Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 9 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dina Mutia Sya'adila; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi; Penguji: Yoslien Sopamena, Yoslien Sopamena
Abstrak:
WHO merekomendasikan remaja untuk melakukan aktivitas fisik minimal 60 menit setiap hari guna menjaga kesehatan dan mencegah penyakit tidak menular. Namun, tingkat aktivitas fisik remaja di DKI Jakarta masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku aktivitas fisik pada siswa SMP Negeri 41 Jakarta Selatan tahun 2025. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 115 siswa kelas 7 dan 8 yang dipilih menggunakan simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan secara primer menggunakan kuesioner, dengan pengukuran aktivitas fisik mengacu pada Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 66,1% siswa memiliki aktivitas fisik kurang. Faktor pengetahuan (p=0,001), sikap (p=0,001), dan dukungan teman (p=0,001) memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku aktivitas fisik siswa. Sementara itu, fasilitas aktivitas fisik (p>0,05) dan dukungan keluarga (p>0,05) tidak berhubungan dengan aktivitas fisik. Diperlukan upaya peningkatan aktivitas fisik siswa melalui penguatan edukasi, pembentukan sikap positif, serta optimalisasi peran teman sebaya dalam mendukung perilaku aktif di lingkungan sekolah.

The World Health Organization recommends that adolescents engage in at least 60 minutes of physical activity daily to maintain health and prevent non-communicable diseases. However, the level of physical activity among adolescents in Jakarta remains low. This study aimed to determine the determinants of physical activity behavior among students of SMP Negeri 41 South Jakarta in 2025. This study employed a quantitative cross-sectional design. A total of 115 seventh- and eighth-grade students were selected using simple random sampling. Data were collected through a self-administered questionnaire, with physical activity measured using the Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ). Data analysis was conducted using the Chi-square test. The results showed that 66.1% of students had insufficient physical activity. Knowledge (p=0.001), attitude (p=0.001), and peer support (p=0.001) were significantly associated with physical activity behavior. Meanwhile, physical activity facilities (p>0.05) and family support (p>0.05) were not significantly associated with physical activity. Efforts to improve students’ physical activity are needed through strengthening health education, fostering positive attitudes, and optimizing peer support within the school environment.
Read More
S-12201
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Okta Krisnawati; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Rico Kurniawan, Yoslien Sopamena, Hanny Harjulianti, Eti Rohati
Abstrak:
Kematian ibu masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, dengan komplikasi selama persalinan menjadi faktor penyumbang utama. Penelitian ini mengkaji hubungan antara faktor ibu berisiko tinggi khususnya usia ibu dan paritas dengan kejadian komplikasi persalinan menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Penelitian ini menggunakan studi cross-sectional dilakukan terhadap 64.000 ibu (sampel terbobot: 17.956.052) yang melahirkan antara tahun 2018-2023. Pembobotan sampel kompleks diterapkan untuk memastikan representasi nasional. Analisis bivariabel menggunakan uji chi-square dan regresi logistik multivariabel dilakukan untuk mengidentifikasi faktor risiko independen komplikasi persalinan. Prevalensi komplikasi persalinan adalah 21,22%. Analisis multivariabel menunjukkan bahwa ibu berusia >35 tahun memiliki peluang 1,36 kali lebih tinggi mengalami komplikasi (AOR=1,359; 95% CI: 1,248-1,480) dibandingkan ibu berusia 20-35 tahun. Sebaliknya, ibu nulipara dan primipara menunjukkan angka komplikasi tertinggi (21,01%), sementara ibu multipara memiliki risiko yang lebih rendah (AOR=0,715; 95% CI: 0,629-0,776). Faktor geografis, frekuensi ANC, dan akses ke fasilitas kesehatan juga menunjukkan hubungan signifikan dengan komplikasi persalinan. Usia ibu lanjut (>35 tahun) dan paritas rendah secara signifikan meningkatkan risiko komplikasi persalinan di Indonesia. Penguatan program keluarga berencana, peningkatan kualitas pelayanan antenatal, dan perbaikan akses layanan kesehatan merupakan strategi esensial untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas maternal.

Maternal mortality remains a significant public health challenge in Indonesia, with complications during childbirth being a primary contributing factor. This study examines the relationship between high-risk maternal factors specifically maternal age and parity and the occurrence of childbirth complications using data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). The study is a cross-sectional study was conducted with 64,000 mothers (weighted sample: 17,956,052) who delivered between 2018-2023. Complex sample weighting was applied to ensure national representativeness. Bivariable analysis using chi-square tests and multivariable logistic regression were performed to identify independent risk factors for childbirth complications. The prevalence of childbirth complications was 21.22%. Multivariable analysis revealed that mothers aged >35 years had 1.36 times higher odds of experiencing complications (AOR=1.359; 95% CI: 1.248-1.480) compared to those aged 20-35 years. Conversely, nulliparous and primiparous mothers showed the highest complication rates (21.01%), while multiparous mothers had lower odds (AOR=0.715; 95% CI: 0.629-0.776). Geographic factors, ANC frequency, and access to healthcare facilities also demonstrated significant associations with childbirth complications. Advanced maternal age (>35 years) and low parity significantly increase the risk of childbirth complications in Indonesia. Strengthening family planning programs, enhancing quality antenatal care, and improving healthcare access are essential strategies to reduce maternal morbidity and mortality.
Read More
T-7477
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Niesha Alifia Zahra; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Yoslien Sopamena, Yudianto
Abstrak:
Anemia masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang banyak dialami oleh remaja putri di Indonesia. Salah satu upaya pencegahan anemia adalah melalui program konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD). Namun, kepatuhan remaja putri dalam mengonsumsi TTD sesuai anjuran masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku konsumsi Tablet Tambah Darah pada siswi SMA Negeri 3 Kota Bandung tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian berjumlah 90 siswi yang dipilih menggunakan teknik quota sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square dan Fisher’s Exact. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara pengetahuan dengan perilaku konsumsi Tablet Tambah Darah (p<0,001). Sementara itu, sikap terhadap TTD tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan perilaku konsumsi TTD (p=0,301). Faktor pemungkin berupa aksesibilitas dalam mendapatkan TTD juga tidak berhubungan secara signifikan dengan perilaku konsumsi TTD (p=0,242). Pada faktor penguat, dukungan keluarga (p=0,035) dan dukungan teman sebaya (p=0,021) memiliki hubungan yang bermakna dengan perilaku konsumsi TTD, sedangkan dukungan guru tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik (p=0,212). Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumsi Tablet Tambah Darah pada siswi SMA Negeri 3 Kota Bandung dipengaruhi oleh faktor pengetahuan serta dukungan keluarga dan teman sebaya. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi yang berkelanjutan untuk meningkatkan pengetahuan siswi, serta penguatan peran keluarga dan teman sebaya dalam mendukung kepatuhan konsumsi TTD.

Anemia remains a public health problem that commonly affects adolescent girls in Indonesia. One of the strategies to prevent anemia is the iron tablet supplementation program. However, adherence to iron tablet consumption according to recommendations remains low among adolescent girls. This study aimed to determine the factors associated with iron tablet consumption behavior among female students at SMA Negeri 3 Bandung in 2025. This study employed a cross-sectional design with a quantitative approach. The sample consisted of 90 female students selected using quota sampling. Data were collected through an online questionnaire that had been tested for validity and reliability. Data analysis was conducted using univariate and bivariate analyses with the chi-square test and Fisher’s Exact test. The results showed a statistically significant association between knowledge and iron tablet consumption behavior (p<0.001). In contrast, attitude toward iron tablets was not significantly associated with consumption behavior (p=0.301). Enabling factors in the form of accessibility to iron tablets were also not significantly associated with consumption behavior (p=0.242). Regarding reinforcing factors, family support (p=0.035) and peer support (p=0.021) were significantly associated with iron tablet consumption behavior, while teacher support was not statistically significant (p=0.212). Based on these findings, it can be concluded that iron tablet consumption behavior among female students at SMA Negeri 3 Bandung is influenced by knowledge, family support, and peer support. Therefore, continuous health education is needed to improve students’ knowledge, as well as to strengthen the role of families and peers in supporting adherence to iron tablet consumption.
Read More
S-12199
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yoslien Sopamena; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Tri Krianto, Ahmad Syafiq, Christiana R. Titaley, Ety Yuni Ristanti
Abstrak: Literasi gizi merupakan salah satu prediktor penyakit tidak menular, namun belum banyak penelitian yang menilai kemampuan literasi gizi masyarakat, termasuk pada kelompok masyarakat berpendidikan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara determinan sosial dan literasi gizi pada mahasiswa program sarjana di Universitas Pattimura angkatan 2018 dengan menggunakan data sekunder Studi Literasi Kesehatan 2019. Enam determinan yang diukur yaitu jenis kelamin, uang saku mingguan, status tempat tinggal, suku, partisipasi sosial dan program pendidikan. Tingkat literasi gizi diukur menggunakan kuesioner The Newest Vital Signs. Analisa deskriptif terdiri dari frekuensi untuk variabel kategorik dan mean, median, varian untuk variabel numerik. Uji non-parametrik Mann-Whitney dilakukan untuk mencari hubungan antar variabel dan regresi liner multivariabel untuk mencari variabel yang paling berpengaruh. Dari 382 partisipan, lebih banyak yang memiliki tingkat literasi yang tidak adekuat dibanding yang adekuat (54,7% vs 45,3%). Adapun rerata skor literasi gizi seluruh partisipan adalah 2,31 (SD=1,30) dari skala 6. Untuk determinan sosialnya, hanya keragaman suku yang diketahui memiliki hubungan yang signifikan dengan skor literasi gizi. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi determinan lain yang berkaitan dengan literasi gizi.
Nutrition literacy is one of the predictors of non-comunicable diseases; however, research around nutrition literacy assessment is lacking in Indonesia, including among its welleducated population. This study aimed to examine the determinants of nutrition literacy among first year undergraduate students of the University of Pattimura, Maluku. Using data derived from the Health Literacy Study 2019, six determinants of nutrition literacy (i.e., sex, weekly expenditure, living place status, perceived ethnic diversity, social participation and education programs) were analyzed. Nutrition literacy was measured using the adapted 6-item Newest Vital Signs. Descriptive statistic of frequency, mean and median was used to describe each of the main variables. The non-parametric MannWhitney was performed to examine the association between independent and dependent variables. Linear regression linear was used to analyze association between independent variables and nutriton literacy. Of the 382 participants, the average score of nutrition literacy was 2,31 (SD=1,30), with more than half of them have inadequate nutrition literacy (54,7%) compare to those who have adequate nutrition literacy (45,3%). Perceived ethnic diversity was the only social determinant that significantly associates with nutrition literacy. Future research exploring association of other social determinants to nutrition literacy is recommended
Read More
T-5987
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ni Putu Gita Eka Swari; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Yoslien Sopamena, Antonius Endro Susilo
Abstrak:
Latar belakang: Penyakit tidak menular (PTM) menjadi isu kesehatan global yang semakin meningkat. Literasi kesehatan berperan penting dalam memengaruhi kemampuan individu untuk mengakses, memahami, menilai dan menerapkan informasi kesehatan untuk mengambil keputusan terkait perilaku sehat, seperti pola makan dan aktivitas fisik. Perusahaan oli Kemayoran, Jakarta Pusat memiliki jam kerja panjang dan aktivitas fisik tinggi yang berdampak pada kondisi kesehatan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan literasi kesehatan dengan aktivitas fisik dan pola makan pada pekerja industri oli Kemayoran, Jakarta Pusat. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan survei melalui kuesioner. Jumlah sampel sebanyak 143 responden yang dipilih menggunakan stratified random sampling. Instrumen yang digunakan meliputi HLS-EU-Q16, NVS, dan HPLP II. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman rho. Hasil: literasi kesehatan umum berhubungan positif dengan aktivitas fisik dan pola makan dengan kekuatan hubungan lemah pada aktivitas fisik dan kekuatan hubungan sedang pada pola makan. Sementara, untuk literasi kesehatan fungsional responden tidak ditemukan adanya hubungan baik pada aktivitas fisik maupun pola makan. Kesimpulan: Penelitian selanjutnya disarankan untuk memasukkan variabel psikososial, seperti stres kerja, motivasi hidup sehat, dan pengaruh lingkungan yang dapat berperan dalam pembentukan gaya hidup sehat, mengingat NVS tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan aktivitas fisik dan pola makan

Background: Non-communicable diseases (NCDs) are a growing global health issue. Health literacy plays a crucial role in influencing an individual's ability to access, understand, assess, and apply health information to make decisions related to healthy behaviors, such as dietary pattern and physical activity. Oil companies in Kemayoran, Central Jakarta, have long working hours and high levels of physical activity, which impact their health. This study aims to analyze the relationship between health literacy and physical activity and dietary pattern among oil industry workers in Kemayoran, Central Jakarta. Methods: This study used a cross-sectional design with a survey questionnaire. A sample of 143 respondents was selected using stratified random sampling. The instruments used were the HLS-EU-Q16, NVS, and HPLP II. Data analysis was performed using the Spearman rho correlation test. Results: General health literacy was positively associated with physical activity and dietary pattern, with a weak relationship for physical activity and a moderate relationship for dietary pattern. Meanwhile, no relationship was found between respondents' functional health literacy and physical activity or dietary pattern. Conclusion: Further research is recommended to include psychosocial variables, such as work stress, healthy living motivation, and environmental influences that can play a role in the formation of a healthy lifestyle, considering that functional health literacy did not show a significant relationship with physical activity and dietary pattern.
Read More
S-12156
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mutti Hazwani Qurrotuaini; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Yoslien Sopamena, Anggy Desmita Pratiwi
Abstrak:
Latar belakang: Beberapa bukti dari studi kuantitatif dan tinjauan literatur di Indonesia menunjukkan bahwa rendahnya literasi kesehatan reproduksi di kalangan remaja dapat menyebabkan perilaku yang tidak sehat seperti, pelecehan seksual, serta kehamilan yang tidak diinginkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran literasi kesehatan reproduksi pada siswa SMA serta faktor-faktor yang berhubungan dengannya. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan mengambil sampel siswa SMA berusia 15-17 tahun dari kelas X dan XI di SMAN 4 Kota Serang Provinsi Banten (n = 443 Siswa SMA). Instrumen pengukuran literasi kesehatan reproduksi diadaptasi dari kuesioner Survei on Maternal Child and Reproductive Health Literacy in Shanghai menggunakan wawancara kognitif. Uji Bivariabel dilakukan untuk melihat hubungan literasi kesehatan reproduksi dengan umur, jenis kelamin, riwayat permasalahan kesehatan reproduksi, pendapatan orang tua, akses fasilitas kesehatan pendidikan orang tua, jenjang kelas, tempat tinggal, dan akses informasi kesehatan reproduksi. Hasil analisis menunjukkan bahwa mayoritas siswa memiliki literasi kesehatan reproduksi kurang hingga sedang (rata-rata 56,14) dengan skor paling baik pada domain promosi kesehatan dan skor paling rendah pada domain pelayanan kesehatan. Terdapat 6 variabel memiliki hubungan (p-value <0,05) dengan literasi kesehatan reproduksi yaitu, umur, jenis kelamin, riwayat permasalahan kesehatan reproduksi, akses fasilitas kesehatan (asuransi), pendidikan orang tua, akses informasi kesehatan reproduksi. Saran penelitian ini mencakup materi kesehatan reproduksi perlu diintegrasikan bagi siswa SMA dalam kurikulum secara lebih mendalam, tidak hanya dalam mata pelajaran biologi tetapi juga melalui Bimbingan Konseling, PJOK dan kegiatan ekstrakurikuler. Serta penggunaan hasil penelitian digunakan sebagai acuan untuk pengembangan intervensi, media edukasi serta penelitian lebih lanjut dapat melakukan penelitian evaluasi terhadap efektivitas berbagai model intervensi peningkatan literasi kesehatan reproduksi.

Background:. This study aims to determine the description of reproductive health literacy among high school students and the factors associated with it. This study used a cross-sectional design by taking a sample of high school students aged 15-17 years from grades X and XI at SMAN 4 Serang City, Banten Province (n = 443). The reproductive health literacy measurement instrument was adapted from the Survey on Maternal Child and Reproductive Health Literacy in Shanghai questionnaire using cognitive interviews. Bivariable tests were conducted to see the relationship between reproductive health literacy and age, gender, history of reproductive health problems, parental income, access to health facilities, parental education, class level, living arrangements, and access to reproductive health information. The analysis results show that the majority of students have poor to moderate reproductive health literacy, with the highest scores in the health promotion domain and the lowest scores in the health services domain. Six variables are associated with reproductive health literacy, namely age, gender, history of reproductive health problems, access to health facilities (insurance), parental education, and access to reproductive health information. This research recommends that reproductive health materials be integrated more deeply into the curriculum for high school students, not only in biology but also through guidance and counseling, physical education, and extracurricular activities. The research results can also be used as a reference for developing interventions and educational media, and further research can evaluate the effectiveness of various intervention models to improve reproductive health literacy.
Read More
S-12162
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dina Putri Yulianti; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Tiara Amelia, Yoslien Sopamena, Rien Pramindari, Saiful Millah
Abstrak:
Kesiapan kesehatan prakonsepsi merupakan aspek penting dalam pencegahan komplikasi kehamilan serta peningkatan keselamatan ibu dan bayi. Penelitian ini bertujuan menganalisis perilaku kesiapan kesehatan prakonsepsi calon pengantin berdasarkan konstruk Health Belief Model (HBM), meliputi persepsi kerentanan, keseriusan, manfaat, hambatan, isyarat untuk bertindak, dan efikasi diri. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Informan terdiri atas delapan calon pengantin (empat perempuan dan empat laki-laki) sebagai informan utama serta lima informan kunci yang meliputi penyuluh Kantor Urusan Agama (KUA), tenaga kesehatan puskesmas (dokter dan bidan), dan pejabat Kementerian Agama Kota Depok. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan metode analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa calon pengantin menyadari adanya kerentanan terhadap risiko komplikasi kehamilan, seperti anemia, penyakit keturunan, dan gangguan kesehatan pada anak, serta memandang risiko tersebut sebagai kondisi yang serius dan memerlukan persiapan sejak sebelum kehamilan. Pemeriksaan kesehatan pranikah dipersepsikan memberikan manfaat berupa deteksi dini dan peningkatan kesiapan fisik maupun psikologis. Namun demikian, berbagai hambatan masih ditemukan, terutama keterbatasan informasi yang aplikatif, faktor psikologis seperti rasa malu dan ketakutan terhadap hasil pemeriksaan, serta keterlambatan waktu pemeriksaan yang dilakukan mendekati hari pernikahan. Isyarat untuk bertindak dalam mempersiapkan kesehatan prakonsepsi muncul melalui dorongan pasangan, edukasi tenaga kesehatan, bimbingan perkawinan oleh penyuluh KUA, serta pengalaman keluarga. Tingkat efikasi diri calon pengantin bervariasi dan dipengaruhi oleh motivasi pribadi, dukungan pasangan, serta lingkungan layanan kesehatan. Penelitian ini menegaskan bahwa meskipun calon pengantin telah memahami manfaat persiapan kesehatan prakonsepsi, masih terdapat kesenjangan antara pemahaman dan penerapan praktis di tingkat layanan. Oleh karena itu, diperlukan penguatan edukasi dan pendampingan prakonsepsi yang terintegrasi antara KUA dan puskesmas agar kesiapan kesehatan prakonsepsi calon pengantin dapat terwujud secara lebih optimal.

Preconception health readiness is a crucial component in preventing pregnancy complications and improving maternal and neonatal safety. This study aimed to analyze preconception health readiness behaviors among prospective brides and grooms using the Health Belief Model (HBM), including perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, perceived barriers, cues to action, and self-efficacy. A qualitative study with a phenomenological approach was conducted. Participants consisted of eight prospective couples (four women and four men) as primary informants and five key informants, including marriage counselors from the Office of Religious Affairs (KUA), primary healthcare providers (a doctor and a midwife), and officials from the Ministry of Religious Affairs of Depok City. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using content analysis. The findings show that prospective couples are aware of their susceptibility to pregnancy-related risks, such as anemia, hereditary conditions, and health problems in children, and perceive these risks as serious and requiring preparation before pregnancy. Premarital health examinations were perceived as beneficial for early detection and improving physical and psychological readiness. However, several barriers were identified, including limited access to practical health information, psychological factors such as embarrassment and fear of examination results, and delays in undergoing health examinations close to the wedding date. Cues to action emerged from partner encouragement, health education provided by healthcare professionals, premarital counseling conducted by KUA counselors, and family experiences. Levels of self-efficacy varied among prospective couples and were influenced by personal motivation, partner support, and the healthcare environment. This study highlights that although prospective couples generally understand the benefits of preconception health preparation, a gap remains between knowledge and practical implementation at the service level. Strengthening integrated preconception education and continuous support between the KUA and primary healthcare centers is needed to optimize preconception health readiness among prospective couples.
Read More
T-7473
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hanifa Rahmatya Klafinofa; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Yoslien Sopamena, Hareza Wulansari Gezali
Abstrak:
Praktik Pemeriksaan Payudara Sendiri Kanker payudara merupakan salah satu penyebab utama kematian akibat kanker pada perempuan di Indonesia. Deteksi dini melalui pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) menjadi upaya penting untuk menemukan kelainan sejak dini, namun tingkat penerapannya di kalangan remaja masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran praktik payudara sendiri (SADARI) pada siswi SMAN 27 Jakarta Pusat tahun 2025 menggunakan pendekatan health belief model. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh siswi SMAN 27 Jakarta Pusat tahun ajaran 2025/2026. Waktu pelaksanaannya pada bulan November – Desember 2025. Penelitian ini mengambil 186 responden yang dipilih menggunakan metode quota sampling, pengambilan data dilakukan menggunakan kuesioner online melalui Google Formulir. Hasil Penelitian menunjukan bahwa 37,6% siswi pernah setidaknya sekali melakukan SADARI dan hanya 18,8% siswi yang rutin melakukan SADARI setiap bulan. Rendahnya praktik SADARI di berkaitan dengan tingginya persepsi hambatan. Disarankan untuk memanfaatkan UKS dan PIK-R untuk membentuk peer educator dan melakukan edukasi bersifat simulasi dalam melakukan praktik SADARI.

Breast cancer is one of the leading causes of cancer-related death among women in Indonesia. Early detection through breast self-examination (BSE) is an important effort to identify abnormalities at an early stage; however, the level of practice among adolescents remains low. This study aims to describe the practice of breast self-examination (BSE) among female students of SMAN 27 Central Jakarta in 2025 using the Health Belief Model approach. This quantitative study employed a cross-sectional design. The study population consisted of all female students of SMAN 27 Central Jakarta in the 2025/2026 academic year. The research was conducted from November to December 2025 with a total of 186 respondents selected using the quota sampling method. Data were collected using an online questionnaire distributed via Google Form. The results showed that 37.6% of the students had performed BSE at least once, while only 18.8% practiced it regularly every month. The low rate of BSE practice was associated with a high level of perceived barriers. It is recommended that school health units (UKS) and youth information and counseling centers (PIK-R) be utilized to develop peer educators and conduct simulation-based educational programs to improve students’ skills and consistency in performing BSE.
Read More
S-12200
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Claudia Shafira Dewi; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Yoslien Sopamena, Scheila Askhim Sira
Abstrak:

Latar belakang: Perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut tidak hanya dipengaruhi oleh keyakinan dan sikap yang terbentuk dalam diri individu. Pemeriksaan gigi pada mahasiswa/I PTDI-STTD didapatkan hasil rata-rata DMF-T adalah 2,7 termasuk dalam kategori sedang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku kesehatan gigi dan mulut pada mahasiswa/i PTDI-STTD ditinjau dari teori Health Belief Model (HBM). Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan potong lintang (cross-sectional). Terdapat 245 sampel penelitian mahasiswa /i PTDI-STTD yang dipilih secara acak dengan teknik stratified random sampling. Analisis data dilakukan dengan univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil: Skor rata-rata perilaku kesehatan gigi dan mulut sebesar 74,7 dari skala 100. Penelitian menunjukkan terdapat hubungan persepsi manfaat, persepsi hambatan, isyarat untuk bertindak, dan efikasi diri dengan perilaku kesehatan gigi dan mulut (p-value = 0,001), tidak terdapat hubungan yang signifikan persepsi keparahan (p = 0,580 ) dan persepsi kerentanan p = 0,685) dengan perilaku kesehatan gigi dan mulut. Pekerjaan ibu (p = 0,019) memiliki hubungan dengan perilaku kesehatan gigi dan mulut, jenis kelamin (p = 0,264), pendidikan ibu (p = 0,174), pendidikan ayah (p = 0,998), dan pekerjaan ayah (p = 0,369) tidak terdapat hubungan yang signifikan dengan perilaku kesehatan gigi dan mulut. Kesimpulan: Persepsi hambatan, isyarat untuk bertindak, dan efikasi diri merupakan determinan utama perilaku kesehatan gigi dan mulut. Upaya yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan dan edukasi terkait pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut.


Background: Oral health maintenance behaviour is not only influenced by beliefs and attitudes formed within individuals. Dental examinations of PTDI-STTD students showed an average DMF-T score of 2.7, which is classified as moderate. This study aims to determine the determinants of dental and oral health behaviour among PTDI-STTD students based on the Health Belief Model (HBM) theory. Methods: This study used a quantitative cross-sectional design. There were 245 PTDI-STTD student samples selected randomly using stratified random sampling. Data analysis was performed using univariate and bivariate analysis with the chi-square test. Results: The average oral health behaviour score was 74.7 out of 100. The study showed that there was a relationship between perceived benefits, perceived barriers, cues to action, and self-efficacy with oral health behaviour (p-value = 0.001). There was no significant relationship between perceived severity (p = 0.580) and perceived susceptibility (p = 0.685) with oral health behaviour. The mother's occupation (p = 0.019) was associated with oral health behaviour, while gender (p = 0.264), the mother's education (p = 0.174), the father's education (p = 0.998), and the father's occupation (p = 0.369) were not significantly associated with oral health behaviour. Conclusion: Perceived barriers, cues to action, and self-efficacy are the main determinants of oral health behaviour. Efforts that can be made include examinations and education related to oral health maintenance.

Read More
S-12213
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive