Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Murti Utami Putri; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Trisari Anggondowati, Zakiah, Siti Nurul Qomariyah
Abstrak:

Komplikasi merupakan penyebab utama kematian ibu di Kota Depok. Continuum of Care (CoC) memiliki peranan untuk mendeteksi dini risiko komplikasi dan mencegah kematian ibu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak CoC pada ibu hamil, bersalin dan nifas terhadap Adverse Pregnancy Outcomes (APOs) pada ibu bersalin dan nifas di 6 Puskesmas mampu PONED Kota Depok dengan desain studi kohort retrospektif. Data dikumpulkan pada Maret sampai Mei 2024. Data sekunder yang digunakan bersumber dari data register kohort ibu (dari masa kehamilan-nifas). Data dianalisis menggunakan chi square, dilanjutkan Regresi Logistik dan dikoreksi dengan OR corrected. Hasil Analisis multivariat menunjukkan pada populasi ibu multipara dan Grande multipara yang melaksanakan CoC adekuat berisiko lebih rendah untuk mengalami APOs (RRcorrected= 1,46, 95%CI: 0,96-1,86). Sedangkan, Ibu hamil dengan kondisi primipara yang melaksanakan CoC adekuat memiliki risiko lebih rendah untuk mengalami APOs (RRcorrected 1,41, 95%CI: 1,00-1,67). APOs dapat dicegah sebesar 39,81% dan 40,11% masing-masing pada populasi umum dan populasi ibu primipara apabila layanan CoC di optimalkan. Asuhan ANC dan PNC yang dilaksanakan adekuat dapat menurunkan APOs sebesar 21,97% dan 19,51%. CoC perlu dilaksanakan secara adekuat untuk mencegah APOs. CoC yang dilaksanakan sesuai rekomendasi akan memberikan manfaat yang baik bagi ibu maupun bayi nya.

Keywords: Antenatal Care; Continuum of Care; Maternal Mortality; Postnatal Care; Pregnancy Complication

 

Complications are the main cause of maternal mortality in Depok City. Continuum of Care (CoC) has a role in detecting early risk of complications and preventing maternal mortality. This study aimed to determine the impact of CoC on Adverse Pregnancy Outcomes (APOs) in pregnant, delivery, and postpartum women at 6 PONED capable health centers in Depok City with a retrospective cohort study design. Data were collected from March to May 2024. Secondary data were sourced from maternal cohort register data (from pregnancy to postpartum). Data were analyzed using chi-square, followed by Logistic Regression, and corrected with OR corrected. Results Multivariate analysis showed in the population of multiparous and Grande multiparous mothers who implemented adequate CoC had a lower risk of experiencing APOs (RRcorrected = 1.46, 95%CI: 0.96-1.86). Meanwhile, pregnant women with primiparous conditions who carry out adequate CoC have a lower risk of experiencing APOs (RRcorrected 1.41, 95%CI: 1.00-1.67). APOs could be prevented by 39.81% and 40.11% in the general population and primipara population respectively if CoC services were optimized. Adequately implemented ANC and PNC care can reduce APOs by 21.97% and 19.51%. CoC needs to be implemented adequately to prevent APOs. CoC implemented according to recommendations will benefit both mothers and their babies. Keywords: Antenatal Care; Continuum of Care; Maternal Mortality; Postnatal Care; Pregnancy Complication

Read More
T-6957
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hanna Audila; Pembimbing: Helda; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Ratna Djuwita, Sugiharti
Abstrak:

Latar belakang: Masalah gizi stunting masih menjadi isu kesehatan masyarakat yang utama. Prevalensi stunting di Indonesia khususnya, pada bayi di bawah dua tahun (baduta) masih tergolong tinggi yakni 18.50%. Angka laju penurunan stunting pada baduta cenderung lamban dalam periode 10 tahun terakhir. Diperlukannya optimalisasi intervensi stunting terutama pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) salah satunya, melalui pemeriksaan kehamilan (antenatal care).
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kualitas pemeriksaan kehamilan terhadap kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Indonesia setelah di kontrol oleh variable lainnya pada ibu yakni; faktor sosiodemografi, kesehatan kehamilan dan kesehatan anak.
Metode: Studi ini berdesain cross-sectional, dimana faktor paparan dan outcome diukur pada satu waktu. Data yang digunakan adalah data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Mengikutsertakan sebanyak 18.898 anak berusia 6-23 bulan yang ibunya sedang tidak hamil dan memiliki data pemeriksaan kehamilan lengkap pada instrumen SKI tahun 2023. Analisis hubungan menggunakan cog regression sedangkan, pada pengontrolan hubungan variable menggunakan metode time-dependent dan backward-elimination.
Hasil: Anak berusia 6-23 bulan di Indonesia yang ibunya tidak melakukan pemeriksaan kehamilan berkualitas berisiko 1.23 kali (aPR = 1.230, 95%CI: 1.111-1.361, p-value = 0,000) mengalami stunting setelah di kontrol oleh variabel kovariat lainnya.
Kesimpulan: Melakukan ANC minimal 4 kali dan menerima pelayanan ANC yang berkualitas dapat menurunkan resiko stunting pada baduta di Indoensia.


 

Background: Child stunting is still be a major public health issue in Indonesia, expecially in toddlers (child aged 6-23 months). The prevalence of stunting among toddlers remains relatively high, 18.50%. The annual average rate of reduction (AARR) of stunting has been steadily slow over the last past 10 years. Therefore, it is crucial to optimize the stunting interventions, predominantly during the first 1000 days of life, one of the ways is through the antenatal care. Objectives: This study aims to analyze the relationship between the quality of antenatal care and the incidence of stunting in children aged 6-23 monts in Indonesia, after being controlled by the other variable, such are; sociodemographic factors, pregnANCy health and child health. Methods: This is a cross-sectional study, in which both of the exposures and the outcome are being measured at the same point of time. The data used are from the Indonesi Health Survey in 2023. There are 18.898 children aged 6-23 months were included, whose mothers were not pregnant and had a fulfilled of antenatal care data, in the SKI 2023 instrument. The association analysis was conducted by cog regression while the time-dependent methods and backward elimination were conducted to to control those variables. Findings: Child aged 6-23 monthss old in Indonesia, whose mothers did not receive four visit of antenatal care have a 1.23 times higher risk (aPR = 1.230, 95%CI: 1.111-1.361, p-value 0.000) of experiencing stunting, after controlling for the other covariate variables.   Conclusions: Receiving at least four antenatal care (ANC) visits, and accessing quality ANC services can reduce the risk of stunting among children aged 6-23 months- old in Indonesia.

 

Read More
B-2530
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Deswita Natalia Ibo; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Yovsyah, Piya Siyania
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kecukupan kunjungan Antenatal Care (ANC) sesuai standar K6 serta prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) pada balita di Indonesia berdasarkan data sekunder Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024. Dengan pendekatan analisis deskriptif, penelitian ini memanfaatkan data ibu balita yang memiliki kelengkapan informasi mengenai riwayat kehamilan dan kelahiran. Hasil menunjukkan prevalensi BBLR nasional sebesar 6,4%, dengan variasi antar provinsi yang cukup lebar—tertinggi di Kalimantan Selatan dan terendah di Papua Pegunungan. Proporsi ibu yang melakukan kunjungan ANC adekuat (minimal enam kali) mencapai 75,5%, sementara 24,5% masih belum memenuhi standar. Prevalensi BBLR sedikit lebih tinggi pada kelompok ibu dengan kunjungan ANC tidak adekuat (6,5%) dibandingkan kelompok adekuat (6,3%). Distribusi BBLR juga dipengaruhi oleh karakteristik ibu seperti usia, pendidikan, tempat tinggal, pekerjaan, dan status kekurangan energi kronis (KEK). Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun cakupan ANC sudah relatif baik, peningkatan jumlah kunjungan saja belum cukup untuk menekan prevalensi BBLR secara signifikan. Oleh karena itu, diperlukan upaya terintegrasi yang lebih menekankan kualitas pelayanan ANC, intervensi gizi ibu hamil, serta penanganan kesenjangan regional agar dapat memberikan dampak yang lebih optimal terhadap kesehatan ibu dan anak di Indonesia.

This study aims to describe the adequacy of Antenatal Care (ANC) visits according to the K6 standard and the prevalence of low birth weight (LBW) infants among toddlers in Indonesia based on secondary data from the 2024 Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI). Using a descriptive analysis approach, this study utilized data from mothers of toddlers with complete information on pregnancy and birth history. The results showed a national LBW prevalence of 6.4%, with considerable variation across provinces—highest in South Kalimantan and lowest in Papua Pegunungan. The proportion of mothers who had adequate ANC visits (at least six times) reached 75.5%, while 24.5% still did not meet the standard. The prevalence of LBW was slightly higher among mothers with inadequate ANC visits (6.5%) compared to those with adequate visits (6.3%). LBW distribution was also influenced by maternal characteristics such as age, education, place of residence, occupation, and chronic energy deficiency (CED) status. These findings indicate that although ANC coverage is relatively good, increasing the number of visits alone is not sufficient to significantly reduce LBW prevalence. Therefore, integrated efforts are needed that emphasize the quality of ANC services, nutritional interventions for pregnant women, and addressing regional disparities to achieve more optimal impacts on maternal and child health in Indonesian.
Read More
S-12389
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive