Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 26 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dina Mutia Sya'adila; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi; Penguji: Yoslien Sopamena, Yoslien Sopamena
Abstrak:
WHO merekomendasikan remaja untuk melakukan aktivitas fisik minimal 60 menit setiap hari guna menjaga kesehatan dan mencegah penyakit tidak menular. Namun, tingkat aktivitas fisik remaja di DKI Jakarta masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku aktivitas fisik pada siswa SMP Negeri 41 Jakarta Selatan tahun 2025. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 115 siswa kelas 7 dan 8 yang dipilih menggunakan simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan secara primer menggunakan kuesioner, dengan pengukuran aktivitas fisik mengacu pada Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 66,1% siswa memiliki aktivitas fisik kurang. Faktor pengetahuan (p=0,001), sikap (p=0,001), dan dukungan teman (p=0,001) memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku aktivitas fisik siswa. Sementara itu, fasilitas aktivitas fisik (p>0,05) dan dukungan keluarga (p>0,05) tidak berhubungan dengan aktivitas fisik. Diperlukan upaya peningkatan aktivitas fisik siswa melalui penguatan edukasi, pembentukan sikap positif, serta optimalisasi peran teman sebaya dalam mendukung perilaku aktif di lingkungan sekolah.

The World Health Organization recommends that adolescents engage in at least 60 minutes of physical activity daily to maintain health and prevent non-communicable diseases. However, the level of physical activity among adolescents in Jakarta remains low. This study aimed to determine the determinants of physical activity behavior among students of SMP Negeri 41 South Jakarta in 2025. This study employed a quantitative cross-sectional design. A total of 115 seventh- and eighth-grade students were selected using simple random sampling. Data were collected through a self-administered questionnaire, with physical activity measured using the Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ). Data analysis was conducted using the Chi-square test. The results showed that 66.1% of students had insufficient physical activity. Knowledge (p=0.001), attitude (p=0.001), and peer support (p=0.001) were significantly associated with physical activity behavior. Meanwhile, physical activity facilities (p>0.05) and family support (p>0.05) were not significantly associated with physical activity. Efforts to improve students’ physical activity are needed through strengthening health education, fostering positive attitudes, and optimizing peer support within the school environment.
Read More
S-12201
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Okta Krisnawati; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Rico Kurniawan, Yoslien Sopamena, Hanny Harjulianti, Eti Rohati
Abstrak:
Kematian ibu masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, dengan komplikasi selama persalinan menjadi faktor penyumbang utama. Penelitian ini mengkaji hubungan antara faktor ibu berisiko tinggi khususnya usia ibu dan paritas dengan kejadian komplikasi persalinan menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Penelitian ini menggunakan studi cross-sectional dilakukan terhadap 64.000 ibu (sampel terbobot: 17.956.052) yang melahirkan antara tahun 2018-2023. Pembobotan sampel kompleks diterapkan untuk memastikan representasi nasional. Analisis bivariabel menggunakan uji chi-square dan regresi logistik multivariabel dilakukan untuk mengidentifikasi faktor risiko independen komplikasi persalinan. Prevalensi komplikasi persalinan adalah 21,22%. Analisis multivariabel menunjukkan bahwa ibu berusia >35 tahun memiliki peluang 1,36 kali lebih tinggi mengalami komplikasi (AOR=1,359; 95% CI: 1,248-1,480) dibandingkan ibu berusia 20-35 tahun. Sebaliknya, ibu nulipara dan primipara menunjukkan angka komplikasi tertinggi (21,01%), sementara ibu multipara memiliki risiko yang lebih rendah (AOR=0,715; 95% CI: 0,629-0,776). Faktor geografis, frekuensi ANC, dan akses ke fasilitas kesehatan juga menunjukkan hubungan signifikan dengan komplikasi persalinan. Usia ibu lanjut (>35 tahun) dan paritas rendah secara signifikan meningkatkan risiko komplikasi persalinan di Indonesia. Penguatan program keluarga berencana, peningkatan kualitas pelayanan antenatal, dan perbaikan akses layanan kesehatan merupakan strategi esensial untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas maternal.

Maternal mortality remains a significant public health challenge in Indonesia, with complications during childbirth being a primary contributing factor. This study examines the relationship between high-risk maternal factors specifically maternal age and parity and the occurrence of childbirth complications using data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). The study is a cross-sectional study was conducted with 64,000 mothers (weighted sample: 17,956,052) who delivered between 2018-2023. Complex sample weighting was applied to ensure national representativeness. Bivariable analysis using chi-square tests and multivariable logistic regression were performed to identify independent risk factors for childbirth complications. The prevalence of childbirth complications was 21.22%. Multivariable analysis revealed that mothers aged >35 years had 1.36 times higher odds of experiencing complications (AOR=1.359; 95% CI: 1.248-1.480) compared to those aged 20-35 years. Conversely, nulliparous and primiparous mothers showed the highest complication rates (21.01%), while multiparous mothers had lower odds (AOR=0.715; 95% CI: 0.629-0.776). Geographic factors, ANC frequency, and access to healthcare facilities also demonstrated significant associations with childbirth complications. Advanced maternal age (>35 years) and low parity significantly increase the risk of childbirth complications in Indonesia. Strengthening family planning programs, enhancing quality antenatal care, and improving healthcare access are essential strategies to reduce maternal morbidity and mortality.
Read More
T-7477
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Niesha Alifia Zahra; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Yoslien Sopamena, Yudianto
Abstrak:
Anemia masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang banyak dialami oleh remaja putri di Indonesia. Salah satu upaya pencegahan anemia adalah melalui program konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD). Namun, kepatuhan remaja putri dalam mengonsumsi TTD sesuai anjuran masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku konsumsi Tablet Tambah Darah pada siswi SMA Negeri 3 Kota Bandung tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian berjumlah 90 siswi yang dipilih menggunakan teknik quota sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square dan Fisher’s Exact. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara pengetahuan dengan perilaku konsumsi Tablet Tambah Darah (p<0,001). Sementara itu, sikap terhadap TTD tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan perilaku konsumsi TTD (p=0,301). Faktor pemungkin berupa aksesibilitas dalam mendapatkan TTD juga tidak berhubungan secara signifikan dengan perilaku konsumsi TTD (p=0,242). Pada faktor penguat, dukungan keluarga (p=0,035) dan dukungan teman sebaya (p=0,021) memiliki hubungan yang bermakna dengan perilaku konsumsi TTD, sedangkan dukungan guru tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik (p=0,212). Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumsi Tablet Tambah Darah pada siswi SMA Negeri 3 Kota Bandung dipengaruhi oleh faktor pengetahuan serta dukungan keluarga dan teman sebaya. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi yang berkelanjutan untuk meningkatkan pengetahuan siswi, serta penguatan peran keluarga dan teman sebaya dalam mendukung kepatuhan konsumsi TTD.

Anemia remains a public health problem that commonly affects adolescent girls in Indonesia. One of the strategies to prevent anemia is the iron tablet supplementation program. However, adherence to iron tablet consumption according to recommendations remains low among adolescent girls. This study aimed to determine the factors associated with iron tablet consumption behavior among female students at SMA Negeri 3 Bandung in 2025. This study employed a cross-sectional design with a quantitative approach. The sample consisted of 90 female students selected using quota sampling. Data were collected through an online questionnaire that had been tested for validity and reliability. Data analysis was conducted using univariate and bivariate analyses with the chi-square test and Fisher’s Exact test. The results showed a statistically significant association between knowledge and iron tablet consumption behavior (p<0.001). In contrast, attitude toward iron tablets was not significantly associated with consumption behavior (p=0.301). Enabling factors in the form of accessibility to iron tablets were also not significantly associated with consumption behavior (p=0.242). Regarding reinforcing factors, family support (p=0.035) and peer support (p=0.021) were significantly associated with iron tablet consumption behavior, while teacher support was not statistically significant (p=0.212). Based on these findings, it can be concluded that iron tablet consumption behavior among female students at SMA Negeri 3 Bandung is influenced by knowledge, family support, and peer support. Therefore, continuous health education is needed to improve students’ knowledge, as well as to strengthen the role of families and peers in supporting adherence to iron tablet consumption.
Read More
S-12199
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fikriyatul Arifah; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Helda, Yoslien Sopamena, Heny Lestary, Dian Kristiani Irawaty
Abstrak:
Angka Kematian Ibu di Indonesia masih tinggi (189/100.000 KH) dan KB Pasca Persalinan (KBPP) merupakan salah satu intervensi yang efektif untuk menurunkannya. Namun, cakupan KBPP nasional baru mencapai 48,9% dan determinan penggunaannya pada tingkat nasional belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan penggunaan KBPP di Indonesia. Penelitian ini merupakan analisis lanjut data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 70.387 wanita usia subur (15–49 tahun) yang memiliki riwayat persalinan dalam lima tahun terakhir, diambil dengan teknik multistage cluster sampling sesuai prosedur SKI 2023. Analisis data menggunakan regresi Poisson dengan robust variance dan pendekatan complex sample design untuk menghasilkan adjusted Prevalence Ratio (aPR). Hasil penelitian menunjukkan prevalensi KBPP sebesar 28,9%, dengan metode dominan suntikan 3 bulan (46,1%). Tempat melahirkan, paritas, pemanfaatan ANC, dan kepemilikan jaminan kesehatan berhubungan dengan KBPP. Tempat melahirkan menjadi determinan paling dominan; ibu yang melahirkan di fasilitas kesehatan memiliki prevalensi penggunaan KBPP 1,44 kali lebih tinggi dibanding ibu yang melahirkan bukan di fasilitas kesehatan setelah dikontrol oleh paritas, pemanfaatan ANC dan kepemilikan jaminan kesehatan (aPR=1,436; 95% CI: 1,290–1,600). Disarankan kepada Kementerian Kesehatan untuk menerapkan protokol nasional konseling KBPP sebelum pulang dan memperkuat kapasitas tenaga kesehatan; kepada BKKBN untuk memperluas sasaran program ke ibu paritas rendah dan memastikan ketersediaan MKJP; kepada BPJS Kesehatan untuk memperluas cakupan pembiayaan KBPP melalui JKN; serta kepada fasilitas pelayanan kesehatan untuk mengoptimalkan momentum persalinan sebagai titik kontak utama KBPP.

The Maternal Mortality Rate in Indonesia remains high (189/100,000 live births), and Postpartum Family Planning (PPFP) is one of the effective interventions to reduce it. However, the national PPFP coverage has only reached 48.9%, and its determinants at the national level have not been widely studied. This study aimed to identify the determinants of PPFP use in Indonesia. This study is a further analysis of the 2023 Indonesia Health Survey (SKI) data using a cross-sectional design. The study sample consisted of 70,387 women of reproductive age (15–49 years) who had a history of childbirth within the past five years, selected through multistage cluster sampling in accordance with the 2023 SKI procedures. Data were analyzed using Poisson regression with robust variance and a complex sample design approach to produce adjusted Prevalence Ratios (aPR). The results showed that the prevalence of PPFP use was 28.9%, with the 3-month injectable contraceptive as the dominant method (46.1%). Place of delivery, parity, ANC utilization, and health insurance ownership were associated with PPFP use. Place of delivery was the most dominant determinant; mothers who delivered at a health facility had a 1.44 times higher prevalence of PPFP use compared to those who delivered outside a health facility, after controlling for parity, ANC utilization, and health insurance ownership (aPR=1.436; 95% CI: 1.290–1.600). It is recommended that the Ministry of Health implement a national protocol for pre-discharge PPFP counseling and strengthen the capacity of healthcare workers; that BKKBN expand the program target to mothers with low parity and ensure the availability of Long-Acting Reversible Contraceptives (LARCs); that BPJS Kesehatan expand PPFP financing coverage through the National Health Insurance (JKN) scheme; and that healthcare facilities optimize the momentum of childbirth as the primary contact point for PPFP services
Read More
T-7529
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sarah Fahira Faza; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Yoslien Sopamena, Ratna Tri Hari Safariningsih
Abstrak:
Penyakit Tidak Menular (PTM), terutama hipertensi dan penyakit kardiovaskular masih menjadi beban utama kesehatan masyarakat di Indonesia. Salah satu upaya yang dapat dilakukan sebagai langkah pencegahan adalah dengan membatasi asupan natrium harian dengan mengurangi konsumsi pangan tinggi natrium. Akan tetapi, kebiasaan konsumsi pangan tinggi natrium pada usia muda (15-24 tahun), termasuk mahasiswa masih tergolong tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pengetahuan dan sikap, serta karakteristik sosiodemografis yang mencakup jenis kelamin, tempat tinggal, dan uang saku dengan praktik konsumsi pangan tinggi natrium pada mahsiswa FKM UI tahun 2026. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian berjumlah 108 mahasiswa dari 4 program studi yang ada di FKM UI (Kesehatan Masyarakat, Kesehatan Lingkungan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Gizi) yang dipilih menggunakan teknik quota sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang telah diuji validitas dan realibilitasnya. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan praktik (p=0,123). Namun, terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara sikap dengan praktik konsumsi pangan tinggi natrium (p=0,037). Karakteristik sosiodemografis berupa jenis kelamin tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan praktik konsumsi pangan tinggi natrium (p=0,442). Sementara karakteristik sosiodemografis berupa tempat tinggal memiliki hubungan signifikan secara statistik dengan praktik konsumsi pangan tinggi natrium (p=0,013). Karakteristik sosiodemografis berupa uang saku tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan praktik konsumsi pangan tinggi natrium (p=0,053). Berdasarkan hasil tersebut, diketahui bahwa sikap dan tempat tinggal berhubungan dengan praktik konsumsi pangan tinggi natrium pada mahasiswa FKM UI tahun 2026. Oleh karena itu, diperlukan upaya intervensi berbasis sikap, bukan sekedar edukasi pengetahuan, yang berfokus pada penguatan motivasi internal, persepsi risiko jangka pendek, dan pembentukan lingkungan yang supportif untuk mengurangi konsumsi pangan tinggi natrium.

Non-communicable diseases (NCDs), particularly hypertension and cardiovascular disease, remain a major public health burden in Indonesia. One preventive measure that can be undertaken is limiting daily sodium intake by reducing the consumption of highsodium foods. However, the habit of consuming high-sodium foods among young people aged 15–24 years, including university students, remains relatively high. This study aims to analyze the relationship between knowledge and attitudes, as well as sociodemographic characteristics including sex, place of residence, and allowance, with high-sodium food consumption practices among students of the Faculty of Public Health, Universitas Indonesia (FKM UI), in 2026. This study employed a cross-sectional design with a quantitative approach. The research sample consisted of 108 students from four study programs at FKM UI (Public Health, Environmental Health, Occupational Health and Safety, and Nutrition), selected using quota sampling. Data were collected through a questionnaire that had been tested for validity and reliability. Data analysis employed univariate and bivariate analyses using the chi-square test. The results indicated no significant relationship between knowledge and consumption practices (p=0.123). However, a statistically significant relationship was found between attitudes and highsodium food consumption practices (p=0.037). The sociodemographic characteristic of sex showed no significant relationship with high-sodium food consumption practices (p=0.442), whereas place of residence demonstrated a statistically significant relationship (p=0.013). Allowance showed no significant relationship with high-sodium food consumption practices (p=0.053). Based on these findings, it is evident that attitudes and place of residence are associated with high-sodium food consumption practices among FKM UI students in 2026. Therefore, attitude-based intervention strategies are required, rather than mere knowledge education, with a focus on strengthening internal motivation, short-term risk perception, and the creation of a supportive environment to reduce highsodium food consumption.
Read More
S-12303
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahmadira Syafrina; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Yoslien Sopamena, Tin Afifah
Abstrak:
Masalah kesehatan mental merupakan tantangan kesehatan masyarakat global yang signifikan. Kecemasan dan perilaku bunuh diri semakin meningkat di kalangan remaja, termasuk di Indonesia. Kekerasan di lingkungan sekolah diduga menjadi salah satu faktor risiko yang berkontribusi terhadap masalah kesehatan mental remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengalaman kekerasan di lingkungan sekolah dengan masalah kesehatan mental pada pelajar usia remaja di Indonesia berdasarkan data Global School-based Student Health Survey (GSHS) Indonesia 2023. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan data sekunder dari GSHS Indonesia 2023 yang melibatkan 8.851 responden pelajar SMP dan SMA usia 12-17 tahun. Variabel independen adalah pengalaman kekerasan di lingkungan sekolah (diserang secara fisik, perkelahian fisik, dan mengintimidasi/bullying). Variabel dependen adalah masalah kesehatan mental (kecemasan, ide bunuh diri, rencana bunuh diri, dan percobaan bunuh diri) yang diukur secara hierarkis berdasarkan Three-Step Theory (3ST) of Suicide. Analisis data menggunakan uji Chisquare dan stratifikasi. Sebanyak 16,5% pelajar merasakan kecemasan, 1,7% memiliki ide bunuh diri, 5,3% memiliki rencana bunuh diri, dan 9,4% pernah melakukan percobaan bunuh diri dalam 12 bulan terakhir. Pengalaman kekerasan di sekolah ditemukan pada 38,6% pelajar (diserang secara fisik), 30,9% (perkelahian fisik), dan 17,0% (bullying). Seluruh bentuk kekerasan berhubungan signifikan dengan kecemasan dan bunuh diri (p<0,001). Pelajar yang pernah diserang secara fisik memiliki risiko 1,64 kali lebih tinggi mengalami kecemasan (OR=1,645; CI 95%: 1,469-1,842) dan 1,97 kali lebih tinggi melakukan percobaan bunuh diri (OR=1,966; CI 95%: 1,702-2,269). Kata Kunci : Kecemasan, Perilaku Bunuh Diri, Kekerasan di Sekolah, Mengintimidasi, Pelajar, Remaja, GSHS Indonesia 2023

Mental health problems represent a significant global public health challenge. Anxiety and suicidal behavior are increasingly prevalent among adolescents, including in Indonesia. School violence is suspected to be a contributing risk factor to adolescent mental health problems. This study aims to analyze the association between school violence exposure and mental health problems among school-going adolescents in Indonesia based on data from the Global Schoolbased Student Health Survey (GSHS) Indonesia 2023. This study employed a cross-sectional design using secondary data from GSHS Indonesia 2023 involving 8,851 respondents from junior and senior high school students aged 12-17 years. Independent variables were school violence experiences (being physically attacked, physical fighting, and bullying perpetration). Dependent variables were mental health problems (anxiety, suicidal ideation, suicide planning, and suicide attempt) measured hierarchically based on the Three-Step Theory (3ST) of Suicide. Data analysis used Chi-square tests and stratification analysis. A total of 16.5% of students experienced anxiety, 1.7% had suicidal ideation, 5.3% had suicide plans, and 9.4% had attempted suicide in the past 12 months. School violence experiences were found in 38.6% of students (physically attacked), 30.9% (physical fighting), and 17.0% (bullying perpetration). All forms of violence were significantly associated with anxiety and suicidal behavior (p<0.001). Students who were physically attacked had 1.64 times higher risk of experiencing anxiety (OR=1.645; 95% CI: 1.469-1.842) and 1.97 times higher risk of suicide attempt (OR=1.966; 95% CI: 1.702-2.269). Keywords : Anxiety, Suicidal Behavior, School Violence, Bullying, Students, Adolescents, GSHS Indonesia 2023

Read More
S-12369
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jessica Bunga Yosefani; Pembimbing: Fathimah Sulistyowati Sigit; Penguji: Yoslien Sopamena, Deniary Lusiana
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan literasi kesehatan menstruasi, pengetahuan menstruasi, dan self-efficacy terkait menstruasi dengan perilaku menstrual hygiene pada mahasiswi Universitas Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan sampel mahasiswi program sarjana dan vokasi Universitas Indonesia tahun akademik 2025/2026. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner daring yang terdiri dari instrumen literasi kesehatan menstruasi, pengetahuan menstruasi, self-efficacy terkait menstruasi, dan perilaku menstrual hygiene. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki perilaku menstrual hygiene yang baik (74,5%). Literasi kesehatan menstruasi responden didominasi oleh kategori mencukupi (52,5%), sedangkan sebagian besar responden memiliki pengetahuan menstruasi yang tinggi (85,5%) dan self-efficacy terkait menstruasi yang tinggi (53,5%). Hasil uji Chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara literasi kesehatan menstruasi (p=0,001), pengetahuan menstruasi (p=0,002), dan self-efficacy terkait menstruasi (p<0,001) dengan perilaku menstrual hygiene pada mahasiswi Universitas Indonesia. Upaya peningkatan perilaku menstrual hygiene perlu dilakukan melalui penguatan literasi kesehatan menstruasi, peningkatan pengetahuan menstruasi, dan pengembangan self-efficacy terkait menstruasi.

This study aims to determine the relationship between menstrual health literacy, menstrual knowledge, and menstrual-related self-efficacy with menstrual hygiene behavior among female students at the University of Indonesia. This study used a cross-sectional design with a sample of undergraduate and vocational female students at the University of Indonesia in the 2025/2026 academic year. Data were collected using an online questionnaire consisting of instruments measuring menstrual health literacy, menstrual knowledge, menstrual-related self-efficacy, and menstrual hygiene behavior. The results showed that most respondents had good menstrual hygiene behavior (74.5%). Menstrual health literacy was predominantly in the adequate category (52.5%), while most respondents had high menstrual knowledge (85.5%) and high menstrual-related self-efficacy (53.5%). The Chi-square test results indicated that there were significant relationships between menstrual health literacy (p=0.001), menstrual knowledge (p=0.002), and menstrual-related self-efficacy (p<0.001) with menstrual hygiene behavior among female students at the University of Indonesia. Efforts to improve menstrual hygiene behavior should be carried out through strengthening menstrual health literacy, increasing menstrual knowledge, and developing menstrual-related self-efficacy.
Read More
S-12381
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fika Muntahaya; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Yoslien Sopamena, Edduwar Idul Riyadi, Ika Malika
Abstrak:
Prevalensi depresi pada penduduk usia 15-24 tahun di Indonesia merupakan yang tertinggi (2%), namun proporsi individu dengan depresi pada kelompok usia tersebut yang memperoleh pengobatan merupakan yang terendah (10,4%) dibandingkan kelompok usia lain. Meskipun kesenjangan pengobatan pada kelompok usia ini cukup besar, faktor-faktor yang berhubungan dengan pencarian pengobatan pada individu usia 15–24 tahun yang mengalami depresi masih belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor predisposisi, pemungkin, dan kebutuhan yang berhubungan dengan perilaku pencarian pengobatan pada kelompok usia tersebut yang mengalami depresi. Studi ini menggunakan desain cross-sectional dengan menganalisis data sekunder dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Sampel penelitian berjumlah 1.250 responden berusia 15-24 tahun yang memenuhi kriteria diagnosis depresi berdasarkan instrumen MINI (Mini International Neuropsychiatric Interview). Analisis data menggunakan regresi logistik multivariabel. Hasil penelitian menunjukkan hanya 9,3% responden yang mencari pengobatan medis untuk gejala depresi yang mereka alami. Gejala utama yang paling banyak dialami adalah kehilangan minat (84,9%), sedangkan gejala tambahan yang paling dominan adalah perasaan menyalahkan diri sendiri (74,9%). Hasil analisis multivariabel menunjukkan bunuh diri merupakan prediktor independen terkuat, di mana individu dengan pikiran bunuh diri memiliki peluang 4,3 kali lebih tinggi (95% CI: 2,40-7,74) dibanding yang tidak memiliki pikiran bunuh diri, dan individu dengan penyakit komorbid memiliki peluang 3,3 kali lebih tinggi (95% CI: 1,23-9,09) dibanding yang tidak memiliki penyakit komorbid, untuk mencari pengobatan depresi. Waktu tempuh ke fasilitas kesehatan juga menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik dengan pencarian pengobatan, namun dengan pola yang kontradiktif dengan hipotesis, yang kemungkinan dipengaruhi oleh faktor stigma. Individu yang tinggal lebih jauh dari fasilitas kesehatan cenderung memiliki peluang yang besar untuk mencari pengobatan depresi (POR ≤15 menit: 0,12 95% CI: 0,04-0,37; POR 16-30 menit: 0,13, 95%CI: 0,03-0,60). Tingkat pencarian pengobatan pada penduduk usia 15-24 tahun yang mengalami depresi di Indonesia sangat rendah dan cenderung dilakukan ketika kondisi sudah mencapai tahap krisis (seperti adanya pikiran bunuh diri)  atau kemungkinan didorong oleh kontak dengan tenaga kesehatan untuk pemeriksaan komorbiditas). Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami dinamika pencarian pengobatan pada penderita depresi dan faktor-faktor penghambatnya. Selain itu, diperlukan penguatan literasi kesehatan mental dan sistem skrining dini di komunitas untuk meningkatkan pencarian pengobatan sebelum gejala depresi berkembang menjadi lebih parah.

The prevalence of depression among the population aged 15–24 in Indonesia is the highest (2%), yet the proportion of individuals in this age group with depression who receive treatment is the lowest (10,4%) compared to other age groups. Although the treatment gap in this group is substantial, the factors associated with treatment-seeking behavior among depressed individuals aged 15–24 remain largely underexplored. This study aims to identify predisposing, enabling, and need factors associated with treatment-seeking behavior in this age group with depression. This study employed a cross-sectional design, analyzing secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia, SKI). The sample comprised 1,250 respondents aged 15–24 who met the diagnostic criteria for depression based on the Mini International Neuropsychiatric Interview (MINI) instrument. Data were analyzed using multivariate logistic regression. The results showed that only 9.3% of respondents sought medical treatment for their depressive symptoms. The most commonly reported core symptom was loss of interest (84.9%), while the most dominant auxiliary symptom was feelings of self-blame (74.9%). Multivariate analysis revealed that suicidality was the strongest independent predictor, with individuals experiencing suicidal ideation having 4.3 times higher odds (95% CI: 2,40–7,74) of seeking depression treatment compared to those without. Additionally, individuals with comorbid conditions had 3.3 times higher odds (95% CI: 1,23–9,09) of seeking treatment compared to those without comorbidities. Travel time to health facilities also showed a statistically significant association with treatment-seeking, albeit with a pattern contradictory to the hypothesis, likely influenced by stigma-related factors. Individuals living farther from health facilities tended to have greater odds of seeking depression treatment (POR for ≤15 minutes: 0,12, 95% CI: 0,04–0.37; POR for 16–30 minutes: 0,3, 95% CI: 0,03–0,60). The rate of depression treatment-seeking among individuals aged 15–24 in Indonesia is remarkably low and tends to occur only when the condition has reached a crisis point (such as the presence of suicidal ideation) or is possibly driven by contact with healthcare providers for comorbidity examinations. Further research is needed to understand the dynamics of treatment-seeking among individuals with depression and its barriers. Moreover, strengthening mental health literacy and early screening systems in community settings is essential to improve treatment-seeking before depressive symptoms progress to more severe stages.
Read More
T-7651
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Peony Emily Gloria Harto; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dien Anshari, Yoslien Sopamena, Kristiana Siste Kurniasanti, Risatianti Kolopaking
Abstrak:
Tesis ini membahas hubungan kecanduan smartphone dengan gaya perilaku makan pada Generasi Z di DKI Jakarta. Gaya perilaku makan yang meliputi emotional eating, external eating, dan restrained eating merupakan salah satu aspek perilaku kesehatan yang dapat memengaruhi pola konsumsi individu serta berkaitan dengan risiko berbagai penyakit tidak menular. Meningkatnya penggunaan smartphone pada Generasi Z menimbulkan perhatian terhadap berbagai dampak yang mungkin muncul pada perilaku kesehatan, termasuk gaya perilaku makan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kecanduan smartphone dengan gaya perilaku makan pada Generasi Z di DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 225 responden Generasi Z yang berdomisili di DKI Jakarta dan dipilih menggunakan teknik non-probability sampling dengan kombinasi convenience sampling dan quota sampling. Pengumpulan data dilakukan secara daring menggunakan kuesioner Smartphone Addiction Scale–Short Version (SAS-SV) dan Dutch Eating Behavior Questionnaire (DEBQ). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif yang signifikan antara kecanduan smartphone dan emotional eating (r = 0,343; p < 0,001), serta antara kecanduan smartphone dan external eating (r = 0,470; p < 0,001). Sementara itu, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara kecanduan smartphone dan restrained eating (r = -0,072; p = 0,280). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa kecanduan smartphone tetap berhubungan secara signifikan dengan emotional eating (B = 0,351; p < 0,001) dan external eating (B = 0,376; p < 0,001) setelah dikontrol oleh jenis kelamin, status pekerjaan, dan aksesibilitas makanan. Namun, kecanduan smartphone tidak berhubungan secara signifikan dengan restrained eating (B = -0,037; p = 0,585). Penelitian ini menyimpulkan bahwa kecanduan smartphone berhubungan dengan emotional eating dan external eating, tetapi tidak berhubungan dengan restrained eating pada Generasi Z di DKI Jakarta. Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan kecanduan smartphone dengan gaya perilaku makan tidak selalu mengikuti pola yang sama pada setiap dimensi gaya perilaku makan.

This thesis examines the correlation between smartphone addiction and eating behavior styles among Generation Z in the Special Capital Region of Jakarta. Eating behavior styles, which include emotional eating, external eating, and restrained eating, represent an important aspect of health behavior that may influence individuals’ dietary patterns and is associated with the risk of various non-communicable diseases. The increasing use of smartphones among Generation Z has raised concerns regarding its potential impact on health-related behaviors, including eating behavior styles. Therefore, this study aims to analyze the correlation between smartphone addiction and eating behavior styles among Generation Z in the Special Capital Region of Jakarta. This study employed a quantitative cross-sectional design. A total of 225 Generation Z respondents residing in Jakarta Special Capital Region were recruited using a non-probability sampling technique combining convenience sampling and quota sampling. Data were collected through an online survey using the Smartphone Addiction Scale–Short Version (SAS-SV) and the Dutch Eating Behavior Questionnaire (DEBQ). Data were analyzed using Spearman’s rank correlation test and multiple linear regression. The results showed a significant positive relationship between smartphone addiction and emotional eating (r = 0.343; p < 0.001), as well as between smartphone addiction and external eating (r = 0.470; p < 0.001). However, no significant relationship was found between smartphone addiction and restrained eating (r = -0.072; p = 0.280). Multivariate analysis indicated that smartphone addiction remained significantly associated with emotional eating (B = 0.351; p < 0.001) and external eating (B = 0.376; p < 0.001) after controlling for sex, employment status, and food accessibility. In contrast, smartphone addiction was not significantly associated with restrained eating (B = -0.037; p = 0.585). This study concludes that smartphone addiction is associated with emotional eating and external eating but is not associated with restrained eating among Generation Z in Jakarta Special Capital Region. These findings suggest that the relationship between smartphone addiction and eating behavior styles does not necessarily follow the same pattern across different dimensions of eating behavior.
Read More
T-7722
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meldisa Rafitri; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Yoslien Sopamena, M. Yasin A
S-12428
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive