Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Ario Wicaksono; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Abdul Kadir, Robiana Modjo, Trisnajaya, Aris Bastian Lahay
Abstrak:
Read More
Metabolik sindrom (MetS) menjadi tantangan kesehatan serius pada pekerja sedenter seperti operator truck coal hauling. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor manusia, pekerjaan, lingkungan kerja fisik, dan stresor psikososial terhadap risiko MetS pada operator di PT X, Kalimantan Timur. Metode penelitian menggunakan kuantitatif observasional analitik dengan rancangan cross-sectional. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner GPAQ, FFQ, NASA-TLX, dan survei stres kerja Permenaker No. 5 Tahun 2018. Data sekunder berupa rekam medis (Medical Check-Up 2025) digunakan untuk menegakkan diagnosis MetS berdasarkan kriteria IDF/NCEP-ATP III (minimal 3 dari 5 parameter). Pengukuran lingkungan dilakukan di kabin truk. Sampel final berjumlah 125 operator laki-laki yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan Regresi Logistik Berganda. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi MetS sebesar 24,8% (31 orang). Secara individual, persentase kondisi klinis abnormal cukup tinggi: tekanan darah tinggi (88%), kolesterol HDL rendah (74%), trigliserida tinggi (67%), obesitas abdominal (56%), dan gula darah puasa tinggi (35%). Analisis bivariat menunjukkan faktor yang berhubungan signifikan (p < 0,05) dengan MetS adalah usia, aktivitas fisik, konsumsi karbohidrat, konsumsi buah, perilaku merokok, dan lama bekerja. Faktor lingkungan fisik dan komponen psikososial tidak berhubungan signifikan (p ≥ 0,05). Pemodelan akhir multivariat menegaskan lama bekerja < 10 tahun (p = 0,004; OR = 0,228) dan aktivitas fisik aktif (p = 0,012; OR = 0,217) sebagai faktor protektif. Perilaku merokok menunjukkan kecenderungan kuat meningkatkan risiko MetS hingga 3,86 kali lipat (p = 0,054; OR = 3,860). Penelitian menyimpulkan bahwa aktivitas fisik, masa kerja, dan merokok merupakan faktor penentu paling dominan. PT X disarankan mengintegrasikan program workplace wellness, mengontrol nutrisi kantin/katering bersama ahli gizi, mengoptimalkan skrining berkala parameter MetS pada operator senior, serta memfasilitasi program berhenti merokok.
Metabolic syndrome (MetS) poses a severe health challenge for sedentary workers, such as coal hauling truck operators. This study aims to analyze the relationship between human, job, physical work environment, and psychosocial stressors toward the risk of MetS among operators at PT X, East Kalimantan. This quantitative study utilized an analytical observational approach with a crosssectional design. Primary data were collected using the GPAQ, FFQ, NASA-TLX questionnaires, and the work stress survey from Permenaker No. 5/2018. Secondary data from the 2025 Medical Check-Up (MCU) reports were used to diagnose MetS based on the joint IDF/NCEP-ATP III criteria (meeting at least 3 out of 5 clinical parameters). Environmental measurements (noise, temperature, vibration) were conducted directly inside the truck cabins. The final sample consisted of 125 male operators who met all inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed using Chi-Square tests for bivariate analysis and Multiple Logistic Regression for multivariate analysis. The results showed a MetS prevalence of 24.8% (31 operators). Individually, the percentage of abnormal clinical conditions was considerably high: high blood pressure (88%), low HDL cholesterol (74%), high triglycerides (67%), abdominal obesity (56%), and high fasting blood glucose (35%). Bivariate analysis revealed that age, physical activity, carbohydrate consumption, fruit consumption, smoking behavior, and length of employment were significantly associated with MetS (p < 0.05). Physical work environment factors and psychosocial stress components showed no significant association (p ≥0.05). The final multivariate model confirmed that a length of employment < 10 years (p = 0.004; OR = 0.228) and being physically active (p = 0.012; OR = 0.217) acted as significant protective factors. Smoking behavior demonstrated a strong trend toward increasing MetS risk by 3.86 times (p = 0.054; OR = 3.860). The study concludes that physical activity, length of employment, and smoking are the most dominant determinants of MetS. PT X is advised to integrate structured workplace wellness programs, manage canteen/catering nutrition alongside professional nutritionists, optimize routine MetS screenings for senior operators, and facilitate smoking cessation initiatives.
T-7701
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Giovanni Puspita; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Yosephin Sri Sutanti
Abstrak:
Kebakaran merupakan peristiwa munculnya api, baik dalam skala kecil maupun besar yang terjadi pada tempat, kondisi, dan waktu yang tidak diinginkan, bersifat merugikan, serta umumnya sulit untuk dikendalikan. Rumah sakit adalah salah satu bangunan/gedung fasilitas pelayanan kesehatan yang memiliki tingkat risiko kebakaran yang tinggi akibat penggunaan peralatan listrik, gas medis, dan kondisi pasien yang rentan. Keberhasilan mitigasi dan penanganan darurat kebakaran di rumah sakit sangat dipengaruhi oleh sejauh mana kesiapsiagaan perawat sebagai tenaga kesehatan yang memberikan respons pertama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapsiagaan perawat dalam menghadapi tanggap darurat kebakaran di Rumah Sakit X tahun 2026, antara lain Pengetahuan, Sikap, Masa kerja, Pelatihan Tanggap Darurat Kebakaran, Ketersediaan Sarana dan Prasarana Kebakaran, Dukungan Manajemen, Pemenuhan SOP, Budaya Keselamatan, dan Kesiapsiagaan Perawat dalam Tanggap Darurat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional serta analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square pada SPSS versi 26. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah responden sebanyak 93 perawat. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian diperkuat melalui triangulasi data dengan wawancara semi-terstruktur dan observasi lapangan. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara sikap (p = 0,032; OR = 1,500; 95%CI: 0,674–3,339), pelatihan tanggap darurat kebakaran (p = 0,011; OR = 3,980; 95%CI: 0,660–24,080), dukungan manajemen (p = 0,011; OR = 3,980; 95%CI: 0,660–24,080), pemenuhan SOP (p = 0,022; OR = 2,000; 95%CI: 0,500–7,997), serta ketersediaan sarana dan prasarana kebakaran (p = 0,022; OR = 2,000; 95%CI: 0,500–7,997) dengan kesiapsiagaan perawat. Sementara itu, pengetahuan (p = 1,000; OR = 0,984; 95%CI: 0,952–1,016), masa kerja (p = 0,151; OR = 1,077; 95%CI: 0,931–1,245), dan budaya keselamatan (p = 1,000; OR = 0,987; 95%CI: 0,961–1,013) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kesiapsiagaan perawat. Hasil analisis menunjukkan bahwa perawat yang telah mengikuti pelatihan tanggap darurat kebakaran dan memperoleh dukungan manajemen yang baik memiliki kemungkinan sekitar 3,98 kali lebih besar untuk memiliki kesiapsiagaan yang baik. Selain itu, sikap yang baik meningkatkan kemungkinan kesiapsiagaan sebesar 1,5 kali. Ketersediaan sarana dan prasarana kebakaran serta pemenuhan SOP yang baik masing-masing meningkatkan kemungkinan kesiapsiagaan sebesar 2 kali. Tantangan utama yang masih dihadapi di Rumah Sakit X meliputi tingginya risiko bahaya kelistrikan akibat perilaku tidak aman, seperti penggunaan colokan non-standar, penggunaan peralatan dapur, serta pengisian daya gawai tanpa pengawasan. Selain itu, pembentukan tim tanggap darurat internal perawat belum merata di seluruh unit, dan budaya keselamatan masih cenderung berorientasi pada pemenuhan standar akreditasi rumah sakit. Rumah Sakit X disarankan untuk memperkuat sistem kesiapsiagaan kebakaran melalui peningkatan budaya keselamatan, melakukan inspeksi dan pemeliharaan sarana proteksi kebakaran secara rutin, meningkatkan kompetensi perawat melalui pelatihan dan simulasi evakuasi berkala, serta penguatan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan kerja sehingga kesiapsiagaan dapat tercapai secara optimal melalui sinergi antara sistem, organisasi, dan sumber daya manusia.
Read More
Background Fire is an unintentional event characterized by the outbreak and spread of flames, which may occur on a small or large scale, causing significant damage and often being difficult to control. Hospitals are among the healthcare facilities at the highest risk of fire due to the extensive use of electrical equipment, medical gases, and the presence of vulnerable patients. The effectiveness of fire emergency mitigation and response in hospitals largely depends on the nurses preparedness as the medical first responders. As frontline healthcare professionals, nurses play a critical role in emergency preparedness and response to fire incidents. Aim of the Research This study aimed to analyze the factors influencing nurses preparedness for fire emergency response at Hospital X in 2026, including knowledge, attitudes, length of employment, fire emergency response training, availability of fire protection facilities and infrastructure, management support, compliance with Standard Operating Procedures (SOPs), safety culture, and nurses preparedness for fire emergencies. Method This study employed a quantitative cross-sectional design. Bivariate analysis was conducted using the Chi-square test with IBM SPSS Statistics version 26. Total sampling was applied, involving 93 nurses as respondents. Data were collected using a validated and reliable questionnaire and were further strengthened through data triangulation using semi-structured interviews and field observations. Results and Conclusions The findings revealed significant associations between nurses preparedness and attitude (p = 0.032; OR = 1.500; 95% CI: 0.674–3.339), fire emergency response training (p = 0.011; OR = 3.980; 95% CI: 0.660–24.080), management support (p = 0.011; OR = 3.980; 95% CI: 0.660–24.080), compliance with Standard Operating Procedures (SOPs) (p = 0.022; OR = 2.000; 95% CI: 0.500–7.997), and the availability of fire protection facilities and infrastructure (p = 0.022; OR = 2.000; 95% CI: 0.500–7.997) with nurses preparedness. Meanwhile, knowledge (p = 1.000; OR = 0.984; 95% CI: 0.952–1.016), length of employment (p = 0.151; OR = 1.077; 95% CI: 0.931–1.245), and safety culture (p = 1.000; OR = 0.987; 95% CI: 0.961–1.013) were not significantly associated with nurses preparedness. The analysis indicated that nurses who had participated in fire emergency response training and received adequate management support were approximately 3.98 times more likely to demonstrate good preparedness. In addition, nurses with positive attitudes were 1.5 times more likely to have good preparedness, while those who perceived the availability of fire protection facilities and infrastructure as adequate and those who complied with Standard Operating Procedures (SOPs) were each twice as likely to demonstrate good preparedness. The main challenges identified at Hospital X included a high risk of electrical hazards due to unsafe practices, such as the use of non-standard extension cords, kitchen appliances, and unattended mobile phone charging, the absence of internal nurse emergency response teams across all units, and a safety culture that remained predominantly oriented towards meeting hospital accreditation standards. Suggestions Hospital X is recommended to strengthen its fire preparedness system by enhancing safety culture, conducting regular inspections and maintenance of fire protection facilities, improving nurses competencies through periodic fire emergency training and evacuation drills, and reinforcing compliance with safety procedures to achieve optimal preparedness through the integration of organisational systems, management commitment, and human resources.
S-12394
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
