Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Susilo Damarini; Promotor: Hadi Pratomo; Kopromotor: Helda, Besral; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Tri Krianto, Sri Hartati Dewi Reksodiputro, Hartono Gunardi, Setyadewi Lusyati, Indra Supradewi
Abstrak:
Kelahiran bayi prematur (lahir sebelum 37 minggu) cenderung diikuti dengan berbagai masalah seperti berat bayi lahir rendah (BBLR), peningkatan infeksi dan komplikasi, serta infeksi neonatal. Hal ini dapat berdampak kurang baik terhadap perkembangan neurologis dan pertumbuhan fisik pada anak usia dini. Stimulasi pijat bayi dapat merangsang pertumbuhan dan perkembangan bayi sesuai kelompok umur. Stimulasi diberikan oleh orang tua atau keluarga. Tujuan penelitian ini adalah menilai pengaruh stimulasi pijat bayi oleh keluarga terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi prematur di Bengkulu. Pendekatan kuantitatif yang diikuti dengan riset kualitatif. Intervensi berupa stimulasi pijat bayi prematur oleh anggota keluarga dengan frekuensi 3 kali sehari selama 8 minggu. Sampel adalah keluarga bayi prematur dengan usia post-menstruasi 34-36 minggu yang diperoleh dari Rumah Sakit Umum Daerah dan fasilitas pelayanan kesehatan di Bengkulu. Telah dipilih sebanyak 51 bayi pada kelompok intervensi dan 53 bayi pada kelompok kontrol. Penelitian dilakukan dari tanggal 25 April 2018 sampai 30 Desember 2019. Analisis data menggunakan GLM-RM analisis pengukuran yang dilakukan berulang-ulang pada subyek yang sama untuk menilai efek stimulasi pijat bayi terhadap tumbuh kembang bayi prematur dengan mengontrol variabel pengganggu. timulasi pijat bayi oleh keluarga secara teratur dan rutin meningkatkan pertumbuhan dan merangsang perkembangan motorik bayi prematur menjadi lebih baik setelah dikontrol variabel covariat jenis kelamin, asupan bayi dan bebas infeksi. Disertai asupan ASI yang optimal stimulasi pijat bayi memiliki efek postif terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi. Kepada Dinas Kesehatan disarankan tenaga kesehatan Puskesmas dan bidan agar lebih memperhatikan tumbuh kembang bayi prematur diwilayah kerjannya dan menerapkan stimulasi pijat bayi oleh keluarga pada semua bayi prematur
Read More
D-420
Depok : FKM-UI, 2020
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hardya Gustada Hikmahrachim; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Helda, Rinawati Rohsiswatmo, Rini Sekartini
Abstrak:
Tesis ini membahas dampak komorbiditas neonatal berat terhadap gangguan pertumbuhan ekstrauterin pada bayi prematur. Seiring dengan semakin membaiknya layanan bayi prematur dan kesintasan semakin meningkat, perhatian kini beralih menjadi bagaimana mengoptimalkan pertumbuhan bayi prematur. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif dengan subjek bayi prematur yang lahir di RSUPN Cipto Mangunkusumo tahun 2018-2020 dan bertahan hidup hingga pulang rawat. Kriteria eksklusi adalah bayi yang menderita kelainan kongenital berat dan bayi prematur pulang atas permintaan sendiri. Komorbiditas neonatal berat adalah komorbiditas terkait prematuritas yang mengancam kehidupan bayi prematur, diantaranya adalah penyakit membrane hialin, duktus arteriosus persisten, displasia bronkopulmonal, enterokolitis nekrotikans, sepsis neonatorum, dan perdarahan intraventrikel. Bayi diikuti sejak lahir hingga pulang perawatan, kemudian dinilai status pertumbuhannya. Gangguan pertumbuhan ekstrauterin didefinisikan dengan selisih berat badan pulang dan berat badan lahir lebih dari -0.80 menggunakan z-score pada kurva pertumbuhan bayi prematur Fenton. Kovariat yang dikendalikan pada penelitian ini adalah usia gestasi, jenis kelamin, status pertumbuhan janin, riwayat resusitasi bayi baru lahir, penggunaan ventilator berkepanjangan, dan pemberian steroid pascanatal. Dari 275 subjek penelitian, ditemukan 93 bayi prematur yang memiliki komorbiditas neonatal berat (33,82%) dan 82 bayi prematur yang mengalami gangguan pertumbuhan ekstrauterin (29,83%). Komorbiditas neonatal berat meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan ekstrauterin dengan risiko relatif 1,61 (IK95% 1,05-2,46) setelah dikendalikan kovariat. Disimpulkan bahwa komorbiditas neonatal berat merupakan faktor risiko independen gangguan pertumbuhan ekstrauterin pada bayi prematur sehingga perlu menjadi perhatian bagi para klinisi dan ahli gizi untuk memberikan asupan nutrisi yang optimal dan pencegahan komorbiditas neonatal berat tersebut.

As neonatal care is improving and survival rate is better, clinicans are now focus on optimizing postnatal growth. This retrospective study involved preterm infant in RSUPN Cipto Mangunkusumo from 2018-2020 which are inborn and survive at discharge. Exclusion criteria are infants with congenital anomalies and discharged at request. Severe neonatal morbidites are hyaline membrane disease, persistent ductus arteriosus, bronchopulmonary dysplasia, necrotizing enterocolitis, proven neonatal sepsis, and intraventricular hemorrhage. Extrauterine growth restriction is defined as the difference between discharge weight and birth weight more than -0.8 z-score based on Fenton Preterm Growth Chart. Controlled covariates are gestational age, sex, intrauterine growth status, history of resuscitation, prolonged use of invasive ventilation, and postnatal steroid. From 275 subjects, 93 of them had severe neonatal morbidities (33.82%) and 82 had extrauterine growth restriction (29.83%). Severe neonatal morbidities increase risk of extrauterine growth restriction by 1.61 (95%CI 1.05-2.46) after being controlled by covariates. In conclusion, severe neonatal morbidities is an independent risk factor of extrauterine growth restriction among preterm infants.

Read More
T-5930
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Armina Puji Utari; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi; Penguji: Kusharisupeni Djokosudjono, Mieke Savitri, Pudjo Hartono, Valleria
Abstrak: Pemberian ASI pada bayi prematur dapat menjadi upaya untuk menurunkankematian bayi dan meningkatkan status kesehatannya. Tujuan dari penelitian iniadalah untuk mengetahui praktek pemberian ASI eksklusif bayi prematur dandeterminannya pada Komunitas Prematur Indonesia. Penelitian menggunakandisain cross sectional, pengumpulan data melalui pengisian kuisioner online pada108 orang anggota Komunitas Prematur Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan31,5% ibu yang memberikan ASI eksklusif pada bayi prematur. Keyakinan ibu,pengetahuan tentang ASI, dan dukungan tenaga kesehatan berhubungan denganpemberian ASI eksklusif bayi prematur. Keyakinan ibu merupakan faktor yangdominan berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif, ibu yang yakinmempunyai peluang 3,6 kali untuk memberikan ASI eksklusif pada bayi prematurdibanding ibu yang tidak yakin setelah dikontrol oleh pengetahuan ibu tentangASI dan dukungan tenaga kesehatan. Kata kunci : ASI eksklusif, bayi prematur Daftar Pustaka : 70 (1997-2015)
Read More
T-4554
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuni Kusmiyati; Promotor: Sudarto Ronoatmodjo; Ko-Promotor: Mei Neni Sitaresmi, Sekartini, Asri C. Adisasmita, / Penguji : Sudijanto Kamso, Nuning MK. Masjkuri, Mondastri Korib Sudaryo, Rini Sekartini,
D-327
Depok : FKM-UI, 2016
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farhan Kurniawan; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Mardiati Nadjib, Erfan Chandra Nugraha
Abstrak:
Bayi prematur dan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang berkontribusi besar terhadap kematian neonatal dan memberikan beban ekonomi dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan lama hari rawat dan biaya perawatan bayi prematur dan BBLR pada peserta JKN. Penelitian ini menggunakan kohort retrospektif dengan Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2022–2024. Sebanyak 2.119 pasangan ibu dan anak dianalisis. Hasil menunjukkan 73,77% bayi dirawat di tingkat RITL dengan median lama rawat 4 hari. Median biaya RJTL per individu mencapai Rp195.850,00, sementara RITL mencapai Rp7.453.400,00. Faktor usia ibu, usia bayi, kelompok diagnosis bayi, komplikasi neonatal, dan tipe FKRTL secara signifikan memengaruhi lama hari rawat serta biaya perawatan RJTL maupun RITL. Status kelengkapan ANC hanya memengaruhi biaya perawatan RITL secara signifikan. Sementara segmentasi kepesertaan JKN dan regionalisasi tarif INA-CBGs hanya secara signifikan memengaruhi biaya perawatan RJTL maupun RITL. Usia bayi menjadi faktor dominan yang memengaruhi lama hari rawat dan biaya perawatan bayi prematur dan BBLR pada peserta JKN tahun 2022–2023. Dengan demikian, strategi pengendalian biaya dan peningkatan efisiensi perawatan perlu difokuskan pada usia bayi dengan tetap memperhatikan aspek klinis dan karakteristik fasilitas kesehatan yang bekerja sama dalam skema JKN.

Preterm and low birth weight (LBW) infants represent a significant public health concern, contributing substantially to neonatal mortality and imposing an economic burden on Indonesia’s National Health Insurance (JKN) system. This study aims to analyze the determinants of length of stay and treatment cost for preterm and LBW infants covered by JKN. A retrospective cohort design was employed using the Data Sampel BPJS Kesehatan 2022–2024, involving 2,119 mother-infant pairs. Results show that 73.77% of infants received care at advanced inpatient facilities (RITL), with a median length of stay of 4 days. The median outpatient (RJTL) and inpatient (RITL) care costs per individual were Rp195,850 and Rp7,453,400, respectively. Maternal age, infant age, diagnosis group, neonatal complications, and type of referral hospital significantly influenced both the length of stay and healthcare costs in RJTL and RITL settings. Completeness of antenatal care (ANC) visits was significantly associated only with the RITL costs, while JKN membership segmentation and INA-CBGs tariff regionalization significantly affected healthcare costs. Infant age emerged as the most dominant factor in influencing length of stay and treatment cost. These findings highlight the need for cost-control strategies and care efficiency improvements that prioritize infant age, clinical conditions, and facility characteristics within the JKN.
Read More
S-11875
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive