partikel serta gas. Pajanan PM2,5 dan formaldehid yang berasal dari dalam ruang memiliki efek kesehatan sejak dini pada anak-anak, karena anak-anak merupakan kelompok rentan dan selama anak dalam proses pengembangan paru-paru dapat menyebabkan dampak jangka panjang pada fungsi paru. Penelitian ini bertujuan mengindentifikasi hubungan pajanan Particulate Matter 2,5 (PM2,5) dan formaldehid terhadap gangguan fungsi paru pada siswa Sekolah Menegah Pertama Kota Depok. Penelitian ini menggunakan studi cross-sectional yang dilaksanakan pada Maret-Mei 2018. Jumlah sampel sebanyak 160 siswa dengan metode simpel random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa berumur 13-15 tahun berisiko mengalami gangguan fungsi paru 2,9 kali dengan IMT tidak normal dan mayoritas perokok pasif serta dengan aktifitas fisik yang kurang atau jarang dilakukan siswa. Pajanan PM2,5 >NAB 35μg/m3 berisiko 7.2 kali mengalami gangguan fungsi paru pada siswa di sekolah yang berada dekat jalan raya dan konsentrasi formaldehid tinggi berisiko 1,6 kali mengalami gangguan fungsi paru pada siswa di sekolah dekat jalan raya dengan kondisi ventilasi yang tidak memenuhi syarat, suhu dan kelembaban tidak normal di sekolah. Perlu dilakukan pengendalian risiko pencemaran udara dilingkungan sekolah dengan menjauhi atau membatasi diri dari sumber polusi udara. Kata kunci: PM2,5, Formaldehid, Gangguan fungsi paru Air pollution is associated with millions of premature deaths worldwide and 20% of them are respiratory from outdoor and indoor air pollution in the form of particles and gases. Exposure to PM2.5 and formaldehyde derived from space has an early health effect on children, as children are a vulnerable group and during childhood in the lung development process can cause long-term effects on lung function. This study aims to identify the exposure relationship of Particulate Matter 2.5 (PM2,5) and formaldehyde to lung function impairment in Depok State Junior High School students. This study uses a cross-sectional study conducted in March-May 2018. The number of samples as many as 160 students with a simple random sampling method. The results showed that students aged 13-15 years are at risk of impaired lung function 2.9 times with abnormal BMI and the majority of passive smokers and with less physical activity or rarely do students. Exposure of PM2.5> NAB 35μg / m3 at risk 7.2 times impaired lung function in students at schools located near the highway and high formaldehyde concentrations at risk of 1.6 times impaired lung function in students at schools near highway with no ventilation conditions Eligible, temperature and humidity are not normal at school. It is necessary to control the risks of air pollution within the school environment by avoiding or restricting themselves from sources of air pollution. Key words: Particulate Matter2,5, Formaldehyde, Lung Function
Read More
T-5243
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Maniksulistya; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Ririn Arminsih, Dwinda Ramadhoni, Diah Wati Soetojo
Abstrak: Balita merupakan populasi yang rentan terhadap PM 2,5 di udara dikarenakan sistemimun yang belum sempurna dan jalan napasnya yang masih sempit. PM 2,5 dapat masuksampai ke alveoli paru dan melemahkan sistem pertahanan lokal saluran pernapasansehingga menyebabkan pneumonia. Angka pneumonia di Kabupaten Kubu Raya,Kalimantan Barat masih cukup tinggi dengan jumlah kasus yang terbanyak di KecamatanSungai Raya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara PM 2,5 dalamudara ruang dengan kejadian pneumonia pada balita. Metode penelitian yang digunakanadalah kasus kontrol. Total sampel sebanyak 120 sampel yang terdiri dari 60 kasus dan60 kontrol. Hasil penelitian didapatkan terdapat empat variabel yang berhubungan denganpneumonia pada balita yaitu PM 2,5 dalam udara ruang, kepadatan hunian, ventilasidapur, dan pencahayaan. PM 2,5 dalam udara ruang berhubungan dengan pneumoniapada balita setelah dikontrol dengan variabel ventilasi dapur, suhu, pencahayaan,penggunaan obat nyamuk bakar, kepadatan hunian, dan kebiasaan membuka jendeladengan OR sebesar 13,596.Kata kunci:pneumonia, balita, PM 2,5, pencemaran udara dalam ruangan
Toddlers are a population susceptible to PM 2.5 in the air due to the immune system thatis not perfect and the airway is still narrow. PM 2.5 can enter up to the pulmonary alveoliand weaken the respiratory system of the respiratory tract causing pneumonia. Thenumber of pneumonia in Kabupaten Kubu Ra ya, West Kalimantan is still quite high withthe highest number of cases in Sungai Raya District. The purpose of this study was todetermine the relationship between PM 2.5 in air space with the incidence of pneumoniain infants. The research method used is case control. A total sample of 120 samplesconsisting of 60 cases and 60 controls. The results showed that there were four variablesrelated to pneumonia in toddlers namely PM 2.5 in space air, occupancy density, kitchenventilation, and lighting. PM 2.5 in space air is associated with pneumonia in toddlersafter controlled with variables of kitchen ventilation, temperature, lighting, use ofmosquito coils, density, and the habit of opening windows with ORs of 13,596.Key words:pneumonia, toddler, PM 2.5, indoor air pollution.
Read More
T-5426
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elia Yulaeva; Pembimbing: Bambang Wispriyono, Budi Hartono; Penguji: Laila, Fitria, Satria Pratama, Diah Wati Soetojo
Abstrak: ABSTRAK Kualitas udara dalam ruangan yang baik di lingkungan sekolah merupakan hal penting untuk kesehatan dan produktivitas siswa. Pencemaran udara dalam ruangan menjadi perhatian karena seseorang dapat menghabiskan 90% waktunya di dalam ruangan. Pencemaran udara dalam ruangan merupakan masalah utama bagi kesehatan masyarakat secara global. Karbon Dioksida (CO2) dan Total Volatile Organic Compound (VOC) merupakan polutan dalam ruangan yang berdampak pada gangguan fungsi paru. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara pajanan konsentrasi CO2, total VOC dalam ruangan dan gangguan fungsi paru pada siswa Sekolah Menengah Pertama. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional yang dilaksanakan pada bulan Maret - Mei 2018. Sampel yang diambil berjumlah sebanyak 139 siswa dengan menggunakan metoda simple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata konsentrasi CO2 dalam kelas di Sekolah Menengah Pertama di Depok sebesar 478,70 ppm, rata-rata konsentrasi total VOC sekitar 6,4 x 10-3 ppm, rata- rata %KVP = 72,66, %VEP1 = 74,52 dan VEP1/KVP = 93,97, proporsi siswa yang mengalami gangguan fungsi paru sebesar 3,6%. Tidak ditemukan hubungan antara pajanan konsentrasi CO2 dan total VOC dalam ruangan dengan gangguan fungsi paru VEP1/KVP (CO2, p =1,000 dan total VOC p =0,374) karena jumlah yang mengalami gangguan fungsi paru kecil dan konsentrasi CO2, total VOC masih di bawah ambang batas yang diijinkan. Perlu peningkatan perilaku hidup sehat dan bersih di sekolah serta dilakukan penelitian lebih lanjut dengan parameter pencemar udara lain di dalam ruangan dan gangguan pernafasan atau penyakit degeratif dengan metoda yang berbeda. Kata kunci : Karbon dioksida, total volatile organic compound, fungsi paru, sekolah Good indoor air quality in school environments is important for student health and productivity. Indoor air pollution is a concern because people can spend 90% of their time indoors. Indoor air pollution is a major problems to public health globally. Carbon Dioxide (CO2) and Total Volatile Organic Compound (VOC) are indoor pollutants that affect pulmonary function disorders. The purpose of this research was to know the relationship between exposure of CO2 concentration, total VOC indoor and pulmonary function disorder of students in Junior High School. This research used cross-sectional design which conducted in March-May 2018. The sample was 139 students using simple random sampling method. The results showed that the average concentration of CO2 in the class room at Junior High School in Depok was 478,70 ppm, mean total VOC concentration was about 5.4 x 10-3 ppm, mean %FVC = 72.66, %, FEV1 = 74.52 and %FEV1/FVC = 93.97, the proportion of student with lung function disorder 3.6%. No association was found between exposure to CO2 concentrations and total indoor VOCs with pulmonary function impairment of VEP1/KVP (CO2, p = 1,000 and total VOC p = 0.374) due to the number of impaired small pulmonary function and CO2 concentrations, total VOC was still below the threshold of the allowable limit. It needs to improve healthy and clean life behavior in school and do further research with another parameter of air pollution indoors and respiratory disorder or degenerative disease with a different method. Keywords: Carbon dioxide, total volatile organic compound, lung function, school
Read More
T-5457
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive