Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nuril Aiffa Dewantari; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Asih Setiarini, Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Evi Fatimah, Yekti Widodo
Abstrak:
Kekurangan gizi pada balita terutama pada dua tahun pertama kehidupan masih merupakan salah satu permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia. Selain kekurangan gizi berdasarkan indikator tunggal BB/U, TB/U, BB/TB, balita juga berisiko mengalami permasalahan kurang gizi kombinasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran status gizi balita umur 6-23 bulan berdasarkan indikator antropometri tunggal dan CIAF serta mengetahui hubungan antara status ASI eksklusif (inisiasi menyusui dini, ASI eksklusif), status MP ASI (inisiasi MP ASI, keragaman konsumsi makanan, protein hewani), penyakit infeksi (diare, ISPA, TB paru), tinggi badan ibu, status BBLR dan faktor dominan terhadap status gizi balita umur 6-23 bulan berdasarkan CIAF. Penelitian ini merupakan studi cross sectional menggunakan data sekunder Riskesdas 2018 dengan jumlah sampel 12.366 balita umur 6-23 bulan di Indonesia. Analisis bivariat dilakukan dengan uji chi square dan analisis multivariat dilakukan dengan uji regresi logistik dengan nilai signifikansi (p value< 0,05). Hasil penelitian menunjukkan terdapat 42,4% balita yang mengalami kurang gizi berdasarkan indikator CIAF. ASI eksklusif, inisiasi MP ASI, tinggi badan ibu, dan status BBLR berhubungan signifikan dengan status gizi berdasarkan CIAF dan status BBLR merupakan faktor dominan. Balita yang dilahirkan dalam kondisi BBLR berisiko mengalami kurang gizi sebesar 2,17 kali (95%CI: 1,8692,524) dibandingkan balita yang dilahirkan normal. Diperlukan peningkatan edukasi gizi melalui kolaborasi dengan kegiatan kemasyarakatan sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran gizi pada masyarakat dan mencegah terjadinya permasalahan gizi.

Undernutrition in children under five especially the first two years of life was still one of public health problem in Indonesia. Besides undernutrition according to single indicator WAZ, HAZ, and WHZ, children might be risk of combination undernutrition problem. Until the first two years of life, children were in important periode of growing and developing. The aim of this study was to know nutrition status of children 6-23 months of age using a single indicator of anthropometry and CIAF, besides determining the relationship between exclusive breastfeeding status (initiation of early breastfeeding, exclusive breastfeeding), complementary feeding status (initiation of complementary feeding, dietary diversity, animal protein), infectious diseases (diarrhea, upper respiratory tract infection, pulmonary tuberculosis), maternal height, low birth weight status and the dominant factor of nutrition status in children 6-23 months of age using CIAF. This was crosssectional study using secondary datas on 12.366 children from Indonesia Basic Health Research 2018. Data analysis used chi square for bivariat and logistic regression for multivariate with significance value (p value < 0,05). The results of this study showed 42,4% children 6-23 months were undernutrition by using CIAF. Exclusive breastfeeding, initiation of complementary feeding, maternal height, and low birth weight status were significantly related to undernutrition based on CIAF with low birth weight status as the dominant factor. Children 6-23 months of age had 2.17 times risk (95% CI: 1.869-2.524) of undernutrition compared to children who were born normally. Increasing nutrition education was required by collaborating with public activities so that it would be able to increase nutrition knowledge and awareness moreover to prevent undernutrition.
Read More
T-6119
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asri Permata Sari; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih, Evi Martha; Penguji: Diah Mulyawati, Kusnadi, Siti Masruroh
Abstrak: Kabupaten Tangerang menjadi wilayah dengan jumlah balita gizi buruk dan kurang terbanyak di Provinsi Banten dengan prevalensi sebesar 5,77%. Pemerintah Kabupaten Tangerang sejak tahun 2010 hingga saat ini telah menyelenggarakan Pos Gizi sebagai upaya penurunan prevalensi balita kurang gizi. termasuk di Kecamatan Teluknaga. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis penyelenggaraan Pos Gizi di Kecamatan Teluknaga Kabupaten Tangerang 2017 berdasarkan komponen input, proses dan output. Metode penelitian ini kualitatif dengan desain Rapid Assessment Procesure (RAP). Teknik pengumpulan data yang digunakan wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah kader. Hasil penelitian pada komponen input menunjukkan jumlah sumber daya manusia cukup, bidan desa tidak mendapatkan pelatihan, dana berasal dari dana BOK, peralatan masak dari swadaya masyarakat, media penyuluhan tidak ada, dan jarak beberapa rumah peserta jauh dengan lokasi kegiatan. Gambaran komponen proses didapatkan kegiatan PMT berjalan rutin, penyuluhan tidak rutin, pemantauan perubahan perilaku tidak dilakukan. Gambaran komponen output menggambarkan asupan makanan balita belum memenuhi prinsip gizi seimbang, peserta menerapkan beberapa perilaku kebersihan, dan peserta belum menerapkan perilaku mendapatkan layanan kesehatan yang positif. Perlu dilakukan peningkatan kualitas kegiatan edukasi kesehatan melalui pelatihan kader dan bidan desa, kegiatan konseling dan pemantauan perilaku, serta pengadaan media edukasi.
Read More
T-5191
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fauziah Mauly Rahman; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Widiana Kusumasari
Abstrak: Kurang gizi adalah masalah kesehatan masyarakat pada baduta di Sulawesi Tengah. Kejadian kurang gizi dapat memberikan dampak morbiditas, mortalitas, dan disabilitas. Kurang gizi dapat terjadi karena berbagai faktor seperti kurangnya asupan makanan, buruknya sanitasi lingkungan, dan rumah tangga tidak tahan pangan. Asupan makanan dapat menurun drastis pada kejadian seperti bencana alam dan konflik sosial dan mampu mempengaruhi status gizi anak. Untuk melihat perbedaan proporsi kejadian underweight berdasarkan ketahanan pangan rumah tangga, dilakukan penelitian cross-sectional pada anak 6-23 bulan di wilayah terdampak bencana alam berupa gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi di Kota Palu. Hasil analisis dengan uji chi-square menunjukkan terdapat perbedaan bermakna status gizi baduta berdasarkan jenis kelamin anak (p value = 0.019, OR=3.750) dan berdasarkan tingkat pendidikan ibu (p value = 0.033, OR=2.804). Usia anak, besar rumah tangga, pekerjaan ibu, pendapatan per kapita rumah tangga, persentase pengeluaran pangan, jenis tempat tinggal, dan praktik pemberian makan pada anak merupakan faktor risiko yang penting pada kejadian underweight dalam penelitian ini, serta dapat digunakan untuk mengevaluasi program gizi dan kesehatan di Kota Palu. Kata kunci: Kurang gizi, underweight, baduta, bencana alam, ketahanan pangan rumah tangga vii Universitas
Read More
S-10016
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Poedji Hastoety Djaiman; Promotor: Anhari Achadi; Ko Promotor: Endang L. Achadi, Kusharisupeni; Penguji: Purnawan Junadi, Tjuk Eko Hari Basuki, Soewarta Kosen, Arum Atmawikarta
D-305
Depok : FKM-UI, 2015
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Widiana Kusumasari Agustin; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Kusharisupeni Djokosujono, Diah Mulyawati Utari, Sri Puji Wahyuni, Yuni Zahraini
Abstrak:
ABSTRAK Kurang gizi pada balita 0-23 bulan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Provinsi DKI Jakarta. Pada tahun 2017 prevalensi underweight di Provinsi DKI Jakarta tergolong prevalensi medium (14,5%), sementara wasting tergolong serius, sedangkan untuk stunting termasuk rendah (18,1%). Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara asupan energi, asupan protein, asupan lemak, keragaman jenis makanan, frekuensi pemberian makanan, ASI eksklusif, inisiasi menyusu dini, penimbangaan berat badan, pemberian kapsul vitamin A, riwayat pendidikan formal ibu dan status ibu bekerja dengan kurang gizi pada Balita 0-23 bulan di Provinsi DKI Jakarta tahun 2017. Kurang gizi diukur menggunakan Compocite Index of Anthropometric Failure (CIAF). Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan jumlah sampel 658 balita 0- 23 bulan. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi kurang gizi pada Balita 0-23 bulan dengan indikator CIAF jauh lebih tinggi (31,9%) dibandingkan dengan indikator BB/U, PB/U, dan BB/PB. Asupan protein, keragaman jenis makanan, pemberian kapsul vitamin A dan status bekerja ibu berhubungan signifikan dengan kurang gizi. Faktor dominan adalah asupan protein. Balita yang mengkonsumsi protein kurang memiliki risiko sebesar 4,8 kali (95% CI: 0.599-38.746) untuk mengalami kurang gizi dibandingkan Balita yang mengkonsumsi protein cukup. Terdapat interaksi antara asupan protein dan keragaman jenis makanan. Interaksi tersebut saling melemahkan terhadap kejadian kurang gizi. Kata kunci: Kurang gizi, balita 0-23 bulan, CIAF, asupan protein Undernutrition in under five children (0-23 months) is still a public health problem in DKI Jakarta Province. In 2017, the prevalence of underweight in DKI Jakarta is classified as medium prevalence (14.5%), while wasting is considered serious, meanwhile stunting is low (18.1%). The objectives of the study were to investigate the relationship between energy intake, protein intake, fat intake, food diversity, feeding frequency, exclusive breastfeeding, early breastfeeding initiation, weight monitoring, vitamin A capsule supplementation, maternal formal education and maternal working status with undernutrition in under five children (0-23 months). Undernutrition was measured using the Composite Index of Anthropometric Failure (CIAF). This research use cross sectional design with number of sample 658. The results showed prevalence of undernutrition using CIAF indicator is much higher (31.9%) compared with BB / U, PB / U, and BB / PB indicators. Protein intake, dietary diversity, vitamin A capsule supplementation and maternal working status were significantly associated with undernutrition. The dominant factor is protein intake. Toddlers who consumed less protein had 4.8 times higher risk (95% CI: 0.599-38.746) to experience undernutrition compared to toddlers who consumed enough protein. There is an interaction between protein intake and food diversity. The interactions are mutually debilitating to the incidence of undernutrition. Key words: Undernutriton, under five children (0-23 months), CIAF, protein intake
Read More
T-5195
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Desyana Endarti Hendraswari; Pembimbing: Helda; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Agus Triwinarto, Sudikno
Abstrak:
Anak usia 0-23 tahun merupakan masa golden period namun sangat rentan mengalami kurang gizi yang akan mengganggu pertumbuhan baik fisik maupun otak anak. Gangguan pertumbuhan pada masa ini bersifat irreversible. Penyakit infeksi menjadi salah satu penyebab langsung anak mengalami kekurangan gizi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan penyakit infeksi (ISPA, diare, kecacingan, campak, TB paru, Pnemonia) dengan wasting dan underweight pada anak usia 0-23 bulan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan design studi cross sectional dengan menggunakan data SSGI 2021 dengan jumlah sampel 32.084 balita. Pada hasil penelitian proporsi underweight 14,32%, wasting 9,56% dan penyakit infeksi 31,54%. Anak dengan riwayat infeksi memiliki risiko 1,03 kali lebih tinggi untuk wasting dibandingkan anak tanpa riwayat penyakit infeksi setelah dikontrol dengan variabel berat badan saat lahir serta IMD dan tidak bermakna secara statistik. Sedangkan anak dengan penyakit infeksi berisiko 1,1 kali (95% CI:1,00-1,14) lebih tinggi untuk underweight dibandingkan anak tanpa riwayat penyakit infeksi setelah dikontrol dengan variabel usia anak serta berat badan saat lahir dan bermakna secara statistik.

Children aged 0-23 years are the golden period but are very vulnerable to malnutrition which will interfere with the growth of both the physical and brain of the child. Growth disturbance at this time is irreversible. Infectious diseases are one of the direct causes of children experiencing malnutrition. The purpose of this study was to determine the relationship between infectious diseases (ARI, diarrhea, helminthiasis, measles, pulmonary tuberculosis, pneumonia) with wasting and underweight in children aged 0-23 months in Indonesia. This study used a cross-sectional study design using SSGI 2021 data with a total sample of 32,084 toddlers. In the results of the study the proportion of underweight was 14.32%, wasting was 9.56% and infectious disease was 31.54%. Children with a history of infection had a 1.03 times higher risk of wasting than children without a history of infectious disease after controlling for birth weight and IMD variables and were not statistically significant. Meanwhile, children with infectious diseases had a 1.1 times (95% CI: 1.00-1.14) higher risk of being underweight than children without a history of infectious diseases after controlling for the variables of child's age and birth weight and statistically significant.
Read More
T-6785
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive