Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dhilaryazti; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Mila Tejamaya, Syarif Usman
S-7676
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sandhy Cahyadi; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Fatma Lestari, Akhmad Suraji, Ratih Fitriani
Abstrak: Akar penyebab sebagian besar kecelakaan industri telah dikaitkan dengan masalah proses keselamatan mulai dari budaya keselamatan yang buruk, kurangnya komunikasi, masalah integritas aset, kurangnya kepemimpinan manajemen dan manusia faktor serta kebijakan yang kurang tepat. Kecelakaan dapat dicegah dengan penerapan yang memadai dari process safety management Proses pemilihan Subcontractor, yang akan di tunjuk di dalam sebuah pekerjaan, merupakan langkah awal untuk menjalankan sebuah sistem perusahaan sebagai pencegahan, pengawasan, implementasi serta peningkatan mutu di dalam sebuah pekerjaan. Penilitian dilakukan secara delphi. Penelitian dilakukan pada bulan febuari 2022 sampai dengan juni 2022. Teknik pengumpulan data melalui pengamatan langsung dan telaah dokumen perusahaan yang berpedoman pada RKK penawaran yang akan di analisis ke dalam pedoman dari International Sustainable Rating System (ISRS) dan teori Process safety Management dari Theophilus. Tujuan lainnya juga adalah jika kebijakan dokumen ini di lakukan secara lebih sesuai maka, sudah dipastikan bisa meningkatkan kinerja keselaman konstruksi subkontraktor dan dari sisi pemerintahan agar dari pihak kementrian PUPR bisa membentuk assessor team pada saat pemeriksaan seleksi vendor di awal, menentukan penilaian tingkat risiko dan mengembangkan lagi poin yang bisa melengkapi untuk meyakinkan bahwa subcontractor ataupun vendor telah menjalankan kebijakan dokumen yang sesuai. Dan bagi perusahaan agar bisa menampilkan peningkatan kinerja keselamatan konstruksi
The root causes of most industrial accidents have been linked to process safety issues ranging from poor safety culture, lack of communication, asset integrity issues, lack of management leadership and human factors as well as inappropriate policies. Accidents can be prevented with adequate application of process safety management. The subcontractor selection process, which will be appointed in a job, is the first step to run a company system for prevention, supervision, implementation and quality improvement in a job. The research was conducted using Delphi. The research was conducted from February 2022 to June 2022. Data collection techniques were through direct observation and review of company documents guided by RKK offers which will be analyzed according to guidelines from the International Sustainable Rating System (ISRS) and Process safety Management theory from Theophilus. Another objective is that if this policy document is carried out in a more appropriate manner then it is certain that it can improve the diving performance of subcontractor construction and from the government side so that the Ministry of PUPR can form an assessor team during the initial vendor selection inspection, determine the risk level assessment and develop Another point that can be completed is to ensure that the subcontractor or vendor has implemented the appropriate document policy. And for the company to be able to display an increase in construction safety performance
Read More
T-6837
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nia Daniati; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Dadan Erwandi, Yuni Kusminanti
Abstrak: Salah satu penyebab terjadinya korban jiwa pada suatu kejadian kebakaran di gedung adalah penghuni gedung yang tidak cepat terevakuasi. Skripsi ini membahas mengenai evaluasi terhadap sarana ERP yang ada di gedung GPA dan MO PT Pupuk Kujang, serta memberikan gambaran proses evakuasi jika terjadi keadaan darurat dalam gedung tersebut. Jenis penelitian ini menggunakan desain deskriptif berdasarkan hasil observasi dan wawancara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi sarana ERP di kedua gedung dan gambaran bagaimana proses evakuasi dilakukan jika terjadi keadaan darurat.Untuk sarana ERP, seperti sarana jalan keluar, pintu darurat, tangga darurat, penerangan darurat, petunjuk arah evakuasi dan tempat berkumpul belum sepenuhnya memenuhi standar yang ditentukan dari NFPA 101 dan Permen PU No. 26/PRT/M/2008. Untuk prosedur tanggap darurat, mulai dari perencanaan sampai penanggulangan sudah terdokumentasi dengan baik pada “Prosedur Emergency dan Evakuasi”, namun prosedur tanggap darurat tersebut merupakan prosedur untuk tanggap darurat di pabrik, bukan di gedung. Kemudian dalam prosedur tersebut, ada beberapa elemen yang tidak sesuai dengan ketentuan dalam ISRS, yaitu jumlah personil P3K dan peralatan P3K yang masih belum mencukupi kuantitasnya. Berdasarkan hasil penelitian, penulis menyarankan agar pihak perusahaan membuat prosedur dan tim tanggap darurat gedung secara khusus, untuk meningkatkan performa kinerja K3 dan tim penanggulangan keadaan darurat dalam memenuhi semua komponen penunjang proses evakuasi di gedung. Antara lain lebih meningkatkan kegiatan inspeksi untuk sarana ERP, redesain sarana ERP bila memungkinkan, mengadakan pelatihan keadaan darurat di kedua gedung secara rutin dan menambah jumlah personil P3K.
 

One of the causes of loss of life in a fire incident in a building is a building that is not fast occupants evacuated. This study discusses the evaluation of the facility Emergency Response Preparedness (ERP) in the Gedung Pusat Admnistrasi (GPA) and the Maintenance Office building (MO) PT Pupuk Kujang, as well as provide an overview of the evacuation in the event of an emergency in the building. This type of research uses descriptive design based on observations and interviews. The purpose of this study was to determine the condition of the means of ERP in both the building and an idea of how the evacuation process to do if an emergency occurs. For means of ERP, as a means of escape, emergency exit, fire escape stairs, emergency lighting, evacuation directions and a assembly point not fully comply with specified standards of NFPA No. 101 and Permen PU. 26/PRT/M/2008. For emergency response procedures, ranging from planning to response has been well documented in the "Prosedur Emergency dan Evakuasi", but the procedure is an emergency response procedures for emergency response in the plant, not in the building. Later in the procedure, there are some elements that are not in accordance with the provisions of the ISRS, the number of personnel and equipment P3K are still not sufficient quantity. Based on these results, the authors suggested that the company establish procedures and emergency response teams in particular buildings, to improve the performance of the K3 performance and emergency response team to meet all the components supporting the evacuation of the building. Among other inspection activities to further improve the means of ERP, ERP redesigning facilities when possible, emergency training in the two buildings on a regular basis and increase the number of personnel P3K.
Read More
S-7680
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Paul Mangiring Ganda Parulian Butar Butar; Pembimbing: Fatma Lestari; Dadan Erwandi, Indri Hapsari Susilowati, Cinthya Febrina Maharani, Hendra Jaya
Abstrak: ABSTRAK Fasilitas Offshore dari perusahaan gas dan bumi pada umumnya berusia tua, membutuhkan perawatan serta penggantian pada beberapa bagian yang sudah rapuh dan berkarat. Penggantian ini dikerjakan oleh perusahaan konstruksi dimana salah satu risiko yang tergolong besar adalah terjadinya kejadian gawat darurat seperti ledakan, kebakaran yang terjadi saat pekerjaan sedang berlangsung. Oleh karena itu kontraktor harus memiliki sistem tanggap darurat dan telah diterapkan dengan baik untuk memastikan para pengsusaha dan pekerja mengetahui kemana mereka harus pergi dan memahami bagaimana memastikan diri mereka aman ketika sebuah kondisi darurat terjadi (ISO22320). Untuk itu perusahaan minyak dan gas bumi harus memastikan pihak kontraktor memiliki sistem manajemen tanggap darurat yang baik, maka diperlukan suatu standard yang cukup baik yang digunakan untuk menilai apakah emergency management yang dimiliki oleh perusahaan kontraktor cukup baik dalam melindungi manpower, aset perusahaan. CSMS merupakan system yang digunakan saat ini untuk mendapatkan kontraktor yang sesuai dengan kebutuhan. Tetapi karena aktivitas yang semakin meningkat dengan tingkat resiko yang juga semakin tinggi CSMS dirasakan perlu dilakukan perubahan. Salah satu perubahan CSMS yang di sarankan adalah pada bagian Emergency Management karena menyangkut kesiapsiagaan perusahaan dalam menangai bahaya dari mulai penilaian resiko, mitigasi sampai upaya pemulihan keadaan sampai normal kembali baik dari sisi manpower, asset dan system. Untuk itu dilakukan penggabungan NFPA 1600 edisi 2016, FEMA, ISRS Level 8 proses 12, ISO 45001 dan vii ISO 22320 yang djadikan tolak ukur dalam menilai kemampuan dari kontraktor dalam menangani management keadaan darurat Penelitian ini menggunakan desain studi deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menyarankan harus di lakukan monitoring yang lebih baik lagi terhadap para kontraktor di lingkungan perusahaan Oil dan Gas agar pelaksanaan managemen emergensi tidak hanya di awal project saja tetapi sepanjang project berlangsung. Beberapa hal yang diperlukan adalah pembuatan risk assessment dengan lebih detail, business impact analisa yang perlu diterapkan dandisarankan agar dapat dipertimbangkan menggantikan CSMS pada bagian Emergency Management dengan hasil penelitian ini yang merupakan penggabungan NFPA 1600 edisi 2016, FEMA, ISRS Level 8 proses 12, ISO 4500, PTK 005 dan ISO 22320 Kata kunci: Gawat Darurat, Tanggap Darurat, Manajemen tanggap darurat NFPA 1600 edisi 2016, FEMA, ISRS Level 8 proses 12, ISO 4500, PTK 005 dan ISO 22320 The Offshore facility of Oil and Gas Company is generally old, requiring maintenance and replacement in some fragile and rusty parts. This replacement is done by a construction company where one of the risks that is large is the occurrence of emergency events such as explosions, fires that occur during work is under way. Contractors therefore should have an emergency response system and be well implemented to ensure that employers and workers know where to go and understand how to make sure they are safe when an emergency occurs (ISO22320). For that purpose, the oil and gas company must ensure that the contractor has a good emergency management system, a good standard is needed to assess whether the emergency management owned by the contracting company is good enough to protect the manpower, the company's assets. CSMS is a system that is used today to get the appropriate contractor to the needs. But because of the ever-increasing activity with a higher level of risk, CSMS is deemed necessary to change. One of the proposed CSMS changes is in the Emergency Management section because it involves the company's preparedness in mitigating the danger from starting risk assessment, mitigation to recovery effort until normal returns from manpower, asset and system side. For that purpose, the merger of NFPA 1600 edition 2016, FEMA, ISRS Level 8 process 12, ISO 45001 and ISO 22320 are used as benchmarks in assessing the ability of contractors in handling emergency management. Some of the things required are the making of risk assessment in more detail, business impact analysis that needs to be applied and it is suggested to consider replacing CSMS in Emergency Management section with the result of this research which is the
Read More
T-5213
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive