Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 45 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Farenia Ramadhani; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Evi Martha, Hanny Harjulianti
Abstrak: Latar Belakang: Pelaksanaan program vaksinasi sebagai salah satu strategi preventif pengendalian virus COVID-19 memunculkan berbagai macam respon di masyarakat. Penerimaan vaksinasi COVID-19 dan faktor-faktor yang memengaruhinya sangat berdampak pada keberhasilan program. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerimaan vaksinasi COVID-19 pada mahasiswa Universitas Indonesia tahun 2022 berdasarkan teori health belief model. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah desain potong lintang dengan cara pengambilan data primer melalui survei online dengan sampel penelitian yaitu mahasiswa aktif program sarjana. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat dan analisis bivariat untuk mengetahui hubungan antara variabel. Hasil: Dari 295 responden, terdapat 48,1% mahasiswa yang akan melakukan vaksinasi COVID-19. Penerimaan vaksinasi COVID-19 memiliki hubungan yang signifikan dengan pengetahuan, persepsi kerentanan, persepsi keparahan, persepsi hambatan, persepsi manfaat, persepsi kemampuan diri dan isyarat bertindak (p < 0,05). Kesimpulan: Penerimaan vaksinasi COVID-19 pada mahasiswa Universitas Indonesia masih rendah. Berbagai strategi yang efektif harus dilakukan untuk memicu niat mahasiswa melakukan vaksinasi COVID-19. Diperlukan kerjasama antara pemerintah dengan civitas academica melalui sosialisasi/kampanye aktif di kampus dan memaksimalkan chatbot whatsapp Kementerian Kesehatan untuk menguragi keragu-raguan melakukan vaksinasi COVID-19.
Background: COVID-19 vaccination program which known as prevention strategy to control the pandemic shows various response in society. The acceptance of COVID-19 vaccination and its influencing factors give a big impact for the success of the program. The study aims to analyze the acceptance of the COVID-19 vaccination among Universitas Indonesia students in 2022 based on health belief model theory. Methods: This study use a cross-sectional design with primary data through an online survey and the target population constituted undergraduate students. The data analyzed by univariate and bivariate to know the relation between variables. Results: From 295 respondents, about 48,1% intended to accept the vaccination. The acceptance of COVID-19 vaccination has a significant relation with knowledge, perceived susceptibility, perceived severity, perceived barriers, perceived benefits, perceived self efficacy and cues to action (p < 0,05). Conclusions: The acceptance of the COVID-19 vaccination was low among Universitas Indonesia students. Various effective strategies must be done to trigger the intention of COVID-19 vaccination. The cooperation between government and civitas academica through campaign is needed and maximize the use of chatbot whatsapp ministry of health to reduce COVID-19 vaccination hesitation. Keywords: COVID-19, Vaccine Acceptance, Health Belief Model Theory
Read More
S-11146
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hanisa Purwantari; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Dien Anshari, Linda Lia
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan VCT pada LSL di Bogor tahun 2021. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dibagikan secara daring dengan jumlah responden 108 orang. Pemanfaatan VCT sebagai variabel dependen, sedangkan faktor modifikasi (umur, pendidikan terakhir, pekerjaan, dan pengetahuan), persepsi individu (persepsi kerentanan, persepsi keparahan, persepsi manfaat, dan persepsi hambatan) serta isyarat untuk bertindak sebagai variabel independen. Data dianalisis dengan uji chi-square.
Read More
S-10829
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Khoirun Nisa; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Anhari Achadi, Sandi Iljanto, Henny Herlina, Munthe
Abstrak: Penelitian ini membahas tentang analisis kepatuhan minum metadon diklinik metadon Kota Tangerang Banten dengan pendekatan teori Health Belief Model (HBM) tahun 2014. Kepatuhan minum metadon ini dianalisis berdasarkanenam komponen Health Belief Model yaitu Perceived susceptibility (persepsi kerentanan), perceived seriousness (persepsi keseriusan), perceived benefits (persepsi manfaat), perceived barriers (persepsi hambatan), cues to action (isyaratuntuk bertindak) dan self efficacy (keyakinan diri). Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam, telaah dokumen dan observasi. Penelitian menunjukkan bahwa persepsi kerentanan terhadap heroin masih dirasakan meskipun pasien sudah minum metadon, persepsi keseriusan akibat penggunaan heroin membuat pasien patuh minum metadon, demikian juga dengan persepsi manfaat yang dirasakan oleh pasien setelah minum metadon membuat pasien tetap bertahan dalam pengobatan ini. Hambatan terbesar yang dirasakan pasien untuk tetap patuh minum metadon adalah karena masih sering bertemu dengan teman pengguna. Faktor pelayanan yang baik, nasihat orang terdekat seperti orang tua, anak serta keinginan untuk sembuh merupakan suatu isyarat yang dirasakan pasien untuk patuh minum metadon. Demikian juga dengan keyakinan diri untuk bisa terbebas dari heroin dengan terus mengikuti program metadon juga diungkapkan oleh pasien. Kata Kunci :Metadon, Kepatuhan. Health Belief Model
This study discusses the compliance analysis of drinking methadone inmethadone clinics in the city of Tangerang Banten with theory approach Health Belief Model (HBM) in 2014. Adherence to drink methadone is analyzed basedon six components of the Health Belief Model, namely Perceived susceptibility,perceived seriousness, perceived benefits, perceived barriers, cues to action (cueto action) and self-efficacy. This study used qualitative research methods toconduct in-depth interviews, document review and observation.Research shows that perceptions of susceptibility to heroin is still felt eventhough the patient was taking methadone, heroin use due to the perception of theseriousness of making adherent patients taking methadone, as well as perceptions of the benefits experienced by patients after drinking methadone made in the treatment of patients survive this. The biggest obstacle is perceived to remainadherent patients taking methadone is because they are often met with the user'sfriends. Knowledge, good service, the nearest such counsel parents, children andthe desire to heal a perceived cues to adherent patients taking methadone. Likewise, the confidence to be free of heroin with a methadone program also continues expressed by patients. Key words: Methadone, Compliance. Health Belief Model
Read More
T-4124
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hana Fajar Septanti; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Ridwan Zahdi Sjaaf, Jamri Langoy
S-7915
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurfaizah; Pembimbing: Caroline Endah Wuryanigsih; Penguji: Dian Ayubi, Dadang Suhermawan
Abstrak: Studi pada penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan dari determinan perilaku pencegahan COVID-19 berdasarkan model kepercayaan kesehatan pada masyarakat kelompok usia >15 tahun di Jakarta Timur. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Sebanyak 315 responden yang dipilih menggunakan purposive sampling berpartisipasi dengan melakukan pengisian kuesioner berbasis online melalui google form.
Read More
S-10692
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Permatasari; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Tiara Amelia, Mery Aderita
Abstrak: Tujuan Penelitian adalah untuk mengetahui penerimaan warga DKI Jakarta terhadap program Vaksinasi COVID- 19 ditinjau dari Health Belief Model. Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang, dilakukan pada Mei hingga Juni 2021 dengan melibatkan sampel penelitian sebesar 266 responden dengan kriteria inklusi berusia ≥12 tahun, berdomisili di wilayah DKI Jakarta, termasuk kategori penerima vaksinasi tahap 3, responden sudah maupun belum melakukan Vaksinasi COVID-19.
Read More
S-10673
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kezia Chrisiavinta; Pembimbing: Ella Nurlealla Hadi; Penguji: Dian Ayubi, Putu Partini
Abstrak:
Kabupaten Kapuas khususnya wilayah Kecamatan Basarang rentan mengalami kelemahan dalam penerimaan vaksin COVID-19 dosis booster pertama. Angka capaian vaksinasi COVID-19 dosis booster pertama pada bulan November tahun 2022, yaitu sebesar 1.864 jiwa (9,83%). Angka capaian tersebut masih jauh dari tingkat capaian yang telah ditentukan yaitu sebesar 18.691 jiwa sudah tervaksinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku penerimaan vaksin COVID-19 dosis booster pertama dan faktor-faktor terkait, berdasarkan teori health belief model pada masyarakat di Kecamatan Basarang, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah. Penelitian ini menggunakan disain cross sectional, yang datanya dikumpulkan melalui instrumen kuesioner secara online dan teknik pengambilan sampel quota sampling. Dari 150 responden diketahui bahwa sebanyak 51,3% responden menunjukan keinginan untuk menerima vaksin booster pertama. Selain itu diketahui pula bahwa persepsi kerentanan (p = 0,002), persepsi keparahan (p = 0,0001), persepsi manfaat (p = 0,0001), isyarat untuk bertindak (p = 0,0001), dan sub-variabel demografi yaitu anggota keluarga berisiko (p = 0,0001) berhubungan dengan perilaku penerimaan vaksinasi booster pertama COVID-19 di Puskesmas Basarang. Variabel yang memiliki pengaruh terbesar terhadap penerimaan vaksin booster pertama pada penelitian ini adalah isyarat untuk bertindak, dengan nilai POR (95% CI: 4.265-21.624), hal ini berarti responden yang memiliki isyarat bertindak tinggi memiliki peluang 9,6 kali lebih besar untuk berperilaku penerimaan vaksin booster pertama dibandingkan dengan yang isyarat bertindaknya rendah. Puskesmas Basarang dapat melakukan edukasi yang bertujuan untuk meningkatkan perilaku penerimaan vaksin sekaligus mengajarkan targetnya untuk dapat secara aktif merekomendasikan perilaku penerimaan vaksin COVID-19 kepada orang disekitarnya.

Kapuas Regency, especially the Basarang District area, is prone to experiencing weaknesses in receiving the first booster dose of the COVID-19 vaccine. The achievement of the first booster dose of COVID-19 vaccination in November 2022 is 1,864 people (9.83%) is still far from the predetermined ability level, namely 18,691 people have been vaccinated. This study aims to determine the behavior of receiving the first booster dose of the COVID-19 vaccine and other related factors, based on the theory of the health belief model in the community in Basarang District, Kapuas Regency, Central Kalimantan Province. This study used a cross-sectional study, which was collected through an online questionnaire instrument also using quota sampling technique to calculate the sample size. Of the 150 respondents, we discovered that 51.3% of the respondents indicated a desire to receive the first booster vaccine. In this study perceived susceptibility (p = 0.002), perceived severity (p = 0.0001), perceived benefits (p = 0.0001), cues to actions. (p = 0.0001), and the demographic sub-variable, namely at-risk family members (p = 0.0001) had a significant relationship with the desire to receiving the first booster vaccine. The variable that had the greatest influence on receiving the first booster vaccine in this study was cues to actions, with a POR (95% CI: 4.265-21.624). Therefore, KIE activities such as counseling is needed, with the focused aims to teach the target to be able to actively recommend the behavior of receiving the COVID-19 vaccine to people around them.
Read More
S-11178
Depok : FKMUI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggraeni Puspasari; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Ascobat Gani, Setia Pranata, Indri Oktaria Sukmaputri
Abstrak:
Latar Belakang: COVID-19 menyebar secara global dengan cepat. Keadaan darurat kesehatan masyarakat yang serius dan memberikan risiko tinggi kematian terutama pada populasi lansia atau penderita yang mempunyai berbagai komorbid. Dengan besarnya penyebaran COVID-19 secara global dan adanya deklarasi oleh WHO sebagai pandemi darurat kesehatan masyarakat, maka timbul kebutuhan mendesak akan diagnosa yang cepat, vaksin, dan terapi COVID-19. Beberapa merk vaksin kemudian berhasil dikembangkan, namun, respon penerimaan akan melakukan vaksinasi belum banyak diketahui sehingga penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerimaan vaksinasi COVID-19 dengan pendekatan teori Health Belief Model pada masyarakat Indonesia. Metode: Menggunakan metode studi analitik dengan jenis penelitian cross sectional, dengan online survey yang disebar ke masyarakat luas yang kemudian di analisis univarit, bivariat dan multivariat hubungannya dengan penerimaan vaksin COVID-19 Hasil: Dari 472 responden diketahui ada 439 (93%) responden yang menyatakan akan melakukan vaksin apabila vaksin tersedia. Penerimaan vaksin COVID-19 di Indonesia memiliki hubungan yang signifikan dengan persepsi kerentanan (khawatir tertular COVID-19 dan tertulae COVID adalah hal yang mungkin) dengan nilai p = 0.028 dan p = 0.001, persepsi keparahan (COVID-19 menyebabkan komplikasi serius dan takut tertular COVID-19) dengan nilai p = 0.048 dan p = 0.040, persepsi manfaat (vaksinasi mengurangi kemungkinan infeksi/komplikasi dan mengurangi rasa khawatir) dengan nilai p =0.0005 untuk keduanya, persepsi hambatan (khawatir tidak manjur, kemampuan membayar, efek samping, dan kehalalan) dengan nilai p = 0.0005 untuk semua kecuali kemampuan membayar p = 0.032, dan informasi yang memadai dengan nilai p = 0.0005. Kesimpulan: Persepsi hambatan mengenai kekhawatiran tentang efek samping memiliki pengaruh paling besar dengan penerimaan vaksin COVID-19 di Indonesia (OR = 9.7). Diperlukan sosialisasi informasi mengenai efek samping vaksin dan manfaat yang dirasakan setelah vaksin. Diperlukan juga kerjasama dengan media dalam upaya peningkatan penerimaan vaksin COVID-19 di Indonesia

Background: COVID-19 is spreading globally rapidly. A serious public health emergency and a high risk of death, especially in the elderly population or those with multiple comorbidities. With the magnitude of the global spread of COVID-19 and the declaration by WHO as a public health emergency pandemic, there has been a need for rapid diagnosis, vaccines and therapies for COVID-19. Several vaccines have been successfully developed, however, the response to vaccination acceptance is not widely known, so this study aims to analyze the acceptance of COVID-19 vaccination using the Health Belief Model theory approach in Indonesian society. Methods: This study is an analytical study method that uses a cross sectional type of research, by conducting an online survey that is distributed to the wider community which is then analyzed by univariate, bivariate and multivariate analysis by receiving the COVID-19 vaccine as the dependent variable. Results: From 472 respondents, 439 (93%) stating they will take the vaccine if available. Acceptance of the COVID-19 vaccine in Indonesia has a significant relationship with susceptibility (worried about infected COVID-19 and infected COVID19 is possible) with p values = 0.028 and p = 0.001, perceived severity (COVID-19 causes serious complications and afraid of getting infected with COVID-19) with p value = 0.048 and p = 0.040, perceived benefits (vaccination reduces the likelihood of infection/complications and reduces worry) with p-value = 0.0005 for both, perceived barriers (worried about effectiveness, ability to pay, side effects , and halalness) with a value of p = 0.0005 for all except the ability to pay p = 0.032, and sufficient information with a value of p = 0.0005. Conclusion: The role of the HBM component is considered important in determining the acceptance of the COVID-19 vaccine in Indonesia. In terms of strength, perceived barriers regarding concerns about side effects had the most effect on the acceptance of the COVID-19 vaccine in Indonesia (OR = 9.7). It is necessary to promote information about the side effects of the vaccine and the perceived benefits of taking the vaccine. Cooperation with the media is also needed in an attempt to increase the acceptance of the COVID-19 vaccine in Indonesia
Read More
T-6196
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andriani Nur Pratiwi; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Hadi Pratomo, Guntur Daryono
Abstrak: Penelitian ini membahas mengenai perilaku pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) pada siswi SMA. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perilaku SADARI siswi ditinjau dari variabel yang ada di dalam teori health belief model, diantaranya riwayat kanker pada keluarga, pengetahuan, persepsi kerentanan dan keseriusan kanker payudara, persepsi manfaat dan hambatan melakukan SADARI, serta sumber informasi. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan metode penelitian cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran angket kepada 100 orang siswi kelas XII di SMA Negeri 1 Tambun Selatan dengan menggunakan metode pengambilan sampel purposive sampling. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa 34% siswi pernah melakukan SADARI dan 66% siswi lainnya tidak pernah melakukan SADARI. Dari 8 variabel yang diteliti, 3 variabel memiliki hubungan dengan perilaku SADARI siswi. Faktor yang berpengaruh adalah persepsi keseriusan kanker payudara (nilai p=0,040), persepsi hambatan melakukan SADARI (nilai p=0,009), dan sumber informasi (nilai p=0,001). Hasil ini menunjukan perlunya peningkatan kesadaran siswi terhadap kesehatan payudaranya serta adanya pemberian informasi dan konseling terkait dengan kanker payudara dan SADARI.
 

 
This study discusses the behavior of breast self-examination (BSE) in high school students. The objective of this study is to look at BSE behavior among high school students from variables in the theory of health belief models, including a history of cancer in the family, knowledge, perceived seriousness and perceived susceptibility of breast cancer, perceived benefits and barriers to perform BSE, and as well as resources of BSE. In this study using quantitative approaches and cross-sectional study methodes. Data collected through questionnaire to 100 students at SMAN 1 Tambun Selatan using purposive sampling method. Based on the survey results revealed that 34% of students have perform BSE and 66% other never perform BSE. Of 8 variables studied, three variables have a siginificant correlation with BSE behavior. Factors that influence are perceived seriousness of breast cancer (p value= 0.040), perceived barriers to perform BSE (p value= 0.009), and resources (p value= 0.001). These results indicate the need to increase student awareness on breast health as well as the provision of information and counseling related to breast cancer and BSE.
Read More
S-8568
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syahna Amalia Putri; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Dien Anshari, Melia Marwah
Abstrak: Indonesia menempati peringkat kedua kasus tuberkulosis tertinggi di dunia. Di Kota Bekasi, kasus tuberkulosis meningkat dari 43.020 pada 2022 menjadi 52.856 pada 2023. UPTD Puskesmas Pengasinan mencatat lonjakan dari 106 kasus pada 2020 menjadi 300 kasus pada 2024. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor yang memengaruhi perilaku pencegahan penularan tuberkulosis di wilayah UPTD Puskesmas Pengasinan. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif cross-sectional dan teknik quota sampling pada 95 responden usia 18–65 tahun. Data dikumpulkan melalui kuesioner Google Form secara luring. Rata-rata skor perilaku pencegahan TB sebesar 64,6/100. Hasil analisis bivariat dengan uji Chi-square menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara perilaku pencegahan dengan pengetahuan (χ²=10,1; p=0,001), persepsi hambatan (χ²=15,3; p=<0,001), efikasi diri (χ²=7,6; p=0,006), dan sikap (χ²=8,8; p=0,003). Sebaliknya, persepsi kerentanan (χ²=0,26; p=0,610), keparahan (χ²=0,514; p=0,473), manfaat (χ²=0,514; p=0,473), dan isyarat bertindak (χ²=1,2; p=0,261) tidak berhubungan signifikan. Dibutuhkan edukasi interpersonal, skrining tuberkulosis terintegrasi, peningkatan efikasi diri, dan pembentukan sikap positif melalui keterlibatan komunitas.
Indonesia ranks second in the world for the highest number of tuberculosis cases. In Bekasi City, TB cases increased from 43,020 in 2022 to 52,856 in 2023. UPTD Pengasinan Health Center recorded a surge from 106 cases in 2020 to 300 cases in 2024. This study aimed to identify factors influencing TB transmission prevention behaviors in the UPTD Pengasinan Health Center area. A quantitative cross-sectional design with quota sampling was applied to 95 respondents aged 18–65 years. Data were collected through offline-distributed Google Form questionnaires. The average TB prevention behavior score was 64.6 out of 100. Bivariate analysis using the Chi-square test showed significant associations between prevention behavior and knowledge (χ²=10.1; p=0.001), perceived barriers (χ²=15.3; p<0.001), self-efficacy (χ²=7.6; p=0.006), and attitude (χ²=8.8; p=0.003). Conversely, perceived susceptibility (χ²=0.26; p=0.610), severity (χ²=0.514; p=0.473), benefits (χ²=0.514; p=0.473), and cues to action (χ²=1.2; p=0.261) were not significantly associated. Strengthening interpersonal education, integrating TB screening into routine services, enhancing self-efficacy, and fostering positive attitudes through community engagement are needed.
Read More
S-11980
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive