Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Eris Maida; Pembimbing: Does Sampoerno
S-3776
Depok : FKM-UI, 2004
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Titisari Khoiria Qodriani, Ariana Setiani
JIMKI Vol.1, No.1
Jakarta : SM-IKM FK-UI, 2010
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Joan Beatrix Merika; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Evi Martha, Leliana Lianty, Rachmawati Sanusi
Abstrak:

Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan gangguan perkembangan neurologis yang memengaruhi interaksi sosial, komunikasi dan perilaku seseorang. Penyandang ASD di Indonesia saat ini berkisar 2,4 juta.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh strategi coping terhadap kualitas hidup keluarga. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan studi kasus yang dilakukan di Biro Psikologi BIG, DKJ dengan 4 orang tua yang memiliki anak ASD dan 2 informan kunci yang merupakan tokoh komunitas dan konselor di biro psikologi BIG. Hasil wawancara mendalam menunjukkan tidak semua orang tua memiliki pengetahuan dan penerimaan terhadap kondisi autisme. Sebagian besar keluarga memiliki sumber daya ekonomi yang baik sehingga mampu mengakses layanan terapi dan pendidikan. Sebagian orang tua mendapatkan dukungan keluarga dan komunitas. Seluruh keluarga menggunakan dua strategi coping saat menghadapi situasi sulit. Coping yang berfokus pada masalah terlihat melalui upaya konkrit mencari bantuan profesional dan fokus pada pemecahan masalah seperti konseling, terapi dan menyekolahkan anak di sekolah khusus, sedangkan coping yang berfokus pada emosi terlihat melalui aktivitas berdoa, beribadah, me time atau mencari hiburan. Kualitas hidup keluarga sangat dipengaruhi oleh interaksi antara personal attributes dan stable environment attributes.


Autism Spectrum Disorder (ASD) is a neurodevelopmental disorder that affects a person's social interaction, communication, and behavior. In Indonesia, the prevalence of ASD is estimated at 2.4 million individuals. This study aimed to explore the coping strategies and their impact on the quality of life of families. This qualitative study employed a case study approach conducted at the Psychology Bureau BIG, Jakarta, involving four parents of children with ASD and two key informants (a community leader and a counselor at the Psychology Bureau BIG). In-depth interviews revealed that not all parents knew about the causes of autism; two families had good acceptance of their child's ASD condition, while two others were still in denial. Most families had good economic resources, enabling them to access therapy and education services. Some parents received support from family and community. All families used both problem-focused and emotion-focused coping strategies when facing difficulties. Problem-focused coping was evident in concrete efforts such as seeking professional help and focusing on problem-solving, including counseling, therapy, and enrolling the child in special schools. Meanwhile, emotion-focused coping was observed through activities like praying, worshiping, self-care activities, or seeking entertainment. The interaction between personal attributes and stable environment attributes significantly influenced the family's quality of life.  

 

Read More
T-7213
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ina Agustina Isturini; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Pujiyanto, Sandi Iljanto, Rina Adeina, Penina Regina B.
T-3456
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andy Martahan Andreas; Promotor: Ratna Djuwita; Kopromotor: Angela B.M. Tulaar, Helda; Penguji: Rini Sekartini, Sri Hartati R. Suradijono, Tjhin Wiguna, Yusuf Kristianto, Ratna Darjanti Haryadi, Martira Maddeppungeng
Abstrak: Penelitian terapi pijat bagi anak dengan GSA yang dilakukan dalam kurun waktu 10 15 tahun lebih banyak ditujukan terhadap anak yang telah didiagnosis gangguan spektrum autisme dengan rerata usia anak berada di antara 3 6 tahun. Di Indonesia penelitian tentang terapi pijat pada anak dengan risiko gangguan spektrum autisme belum banyak dilakukan dan dipublikasikan di jurnal ilmiah. Prevalensi penderita gangguan spektrum autisme di beberapa belahan dunia cenderung meningkat, seperti di Negara Amerika Serikat, Cina dan negara berkembang seperti di Indonesia. Di Indonesia sendiri data dan informasi yang akurat dan lengkap dari penderita gangguan spektrum autisme (GSA) masih kurang, sehingga dikuatirkan banyak anak dengan gejala risiko gangguan spektrum autisme tidak mendapatkan penanganan secara dini. Penelitian ini bertujuan mengembangkan modul terapi pijat pada anak risiko gangguan spektrum autisme, mengetahui dan menganalisis modifikasi skor M-CHAT dan mengetahui hasil penerapan TPGSA dalam menurunkan skor M Chat dan status risiko gangguan spektrum autisme pada anak Usia 18 36 bulan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian Desktiptif dengan pendekatan Studi Kasus. Populasi penelitian adalah anak usia 18 36 bulan yang telah mengikuti skrining/pemeriksaan M CHAT di PKM Pasar Minggu, PKM Cipayung dan PKM Kebon Jeruk. sebanyak 1685 orang dengan angka kejadian anak risiko autisme sebanyak 14 orang (0,8%) dari bulan Mei tahun 2019 sampai dengan Maret 2020. Sampel penelitian sebanyak 10 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Jumlah anak yang diskrining dalam rangka modifikasi Skor M CHAT adalah 904 anak yang dianalisis dengan Receiver Operating Characteristic (ROC) untuk memperoleh nilai Cut off Point dan Sensitivitas. Hasil analisis dengan menggunakan ROC, diperoleh cut off point ≤ 24 dengan sensitivitas 87 % dengan Confidance Interval (CI) 95% dengan ROC area under the curve 0.912. Hasil penelitian dari penerapan terapi pijat diperoleh gambaran terdapat penurunan skor M-Chat dan perubahan status risiko gangguan spektrum autsime yang dimulai pada periode III hari ke 21 30 dan periode IV hari ke 31 40 pemberian terapi pijat. Kesimpulan penelitian ini adalah hasil analisis ROC pada modifikasi skor M CHAT dapat digunakan untuk melakukan skrining dan menilai status risiko GSA, penerapan TPGSA dapat menurunkan skor risiko anak GSA dan dapat merubah anak risiko GSA dari risiko tingi menjadi risiko autisme dan normal
Read More
D-459
Depok : FKM-UI, 2022
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Friska Arthalina Permata Tambunan; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Fatmah, Sri Muljati
S-7971
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ilmah Yanuarti Barmawi; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Anhari Achadi, Helen Andriani, Sri Juniyanti, Viorentina Yofiani
Abstrak:
Latar belakang : Stres kerja ini dilaporkan terjadi secara global dan menempati posisi utama sebagai penyebab stres yang paling sering terjadi di antara penyebab stres lainnya. Pekerjaan sebagai terapis anak autis menurut Akanaeme et al (2021) adalah salah satu pekerjaan paling sering meningkatkan stres, karena menghadapi anak autis dengan gangguan tumbuh kembang yang kadang bersifat agresif dan impulsif. Hal ini dapat terjadi juga pada terapis anak autis di Yayasan Tumbuh Kembang Anak Shine Kids Ministry Indonesia Kota Jakarta Selatan . Tujuan : Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja pada terapis anak autisme di Yayasan Tumbuh Kembang Anak Shine Kids Ministry Indonesia Kota Jakarta Selatan Tahun 2024. Metode : penelitian kuantitatif dengan menggunakan rancangan cross. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan 51,7% terapis anak autis di di Yayasan Tumbuh Kembang Anak Shine Kids Ministry Indonesia mengalami stres kerja berat, sedangkan 48,3% terapis mengalami stres kerja ringan. Berdasarkan hasil uji chi square faktor beban kerja, konflik peran, faktor komunikasi efektif dan faktor konflik keluarga berhubungan secara signifikan dengan stres kerja. Berdasarkan uji regresi logistik multivariat didapatkan hasil faktor yang paling dominan berhubungan terhadap stres kerja adalah faktor konflik keluarga (p-value 0,003) dan faktor konflik peran (p-value 0,012). Kesimpulan : Faktor konflik keluarga dan faktor konflik peran merupakan faktor yang paling dominan berhubungan terhadap stres kerja pada penelitian ini. Diperlukan mitigasi stres kerja dengan meningkatkan pemahaman mekanisme koping stres sebagai strategi pengeloaan stres kerja pada terapis anak autis di Yayasan Tumbuh Kembang Anak Shine Kids Ministry Indonesia Kota Jakarta Selatan .

Background: Occupational stress is reported occur globally and occupies a leading position as the most frequent stressor among other stressors. According to Akanaeme et al (2021), work as a therapist for autistic children is one of the most common jobs that increase stress, because they face autistic children with developmental disorders who are sometimes aggressive and impulsive. This can also happen to autistic child therapists at the Shine Kids Ministry Indonesia Child Development Foundation, South Jakarta City. Objective: To determine the factors associated with work stress in autistic children therapists at the Shine Kids Ministry Indonesia Children's Growth and Development Foundation, South Jakarta City in 2024. Method: quantitative research using cross design. Results: The results showed 51.7% of autistic children therapists at the Shine Kids Ministry Indonesia Foundation experienced severe work stress, while 48.3% of therapists experienced mild work stress. Based on the results of the chi square test, workload factors, role conflict, effective communication factors and family conflict factors are significantly related to work stress. Based on the multivariate logistic regression test, the most dominant factors related to work stress are family conflict factors (p-value 0.003) and role conflict factors (p-value 0.012). Conclusion: Family conflict factors and role conflict factors are the most dominant factors related to work stress in this study. It is necessary to mitigate work stress by increasing understanding of stress coping mechanisms as a strategy for managing work stress in autistic child therapists at the Shine Kids Ministry Indonesia Child Growth and Development Foundation, South Jakarta City.
Read More
T-7072
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nursang; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Dieta Nurrika
Abstrak:
Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan gangguan perkembangan saraf yang ditandai dengan hambatan interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku hiperaktif. Prevalensi ASD terus meningkat secara global, dengan sekitar 0,6-0,75% populasi dunia mengalami ASD tahun 2000-2012 dan terus meningkat hingga mencapai 1% pada tahun 2022, sedangkan di Indonesia sendiri, prevalensi ASD diperkirakan sekitar 1% atau 10 kasus per 1.000 penduduk. Jabodetabek merupakan salah satu wilayah dengan jumlah anak autisme yang cukup besar serta didukung oleh keberadaan sekolah inklusi dan pusat terapi. Salah satu pendekatan yang banyak diterapkan dalam pengelolaan anak autisme adalah diet bebas gluten dan kasein (GFCF). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan penerapan diet GFCF pada anak autisme di wilayah Jabodetabek. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Pemgambilan data dilakukan melalui google form kuesioner yang disebar secara online kepada orang tua anak autisme. Penelitian dilakukan pada 93 responden dengan metode total sampling. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian menemukan bahwa 75,3% responden memiliki penerapan diet GFCF yang baik. Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pemanfaatan informasi melalui layanan terapi (p=0,009; OR=0,273; 95% CI=0,100-0,746) dengan penerapan diet GFCF. Sementara itu, tidak terdapat hubungan signifikan antara tingkat pendidikan ibu, tingkat pekerjaan ibu, pengetahuan ibu, dan keikutsertaan dalam komunitas anak autisme (p>0,05) dengan penerapan diet GFCF. Namun, terdapat kecenderungan bahwa orang tua yang mengikuti komunitas anak autisme memiliki proporsi penerapan diet GFCF yang lebih baik dibandingkan yang tidak mengikuti komunitas. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan edukasi dan pendampingan terkait penerapan diet GFCF melalui tenaga kesehatan, dan komunitas orang tua agar penerapan diet GFCF dapat dilakukan secara lebih konsisten.

Autism Spectrum Disorder (ASD) is a neurodevelopmental disorder characterized by impairments in social interaction and communication, and hyperactive behavior. The prevalence of ASD continues to increase globally, with approximately 0.6–0.75% of the world's population experiencing ASD between 2000 and 2012, and this figure is expected to reach 1% by 2022. In Indonesia, the prevalence of ASD is estimated at around 1%, or 10 cases per 1,000 people. Greater Jakarta (Jabodetabek) is one of the areas with a significant number of children with autism, supported by the presence of inclusive schools and therapy centers. One approach widely applied in the management of children with autism is the gluten-free and casein-free (GFCF) diet. Therefore, this study aims to analyze factors related to the implementation of the GFCF diet in children with autism in the Greater Jakarta area. This study is a quantitative study with a cross-sectional design. Data collection was carried out through a Google form questionnaire distributed online to parents of children with autism. The study was conducted on 93 respondents using a total sampling method. The data obtained were then analyzed univariately and bivariately. The results found that 75.3% of respondents had good implementation of the GFCF diet, while 24.7% of respondents had poor implementation of the GFCF diet. The results of the chi-square test showed a significant relationship between the use of information through therapy services (p = 0.009; OR = 0.273; 95% CI = 0.100-0.746) and the implementation of the GFCF diet. Meanwhile, there was no significant relationship between maternal education level, maternal employment level, maternal knowledge, and participation in a community for children with autism (p>0.05). However, there was a trend that parents who participated in a community for children with autism had a better proportion of GFCF diet implementation than those who did not. Therefore, increased education and support regarding the implementation of the GFCF diet through healthcare professionals and parent communities is needed to ensure more consistent implementation of the GFCF diet.
Read More
S-12387
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive