Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 11 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Wa Ode Dwi Daningrat; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Sandra Fikawati, Ahmad Syafiq, Doddy Izwardy, Sandjaja
T-4481
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Veronica Zahra Lydia Cross; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Endang L. Achadi
Abstrak: ASI eksklusif terbukti menjadi makanan terbaik yang dapat diberikan ibu kepada anaknya selama 6 bulan pertama. Rendahnya cakupan ASI eksklusif di Indonesia perlu menjadi perhatian mengingat tingginya risiko kesehatan yang dapat mengancam pertumbuhan, kesehatan, hingga menyebabkan kematian bayi jika tidak ASI eksklusif. Berbagai faktor ditemukan menjadi penentu dalam praktik pemberian ASI eksklusif. Penelitian ini dilakukan untuk melihat faktor dominan yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif hingga 6 bulan pada anak usia 6-23 bulan di Indonesia. Desain yang digunakan adalah cross-sectional dengan menggunakan data sekunder IFLS-5 tahun 2014-2015 yang memiliki sampel anak usia 6-23 bulan sebanyak 1550 orang. Data dianalisis menggunakan uji chi square dan uji regresi logistik ganda. Hasil analisis menunjukkan prevalensi pemberian ASI eksklusif hingga usia minimal 5 bulan adalah sebesar 24,9%. Analisis bivariat menemukan beberapa faktor yang berhubungan signifikan dengan pemberian ASI eksklusif, yaitu usia ibu, pendidikan ibu, berat badan lahir, tempat persalinan, penolong persalinan, dan kunjungan ANC. Faktor status pekerjaan, status perkawinan, paritas, pengetahuan terkait ASI eksklusif, jenis kelamin, wilayah tempat tinggal, dan kunjungan PNC ditemukan tidak berhubungan signifikan dengan pemberian ASI eksklusif dalam penelitian ini. Hasil analisis multivariat menemukan usia ibu sebagai faktor dominan pemberian ASI eksklusif pada ibu dengan anak usia 6-23 bulan di Indonesia dengan OR 2,13. Penelitian ini menunjukkan bahwa optimalisasi praktik menyusui pada usia reproduktif dapat meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan hingga 2,1 kali lebih tinggi.
Exclusive breastfeeding (EBF) is proven to be the best food a mother can give to her child during the first 6 months. The low prevalence of EBF in Indonesia needs to be a concern given the many health risk of not breastfeeding exclusively, such as delayed growth, threatened health, and infant mortality. Various factors were found to be determinants in the practice of exclusive breastfeeding. This study was conducted to identify the dominant factor associated with 6-month EBF among children aged 6-23 months in Indonesia. The design used in this study is cross-sectional using IFLS-5 2014-2015 as a secondary data with a sample of 1550 children aged 6-23 months. Data were analyzed using chi square test dan multiple logistic regression test. The result found the prevalence of 5-month EBF was 24,9%. Bivariate analysis found several factors that were significantly related to EBF, which are maternal age, maternal education, birth weight, place of delivery, birth attendant, and ANC visits. The factors of employment status, marital status, parity, knowledge related to EBF, gender, area of residence, and PNC visits were not found to be significantly related to EBF practice in this study. The result of multivariate analysis showed maternal age as the dominant factor of EBF practice in mothers with children aged 6-23 months in Indonesia with an OR of 2,13. This study shows that optimizing breastfeeding practices at reproductive age can increase the success of 6-month EBF up to 2,1 times. Keywords: Exclusive Breastfeeding, Children Aged 6-23 Months, Maternal Age, IFLS
Read More
S-11041
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitra Sistia; Pembimbing: Endang L. Achadi; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Rachmawati
Abstrak: Praktik pemberian makan bayi dan anak (PMBA) yang tidak tepat yangdikombinasikan dengan penyebab lain, seperti infeksi dan kekurangan makananberdampak pada sepertiga masalah malnutrisi. Indikator PMBA yang berupa minimumdiet diversity (MDD), minimum meal frequency (MMF), dan minimum acceptable diet(MAD) lebih terkait dengan pemberian makanan pendamping ASI yang memadai.Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain studi cross sectional yang bertujuanuntuk mengetahui gambaran dan faktor-faktor yang berhubungan dengan capaianminimum acceptable diet (MAD) pada anak usia 6-23 Bulan di Indonesia berdasarkananalisis data SDKI 2017. Hasil penelitian ini didapatkan dari data skunder SDKI 2017dengan jumlah sampel sebanyak 1592 responden yang diambil menggunakan tekniksimple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa capaian minimumacceptable diet pada anak usia 6-23 bulan di Indonesia sebesar 32,8%. Pada hasil analisisbivariat dengan menggunakan uji chi-square ditemukan bahwa terdapat faktor-faktoryang berhubungan dengan capaian MAD yaitu usia anak, pendidikan ibu, pendidikanayah, kuintil kekayaan, kunjungan ANC, kunjungan PNC, tempat persalinan, danketerpaparan media massa. Hasil analisis multivariat dengan menggunakan analisisregresi logistik ganda menemukan juga usia anak menjadi faktor dominan dari capaianMAD pada anak usia 6-23 bulan di Indonesia setelah dikontrol oleh variabel status ibubekerja, pendidikan ibu, pendidikan ayah, kunjungan ANC dan tempat persalinan. Saranbagi Kementerian Kesehatan beserta jajarannya adalah dengan meningkatkan upayakonseling untuk ibu mengenai pentingnya praktik pemberian makan bayi dan anak yanglebih menyasar pada anak yang belum MP-ASI dan baru memulai MP-ASI. Saran untukpeneliti lain adalah penelitian perlu dilanjutkan dengan metode kuantitatif agar dapatmenggali informasi yang lebih dalam terkait penyebab tercapaianya MAD maupun tidaktercapainya MAD.
Kata kunci:Praktik PMBA, minimum acceptable diet, anak usia 6-23 bulan.
Read More
S-10511
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hesti Atasasih; Pembimbing: Endang Laksminingsih; Penguji: Besral; Tiara Lutfie; Asril
Abstrak:

Stunting merupakan gangguan pertumbuhan linier yang disebabkan oleh kekurangan asupan zat gizi dan / atau penyakit infeksi kronis berulang yang ditunjukkan dengan nilai z-score tinggi badan menurut usia (TB/U) < -2 SD. Prevalensi stunting di provinsi Riau  25,1% sedangkan Kota Pekanbaru sebesar 23.9% berdasarkan hasil PSG 2017, hal ini sudah  termasuk dalam kategori masalah kesehatan masyarakat. Tujuan Penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian  stunting pada anak  usia 6 - 23 bulan di  Kota Pekanbaru tahun 2018. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik, desain penelitian cross sectional dengan pendekatan kuantitatif, pengambilan sampel  menggunakan teknik multi stage random sampling (CI 95 %) dan (1-β 80%), didapatkan sampel sebanyak 269 anak. Data dikumpulkan melalui  wawancara, food recall  2x24 jam. Pengolahan dan analisis data menggunakan uji chi square (bivariat) dan regresi logistik ganda (multivariat). Hasil penelitian menunjukkan prevalensi  stunting  26,8%. Hasil bivariat menunjukkan ada hubungan  yang signifikan antara berat lahir,  riwayat pemberian ASI Eksklusif, asupan protein dan zink, serta  panjang lahir dengan kejadian stunting (CI 95%). Analisis multivariat menunjukkan berat lahir merupakan faktor dominan  yang berhubungan dengan kejadian stunting dengan  nilai OR 2,712 (95% CI : 1,373 -5,359). Kesimpulan penelitian ini adalah berat lahir merupakan faktor dominan berhubungan dengan kejadian stunting. Kata Kunci : stunting, berat badan lahir, anak usia 6 – 23 bulan


Stunting is a linear growth disorder caused by a deficiency in nutrient intake and / or chronic recurrent infectious diseases as indicated by the z-score score of height by age (TB / U) <-2 SD. The prevalence of stunting in Riau is 25.1% while Pekanbaru is 23.9% based on PSG 2017 results, it is included in the category of public health problem. The purpose of research is to know factors related to stunting in toddlers aged 6 - 23 months in Pekanbaru 2018. This research use analytic observational method, cross sectional research design with quantitative approach, using multi stage random sampling technique (95% CI) and (1-β 80%), obtained a sample of 269 toddlers. Data collected through interviews, food recall 2x24 hours. Processing and data analysis using chi square test (bivariate) and multiple logistic regression (multivariate). The results showed the prevalence of stunting 26.8%. Bivariate results showed significant relationship between birth weight, exclusive breastfeeding, protein and zinc intake, and birth length with stunting (95% CI). Multivariate analysis showed that birth weight was the dominant factor associated with stunting with OR of 2,712 (95% CI: 1,373 -5,359). The conclusion of this study is birth weight is the dominant factor associated with stunting. Keyword: stunting, birth weight, toddlers 6-23 months

Read More
T-5182
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eunike Bunga Putriani; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Asih Setiarini, Salimar
Abstrak: Stunting atau pendek untuk anak seusianya, didefinisikan sebagai PB/U <-2 SD darimedian standar pertumbuhan anak milik WHO. Stunting memiliki dampak jangkapendek dan jangka panjang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktordominan kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Kecamatan Babakan Madangtahun 2019. Penelitian ini merupakan analisis data sekunder Gizi dan Kesehatan BalitaBabakan Madang dengan jumlah sampel 283 anak yang memenuhi kriteria inklusi daneksklusi, serta memiliki data yang lengkap. Variabel dependen yang digunakan yaitustunting, sementara variabel independennya adalah pendapatan keluarga, tingkatpendidikan ibu, usia ibu saat hamil, tinggi badan ibu, pemberian kolostrum, usia mulaipemberian MPASI, dan kerutinan kunjungan ke posyandu. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa prevalensi stunting pada anak usia 6-23 bulan mencapai 33,2persen, yang termasuk dalam kategori tinggi menurut klasifikasi WHO pada tahun1995. Hasil analisis bivariat dengan uji chi square menunjukkan bahwa terdapathubungan antara kerutinan kunjungan ke posyandu dengan kejadian stunting. Hasilanalisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda menunjukkan bahwa kerutinankunjungan ke posyandu merupakan faktor dominan kejadian stunting (OR= 2,102; 95%CI 1,268-3,486). Berdasarkan hasil penelitian, saran bagi posyandu, yaitu menetapkanwaktu teratur untuk pelaksanaan posyandu, rutin memberikan penyuluhan terkait gizidan kesehatan ibu hamil, bayi, dan balita, serta melakukan kunjungan rumah pada ibuatau pengasuh bayi dan balita yang tidak rutin ke posyandu. Saran bagi masyarakat,yaitu untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan posyandu. Kemudian, saran untukpeneliti lain, yaitu melakukan penelitian dengan cakupan yang lebih luas danmendalam.Kata kunci:Anak usia 6-23 bulan; kerutinan kunjungan ke posyandu; stunting.
Read More
S-10268
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aniza Rizky Aprilya Sirait; Pembimbing: Endang L. Achadi;Penguji: Siti Arifah Pudjonarti, Tiara Luthfie
Abstrak: Praktik MP-ASI yang buruk dapat menyebabkan kekurangan gizi pada anak-anak.Minimum dietary diversity (MDD) merupakan salah satu penentu status gizi anak dantelah ditemukan dapat memprediksi terjadinya stunting. Penelitian ini membahasmengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan capaian MDD pada anak yang diberiASI usia 6-23 bulan berdasarkan data SDKI tahun 2017. Penelitian ini menggunakan ujiChi-square dan uji regresi logistik ganda untuk menganalisis 2.976 sampel WUS.Terdapat 52,8% anak yang diberi ASI usia 6-23 bulan di Indonesia tahun 2017 telahmengonsumsi setidaknya lima dari delapan kelompok makanan. Namun, masih terdapat47,2% anak yang belum memenuhi capaian MDD tersebut. Usia anak, pendidikan ibu,status bekerja ibu, akses terhadap media, kekayaan rumah tangga, dan pendidikan ayah,peran ayah, kunjungan ANC, penolong persalinan, tempat persalinan, dan wilayah tempattinggal ditemukan memiliki hubungan yang bermakna dengan capaian MDD anak.Namun, hanya usia anak, tingkat pendidikan ibu, status bekerja ibu, kekayaan rumahtangga, peran ayah, penolong persalinan, dan wilayah tempat tinggal yang lolos kepemodelan multivariat akhir yang mempengaruhi capaian MDD. Faktor dominan yangmempengaruhi capaian MDD anak adalah usia anak 6-11 bulan. Anak yang berusia 18-23 bulan berpeluang mengonsumsi lima atau lebih kelompok makanan sebesar 5,8 kalilebih tinggi dibandingkan dengan anak yang berusia di bawah 6-11 bulan. Masih terdapatseparuh anak Indonesia belum memenuhi capaian MDD. Perlu adanya intervensi di masamendatang yang menargetkan ibu yang memiliki bayi dan anak kecil melalui programpeningkatan kesadaran untuk mendorong pertumbuhan anak-anak dengan memberikandiet yang lebih beragam sejak awal diperkenalkan makanan.
Kata kunci:Anak usia 6-23 bulan; minimum dietary diversity; MP-ASI; SDKI 2017.
Read More
S-10502
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rininta Enggartiasti; Pembimbing: Endang L. Achadi; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Rahmawati
S-9349
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Willy Wildan Saputra; Pembimbing: Endang L. Achadi; Penguji: Sandra Fikawati, Rahmawati
S-9462
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Laily Hanifah; Promotor: Endang L. Achadi; Kopromotor: Atmarita; Penguji: Kusharisupeni, Anhari Achadi, Besral, Trihono, Hartono Gunardi
D-391
Depok : FKM-UI, 2019
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maya Ligina Amalia; Pembimbing: Endang Laksminingsih Achadi; Penguji: Triyanti, Rahmawati
Abstrak: Wasting sebagai bentuk dari malnutrisi akut dapat meningkatkan risiko penyakit dan kematian pada anak. Tujuan umum penelitian ini adalah diketahuinya suplementasi vitamin A sebagai faktor dominan kejadian wasting pada anak usia 6-23 bulan di Jakarta Barat tahun 2017. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan metode multistage random sampling, sehingga diperoleh sampel berjumlah 207 anak usia 6-23 bulan pada posyandu terpilih di Jakarta Barat. Pengumpulan data dilakukan dengan pengukuran antropometri, yaitu berat badan dan panjang badan, serta wawancara kuesioner dengan responden (ibu/pengasuh dari sampel penelitian). Hasil penelitian menunjukkan sebesar 7.2% anak mengalami wasting. Analisis bivariat dengan CI 90% menunjukkan suplementasi vitamin A memiliki hubungan bermakna secara statistik dengan kejadian wasting. Analisis multivariat menunjukkan suplementasi vitamin A sebagai faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian wasting pada anak usia 6-23 bulan di Jakarta Barat tahun 2017 dengan nilai OR (CI 90%) 8.526. Peneliti menyarankan pemerintah, puskesmas, dan posyandu untuk menyediakan alat pengukuran antropometri secara lengkap di posyandu, dan mengadakan pelatihan pengukuran antropometri secara rutin, mengadakan penyuluhan mengenai praktik pemberian makan pada anak, praktik pemberian ASI pada usia 0-6 bulan, suplementasi vitamin A, dan imunisasi guna meningkatkan status gizi anak. Kata Kunci : Wasting, suplementasi vitamin A, praktik pemberian MP-ASI, anak usia 6-23 bulan Wasting or acute malnutrition increase risk of infection and death in children. The first objective of this study was to determine vitamin A supplementation as a dominant factor of wasting among children aged 6-23 months in West Jakarta in 2017. This study was a cross sectional study. Multistage random sampling was used as sampling method. There were 207 samples of children aged 6-23 months from posyandu (the integrated service posts) in 6 chosen villages in West Jakarta. Data were collected by anthropometric measurement (weight and length measurement) and questionnaire. This study found 7.2% of those children are wasting. Analysis with CI 90% in this study showed a significant association between vitamin A supplementation with wasting and vitamin A supplementation as a dominant factor associated with wasting among children aged 6-23 months (OR= 8.526). Researcher suggest government, puskesmas (public health center), and posyandu to provide a proper and complete equipment of anthropometric measurement in posyandu, periodically conduct anthropometric measurement training, and educate parents of children aged below 5 years old about complementary feeding practices, breastmilk feeding practices of children aged 0-6 months, vitamin A supplementation, and immunization to improve nutritional status of children. Keywords : Wasting, vitamin A supplementation, complementary feeding practices, children aged 6-23 months
Read More
S-9347
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive