Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Inna Apriantini; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Artha Prabawa, Rahmadewi
Abstrak: Pernikahan usia dini masih tergolong tinggi di Indonesia. Penurunan angka pernikahan usia dini di Indonesia tergolong lambat.. Pernikahan dini adalah salah satu bentuk dari pelanggaran hak dari anak. Penelitian ini bertujuan untuk melihat factor determinan yang menyebabkan terjadinya pernikahan usia dini di Indonesia menggunakan data SDKI 2017. Penelitian ini disusun berdasarkan data sekunder dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) Tahun 2017. Sampel ini digunakan untuk mendapatkan gambaran usia kawin pertama pada rentang usia 15-25 tahun dengan status responden menikah pada penelitian. Analisis data yang dilakukan adalah dengan menganalisis data SDKI 2017 dengan Analisa Univariate dan Analisa Bivariate (Potong Lintang). Gambaran persentase pernikahan dini di Indonesia pada Usia 15-25 tahun lebih banyak wanita yang menikah dini yaitu sebanyak 65,1 persen.sedangkan untuk wanita yang tidak menikah dini hanya sebesar 34,9 persen. Factor determinan terjadinya pernikahan dini dari hasil penelitian ini adalah Pendidikan, tempat tinggal, status ekonomi, penggunaan majalah/koran, penggunaan radio, dan penggunaan internet.
Kata kunci: early marriage, adolsencent, child, marriage

Early marriage is still relatively high in Indonesia. The decline in the number of early marriage in Indonesia is relatively slow. Early marriage is one form of violation of the rights of children. This study aims to look at the determinants that cause early marriage in Indonesia using the 2017 IDHS data. This study was compiled based on secondary data from the 2017 Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS). This sample was used to obtain an overview of the age of first marriage in the age range 15-25 years with the status of respondents married in the study. Data analysis was performed by analyzing 2017 IDHS data with Univariate Analysis and Bivariate Analysis (CrossCutting). The percentage of early marriages in Indonesia at the age of 15-25 years is more women who marry early, which is as much as 65.1 percent. While for women who are not married early is only 34.9 percent. The determinants of early marriage from the results of this study are education, residence, economic status, magazine / newspaper use, radio use, and internet use.
Key words: early marriage, adolsencent, child, marriage
Read More
S-10446
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
I Ginting Suka ... [et al.]
Bulitsiskes Vol.16, No.3
Surabaya : Balitbangkes Depkes RI, 2013
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizqi Amelia; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Iwan Ariawan, Bayu Raharja
Abstrak: Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode kuantitatif yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pernikahan usia muda dengan riwayat reproduksi pada wanita usia subur di Provinsi Jawa Timur tahun 2013. Desain penelitian dengan cross sectional dan menggunakan data sekunder Improving Contraceptive Method Mix 2013.
 
 
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pendidikan, penggunaan KB dan status ekonomi terhadap usia nikah pertama, namun tidak berhubungan antara pengambilan keputusan keluarga terhadap usia nikah pertama. Terdapat perbedaan rata-rata lama penundaan kehamilan pertama, rata-rata jumlah paritas terhadap usia nikah pertama, akan tetapi tidak ada perbedaan rata-rata jumlah abortus terhadap usia nikah pertama.
 

This is a quantitative research study which aim to know the association between early marriage with child bearing women?s reproductive history in East Java on 2013. This research used crossectional study design and the data was collected from secunder data?s of Improving Contraceptive Method Mix 2013.
 
 
The result showed that there was a significant associations between education, contraceptive use and economic status, toward first age of married. However, there were no association between decision maker in family toward first age of married. There are differences on rate of first pregnancy delayed and rate of parity toward first age of married. However, there are no different on rate of abortus event toward first age of married.
Read More
S-8973
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novitasia Elsera Gultom; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: R. Sutiawan, Anindita Dyah Sekarputri
Abstrak: Pernikahan di usia dini atau yang disebut dengan early marriage merupakan suatu bentuk pelanggaranhak-hak anak dan hak-hak manusia. Indonesia merupakan negara yang memiliki angka pernikahandini cukup tinggi, dimana menempati posisi ke-37 dunia dan ke-2 ASEAN setelah Negara Kamboja.Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana tren dan dampak yang ditimbulkan dari pernikahan usia dini di Indonesia dengan analisis data SDKI 2012. Pada penelitian ini menggunakan menggunakan data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 yang meliputi analisis,univariat dan bivariat dengan desain potong lintang. Penelitian ini memakai sampel Wanita UsiaSubur (WUS) 35-49 tahun yang pernah kawin. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tren daripernikahan usia dini menurun menjadi 30,5% pada tahun 2012, yang sebelumnya 48,1% pada tahun2007. Dampak yang berhubungan dengan pernikahan usia dini adalah fertilitas dan status kawin. Dampak yang paling berhubungan adalah fertilitas. Kata kunci: fertilitas; Indonesia; pernikahan usia dini
Marriage at an early age, or the so-called early marriage is a form of violation of children's rights andhuman rights. Indonesia is a country that has a fairly high rate of early marriage, which occupies the37th position of the world and the 2nd ASEAN after the State of Cambodia. The aim of the study is todescribe how about the trends and the impact of early marriage in Indonesia with secondary dataanalysis of IDHS 2012. In this study using the data of the Indonesia Demographic Health Survey(IDHS) which includes univariate and bivariate analysis were used the design of cross-sectional study.The sample of this study using Eligible Women 35-49 years who ever married. The result showedthat the trend of early marriage decreased to 30,5% in 2012, which previously 48,1% in 2007. Earlymarriage associated with fertility and marital staus. The most associated impact with early marriage isfertility.Key words: early marriage; ertility; Indonesia
Read More
S-8494
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Ela; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Mieke Savitri, Farida Ekasari
Abstrak: Nationally, the rate of child marriage in Indonesia a decline, the trend for marriages decreased from 33.49% children who had been married before the age of 18 in 2000, fell to 27.36% in 2008, yet it still happens disparity, where child marriage is more common in rural than in urban areas (UNICEF, 2011). Pringkasap village is one of the highest Village that the number of marriages in the District Pabuaran in 2011, the number of marriage age <20 years is 28%, with 42% of them are mating with the level of primary and secondary school education.
 
This study was conducted to understand the dynamics of early marriage on dropout in the Village Pringkasap 2014. Study was a qualitative study with indepth interviews, the results of this study indicate an intention to perform an early marriage is influenced by, the attitude of the parents, influence of peers, teen jobs, teen attitudes, patterns of dating and unwanted pregnancy. The impact of early marriage is the limited teenage promiscuity, lack of family economy, the obligation to take care of the household, and LBW (Low Birth Weight). The barriers program maturation Age of Marriag is not yet done BKR and PIK program in the village, it is necessary for the formation of a society PIK existing organizations such as youth clubs.
Read More
S-8482
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ida Farida; Pembimbing: Tri Krianti; Penguji: Milla Herdayati, Evi Martha, Rina Herartri, Dedy Fatieli Zebua
Abstrak: Pernikahan dini merupakan salah satu masalah kesehatan reproduksi karena semakin muda umur menikah, akan semakin panjang rentang waktu untuk bereproduksi. Iklan keluarga berencana di televisi telah ditayangkan sejak tahun 1980 yang bertujuan mensosialisasikan program keluarga berencana, salah satunya adalah pesan tidak melakukan pernikahan dini. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui penilaian dan persepsi mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam dua iklan keluarga berencana tentang pernikahan dini. Penelitian ini menggunakan desain mix-methode. Penelitian kuantitatif menggunakan cross sectional dengan 250 responden, sedangkan penelitian kualitatif menggunakan wawancara mendalam kepada 8 informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebgaian besar mahasiswa memiliki persepsi positif terhadap pernikahan dini dan terdapat hubungan yang signifikan antara iklan keluarga berencana dengan persepsi pernikahan dini. Iklan KB versi B memiliki hubungan korelasi yang kuat (r = 0,610), sedangkan iklan KB versi A memiliki hubungan korelasi yang sedang (r = 0,320). Adapun variabel yang menjadi konfonding dalam penelitian ini yaitu umur dan pengetahuan. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada pihak BKKBN agar dapat terus mengembangkan ide kreatif dalam proses pembuatan iklan keluarga berencana di televisi. Kemudian bagi pihak UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dapat membuat kebijakan pembentukan badan konseling kesehatan reproduksi mahasiswa. Kata Kunci : Pernikahan dini, Iklan keluarga berencana, PersepsI
Early marriage is one of reproductive health problems because of the young age of marriage, will become longer span of time to reproduce. Family planning advertisement in a television has aired since 1980 which aims to disseminate family planning programs, one of which is the message did early marriage. The purpose of this study to determine the assessment and student perceptions of UIN Syarif Hidayatullah Jakarta in two family planning advertisements about early marriage. This study used a mixed-method design. Quantitative research using cross sectional with 250 respondents, whereas qualitative research using in-depth interviews to 8 informants. The results showed that skillful students have positive perceptions of early marriage and there is a significant relationship between advertising family planning with the perception of early marriage. Advertising KB version B possess strong correlation (r = 0.610), while the advertisement KB version A moderate correlation relationship (r = 0.320). The variables into counfonding in this study were age and knowledge. Based on the results of this study suggested to the BKKBN to continue to develop creative ideas in the process of making family planning in television advertising. Then for the UIN Syarif Hidayatullah Jakarta can make policy formation reproductive health counseling student body. Keywords: Early marriage, family planning advertisement, perception
Read More
T-4274
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zun Helty Samosir; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Evi Martha, Ninuk Widyantoro
Abstrak: Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode kuantitatif yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pernikahan usia muda dengan riwayat reproduksi pada wanita usia subur di Kabupaten Kediri tahun 2013. Desain penelitian adalah cross sectional dan menggunakan data sekunder Improving Contraceptive Methode Mix 2013. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pendidikan dan pekerjaan dengan usia nikah pertama. Usia nikah pertama berhubungan signifikan terhadap usia saat hamil pertama dan paritas, akan tetapi tidak signifikan terhadap riwayat abortus. Penting bagi pemerintah menggalakkan program pendewasaan usia pernikahan dan kurikulum kesehatan reproduksi bagi remaja di sekolah.
Kata Kunci : Remaja, Pernikahan Usia Muda, Riwayat Reproduksi

This research used quantitative method that aims to determine the relationship between early marriage with the reproductive output of fertile women in Kediri Regency 2013. The study design was cross-sectional and using secondary data from Improving Contraceptive Method Mix 2013. The results showed that there are a significantly relationship between education and work with early marriage. Early marriage significantly related with age at first pregnancy and parity, but not significant to the history of abortion. It is important to the government for promoting the maturation of age of marriage and make a reproductive health curriculum for young people in schools.
Keywords: Adolescent, Early Marriage, Reproductive Output
Read More
S-8654
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Made Natasya Restu Dewi Pratiwi; Pembimbing: Helda; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Nia Reviani
Abstrak:
Dalam tiap tahunnya, di tingkat global diestimasikan terdapat 21 juta perempuan usia 15-19 tahun yang mengalami kehamilan, di mana 50% dari total kehamilan yang terjadi merupakan kasus kehamilan tidak diinginkan, serta 12 juta di antaranya sudah melahirkan. Di Asia Tenggara, Indonesia, Filipina, dan Timor-Leste merupakan negara yang memiliki kemajuan penanganan kehamilan remaja yang masih jauh dari target ASFR tahun 2030 sehingga memerlukan upaya yang lebih masif. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui model prediksi kehamilan remaja usia 15-19 tahun di Indonesia, Filipina, dan Timor-Leste. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan sampel remaja usia 15-19 tahun yang menjadi responden DHS (Demographic and Health Surveys). Analisis penelitian dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil penelitian ini menemukan bahwa di Indonesia faktor yang berpengaruh terhadap kehamilan remaja, yaitu usia pertama menikah (AOR:0.6; 95% CI: 0.3-0.9), status pernikahan (AOR:0.002, 95% CI: 0.001-0.004), dan penggunaan kontrasepsi (AOR:14.9; 95% CI: 7.7-28.9). Faktor kehamilan remaja yang berpengaruh dominan di Filipina, yaitu status pernikahan (AOR: 0.008; 95% CI: 0.004-0.018) dan penggunaan kontrasepsi (AOR: 6.4; 95% CI: 2.6-15.7). Sementara, faktor yang paling dominan berpengaruh terhadap kehamilan di Timor-Leste, yaitu tingkat pendidikan (AOR: 2.9; 95% CI: 1.5-5.6), usia pertama menikah (AOR: 0.033; 95% CI: 0.013-0.086), dan usia responden (AOR: 0.167; 95% CI: 0.075-0.370). Determinan kehamilan remaja di Indonesia, Filipina, dan Timor-Leste didominasi pengaruhnya oleh faktor individu dan sosial ekonomi. Maka, diperlukan kolaborasi lintas sektor untuk memasifkan edukasi kesehatan reproduksi kepada remaja, orang tua, dan masyarakat agar remaja dapat mengelola pubertas secara bertanggung jawab.

Every year, at the global level, it is estimated that 21 million women aged 15-19 years experience pregnancy, of which 50% of the total pregnancies that occur are cases of unwanted pregnancy, and 12 million of them have given birth. In Southeast Asia, Indonesia, Philippines, and Timor-Leste are countries where progress in handling teenage pregnancy is still far from the 2030 ASFR target, so more massive efforts are needed. This research was conducted to determine the pregnancy prediction model for teenagers aged 15-19 years in Indonesia, Philippines, and Timor-Leste. This research uses a study design cross-sectional with a sample of adolescents aged 15-19 years who were DHS respondents (Demographic and Health Surveys). Research analysis was carried out univariate, bivariate and multivariate. The results of this study found that in Indonesia the most dominant influencing factors were age at first marriage (AOR: 0.6; 95% CI: 0.3-0.9), marital status (AOR: 0.002, 95% CI: 0.001-0.004), and contraceptive use (AOR:14.9; 95% CI: 7.7-28.9). The dominant influencing factors for teenage pregnancy in the Philippines are marital status (AOR: 0.008; 95% CI: 0.004-0.018) and contraceptive use (AOR: 6.4; 95% CI: 2.6-15.7). Meanwhile, the most dominant factors influencing pregnancy in Timor-Leste are education level (AOR: 2.9; 95% CI: 1.5-5.6), age at first marriage (AOR: 0.033; 95% CI: 0.013-0.086), and age of respondents (AOR: 0.167; 95% CI: 0.075-0.370). The determinants of teenage pregnancy in Indonesia, Philippines, and Timor-Leste are dominated by individual and socio-economic factors. So, cross-sector collaboration is needed to strengthen reproductive health education for teenagers, parents, and the community so the teenagers can manage puberty responsibly.
Read More
S-11612
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive