Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Digna R. Edwards, Donna D. Baird, Katherine E. Hartmann
AJE Vol.178, No.3
Oxford : Oxford University Press, 2013
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zahra Syahrani; Pembimbing: Lhuri Dwianti Rahmartani; Penguji: Trisari Anggondowati, Nadia Shafira
Abstrak:
Latar Belakang: Menarche dini, atau menstruasi pertama pada usia sebelum 12 tahun, merupakan isu kesehatan masyarakat yang penting karena memengaruhi berbagai luaran kesehatan reproduksi seperti meningkatkan risiko kanker payudara dan endometrium. Terjadi tren penurunan rata-rata usia menarche di Indonesia, dari 13,0 tahun pada Riskesdas 2013 menjadi 12,8 tahun pada Riskesdas 2018. Menyikapi tren penurunan tersebut, penelitian berskala nasional yang secara khusus menganalisis faktor-faktor yang berasosiasi dengan kejadian menarche dini di Indonesia sangat diperlukan, mengingat ketersediaannya yang masih sangat terbatas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berasosiasi dengan menarche dini pada remaja usia 15–19 tahun di Indonesia menggunakan data SKI 2023. Metode: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif observasional analitik dengan desain potong lintang menggunakan data sekunder SKI 2023. Sebanyak 17.765 remaja perempuan usia 15–19 tahun yang telah mengalami menarche dan memiliki data usia menarche yang valid. Menarche dini yang didefinisikan sebagai menarche pada usia < 12 tahun memiliki beberapa variabel independen yang memengaruhinya, yakni status gizi, wilayah tempat tinggal, gugus pulau, kuintil kekayaan, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, aktivitas fisik, konsumsi minuman manis, konsumsi makanan berlemak, pajanan asap rokok. Analisis data dilakukan secara univariat, lalu bivariat menggunakan Chi-square dan dilanjutkan multivariat menggunakan regresi logistik dengan mempertimbangkan desain survei kompleks SKI 2023. Hasil: Prevalensi menarche dini pada remaja usia 15–19 tahun di Indonesia adalah 12,2%. Status gizi lebih meningkatkan odds menarche dini (aOR = 1,72; 95% CI: 1,44 – 2,07), sebaliknya, status gizi kurang menurunkan odds menarche dini (aOR = 0,58; 95% CI: 0,38 – 0,89) dibandingkan status gizi normal. Remaja yang berada di Kepulauan Maluku memiliki odds lebih rendah mengalami menarche dini (aOR = 0,38; 95% CI: 0,24 – 0,61), sedangkan tidak ada perbedaan odds yang signifikan pada Kalimantan (aOR = 0,84; 95% CI: 0,67 – 1,07) dan Papua (aOR = 0,82; 95% CI: 0,43 – 1,53). Remaja dari kuintil terendah (aOR = 0,71; 95% CI: 0,54 – 0,92) dan kuintil menengah bawah (aOR = 0,72; 95% CI: 0,57 – 0,91) memiliki odds menarche dini lebih rendah dibandingkan kuintil menengah. Remaja dengan ibu berpendidikan tinggi memiliki nilai odds menarche dini yang lebih tinggi (aOR = 1,30; 95% CI: 1,09 – 1,55). Kesimpulan: Studi ini menunjukkan bahwa menarche dini pada remaja Indonesia usia 15–19 tahun dipengaruhi oleh gugus pulau, kuintil kekayaan, pendidikan ibu, dan status gizi remaja, dengan status gizi sebagai faktor dengan asosiasi paling kuat. Temuan ini menggarisbawahi perlunya program intervensi kesehatan remaja yang komprehensif dan berbasis bukti, menyasar pengendalian status gizi anak hingga remaja, sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif kesehatan reproduksi remaja di tingkat nasional.

Background: Early Age at Menarche (AAM), defined as the first menstruation occurring before age 12, is an important public health issue because it affects various reproductive health outcomes, including an increased risk of breast and endometrial cancer. Indonesia has seen a declining trend in average menarche age, from 13.0 years in Riskesdas 2013 to 12.8 years in Riskesdas 2018. In response to this trend, a national-scale study specifically analyzing the factors associated with AAM in Indonesia is greatly needed, given the still limited availability of such research. Objective: This study aims to analyze the factors associated with AAM among adolescents aged 15–19 years in Indonesia using 2023 Indonesian Health Survey (SKI) data. Methods: This is a quantitative, analytical observational study with a cross-sectional design using secondary data from SKI 2023. A total of 17,765 female adolescents aged 15–19 years who had experienced menarche and had valid menarche age data were included. AAM, defined as menarche occurring before age 12, was examined in relation to nutritional status, area of residence, island group, wealth quintile, maternal education, maternal occupation, physical activity, sugary beverage consumption, fatty food consumption, and secondhand smoke exposure. Data were analyzed univariately, followed by bivariate analysis using Chi-square, and multivariate analysis using logistic regression, accounting for the complex survey design of SKI 2023. Results: The prevalence of Early Age at Menarche (AAM) among adolescents (15–19 years) was 12.2%. AAM odds were significantly higher in those with overweight (aOR 1.72; 95% CI 1.44–2.07) and lower in those with underweight (aOR 0.58; 95% CI 0.38–0.89) compared to normal weight. Geographically, adolescents in the Maluku Islands had lower odds of AAM (aOR 0.38; 95% CI 0.24–0.61), while no significant differences were observed in Kalimantan (aOR 0.84; 95% CI 0.67–1.07) and Papua (aOR 0.82; 95% CI 0.43–1.53). Adolescents in the lowest (aOR 0.71; 95% CI 0.54–0.92) and lower-middle (aOR 0.72; 95% CI 0.57–0.91) wealth quintiles also showed lower odds of AAM compared to the middle quintile. Finally, higher maternal education was associated with increased odds of AAM (aOR 1.30; 95% CI 1.09–1.55). Conclusion: This study shows that AAM among Indonesian adolescents aged 15–19 years is influenced by island group, wealth quintile, maternal education, and nutritional status, with nutritional status as the factor most strongly associated with AAM. These findings underscore the need for comprehensive, evidence-based adolescent health intervention programs targeting nutritional status control from childhood through adolescence, as part of promotive and preventive efforts for adolescent reproductive health at the national level.
Read More
S-12324
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dinda Purnamasari; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Endang L. Achadi, Poppy Elvira Deviany
Abstrak: Skripsi ini membahas hubungan umur menarche dan faktor-faktor lainnya(asupan gizi, konsumsi minuman manis, dan aktivitas fisik) dengan kejadian overweight pada remaja perempuan (13-15 tahun). Metode yang digunakan adalah studi analitik kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional. Penelitian dilakukan di SMPI Al-Azhar 4 Kemandoran, Jakarta Selatan pada bulan April2013 dengan jumlah responden sebanyak 107 siswi. Data umur menarche dan konsumsi minuman manis diperoleh melalui pengisian kuesioner mandiri, asupangizi diperoleh dari wawancara food recall 24 jam, dan aktivitas fisik diukurmenggunakan Physical Activity Questionnaire for Older Children (PAQ-C). Ujistatistik yang digunakan pada penelitian adalah uji-T independen. Dari 107responden, sebanyak 38,3% mengalami overweight. Umur menarche dan asupan lemak memiliki hubungan yang bermakna secara signifikan dengan overweight (p< 0,05). Responden yang mengalami overweight memiliki rata-rata umurmenarche lebih muda (11,53 tahun) dan rata-rata asupan lemak lebih tinggi (66,15gram/hari). Sementara itu, tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara asupan energi, karbohidrat, protein, serat, konsumsi minuman manis, dan aktivitasfisik dengan kejadian overweight.
Kata kunci:overweight, remaja perempuan, umur menarche, asupan lemak, konsumsi minuman manis.
The aim of this study was to determine the association between age atmenarche and the other determinants (dietary intake, sugary drinks consumption,and physical activity) with overweight in adolescent girls (13-15 years old). Thisstudy was a quantitative analytic research with cross-sectional design. The studywas held at Al-Azhar 4 Kemandoran Junior High School, South Jakarta in April2013, recruiting 107 female students as participants. Age at menarche and sugarydrinks consumption were reported through self-administered questionnaire,dietary intake was obtained using 24-hours food recall interview, and physicalactivity was measured using Physical Activity Questionnaire for Older Children(PAQ-C). Independent T-test was used to identify the association betweenindependent and dependent variables. Among 107 participants, 38,3% wereoverweight. Age at menarche and fat intake were significantly associated withoverweight (p< 0,005). The overweight participants had earlier age at menarche(11,53 years old) and higher fat intake (66,15 gram/day). Meanwhile, theassociation between energy, carbohydrate, protein, fiber intake, sugary drinksconsumption, and physical activity were found to be not significantly associatedwith overweight.
Keywords:overweight, adolescent girls, age at menarche, fat intake, sugary drinksconsumption.
Read More
S-7817
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adillah Imansari; Pembimbing: Kusharisupeni; Penguji: Sandra Fikawati, Rahmawati
Abstrak: Penurunan usia menarche (menstruasi pertama) pada remaja putri yang semakin muda yang akan berdampak jangka panjang pada permasalahan kesehatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor dominan terhadap usia menarche dengan desain studi cross-sectional pada 100 siswi kelas 7 dan 8 SMP Islam Panglima Besar Sudirman 2016. Hasil penelitian menunjukkan sebesar 39% siswi memiliki usia menarche dini (< 12 tahun) dan 61% lainnya usia menarche normal dengan rata-rata usia menarche adalah 11,161 ± 0,85 tahun, dengan usia menarche termuda 10 tahun dan tertua usia 13 tahun. Berdasarkan uji regresi logistik ganda, asupan lemak merupakan faktor dominan terhadap usia menarche (P=0,002; OR=6) setelah dikontrol status gizi (IMT/U), asupan energi, asupan protein, asupan karbohidrat, persen lemak tubuh, aktivitas fisik dan usia menarche ibu. Faktor lain yang memiliki perbedaan usia menarche bermakna secara statistik adalah asupan energi (p=0,000; OR=1), persen lemak tubuh (p=0,012; OR=1) dan usia menarche ibu (p=0,029; OR=5). Kounfonding usia menarche yang tidak memberikan perbedaan bermakna secara statistik adalah status gizi (IMT/U) (p=0,441;OR=2), asupan karbohidrat (p=0,867;OR=1), dan aktivitas fisik (p=0,485;OR=3). Kata kunci: Usia menarche, Sekolah Menengah Pertama, Asupan Lemak, Asupan Energi, Persen Lemak Tubuh, Usia Menarche Ibu Decline in age of menarche (first menstrual period) in girl adolescent getting younger will impact long-term to health problems. The purpose of the study is to determine dominant age factor of menarche with cross-sectional study design with 100 girl adolescent student 7 and 8 grade of Panglima Besar Sudirman Mosloem Junior High School East Jakarta 2016. The result of study is 39% of girl adolescent student have early menarche age and 61% of other have normal menarche age with an average age of menarche is 11,6 ± 0,85 years with the youngest age of menarche 10 years old and the oldest 13 years old. Based on the multiple logistic regression, fat intake is dominant factor of the age of menarche (P=0,002; OR=6) after controlled of nutritonal status (BMI/Y), energy intake, protein intake, carbohydrate intake, percentage of body fat, physical activity and age of mother menarche. Another factor have a significant different for statiscally in age of menarche are energy intake (p=0,000; OR=1), percentage of body fat (p=0,012; OR=1) and age of mother menarche (p=0,029; OR=5). Counfonding age of menarche have not significant different for statiscally in age of menarche are status (BMI/Y) (p=0,441;OR=2), carbohydrate intake (p=0,867;OR=1), and physical activity (p=0,485;OR=3). Keywords: Age of Menarche, Junior High School, Fat Intake, Energy Intake, Percentage of Body Fat, Age of Mother Menarche
Read More
S-9308
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive