Ditemukan 9 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Debbie Valonda; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Dewi Susanna, Al Asyary; I.G.A Rusmala Dewi, Adhi Sambodo
Abstrak:
Latar Belakang: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu yang efektif dalam menurunkan kadar total coliform dengan menggunakan sinar ultraviolet pada air limbah terolah di outlet Instalasi Pengolahan Air Limbah Puskesmas X Jakarta Tahun 2022.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain studi eksperimen. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 64 sampel air limbah terolah pada outlet di Instalasi Pengolahan Air Limbah Puksesmas X Jakarta. Data kadar total coliform didapatkan dari hasil pemeriksaaan sampel di laboratorium terakreditasi. Sinar ultraviolet menggunakan lampu TL UVC merk Philips dengan daya 15 watt.
Hasil: Berdasarkan rata-rata persentase penurunan kadar Total Coliform pada sampel setelah mendapatkan perlakuan dengan sinar ultarviolet setelah 2 menit sebesar 10%, setelah 4 menit sebesar 21,25%, setelah 6 menit sebesar 26,75%, setelah 8 menit sebesar 42,5%, setelah 10 menit sebesar 58,75%. Persentase penurunan total coliform setelah 10 menit penyinaran memiliki efektifitas yang paling tinggi. Dari uji korelasi diketahui bahwa ada hubungan yang kuat antara lama penyinaran ultraviolet dengan penurunan total Coliform.
Background: This study aims to determine the effective time to reduce total coliform levels by using ultraviolet light in treated wastewater at the outlet of the Wastewater Treatment Plant of Health Center X in Jakarta in 2022.
Methods: This research uses quantitative research methods with an experimental study design. The number of samples in this study were 64 samples of treated wastewater at the outlets of the Wastewater Treatment Plant of Public Health Center X Jakarta. Data on total coliform levels were obtained from the results of examination of samples in an accredited laboratory. Ultraviolet light using Philips brand TL UVC lamp with 15 watts of power.
Results: Based on the average percentage decrease in Total Coliform levels in the sample after receiving treatment with ultraviolet light after 2 minutes by 10%, after 4 minutes by 21.25%, after 6 minutes by 26.75%, after 8 minutes by 42.5 %, after 10 minutes of 58.75%. The percentage of total coliform decrease after 10 minutes of irradiation had the highest effectiveness. From the correlation test, it is known that there is a strong relationship between the duration of ultraviolet irradiation and the decrease in total Coliform.
Read More
Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain studi eksperimen. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 64 sampel air limbah terolah pada outlet di Instalasi Pengolahan Air Limbah Puksesmas X Jakarta. Data kadar total coliform didapatkan dari hasil pemeriksaaan sampel di laboratorium terakreditasi. Sinar ultraviolet menggunakan lampu TL UVC merk Philips dengan daya 15 watt.
Hasil: Berdasarkan rata-rata persentase penurunan kadar Total Coliform pada sampel setelah mendapatkan perlakuan dengan sinar ultarviolet setelah 2 menit sebesar 10%, setelah 4 menit sebesar 21,25%, setelah 6 menit sebesar 26,75%, setelah 8 menit sebesar 42,5%, setelah 10 menit sebesar 58,75%. Persentase penurunan total coliform setelah 10 menit penyinaran memiliki efektifitas yang paling tinggi. Dari uji korelasi diketahui bahwa ada hubungan yang kuat antara lama penyinaran ultraviolet dengan penurunan total Coliform.
Background: This study aims to determine the effective time to reduce total coliform levels by using ultraviolet light in treated wastewater at the outlet of the Wastewater Treatment Plant of Health Center X in Jakarta in 2022.
Methods: This research uses quantitative research methods with an experimental study design. The number of samples in this study were 64 samples of treated wastewater at the outlets of the Wastewater Treatment Plant of Public Health Center X Jakarta. Data on total coliform levels were obtained from the results of examination of samples in an accredited laboratory. Ultraviolet light using Philips brand TL UVC lamp with 15 watts of power.
Results: Based on the average percentage decrease in Total Coliform levels in the sample after receiving treatment with ultraviolet light after 2 minutes by 10%, after 4 minutes by 21.25%, after 6 minutes by 26.75%, after 8 minutes by 42.5 %, after 10 minutes of 58.75%. The percentage of total coliform decrease after 10 minutes of irradiation had the highest effectiveness. From the correlation test, it is known that there is a strong relationship between the duration of ultraviolet irradiation and the decrease in total Coliform.
T-6463
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Deandra Arifianti Wisnuputri; Pembimbing: Rachmadi Purwana; Penguji: Budi Hartono, Debbie Valonda
Abstrak:
Pondok pesantren merupakan lingkungan padat penduduk dimana kebersihan perseorangan masih kurang diutamakan. Kondisi demikian memudahkan virus, bakteri maupun vektor untuk berpindah dari satu orang ke orang lain, termasuk skabies yang dampaknya sangat memengaruhi individu penderita dalam menjalankan kegiatan sehariharinya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan peran kebersihan perseorangan terhadap kejadian skabies di sebuah pondok pesantren tahun 2018 dengan menggunakan desain studi cross sectional. Uji statistik yang dilakukan adalah uji chi-square serta uji regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 76,8% santri di sebuah pondok pesantren di daerah Pondok Aren menderita skabies pada saat penelitian ini dilakukan. Diketahui pula bahwa kebersihan perseorangan, jenis kelamin dan jenjang pendidikan memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian skabies. Sedangkan, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan terkait skabies dan sanitasi kamar tidur dengan kejadian skabies. Hasil uji multivariat menunjukkan bahwa jenis kelamin merupakan variabel yang paling memengaruhi hubungan antara kebersihan perseorangan dengan kejadian skabies di pondok pesantren tersebut. Kata kunci: Kejadian skabies, pondok pesantren, kebersihan perseorangan Islamic boarding school is a densely populated environment where personal hygiene is not preferred. Such conditions facilitate viruses, bacteria and vectors to move from one person to another easily, including scabies which impacts can greatly affect the patient in carrying out their daily activities. This study aims to explain the role of personal hygiene on the scabies incidence in an islamic boarding school in 2018 by using a cross sectional design study. Statistical test used in this study is chi-square and multiple logistic regression. The result showed that 76.8% of students at the boarding school suffered from scabies at the time this study was conducted. The results also indicate that individual hygiene, sex and educational levels have a significant relationship to the incidence of scabies. Meanwhile, insignificant relationship found between knowledge related to scabies and sanitation of the bedroom with the incidence of scabies. Multivariate test results showed that sex is the variable that most affect the relationship between personal hygiene with the scabies incidence in this islamic boarding school. Key words: Scabies Incidence, islamic boarding school, personal hygiene
Read More
S-9718
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Valonda Debbie S; Pembimbing: Haryonto Kusnoputranto; Penguji: Sujud Warno Utomo, Kurnia Rita
S-8819
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fadela Andini; PembimbingL: Budi Hartono; Penguji: Bambang Wispriyono, Debbie Valonda S
Abstrak:
Read More
Nama : Fadela Andini Program Studi : Kesehatan Lingkungan Judul : Analisis Fungsi Kader Jumantik Pada Pencegahan DBD di Rumah Warga Kelurahan Menteng Atas Pembimbing : Dr. Budi Hartono, S.Si., M.K.M. Dalam beberapa dekade terakhir, insiden Demam Berdarah Dengue (DBD) mengalami peningkatan secara drastis di semua negara. Hal ini disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti betina dan Aedes albopictus betina yang tidak hanya menyebarkan virus dengue, tetapi juga virus Zika, chikungunya, dan demam kuning. Berkaitan dengan itu, penyakit DBD pertama kali ditemukan di Indonesia pada tahun 1968 di Kota Surabaya, Jawa Timur dengan tingkat kematian sebesar 41,3%. Selanjutnya, pada 2022, Jakarta Selatan menyumbang kasus DBD sebanyak 1.846 kasus dengan 31 kasus di antaranya berada di Kelurahan Menteng Atas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis gambaran input, proses kegiatan, dan gambaran output dari kader jumantik dalam pencegahan DBD. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli-Desember 2023 di Kelurahan Menteng Atas. Perolehan data dilakukan secara langsung di lapangan dan dijelaskan menggunakan metode pendekatan kualitatif untuk memahami fungsi kader jumantik pada pencegahan demam berdarah dengue dan mendiskripsikan hasil temuannya dalam sebuah narasi. Dengan demikian, diketahui bahwa input dari variabel sumber daya manusia adalah kader dan koordinator jumantik di Kelurahan Menteng Atas sudah sesuai dengan pedoman, yakni 132 kader dan 10 koordinator sesuai perwakilan RT setempat, kader jumantik berasal dari masyarakat dengan mayoritas ibu rumah tangga. Selain itu, dana operasional yang diperoleh oleh kader sebesar Rp500.000 disertai dengan sarana dan prasarana yang sudah mencukupi seperti seragam, alat tulis, dan lain-lain. Pengorganisasian atau pembentukan struktur organisasi kader jumantik dilakukan dan diusulkan oleh RT/RW setempat disertai surat keputusan dari kelurahan. Akibatnya, pemberantasan nyamuk selama bulan Januari-Juli 2023 mencapai hasil yang maksimal, yaitu dengan rata-rata bebas jentik sebesar 99 persen.
Name : Fadela Andini Study Program : Environmental Health Title : The Role Analysis of Jumantik Cadres in Dengue Fever Prevention in Menteng Atas Subdistrict Counsellor : Dr. Budi Hartono, S.Si., M.K.M. In the last few decades, there has been a drastic increase in the case of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) across all countries. This surge can be attributed to the female Aedes aegypti and Aedes albopictus mosquitoes, which not only transmit the dengue virus but also Zika, chikungunya, and yellow fever viruses. The first case of DHF was identified in Indonesia in 1968 in the city of Surabaya, East Java, with a mortality rate of 41.3%. Subsequently, in 2022, South Jakarta contributed 1,846 cases of DHF, with 31 cases reported in the Menteng Atas sub-district. The aim of this study is to analyze the input, process activities, and output overview of mosquito vector control (jumantik) cadres in the prevention of DHF. This research was conducted from July to December 2023 in the Menteng Atas sub-district. Data collection was carried out directly in the field and explained using a qualitative approach to comprehend the functions of jumantik cadres in preventing Dengue Hemorrhagic Fever and to describe the findings in a narrative form. Consequently, it was determined that the input from the human resources variable, namely the cadres and jumantik coordinators in the Menteng Atas sub-district, is in accordance with guidelines, consisting of 132 cadres and 10 coordinators as per local RT representation. The jumantik cadres are drawn from the community, with the majority being housewives. Furthermore, operational funds of Rp500,000, along with sufficient facilities and infrastructure such as uniforms, stationery, and others, are provided to the cadres. The organization or formation of the jumantik cadre organizational structure is carried out and proposed by the local RT/RW, accompanied by a decree from the sub-district. As a result, mosquito eradication during January-July 2023 achieved optimal outcomes, with an average larval index of 99 percent
S-11532
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sulthan Alvin Faiz Bara Mentari; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Laila Fitria, Ririn Arminsih Wulandari, Herwin Meifendy, Debbie Valonda S
Abstrak:
Read More
Jalan Raya Daan Mogot-Pesing Kota Jakarta Barat merupakan jalan raya yang memiliki fungsi vital karena dikelilingi perumahan, industri, pasar, menghubungkan dua kota besar (Jakarta Barat dan Tanggerang), serta merupakan jalan raya yang memiliki titik konsentrasi PM2.5 tertinggi dengan 298 µg/m3 berdasarkan data IQair. Oleh karena itu, diperlukan sebuah penelitian yang dapat menganalisis risiko kesehatan terhadap masyarakat yang tinggal disekitarnya akibat pajanan PM2.5. Penelitian ini menggunakan metode ARKL dengan sampel udara pada 4 titik pengukuran dan sampel subjek sebanyak 96 responden. Pengambilan sampel udara menggunakan alat Dusttrak sedangkan pengambilan data sampel subjek dilakukan dengan wawancara. Berdasarkan hasil pengukuran PM2.5 pada 4 titik pengukuran, terdapat 3 titik yang konsentrasinya telah berada diatas baku mutu PP No.22 tahun 2021 pada titik 2 dengan 73,8 µg/m3, titik 3 dengan 57,2 µg/m3, dan titik 4 dengan 155,4 µg/m3. Berdasarkan hasil wawancara, didapatkan data rerata berat badan responden 59,5 kg, umur 44,5 tahun, waktu pajanan 24 jam/hari, frekuensi pajanan 350 hari/tahun, dan durasi pajanan 20 tahun. Intake realtime dan lifetime tertinggi berada pada titik 4 pengukuran dengan konsentrasi maksimum 0,03 mg/kg/hari dan 0,05 mg/kg/hari. RQ realtime dan lifetime tertinggi berada pada titik 4 dengan nilai maksimum 1,74 dan 2,61. Dibutuhkan manajemen risiko yang dapat menanggulangi titik dengan kategori berisiko diantaranya edukasi penggunaan masker, menanam tanaman penyaring debu dalam rumah, peningkatan gizi, serta penghijauan jalan raya.
Daan Mogot-Pesing road of West Jakarta is a highway that has a vital function because it is surrounded by housing, industry, markets, connects two big cities (West Jakarta and Tangerang), and is a highway that has the highest PM2.5 concentration point with 298 µg /m3 based on IQair data. Therefore, a study is needed that can analyze the health risks to the people who live around them due to PM2.5 exposure. This study used the EHRA method with air samples at 4 measurement points and a sample of 96 respondents. Air samples were taken using the Dusttrak tool while the subject sample data was collected by interview. Based on the results of PM2.5 measurements at 4 measurement points, there are 3 points whose concentrations are above the PP No. 22 of 2021 quality standards at point 2 with 73.8 µg/m3, point 3 with 57.2 µg/m3, and point 4 with 155.4 µg/m3. Based on the interview results, the average respondent's body weight was 59.5 kg, age 44.5 years, exposure time 24 hours/day, exposure frequency 350 days/year, and exposure duration 20 years. The highest realtime and lifetime intakes were at point 4 of measurement with a maximum concentration of 0.03 mg/kg/day and 0.05 mg/kg/day. The highest realtime and lifetime RQ is at point 4 with a maximum value of 1.74 and 2.61. Risk management is needed that can address points with risk categories including education on using masks, planting dust filter plants in the house, improving nutrition, and planting plants around the road.
T-6615
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Zahra Dhiyanissa; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Debbie Valonda
Abstrak:
Read More
Leptospirosis adalah penyakit zoonosis akibat bakteri Leptospira. DKI Jakarta termasuk dari 11 wilayah endemis. Penelitian ini menganalisis keterkaitan faktor sosial (kepadatan penduduk), iklim (kelembapan, curah hujan, suhu), dan lingkungan (rawan banjir, timbulan sampah) terhadap kasus leptospirosis di lima kota administrasi DKI Jakarta tahun 2017–2023. Hasil menunjukkan hubungan signifikan antara kelembapan, curah hujan, dan daerah rawan banjir (p<0,05), dengan korelasi kelembapan (r = -0,375) dan curah hujan (r = 0,477). Persebaran kasus lebih banyak pada wilayah rawan banjir, timbulan sampah sedang–tinggi, dan kepadatan penduduk sedang. Dengan demikian, perlu dilakukan optimalisasi pelaporan dan kolaborasi lintas sektor dalam mengintervensi masyarakat.
Leptospirosis is a zoonotic disease caused by Leptospira bacteria. DKI Jakarta is one of 11 endemic areas. This study analyzed the relationship between social (population density), climatic (humidity, rainfall, temperature), and environmental (flood-prone, waste generation) factors on leptospirosis cases in five administrative cities of DKI Jakarta in 2017-2023. The results showed a significant relationship between humidity, rainfall, and flood-prone areas (p<0.05), with a correlation of humidity (r = -0.375) and rainfall (r = 0.477). The distribution of cases was more in flood-prone areas, medium-high waste generation, and medium population density. Thus, it is necessary to optimize cross-sector collaboration in intervention.
Leptospirosis is a zoonotic disease caused by Leptospira bacteria. DKI Jakarta is one of 11 endemic areas. This study analyzed the relationship between social (population density), climatic (humidity, rainfall, temperature), and environmental (flood-prone, waste generation) factors on leptospirosis cases in five administrative cities of DKI Jakarta in 2017-2023. The results showed a significant relationship between humidity, rainfall, and flood-prone areas (p<0.05), with a correlation of humidity (r = -0.375) and rainfall (r = 0.477). The distribution of cases was more in flood-prone areas, medium-high waste generation, and medium population density. Thus, it is necessary to optimize cross-sector collaboration in intervention.
S-12113
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Kania Melisa Davina Putri; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Fitri Kurniasari, Debbie Valonda
Abstrak:
Read More
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) merupakan salah satu penyebab kematian neonatal yang dipengaruhi berbagai interaksi faktor, salah satunya faktor lingkungan yaitu pencemaran udara PM2.5. Daerah Khusus Jakarta merupakan wilayah urban dengan tingkat pencemaran udara yang tinggi mencapai 49,9 μg/m3 dan telah melebihi baku mutu nasional, menjadikan wilayah ini berpotensi meningkatkan risiko BBLR. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan spasial pada 42 kecamatan di Daerah Khusus Jakarta (tidak termasuk Kabupaten Kepulauan Seribu). Data yang digunakan merupakan data sekunder kejadian BBLR, konsentrasi PM2.5, kepadatan penduduk, kepadatan lalu lintas, serta kepadatan industri pada tahun 2025. Analisis spasial dilakukan dengan menggunakan Quantum GIS (QGIS) melalui peta tematik dan overlay spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa wilayah dengan prevalensi BBLR tinggi cenderung berada pada wilayah dengan konsentrasi PM2.5 sedang hingga tinggi, namun pola tersebut tidak ditemukan secara konsisten pada seluruh kecamatan. Sementara itu, distribusi kepadatan penduduk, kepadatan lalu lintas, dan kepadatan industri juga tidak selalu sejalan dengan distribusi kejadian BBLR. Oleh karena itu, distribusi kejadian BBLR di Daerah Khusus Jakarta menunjukkan pola spasial yang bervariasi dan tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu faktor lingkungan.
Low Birth Weight (LBW) is one of the causes of neonatal mortality influenced by various interacting factors, including environmental factors such as PM2.5 air pollution. The Special Capital Region of Jakarta is an urban area with a high level of air pollution reaching 49,9 μg/m3, exceeding the national air quality standard, thereby potentially increasing the risk of LBW. This study used a quantitative descriptive design with a spatial approach across 42 sub-districts in the Special Capital Region of Jakarta (excluding the Kepulauan Seribu Regency). The data used were secondary data on LBW incidence, PM2.5 concentration, population density, traffic density, and industrial density in 2025. Spatial analysis was conducted using Quantum GIS (QGIS) through thematic mapping and spatial overlay analysis. The results showed that several areas with high LBW prevalence tended to be located in areas with moderate to high PM2.5 concentrations; however, this pattern was not consistently observed across all sub-districts. Meanwhile, the distributions of population density, traffic density, and industrial density were also not consistently aligned with the distribution of LBW incidence. Therefore, the distribution of LBW incidence in the Special Capital Region of Jakarta showed varying spatial patterns and could not be explained solely by a single environmental factor.
S-12238
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Salwa Anfa ; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Laila Fitria, Debbie Valonda
Abstrak:
Read More
Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat signifikan, khususnya pada balita. Salah satu upaya penanggulangannya di Indonesia adalah melalui program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang mencakup lima pilar. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pelaksanaan lima pilar STBM terhadap kejadian diare balita di Pulau Jawa tahun 2023. Penelitian menggunakan desain studi ekologi dengan pendekatan kuantitatif dan analisis regresi negatif binomial. Data sekunder diambil dari Profil Kesehatan Provinsi empat provinsi di Pulau Jawa (Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur), mencakup 99 kabupaten/kota. Variabel yang dianalisis adalah persentase capaian lima pilar STBM dan jumlah kasus diare balita terkonfirmasi. Hasil analisis menunjukkan tiga pilar—SBABS (Stop Buang Air Besar Sembarangan), PSRT (Pengelolaan Sampah Rumah Tangga), dan PLCRT (Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga)—berpengaruh signifikan terhadap kejadian diare balita (p < 0,05). Peningkatan pelaksanaan SBABS dan PLCRT menurunkan risiko diare masing-masing sebesar 1,65% dan 2,57%, sedangkan PSRT justru meningkatkan risiko sebesar 3,37%. Pilar CTPS dan PAMMRT menunjukkan arah negatif, namun tidak signifikan. Pemerintah perlu menguatkan lintas sektor serta evaluasi berkala agar pelaksanaan STBM lebih efektif.
Diarrhea remains a major public health issue, particularly among children under five. One of Indonesia’s strategies to address this is the Community-Based Total Sanitation (STBM) program, which consists of five pillars. This study aims to analyze the influence of the five STBM pillars on the incidence of diarrhea among children under five in Java Island in 2023. An ecological study design with a quantitative approach and negative binomial regression analysis was used. Secondary data were obtained from the Provincial Health Profiles of four provinces in Java (Banten, West Java, Central Java, and East Java), covering 99 districts/cities. Variables analyzed included the percentage implementations of the five STBM pillars and the number of confirmed diarrhea cases in children under five. The results showed that three pillars—SBABS (Stop Open Defecation), PSRT (Household Waste Management), and PLCRT (Household Wastewater Management)—had a statistically significant effect on diarrhea incidence (p < 0.05). Increased implementation of SBABS and PLCRT reduced diarrhea risk by 1.65% and 2.57%, respectively, while PSRT was associated with a 3.37% increase. CTPS (Handwashing with Soap) and PAMMRT (Drinking Water and Food Management) showed a negative but non-significant association. Strengthened cross-sector efforts and regular evaluations are recommended to enhance STBM effectiveness.
S-11962
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Arina Qonita; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Bambang Wispriyono, Debbie Valonda S.
Abstrak:
Read More
Diare masih menjadi masalah kesehatan dengan tren cenderung meningkat di Provinsi DKI Jakarta dalam kurun 5 tahun terakhir. Kejadian diare di wilayah Provinsi DKI Jakarta perlu mendapat perhatian karena dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor risiko, salah satunya adalah kualitas air yang dikonsumsi oleh rumah tangga. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis hubungan kualitas air minum pada tingkat rumah tangga dan pengaruhnya terhadap kejadian diare di Provinsi DKI Jakarta dengan turut melihat faktor kondisi sarana air minum, faktor sanitasi, faktor perilaku, dan juga faktor sosiodemografi. Desain studi yang digunakan adalah cross sectional dengan data sekunder yang berasal dari Surveilans Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Tahun 2025. Kualitas air minum rumah tangga di Provinsi DKI Jakarta sebagian besar belum memenuhi syarat (86,8%). Sebagian besar kualitas air minum rumah tangga ditinjau dari parameter mikrobiologi (57,6%) dan juga fisik (57,2%) di Provinsi DKI Jakarta belum memenuhi syarat sesuai dengan baku mutu yang berlaku. Mayoritas rumah tangga di Provinsi DKI Jakarta memiliki sumber air minum yang layak (97,9%), lokasi yang aman (98,7%), wadah penyimpanan tertutup (74,6%), tidak mengetahui jarak penampungan tinja dengan sumber air minum (53,0%), tidak melakukan pengolahan air sebelum diminum (56,4%), memiliki tingkat pendidikan menengah dan tinggi (91,0%), bekerja (95,0%), dan juga berusia produktif (96,9%). Hasil analisis diperoleh bahwa tidak terdapat variabel yang berhubungan signifikan secara statistik dengan kejadian diare (p > 0,05). Namun, faktor yang paling dominan adalah sumber air minum sebagai faktor yang turut berperan secara signifikan. Berdasarkan hasil tersebut mengindikasikan perlunya upaya pencegahan diare melalui pemantauan kualitas air minum rumah tangga secara berkala, edukasi pengolahan dan penyimpanan air minum, serta penguatan perilaku hidup bersih dan sehat di tingkat rumah tangga.
Diarrhea continues to pose a significant public health challenge with an increasing trend in DKI Jakarta Province over the last five years. The incidence of diarrhea in DKI Jakarta Province requires attention, as it may be influenced by various risk factors, one of which is household drinking water quality. This research sought to investigate the association between household drinking water quality and diarrhea incidence in DKI Jakarta Province by also considering factors related to drinking water facilities, sanitation, behavior, and sociodemographic characteristics. Utilizing a cross-sectional design approach, the research analyzed secondary data derived from the 2025 Household Drinking Water Quality Surveillance conducted by the DKI Jakarta Provincial Health Office. The results showed that of household drinking water failed to meet the quality standards (86,8%), particularly in the microbiological (57.6%) and physical (57.2%) parameters. Even though most households had improved water sources (97.9%), safe locations (98.7%), and closed storage containers (74.6%), many respondents were unaware of the distance to the septic tank (53.0%) and did not treat their water before consumption (56.4%). Furthermore, the majority of respondents had secondary or higher education (91.0%), were employed (95.0%), and belonged to the productive age group (96.9%). The findings indicated that no factors were statistically significantly associated with diarrhea incidence (p > 0.05). However, water source was the most dominant factor that played a significant role. These results indicate the need for diarrhea prevention efforts through regular monitoring of household drinking water quality, education on drinking water treatment and storage, and strengthening clean and healthy living behaviors at the domestic level.
S-12244
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
