Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Olanti Rahayu; Pembimbing: Ella Nurlella Hadi; Penguji: ZarfielTafal, Rina Wijaya
S-8509
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Indriyati Srikandi Putri; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Tri Krianto, Fonny J Silvanus
S-8864
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nurhanifah; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Dian Ayubi, Evi Martha, Harmayani, Maheka Karmanie
Abstrak:
Read More
Hingga 12 Oktober 2022, COVID-19 di Indonesia menyebabkan 6.450.248 orang terpapar dan 158.249 jiwa meninggal dunia. Vaksinasi COVID-19 menjadi salah satu upaya Pemerintah untuk mengurangi transmisi/penularan, menurunkan angka kesakitan dan kematian yang diakibatkan COVID-19. Tujuannya untuk membentuk kekebalan kelompok di masyarakat minimal 60%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan penerimaan vaksinasi COVID-19 booster pada tenaga kerja di Kota Tangerang. Penelitian kuantitaif menggunakan desain studi survei cross sectional. Pengumpulan data dilakukan kepada 319 responden di Kota Tengerang dengan menggunakan kuesioner Vaccination Acceptance Scale dalam bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 170 responden (53,3%) menerima vaksinasi COVID-19 booster dengan baik. Namun, jika dilihat dari pertanyaannya, terdapat 41,7% responden menerima vaksinasi karena diwajibkan. Hal ini menunjukkan belum ada kesadaran pribadi responden untuk melakukan vaksinasi booster COVID-19. Terdapat hubungan antara pekerjaan, persepsi hambatan, persepsi manfaat, keterpaparan informasi, dan riwayat vaksinasi COVID-19 dengan penerimaan vaksinasi booster COVID-19. Variabel yang paling dominan pada penerimaan vaksinasi COVID-19 booster adalah persepsi manfaat.
Until 12 October 2022, COVID-19 in Indonesia caused 6,450,248 people to be exposed and 158,249 died. Nationally, based on the distribution map of COVID-19 cases, Vaccination against COVID-19 is one of the Government's efforts to reduce transmission/transmission, reduce morbidity and mortality caused by COVID-19. The aim is to form group immunity in the community of at least 60%. The purpose of this study was to determine the factors associated with receiving the COVID-19 booster vaccination for workers in Tangerang City. This quantitative study used a cross-sectional survey study design. Data collection was carried out on 319 respondents in Tengerang City using the Vaccination Acceptance Scale questionnaire in Indonesian. The results showed that 170 respondents (53.3%) received the COVID-19 booster vaccination well. However, judging from the questions, 41.7% of the respondents received the vaccination because it was mandatory. This shows that there is no personal awareness of the respondents to carry out the COVID-19 booster vaccination. There is a relationship between work, perceived barriers, perceived benefits, information exposure, and history of COVID-19 vaccination and receiving the COVID-19 booster vaccination. The most dominant variable in receiving the booster COVID-19 vaccination is perceived benefit.
T-6507
Depok : FKM UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wanda Elsa Silfani; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Kamaluddin Latief
S-8360
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Tiska Lozikania Mawardani; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Indang Trihandini, Ririn Arminsih Wulandari, Sukaris, Anik Luthfiyah
Abstrak:
Read More
Karies gigi masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama pada anak sekolah dasar di Indonesia. Orang tua khususnya ibu, memiliki peran penting dalam pencegahan karies gigi anaknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku ibu dalam pencegahan karies gigi anak di SD Muhammadiyah Kompleks Gresik Jawa Timur berdasarkan teori Health Belief Model (HBM). Desain cross sectional digunakan pada 135 ibu yang diambil melalui multistage random sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner tervalidasi. Data dianalisis menggunakan uji chi-square, dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan 51,1% ibu berperilaku kurang baik dalam pencegahan karies gigi pada anaknya. Variabel yang berhubungan dengan perilaku ibu adalah pengetahuan (p = < 0,001), efikasi diri (p = < 0,001) dan persepsi manfaat (p = 0,013) sedangkan persepsi hambatan dan isyarat merupakan konfonding pada hubungan tersebut. Efikasi diri merupakan faktor yang dominan berhubungan dengan perilaku ibu dalam pencegahan karies gigi anak, ibu yang memiliki efikasi diri tinggi berpeluang untuk berperilaku baik hampir 14 kali dibanding yang efikasi dirinya rendah setelah dikontrol oleh pengetahuan, persepsi manfaat, persepsi hambatan dan isyarat bertindak. Untuk itu, disarankan agar pihak sekolah bersama puskesmas meningkatkan pelaksanaan program UKGS dengan melibatkan orang tua, khususnya ibu dalam kegiatan edukasi berkala setiap 6 bulan sekali terkait pencegahan karies gigi. Selain itu, diperlukan penyediaan media edukasi seperti poster atau leaflet di sekolah, serta kegiatan simulasi menyikat gigi bersama ibu dan anak secara rutin untuk meningkatkan pengetahuan dan efikasi diri ibu dalam menjaga kesehatan gigi anak.
Dental caries remains a major health problem among elementary school children in Indonesia. This study aimed to determine the determinants of maternal behavior in preventing dental caries in children at SD Muhammadiyah Complex Gresik, East Java, based on the Health Belief Model (HBM). A cross-sectional design was applied to 135 mothers selected by multistage random sampling. Data were collected through interviews using validated questionnaires and analyzed using chi-square and logistic regression tests. The results showed that 51.1% of mothers exhibited poor behavior in preventing dental caries in their children. Factors significantly associated with maternal behavior were knowledge (p < 0.001), self-efficacy (p < 0.001), and perceived benefits (p = 0.013). Self-efficacy was identified as the dominant factor, with mothers who had high self-efficacy being nearly 14 times more likely to engage in positive preventive behavior compared to those with low self-efficacy, after adjusting for other variables. Therefore, it is recommended that schools collaborate with health centers to strengthen the implementation of the School Dental Health Program (UKGS) by involving parents, especially mothers, in educational activities held every six months related to dental caries prevention. Additionally, providing educational media such as posters or leaflets at school and organizing tooth brushing simulations with mothers and children are needed to improve mothers' knowledge and self-efficacy in maintaining their children's oral health.
T-7335
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Firda Azizah Ahmad; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Dien Anshari, Syarah Desvania
Abstrak:
Read More
Latar belakang: Pemerintah DKI Jakarta melakukan berbagai upaya untuk mengatasi HIV/AIDS melalui berbagai inisiatif: layanan tes HIV, pengobatan PrEP, dan kondom gratis. LSL di wilayah ini masih menghadapi tantangan dalam mengakses kondom gratis. Perilaku berganti-ganti pasangan melalui aplikasi meningkatkan risiko hubungan seksual tanpa kondom, yang berpotensi menyebabkan penularan HIV/AIDS yang lebih tinggi. Penelitian ini membahas faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pencegahan HIV/AIDS, khususnya konsistensi penggunaan kondom pada LSL di DKI Jakarta. Metode: Studi cross-sectional melalui kuesioner pada bulan November 2023 melibatkan 208 responden, mengetahui konsistensi penggunaan kondom, pengetahuan tentang HIV, dan persepsi pencegahan HIV/AIDS. Pengetahuan terkait HIV dinilai dengan menggunakan kuesioner HIV-K18 dan teori Health Belief Model. Menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan p-value <0,05 dianggap signifikan. Hasil: Di antara 189 responden yang memenuhi syarat, tingkat seks aman dengan menggunakan adalah 54,5%. Responden yang memiliki persepsi keparahan (p-value 0,035), persepsi manfaat (p-value 0,006), persepsi hambatan (p-value 0,039), dan efikasi diri (p-value 0,015) yang lebih tinggi lebih cenderung menerapkan perilaku seks aman menggunakan kondom. Kesimpulan: Sebagian besar LSL di DKI Jakarta masih berisiko tinggi terinfeksi HIV/AIDS karena tidak menerapkan perilaku seks aman. Pemerintah perlu merancang program edukasi yang lebih spesifik dan relevan dengan konteks LSL, serta memastikan distribusi kondom gratis yang mudah diakses untuk mengatasi masalah ini.
Background: Despite the Jakarta government's efforts to address HIV/AIDS through various initiatives: HIV testing services, availability of PrEP treatment, and distribution of free condoms. MSM in the region still face challenges in accessing free condoms. The common practice of changing partners through applications increases the risk of unprotected sexual encounters, potentially leading to higher HIV/AIDS transmission. This study examined the factors influencing HIV/AIDS prevention behaviour, specifically condom use among MSM in DKI Jakarta. Methods: A cross-sectional survey was conducted in November 2023 with 208 respondents to assess condom use consistency, HIV knowledge, and perceptions of HIV/AIDS prevention. HIV-related knowledge was assessed using the HIV-K18 questionnaire and the Health Belief Model theory. Univariate and bivariate analyses were used and p-value < 0,05 was considered significant. Result: Among the 189 qualified respondents, the rate of safe sex with the use of a condom was 54.5%. Participants with higher scores on perceived susceptibility (p-value 0,035), perceived benefit (p-value 0,006), perceived barrier (p-value 0,039) and self-efficacy (p-value 0,015) were more likely to report adopting safe sex by using condoms. Conclusion: A significant number of MSM in DKI Jakarta remain at high risk of HIV/AIDS infection due to unsafe sex. The government should design more specific and contextualised education programmes for MSM and ensure that free condoms are easily accessible to address this public health concern.
S-11516
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sa`adatul Aliyah; Pembimbing: Tiara Amelia; Penguji: Evi Martha, Agustina
S-9555
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Siti Masyitah; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Milla Herdayati, Resty Kiantini
Abstrak:
Kanker payudara adalah salah satu jenis kanker yang paling sering menyerang wanita. Sebagian besar wanita penderita kanker payudara datang ke tempat pengobatan dalam kondisi stadium lanjut, padahal kanker payudara dapat dideteksi secara dini dengan rutin melakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI). Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat gambaran praktik SADARI pada mahasiswi S1 reguler Universitas Indonesia tahun 2013 menggunakan pendekatan Health Belief Model. Sampel adalah 287 mahasiswi S1 reguler Universitas Indonesia dari 12 fakultas, diambil dengan metode estimasi proporsi dengan presisi relatif. Hasilnya, sebanyak 51.9% mahasiswi sudah melakukan SADARI, namun hanya 3.3% yang melakukannya secara rutin setiap bulan. Sementara itu variabel usia, pengetahuan, persepsi terhadap manfaat melakukan SADARI, persepsi terhadap hambatan melakukan SADARI, dan persepsi terhadap kemampuan diri melakukan SADARI menunjukkan hubungan yang signfikan dengan praktik SADARI.
Breast cancer is one of the most common cancers among women. Most of the women with breast cancer visit the medical practitioner in late stadium, despite the fact that breast cancer can be detected by routinely doing breast self-examination (BSE). The purpose of the current study was to depict breast self-examination practice on undergraduate female students of Universitas Indonesia by using Health Belief Model (HBM) approach. Samples are 287 undergraduate female students of Universitas Indonesia from 12 faculties, calculated by estimating a population proportion with specified relative precision method. The results showed that 51.9% of the participants reported performing BSE, but only 3.3% that performed BSE regularly. Meanwhile, age, knowledge, perceived benefits of BSE, perceived barriers of BSE, and perceived self efficacy significantly associated to BSE practice.
Read More
Breast cancer is one of the most common cancers among women. Most of the women with breast cancer visit the medical practitioner in late stadium, despite the fact that breast cancer can be detected by routinely doing breast self-examination (BSE). The purpose of the current study was to depict breast self-examination practice on undergraduate female students of Universitas Indonesia by using Health Belief Model (HBM) approach. Samples are 287 undergraduate female students of Universitas Indonesia from 12 faculties, calculated by estimating a population proportion with specified relative precision method. The results showed that 51.9% of the participants reported performing BSE, but only 3.3% that performed BSE regularly. Meanwhile, age, knowledge, perceived benefits of BSE, perceived barriers of BSE, and perceived self efficacy significantly associated to BSE practice.
S-7867
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
