Ditemukan 10 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Ruth Christy Setyaningtyas; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Purnawan Junadi, Vetty Yulianty Permanasari, Murniasi Hutapea, Ika Reny Retnowati
Abstrak:
Read More
Kepulauan Seribu merupakan salah satu wilayah kepulauan di Indonesia. Kondisi geografis ini menjadi tantangan dalam memberikan layanan kesehatan optimal bagi masyarakat. Manajemen rujukan pelayanan kesehatan adalah layanan suatu proses pemindahan pasien dari FKTP ke FKTRL dikarenakan belum dapat ditangani secara kompetensi di faskes pertama. Rujukan di wilayah seribu selatan lebih banyak rujukan poli dibandingkan dengan rujukan emergency. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana manajemen rujukan pelayanan kesehatan di wilayah kerja puskesmas kepulauan seribu selatan berjalan. Desain studi kasus kualitatif menggunakan metode pengumpulan data secara wawancara mendalam dan telaah dokumen. Hasil penelitian dilihat dari komponen input, ketersediaan SDMK saat ini sudah sesuai dengan standar minimal sebagai puskesmas maupun pustu, sarana dan prasarana yang dimiliki untuk menujang pelayanan rujukan ada kapal ambulans dan ambulans golf maupun standar jenis layanan di puskesmas, regulasi dalam bentuk SOP rujukan tersedia di masing-masing faskes namun belum ada regulasi yang secara spesifik membahas mengenai rujukan di wilayah kepulauan baik nasional maupun pemerintah daerah, serta sumber pendanaan untuk pelayanan rujukan didapatkan dari APBD dan BLUD. Dilihat dari komponen proccess, koordinasi yang berjalan antara pihak tenaga kesehatan perujuk, tenaga kesehatan rumah sakit rujukan, tenaga kesehatan pengantar rujukan, hingga KSOP berjalan sesuai dengan prosedur rujukan perseorangan yang berlaku. Perpaduan kedua komponen tersebut menghasilkan terlaksananya manajemen rujukan pelayanan kesehatan dengan baik secara dimensi availability, accessibility, dan affordability.
Seribu Islands is an archipelagic region in Indonesia with unique geographic challenges in delivering optimal health services. Referral management at Seribu Selatan Community Health Center involves transferring patients from primary to advanced care due to competency limits at initial facilities. Most referrals are outpatient rather than emergency. This qualitative case study used in-depth interviews and document reviews to analyze referral management in Seribu Selatan. The results show that, in terms of input components, the availability of health human resources in Seribu Selatan meets the minimum standards for both Puskesmas and auxiliary health centers (Pustu). The facilities and infrastructure supporting referral services include ambulance boats and golf ambulances, as well as standard service types at the Puskesmas. Referral regulations in the form of standard operating procedures (SOPs) are available at each health facility based on current regional regulations. However, there are no regulations that specifically address referrals in archipelagic areas at either the national or local government levels. Funding sources for referral services come from the regional budget (APBD) and the Public Service Agency budget (BLUD). Regarding the process component, coordination between referring health workers, referral hospital health workers, referral escorts, and the KSOP (Harbor Master Office) runs according to the applicable individual referral procedures. The integration of these components results in well-executed referral management services in Seribu Selatan, evaluated through the dimensions of availability, accessibility, and affordability.
T-7254
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Novarita; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Krisnawati Bantas, Chita Septiawati, Rizal Rinaldy
T-4092
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fakta Sia Anita; Pembimbing: Sabarinah; Penguji: Wahyu Septiono, Lina Widyastuti
Abstrak:
Read More
Prediksi pertambahan jumlah penduduk dunia menunjukkan Indonesia akan masuk ke dalam negara yang diprediksi akan mengalami pertambahan dalam jumlah besar. Penekanan nilai TFR menjadi salah satu cara dan mempresentasikan hasil kinerja dalam mengendalikan jumlah penduduk. Nilai TFR salah satunya dapat dipengaruhi oleh unmet need kontrasepsi karena berhubungan dengan penggunaan kontrasepsi yang memengaruhi angka kelahiran. Nilai unmet need kontrasepsi di Indonesia masih jauh dari target yang ditetapkan. Terdapat perbedaan angka penurunan unmet need kontrasepsi yang cukup signifikan antara Provinsi Riau dan Provinsi Kepulauan Riau dari tahun 2021 hingga 2023. Provinsi Riau dapat menurunkan nilai unmet need kontrasepsi sebesar 7,81% sedangkan Provinsi Kepulauan Riau hanya dapat menurunkan sebesar 3,12%. Padahal, kedua provinsi tersebut memiliki karakterisitk yang hampir sama, seperti kebudayaan dan kebiasaan masyarakat karena Provinsi Kepulauan Riau merupakan pemekaran dari Provinsi Riau. Hasil penelitian menunjukkan faktor-faktor yang paling berhubungan dengan kejadian unmet need kontrasepsi di Provinsi Riau adalah keterpaparan informasi tentang KB dari petugas (AOR 0,030 CI 95% 0,010-0,084) dan diskusi dengan suami (AOR 2,833 CI 95% 1,352-5,934). Sedangkan di Provinsi Kepulauan Riau menunjukkan status pekerjaan (AOR 1,639 CI 95% 1,011-2,660) dan tempat tinggal (AOR 2,554 CI 95% 1,034-6,306) sebagai faktor-faktor yang memiliki hubungan paling kuat dengan kejadian unmet need kontrasepsi.
Population growth projections indicate that Indonesia will be among the countries expected to experience significant increases. Lowering the Total Fertility Rate (TFR) is one of the strategies to manage population growth effectively, and TFR serves as a key performance indicator in controlling population numbers. One of the factors influencing TFR is the unmet need for contraception, which is directly related to contraceptive use and birth rates. The level of unmet need for contraception in Indonesia is still far from the targeted goal. Between 2021 and 2023, there was a notable difference in the reduction of unmet need for contraception between Riau Province and the Riau Islands Province. Riau Province successfully reduced the unmet need for contraception by 7.81%, whereas the Riau Islands Province only managed a reduction of 3.12%. This is noteworthy because both provinces share similar characteristics, such as culture and societal habits, given that the Riau Islands Province was carved out from Riau Province. Research findings highlight that in Riau Province, the factors most associated with the occurrence of unmet need for contraception are exposure to family planning information from health workers (AOR 0.030, CI 95% 0.010-0.084) and discussions with husbands (AOR 2.833, CI 95% 1.352-5.934). In contrast, in the Riau Islands Province, employment status (AOR 1.639, CI 95% 1.011-2.660) and place of residence (AOR 2.554, CI 95% 1.034-6.306) are the strongest factors associated with the unmet need for contraception.
S-11780
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Deni Agnes Darmawati; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Tri Krianto, Evi Martha, Zamhi Setiawan, Wikandono
Abstrak:
Geografis merupakan salah satu faktor risiko hipertensi, Daerah kepulauan lebihberisiko terkena hipertensi dibandingkan daerah pegunungan. Kepulauan Seribumerupakan daerah Kabupaten Administrasi dari Provinsi DKI Jakarta Indonesia,yang seluruh daerahnya berupa pulau-pulau kecil. Karakteristik penyakit diKepulauan Seribu mulai mengalami pergeseran dengan didominasi denganpenyakit-penyakit degeneratif. Di Kabupaten Administratif Kepulauan Seribupenderita hipertensi mengalami peningkatan pada tahun 2012 dengan persentase8.03% menjadi 15,6% pada tahun 2013. Tujuan dari penelitian ini untukmengetahui hubungan kebiasaan konsumsi makanan tinggi garam dengankejadian hipertensi setelah dikontrol dengan variabel confounding (stres, aktivitasfisik, merokok, konsumsi alkohol, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan,dan riwayat keluarga) di Pulau Panggang dan Pulau Pramuka KabupatenAdministrasi Kepulauan Seribu pada tahun 2016. Penelitian ini dilakukan di PulauPanggang dan Pulau Pramuka Kecamatan Kepulauan Seribu Utara pada Februari2016. Penelitian menggunakan desain studi cross sectional, pengumpulan datadilakukan dengan simpel random sampling melalui wawancara dengan kuesionerpada 176 responden yang berumur ≥40 Tahun. Hasil penelitian ini menemukansebanyak 55.1% responden di Kepulauan Panggang dan Pramuka KecamatanKepulauan Seribu Utara pada tahun 2016 menderita hipertensi, pada respondenyang normotensi, 66,7% nya memiliki kebiasaan konsumsi makanan tinggi garamtidak setiap hari dan sebesar 35,2% memiliki kebiasaan konsumsi makanan tinggigaram setiap hari. Hasil regresi logistik menunjukkan hubungan bermakna antarakebiasaan konsumsi makanan tinggi garam dengan kejadian hipertensi setelahdikontrol dengan variabel stres dan aktivitas fisik ( p value =.05, CI= 2,02-10,04).Kebiasaan Konsumsi makanan tinggi garam setiap hari merupakan faktor risikoterjadinya hipertensi, risiko ini meningkat jika tidak melakukan aktifitas fisik danmengalami stres.Kata Kunci : Hipertensi, Gaya Hidup, Kepulauan, Kepulauan Seribu, KebiasaanKonsumsi Makanan Tinggi Garam
Geographical is one risk factor of hypertension , islands regions exposed to morerisky hypertension compared mountainous regions . Kepulauan Seribuconstituting the district administration of jakarta province of indonesia , whoseentire region in the form of small islands .Characteristic of a disease in KepulauanSeribu began experiencing shift with dominated with degenerative diseases .Inadministrative districts Kepulauan Seribu sufferers of hypertension increased in2012 with the percentage 8.03 % become 15.6 % in 2013 .The purpose of researchis to know the relationship habits of consumption of foods high in salt withhypertension after scene controlled with confounding variables (stress , physicalactivity , smoking , the consumption of alcohol , age , sexes , education , work ,and family history) on the Pulau Panggang and Pulau Pramukan KabupatenAdministrasi Kepulauan Seribu on 2016. The study is done on the PulauPanggang and Pulau Pramuka Kepulauan Seribu Utara in february 2016. Theresearch uses design cross sectional study, data collection is done with simplerandom sampling through interviews with on 176 the respondents from ≥40 years.The results of this study found some 55.1 % respondents in the Pulau Panggangand Pulau Pramuka in 2016 suffers from hypertension, on respondentsnormotensi, 66,7 % him have a habit of food consumption high salt not every dayof 35,2 % have a habit of food consumption high salt every day. The logisticsregression show the relation between a meaningful food consumption in the highsalt hypertension after controlled variable stress and physical activity ( p value =.05, CI 95% = 2,02-10,04). Habit of food consumption high salt every day is a riskof hypertension, this risk increase if not doing activities physical and stress.Key word: Hypertension, lifestyle, islands, Kepulauan Seribu, habit of foodconsumption high salt
Read More
Geographical is one risk factor of hypertension , islands regions exposed to morerisky hypertension compared mountainous regions . Kepulauan Seribuconstituting the district administration of jakarta province of indonesia , whoseentire region in the form of small islands .Characteristic of a disease in KepulauanSeribu began experiencing shift with dominated with degenerative diseases .Inadministrative districts Kepulauan Seribu sufferers of hypertension increased in2012 with the percentage 8.03 % become 15.6 % in 2013 .The purpose of researchis to know the relationship habits of consumption of foods high in salt withhypertension after scene controlled with confounding variables (stress , physicalactivity , smoking , the consumption of alcohol , age , sexes , education , work ,and family history) on the Pulau Panggang and Pulau Pramukan KabupatenAdministrasi Kepulauan Seribu on 2016. The study is done on the PulauPanggang and Pulau Pramuka Kepulauan Seribu Utara in february 2016. Theresearch uses design cross sectional study, data collection is done with simplerandom sampling through interviews with on 176 the respondents from ≥40 years.The results of this study found some 55.1 % respondents in the Pulau Panggangand Pulau Pramuka in 2016 suffers from hypertension, on respondentsnormotensi, 66,7 % him have a habit of food consumption high salt not every dayof 35,2 % have a habit of food consumption high salt every day. The logisticsregression show the relation between a meaningful food consumption in the highsalt hypertension after controlled variable stress and physical activity ( p value =.05, CI 95% = 2,02-10,04). Habit of food consumption high salt every day is a riskof hypertension, this risk increase if not doing activities physical and stress.Key word: Hypertension, lifestyle, islands, Kepulauan Seribu, habit of foodconsumption high salt
T-4689
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Herry Yuswara; Pembimbing: Budi Utomo; Pneguji: Artha Prabawa, Nurrahmiati
Abstrak:
Penelitian bertujuan untuk mengembangkan Sistem Informasi penempatan bidan ptt di daerah terpencil perbatasan dan kepulauan. Dalam menentukan daerah penempatan menggunakan indikator jumlah ketersediaan bidan ptt dan jumlah desa yang berada di daerah terpencil perbatasan dan kepulauan. Metodologi yang digunakan dalam pengembangan sistem pendukung keputusan ini adalah System Development Life Cycle (SDLC). Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara wawancara mendalam (indepth interview). Data sekunder dilakukan dengan mempelajari formulir ketersediaan dan usul kebutuhan bidan ptt. Keluaran sistem informasi yang dihasilkan dari prototype antara lain laporan daftar bidan ptt daerah terpencil perbatasan dan kepulauan, rekapitulasi pemenuhan bidan ptt secara terperinci, serta laporan kabupaten/kota yang menjadi prioritas penempatan bidan ptt. Penelitian yang dilakukan telah menghasilkan rancangan Sistem informasi Penempatan Bidan PTT di Daerah Terpencil Perbatasan dan Kepulauan yang dapat membantu menentukan kebutuhan dan rencana penempatan bidan ptt, sehingga diharapkan pemerataan pelayanan kesehatan di daerah terpencil perbatasan dan kepulauan dapat tercapai. Kata kunci: Penempatan, bidan, sistem informasi, daerah terpeencil, perbatasan, dan kepulauan
Read More
T-4325
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hanifah Mulia Rachman; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Kusharisupeni Djokosujono
Abstrak:
Read More
Obesitas sentral merupakan suatu kondisi terjadinya penumpukan lemak berlebih di daerah abdomen. Obesitas sentral terkait dengan peningkatan risiko terjadinya diabetes melitus tipe 2, dislipidemia, hipertensi dan penyakit kardiovaskular. Provinsi Kepulauan Riau merupakan provinsi dengan prevalensi obesitas sentral tertinggi di pulau Sumatera, yakni mencapai 42,5% pada tahun 2023. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan kejadian obesitas sentral pada penduduk usia dewasa (19 – 44 tahun) di Provinsi Kepulauan Riau berdasarkan jenis kelamin dengan menganalisis data sekunder SKI 2023. Penelitian ini melibatkan 3466 penduduk berusia 19 – 44 tahun. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji chi square dan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi obesitas sentral pada penduduk dewasa usia 19 – 44 tahun di Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2023 adalah sebesar 38,3% dengan prevalensi obesitas sentral pada perempuan sebesar 54,7% dan pada laki-laki sebesar 24,6%. Pada kelompok perempuan, variabel yang berhubungan signifikan dengan obesitas sentral antara lain usia, status pernikahan, indeks massa tubuh dan gangguan mental emosional. Sedangkan pada kelompok laki-laki antara lain usia, tingkat pendidikan, status pernikahan, konsumsi makanan berlemak, konsumsi minuman manis, konsumsi minuman soda, konsumsi minuman berenergi, konsumsi sayur, status merokok dan aktivitas fisik dan indeks massa tubuh (p-value < 0,05). Faktor dominan yang berhubungan dengan obesitas sentral setelah dikontrol variabel lainnya adalah indeks massa tubuh baik pada kelompok perempuan (OR = 12,794) maupun kelompok laki-laki (OR = 11,581).
Abdominal obesity is a condition characterized by excessive fat accumulation in the abdominal region. Abdominal obesity is associated with an increased risk of type 2 diabetes mellitus, dyslipidemia, hypertension, and cardiovascular disease. The Riau Islands Province has the highest prevalence of central obesity in Sumatra, reaching 42.5% in 2023. This study aims to identify the determinants of central obesity among adults aged 19–44 years in the Riau Islands Province based on gender by analyzing secondary data from the 2023 SKI survey. The study involved 3,466 adults aged 19–44 years. Data analysis was conducted using the chi-square test and multiple logistic regression analysis. The results showed that the prevalence of central obesity among adults aged 19–44 years in the Riau Islands Province in 2023 was 38.3%, with a prevalence of 54.7% among women and 24.6% among men. Among women, variables significantly associated with abdominal obesity included age, marital status, body mass index, and emotional mental disorders. Among men, these include age, educational level, marital status, consumption of fatty foods, consumption of sweet drinks, consumption of soda, consumption of energy drinks, consumption of vegetables, smoking status, physical activity, and body mass index (p-value < 0.05). The dominant factor associated with central obesity after controlling for other variables was body mass index in both the women's group (OR = 12.794) and the men's group (OR = 11.581).
S-11936
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Evalindo Hutabarat; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Jaslis Ilyas, Prastuti Soewondo, Savitri Handayana, Murniasi Hutapea
Abstrak:
Read More
Penyakit jantung dan pembuluh darah masih merupakan salah satu penyebab utama di Indonesia dan berdampak besar terhadap biaya layanan kesehatan. Untuk menjawab tantangan ini, Kementerian Kesehatan mengembangkan jejaring rumah sakit pengampuan, sebuah sistem kolaboratif yang bertujuan memperluas akses dan meningkatkan mutu layanan kardiovaskular. Dalam jejaring ini, RSUD Kepulauan Seribu ditetapkan sebagai rumah sakit jejaring pengampuan layanan kardiovaskular pada tingkat madya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui RSUD Kepulauan Seribu dalam menjalankan peran tersebut, dengan menelaah berbagai aspek geografis, sosio-demografis, ekonomi, tata kelola dan manajemen, pembiayaan, infrastruktur, sistem informasi dan teknologi, sumber daya manusia, serta rantai pasok. Melalui pendekatan kualitatif dan studi kasus, data diperoleh dari wawancara mendalam serta analisis dokumen. Hasilnya menunjukkan bahwa RSUD Kepulauan Seribu saat ini belum siap menjalankan fungsi jejaring pengampuan layanan kardiovaskular pada tingkat madya secara optimal. Berbagai tantangan masih menghambat, mulai dari ketiadaan dokter spesialis jantung, infrastruktur yang belum sesuai standar nasional, hingga ketergantungan pembiayaan pada APBD. Meskipun demikian, terdapat peluang pengembangan layanan melalui kolaborasi dengan rumah sakit pengampu dan penguatan sistem informasi kesehatan. Penelitian ini merekomendasikan sejumlah langkah strategis, seperti memperkuat tata kelola, membangun infrastruktur yang memadai, mengembangkan tenaga medis, dan memperluas kolaborasi lintas sektor sebagai bagian dari transformasi sistem rujukan layanan kesehatan nasional.
Cardiovascular disease remains one of the leading causes of death in Indonesia and significantly contributes to the national healthcare expenditure. In response to this challenge, the Ministry of Health has developed a hospital mentoring network—a collaborative system aimed at expanding access to and improving the quality of cardiovascular services. Within this network, the Kepulauan Seribu Regional General Hospital (RSUD Kepulauan Seribu) has been designated as a secondary-level mentoring hospital for cardiovascular services. This study aims to assess the hospital’s readiness in fulfilling its role by examining various factors, including geographical conditions, socio-demographic and economic contexts, governance and management, financing, infrastructure, information systems and technology, human resources, and supply chain. Using a qualitative case study approach, data were collected through in-depth interviews and document analysis. The findings indicate that RSUD Kepulauan Seribu is currently not fully prepared to carry out its role as a secondary-level cardiovascular mentoring hospital. Several challenges remain, such as the absence of a cardiologist, infrastructure that does not yet meet national standards, and financial dependence on local government funding (APBD). Nevertheless, there are opportunities for service development through collaboration with mentoring hospitals and strengthening the health information system. This study recommends several strategic actions, including strengthening governance, developing adequate infrastructure, expanding the medical workforce, and enhancing cross-sectoral collaboration as part of the transformation of the national referral healthcare system.
T-7299
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nur Ariati Mukharomah; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Bambang Wispriyono, Budi Hartono, Medita Ervianti, Ikha Purwandari
Abstrak:
Read More
Diare adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada balita, terutama di daerah dengan keterbatasan akses air bersih seperti kepulauan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kualitas lingkungan dengan status kesehatan balita dalam hal ini kejadian diare di Pulau Kelapa. Desain penelitian yang digunakan adalah studi kasus-kontrol dengan melibatkan responden dari kelompok kasus (balita diare) dan kelompok kontrol (balita tidak diare). Pengambilan data melalui wawancara dan uji laboratorium terhadap kualitas air bersih dan feses balita untuk mendeteksi keberadaan diarrheagenic E.coli. Periode penelitian selama tiga bulan dengan sampel kasus sebesar 20 sampel dan sampel kontrol sebesar 74 sampel. Analisis bivariat menunjukkan bahwa perilaku cuci tangan pakai sabun dan sumber air minum berhubungan signifikan dengan kejadian diare pada balita (OR = 3.789; OR = 5,914). Analisis multivariat menunjukkan bahwa sumber air minum adalah faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian diare balita (OR = 5,393). Temuan ini menunjukkan pentingnya intervensi pada perilaku higienis dan penyediaan air minum yang aman untuk mencegah diare pada balita khususnya di wilayah kepulauan.
Diarrhea is a major cause of morbidity and mortality in toddlers, especially in areas with limited access to clean water such as islands. This study aims to analyze the relationship between environmental quality and the health status of toddlers in this case the incidence of diarrhea on Kelapa Island. The research design used was a case-control study involving respondents from the case group (toddlers with diarrhea) and the control group (toddlers without diarrhea). Data collection through interviews and laboratory tests on the quality of clean water and toddler feces to detect the presence of diarrheagenic E. coli. The study period was three months with a case sample of 20 samples and a control sample of 74 samples. Bivariate analysis showed that handwashing behavior with soap and drinking water sources were significantly associated with the incidence of diarrhea in toddlers (OR = 3.789; OR = 5.914). Multivariate analysis showed that drinking water sources were the most influential factor in the incidence of diarrhea in toddlers (OR = 5.393). These findings indicate the importance of interventions on hygienic behavior and the provision of safe drinking water to prevent diarrhea in toddlers, especially in island areas.
T-7235
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dede Anwar Musadad; Promotor: Nuning MK. Masjkuri; Ko-Promotor: Mondastri Korib Sudaryo, Nurhayati Prihartono; Penguji: Tri Budi W. Rahardjo, Agus Suwandono, Syahrizal Syarif, Soetiarto Soetiarto, Farida
D-303
Depok : FKM-UI, 2014
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Chreisye Kardinalia Fransisca Mandagi; Promotor: Dumilah Ayuningtyas; Kopromotor: Adang Bachtiar, Puput Oktamianti; Penguji: Rita Damayanti, Wachyu Sulistiadi, Maxi Rein Rondonuwu, Harimat Hendarwan, Fajar Arianti
Abstrak:
Read More
Rendahnya cakupan imunisasi dasar lengkap (IDL) di wilayah perbatasan berpulau, khususnya Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud, mencerminkan tantangan geografis, logistik, sosial-budaya, serta ketidakstabilan tata kelola yang tidak terakomodasi oleh kebijakan nasional yang bersifat seragam. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model kebijakan adaptif IDL berbasis konteks kepulauan untuk memperkuat respons sistem imunisasi daerah. Desain penelitian menggunakan mixed-method sequential explanatory, diawali survei kuantitatif terhadap 101 ibu balita untuk menguji hubungan determinan geografis, akses layanan, pengetahuan, sikap, dan persepsi kebijakan terhadap status IDL. Tahap kualitatif melibatkan 32 informan kunci (pemerintah daerah, puskesmas, tokoh adat/agama, kader, dan ibu balita) melalui wawancara mendalam untuk mengeksplorasi faktor-faktor struktural, sosial budaya, serta dinamika tata kelola. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak adanya signifikansi statistik pada beberapa variabel utama menandakan dominasi hambatan struktural, khususnya ketidakpastian geografis, logistik rantai dingin, dan koordinasi lintas sektor. Analisis tematik mempertegas bahwa kebijakan nasional belum adaptif terhadap arsitektur archipelagic governance. Penelitian ini menghasilkan Model Kebijakan Adaptif KAIL–KAIT–POLA 2.0, yang menekankan fleksibilitas operasional, komunikasi lintas-aktor, dan tata kelola kolaboratif untuk meningkatkan stabilitas cakupan IDL. Rekomendasi mencakup penyusunan SOP adaptif kepulauan, penguatan transportasi vaksin, integrasi tokoh adat, dan perluasan ruang keputusan daerah.
Coverage of complete basic immunization (CBI) in Indonesia’s archipelagic border regions remains persistently low, particularly in the Sangihe and Talaud Islands, where geographical fragmentation, logistical uncertainty, and socio-cultural dynamics hinder effective policy implementation. This study aims to develop an adaptive CBI policy model tailored to archipelagic border contexts. A mixed-method sequential explanatory design was employed, beginning with a quantitative survey of 101 mothers of under five children to examine associations between geographic access, service availability, knowledge, attitudes, and policy perception with CBI status. The qualitative phase involved 32 key informants (district officials, health managers, puskesmas staff, community and religious leaders, and mothers) through in-depth interviews to explore structural barriers, cultural determinants, and governance dynamics. Quantitative results revealed limited statistical significance across several determinants, indicating predominant structural constraints, including unstable maritime transport, cold-chain vulnerabilities, and rigid top-down policy mechanisms. The qualitative synthesis demonstrated misalignment between national immunization policy and the realities of archipelagic governance, where uncertainty is systemic and requires situational adaptation. The study formulates the KAIL–KAIT–POLA 2.0 Adaptive Policy Model, emphasizing flexible operational pathways, strengthened cross-actor communication, and collaborative governance to stabilize CBI coverage. Recommendations include developing adaptive SOPs for island settings, improving vaccine logistics, formalizing engagement of local leaders, and expanding local decision space. Keywords: complete basic immunization; adaptive policy; archipelagic governance; border island
D-614
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
