Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Indah Wahyuni; Pembimbing Lapangan: Sugiarto, Yudi
L-602
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
S1 - Laporan Magang   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bul. Pen. Sis. Kes. (Bulitsiskes), Vol.10, No.3, Juli. 2007: hal. 223-230, (cat. ada di bendel 2006-2007
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indah Wahyuni; Pembimbing: Hafizzurachman; Penguji: Mieke Savitri, Budi Hartono
S-6155
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indah Sri Wahyuni; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Sandra Fikawati, Ella Nurlelawati, Anton Wibawa
Abstrak:

Pemberian makanan yang tepat dan optimal sangat penting untuk kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan bayi yaitu dengan menyusui bayi sesegera mungkin setelah lahir dan memberikan ASI eksklusif sampai umur 6 bulan. Pengetahuan dan sikap ibu hamil akan membantu langkah keberhasilan dalam menyusui. Media audio visual merupakan media penyuluhan yang menarik dan merangsang lebih banyak indera. Tujuan penelitian ini adalah diperolehnya informasi mengenai pengaruh paparan singkat media audio visual tentang ASI eksklusif terhadap pengetahuan dan sikap ibu hamil. Desain penelitian yang digunakan untuk pengembangan adalah research and development sedangkan untuk uji coba menggunakan quasiexperimental design dengan jenis pre-test dan post-test control group design. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 260 orang yang dibagi menjadi 4 kelompok yaitu 65 orang kelompok media audio visual, 65 orang kelompok booklet, 65 orang kelompok media audio visual dan booklet, 65 orang kelompok kontrol. Pengambilan sampel melalui non probability sampling dan pengumpulan data menggunakan kuesioner yang dianalisis dengan uji-t, Oneway ANOVA dan regresi linear ganda. Hasil uji menunjukan rata-rata skor pengetahuan dan sikap pada kelompok media audio visual lebih tinggi saat post test dibanding pre test. Hasil analisis multiregresi menunjukkan variabel yang dominan adalah pendidikan. Peneliti merekomendasikan penggunaan media audio visual dalam kegiatan penyuluhan dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu.


 

 Proper and optimum feeding is essential for the viability, growth, and development of infant by breastfeeding the infant as soon as the birth and giving exclusive nursing until the baby reaches 6 months old. Knowledge and attitude of pregnant woman will provide the steps to successful breastfeeding. Audio visual media is an education media which attracts and stimulates more sense. The purpose of this research is to obtain the information about the effect of brief exposure of audio visual media on exclusive breastfeeding toward the knowledge and attitude of pregnant women. The used research design for the development is research and development whilst for trial, using quasiexperimental design with the type of pre-test and post-test control group design. The number of samples in this study were 260 people who were divided into 4 groups: 65 people of audiovisual media group, 65 people of booklet group, 65 people of audio-visual media and booklet group, 65 people of the control group. Sampled through the nonprobability sampling and data collection using questionnaires which were analyzed by t-test, Oneway ANOVA and multiple linear regression. The test result showed an average score of knowledge and attitude on audio-visual media group is higher when tested by pre-test compared to post-test. Result of multiple regression analysis showed that the dominant variable is education. Researchers recommend the use of audio-visual media in educational and counseling activity in order to raise the knowledge and attitude of the pregnant women.

Read More
T-3884
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indah Sri Wahyuni; Promotor: Tris Eryando; Kopromotor: Martya Rahmaniati Makful, Meiwita Paulina Budiharsana; Penguji: Besral, Kemal Nazaruddin Siregar, Popy Yuniar, Wendy Hartanto, Harimat Hendarwan
Abstrak:
Pemanfaatan pelayanan kesehatan dalam persalinan sangat penting karena proses persalinan merupakan fase krusial dalam kehidupan ibu dan anak. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih di fasyankes merupakan salah satu intervensi kunci dan terbukti untuk mengurangi 16-33% kematian ibu. Di Indonesia, cakupan pemanfaatan persalinan di fasyankes berdasarkan SKI 2023 sebesar 89.9% namun cakupan tersebut belum mencapai target dari renstra kemenkes 2020-2024 sebesar 95%. Data riskesdas 2013, 2018 dan SKI 2023 menunjukkan adanya variasi dalam cakupan persalinan di fasyankes antar kabupaten/kota di Pulau Jawa sehingga mencerminkan adanya disparitas wilayah. Tujuan penelitian ini mengetahui model spasial pemanfaatan persalinan di fasyankes untuk setiap kabupaten/kota di Pulau Jawa, Indonesia. Studi ekologi dilakukan pada 118 kabupeten/kota di Pulau Jawa tahun 2023. Data berbentuk agregat dan bersumber dari publikasi SKI 2023, data sebaran tenaga medis dan tenaga kesehatan, buku publikasi BPS dan profil kesehatan masing-masing provinsi di Pulau Jawa. Analisis data menggunakan Spatial Error Model (SEM) dan Geographically Weighted Regression (GWR). Hasil penelitian menunjukkan terdapat autokorelasi spasial positif dan membentuk pola pengelompokan spasial. Hasil SEM menunjukkan adanya dependensi spasial yang signifikan dan mampu menjelaskan 77,78% variasi antarwilayah dan membentuk pola residual yang mengelompok. Pada Model GWR mampu menjelaskan 87,28% variasi spasial pemanfaatan persalinan melalui kombinasi variabel independen. Hasil model menunjukkan bahwa determinan yang memengaruhi pemanfaatan persalinan di fasyankes yaitu penolong persalinan, kepemilikan jaminan kesehatan, penduduk miskin, kunjungan ANC, pendidikan ibu, rasio dokter dan rasio PKM memiliki pengaruh yang bervariasi secara spasial antar kab/kota. Variabel-variabel tersebut memiliki kekuatan pengaruh yang berbeda antar kab/kota di Pulau Jawa. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan perencanaan bagi program kesehatan ibu yang lebih terarah khususnya dalam penetapan wilayah prioritas intervensi di Pulau Jawa.

The utilization of healthcare services during delivery is essential, because process is a crucial phase in the lives of both mother and child. Delivery assisted by skilled birth attendant in healthcare facilities is a key intervention proven to reduce maternal mortality by 16–33%. In Indonesia, the coverage of healthcare facility delivery based on the 2023 Indonesian Health Survey (SKI) is 89.9%; however, this has not yet reached the 95% target set by the Ministry of Health's 2020–2024 strategic plan. Data from Riskesdas 2013, 2018, and SKI 2023 indicate variations in facility-based delivery coverage across regencies/cities on Java Island, reflecting regional disparities. This study aims to determine the spatial model of healthcare facility delivery utilization for each regency/city on Java Island, Indonesia. An ecological study was conducted across 118 regencies/cities in Java in 2023. Aggregate data were sourced from the 2023 SKI publications, medical and health personnel distribution data, BPS (Statistics Indonesia) publications, and health profiles from each province in Java. Data were analyzed using the Spatial Error Model (SEM) and Geographically Weighted Regression (GWR).The results indicate a positive spatial autocorrelation, forming a spatial clustering pattern. The SEM results show significant spatial dependency, explaining 77,78% of the inter-regional variation and forming clustered residual patterns. The GWR model was able to explain 87,28% of the spatial variation in delivery utilization through a combination of independent variables. The model results demonstrate that determinants affecting healthcare facility delivery utilization namely skilled birth attendants, health insurance ownership, poverty levels, ANC (Antenatal Care) visits, maternal education, physician ratios, and community health center ratios have spatially varying influences across regencies/cities. These variables exhibit different levels of influence across different regions in Java. The findings of this study are expected to serve as a planning resource for more targeted maternal health programs, particularly in identifying priority areas for intervention on Java Island.
Read More
D-607
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ester Apriliani Telaumbanua; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Milla Herdayati, Indah Sri Wahyuni
Abstrak:
Latar belakang: Upaya pemenuhan standar Antenatal Care menjadi bagian penting dalam mendukung penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) melalui RPJMN 2025 – 2029 serta menjadi salah satu intervensi untuk mencegah stunting pada Strategi Nasional Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting 2025–2029. Namun, pemenuhan standar ANC di Indonesia masih belum optimal dan menunjukkan ketimpangan antarwilayah sehingga diperlukan analisis determinan berdasarkan regionalisasi wilayah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan ketidaklengkapan pemenuhan standar ANC berdasarkan regionalisasi wilayah di Indonesia, yaitu Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI). Metode: Penelitian menggunakan desain crosssectional dengan data sekunder SKI 2023. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariabel menggunakan regresi logistik dengan complex sample analysis. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan proporsi ketidaklengkapan pemenuhan standar ANC sebesar 87,5% di KBI dan 85,7% di KTI. Pada KBI, faktor yang berhubungan signifikan meliputi tingkat pendidikan ibu, status pekerjaan ibu, paritas, status ekonomi, tempat pemeriksaan ANC, dan status keinginan kehamilan. Faktor paling dominan di KBI adalah status ekonomi terbawah, dengan aOR sebesar 2,41 dibandingkan kelompok ekonomi teratas. Pada KTI, faktor yang berhubungan signifikan meliputi wilayah tempat tinggal, usia ibu, status pekerjaan ibu, gravida, status ekonomi, tempat pemeriksaan ANC, tingkat kemudahan akses ke klinik/praktik mandiri, dan status keinginan kehamilan. Tingkat pendidikan ibu tetap dipertahankan dalam model akhir KTI sebagai variabel confounder. Faktor paling dominan di KTI adalah status keinginan kehamilan, dengan ibu yang memiliki kehamilan tidak diinginkan memiliki aOR sebesar 2,62 dibandingkan ibu dengan kehamilan diinginkan. Kesimpulan: Ketidaklengkapan pemenuhan standar ANC masih tinggi di KBI maupun KTI, dengan pola determinan yang berbeda antarwilayah. Penguatan program ANC perlu diarahkan pada kelengkapan kualitas pelayanan, pemerataan akses, serta perhatian khusus pada ibu dengan status ekonomi rendah dan kehamilan tidak diinginkan.

Background: Efforts to fulfill Antenatal Care (ANC) standards are an important component in supporting the reduction of maternal mortality through the 2025–2029 National Medium-Term Development Plan (RPJMN), as well as one of the interventions to prevent stunting under the 2025–2029 National Strategy for the Acceleration of Stunting Prevention and Reduction. However, the fulfillment of ANC standards in Indonesia remains suboptimal and shows disparities across regions, highlighting the need to analyze its determinants based on regionalization. Objective: This study aimed to identify the determinants of incomplete fulfillment of ANC standards based on regionalization in Indonesia, namely Western Indonesia Region (KBI) and Eastern Indonesia Region (KTI). Methods: This study used a cross-sectional design with secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). The analyses were conducted using univariate, bivariate, and multivariable analyses with logistic regression through complex sample analysis. Results: The results showed that the proportion of incomplete fulfillment of ANC standards was 87.5% in KBI and 85.7% in KTI. In KBI, the factors significantly associated with incomplete fulfillment of ANC standards were maternal education level, maternal employment status, parity, economic status, place of ANC examination, and pregnancy intention status. The most dominant factor in KBI was the lowest economic status, with an aOR of 2.41 compared with the highest economic group. In KTI, the factors significantly associated with incomplete fulfillment of ANC standards were area of residence, maternal age, maternal employment status, gravidity, economic status, place of ANC examination, accessibility to clinics/private practices, and pregnancy intention status. Maternal education level was retained in the final KTI model as a confounding variable. The most dominant factor in KTI was pregnancy intention status, with women who had unintended pregnancies having an aOR of 2.62 compared with those with intended pregnancies. Conclusion: Incomplete fulfillment of ANC standards remains high in both KBI and KTI, with different determinant patterns across regions. ANC program strengthening should be directed toward improving the completeness of service quality, equitable access, and special attention to mothers with low economic status and unintended pregnancies.
Read More
S-12442
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadia Zahra Sabira; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Rita Damayanti, Indah Sri Wahyuni
Abstrak:
Menstrual hygiene yang buruk meningkatkan risiko infeksi saluran reproduksi, namun praktiknya di kalangan mahasiswi Indonesia masih belum optimal, dan mekanisme persepsi yang mendasarinya belum banyak dikaji menggunakan kerangka Health Belief Model (HBM), khususnya dengan membandingkan mahasiswi rumpun kesehatan dan non-kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara rumpun fakultas dan lima komponen HBM (perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, perceived barriers, dan self-efficacy) dengan praktik menstrual hygiene pada mahasiswi Universitas Indonesia tahun 2026. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional, melibatkan 362 mahasiswi S1 Reguler aktif Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) yang dipilih secara accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur secara daring dan luring, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dan Odds Ratio (OR). Hasil penelitian menunjukkan 52,5% responden memiliki praktik menstrual hygiene yang baik. Rumpun fakultas terbukti berhubungan signifikan dengan praktik menstrual hygiene (p<0,001; OR=3,436), mahasiswi FKM 3,4 kali lebih mungkin berpraktik baik dibandingkan mahasiswi FIB. Empat dari lima komponen HBM, yaitu perceived severity (p=0,003; OR=1,880), perceived benefits (p<0,001; OR=4,142), perceived barriers (p<0,001; OR=0,340), dan self-efficacy (p<0,001; OR=6,128), berhubungan signifikan dengan praktik menstrual hygiene, sedangkan perceived susceptibility tidak menunjukkan hubungan bermakna (p=0,424). Self-efficacy merupakan prediktor terkuat dalam penelitian ini. Disimpulkan bahwa latar belakang pendidikan kesehatan dan persepsi individu, terutama keyakinan diri, berperan penting dalam membentuk praktik menstrual hygiene mahasiswi, sehingga diperlukan program edukasi kesehatan reproduksi yang lebih kontekstual bagi mahasiswi rumpun non-kesehatan.

Poor menstrual hygiene increases the risk of reproductive tract infections, yet menstrual hygiene practices among Indonesian female university students remain suboptimal, and the underlying perceptual mechanisms have rarely been examined using the Health Belief Model (HBM) framework, particularly by comparing health and non-health students. This study aimed to analyze the relationship between faculty cluster and the five HBM components (perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, perceived barriers, and self-efficacy) with menstrual hygiene practices among female students at Universitas Indonesia in 2026. This quantitative study used a cross-sectional design involving 362 active undergraduate female students from the Faculty of Public Health (FKM) and the Faculty of Humanities (FIB), selected through accidental sampling. Data were collected using a structured questionnaire distributed online and offline, then analyzed univariately and bivariately using the Chi-Square test and Odds Ratio (OR). The results showed that 52.5% of respondents had good menstrual hygiene practices. Faculty cluster was significantly associated with menstrual hygiene practices (p<0.001; OR=3.436), with FKM students being 3.4 times more likely to practice good menstrual hygiene than FIB students. Four of the five HBM components, namely perceived severity (p=0.003; OR=1.880), perceived benefits (p<0.001; OR=4.142), perceived barriers (p<0.001; OR=0.340), and self-efficacy (p<0.001; OR=6.128), were significantly associated with menstrual hygiene practices, while perceived susceptibility showed no significant relationship (p=0.424). Self-efficacy was the strongest predictor in this study. It is concluded that health education background and individual perceptions, particularly self-efficacy, play an important role in shaping students’ menstrual hygiene practices, highlighting the need for more contextual reproductive health education programs for non-health students.
Read More
S-12444
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive