Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Salty Lazuardini; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Ede Surya Darmawan, Muhammad Kamal, Sri Maslihah
Abstrak:
Keberadaan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) dalam melakukan pembinaan, pengasuhan dan pelayanan kesehatan anak binaan bertujuan untuk mengembangkan resliliensi anak dan mendorong terciptanya perawatan kesehatan fisik dan jiwa serta kesejahteraan yang baik. Tujuan penelitian adalah didapatkannya efektivitas pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian kesehatan jiwa LPKA Kelas II Bandung tahun 2024. Metodologi  penelitian secara kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil penelitian  menunjukkan bahwa kegiatan skrining SDQ, konseling serta psikoedukasi anak binaan telah berdampak positif pada ketertiban, keamanan serta reintegrasi sosial di LPKA. Tantangan meliputi keterbatasan SDM, anggaran, literasi petugas pemasyarakatan serta lemahnya dokumentasi laporan kegiatan serta koordinasi antar mitra eksternal. Kesinambungan program menghadapi tantangan struktural akibat faktor politik, perubahan kebijakan kelembagaan dan peran keluarga anak binaan. Keterlibatan pemangku kepentingan internal dan eksternal memperkuat efektivitas program. Diperlukan peningkatan deteksi dini, intervensi psikologis, literasi petugas, dan ruang khusus konseling. Ditjenpas diharapkan memperkuat kolaborasi lintas sektor, memperbarui SOP layanan kesehatan jiwa, digitalisasi materi, serta penempatan psikolog klinis secara prioritas. 

The existence of the Child Special Development Institution (LPKA) in providing guidance, care and health services for fostered children aims to develop children's resilience and encourage the creation of physical and mental health care and good welfare. The research objective is to obtain the effectiveness of the implementation of the mental health prevention and control program of LPKA Class II Bandung in 2024. The research methodology is qualitative with a case study approach. The results showed that SDQ screening activities, counseling and psychoeducation of foster children had a positive impact on order, security and social reintegration in LPKA. Challenges include limited human resources, budget, literacy of correctional officers and weak documentation of activity reports and coordination between external partners. The sustainability of the program faces structural challenges due to political factors, changes in institutional policies and the role of families of foster children. The involvement of internal and external stakeholders strengthens program effectiveness. Improved early detection, psychological interventions, officer literacy and dedicated counseling spaces are needed. The Directorate General of Corrections is expected to strengthen cross-sector collaboration, update SOPs for mental health services, digitize materials, and prioritize the placement of clinical psychologists.
Read More
T-7301
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zihan Kamila Maharani; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Budi Hartono, Indry Octavia
Abstrak:
Penyakit berbasis lingkungan seperti ISPA, diare, dan infeksi kulit masih banyak ditemukan di lingkungan dengan sanitasi buruk dan kebersihan diri yang rendah, termasuk di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara personal hygiene, kondisi sanitasi lingkungan, dan kepadatan hunian dengan kejadian penyakit berbasis lingkungan pada warga binaan LPKA Kelas II Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 31 orang dan diambil dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan observasi, serta dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara lama masa tinggal dengan kejadian penyakit berbasis lingkungan, diare, dan ISPA (p≤0,05). Disarankan adanya peningkatan edukasi terkait kebersihan diri dan perbaikan sanitasi lingkungan di LPKA guna menurunkan risiko penyakit.

Environmental-based diseases are often found in environments with poor sanitation and low personal hygiene, including in Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). This study aims to examine the relationship between personal hygiene, environmental sanitation conditions, and housing density with the incidence of environmentally based diseases among the residents of LPKA Kelas II Jakarta. This research employed a quantitative approach with a cross-sectional design. The sample consisted of 31 participants selected using a total sampling technique. Data were collected through questionnaires and observation, and analyzed using the chi-square test. The results showed a significant relationship between length of stay and the incidence of environmentally based diseases, including diarrhea and acute respiratory infections (p≤0.05). It is recommended to enhance education on personal hygiene and improve environmental sanitation in LPKA to reduce disease risk.
Read More
S-11916
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rafie Lucky Baskoro; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Indry Octavia Trisnawati
Abstrak:
Skabies adalah penyakit kulit menular akibat infestasi Sarcoptes scabiei yang umum ditemukan di lingkungan padat dengan sanitasi rendah, termasuk fasilitas tertutup seperti Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara personal hygiene dan faktor lingkungan dengan kejadian skabies pada warga binaan di LPKA Kelas II Jakarta. Penelitian menggunakan desain kuantitatif potong lintang (cross-sectional) dengan pendekatan observasional analitik. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner, observasi langsung, dan pemeriksaan oleh dokter. Sampel berjumlah 31 responden dari total populasi warga binaan, dipilih dengan teknik total sampling. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji Chi-square. Hasil menunjukkan bahwa 61,3% responden mengalami skabies dalam 6 bulan terakhir. Meskipun sebagian besar responden memiliki kebersihan personal yang kurang baik dan tinggal di kamar dengan suhu dan kelembapan tidak ideal, tidak ditemukan hubungan yang signifikan secara statistik antara seluruh variabel personal hygiene dan faktor lingkungan dengan kejadian skabies (p > 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara personal hygiene maupun faktor lingkungan dengan kejadian skabies, kemungkinan disebabkan oleh homogenitas perilaku, ukuran sampel terbatas, serta pengaruh faktor lain di luar variabel yang diteliti. Penelitian selanjutnya disarankan melibatkan lebih banyak variabel lingkungan dan ukuran sampel yang lebih besar.
Scabies is a contagious skin disease caused by Sarcoptes scabiei infestation, commonly found in densely populated environments with poor sanitation, including closed institutions such as correctional facilities for juveniles. This study aimed to analyze the relationship between personal hygiene and environmental health factors with the incidence of scabies among inmates at the Special Child Development Institution (LPKA) Class II Jakarta. A cross-sectional analytic observational design was used with a quantitative approach. Data were collected through structured questionnaires, direct observation, and medical examinations. The study involved 31 respondents selected through total sampling from the inmate population. Data were analyzed using univariate, bivariate using chi-square analyses. Results showed that 61.3% of respondents experienced scabies in the past six months. Although most respondents exhibited poor personal hygiene and lived in rooms with suboptimal temperature and humidity, no statistically significant relationship was found between any personal hygiene or environmental variables and scabies incidence (p > 0.05). The study concludes that there is no significant association between personal hygiene or environmental factors and scabies occurrence. This may be attributed to sample homogeneity, limited sample size, and unmeasured external factors. Further research is recommended to include broader environmental variables and larger sample sizes to explore this relationship more comprehensively.
Read More
S-12025
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive