Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Hendrik Permana; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Dadan Erwandi, Tri Noviati, Ibnu Uzail Yamani
Abstrak: ABSTRAK Kejadian kebakaran rumah sakit masih merupakan salah satu bencana yang cukup tinggi baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Kegagalan dalam merespon keadaan darurat kebakaran dapat menimbulkan kerugian yang besar bahkan kehilangan nyawa. Sumberdaya manusia yang ada, struktur organisasi, tingkat kompleksitas bangunan, karakteristik pasien, masing masing membawa potensi bahaya yang harus dikelola dengan baik. Sehingga diperlukan usaha secara berkelanjutan untuk memastikan semua karyawan RS, sarana dan prasarana serta manajemen dapat merespon keadaan darurat kebakaran dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesiapsiagaan dan manajemen kegawatdaruratan Rumah Sakit Umum Pasar Rebo terhadap bahaya kebakaran. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analisis dengan melihat gambaran persepsi karyawan terhadap tanggap darurat, kemudian mengevalusi sistem proteksi kebakaran rumah sakit terhadap Peraturan Daerah DKI Jakarta, Peraturan Menteri dan NFPA, selanjutnya menilai indeks keselamatan RS menggunakan hospital safety indeks dari WHO tahun 2015. Penelitian ini dilakukan pada gedung B (8 lantai) dan gedung D (7 lantai + 1 Basement) di Rumah sakit Pasar Rebo Jakarta Timur. Hasil penelitian mengambarkan mayoritas responden (67,7%) mempunyai persepsi baik terhadap tanggap darurat kebakaran di Rumah Sakit Pasar Rebo. Kebijakan rumah sakit, komitmen manajemen dan pentingnya simulasi serta pelatihan kebakaran merupakan hal yang berhubungan secara signifikan untuk meningkatkan persepsi baik karyawan terhadap tanggap darurat kebakaran RS. Nilai sistem proteksi kebakaran gedung B sebesar 78,5% sesuai dengan standar, sedangkan gedung D 64,5% sesuai dengan standar. Komponen kritikal yang perlu ix Universitas Indonesia mendapatkan perhatian pihak rumah sakit agar meningkatkan pemenuhan standar yang ada adalah perbaikan instalasi pompa kebakaran pada gedung D, kompartemenisasi ruang pada gedung, Penghalang api dan asap pada gedung, Perlindungan bukaan vertikal, akses pemadam kebakaran ke lingkungan rumah sakit dan ruang pengendalian operasi. Hasil perhitungan indeks keselamatan Rumah Sakit Pasar Rebo secara keseluruhan berada pada nilai 0,70 (kategori A) artinya Rumah Sakit Pasar Rebo dapat melindungi manusia di dalamnya dan dinilai dapat tetap berfungsi dalam situasi bencana. Komponen yang perlu mendapatkan perhatian RSUD Pasar Rebo guna meningkatkan indeks keselamatan rumah sakit adalah perbaikan dalam elemen-elemen manajemen kegawatdaruratan dan bencana. Kata kunci: kesiapsiagaan; kebakaran; Rumah sakit. Hospital fire incident is still one of the high disaster in both domestic and abroad. Failure to respond to a fire emergency can result in large losses and even loss of life. Existing human resources, organizational structure, level of building complexity, patient characteristics, each carrying potential dangers that must be managed properly. It is therefore necessary to continuously make efforts to ensure that all hospital employees, facilities and infrastructure, and management can respond to a fire emergency situation well. This study aims to determine the description of preparedness and management of Pasar Rebo Hospital's against fire hazard. This research is a descriptive analysis study by looking at the employee's perception of the emergency response, then evaluating the hospital fire protection system to the DKI Jakarta Regulation, the Minister of Public Works and NFPA Regulation, then assessing the hospital safety index using WHO hospital safety index in 2015. This Research is done in Pasar Rebo Hospital of East Jakarta, covering building B (8 floor building) and building D (7 floor + 1 Basement building). The result of the research shows that the majority of respondents (67,7%) have good perception on fire emergency response in Pasar Rebo General Hospital. Hospital policies, management and simulation commitments and fire training are important to improve employee perceptions of hospital fire emergency response. Building fire protection system B 78.5% in accordance with the standard, while building D 64.5% in accordance with the standard. Critical components that need to get the hospital's attention to improve compliance with existing standards include repair of fire pump installations in Building D, compartmentalization of building space, Fire barriers and smoke on buildings, Vertical openings protection, fire-fighting access to hospital environment and control rooms operation. xi Universitas Indonesia The result of the hospital safety index calculation of Pasar Rebo Hospital as a whole is at a value of 0.70 (category A) meaning that Pasar Rebo hospital can protect people in it and be assessed to remain functioning in disaster situations. The components that need to get the attention of Pasar Rebo Hospital to improve the hospital safety index are improvements in emergency and disaster management elements. Keywords: preparedness; fire; hospital.
Read More
T-5198
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mohamad Rojakoh; Pembimbing: Hendra; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Dadan Erwandi, Amiruddin M. Parenreng, Wahyudin
Abstrak:
Kebakaran kapal masih menjadi penyumbang kecelakaan yang cukup signifikan di Judul Tesis Indonesia dan di luar negeri. Kegagalan dalam memberikan respon keadaan darurat kebakaran dapat menimbulkan kerugian yang besar seperti kerusakan property, pencemaran lingkungan, rusaknya reputasi bahkan kehilangan nyawa. Diperlukan usaha secara berkelanjutan untuk memastikan kesiapan awak kapal, program-program, sarana dan prasarana serta manajemen dapat merespon keadaan darurat kebakaran dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan tentang kesiapsiagaan keadaan darurat kebakaran dikapal tunda berdasarkan regulasi SOLAS CHAPTER II-2 dan regulasi pendukungnya seperti ISM Code Chapter 8, SOLAS Chapter ( III, IV dan V ) di perusahaan PT. ABC pada tahun 2020. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif analitik dengan cara melakukan analisa data sekunder yang ada di PT. ABC terhadap regulasi SOLAS dan ISM Code, selanjutnya adalah memberikan rekomendasi dari hasil analisa tersebut. Hasil penelitian menunjukan nilai poesentase untuk program-program tanggap darurat terutama diprogram identifikasi bahaya kebakaran adalah 50% tingkat pemenuhanya terhadap standar, untuk sarana dan prasarana

Ship fires are still a significant contributor to accidents in Indonesia and abroad. Failure to respond to a fire emergency can cause great losses such as damage to property, pollution of the environment, damage to reputation and even loss of life. Continued efforts are needed to ensure the readiness of the crew, programs, facilities and infrastructure as well as management can respond to fire emergencies properly. This study aims to explain the preparedness of a fire emergency on a delay ship based on SOLAS CHAPTER II-2 regulations and supporting regulations such as ISM Code Chapter 8, SOLAS Chapter (III, IV and V) in the company PT. ABC in 2020. This research is a descriptive analytic study by analyzing secondary data at PT. ABC on the regulation of SOLAS and ISM Code, next is to provide recommendations from the results of the analysis. The results showed the percentage value for emergency response programs, especially programmed fire hazard identification is 50% level of compliance with the standard, for facilities and infrastructure are: 1. Compliance with LSA (Life Saving Appliances) in general from 6 categories already fulfilled, there are categories that fulfill 67%, 2. Compliance with Fire Protection and Fire Fighting Equipment from 11 categories in general has fulfilled there are several categories whose fulfillment is below 100%, Air-recharging system for SCBAs (0%), Self-contained breathing apparatuses (SCBAs) (80%), Fixed fire-detection and alarm systems (60%), Wheeled (mobile) fire extinguishers (71%)  xi  3. Fulfillment of Fixed firefighting systems in general have met, of the 7 categories there are parts that are still below 100%, 4. Fulfillment of radio and navigational equipment there are parts below 100%. In general, the overall level of preparedness for tugboat emergency response at PT. ABC of SOLAS and ISM is in the range of 50-100%, the component that needs attention from management is the availability of tools to conduct inspections, testing and maintenance in accordance with the standards, so that compliance can be maintained and improved continuously.

Read More
T-5955
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Giovanni Puspita; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Yosephin Sri Sutanti
Abstrak: Kebakaran merupakan peristiwa munculnya api, baik dalam skala kecil maupun besar yang terjadi pada tempat, kondisi, dan waktu yang tidak diinginkan, bersifat merugikan, serta umumnya sulit untuk dikendalikan. Rumah sakit adalah salah satu bangunan/gedung fasilitas pelayanan kesehatan yang memiliki tingkat risiko kebakaran yang tinggi akibat penggunaan peralatan listrik, gas medis, dan kondisi pasien yang rentan. Keberhasilan mitigasi dan penanganan darurat kebakaran di rumah sakit sangat dipengaruhi oleh sejauh mana kesiapsiagaan perawat sebagai tenaga kesehatan yang memberikan respons pertama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapsiagaan perawat dalam menghadapi tanggap darurat kebakaran di Rumah Sakit X tahun 2026, antara lain Pengetahuan, Sikap, Masa kerja, Pelatihan Tanggap Darurat Kebakaran, Ketersediaan Sarana dan Prasarana Kebakaran, Dukungan Manajemen, Pemenuhan SOP, Budaya Keselamatan, dan Kesiapsiagaan Perawat dalam Tanggap Darurat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional serta analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square pada SPSS versi 26. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah responden sebanyak 93 perawat. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian diperkuat melalui triangulasi data dengan wawancara semi-terstruktur dan observasi lapangan. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara sikap (p = 0,032; OR = 1,500; 95%CI: 0,674–3,339), pelatihan tanggap darurat kebakaran (p = 0,011; OR = 3,980; 95%CI: 0,660–24,080), dukungan manajemen (p = 0,011; OR = 3,980; 95%CI: 0,660–24,080), pemenuhan SOP (p = 0,022; OR = 2,000; 95%CI: 0,500–7,997), serta ketersediaan sarana dan prasarana kebakaran (p = 0,022; OR = 2,000; 95%CI: 0,500–7,997) dengan kesiapsiagaan perawat. Sementara itu, pengetahuan (p = 1,000; OR = 0,984; 95%CI: 0,952–1,016), masa kerja (p = 0,151; OR = 1,077; 95%CI: 0,931–1,245), dan budaya keselamatan (p = 1,000; OR = 0,987; 95%CI: 0,961–1,013) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kesiapsiagaan perawat. Hasil analisis menunjukkan bahwa perawat yang telah mengikuti pelatihan tanggap darurat kebakaran dan memperoleh dukungan manajemen yang baik memiliki kemungkinan sekitar 3,98 kali lebih besar untuk memiliki kesiapsiagaan yang baik. Selain itu, sikap yang baik meningkatkan kemungkinan kesiapsiagaan sebesar 1,5 kali. Ketersediaan sarana dan prasarana kebakaran serta pemenuhan SOP yang baik masing-masing meningkatkan kemungkinan kesiapsiagaan sebesar 2 kali. Tantangan utama yang masih dihadapi di Rumah Sakit X meliputi tingginya risiko bahaya kelistrikan akibat perilaku tidak aman, seperti penggunaan colokan non-standar, penggunaan peralatan dapur, serta pengisian daya gawai tanpa pengawasan. Selain itu, pembentukan tim tanggap darurat internal perawat belum merata di seluruh unit, dan budaya keselamatan masih cenderung berorientasi pada pemenuhan standar akreditasi rumah sakit. Rumah Sakit X disarankan untuk memperkuat sistem kesiapsiagaan kebakaran melalui peningkatan budaya keselamatan, melakukan inspeksi dan pemeliharaan sarana proteksi kebakaran secara rutin, meningkatkan kompetensi perawat melalui pelatihan dan simulasi evakuasi berkala, serta penguatan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan kerja sehingga kesiapsiagaan dapat tercapai secara optimal melalui sinergi antara sistem, organisasi, dan sumber daya manusia.
Background Fire is an unintentional event characterized by the outbreak and spread of flames, which may occur on a small or large scale, causing significant damage and often being difficult to control. Hospitals are among the healthcare facilities at the highest risk of fire due to the extensive use of electrical equipment, medical gases, and the presence of vulnerable patients. The effectiveness of fire emergency mitigation and response in hospitals largely depends on the nurses preparedness as the medical first responders. As frontline healthcare professionals, nurses play a critical role in emergency preparedness and response to fire incidents. Aim of the Research This study aimed to analyze the factors influencing nurses preparedness for fire emergency response at Hospital X in 2026, including knowledge, attitudes, length of employment, fire emergency response training, availability of fire protection facilities and infrastructure, management support, compliance with Standard Operating Procedures (SOPs), safety culture, and nurses preparedness for fire emergencies. Method This study employed a quantitative cross-sectional design. Bivariate analysis was conducted using the Chi-square test with IBM SPSS Statistics version 26. Total sampling was applied, involving 93 nurses as respondents. Data were collected using a validated and reliable questionnaire and were further strengthened through data triangulation using semi-structured interviews and field observations. Results and Conclusions The findings revealed significant associations between nurses preparedness and attitude (p = 0.032; OR = 1.500; 95% CI: 0.674–3.339), fire emergency response training (p = 0.011; OR = 3.980; 95% CI: 0.660–24.080), management support (p = 0.011; OR = 3.980; 95% CI: 0.660–24.080), compliance with Standard Operating Procedures (SOPs) (p = 0.022; OR = 2.000; 95% CI: 0.500–7.997), and the availability of fire protection facilities and infrastructure (p = 0.022; OR = 2.000; 95% CI: 0.500–7.997) with nurses preparedness. Meanwhile, knowledge (p = 1.000; OR = 0.984; 95% CI: 0.952–1.016), length of employment (p = 0.151; OR = 1.077; 95% CI: 0.931–1.245), and safety culture (p = 1.000; OR = 0.987; 95% CI: 0.961–1.013) were not significantly associated with nurses preparedness. The analysis indicated that nurses who had participated in fire emergency response training and received adequate management support were approximately 3.98 times more likely to demonstrate good preparedness. In addition, nurses with positive attitudes were 1.5 times more likely to have good preparedness, while those who perceived the availability of fire protection facilities and infrastructure as adequate and those who complied with Standard Operating Procedures (SOPs) were each twice as likely to demonstrate good preparedness. The main challenges identified at Hospital X included a high risk of electrical hazards due to unsafe practices, such as the use of non-standard extension cords, kitchen appliances, and unattended mobile phone charging, the absence of internal nurse emergency response teams across all units, and a safety culture that remained predominantly oriented towards meeting hospital accreditation standards. Suggestions Hospital X is recommended to strengthen its fire preparedness system by enhancing safety culture, conducting regular inspections and maintenance of fire protection facilities, improving nurses competencies through periodic fire emergency training and evacuation drills, and reinforcing compliance with safety procedures to achieve optimal preparedness through the integration of organisational systems, management commitment, and human resources.
Read More
S-12394
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive