Ditemukan 45 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Minda Mulyani Irmawati; Pembimbing: Kusharisupeni Djokosujono
S-2033
Depok : FKM UI, 2001
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi kesintasan Resipien Transplantasi Ginjal di RSUPN Cipto Mangunkusumo
Utami Susilowati; Pembimbing: Bambang Sutrisna, Maruhum Bonar H. Marbun; Penguji: Yovsyah, Pringgodigdo Nugroho
Abstrak:
Latar Belakang Transplantasi ginjal telah menjadi pilihan utama terapi bagi pasien dengan penyakit ginjal tahap akhir, baik yang berasal dari donor hidup maupun donor jenazah. Transplantasi ginjal memiliki risiko yang lebih rendah baik untuk mortalitas maupun kejadian kardiovaskular, serta memiliki kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan pasien yang menjalani dialisis kronis, baik hemodialisis maupun dialisis peritoneal. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kesintasan transplantasi ginjal di RSUPN Ciptomangunkusumo tahun 2010-2017. Metode Penelitian Desain penelitian ini adalah kohort retrospekstif menggunakan data rekam medis pasien transplantasi ginjal. Sampel penelitian adalah resipien transplantasi ginjal ≥ 18 tahun di di RSUPN Ciptomangunkusumo tahun 2010-2017, yaitu sebanyak 548 pasien. Hasil penelitian probabilitas kesintasan resipien transplantasi ginjal selama pengamatan 5 tahun adalah 84,1% Hasil analisis dengan regresi cox menunjukkan bahwa resipien dengan donor yang berusia ≥ 40 tahun lebih cepat 1,487 kali untuk meninggal dibandingkan resipien dengan donor yang berusia < 40 tahun, resipien yang berusia ≥ 45 tahun lebih cepat 2,356 kali untuk meninggal dibandingkan pasien yang berusia 1 lebih cepat 2,861 kali untuk meninggal dibandingkan pasien yang skor charlson ≤ 1, resipien yang memiliki DM lebih cepat 2,947 kali untuk meninggal dibandingkan dengan yang tidak DM. Simpulan Kesintasan lima tahun di Indonesia cukup baik. Insiden kematian relatif tinggi, menyebabkan penurunan kelangsungan hidup pasien lima tahun. Namun, hasil keseluruhan masih sebanding dengan negara-negara berkembang lainnya
Read More
T-5568
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mirna Nurasri Praptini; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Djoko Delima Wibisono
T-4486
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ukik Agustina; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Bambang Wispriyono, Budi Hartono, Didi Purnama, Sukanda
Abstrak:
Mangan (Mn) merupakan unsur esensial bagi tubuh, namun dapat bersifat toksik jika berlebih. Salah satu target organ Mn adalah ginjal. Keberadaan TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) dapat menjadi sumber pencemar Mn ke lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara konsentrasi Mn dalam air tanah dengan gangguan fungsi ginjal pada masyarakat yang tinggal di sekitar TPA Cipayung Depok. Penelitian merupakan studi cross sectional dengan 104 responden yang meliputi Kelurahan Cipayung dan Kelurahan Pasir Putih. Pengambilan sampel dilakukan dengan Probability Proporsional to Size (PPS) yang disesuaikan dengan kriteria inklusi. Gangguan fungsi ginjal ditentukan dari kadar proteinuria atau hematuria yang diukur dengan metode semikuantitatif dipstick. Sedangkan pengukuran konsentrasi Mn menggunakan metode SNI 6989.5:2009. Wawancara dilakukan untuk mengetahui karakteristik responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar Mn air tanah pada 9 (13,6%) titik sampling melebihi baku mutu air minum dan 17 orang (16,3%) menunjukkan indikasi gangguan fungsi ginjal. Konsentrasi Mn air tanah berkisar antara 0,06 mg/L-0,84 mg/L. Tidak terdapat hubungan antara konsentrasi Mn dalam air tanah dengan gangguan fungsi ginjal. Sedangkan faktor risiko hipertensi dan obesitas memiliki hubungan signifikan dengan gangguan fungsi ginjal (OR 4,20; 95%; CI: 1,27-13,84; OR 3,64; 95%; CI: 1,10- 12,07). Faktor risiko diabetes, penyakit jantung, riwayat penyakit keluarga, merokok, konsumsi alkohol, umur dan jenis kelamin tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan gangguan fungsi ginjal. Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan antara konsentrasi Mn dalam air tanah dengan gangguan fungsi ginjal. Namun, faktor risiko hipertensi dan obesitas memiliki hubungan signifikan dengan gangguan fungsi ginjal.
The existence of landfill can be a source of manganese (Mn) pollutants in the environment. Mn can cause toxic for kidney if excessive intake. The purpose of this study was to determine the relationship between Mn concentrations in ground water with kidney function disorders in the people living around the Cipayung Landfill. The research was a cross sectional study with 104 respondents which included Cipayung and Pasir Putih village. Kidney function disorders was determined by the level of proteinuria or hematuria determined by the semi-quantitative dipstick method. While the Mn measurements used SNI 6989.5: 2009. The results showed that Mn levels of ground water at 9 (13,6%) sampling points exceeded drinking water quality standards and 17 people (16.3%) showed changes in kidney function. Mn concentration were between 0.06 mg / L-0.84 mg /L. There was no relationship between Mn concentration in ground water with kidney function disorders. While risk factors for hypertension and obesity had a significant relationship with kidney function disorders (OR 4.20; 95%; CI: 1.27-13.84;
OR 3.64; 95%; CI: 1.10-12.07). The conclusions of this study is risk factors for hypertension and obesity have a significant relationship with kidney function disorders.
Read More
The existence of landfill can be a source of manganese (Mn) pollutants in the environment. Mn can cause toxic for kidney if excessive intake. The purpose of this study was to determine the relationship between Mn concentrations in ground water with kidney function disorders in the people living around the Cipayung Landfill. The research was a cross sectional study with 104 respondents which included Cipayung and Pasir Putih village. Kidney function disorders was determined by the level of proteinuria or hematuria determined by the semi-quantitative dipstick method. While the Mn measurements used SNI 6989.5: 2009. The results showed that Mn levels of ground water at 9 (13,6%) sampling points exceeded drinking water quality standards and 17 people (16.3%) showed changes in kidney function. Mn concentration were between 0.06 mg / L-0.84 mg /L. There was no relationship between Mn concentration in ground water with kidney function disorders. While risk factors for hypertension and obesity had a significant relationship with kidney function disorders (OR 4.20; 95%; CI: 1.27-13.84;
OR 3.64; 95%; CI: 1.10-12.07). The conclusions of this study is risk factors for hypertension and obesity have a significant relationship with kidney function disorders.
T-5866
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sevrima Anggraini; Pembimbing: Tris Eryando, Besral; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Yoan Hotnida Naomi
Abstrak:
Abstrak
Penyakit Gagal Ginjal Kronik GGK merupakan suatu keadaan dimana ginjal mengalami kelainan struktural atau gangguan fungsi yang sudah berlangsung lebih dari 3 bulan. Penyakit ginjal kronik bersifat progresif dan irreversible, pada tahap lanjut tidak dapat pulih kembali. Diperlukan terapi pengganti ginjal untuk mengeluarkan produk sisa metabolisme dan mengatur keseimbangan cairan tubuh. Terdapat beberapa risiko yang dapat menyebabkan penyakit ginjal kronik seperti hipertensi, diabetes mellitus, pertambahan usia, pernikahan, pekerjaan dan IMT. Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui hubungan terapi hemodialis dan peritonial dialisis terhadap ketahanan hidup pasien gagal ginjal kronik di RSCM tahun 2012-2017. Desain studi dalam penelitian ini adalah kohort retrospektif. Jumlah total sampel penelitian ini adalah 110. Dari studi ini diketahui sebanyak 49 pasien yang menjalani hemodialisis meninggal dan 29 pasien yang menjalani CAPD meninggal. Pengaruh jenis terapi terhadap ketahanan hidup pasien GGK setelah dikontrol variabel kovariat didapatkan bahwa variabel umur berinteraksi dengan jenis terapi dimana pasien hemodialis yang berumur ge;60 tahun berisiko untuk lebih cepat meninggal sebesar 4 kali dibandingkan pasien yang menjalani CAPD 95 CI 1,3-13. Disarankan kepada pasien GGK yang berumur ge;60 untuk mempertimbangkan menggunakan CAPD sebagai alternatif dialisis.
Chronic Kidney Disease CKD is a condition in which the kidneys have structural abnormalities or functional disorders that have lasted more than 3 months. CKD is progressive and irreversible, in the later stages can not be recovered. Kidney replacement therapy is needed to remove metabolic waste products and regulate body fluid balance. There are several risks that can cause CKD such as hypertension, DM, age, , marriage, BMI ,work. The purpose of this study was to determine the relationship between hemodialis therapy and dialysis peritoneal on the survival of patients with CKD at RSCM 2012 2017. The study design in this study was a retrospective cohort. The total sample of this study was 110. From this study it was found that 49 of patients undergoing hemodialysis died and 29 of patients who underwent CAPD died. The effect of this type of therapy on survival of CKD patients after controlled by covariate variables found that the age variable interacted with the type of therapy where hemodialis patients aged ge 60 years are at risk for more rapid death 4 times than patients CAPD 95 CI 1.3 13 . It is recommended to patients aged ge 60 to consider using CAPD as an alternative to dialysis.
Read More
Penyakit Gagal Ginjal Kronik GGK merupakan suatu keadaan dimana ginjal mengalami kelainan struktural atau gangguan fungsi yang sudah berlangsung lebih dari 3 bulan. Penyakit ginjal kronik bersifat progresif dan irreversible, pada tahap lanjut tidak dapat pulih kembali. Diperlukan terapi pengganti ginjal untuk mengeluarkan produk sisa metabolisme dan mengatur keseimbangan cairan tubuh. Terdapat beberapa risiko yang dapat menyebabkan penyakit ginjal kronik seperti hipertensi, diabetes mellitus, pertambahan usia, pernikahan, pekerjaan dan IMT. Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui hubungan terapi hemodialis dan peritonial dialisis terhadap ketahanan hidup pasien gagal ginjal kronik di RSCM tahun 2012-2017. Desain studi dalam penelitian ini adalah kohort retrospektif. Jumlah total sampel penelitian ini adalah 110. Dari studi ini diketahui sebanyak 49 pasien yang menjalani hemodialisis meninggal dan 29 pasien yang menjalani CAPD meninggal. Pengaruh jenis terapi terhadap ketahanan hidup pasien GGK setelah dikontrol variabel kovariat didapatkan bahwa variabel umur berinteraksi dengan jenis terapi dimana pasien hemodialis yang berumur ge;60 tahun berisiko untuk lebih cepat meninggal sebesar 4 kali dibandingkan pasien yang menjalani CAPD 95 CI 1,3-13. Disarankan kepada pasien GGK yang berumur ge;60 untuk mempertimbangkan menggunakan CAPD sebagai alternatif dialisis.
T-5388
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Febri Hardiyanti; Pembimbing: Ema Hermawati, Agustin Kusumayati; Penguji: Budi Hartono, Yulia Fitria Ningrum, Nurlaela
Abstrak:
ABSTRAK Nama : Febri Hardiyanti Program Studi : Ilmu Kesehatan Masyarakat Judul : Asosiasi Antara Kadar Merkuri dalam Rambut dan Gejala Gangguan Fungsi Ginjal Pada Masyarakat yang Tinggal di Sekitar TPA Cipayung Depok Jawa Barat 2019 Pembimbing : Dr. Ema Hemawati, S.Si., MKM Merkuri adalah zat kontaminan beracun, namun keberadaannya sampai saat ini masih terus dibuang ke perairan, tanah, dan atmosfer. Salah satu organ tubuh yang sensitif dengan jenis logam berat adalah ginjal. Salah satu tanda gejala gangguan fungsi ginjal adalah adanya proteinuria. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahu asosiasi antara kadar merkuri dalam rambut dan kejadian gejala gangguan fungsi ginjal pada masyarakat di sekitar TPA Cipayung. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Sampel penelitian adalah 98 masyarakat yang tinggal di sekitar TPA Cipayung. Data pengkajian dan merkuri dalam rambut diperoleh dari BBTKLPP Jakarta. Kadar merkuri dalam rambut diukur dengan metode EPA 2007 Methode 7473 (SW-846). Kadar proteinuria diukur dengan uji diagnostik sederhana rapid test dipstick urine. Hasil penelitian ini ditemukan asosiasi lama tinggal dengan kadar merkuri dalam rambut (OR=5,5; CI 95%: 1,1-27,4). Terdapat asosiasi antara kadar merkuri dengan gejala gangguan fungsi ginjal (OR=10,7; CI 95%: 2,1-23,8). Terdapat asosiasi antara tekanan darah dengan gejala gangguan fungsi ginjal (OR=2,9; CI 95%: 1,2-7,0). Analisis multivariat, ditemukan asosiasi antara kadar merkuri dalam rambut dengan gejala fungsi ginjal setelah dikontrol variabel tekanan darah (OR=9,403; CI 95%: 1,8- 48,9). Terkait dengan adanya pencemaran merkuri di area TPA, diharapkan pemerintah dapat membangun barrier antara area TPA dan permukiman masyarakat, serta dapat memberikan edukasi tentang pola hidup sehat. Kata kunci : Merkuri, Ginjal, Logam Berat, TPA, Depok ABSTRACT Name : Febri Hardiyanti Study Program : Public Health Title : Association Between Hair Mercury Level and Impaired Renal Function Symptoms in Communities Who Living Around Cipayung Landfill, Depok, West Java 2019 Counsellor : Dr. Ema Hemawati, S.Si., MKM Mercury is a toxic contaminant, but its existence continues to be discarded into the waters, soil, and atmosphere. One of the organs sensitive to the type of heavy metals is kidneys. One sign of symptoms of impaired renal function is the presence of proteinuria. This research aims to do the association between mercury levels in hair and the incidence of impaired renal function symptoms in communities around Cipayung landfill. This research uses cross sectional design. The research samples were 98 people living around Cipayung landfill. Data assessment and mercury in hair is obtained from BBTKLPP Jakarta. Mercury levels in the hair were measured by method EPA 2007 Methode 7473 (SW-846). Proteinuria levels were measured with a simple diagnostic test of rapid test dipstick urine. The results of this study were found long-lived associations with mercury levels in the hair (OR = 5,5; CI 95%: 1,1-27,4). There are associations between mercury levels and symptoms of impaired renal function (OR = 10,7; CI 95%: 2,1-23,8). There is an association between blood pressure and symptoms of impaired renal function (OR = 2,9; CI 95%: 1,2-7,0). Multivariate analysis, found an association between mercury levels in the hair with symptoms of impaired renal function after a variable-controlled blood pressure (OR = 9,403; CI 95%: 1,8-48,9). Due to mercury pollution in the landfill area, the government is expected to build a barrier between landfill area and community settlements, and can provide education on healthy lifestyles. Keywords: Mercury, Kidney, Heavy Metal, Landfill, Depok
Read More
T-5795
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ni Nyoman Diah Redyardani Sutantri; Pembinbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Adang Bachtiar, Vetty Yulianty Permanasari
Abstrak:
Read More
Kesehatan merupakan hak setiap individu untuk mau dan mampu hidup sehat, serta memanfaatkan pelayanan kesehatan. Ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan tentu saja menyumbang salah satu faktor keberhasilan dalam pemerataan pelayanan kesehatan di Indonesia. Pelayanan terapi pengganti ginjal (TPG) di Indonesia juga menghadapi tantangan dari segi pemerataan pelayanan. Permintaan pelayanan dialisis meningkat seiring dengan meningkatnya kejadian Penyakit Ginjal Kronis. Pemerintah melalui Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) No. 8 tahun 2022 mengatur agar pasien dengan penyakit ginjal kronis stadium akhir mendapat terapi pengganti ginjal yang merata. Upaya pemerataan pelayanan dialisis ini salah satunya adalah dengan mulai memanfaatkan pelayanan CAPD maka RSUD Kota Bogor perlu melakukan persiapan pelayanan CAPD di instalasi hemodialisa. . Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kesiapan dan upaya penyelenggaraan pelayanan CAPD di RSUD Kota Bogor. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitik yang digunakan untuk mengkaji lebih dalam mengenai persiapan dan kesiapan RSUD Kota Bogor dalam memberikan pelayanan CAPD. Sebagian besar instrumen penilaian kesiapan pelayanan CAPD di RSUD Kota Bogor berdasarkan PMK no.8 tahun 2022 telah terpenuhi, yaitu sebesasr 81%, namun masih perlu penyiapan sarana dan prasarana serta berkas SPO yang belum terpenuhi agar pelayanan CAPD dapat berjalan. Dengan terpenuhinya persyaratan tersebut maka RSUD Kota Bogor siap memberikan pelayanan CAPD.
Health is the right of every individual to want and be able to live healthily, and utilize health services. The availability of health service facilities certainly contributes to one of the success factors in equitable distribution of health services in Indonesia. Kidney replacement therapy (TPG) services in Indonesia also face challenges in terms of equitable distribution of services. The demand for dialysis services is increasing along with the increasing incidence of Chronic Kidney Disease. The government through Minister of Health Regulation (PMK) No. 8 of 2022 stipulates that patients with end-stage chronic kidney disease receive kidney replacement therapy that is evenly distributed. One of the efforts to equalize dialysis services is by starting to utilize CAPD services, so the Bogor City Hospital needs to prepare for CAPD services at the hemodialysis installation. . The purpose of this study was to analyze the readiness and efforts to provide CAPD services at RSUD Kota Bogor. This type of research is a qualitative research with an analytic descriptive approach that is used to examine more deeply the preparation and readiness of Bogor City Hospital in providing CAPD services. Most of the CAPD service readiness assessment instruments at Bogor City Hospital based on PMK no. 8 of 2022 have been fulfilled, which is 81%, but it is still necessary to prepare facilities and infrastructure as well as SPO files that have not been fulfilled so that CAPD services can run. With the fulfillment of these requirements, Bogor City Hospital is ready to provide CAPD services.
B-2378
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rani Iftika Ningrum; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Renti Mahkota, Hario Baskoro
Abstrak:
Read More
World Health Organization (WHO) mendeklarasikan corona virus disease 19 (COVID19) sebagai pandemic. Bukti yang terakumulasi dari waktu ke waktu menunjukkan bahwa, meskipun infeksi SARS-CoV 2 menyebabkan penyakit pernapasan dengan manifestasi klinis yang sangat bervariasi, organ lain juga dapat rusak oleh virus tersebut, ginjal menjadi salah satu tempat utama komplikasi. Penyakit Ginjal kronis (PGK) muncul sebagai faktor risiko paling umum COVID-19 dengan manifestasi klinis yang parah dan mengkhawatirkan. Penyakit Ginjal kronis (PGK) dikaitkan dengan peningkatan tingkat rawat inap pasien dengan COVID-19, dan tingkat kematian tampaknya 14 - 16 kali lebih tinggi daripada populasi umum. RS UI merupakan rumah sakit rujukan COVID-19 di Kota Depok. Studi kasus kontrol dilakukan dengan memanfaatkan data rekam medis pasien COVID-19 terkonfirmasi yang dirawat inap di RS UI periode September 2020 ? Agustus 2022 dengan jumlah sampel pada kelompok kasus 121 responden dan kelompok kontrol 242 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan dan bermakna secara statistik antara Penyakit Ginjal Kronis dengan kematian pasien COVID-19 (OR 6,67; 95% CI 3,48?12,77; pvalue <0,001). Demikian, secara statistik hubungan antara Penyakit Ginjal Kronis dengan kematian pasien COVID-19 setelah dikontrol variabel kovariat yaitu : hipertensi, ARDS, ruang perawatan, obesitas dan umur. Jadi, pasien COVID-19 dengan Penyakit Ginjal Kronis memiliki resiko 3,65 kali lebih besar secara bermakna untuk meninggal dibanding pasien COVID-19 tanpa Penyakit Ginjal kronis
The World Health Organization (WHO) declared the corona virus disease 19 (COVID19) a pandemic. Evidence has accumulated over time indicating that, although SARSCoV 2 infection causes respiratory disease with a wide variety of clinical manifestations, other organs can be damaged by the virus, with the kidney being one of the main sites of complications. Chronic Kidney Disease (CKD) is emerging as the most common risk factor for COVID-19 with severe clinical manifestations and deficiencies. Chronic Kidney Disease (CKD) is associated with increased hospitalization rates of patients with COVID-19, and death rates are roughly 14 ? 16 times higher than the general population. UI Hospital is a COVID-19 referral hospital in Depok City. A case-control study was carried out by utilizing the medical record data of confirmed COVID-19 patients who were hospitalized at UI Hospital for the period September 2020 ? August 2022 with a sample size of 121 respondents in the case group and 242 respondents in the control group. The results of this study showed that there was a statistically significant relationship between Chronic Kidney Disease and the death of COVID-19 patients (OR 6.67; 95% CI 3.48?12.77; pvalue <0.001). Thus, statistically the relationship between Chronic Kidney Disease and the death of COVID-19 patients after controlling for covariate variables, namely: hypertension, ARDS, treatment room, obesity and age. So, COVID-19 patients with Chronic Kidney Disease have a significantly greater risk of dying 3.65 times than COVID-19 patients without Chronic Kidney Disease.
T-6514
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Muhammad Iqbal Ibrahim; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Besral, Rico Kurniawan, Andri Mursita, Erwin Azizi Jayadipraja
Abstrak:
Penyakit Gagal Ginjal Kronis (PGK) merupakan penyebab kematian peringkat ke-27 di dunia tahun 1990 dan meningkat menjadi urutan ke-18 pada tahun 2010. Sedangkan di Indonesia, perawatan penyakit ginjal merupakan peringkat kedua pembiayaan terbesar dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan setelah penyakit jantung. Jumlah penderita gagal ginjal kronis di Indonesia pada tahun 2011 tercatat 22.304 dengan 68,8% kasus baru dan pada tahun 2012 meningkat menjadi 28.782 dengan 69,1% kasus baru. Alkohol diketahui memiliki efek pada metabolisme kolesterol lipoprotein densitas tinggi (HDL-C), kolesterol lipoprotein densitas rendah (LDL-C) dan trigliserida serta tekanan darah. Jika alkohol dikonsumsi secara berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah, salah satu masalah yang bisa berujung pada gangguan ginjal. Mengonsumsi etanol sangat berbahaya karena reaksi kimia senyawa ini membentuk nefrotoksik kuat hingga menyebabkan gangguan fungsi dan kematian sel (nekrosis) pada sel tubulus proksimal. Dengan mempromosikan penyakit hati, konsumsi alkohol kronis memiliki efek merusak lebih lanjut pada ginjal. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dalam rangka mempelajari korelasi antara faktor risiko dengan efek gagal ginjal kronis dengan menggunakan data sekunder Riskesdas tahun 2018, dimana variabel-variabel yang termasuk factor risiko dan variabel efek diobservasi sekaligus pada saat yang sama, dalam hal ini disebut penelitian cross sectional
Read More
T-6409
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mai Debora Gultom; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Helda, Eris Lidya Purba, Ida Friska Br. Sagala
Abstrak:
Penyakit ginjal Kronik telah menjadi perhatian karena semakin meningkat secara global baik insidensi, prevalensi, serta mortalitasnya. Berdasarkan data Riskesdas, PGK di provinsi Sumatera Utara yang meningkat dari 0,2% pada tahun 2013 menjadi 0,33% pada tahun 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan faktor risiko dominan penyakit penyakit ginjal kronik di RSUD dr. Djasamen Saragih Kota Pematangsiantar. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan desain Kasus kontrol. Subjek penelitian sebanyak 505 pasien PGK yang di RSUD dr. Djasamen Saragih Kota Pematangsiantar dirawat dengan kasus sebanyak 101 pasien yang di diagnosis oleh dokter telah gagal ginjal kronik yang dapatkan dari rekam medis. Kontrol rumah sakit sebanyak 404 adalah pasien tanpa PGK. Kriteria Inklusi subjek penelitian adalah berusia ≥ 15 tahun dan data rekam medisnya lengkap. Kriteria eksklusi pada subjek penelitian dimana apabila riwayat transplantasi ginjal dimiliki oleh pasien dan pasien yang data rekam medisnya tidak lengkap. Hasil multivariat menunjukkan faktor risiko dominan PGK di RSUD dr. Djasamen Saragih Kota Pematangsiantaryaitu hipertensi (OR=4,63;95% CI: 2,69-7,99) dan asam urat (OR =5,46; 95% CI: 3,17-9,41). Upaya promotif dan deteksi dini faktor risiko sejak usia dini perlu ditingkatkan untuk memperkecil kejadian faktor risiko maupun penyakit ginjal kronik dan disarankan pihak Rumah Sakit dapat meningkatkan fasilitas dan kelengkapan data pasien, dan membentuk tim penyuluh kesehatan guna meningkatkan pengetahuan pasien yang berkunjung yang berhubungan dengan PGK
Chronic kidney disease had become a concern because of the increasing global incidence, prevalence, and mortality. Based on Riskesdas data, CKD in North Sumatra province increased from 0.2% in 2013 to 0.33% in 2018. This study aimed to determine the dominant risk factors for chronic kidney disease in Dr. RSUD. Djasamen Saragih, Pematang Siantar City. This study was an analytic observational study with a case-control design. The research subjects were 505 CKD patients who were treated at Dr. Djasamen Saragih Hospital, Pematangsiantar City, with a case of 101 patients who were diagnosed by doctors as having chronic kidney failure which were obtained from medical records. Hospital controls were 404 patients without CKD. The inclusion criteria of research subjects were 15 years old and complete medical record data. Exclusion criteria for research subjects where a history of kidney transplantation was owned by patients and patients whose medical record data was incomplete. The multivariate results showed that the dominant risk factors for CKD in Dr. Djasamen Saragih Hospital were hypertension (OR=4.63; 95% CI: 2.69-7.99) and gout (OR=5.46; 95% CI: 3.17). -9.41). Promotive efforts and early detection of risk factors from an early age need to be increase to minimize the incidence of risk factors and chronic kidney disease and it is suggest that the hospital can improve the facilities and completeness of patient data, and form a team of health educators to increase the knowledge of visiting patients related to CKD
Read More
Chronic kidney disease had become a concern because of the increasing global incidence, prevalence, and mortality. Based on Riskesdas data, CKD in North Sumatra province increased from 0.2% in 2013 to 0.33% in 2018. This study aimed to determine the dominant risk factors for chronic kidney disease in Dr. RSUD. Djasamen Saragih, Pematang Siantar City. This study was an analytic observational study with a case-control design. The research subjects were 505 CKD patients who were treated at Dr. Djasamen Saragih Hospital, Pematangsiantar City, with a case of 101 patients who were diagnosed by doctors as having chronic kidney failure which were obtained from medical records. Hospital controls were 404 patients without CKD. The inclusion criteria of research subjects were 15 years old and complete medical record data. Exclusion criteria for research subjects where a history of kidney transplantation was owned by patients and patients whose medical record data was incomplete. The multivariate results showed that the dominant risk factors for CKD in Dr. Djasamen Saragih Hospital were hypertension (OR=4.63; 95% CI: 2.69-7.99) and gout (OR=5.46; 95% CI: 3.17). -9.41). Promotive efforts and early detection of risk factors from an early age need to be increase to minimize the incidence of risk factors and chronic kidney disease and it is suggest that the hospital can improve the facilities and completeness of patient data, and form a team of health educators to increase the knowledge of visiting patients related to CKD
T-6244
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
