Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rizka Asshafa Firdausi; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Robiana Modjo, Ali Syachrul Chairuman
S-10470
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nobella Arifannisa Firdausi; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Robiana Modjo, Neni Herlina
S-10280
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elida Wahyuni; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Lita R. Sianipar
S-6516
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pratiwi Soni Redha; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Dewi Susana, Budi Hartono, Taohid, Fitriyani Dwi Astuti
Abstrak:
Kota Bandung memiki topografi berupa cekungan dan intensitas hujan yang tinggi sehingga berisiko terhadap terjadinya banjir. Kesiapsiagaan tenaga sanitasi lingkungan dan surveilans di lokasi bencana dipengaruhi oleh karakteristik individu, jalur dan tempat evakuasi, protap penanggulangan banjir, sistem informasi dan komunikasi dan biaya operasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesiapsigaan tenaga sanitasi lingkungan dan surveilans pusat kesehatan masyarakat terhadap risiko kesehatan dalam bencana banjir di kota Bandung. Penelitian ini menggunakan desain crosssectional , teknik pengambilan sampel adalah simple randomed sampling pada 40 Puskesmas di Kota bandung pada bulan mei tahun 2022. Hasil penelitian adalah kesiapsiagaan tenaga sanitasi lingkungan dan surveilans terhadap risiko kesehatam dalam bencana banjir sebesar sebanyak 26 orang (51%), adanya hubungan yag signifikan antara lama bekerja, pelatihan dan biaya operasional terhadap kesiapsiagaan tenaga sanitasi lingkungan dan surveilans Puskesmas terhadap risiko kesehatan dalam bencana banjir di kota Bandung .Lama bekerja dan biaya operasional merupakan faktor dominan yang paling berhubungan. Sarannya dengan memfasilitasi pelatihan terkait penanggulangan kebencanaan ,peningkatan kapasitas profesi, menyediakan tempat dan fasilitas evakuasi, membuat sistem informasi dan komunikasi yang terintegrasi, menyediakan biaya operasional.

Bandung has a topography in the form of basins and high rainfall intensity so that it is at risk of flooding. The preparedness of environmental sanitation and surveillance personnel at disaster locations is influenced by individual characteristics, evacuation routes and places, flood management procedures, information and communication systems and operational costs. This study aims to determine the preparedness of environmental sanitation workers and surveillance of public health centers against health risks in the flood disaster in the city of Bandung. This study used a cross-sectional design, the sampling technique was simple randomed sampling at 40 Public health center in Bandung in May 2022. The result of the study was preparedness environmental sanitation workers and surveillance of public health centers against health risks in the flood disaster are 26 people (51%), there is a significant relationship between length of work, training and operational costs on the preparedness of environmental sanitation workers and Public health center surveillance of health risks in flood disasters in Bandung. Length of work and operating costs are the dominant factors that are most related. Some advice are to facilitate training about disaster management and increase professional capacity , building the evacuation places and facilities, making integrated information and communication systems, also providing operational costs.
Read More
T-6586
Depok : FKM UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Magistia Ramadhani Candrarini; Pembimbing: L. Meily; Penguji: Chandra Satrya, Helen Andriani, Hasti Wulandari, Alexander, Gunawan, Tribiantoro
Abstrak:
Indonesia dengan tingkat resiko bencana 43,50% menempati urutan ke-2 dari 193 negara di dunia,. Rumah sakit memiliki peranan kunci dalam penanggulangan bencana dan kegawatdaruratan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kesiapsiagaan rumah sakit dalam menghadapi bencana dan kegawatdaruratan, serta menjelaskan temuan nilai rendah dan memberikan masukan perbaikan terkait bencana dan kegawatdaruratan RS. Penelitian ini dilakukan dengan mix method sequential explanatory design. Metode kuantitatif dilakukan dengan menganalisis data sekunder HSI RS X Kota semarang, temuan permasalahan pada data sekunder tersebut kemudian digali lebih dalam menggunakan metode kualitatif dengan data primer hasil wawancara mendalam pada beberapa narasumber. Lokasi penelitian di Rumah sakit X berada di Kota Semarang dengan pelayanan terlengkap, selain sebagai tempat rujukan Jawa Tengah juga sebagai rumah sakit pendidikan. Hasil penelitian mendapatkan beberapa elemen manajemen kegawatdaruratan perlu mendapatkan perhatian dan perbaikan, antara lain tanggungjawab dan pelatihan anggota komite, karena tidak semua staf menerima pelatihan; penunjukan koordinator manajemen kegawatdaruratan dan bencana, karena tugas yang telah diberikan pada staf bukan merupakan tugas utamanya; perencanaan kegawatdaruratan dan bencana, sub perencanaan tentang spesifikasi bahaya di rumah sakit, SOP aktivasi dan deaktivasi perencanaan, latihan, evaluasi dan koreksi pelaksanaan perencanaan kegawatdaruratan dan bencana rumah sakit, perencanaan pemulihan rumah sakit, rendah karena tidak dilakukannya audit dan evaluasi dalam waktu 1 tahun terakhir; prosedur komunikasi dengan publik dan media, rendah karena tidak ada pembaruan dalam 1 tahun terakhir; daftar kontak staf karena tidak ada pembaruan dalam 3 bulan dan tidak ada daftar kontak tertulis; kejelasan tugas staf dalam penanganan kegawatdaruratan dan bencana serta pemulihannya, karena tidak semua staf menerima tugas tertulis dan pelatihan; pelayanan psikososial, rendah karena tidak ada staf khusus yang memberikan pelayanan psikososial; pencegahan kontaminasi hazard kimia dan biologis, perlengkapan perlindungan diri dan isolasi pada penyakit infeksius dan epidemi, beberapa hal tersebut rendah karena pelatihan dan pengujian staf tidak dilakukan setiap tahun. Dengan demikian, perlu adanya perbaikan manajemen kegawatdaruratan dan bencana yang komprehensif dari rumah sakit

Indonesia with a disaster risk level of 43.50% ranks 2nd out of 193 countries in the world. Hospitals have an important role in preventing disasters and emergencies. This research aims to look at hospital preparedness in dealing with disasters and emergencies as well as explain the findings of low scores and provide input for improvements related to disasters and hospital emergencies.This research method is a mixed method sequential explanatory design. The quantitative method was carried out by analyzing secondary data from HSI Hospital, and the qualitative methode carried out by deep interview. The research location at Hospital X in Semarang City with the most complete services, apart from being a reference place in Central Java, it is also a teaching hospital. The research results found that several elements in emergency management need attention and improvement, including responsibilities and training of committee members, because not all staff receive training; appointment of emergency and disaster management coordinators, because the tasks assigned to the staff are not the main tasks; emergencies and disaster planning, sub-planning regarding hazard specifications in hospitals, SOP for activation and deactivation planning, training, evaluating and correcting the implementation of disaster emergency planning, hospital recovery planning, low because audits and evaluations were not carried out within the last 1 year; communication procedures with the public and the media, low because there have been no updates in the last 1 year; staff contact lists due to no updates in 3 months and no written contact list; clarity of staff duties in handling emergencies and disasters and their recovery, because not all staff receive written assignments and training; psychosocial services, low because there are no special staff to provide psychosocial services; prevention of chemical and biological hazard contamination, personal protective equipment and isolation against infectious diseases and epidemics, some of which are low because staff training and testing is not carried out annually. Therefore, there is a need to improve comprehensive emergency and disaster management in hospitals.
Read More
T-7145
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Khodijah Parinduri; Promotor: Wachyu Sulistiadi; Kopromotor: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Ede Surya Darmawan, Sutanto Priyo Hastono, Soroy Lardo, Sumarjaya, Hermawan Saputra, Maryami Yuliana Kosim
Abstrak:
Kerentanan rumah sakit di Indonesia dalam menghadapi bencana terlihat dari rata-rata indeks Hospital Emergency Disaster Management yang rendah (0,408) dan kegagalan infrastruktur fisik (hard resilience) saat beban puncak (surge capacity), seperti pada pandemi COVID-19 dan gempa bumi. Modal sosial (social capital) berpotensi menjadi "infrastruktur organisasi non-fisik" (soft resilience) yang mampu mensubstitusi keterbatasan fiskal dan birokrasi, namun pengoptimalannya belum terformulasikan secara terstruktur dalam manajemen bencana rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis, menyintesis, dan merekonstruksi Model Social capital melalui integrasi perspektif strategis (makro) dan operasional (mikro) guna meningkatkan kesiapsiagaan dan ketahanan rumah sakit di wilayah berisiko bencana tinggi (Provinsi Jawa Barat). Penelitian ini menggunakan desain Exploratory Sequential Mixed Methods. Tahap kualitatif melibatkan 18 informan kunci (praktisi senior dan pakar manajemen bencana) untuk mengidentifikasi 78 indikator modal sosial. Tahap kuantitatif melibatkan 110 responden dari 5 tipologi rumah sakit di Jawa Barat (RS Vertikal, RSUD, dan RS Swasta) yang dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling (SEM-PLS). Kualitatif Tahap 2 pada 5 RS mewawancara 34 informan. Tahap akhir adalah rekonstruksi model melalui validasi konsensus ahli. Analisis SEM-PLS menunjukkan bahwa Modal Sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kesiapsiagaan (0,872) dan Ketahanan (0,672), dengan nilai R-Square Ketahanan sebesar 85,2% (kategori sangat kuat). Penelitian ini memetakan tiga lapis kapital: 1) Bonding Capital (Internal RS) berbasis organizational trust dan nilai spiritual ("Employee of Allah"); 2) Bridging Capital (Horizontal) melalui jejaring lintas faskes/organisasi profesi berbasis resiprositas; dan 3) Linking Capital (Vertikal) melalui agile governance dengan otoritas (Kemenkes/BPBD). Temuan menunjukkan adaptasi kontekstual yang khas: RS Vertikal mengandalkan bridging untuk rujukan makro; RSUD memanfaatkan kearifan lokal "Saduluran" untuk substitusi fiskal daerah; dan RS Swasta Filantropi menggunakan kekuatan identitas sosial untuk pertahanan bottom-up yang lincah. Model Social capital merupakan strategi optimasi non-fiskal yang mentransformasikan jejaring manusia menjadi kapasitas resiliensi nyata. Model ini merekomendasikan integrasi elemen penilaian modal sosial dalam Standar Akreditasi Rumah Sakit (Bab MFK) dan penguatan kurikulum sosiologi kebencanaan pada pendidikan manajemen kesehatan untuk memutus siklus repitisi kesalahan manajemen krisis.

The vulnerability of hospitals in Indonesia in dealing with disasters can be seen from the low average Hospital Emergency Disaster Management index (0.408) and the failure of physical infrastructure (hard resilience) during peak loads (surge capacity), such as in the COVID-19 pandemic and earthquakes. Social capital has the potential to become a "non-physical organizational infrastructure" (soft resilience) that is able to substitute fiscal and bureaucratic limitations, but its optimization has not been formulated in a structured manner in hospital disaster management. This research aims to analyze, synthesize, and reconstruct the Social capital Model through the integration of strategic (macro) and operational (micro) perspectives to improve hospital preparedness and resilience in high-risk disaster areas (West Java Province). This study uses the design of Exploratory Sequential Mixed Methods. The qualitative stage involved 18 key informants (senior practitioners and disaster management experts) to identify 78 social capital indicators. The quantitative stage involved 110 respondents from 5 hospital typologies in West Java (Vertical Hospitals, Hospitals, and Private Hospitals) which were analyzed using Structural Equation Modeling (SEM-PLS). Qualitative Phase 2 at 5 hospitals interviewed 34 informants. The final stage is the reconstruction of the model through expert consensus validation. The SEM-PLS analysis shows that Social capital has a positive and significant effect on Preparedness (0.872) and Resilience (0.672), with an R-Square value of Resilience of 85.2% (very strong category). This study maps three layers of capital: 1) Bonding Capital (Internal RS) based on organizational trust and spiritual values ("Employee of Allah"); 2) Bridging Capital (Horizontal) through a network of reciprocity-based health facilities/professional organizations; and 3) Linking Capital (Vertical) through agile governance with authorities (Ministry of Health/BPBD). The findings show typical contextual adaptations: Vertical RS relies on bridging for macro references; The hospital utilizes the local wisdom of "Duluran" for regional fiscal substitution; and Philanthropy Private Hospitals use the power of social identity for nimble bottom-up defenses. The social capital model is a non-fiscal optimization strategy that transforms human networks into real resilience capacity. This model recommends the integration of social capital assessment elements in Hospital Accreditation Standards (MFK Chapter) and strengthening the disaster sociology curriculum in health management education to break the cycle of repetition of crisis management errors.
Read More
D-643
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Raissa Rifkandini; Pembimbing: Hendra; Penguji: Fatma Lestari, Ali Syahrl Chairuman, Megawati Kartika
Abstrak: Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan esensial yang harus mampu mempertahankan fungsinya pada saat dan setelah bencana terjadi. RSUD Koja sebagai rumah sakit rujukan regional yang berlokasi di Jakarta Utara menghadapi profil bahaya majemuk (multi-hazard profile), mencakup risiko tinggi banjir/rob, gelombang ekstrim dan abrasi, serta cuaca ekstrim, di samping risiko gempa bumi berskala sedang dan bahaya antropogenik yang bersumber dari kepadatan kawasan industri dan pelabuhan di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kesiapsiagaan bencana RSUD Koja menggunakan instrumen Hospital Safety Index (HSI) yang dikembangkan oleh World Health Organization (WHO) dan Pan American Health Organization (PAHO), guna menghasilkan rekomendasi berbasis bukti bagi penguatan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit (K3RS). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif, didukung data kualitatif dari wawancara mendalam. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara dengan informan kunci dari unit Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit (IPSRS), Kesehatan Keselamatan dan Lingkungan Kerja (K3KL), dan bagian umum, serta telaah dokumen teknis. Penilaian keamanan struktural dilakukan secara terpisah untuk lima gedung RSUD Koja (Gedung A-E) mengingat perbedaan periode konstruksi dan riwayat pemeliharaan tiap gedung. Instrumen penilaian yang digunakan adalah Safe Hospital Checklist WHO/PAHO yang terdiri dari empat modul, yaitu bahaya, keamanan struktural (bobot 50%), keamanan non-struktural (bobot 30%), dan manajemen bencana serta kegawatdaruratan (bobot 20%), dengan nilai tiap komponen ditransformasi menggunakan formula pembobotan HSI untuk menghasilkan indeks keselamatan agregat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa RSUD Koja memperoleh nilai HSI sebesar 0,81 (81%) yang menempatkannya dalam Kategori A berdasarkan klasifikasi WHO/PAHO. Nilai indeks keamanan struktural mencapai 0,58 (kategori sedang), keamanan non-struktural mencapai 0,96 (kategori tinggi), dan manajemen bencana serta kegawatdaruratan mencapai 0,89 (kategori tinggi). Penilaian per gedung menunjukkan variasi signifikan, dengan Gedung A (dibangun tahun 2019) memperoleh indeks tertinggi (0,69) dan Gedung B (berusia lebih dari 30 tahun) memperoleh indeks terendah (0,49) dengan nilai kerentanan tertinggi (0,51), mengindikasikan adanya weakest link phenomenon pada kompleks rumah sakit. Komponen non-struktural menjadi kontributor nilai tertinggi, didukung oleh sistem kelistrikan cadangan berkapasitas total 3.600 kVA dengan cadangan bahan bakar untuk 7 hari operasional serta kapasitas cadangan air bersih sebesar 150.000 m3, keduanya jauh melampaui standar minimum kesiapsiagaan bencana rumah sakit. Komponen struktural menjadi limiting factor utama, dengan nilai yang bahkan lebih rendah dibandingkan tiga rumah sakit pembanding pada penelitian terdahulu. Analisis komparatif dengan instrumen kesiapsiagaan bencana lain, yaitu Kaiser Permanente Hazard Vulnerability Analysis, FEMA P-154 Rapid Visual Screening, dan WHO Comprehensive Safe Hospital Framework, menegaskan posisi HSI sebagai instrumen paling komprehensif dan sesuai konteks regulasi Indonesia, meskipun memiliki keterbatasan pada kedalaman data teknik struktural. Penelitian ini menyimpulkan bahwa RSUD Koja memiliki kapasitas kesiapsiagaan bencana yang tinggi secara agregat, namun memerlukan penguatan mendesak pada aspek keamanan struktural, khususnya melalui kajian teknis dan retrofit pada Gedung B dan Gedung C, evaluasi jarak pemisah antar-gedung, serta pengembangan skenario Hospital Disaster Plan yang lebih komprehensif untuk mengakomodasi bahaya kegagalan teknologi/siber dan tsunami.
Hospitals are essential healthcare facilities that must be capable of maintaining their functions during and after disasters. As a regional referral hospital located in North Jakarta, Koja District Hospital (RSUD Koja) operates within a complex multi-hazard environment encompassing risks of flooding, earthquakes, extreme weather events, and anthropogenic hazards arising from the surrounding high-density industrial and port areas. This study aims to analyze the level of disaster preparedness at RSUD Koja using the Hospital Safety Index (HSI) instrument developed by the World Health Organization (WHO) and the Pan American Health Organization (PAHO), with the objective of generating evidence-based recommendations for strengthening the Hospital Occupational Health and Safety (K3RS) program. This study employed a quantitative approach with a descriptive design. Data were collected through direct field observation, in-depth interviews with key informants from the Hospital Facilities Maintenance Unit (IPSRS), the Head of the Occupational Health, Safety, and Environment Installation (K3KL), and the Head of General Affairs, Marketing, and Human Resources, as well as review of relevant technical documents. The assessment instrument used was the WHO/PAHO Safe Hospital Checklist, comprising three modules: structural safety (weight 50%), non-structural safety (weight 30%), and emergency and disaster management (weight 20%). Scores for each component were transformed using the HSI weighting formula to derive an aggregate safety index. The results indicate that RSUD Koja achieved an HSI score of 0.88 (88%), placing it in Category A (high safety) under the WHO/PAHO classification. The structural safety index reached 0.84, the non-structural safety index reached 0.96, and the emergency and disaster management index reached 0.89. The non-structural component emerged as the highest-contributing factor, supported by a reliable backup power system with a total capacity of 3,600 kVA, Uninterruptible Power Supply (UPS) systems in critical care areas, emergency fuel reserves sufficient for a minimum of 72 hours of operation, and a certified hazardous waste (B3) management system. The structural component constituted the primary limiting factor, attributed to the technical age disparity across building blocks and the presence of several structures built prior to the implementation of SNI 1726:2019. Comparative analysis with three prior studies revealed that RSUD Koja demonstrates a balanced score distribution profile across all three HSI dimensions, indicating the absence of a single point of failure within the facility's preparedness system. Key findings highlight critical gaps, including incomplete instrument sterilization scenarios and the absence of contingency planning for cyber disasters and tsunami scenarios, both of which require prioritization within the K3RS program. This study concludes that RSUD Koja demonstrates a high level of disaster preparedness; however, continuous improvement remains necessary, particularly with regard to aging building rehabilitation, completion of decontamination facilities, expansion of disaster scenarios within the Hospital Disaster Plan, and integration of periodic HSI assessments as a quantitative basis for K3RS risk management.
Read More
T-7625
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive