Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 23 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rahma Ayu Ningrum; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Triyanti, Dewi Damayanti
S-8389
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yanti Kamayanti Latifa; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Ratna Djuwita, Diah Mulyawati Utari, Yuminar Usman, Cendekia Sri Muwarni
T-4128
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Sufinah; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Putri Bungsu, Agus Triwinarto
S-9442
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amirania Alita Paramayra Firmanauda; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Ahmad Syafiq, Siti Riptifah Tri Handari
Abstrak:
Anemia adalah suatu kondisi ketika konsentrasi hemoglobin dalam darah berada di bawah titik batas normal, dan rentan dialami oleh remaja putri karena rematri sedang dalam proses pertumbuhan yang pesat. Hasil Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa kejadian anemia di Indonesia termasuk dalam masalah kesehatan masyarakat tingkat sedang (26,8%) sementara kepatuhan konsumsi TTD pada remaja putri sangatlah rendah (1,4%). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi konsumsi TTD dan anemia serta faktor-faktor yang berhubungan dengan konsumsi TTD dan anemia pada remaja putri usia 10-18 tahun di Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini menggunakan data sekunder Riskesdas 2018 dengan desain studi cross sectional. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada remaja putri usia 10-18 tahun di Nusa Tenggara Timur sebesar 13,9%. Hasil uji statistik menunjukkan ada perbedaan yang signifikan pada konsumsi TTD berdasarkan usia (p value = 0,000), tingkat pendidikan (p value = 0,030), dan tempat tinggal (p value = 0,000). Sementara itu, variabel yang berhubungan dengan anemia pada penelitian ini adalah konsumsi TTD (p value = 0,030). Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyarankan pemantauan konsumsi TTD, pengecekan kadar Hb, dan edukasi gizi pada remaja putri untuk dioptimalkan.

Anemia is a condition in which the haemoglobin (Hb) concentration in the blood is lower than normal cut-off values, which young women are prone to experience it because they are experiencing a process of rapid growth. The results of Riskesdas 2018 show that the incidence of anemia in Indonesia is a moderate public health problem (26.8%), while the compliance with iron supplement consumption in adolescent girls is very low (1,4%). The purpose of this study was to determine the prevalence of iron supplement consumption and anemia, and the factors associated with iron supplement consumption and anemia in young women aged 10-18 years in East Nusa Tenggara. This study used secondary data from the Riskesdas 2018 with a cross-sectional study design. The results of this study indicate that the prevalence of anemia in young women aged 10-18 years in East Nusa Tenggara is 13,9%. The results of the statistical tests showed that there were significant differences in the consumption of iron tablets by age (p value = 0,000), level of education (p value = 0,000), and place of residence (p value = 0,000). Meanwhile, the variable associated with anemia in this study was the consumption of iron tablets. From the study result, the writer suggests to optimizes iron supplement consumption monitoring, Hb levels checking, and nutrition education for adolescent girls.
Read More
S-11472
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asrit Jessica Kario; Pembimbing: Rico Kurniawan; Penguji: Artha Prabawa, Kemal Nazaruddin Siregar, Muhammad Amin Bakri, Nikson Sitorus
Abstrak:
Anemia merupakan masalah kesehatan global, yang bisa terjadi pada siapa saja, terutama di kalangan remaja putri, yang dapat berdampak pada pertumbuhan, perkembangan, produktivitas pada generasi selanjutnya. Prevalensi anemia tahun 2021 secara global pada perempuan usia 15–49 tahun sebesar 33,7%, dan di Indonesia tahun 2023 tercatat 15,5% pada kelompok usia 15–24 tahun. Tujuan dari penelitian, yaitu untuk mengembangkan prediksi risiko anemia menggunakan pendekatan algoritma machine learning dalam konteks program kesehatan remaja putri di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 untuk mengidentifikasi faktor risiko utama anemia, seperti status gizi, pola konsumsi makanan, sosio-ekonomi, penyakit infeksi dan kronis. Hasil penelitian didapatkan model terbaik Random forest dengan AUC 0,768, akurasi 0,707, skor F1 0,706, presisi 0,712, dan recall sebesar 0,707. Prediktor dalam penelitian ini, yaitu pekerjaan, lokasi tempat tinggal, ukuran keluarga, status menstruasi, pola konsumsi sayur dan hasil olahannya, pola konsumsi buah dan hasil olahannya, pola konsumsi daging, unggas, dan hasil olahannya, pola konsumsi ikan, kerang, dan hasil olahannya, pola konsumsi susu dan hasil olahannya, pola konsumsi telur dan hasil olahannya, diare, pneumonia, dan kecacingan. Rancangan sistem didasarkan pada model prediksi terbaik dan ditampilkan dalam bentuk wireframe.

Anemia is a global health problem, which can happen to anyone, especially among adolescent girls, which can have an impact on growth, development, productivity in the next generation. The prevalence of anemia in 2021 globally in women aged 15-49 years is 33.7%, and in Indonesia in 2023 it is 15.5% in the age group 15-24 years. The purpose of the study was to develop anemia risk prediction using a machine learning algorithm approach in the context of adolescent girls' health programs in Indonesia. This study used data from the 2023 Indonesian Health Survey (IHS) to identify the main risk factors for anemia, such as nutritional status, food consumption patterns, socio-economics, infectious and chronic diseases. The results obtained the best Random forest model with AUC 0.768, accuracy 0.707, F1 score 0.706, precision 0.712, and recall of 0.707. The predictors in this study are occupation, location of residence, family size, menstrual status, consumption patterns of vegetables and their processed products, consumption patterns of fruits and their processed products, consumption patterns of meat, poultry, and their processed products, consumption patterns of fish, shellfish, and their processed products, consumption patterns of milk and their processed products, consumption patterns of eggs and their processed products, diarrhea, pneumonia, and helminthiasis. The system design is based on the best prediction model and displayed in wireframe view.

Read More
T-7358
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nisa Fitriyanti; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Ascobat Gani, Purnawan Junadi, Anhari Achadi, Nur Indah
Abstrak:
Anemia masih menjadi masalah kesehatan utama pada remaja putri. Prevalensi anemia remaja putri di Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi pada tahun 2022 mencapai 68,7% sehingga Puskesmas Muaragembong melakukan intervensi program inovasi dalam pemberian TTD remaja putri. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas program penurunan anemia melalui pemberian TTD remaja putri di Puskesmas Muaragembong Kabupaten Bekasi tahun 2023. Penelitian menggunakan desain mixed method explanatory sequential. Penelitian kuantitatif dengan jenis studi cross sectional. Sampel yang digunakan sebanyak 150 remaja putri. Kadar hemoglobin (Hb) diukur menggunakan alat hemocue, status gizi dihitung menggunakan indeks massa tubuh (IMT), pola menstruasi, riwayat penyakit infeksi, perilaku CTPS, pola konsumsi pangan, konsumsi tablet tambah darah, tingkat pengetahuan remaja putri, tingkat pendidikan ibu dan tingkat pendapatan orang tua diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner. Analisis data bivariat menggunakan uji chi square dan regresi logistik sederhana, multivariat menggunakan uji regresi logistik berganda. Penelitian kualitatif dilakukan melalui Rapid Assessment Procedure (RAP) untuk mengevaluasi efektivitas program menggunakan teori logic models dimana program akan dinilai dari sisi input, activity output serta outcome. Setelah dilakukan intervensi program terjadi penurunan prevalensi anemia remaja putri sebesar 62,15% menjadi 26%. Faktor-faktor yang berhubungan dengan anemia pada remaja putri diantaranya adalah status gizi, pola menstruasi, pola konsumsi pangan, perilaku CTPS dan konsumsi TTD dimana faktor yang paling dominan adalah pola menstruasi. Terdapat ketidaksesuaian dalam program pemberian TTD pada variable SDM, sarana, advokasi, sosialisasi, jejaring dan komunikasi, pemberian, pendatatan dan pelaporan.

Anemia is still a major health problem among adolescent girls. The prevalence of anemia among adolescent girls in Muaragembong District, Bekasi Regency in 2022 reached 68.7% so that the Muaragembong Health Center conducted an innovation program intervention in TTD supplementation for adolescent girls. This study aims to evaluate the effectiveness of the anemia reduction program through TTD supplementation for adolescent girls at the Muaragembong Health Center, Bekasi Regency in 2023. The study used mixed method explanatory sequential design. Quantitative research with a cross-sectional study type. The sample used was 150 adolescent girls. Hemoglobin (Hb) levels were measured using a hemocue device, nutritional status was calculated using body mass index (BMI), menstrual patterns, history of infectious diseases, CTPS behavior, food consumption patterns, consumption of iron tablets, level of knowledge of adolescent girls, maternal education level and parental income level were obtained through interviews using questionnaires. Bivariate data analysis used the chi square test and simple logistic regression, multivariate using multiple logistic regression tests. Qualitative research is conducted through the Rapid Assessment Procedure (RAP) to evaluate the effectiveness of the program using the logic models theory where the program will be assessed from the input, activity output and outcome aspects After the program intervention, there was a decrease in the prevalence of anemia in adolescent girls by 62.15% to 26%. Factors related to anemia in adolescent girls include nutritional status, menstrual patterns, food consumption patterns, CTPS behavior and TTD consumption where the most dominant factor is the menstrual pattern. There are discrepancies in the TTD provision program in the variables of human resource, facilities, advocacy, socialization, networking and communication, provision, data collection and reporting.
Read More
T-7177
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aleydia Tridita Putri; Pembimbing: Wahyu Kurnia Yusrin Putra; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Eti Rohati
Abstrak:
Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang mengkhawatirkan, masih banyak remaja di Indonesia yang belum menyadari kondisi defisiensi zat besi yang mereka alami. Kelurahan Jatimulya menjadi wilayah dengan prevalensi anemia tertinggi di kota Depok tahun 2023 yaitu sebesar 39%. Konsumsi Tablet Tambah Darah secara rutin merupakan salah satu intervensi pencegahan anemia defisiensi zat besi yang efektif, namun belum seluruh remaja putri melaksanakannya sesuai anjuran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan, self-efficacy, dan faktor lainnya dengan kepatuhan konsumsi TTD pada remaja putri usia 15 - 18 tahun di SMK Walisongo 2 Kota Depok tahun 2025. Penelitian menggunakan desain studi cross-sectional dengan metode pengambilan sampel consecutive sampling yang melibatkan 103 responden dari kelas X dan XI. Data penelitian diambil dengan cara pengisian kuesioner langsung oleh responden. Data kemudian akan dianalisis secara univariat, dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah di SMK Walisongo 2 Kota Depok memiliki persentase sebesar 15,5%. Pada penelitian ini, variabel pengetahuan dan dukungan teman memiliki hubungan yang signifikan dengan kepatuhan konsumsi TTD pada remaja putri dengan p – value 0,011 dan 0,011 (P<0,05). Diharapkan sekolah serta Dinas Kesehatan dapat meningkatkan edukasi serta pendampingan terkait program konsumsi TTD pada remaja putri di sekolah.

Anemia is a serious health concern, yet many adolescents in Indonesia remain unaware of their iron deficiency. The Jatimulya subdistrict has the highest prevalence of anemia in Depok in 2023, at 39%. Regular consumption of iron supplements is an effective preventive intervention for iron-deficiency anemia, but not all adolescent girls are following the recommended guidelines. This study aims to investigate the relationship between knowledge, self-efficacy, and other factors with compliance in consuming iron-rich tablets among adolescent girls aged 15–18 years at Walisongo 2 Vocational High School in Depok 2025. The study used a cross-sectional design with consecutive sampling, involving 103 respondents from grades X and XI. Data were collected through direct questionnaire completion by the respondents. The data were then analyzed using univariate and bivariate analyses with the chi-square test. The results showed that the compliance rate for iron supplement consumption at Walisongo 2 Vocational High School in Depok was 15.5%. In this study, the variables of knowledge and peer support were significantly associated with compliance with TTD consumption among adolescent girls, with p-values of 0.011 and 0.011 (P<0.05). It is hoped that schools and the Health Department can enhance education and guidance related to the TTD consumption program for adolescent girls in schools.
Read More
S-11901
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tiara Putri Finata; Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Kartika Anggun Dimar Setio, Ida Kurniati
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku higiene menstruasi pada siswi kelas 7, 8, dan 9 SMPN 19 Kota Tangerang tahun 2023. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Data primer diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada 185 siswi. Perilaku higiene menstruasi merupakan variabel dependen. Variabel independen meliputi pengetahuan, sikap, kepercayaan, ketersediaan sarana higiene menstruasi di sekolah, dan dukungan teman sebaya. Pengisian kuesioner dilakukan secara mandiri oleh responden dan dianalisis menggunakan uji Chi-square. Hasil analisis menunjukkan bahwa proporsi tertinggi terdapat pada perilaku higiene menstruasi yang kurang baik sebesar 87,6%. Sedangkan persentase siswi yang sudah memiliki perilaku higiene menstruasi baik hanya 12,4%. Uji chi-square mengindikasikan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan, sikap, dan ketersediaan sarana dan prasarana higiene menstruasi di sekolah dengan perilaku higiene menstruasi. Rekomendasi penelitian mencakup optimalisasi pengadaan pembalut di sekolah, peningkatan ketersediaan tempat sampah tertutup di kamar mandi, serta kerjasama dengan puskesmas untuk penyuluhan dan penyebaran informasi melalui berbagai media.

This research aims to identify the determinants of menstrual hygiene behavior among female students in grades 7, 8, and 9 at SMPN 19 Kota Tangerang in 2023. The research method uses a quantitative approach with a cross-sectional design. Primary data were obtained through the distribution of questionnaires to 185 female students. Menstrual hygiene behavior is the dependent variable. Independent variables include knowledge, attitudes, beliefs, the availability of menstrual hygiene facilities at school, and peer support. The questionnaires were filled out using the self-administered method and the data were analyzed using the Chi-square test. The analysis indicates that the highest proportion is found in inadequate menstrual hygiene behavior at 87.6%. Meanwhile, the percentage of female students who already have good menstrual hygiene behavior is only 12.4%. The Chi-square test suggests a significant relationship between knowledge, attitude, and the availability of menstrual hygiene facilities at school with menstrual hygiene behavior. Research recommendations include ensuring provision of sanitary napkins in schools, increase the availability of covered waste bins in bathrooms, and establishing collaboration with health centers for improving health education activities and various media.
Read More
S-11521
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Welly Anggraeni; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Triyanti, Sada Rasmada, Ema Rahmawati
Abstrak:
Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat global yang memiliki dampak besar terhadap kesehatan, sosial dan ekonomi. Prevalensi anemia anak usia 5 – 14 tahun di Indonesia berdasarkan data Riskesdas tahun 2018 yaitu sebesar 26,8% dan pada perempuan usia 15 – 24 tahun sebesar 32,0%. Proporsi anemia remaja putri di Provinsi Jawa Barat masih cukup tinggi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor determinan kejadian anemia pada remaja putri usia 12 – 18 tahun di Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan 595 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data yang digunakan adalah Riskesdas 2018. Variabel independen meliputi karakteristik remaja, sosial ekonomi dan lingkungan, status gizi, status KEK dan asupan makanan dan minuman. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda model determinan. Prevalensi anemia remaja putri usia 12 – 18 tahun di Provinsi Jawa Barat tahun 2018 sebesar 26,9%. Hasil analisis bivariat menunjukan bahwa variabel yang berhubungan dengan anemia remaja putri adalah pendidikan remaja (p value 0,025). Analisis multivariat menunjukkan bahwa pendidikan remaja menjadi faktor dominan pada kejadian anemia remaja putri di Provinsi Jawa Barat tahun 2018. Remaja putri dengan pendidikan ≤SMP/ Sederajat memiliki peluang 1,63 kali lebih rendah untuk mengalami anemia dibandingkan remaja putri dengan pendidikan > SMP/ Sederajat.

Anemia is one of the global public health problems that has a major impact on health, social and economic. The prevalence of anemia among children aged 5-14 years in Indonesia based on Riskesdas data in 2018 was 26.8% and among women aged 15-24 years was 32.0%. The proportion of anemia among adolescent girls in West Java Province is still quite high. The study aims to determine the determinants of the incidence of anemia in adolescent girls aged 12-18 years in West Java Province. This study used a cross sectional design with 595 samples that met the inclusion and exclusion criteria. The data used was Riskesdas 2018. Independent variables included adolescent characteristics, socioeconomic and environmental, nutritional status, SEZ status and food and beverage intake. Bivariate analysis used chi-square test and multivariate analysis used multiple logistic regression determinant model. The prevalence of anemia among adolescent girls aged 12-18 years in West Java Province in 2018 was 26.9%. The results of bivariate analysis showed that the variable associated with anemia of adolescent girls was adolescent education (p value 0.025). Multivariate analysis showed that adolescent education was the dominant factor in the incidence of anemia among adolescent girls in West Java Province in 2018. Adolescent girls with education ≤ junior high school / equivalent have a 1.63 times lower chance of experiencing anemia than adolescent girls with education > junior high school / equivalent.
Read More
T-7029
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayu maemunah; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Asih Setiarini, Endang L. Achadi
Abstrak:
Anemia merupakan keadaan ketika jumlah sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin dalam darah berada di bawah batas normal yaitu <13 g/dL bagi laki-laki, <12 g/dL bagi perempuan. Prevalensi anemia pada kelompok usia produktif tergolong dalam masalah kesehatan masyarakat tingkat ringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada kelompok usia produktif (15-64 tahun) di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional menggunakan data sekunder SKI 2023. Analisis data yang dilakukan pada penelitian ini meliputi analisis univariat dengan distribusi frekuensi, analisis bivariat dengan uji chi square, dan analisis multivariat dengan uji regresi logistik sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 27.826 subjek yang berasal dari populasi umum, 15,5% mengalami anemia. Sedangkan dari 983 subjek yang berasal dari remaja putri, 23% mengalami anemia. Analisis bivariat pada populasi umum menunjukkan hasil yang signifikan antara usia (p<0,001), jenis kelamin (p<0,001), tingkat pendidikan (p=0,001), tempat tinggal (p=0,047), konsumsi telur dan hasil olahannya (p=0,012), serta konsumsi sayur (p=0,030) dengan kejadian anemia. Kemudian analisis bivariat pada remaja putri menunjukkan hasil yang signifikan antara KEK (p=0,005) dengan kejadian anemia. Analisis multivariat menunjukkan bahwa kelompok lansia merupakan faktor dominan dari kejadian anemia pada populasi umum usia produktif (p<0,001, OR=1,931 (95% CI 1,581–2,358)), sedangkan KEK merupakan faktor dominan dari kejadian anemia pada remaja putri (p=0,028, OR 1,493 (95% CI 1,051 – 2,121)).

Anemia is a condition when the number of red blood cells or hemoglobin concentration in the blood is below the normal limit, which is <13 g/dL for men, <12 g/dL for women. The prevalence of anemia in the productive age group is classified as a mild public health problem. This study aims to determine the factors associated with the incidence of anemia in the productive age group (15-64 years) in Indonesia. This research is a quantitative study with a cross-sectional study design using secondary data from SKI 2023. Data analysis performed in this study included univariate analysis with frequency distribution, bivariate analysis with chi square test, and multivariate analysis with simple logistic regression test. The results showed that out of 27,826 subjects from the general population, 15.5% were anemic. While out of 983 subjects from adolescent girls, 23% were anemic. Bivariate analysis in the general population showed significant results between age (p<0.001), gender (p<0.001), education level (p=0.001), residence (p=0.047), consumption of eggs and processed products (p=0.012), and vegetable consumption (p=0.030) with the incidence of anemia. Then bivariate analysis in adolescent girls showed significant results between Chronic Energy Malnutrition (p=0.005) and the incidence of anemia. Multivariate analysis showed that the elderly group was the dominant factor of the incidence of anemia in the general population of productive age (p<0.001, OR=1.931 (95% CI 1.581-2.358)), while Chronic Energy Malnutritio was the dominant factor of the incidence of anemia in adolescent girls (p=0.028, OR 1.493 (95% CI 1.051 - 2.121)).
Read More
S-12150
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive